ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN SISWADENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA YUSRIANA MTSN Padang Panjang EMAIL:yusriana. siregar@yahoo. ABSTRAK Keterampilan menulis cerpen sebagai salah satu bagian dari materi pembelajaran Bahasa Indonesia aspek menulis sangat penting sebagai dasar dari pembelajaran menulis secara Dengan pembelajaran keterampilan menulis cerpen. siswa dilatih agar terampil dalam Terampilnya siswa dalam menulis cerpen dapat menjadi ukuran dalam menentukan kualitas berbahasa siswa tersebut. Untuk meningkatkan kemampuan keterampilan menulis cerpen tersebut maka sisiwa harus dilatih dalam pembelajaran dengan metode yang tepat pula. Untuk itu, sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu upaya meningkatkan keterampilan menulis cerpen siswa kelas IX di MTsN Kota Padang Panjang Tahun Pelajaran 2021/2022 melalui pendekatan kontektual. Ternyata, keadaan siswa pada setiap siklus, mulai dari pra siklus, siklus I, dan suklus II dengan pendekatan kontekstual nilai akhir selalu menunjukan perubahan dan terus meningkat. Nilai menulis cerpen pra siklus hanya 64,8. Pada siklus pertama penerapan pendekatan, nilai rata-rata meningkat menjadi 70,55. Adapun pada siklus II keberhasilan sudah memenuhi KKM mata pelajaran Bahasa Indonesia di MTsN Kota Padang Panjang, yaitu 80,55. Kesimpulannya adalah Pendekatan kontekstual dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen. Kata kunci: Siswa MTsN Padang Panjang. Pendekatan Kontekstual Keberhasilan Menulis Cerpen ABSTRACT Short story writing skills as one part of the Indonesian language learning material aspects of writing are very important as the basis for learning writing in general. By learning short story writing skills. students are trained to be skilled in writing. The skill of students in writing short stories can be a measure in determining the quality of the student's language. improve the ability to write short stories, students must be trained in learning with the right method as well. For this reason, in accordance with the purpose of this study, namely efforts to improve the short story writing skills of class IX students at MTsN Kota Padang Panjang in the 2021/2022 academic year through a contextual approach. II with a contextual approach the final value always shows changes and continues to increase. The value of writing precycle short stories is only 64. In the first cycle of applying the approach, the average value increased to 70. As for the second cycle, the success has met the KKM for Indonesian subjects at MTsN Padang Panjang City, which is 80. The conclusion is a contextual approach can be used to improve the ability to write short stories. Keywords: MTsN Padang Panjang students. Contextual Approach to Short Story Writing Success. PENDAHULUAN Bahasa Indonesia merupakan salah satu ilmu universal yang menjadi alat penyampai perkembangan teknologi modern bagi kita. Bahasa Indonesia mempunyai peran dalam berbagai disiplin ilmu dalam memajukan daya pikir manusia. Sehingga Bahasa Indonesia dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran wajib di Indonesia baik di Sekolah Dasar (SD). SMP/MTs. SMA/SMK/MAN, dan Perguruan Tinggi. Pembelajaran Bahasa Indonesia membekali peserta didik dengan kemampuan berbahasa yang logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, serta memiliki keterampilan atau skill beragam. ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Salah satu skill atau keterampilan itu merupakan aspek dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, yaitu keterampilan menulis. Keterampilan menulis merupakan keterampilan keempat yang harus dikuasai oleh siswa setelah keterampilan menyimak/mendengar, berbicara, dan membaca. Keterampilan menulis ini, keterampilan terakhir yang dikuasai seseorang sebagai sarana mengeksperisikan hasil menyimak, berbicara, dan menulis karena keterampilan menulis akan menghasilkan tulisan yang dibutuhkan seseorang sebagai bukti fisik tugas belajar bagi siswa dan guru. Sebagai sarana mengeksperisikan aspek keterampilan berbahasa lain, selama ini pembelajaran Bahasa Indonesia aspek keterampilan menulis ini khususnya di Madrasah belum sesuai dengan harapan kita selaku guru. Apalagi untuk mencapai tingkat terampil, masih memerlukan Auusaha kerasAy kita untuk mewujudkannya. Apalagi siswa di Madrasah memiliki tugas belajar dua kali lipat dibanding sekolah umum karena jumlah mata pelajaran di Madrasah lebih banyak dibanding Sekolah Menengah Pertama (SMP). Karena itu perlu dilakukan terobosan pembelajaran oleh