Jurnal Pengabdian West Science Vol. No. Oktober, 2024, pp. Upaya Peningkatan Motivasi Belajar Agama Lusi Susanti1. Yeti Wiheti2. Ika Rohmatika3. Eros4. Haenunah5 1,2,3,4,5 Institut Madani Nusantara (IMN) *Corresponding Authors E-mail: lusiisusanti7@gmail. Article History: Received: Oct, 2024 Revised: Oct, 2024 Accepted: Oct, 2024 Abstract: Keberhasilan pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh tenaga pendidik, khususnya guru. Namun, faktor lain, seperti kepala sekolah, pemilik, orang tua, lingkungan, dan semua orang lain yang berkontribusi pada proses guru mencapai tujuan pendidikan, juga berkontribusi. Oleh karena itu, peran ini memiliki dampak yang signifikan terhadap tingkat aktifitas belajar siswa selama proses pembelajaran. Guru juga bertanggung jawab untuk merencanakan, membimbing, menilai, dan mendorong siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru agama islam dapat melakukan hal-hal berikut untuk meningkatkan menumbuhkan minat, menjelaskan tujuan akhir pembelajaran, memberikan tugas, mengadakan ulangan, membuat kompetisi, dan memberi siswa Namun, ada elemen pendukung yang dapat meningkatkan keinginan siswa untuk belajar di SMPN 4 Curugkembar Desa Sindangraja. Keywords: Guru. Motivasi. Belajar Pendahuluan Pendidikan merupakan kebutuhan penting bagi setiap individu, karena hanya melalui pendidikan seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang sangat diperlukan dalam kehidupan. Tanpa pendidikan, seseorang akan kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya dan mungkin tidak mampu menghadapi berbagai persoalan yang semakin kompleks, termasuk dalam hal agama. Pengetahuan yang diperoleh dari proses pendidikan dapat digunakan oleh setiap orang untuk mencapai kepentingan mereka sendiri. Dalam ayat sebelas surat AlMujadilah. Allah SWT menjelaskan: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jpws Vol. No. Oktober, 2024, pp. Artinya: AyHai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis". Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu". Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang membutuhkan pengetahuan untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan masalah ini. Dimungkinkan untuk menangani masalah dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Ilmu pengetahuan dapat memberi seseorang kebahagiaan di akhirat selain menjadi bekal untuk kehidupan duniawi. Dan ilmu hanya dapat diperoleh melalui proses belajar. Belajar adalah proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Perubahan ini dapat terlihat dalam berbagai aspek, seperti perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, sikap, perilaku, keterampilan, kemampuan respon, daya penerimaan, serta elemen lainnya yang ada pada individu. Dengan belajar, seseorang diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sehingga mereka dapat Belajar Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, adalah tempat yang cukup strategis untuk kegiatan belajar karena proses belajar mengajar di sana telah direncanakan dan diatur dengan baik. Tenaga pendidik yang profesional adalah mereka yang dapat mengajar dengan baik, terampil, menggunakan metode mengajar yang tepat, dan memahami mata pelajaran yang diajarkan. Jika mereka ada, proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik. Keberhasilan pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh tenaga pendidik, khususnya guru. Namun, faktor lain, seperti kepala sekolah, pemilik, orang tua, lingkungan, dan semua orang lain yang berkontribusi pada proses guru mencapai tujuan pendidikan, juga berkontribusi. Oleh karena itu, peran ini secara signifikan berdampak pada rendahnya tingkat aktifitas belajar siswa selama proses Guru juga bertanggung jawab untuk merencanakan, membimbing, menilai, dan mendorong siswa. Guru agama adalah seseorang yang mengajar dan mendidik anak didiknya tentang agama Islam dengan membimbing, menuntun, memberi tauladan, dan membantu mereka berkembang secara fisik dan rohani. