Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika TANTANGAN MENEMPUH PENDIDIKAN TINGGI: STUDI OPTIMISME DAN RESILIESI AKADEMIK MAHASISWA PENERIMA BEASISWA BIDIKMISI Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Fakultas Psikologi. Universitas Kristen Satya Wacana ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: July 2023 Approved: Sept 2023 Published: Dec 2023 Students who want to continue their education at tertiary institutions certainly need a lot of money, many students are vying for scholarships to continue their One of the scholarships that are in great demand is the Bidikmisi Being a student who receives a Bidikmisi scholarship certainly has challenges and obstacles in lectures. To overcome these obstacles and demands, students who receive a Bidikmisi scholarship need to have good academic resilience. Optimism is one of the factors in the formation of academic resilience. With an attitude of optimism in students who receive Bidikmisi scholarships, it can make these students carry out their duties and responsibilities in the academic field well. The purpose of this study is to determine the relationship between optimism and academic resilience in students receiving Bidikmisi scholarships. The method used is a quantitative method with a correlational design. The total participants in this study were 110 students receiving Bidikmisi scholarships throughout Indonesia using the Snowball sampling technique. This study used the Optimism Scale ( = . and the Academic Resilience Scale ( = . The results of this study indicate a positive relationship between optimism and academic resilience . = . and sig. = . That is, the higher the optimism of students, the higher the academic resilience of students receiving Bidikmisi scholarships. Keywords : resilience, students. bidikmisi scholarship. Alamat Korespondensi: Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga. Jawa Tengah. Indonesia 50711 E-mail: eriskadebora@gmail. huwae@uksw. Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 INFO ARTIKEL Sejarah Artikel Diterima : Juli 2023 Disetujui: September 2023 Dipublikasikan: Desember 2023 Kata Kunci: Hal 56-66 ABSTRAK Mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, banyak mahasiswa yang berlomba-lomba mencari beasiswa untuk melanjutkan sekolah. Salah satu beasiswa yang banyak diminati yaitu beasiswa Bidikmisi. Menjadi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi pastinya memiliki tantangan dan hambatan dalam perkuliahan, untuk mengatasi hambatan serta tuntutan tersebut mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi perlu memiliki resiliensi akademik yang baik. Optimisme menjadi salah satu faktor dalam pembentukan resiliensi akademik. Dengan adanya sikap optimisme pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi maka dapat membuat mahasiswa tersebut menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam bidang akademik dengan baik. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara optimisme dan resiliensi akademik pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Metode yang digunakan yaitu metode kuantitatif dengan desain korelasional. Total partisipan dalam penelitian ini yaitu 110 orang mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi diseluruh Indonesia dengan menggunakan teknik sampling snowball sampling. Penelitian ini menggunakan Skala Optimisme ( = 0,. dan Academic Resilience Scale ( = 0,. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif antara optimisme dengan resiliensi akademik . = 0,366 dan sig. = 0,. Artinya, semakin tinggi optimisme yang dimiliki oleh mahasiswa, maka semakin tinggi pula resiliensi akademik yang dimiliki mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. PENDAHULUAN Mahasiswa merupakan individu yang sedang menjalani pendidikan pada perguruan tinggi baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Untuk melanjutkan diperguruan tinggi dan menjadi mahasiswa pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan banyak anak-anak yang akhirnya putus sekolah/kuliah karena kurangnya biaya atau kondisi finansial keluarga yang tidak mendukung (Roellyana & Listiyandini, 2. Tetapi banyak