guru agar siswa aktif dan kreatif dalam pembelajaran keterampilan ini. Artinya, pembelajaran menulis yang diberikan kepada siswa harus bervariasi atau perlu metode dan pendekatan yang tepat. Biasanya dalam pembelajaran keterampilan menulis, siswa dilatih untuk membuat karangan dengan kerangka karangan yang telah disediakan, mengarang bebas, atau berlatih menulis bermacam-macam paragraf. Pembelajaran menulis pun akhirnya tetap kering dan membosankan (Suyono, 2005: . sehingga siswa kurang berminat untuk berlatih menulis. Kurangnya pembelajaran menulis tersebut disebabkan oleh banyak faktor, khususnya menyangkut siswa dan guru. Selama ini guru menganggap bahwa proses pembelajaran yang efektif ditandai dengan suasana kelas yang tenang. Para siswa dengan tertib duduk di kursinya masing-masing, perhatian berpusat pada guru, dan guru menjelaskan . di depan Dalam hal itu, siswa akan semakin tenggelam dalam kepasifan belajar. Mereka belajar hanya suatu rutinitas sehingga kurang tertantang untuk terlibat aktif dalam proses belajar Siswa cenderung belajar secara individual, menghafal konsep-konsep yang abstrak dan teoretik, menerima rumus-rumus atau kaidah-kaidah tanpa banyak memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran. Demikian pula halnya keterampilan menulis cerpen siswa di Madrasah. Para siswa kurang antusias dalam melaksanakan tugas belajar menulis cerpen. Mereka rata-rata pasif. Ketika mereka disuruh menulis cerpen, malah banyak yang termenung dan mengerutkan keningnya. Dari 36 orang jumlah siswa misalnya hanya 6 orang yang langsung menulis. Saat ditanya mengapa belum mulai menulis, jawaban mereka beragam. Belum ada ide, boleh bentuk roman, boleh dibuat dirumah saja, dan mereka bingung cara memulainya sehingga banyak menimbulkan pertanyaan pada siswa. Akibatnya satu jam pelajaran hanya mereka habiskan untuk bertukar pengalaman cerita yang pernah mereka baca. Mereka butuh waktu berminggu-minggu untuk menyelesaikan menulis satu cerpen. Berpijak pada kondisi tersebut, sewajarnya kita merasa tertantang untuk mencoba menerapkan pola pembelajaran menulis cerpen ini dengan menggunakan pendekatan. Adapun pendekatan yang ingindicobaterapkan yaitu metode pendekatan pembelajaran kontekstual. Dengan penerapan metode ini diharapkan siswa akan aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan ketika mereka diberi tugas menulis cerpen. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learnin. merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil (Depdiknas, 2002a: . ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Lebih lanjut Borko daan Putnam . mengatakan metode pendekatan konstekstual ini akan menempatkan siswa pada kondisi pembelajaran bermakna yang dapat menghubungkan pengalaman mereka tersebut dengan materi yang sedang dipelajarinya. Borko & Putnam . mereka juga menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan alternatif untuk dapat menulis. Dengan memanfaatkan tujuh elemen pada pembelajaran kontekstual, proses kreatif siswa dalam menulis cerpen dapat digali dan Ketujuh kontruktivisme. , bertanya . , menemukan . , masyarakat belajar . earning communit. , pemodelan . , refleksi . , dan penilaian sebenarnya . uthentic assessmen. Ketujuh elemen tersebut akan penulis bahas pada kajian Beranjak dari metode pendekatan pembelajaran di atas maka kesulitan pembelajaran keterampilan menulis cerpen di kelas IX Madrasah hendaknya dapat diatasi melalui penerapanmetodependekatan kontekstual tersebut. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang secara umum bertujuan untukMeningkatan Pembelajaran Bahasa Indonesia pada Aspek Keterampilan Menulis Cerpen Siswa di MTsN Kota Padang Panjang tempat peneliti mengadakan penelitian ini. Adapun yang menjadi subjek penelitian perbaikan pembelajaran ini adalahpeserta didik kelas IX E di MTsN Kota Padang Panjang pada tahun pelajaran 2021/2022 dengan jumlahsiswa36 orang, terdiri dari 14 laki-laki dan 22 perempuan. Penelitian ini berjudul AuPeningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Siswa Kelas IX E MTsN Kota Padang Panjang Tahun Pelajaran 2021/2022 Melalui Pendekatan Kontekstual. Ay Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan II siklus. Siklus I berupa perencanaan, pelaksanaan tindakan, dan refleksi dengan jadwal evaluasi dilaksanakan pada tanggal 17 Februari 2022. Kemudian dilanjutkan siklus II, dengan tahapan yang sama dengan siklus I. Adapun evaluasi siklus II dilaksanakan pada tanggal 17 Maret 2022. Teknik pengumpulan datapada penelitian ini digunakan antara lain lembar pengamatan . , rubik penilaian menulis cerpen, dan catatan lapangan yang dilakukan pada saat siswa sedang mengikuti pembelajaran melalui pra siklus. Dilanjutkan tes tertulis membuat naskahcerpen berdasarkan pengalaman pribadi yang pernah dialami siswa . oleh pengalaman yang menyenangkan ataupun pengalaman yang menyedihka. Ini berguna untuk mengetahui kualitas belajar menulis siswa di fase pra siklus belum menerapkan pendekatan kontekstual. Berdasarkan hasil pra siklus peneliti melanjutkan penelitian dengan memberikan metode menulis cerpen dengan pendekatan kontekstual pada fase siklus I dan siklus II. Hasil evaluasi pada kedua siklus ini akan dilakukan refleksi oleh peneliti dengan tindakan penerapan model pembelajaran pendekatan kontekstual. Penelitian dilakukan dalam satu kegiatan belajar dengan mencermati proses kegiatan belajar yang diberikan tindakan secara disengaja dan dimunculkan dalam kelas dengan tujuan meningkatkan kemampuan menulis siswa dengan menerapkan empat komponen tindakan kelas, yaitu: planningatau perencanaan, actingatau pelaksanaan tindakan, observationatau pengamatan, dan reflecting atau refleksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Siklus I . Perencanaan Siklus I Pada mempersiapkanlembarpengamatan . , mempersiapka rubik penilaian menulis cerpen, mempersiapkan catatan lapangan, menyiapkan RPP dengan penerapan metode pendekatan ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 . Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pelaksanan kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan perencanaanpada siklus Untuk dapat menyesuaikan rencana pelaksanaan pembelajaran dalam penyampaian materi dengan penerapan metode pembelajaran pendekatan kontekstualuntuk materi menulis cerpen dilakssanakan skenario: . 2 kali pertemuanuntuk penyampaian materi, . 1 kali pertemuan untuk evaluasi. 2 Kali Pertemuan untuk Penyampaian Materi Siklus I Proses pembelajaran siklus 1 pada pertemuan 1 dilaksanakan sebagai berikut: guru menyiapkan modul menulis cerpen dan siswa sudah memfotokopi modul. Guru menyiapkan beberapa contoh cerpen untuk model dan siswa sudah memotokopi contoh cerpen. Guru menyiapkan pembelajaran dengan menggunakan laptop dan proyektor dan siswa membuka modul, contoh model cerpen, sekaligus menyesuaikan isi modul, model, dan penjelasan guru sesuai tampilan proyektor yang menampilkan metode pendekatan kontekstual. Guru memberikan kesempatan untuk bertanya. Beberapa orang siswa diberikan kesempatan untuk menjawab Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan mengenai materi yang Guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah Proses pembelajaran siklus I pada pertemuan 2 dilaksanakan sebagai berikut: guru menagih tugas siswa dan siswa menyerahkan tugas. Guru membagikan tugas siswa kepada siswa dengan mengacak nama siswa dan siswa mengoreksi jawaban siswa lain. Kemudian guru menayangkan jawaban tugas menggunakan laptop dan proyektor dan siswa mulai memeriksa jawaban temannya. Guru memberikan kesempatan untuk bertanya dan siswa mulai menanyakan jawaban temannya yang tidak sesuai dengan tayangan proyektor. Guru memberikan penjelasan. Guru dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan mengenai tugas yang dipelajari. Guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Memilih salah satu pengalaman mereka untuk ditulis menjadi cerpen . 1 Kali Pertemuan untuk Evaluasi Siklus I Proses evaluasi siklus 1 pada pertemuan 3 dilaksanakan sebagai berikut: Guru melakukan apersepsi kemudian menjelaskan prosedur menulis cerpen Siswa menyimak Guru menyuruh siswa bertanya tentang materi yang telah dibahas dan pemilihan salah satu pengalaman mereka Siswa memberikan jawaban Guru dan siswa tanya jawab seputar materi dan pilihan pengalaman mereka Guru menampilkan beberapa contoh cerpen untuk model Siswa mengeluarkan modul dan fotokopi contoh model cerpen Guru menyuruh siswa menulis cerpen Siswa mnulis cerpen sambil mengamati model-model cerpen Guru berjalan mengamati proses siswa menulis cerpen Beberapa orang siswa diberikan kesempatan untuk bertanya jika kesulitan dalam menulis Guru menagih tulisan cerpen siswa. Adapun hasil menulis cerpen siswa kelas IX E MTsN Kota Padang Panjang, ditemukanlah hasil observasi sesuai tabel 1 berikut. Tabel 1 Hasil observasi tes menulis cerpen siswa siklus I Kategori Rentang Nilai Frekuensi Bobot Skor Persen (%) Sangat baik Baik Cukup Kurang 85 Ae 100 70 Ae 84 60 Ae 69 0 Ae 59 Ratarata 70,55 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Jumlah Observasi Siklus I Pada tahap ini pengamatan dilakukan terhadap beberapa hal sebagai berikut: Situasi kegiatan belajar mengajar siswa dan guru . Keaktifan siswa selama proses belajar . Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. Refleksi Siklus I Refleksi adalah uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkaitan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang dilaksanakan baik kriteria dan rencana bagi tindakan yang akan ditempuh pada siklus berikutnya. Tabel 2. Ringkasan Hasil Evaluasi Menulis Siswa pada Pra Siklus dan Siklus I Uraian Hasil Pra Hasil Siklus Siklus I Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata 70,55 Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang ikut tes Persentase Ketuntasan Kalsikal Dari tabel evaluasi menulis cerpen di atas terlihat bahwa pembelajaran menulis menghasilkan perubahan perbaikan hasil belajar siswa dari pra siklus ke siklus I. Pada pra siklus persentase ketuntasan baru mencapai 25 % sedangkan pada siklus I tingkat persentase ketuntasan 47%. Mengalami kenaikan lebih kurang 22%. Meskipun baru 17 orang siswa yang Hasil rata-rata yang diperoleh siswa secara klasikal sebesar 70,55 Naik 5,75 dari pra Skor ini termasuk dalam jenjang belum tuntas. Artinyajenjang ini menggambarkan bahwa siswadapat menulis cerpen, namun belum begitu bagus karena predikat tuntas hanya diperuntukkan bagi siswa yang bernilai >80 dengan batasnilai minimal 80 pas. Kemampuan menulis cerpenbelum bagus sehingga penelitian dilanjutkan pada siklus II. Siklus II Perencanaan Siklus II Pada tahap ini yang akan dilakukan peneliti adalah mempersiapkan semua kelengkapan penelitian kembali baik berupa lembar observasi, instrument soal tes tulis. RPP dengan penerapan model pembelajaran pendekatan kontekstual. Pelaksanaan Tindakan Siklus I Pelaksanaan kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan perencanaanpada siklus II dengan metode pembelajaran pendekatan kontekstualuntuk materi menulis cerpen dilakssanakan skenario: . 2 kali pertemuanuntuk penyampaian materi, . 1 kali pertemuan untuk evaluasi. 2 Kali Pertemuan untuk Penyampaian Materi Siklus II Proses pembelajaran siklus 1Ipada pertemuan 1 dilaksanakan sebagai berikut: guuru menjelaskan kembali materi menulis cerpen dengan laptop dan proyektor. Siswa menyimak dengan baik. Guru menyiapkan beberapa contoh cerpen untuk model. Siswa sudah mengamati kembali beberapa model cerpen. Guru menyiapkan soal untuk didiskusikan. Siswa membuka modul, contoh model cerpen, sekaligus mengoreksi cerpen mereka yang sudah dikembalikan pada siklus I. Guru memberikan kesempatan untuk bertanya kemudian beberapa orang siswa ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 diberikan kesempatan untuk menjawab dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan mengenai hal yang didiskusikan. Guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah Proses pembelajaran siklus II pada pertemuan 2 dilaksanakan sebagai berikut: guru menagih tugas siswa dan siswa menyerahkan tugas. Guru membagikan tugas siswa kepada siswa dengan mengacak nama siswa dan siswa mengoreksi jawaban siswa lain. Guru menayangkan jawaban tugas menggunakan laptop dan proyektor dan siswa mulai memeriksa jawaban temannya. Guru memberikan kesempatan untuk bertanya dan siswa mulai menanyakan jawaban temannya yang tidak sesuai dengan tayangan proyektor. Guru memberikan penjelasan dan siswa bersama-sama membuat kesimpulan mengenai tugas yang Guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah. Memilih salah satu pengalaman mereka untuk ditulis menjadi cerpen. 1 Kali Pertemuan untuk Evaluasi Siklus II Proses evaluasi siklus 1Ipada pertemuan 3 dilaksanakan sebagai berikut: guru melakukan apersepsi kemudian menjelaskan prosedur menulis cerpen. Siswa menyimak,guru menyuruh siswa bertanya tentang materi yang telah dibahas dan memilih salah satu pengalaman mereka. Siswa memberikan jawaban. Guru dan siswa tanya jawab seputar materi dan pilihan pengalaman mereka. Guru menampilkan beberapa contoh cerpen untuk model. Siswa mengeluarkan modul dan fotokopi contoh model cerpen. Guru menyuruh siswa menulis cerpen. Siswa mnulis cerpen sambil mengamati model-model cerpen. Guru berjalan mengamati proses siswa menulis cerpen. Beberapa orang siswa diberikan kesempatan untuk bertanya jika kesulitan dalam menulis dan guru menagih tulisan cerpen siswa. Tabel 3 Hasil Observasi Aktivitas Menulis Cerpen Siswa pada Siklus II RataNo Kategori Rentang Frekuensi Bobot Skor Persen rata Nilai (%) Sangat baik Baik Cukup Kurang Jumlah 85 Ae 100 70 Ae 84 60 Ae 69 0 Ae 59 80,55 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa aktivitas menulis siswa pada siklus II pertemuan 3 diperoleh rata-rata kelassikal sebesar 80,55 dengan kategori sangat baik 16 siswa, kategori baik 13 siswa, kategori cukup 7 siswa. dankategori kurang 0 siswa. Berdasarkan hasil observasi pada siklus II ini, dinyatakan bahwa tuntas nilai tes keterampilan menulis cerpen siswa secara klasikal pada siklus II ini karena siswa sudah mulai tidak terlalu asing dengan pembelajaran yang ditawarkan sehingga siswa sudah tuntas secara individual dengan kategori SB 44 %. B 36%, meskipun masih ada kategori C 20 %, tapikategori K sudah 0 %. Evaluasi Hasil Belajar Data tentang evaluasi hasil belajar menulis cerpen siswa pada siklus II berdasarkan hasil evaluasi setelah dianalisis diperoleh data sebagai berikut : Tabel 4. Ringkasan Hasil Evaluasi Menulis Cerpen pada Siklus II Uraian Hasil Skor Terendah Skor Tertinggi Rata-rata 80,55 ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang ikut tes Persentase Ketuntasan Klasikal Observasi Siklus II Pada tahap ini pengamatan dilakukan terhadap beberapa hal sebagai berikut: situasi kegiatan belajar mengajar siswa dan guru, keaktifan siswa selama proses belajar. Kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan dan mengajukan pertanyaan. Refleksi Siklus II Refleksi adalah uraian tentang prosedur analisis terhadap hasil pemantauan dan refleksi berkaitan dengan proses dan dampak tindakan perbaikan yang dilaksanakan baik kriteria dan rencana bagi tindakan yang akan ditempuh pada siklus berikutnya. Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa ketuntasan belajar secara klasikal yang dicapai sebesar 81 % dengan nilai rata-rata sebesar 80,55. Hasil ini sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal sehingga siklus dihentkan. Berdasarkan analisis hasil observasi pada siklus II, jumlah siswa yang tuntas secara klasikal sebesar 81 % berarti sudah memenuhi standar ketuntasan klasikal yang ditentukan. Oleh karena itu peneliti menghentikan penelitian ke siklus berikutnya sesuai Pembahasan Penelitian Dari data kualitas pelaksanaan perbaikan pembelajaran dan hasil tes menulis cerpen siswa dalam penelitian di kelas IXE MTs Negeri I Padang Panjang dapat dikatakan bahwa pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan metode pendekatan kontekstual meningkat sehingga pemahaman tentang menulis cerpen tersebut sesuai dengan teori Menurut Suprijono . , bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata, dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan prosedur pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik memahami makna bahan pelajaran yang mereka pelajari, dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sendiri dalam lingkungan sosial dan budaya masyarakat. Sehingga, proses belajar tidak hanya berpengaruh pada hasil belajar yang menjadi tujuan pembelajaran, namun memberikan kebermaknaan pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat dalam konteks dunia nyata peserta didik. Jonson . mengungkapkan bahwa pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang bertujuan menolong siswa melihat makna di dalam materi akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Hal ini berarti, bahwa pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menghubungkan isi materi dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna. Sanjaya . mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh, untuk dapat memahami materi yang dipelajari, dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata, sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Penjelasan lebih lanjut dikemukakan oleh Muchith . 8: . , bahwa pendekatan kontekstual merupakan pembelajaran yang bermakna dan menganggap tujuan pembelajaran adalah situasi yang ada dalam konteks tersebut, konteks itu membantu siswa dalam belajar bermakna dan juga untuk menyatakan hal-hal yang abstrak. Pernyataan selaras juga diungkapkan oleh Komalasari . , bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual adalah pendekatan pembelajaran yang mengaitkan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata siswa sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun warga negara, dengan tujuan untuk menemukan makna materi tersebut bagi kehidupan. ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Johnson . mengatakan Contextual Teaching and Learning adalah salah satu topik hangat dalam dunia pendidikan saat ini. Lebih lanjut Johnson . mengatakan bahwa pendekatan kontekstual berlatar belakang bahwa seseorang belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajan yang variatif dengan prinsip pembelajaran yang memberdayakan siwa bukan mengajar siswa. Sounders . mengembangkan pendekatan pembelajaran kontekstual dengan: menekankan pemecahan masalah, kebutuhan pembelajaran dan pengajaran yang terjadi dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan pekerjaan, mengajar siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga menjadi siswa yang mandiri, mengaitkan pengajaran dengan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda, mendorong siswa untuk belajar dari sesama teman dan belajar bersama, dann menerapkan penilaian autentik. Johnson . menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan konsep teruji yang menghubungkan banyak penelitian terakhir dalam bidang Oleh karena itu, dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas. Dalam konsorsium di Washington . mengatakan metode pendekatan konstekstual ini akan menempatkan siswa pada kondisi pembelajaran bermakna yang dapat menghubungkan pengalaman mereka tersebut dengan materi yang sedang dipelajarinya. Mereka juga menyatakan bahwa pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan alternatif untuk dapat menulis. Dengan memanfaatkan tujuh elemen pada pembelajaran kontekstual, proses kreatif siswa dalam menulis cerpen dapat digali dan ditumbuhkan dengan Ketujuh elemen pembelajaran itu adalah kontruktivisme. , bertanya . , menemukan . , masyarakat belajar . earning communit. , pemodelan . , refleksi . , dan penilaian sebenarnya . Pembelajaran kontekstual ini dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, mata pelajaran apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya sehingga diharapkan ketujuh unsur itu dapat diaplikasikan dalam keseluruhan proses belajar. Sehingga dengan teori-teori dari para ahli hasil penelitian pelaksanaan pembelajaran menulis berjalan dengan baik. Adapun pembahasan pengamatan aktivitas dan tindakan perbaikan pembelajaran dan rekapitulasi nilai tes formatif menulis cerpen siswa dari siklus I dan siklus II dapat dimaknaisesuai teori para ahli pembelajaran di atas sebagai berikut : Siklus I Berdasarkan hasil penelitian danevaluasi pada siklus I diperoleh nilai kemampuan menulis siswa rata-rata sebesar 70,55. Mengalami kenaikan sebanyak 22 % dari dari pra siklus yang hanya memperoleh rata-rata 64,8 setelah dilaksanakan pembelajaran sesuai teori atau pendekatan CTL. Terkait dengan hasil tes menulis cerpen pada siklus I bisa dilihat ringkasannya pada tabel di dibawah ini : Tabel 5. Ringkasan Hasil Evaluasi Menulis Siswa pada Siklus I Uraian Hasil Nilai Terendah Nilai Tertinggi Rata-rata 70,55 Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang ikut tes Persentase Ketuntasan Kalsikal Berdasarkan data pada ringkasan hasil ecaluasi menulis siswa pada siklus 1 nilai tes menulis terendah dengan skor 50, nilai tertinggi dengan skor 90, rata rata 70,55 dan terdata 17 . %) siswa yang tuntas belajar menulis cerpen dan 19 . ,77%) siswa yang belum tuntas ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Sedangkan pengamatan pada tindakan siklus 1 adalah : . Adanya pemberian motivasi dari guru dengan memberikan pre test atau kuis dan pada saat membahas hasil kerja tugas, guru memberikan penguatan materi, . Dalam perbaikan pembelajaran guru menggunakan media atau alat peraga berupa laptop, proyektor, dan fotokopi naskah cerpen. Guru memperagakan cara menulis cerpen bagian orientasi, muncul masalah, masalah memuncak, masalah menurun, dan sampai tahap selesai pada awal kegiatan, sehingga dapat menarik perhatian siswa dalam pembelajaran selanjutnya. Untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran, guru mengelompokan siswa menjadi 6 kelompok dengan masing masing anggota 5 siswa dan 1 kelompok yang beranggotan 6 siswa, sehingga pada masing masing kelompok siswa berdiskusi bertukar informasi mengerjakan soal seputar unsur instrinsik cerpen untuk mempresentasikan di depan kelas. Siklus 2 Adapun berdasarkan hasil penelitian dan evaluasi pada siklus II diperoleh nilai kemampuan menulis siswa rata-rata sebesar 80,55. Mengalami kenaikan sebanyak 10 % dari dari siklus I yang hanya memperoleh rata-rata 70,55 setelah dilaksanakan pembelajaran sesuai teori atau pendekatan CTLdilakukan perbaikan sesuai penemuan masalah belajar pada siklus Terkait dengan hasil tes menulis cerpen pada siklus IIbisa dilihat ringkasannya pada tabel di dibawah ini : Tabel 6. Ringkasan Hasil Evaluasi Menulis Cerpen pada Siklus II Uraian Hasil Skor Terendah Skor Tertinggi Rata-rata 80,55 Jumlah siswa yang tuntas Jumlah siswa yang ikut tes Persentase Ketuntasan Klasikal