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan agama, yaitu untuk membimbing anak-anak menjadi Muslim yang sejati. Vol. No. Oktober, 2024, pp. beriman kuat, beramal saleh, serta memiliki akhlak yang mulia, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, agama, dan negara. Guru agama memiliki tugas dan peran yang tidak terbatas dalam masyarakat. pada hakikatnya, mereka adalah bagian strategis yang memiliki peran penting dalam menentukan arah kehidupan bangsa. Kehidupan guru harus "ingarsa tulada, ing madya mangan karsa, tutwuri handayani", yang berarti memberi contoh kepada orang lain, membangun, dan mendorong orang lain. Timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan dikenal sebagai motivasi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa motivasi sangat penting untuk setiap orang dalam melakukan sesuatu, termasuk belajar. Karena motivasi dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, kegiatan belajar mereka harus dimotivasi. Apabila siswa dimotivasi dengan benar, mereka akan mencapai hasil belajar terbaik dan sebaliknya. Metode Penelitian ini dilakukan menggunakan paradigma penelitian tindakan kelas dan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sebagai metode utama. Bogdan dan Taylor, sebagaimana dikutip oleh Lex J. Moelong . 5: . , mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa perilaku serta ucapan tertulis atau lisan dari subjek penelitian. Metode ini mempertimbangkan latar belakang dan individu tersebut secara keseluruhan. Oleh karena itu, kita harus melihat organisasi atau individu sebagai bagian dari sesuatu keutuhan, bukan sebagai variabel atau hipotesis. Kirk dan Miller mendefinisikan penelitian kualitatif sebagai "tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya" (Lex J Moelong 2005:. Hasil Upaya Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di SMPN 4 Curugkembar Desa Sindangraja Seorang guru harus mengetahui motivasi belajar. Sangat bermanfaat bagi guru untuk mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa mereka. Membangkitkan, meningkatkan, dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil. Siswa yang tidak bersemangat, siswa yang tenggelam, dan siswa yang memiliki semangat yang kuat untuk mencapai tujuan belajar. Ini menunjukkan bahwa sangat penting Vol. No. Oktober, 2024, pp. bagi guru pendidikan agama Islam (PAI) untuk mengetahui apa yang mendorong setiap siswanya untuk menerima materi PAI. Jika mereka tahu apa yang mendorong siswanya untuk belajar, mereka akan lebih mudah melakukan sesuatu untuk meningkatkan motivasi mereka untuk belajar. Berdasarkan jenis motivasi yang digunakan untuk belajar, motivasi dapat dibagi menjadi tiga . Motivasi Tinggi Ketika siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk mempelajari agama Islam, proses pembelajaran akan menjadi lebih mudah karena adanya dorongan kuat dari dalam diri. Motivasi yang tinggi dalam belajar agama Islam cenderung berfokus pada faktor intrinsik, yaitu keinginan untuk lebih mendalami materi-materi terkait agama Islam. Upaya guru agama Islam untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yang memiliki motivasi tinggi adalah sebagai berikut: Memberikan angka, menggunakannya sebagai simbol dan menunjukkan nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, tetapi yang paling penting adalah mendapatkan skor atau nilai yang baik. Oleh karena itu, nilai ulangan atau nilai-nilai pada raport angka yang baik biasanya diberikan kepada siswa. Siswa sangat dimotivasi oleh angka-angka positif itu. Namun, ada juga siswa yang bekerja atau belajar hanya ingin menyelesaikan pelajaran saat masuk kelas. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki motivasi yang signifikan dibandingkan dengan siswa yang ingin mendapatkan nilai yang baik. Namun, guru harus mengingat bahwa pencapaian angka-angka seperti itu bukanlah hasil belajar yang sebenarnya atau bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang diambil oleh guru adalah untuk mengaitkan angka-angka dengan prinsip-prinsip yang terkandung dalam pengetahuan yang diajarkan kepada siswa, sehingga siswa tidak hanya memiliki kemampuan kognitif tetapi juga emosi dan keterampilan. Kompetisi atau persaingan dapat digunakan sebagai motivasi untuk mendorong siswa untuk belajar. Persaingan, baik individual maupun kelompok, dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Komponen persaingan ini sering digunakan dalam industri atau perdagangan, tetapi juga sangat efektif untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa. Motivasi Sedang Pada dasarnya, setiap siswa memiliki dorongan untuk belajar pendidikan agama Islam (PAI), tetapi mereka juga memerlukan dorongan atau rangsangan dari Vol. No. Oktober, 2024, pp. luar, sehingga motivasi sedang sedikit banyak bergantung pada faktor-faktor yang berasal dari luar. Berikut ini adalah upaya guru pendidikan agama Islam untuk meningkatkan motivasi belajar siswa yang memiliki motivasi sedang: Memberikan tugas: Tugas adalah tugas yang membutuhkan pelaksanaan. Guru dapat meningkatkan dorongan siswa mereka dengan memberikan tugas yang terus-menerus. Siswa dapat diberi tugas individu atau