HUBUNGAN KETERJANGKAUAN FASILITAS KESEHATAN DAN DUKUNGAN SUAMI DENGAN PEMANFAATAN PELAYANA KESEHATAN NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEDAN BELAWAN KECAMATAN MEDAN BELAWAN Pratiwi Lumbantobing1 Staff Pengajar STIKes Senior Medan Email: pratiwitobingjojocatryn22@gmail. ABSTRAK Data Dinas Kesehatan Kota Medan Tahun 2024, bahwa cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 82,38%, pelayanan kesehatan nifas sebanyak 80,80%, pemberian vitamin A pada ibu nifas sebanyak 80,80%. Data Puskesmas Medan Belawan bahwa cakupan kunjungan ANC (K1=53,3%. K4=53%), pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan . ,2%), pelayanan kesehatan nifas . ,2%), dimana cakupannya lebih rendah dari kecamatan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keterjangkauan fasilitas kesehatan dan dukungan suami dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain survey explanatory dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan Kecamatan Medan Belawan. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang melewati masa nifas dan mempunyai anak kandung usia 6-9 tahun yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan tahun 2024 sebanyak 1. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi sebanyak 102 orang. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat, dan analisis bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan keterjangkauan fasilitas kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas dengan hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square diperoleh N2 = 0,819, 95% CI OR= 1,455 . ,645-3,. dengan nilai p=0,416 > 0,05. Dan ada hubungan yang signifikan antara dukungan suami dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas dengan hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square diperoleh N2 = 6,095, 95% CI OR=2,737 . ,220-6,. dengan nilai p=0,017 < 0,05. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Medan dan tenaga kesehatan agar meningkatkan sosialisasi tentang pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas, melatih dan membimbing para kader dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas bagi ibu nifas, mengisi dan mengecek serta menginformasikan tentang buku kesehatan ibu dan anak, serta memberikan informasi tentang segala sesuatu mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas dan mengingatkan ibu akan waktu kunjungan berikutnya. Kata Kunci : Keterjangkauan fasilitas kesehatan. Dukungan suami. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Nifas PENDAHULUAN sampai tahun 2023 yaitu sebesar 268 per 000 kelahiran hidup. Hasil laporan tersebut menyebutkan bahwa ibu nifas yang mendapat pelayanan nifas pertama pada periode enam jam sampai hari ketiga setelah melahirkan (KF. sebanyak 8,6 persen, periode ketujuh sampai ke-28 hari setelah melahirkan (KF. sebanyak 34,7 persen, periode ke29 sampai ke-42 hari setelah melahirkan (KF. sebanyak 21,2 persen serta kunjungan nifas lengkap (KF) hanya sebanyak 13,7 persen. Kesehatan ibu dan anak merupakan dasar yang penting dalam perempuan yang hamil dan melahirkan Namun fakta menunjukkan bahwa ratusan ribu perempuan di seluruh dunia terus-menerus meninggal oleh sebabsebab yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan nifas yang seharusnya Sekitar perempuan diperkirakan meninggal tiap tahunnya oleh sebab-sebab yang berkaitan dengan kehamilan/persalinan, dan 99 persen dari kematian ini terjadi negara-negara (Departemen Kesehatan RI, 2. Data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Medan tahun 2024, bahwa cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 82,38 persen, pelayanan kesehatan nifas sebanyak 80,80%, pemberian vitamin A pada ibu nifas sebanyak 80,80 persen. Data tersebut diperoleh dari 21 kecamatan dengan 39 puskesmas yang ada di Kota Medan. Berdasarkan data juga diperoleh data bahwa cakupan pelayanan kesehatan nifas yang paling rendah jika dilihat dari tingkat puskesmas adalah Puskesmas Mandala Kecamatan Medan Tembung . %). Puskesmas Simpang Limun Kecamatan Medan Kota . ,7%), dan Puskesmas Desa Binjai Kecamatan Medan Denai . ,9%). Namun jika dilihat dari tingkat kecamatan, cakupan yang paling rendah adalah Kecamatan Medan Belawan . ,2%). Kecamatan Medan Maimun . %), dan Kecamatan Medan Tembung . ,4%). Dari rincian data yang diperoleh bahwa keseluruhan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan anak di Puskesmas Medan Belawan Kecamatan Medan Belawan meliputi kunjungan ANC (K1= 53,3%, K4=53%), Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 diperoleh data bahwa, terdapat sebanyak 81,9 persen ibu nifas yang mendapat pelayanan nifas pertama pada