Berdasarkan data pada ringkasan hasil ecaluasi menulis siswa pada siklus I1 nilai tes menulis terendah dengan skor 60, nilai tertinggi dengan skor 90, rata rata 80,55 dan terdata 29 . %) siswa yang tuntas belajar menulis cerpen dan 7 . ,44%) siswa yang belum tuntas Sedangkan pengamatan pada tindakan siklus IIadalah :guru dalam memotivasi belajar siswa, dengan memberikan kuis atau pertanyaan dengan menggunakan metode tanyajawab. Guru memotivasi siswa dengan menyampaikan Model pembelajaran CTL dengan siswa belajar belajar menulis cerpen sesuai dengan pengalaman mereka di sekolah atau di Penggunaan media / alat peraga sudah cukup memadai sehingga siswa tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran secara antusian. Dalam setiap kelompok yang terdiri dari 5 orang siswa atau 6 orang siswa di tuntut untuk bekerjasama untuk menjawab soal di lembar Penilaian model pembelajaranCTL dapat membuat siswa lebih aktif. Analisis Hasil Siklus I dan Siklus II Pada hasil pra siklus didapat 9 siswa yang sudah tuntas . %) dan 27 siswa belum tuntas . %). Pada siklus I didapat bahwa 17 siswa yang sudah tuntas ( 47 % ) dan 19 siswa yang belum tuntas ( 52,77 % ) dengan rata rata kelas 70,55. Dari data tersebut maka diperlukan adanya perbaikan pembelajaran. Perbaikan pembelajaran yang pertama dinamakan siklus I. Analisis dan hasil pra siklus dan siklus I yakni terdapat kenaikan hasil belajar siswa berupa nilai tes formatif menulis cerpen, namun hasil dari siklus I belum mencapai target penilaian yaitu 80. Sehingga perlu dilakukan perbaikan pembelajaran siklus II. Rata-rata 68,4 pada saat prasiklus menjadi 70,55 pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 80,55 pada siklus II. ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 Rata rata kelas Rata rata kelas Prasiklus Siklus 1 siklus 2 Gambar 2. Grafik Tes Menulis siswa Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa ada kenaikan nilai dalam setiap siklusnya. Walaupun pada pelaksanaan siklus I belum mencapai nilai KKM yaitu 70,55 dengan nilai KKM 80, untuk itulah diperlukan perbaikan pembelajaran kembali pada siklus II yang akhirnya mencapai nilai rata rata 80,55, yang berarti sudah mencapai nilai KKM. Namun untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa maka peneliti menghentikan penelitian. Pada siklus II sudah dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi menulis cerpen dengan pendekatan kontekstual pada siswa kelas IX. E MTs Negeri Padang Panjang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran CTL dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis cerpen. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hikmat pada Jurnal Ilmiah . PenelitianPenerapan CTL untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen telah menunjukkan hasil yang positif. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil uji perbedaan antara tes menuliscerpen awal dan tes menulis cerpen akhir. iklus II). Secara keseluruhan rata-rata pencapaian hasil tes kemampuan menulis cerpendari tahap pretest sampai akhir siklus II. Selainitu nilai rata-rata tes awal menulis cerpen sertarata-rata tes menulis cerpen siklus I dan II menunjukkan adanya perbedaan. Perbedaan nilai rata-rata. Perubahan perbaikan hasil belajar mahasiswa terjadi karena proses belaja rmengajar menggunakan pendekatan CTL. Tindakan yang dilakukan pada siklus I menggambarkan bahwa hasil rata-rata yang sebesar 12,19. Skor ini termasuk dalam jenjang 2 atau berpredikat admis. Artinya jenjang ini menggambarkan bahwa mahasiswa dapat menulis cerpen, namun belum begitu bagus. Meskipun pada siklus I telah diperkenalkan tentang pendekatan kontekstual,mahasiswa terlihat masih belum memahamidengan baik penerapan pendekatan ini. Hasil tes kemampuan menulis cerpenmahasiswa pada siklus II menunjukkan skorrata-ratasebesar 12,70. Skor inimasih dalam predikat admis. Jelasnya,kemampuan mahasiswa dalam menulis cerpenmasih dalam batas minimal. Kemudian dimodifikasi penerapan pendekatankontekstual dengan cara mengelompokkanmahasiswa menjadi beberapa kelompok. Hasil pengamatan menunjukkan mahasiswa menjadi lebih aktif karena modifikasipenerapan pendekatan kontekstual. Pada siklus i, pemahaman tentangpenerapan pendekatan kontekstual dalampembelajaran menulis cerpen sudah terlihatsemakin meningkat. Hal ini dibuktikan denganskor rata-rata mahasiswa sebesar 13,88. Iniberarti sudah termasuk pada predikat bien. Predikat ini merupakan target minimal yang ingindicapai oleh peneliti. Menuliscerpen sudah baik. Pelaksanaan siklus i menghasilkanpeningkatan skor rata-rata