Tugas individu seperti mengerjakan lembar kerja, sedangkan tugas kelompok seperti menganalisis peristiwa di lingkungan mereka dan membuat keliping yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Salah satu cara guru dapat mendorong siswa untuk belajar lebih baik adalah dengan memberikan ulangan, materi ulangan, atau ujian kepada Ini karena kebanyakan guru akan mendorong siswa untuk belajar lebih banyak. Namun, guru harus memperhatikan bahwa tidak boleh terlalu sering, seperti setiap hari, karena dapat menjadi membosankan dan menjadi rutinitas. Dalam hal ini, guru harus tetap terbuka. mereka harus memberi tahu siswa jika ada ulangan. Memberikan nilai merupakan cara penting untuk memotivasi siswa yang ingin mempelajari pendidikan agama Islam, karena angka tersebut menunjukkan kemajuan hasil belajar mereka dan memberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki nilai yang kurang memuaskan. Motivasi Rendah Siswa yang tidak memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar pendidikan agama islam (PAI) disebut sebagai motivasi rendah. Hal ini biasanya terjadi ketika perasaan siswa menjadi kecewa, yang menyebabkan mereka kurang bersemangat untuk belajar. Oleh karena itu, diperlukan dorongan atau pemicu untuk mendorong kembali semangat siswa untuk belajar. Salah satu upaya guru pendidikan agama islam (PAI) untuk meningkatkan motivasi siswa yang kurang motivasi adalah: Memberi ganjaran: Ganjaran adalah alat pendidikan yang menyenangkan dan dapat mendorong siswa untuk lebih giat belajar daripada sebelumnya. Memberikan ganjaran kepada siswa atas prestasi atau kemajuan mereka dapat meningkatkan motivasi siswa untuk lebih giat belajar dan menumbuhkan semangat baru bagi siswa, mendorong mereka untuk berusaha lebih baik. Menumbuhkan ketertarikan. Motivasi sangat erat terkait dengan elemen Vol. No. Oktober, 2024, pp. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan, begitu juga dengan minat, sehingga tepat bila minat digunakan sebagai alat utama untuk mendorong proses belajar mengajar, sehingga proses belajar dapat berjalan Menjelaskan tujuan akhir: Rumusan tujuan yang diterima baik oleh siswa adalah alat yang sangat penting untuk mendorong mereka untuk belajar. Tujuan yang jelas yang ditulis pada awal pelajaran dan disampaikan terlebih dahulu kepada siswa akan meningkatkan motivasi mereka untuk belajar. Kesimpulan Tiga kategori motivasi berbeda dapat digunakan oleh guru pendidikan agama islam: motivasi tinggi, motivasi sedang, dan motivasi rendah. Memberikan ganjaran, menumbuhkan minat, dan menjelaskan tujuan akhir adalah contoh motivasi rendah. Motivasi tinggi terdiri dari memberi angka, kompetisi, dan tugas. Faktor-faktor berikut dapat membantu meningkatkan motivasi belajar di SMPN 4 Curugkembar Desa Sindangraja: sarana dan prasarana yang lengkap, lingkungan yang aman dan nyaman, dukungan dan kerja sama dari guru non-agama islam, dan ekonomi yang Di sisi lain, faktor penghambat adalah semangat belajar siswa yang kurang, karena mereka mudah terpengaruh oleh lingkungan mereka. Daftar Referensi A Rusyan. Tabrani, dkk, 2009. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya. Abu Bakar. Muhammad, 2008. Pedoman Pendidikan dan Pengajaran. Surabaya: Usaha Nasional. Al Abrasyi. Athiyah, 2007. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang. Arikunto. Suharsimi, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Bahreisy. Salim, 2008. Terjemah Riadhus Shalihin. Bandung: Al-MaAoarif Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, 2007. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara. Vol. No. Oktober, 2024, pp. Daradjat. Zakiah, 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Dien Indrakusuma. Amir, 1978. Pengantar Ilmu Pendidikan. Malang: FKIP IKIP. Dikananda. Pratama. , & Rinaldi. E-Learning Satisfaction Menggunakan Metode Auto Model. Jurnal Informatika: Jurnal Pengembangan IT, 4. , 159-164. Djamarah. Syaiful Bahri, 2010. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta. Faqih. , & Pratama. Pengembangan Adaptive Learning Berbasis Multimedia 3D Materi Sistem Bilangan Real. In Prosiding Seminar Nasional Unimus (Vol. Hamalik. Oemar, 1992. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru. Margono, 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Moleong, lexy J. , 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya. Muhaimin, 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. Jakarta: RadjaGrafindo Persada. Nazir. Moh, 2008. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia Poerwadarminta. , 2006. Kamus Umum Bahasa