periode enam jam sampai tiga hari setelah melahirkan (KF. , periode empat sampai 28 hari setelah melahirkan (KF. sebesar 51,8 persen periode 29 sampai 42 hari setelah melahirkan (KF. sebanyak 43,4 persen serta, ibu nifas yang mendapatkan pelayanan kesehatan mengenai keluarga berencana sebanyak 59,6 persen Akan tetapi untuk cakupan kunjungan nifas lengkap yang dicapai baru sebesar 32,1 persen. Fenomena angka kematian ibu (AKI) yang meningkat secara nasional berbeda dengan angka kematian ibu di Provinsi Sumatera Utara dalam Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara tahun 2023 yang menyatakan bahwa angka kematian ibu tidak mengalami perubahan dari tahun 2020 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan . ,2%), pelayanan kesehatan nifas . ,2%) dan pemberian vitamin A pada ibu nifas . ,17%) hampir sama besarnya dan berbeda dari kecamatan lainnya dimana besarnya bervariasi di masing-masing pelayanan kesehatan ibu dan anak. mengetahui manfaat pemberian vitamin A bagi ibu. Uraian-uraian tersebut dapat diartikan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas berperan baik secara tidak langsung berkontribusi terhadap angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi di Provinsi Sumatera Utara. METODE PENELITIAN Cakupan pelayanan kesehatan nifas di wilayah Puskesmas Medan Belawan terbilang masih sangat rendah yaitu sebesar 53,2 persen bila dibandingkan dengan cakupan Kota Medan. Berdasarkan hasil survei awal, banyak faktor yang memengaruhi rendahnya cakupan pelayanan kesehatan nifas di wilayah Puskesmas Medan Belawan, diantaranya adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang pelayanan kesehatan nifas, informasi yang kurang dari pihak puskesmas, jauhnya jarak ke fasilitas kesehatan, waktu ibu yang tidak sempat, serta ibu merasa bahwa ibu dan bayinya sehat hanya tinggal menunggu jadwal imunisasi untuk bayinya saja. Selain itu, ibu mengungkapkan tidak Metode explanatory survey dengan design cross Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan Kecamatan Medan Belawan. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang melewati masa nifas dan mempunyai anak kandung usia 6-9 tahun yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan tahun 2024 sebanyak 1. 385 orang. Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi sebanyak 102 orang dengan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah analisis univariat, selanjutnya analisis bivariat dengan uji chi-Square. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Tabel 1. Analisis Univariat Variabel Jumlah Keterjangkauan Fasilitas Kesehatan Terjangkau Sulit Terjangkau Dukungan Suami Mendukung Kurang mendukung Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Nifas Memanfaatkan Persen Tidak Memanfaatkan mendukung sebanyak 57 orang . ,9%), mendukung sebanyak 45 orang . ,1%). Pemanfaatan pelayanan kesehatan Pemanfaatan kesehatan nifas oleh ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 57 orang . ,9%), sedangkan yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 45 orang . ,1%). Keterjangkauan fasilitas kesehatan. Hasil keterjangkauan fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas kesehatan sulit terjangkau sebanyak 63 orang . ,8%), dan . ,2%) fasilitas kesehatan terjangkau. Dukungan suami. Hasil perhitungan Analisis Bivariat Tabel 2. Hubungan Keterjangauan Fasilitas Kesehatan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Nifas Variabel Keterjangkauan Fasilitas Kesehatan Sulit Terjangkau Terjangkau Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Nifas Tidak Memanfaatkan Memanfaatkan Hasil analisis hubungan antara keterjangkauan fasilitas kesehatan dengan pemanfaatan kesehatan nifas menunjukkan bahwa dari sebanyak 63 orang ibu dengan keterjangkauan fasilitas kesehatan yang sulit terjangkau, sebagian besar A2 95% CI OR 32,4 0,416 0,819 1,455 ,645-3,. kesehatan nifas sebanyak 33 orang . ,4%) memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebnayak 30 orang . ,4%). Sementara, dari sebanyak 39 orang ibu dengan keterjangkauan fasilitas kesehatan terjangkau sebagian besar memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 24 orang . ,5%) dan yang tidak memanfaatkan sebanyak 15 orang . ,7%). Hasil uji statistik chi-square diperoleh N2 = 0,819, 95% CI OR = 1,455 . ,645-3,. dengan nilai p=0,416 > 0,05 yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan keterjangkauan fasilitas pelayanan kesehatan nifas. Tabel 2. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Nifas Variabel Dukungan Suami Kurang Mendukung Mendukung Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Nifas Tidak Memanfaatkan Memanfaatkan Hasil analisis hubungan antara pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas menunjukkan bahwa dari sebanyak 57 orang ibu yang mendapat dukungan suami sebagian besar memanfaatkan kesehatan nifas sebanyak 38 orang . ,3%) memanfaatkan sebanyak 19 orang . ,6%). Sementara, dari sebanyak 45 orang ibu yang kurang mendapat dukungan dari suami sebagian besar kesehatan nifas sebanyak 26 orang . ,5%) dan yang memanfaatkan sebanyak 19 orang . ,6%). Hasil uji statistik chi-square diperoleh N2 = 6,095, 95% CI OR =2,737 . ,2206,. dengan nilai p=0,017 < 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara A2 95% CI OR 18,6 0,017 6,095 2,737 ,220-6,. pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas . =0,. Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan Nifas Hasil penelitian pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas oleh ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan dalam kategori memanfaatkan sebanyak 57 orang . ,9%), sedangkan yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 45 orang . ,1%). Pemanfaatan kesehatan nifas yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ibu nifas yang melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak tiga kali dengan ketentuan waktu: kunjungan nifas pertama (KF. pada masa enam jam sampai dengan hari ketiga setelah persalinan, kunjungan Hubungan keterjangkauan pemanfaatan pelayanan kesehatan Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas kesehatan sulit terjangkau sebanyak 63 orang . ,8%), dan . ,2%) fasilitas kesehatan terjangkau. Hasil menggunakan uji statistik chi-square diperoleh N2 = 0,819, 95% CI OR= 1,455 . ,645-3,. dengan nilai p=0,416 > 0,05 yang menunjukkan keterjangkauan fasilitas kesehatan kesehatan nifas. Hasil analisis hubungan menunjukkan bahwa darisebanyak 63 orang ibu dengan keterjangkauan fasilitas kesehatan yang sulit terjangkau, sebagian besar ibu memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 33 orang . ,4%) dan yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebnayak 30 orang . ,4%). Sementara, dari sebanyak 39 orang ibu dengan keterjangkauan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 24 orang . ,5%) dan yang tidak memanfaatkan sebanyak 15 orang . ,7%). Hal ini terlihat dari jawaban keterjangkauan fasilitas kesehatan nifas kedua (KF. dalam waktu hari keempat sampai dengan hari ke-28 setelah persalinan, kunjungan nifas ketiga (KF. dalam waktu hari ke-29 sampai dengan hari ke-42 setelah persalinan secara lengkap. Adapun penghambat ibu dalam melakukan . emanfaatkan pelayanan kesehatan nifa. dalam penelitian ini yakni. pengetahuan responden tentang kunjungan nifas, adanya persepsi responden bahwamasa nifas itu adalah normal dimana mereka hanya akan berkunjung ke fasilitas kesehatan jika ada keluhan, adanya keluhan responden tentang sulitnya membagi waktu dan kesulitan membawa anak ke fasilitas kesehatan, serta kurangnya pengetahuan mereka tentang apa saja yang mereka butuhkan selama masa Sebaliknya, alasan dari ibu yang menanfaatkan pelayanan kesehatan nifas tersebut adalah karena bidan masih memandikan bayi sampai pupus tali pusat, membawa anak imunisasi, membawa anak posyandu, memeriksa memasang alat kontrasepsi. Penelitian Sultana . di Pakistan mengatakan bahwa rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas diakibatkan karena kurangnya kesadaran ibu, akses dan transportasi yang sulit, kurangnya biaya, serta pendidikan yang masih rendah sebagai faktor yang paling dominan menjadi alasan rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas. Hubungan dukungan suami dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas. Hasil penelitian bahwa suami responden sebagian besar mendukung sebanyak 57 orang . ,9%), mendukung sebanyak 45 orang . ,1%). Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square diperoleh N2 = 6,095, 95% CI OR=2,737 . ,220-6,. dengan nilai p=0,017 < 0,05 yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara dukungan pelayanan kesehatan nifas . =0,. Hasil analisis hubungan antara dukungan suami dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas menunjukkan bahwa dari sebanyak 57 orang ibu yang mendapat dukungan suami sebagian besar memanfaatkan kesehatan nifas sebanyak 38 orang . ,3%) memanfaatkan sebanyak 19 orang . ,6%). Sementara, dari sebanyak 45 orang ibu yang kurang mendapat dukungan dari suami sebagian besar kesehatan nifas sebanyak 26 orang . ,5%) dan yang memanfaatkan sebanyak 19 orang . ,6%). Hal ini terbukti dari jawaban responden tiap butir pernyataan dukungan suami bahwa pernyataan yang paling AyyaAy pernyataan nomor 7 yaitu suami selalu mengingatkan ibu untuk kontrol sesuai dengan ketentuan . ,3%). Jawaban AytidakAy paling banyak pada menunjukkan bahwa sebagian besar ibu melakukan kunjungan ke fasilitas kesehatan sebanyak 87 orang . ,3%). Jarak rumah responden dengan fasilitas kesehatan paling lebih dari 500 meter sebanyak 51 orang . ,0%). Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk tiba di fasilitas kesehatan yaitu 15-30 menit sebanyak 47 orang . ,1%), sebagian ibu menyatakan jarak ke fasilitas kesehatan dapat ditempuh dengan jalan kaki dan naik kendaraan masing-masing sebanyak 51 orang . ,0%). Biaya yang dibutuhkan untuk mencapai fasilitas menyatakan > Rp. 000 sebanyak 47 orang . ,1 %). Jarak, waktu memanfaatkan pelayanan kesehatan. Namun, dalam penelitian ini sebenarnya keterjangkauan tersebut hanya berupa persepsi responden yang berpendapat sulit terjangkau hanya karena jauh. Hal ini terbukti dengan jawaban responden bahwa sebanyak 62 orang . ,8%) ibu bermasalah terhadap keterjangkauan fasilitas kesehatan dimana menurut mereka jauh. Hasil penelitian ini bertolak belakangan dengan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 membuktikan bahwa wanita yang tinggal di perkotaan perawatan nifas dibanding wanita di pernyataan nomor 8 yaitu suami membantu ibu untuk memeroleh kesehatan nifas sebanyak 53 orang . ,0%). Data hasil penelitian motivasi dari suami sangat ibu pelayanan kesehatan nifas. Selain itu, tanpa dukungan suami ibu tidak berani mengambil keputusan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan Penelitian ini sejalan dengan Jayanthi . menunjukkan adanya hubungan antara dukungan keluarga dengan Penelitian serupa juga dilakukan terhadap ibu nifas di Ethiopia yang mengatakan bahwa kurangnya waktu, tidak adanya pengganti dalam menjaga anak, dan tidak berani memanfaatkan pelayanan kesehatan pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas (Tesfahun, 2. Penelitian Khanal, . , mengemukakan bahwa ibu dengan suami yang telah mendapatkan informasi tentang pelayanan nifas akan lebih memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas. demikian hal penelitian yang dilakukan oleh Yargawa . mengemukakan bahwa keterlibatan suami secara bermakna mengurangi kemungkinan terjadinya depresi postpartum. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 suami terhadap istri dalam bentuk menemani istri pada saat melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak 79 persen dan dukungan suami dalam bentuk mendampingi istri di fasilitas kesehatan sebanyak 68 persen, serta pria yang berbicara dengan tenaga kesehatan tentang kesehatan istrinya sebanyak 58 persen. KESIMPULAN Pemanfaatan kesehatan nifas di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan Kecamatan Medan Belawan tahun 2024 dengan kategori memanfaatkan sebanyak 57 orang . ,9%), sedangkan yang tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan nifas sebanyak 45 orang . ,1%). Faktor yang kondisi ibu merupakan variabel yang paling berkontribusi dan pelayanan kesehatan nifas di wilayah kerja Puskesmas Medan Belawan Kecamatan Medan Belawan tahun 2016. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengatakan bahwa fasilitas kesehatan sulit terjangkau sebanyak 63 orang . ,8%), dan sebanyak 39 orang . ,2%) responden mengatakan Hasil bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square diperoleh N2 = 0,819, 95% CI OR= 1,455 . ,645-3,. p=0,416 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada kesehatan nifas. Hasil penelitian bahwa suami mendukung sebanyak 57 orang . ,9%), dan yang kurang mendukung sebanyak 45 orang . ,1%). Hasil analisis bivariat statistik chi-square diperoleh N2 = 6,095, 95% CI OR=2,737 ,220-6,. dengan nilai p=0,017 0,05 hubungan yang signifikan antara kesehatan nifas . =0,. serta mengecek dan mengisi buku kesehatan ibu dan anak. Disarankan kesehatan di Puskesmas Medan Belawan untuk melakukan promosi pelayanan kesehatan nifas, melatih dan membimbing para kader dukungan dan mengajak para ibu pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas serta menghimbau para ibu mengetahui isi, dan memanfaatkan buku kesehatan ibu dan anak, mengisi dan mengecek buku kesehatan ibu dan anak serta memberi informasi, serta selalu memberikan informasi mengenai pemanfaatan pelayanan kesehatan nifas dan mengingatkan ibu akan waktu kunjungan berikutnya. DAFTAR PUSTAKA Bhaisare. , & Khakase. Study of utilization of postnatal care services in Tribal Area. Maharashtra. International Journal Medical Science and Public Health, 3. , 1487-1491. Departemen Kesehatan RI. Buku Pedoman Pengenalan Tanda Bahaya Pada Kehamilan. Persalinan dan Nifas. Diakses http://lib. id/file?file=pdf /metadata-20099656. SARAN