mahasiswa dalamtes kemampuan menulis cerpen. Menuliscerpen dengan pendekatan kontekstual. mahasiswa memper-oleh predikat bien untuk nilai rata-ratakemampuan menulis cerpen skor sebesar13,88 yang berpredikat bien, maka penelitiandihentikan karena sudah mencapai target bien. Sejalan pula dengan penelitian yang dilakukan oleh Septiani . dalam penelitiannya pada Siswa Kelas X. 4 SMA N 2 Tegal, menyimpulkan bahwa melalui teknik penerapan pengetahuan atau pengalaman diri sendiri yaitu, pengandaian diri sebagai tokoh ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 dalam cerita dengan media audio visual keterampilan menulis cerpen siswa kelas X. 4 SMA Negeri 2 Tegal mengalami peningkatan sebesar 11,63 atau 18,30 %. Hasil rata-rata menulis cerpen pratindakan sebesar 63,65 dan pada siklus I ratarata menjadi 70,31 atau meningkat sebesar 10,26 % dari rata-rata pratindakan, 12 kemudian pada siklus II diperoleh rata-rata sebesar 75,19 atau meningkat sebesar 6,94 dari siklus I. Adapun penelitian terdahulu yang sejalan juga dilakukan Amnah . menjadi acuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa keterampilan menulis cerpen siswa kelas 4SMA Negeri I Wanadadi Kabupaten Banjarnegara setelah mengikuti pembelajaran menulis cerpen dengan teknik latihan terbimbing berdasarkanilustrasi tokoh idola terjadi Terlihat dari hasil menulis cerpen siswa pada tahap prasiklus, siklus I, dan siklus II. Nilai rata-rata siswa pada prasiklus mencapai 52,57 kemudian setelah dilakukan siklus I meningkat menjadi 72,92 atau meningkat menjadi 78,45 atau meningkat sebanyak 7,58 % dari siklus I dan meningkat sebanyak 49,22 %. Demikian pula penelitian senada yang dilakukan Ariani . , berdasarkan observasi awal yangdilakukan penulis di MA Syamsul HudaTegallinggah khususnya kelas X,pembelajaran cerpen berjalan denganefektif dan siswa terlihat antusias danbersemangat dalam mengikuti kegiatan. Dalam proses belajar mengajar. Cara guru dalam menerapkan pendekatankontekstual ini dapat membuat siswa belajar dengan efektif dan efesien yangterlihat dari hasil tulisan siswa tentangmenganalisis keterkaitan unsur intrinsiksuatu cerpen dengan kehidupan sehari-hari, nilai yang didapatkan siswasemuanya di atas nilai KKM. Nilai KKM mata pelajaran Bahasa Indonesia di MASyamsul Huda Tegallinggah Dari 35 siswa kelas X hanya empat orangsaja yang mendapatkan nilai 70, sisanyamendapatkan nilai 85-88. Siswa tidakhanya menerima materi yang telahdiajarkan, tapi mereka juga dapatmengaplikasikan pengetahuan yangdimilikinya dalam kehidupan seharihari. Sesuai penelitian relevan di atas, kegiatan pembelajaran yang memakai metodependekatan kontekstual terbukti berhasil untuk pembelajaran menulis cerpenyang mereka peroleh sudah mencapai tingkat ketuntasan belajar sesuai ketetapan Madrasah tempat penulis mengajar dan meneliti. Capaian untuk 29 siswa dari 36 siswa sudah melebihi tingkat ketuntasan belajar secara klasikal. sesuai standard ketuntasan belajar di MTsN Padang Panjang tersebut, yaitu 80 secara individual. Hal ini dibuktikan denganskor rata-rata siswa yang meningkat dari 68,4 menjadi 70,55 menjadi 80,55 pada tiap siklus. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat ditarik k kesimpulan bahwa penerapan pendekatan kontekstual pada pembelajaran menulis cerpen dapat dilakukan dengan beragam metode. Mula-mula pendekatan kontekstual dicobakan dengan cara memberikan penjelasan secara klasikal kepada siswa, mengelompokkan siswa untuk berdiskusi dalam rangka bertukar pikiran tentang ciri, struktur, dan kiat menulis cerpen berdasarkan contoh cerpen yang disediakan oleh guru, dan mengemukakan ide masingmasing yang bakal mereka jadikan modal menulis cerpen. Pendekatan kontekstual yang diterapkan itu ternyata mampu meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa. Siklus I menghasilkan hasil menulis cerpen siswa secara klasikal dari 36 peserta didik, dicapai sebesar 47 % dengan nilai rata-rata klasikal sebesar70,55. 17 siswa sudah tuntas secara individual, yaitu 80, sedangkan pada siklus II menghasilkan ketuntasan belajar secara klasikal naik dengan capaian sebesar 81 % dengan nilai rata-rata sebesar 80,55. 29 siswa tuntas dengan ketuntasan individual dengan capaian skor >80. Peningkatan tingkat ketuntasan ini diperoleh karena adanya perubahan cara belajar dari pra siklus, siklus I, dan siklus II. Hasil ini sudah mencapai ketuntasan belajar secara klasikal di Madrsah sehingga siklus dihentikan. ACTION : Jurnal Inovasi Penelitian Tindakan Kelas dan Sekolah Vol 2. No 2. April 2022 e-ISSN : 2798-5733 P-ISSN : 2798-5741 DAFTAR PUSTAKA