juga anak-anak yang memiliki tekad besar untuk berkuliah dan mencoba mendaftar beasiswa agar bisa melajutkan Salah satu beasiswa yang dibuat oleh pemerintah, yaitu bidikmisi (Septianti. Beasiswa Bidikmisi merupakan bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi dalam bidang akademik serta memiliki kemauan untuk melanjutkan pedidikan di perguruan tinggi (Jannah. Aprilia. Kumala, & Khatijatusshalihah, 2. Program ini dibuat oleh Menteri Pendidikan Nasional pada tahun 2010 (Kemendikbud, 2. Setiap mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Bidikmisi harus mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya agar dapat mencapai prestasi yang telah ditetapkan dalam peraturan pemberian beasiswa tersebut (Jannah dkk. , 2. Beasiswa Bidikmisi memiliki persyaratan atau ketentuan yang harus dipenuhi oleh calon mahasiswa yang akan mendaftar, yaitu siswa SMA/SMK/MA yang lulus di tahun pendaftaran perkuliahan, serta memiliki usia maksimal 21 tahun. Selain itu, calon mahasiswa harus memiliki potensi akademik yang baik, dan syarat yang paling diutamakan pada beasiswa bidikmisi yaitu memiliki keterbatasan dalam ekonomi dengan kriteria yang ditentukan (Kemendikbud, 2. Target penerima beasiswa Bidikmisi pada tahun 2021 yaitu 1. 000 orang. Mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi memiliki keterikatan kontrak dengan perguruan tinggi yang harus dipenuhi salah satunya standar IPK minimal 2,75 yang harus tetap dipertahankan. Selama 8 semester mahasiswa harus mampu mempertahankan nilai tersebut agar tidak terjadi penurunan Mendapatkan beasiswa Bidikmisi serta mempertahankan beasiswa tersebut tidaklah mudah, dimana mahasiswa harus melakukan berbagai proses seleksi, pembinaan dan harus terus melaporkan kemajuan prestasi akademiknya setiap semester. Beasiswa bidikmisi dapat dihentikan jika mahasiswa yang menerima beasiswa tersebut dinyatakan meninggal. Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 mengundurkan diri dari perguruan tinggi, terbukti memalsukan dokumen-dokumen persyaratan, serta tidak memenuhi syarat akademik yang ditetapkan misalnya IPK yang tidak sesuai dengan standar ketentuan yang berlaku (Septianti, 2. Berbagai tantangan dan hambatan pastinya dirasakan oleh mahasiswa penerima Bidikmisi terutama dalam bidang akademik. Sebagaimana hasil data wawancara yang dilakukan pada 10 orang mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi . awancara dilakukan pada bulan Mei 2. , yang mengungkapkan bahwa bidang akademik menjadi salah satu penyebab stres, seperti sistem pendidikan yang kurang memadai, banyaknya tugas yang harus diselesaikan, dan juga manajemen waktu belajar yang kurang. Berbagai tuntutan baik itu akademik maupun non akademik dihadapi oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang dimana hal tersebut menjadi sumber stres dan tekanan yang harus dihadapi. Mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi mengungkapkan ada beberapa tuntutan akademik yang harus diikuti, yaitu harus memenuhi standar minimal IPK 2,75 yang telah ditetapkan, wajib untuk mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan, dan tidak diberikan ijin untuk cuti akademik. Dengan adanya tuntutan yang dihadapi, mahasiswa penerima beasiswa merasa terbebani dengan tuntutan-tuntutan yang ada, tetapi mereka harus tetap menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Apabila mahasiswa tidak memenuhi standar ketentuan yang sudah disepakati, maka akan diberikan teguran sampai tiga kali peringatan. Jika tidak ada perubahan, maka akan diberhentikan atau beasiswa tersebut dicabut. Stephens. Hamedani, dan Destin . mengatakan bahwa setiap mahasiswa menghadapi masalah dan kesulitan yang berbeda dalam kehidupan akademik. Untuk bisa mengatasi berbagai tantangan, hambatan dan tekanan akademik yang dirasakan oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi maka perlu adanya resiliensi akademik (Wedyaswari. Cahyadi. Susiati, & Yuanita, 2. Resiliensi akademik dimaknai sebagai suatu kemampuan individu untuk dapat meningkatkan keberhasilan dalam bidang akademik walaupun sedang mengalami kesulitan (Cassidy, 2. Resiliensi akademik dapat terjadi apabila mahasiswa mampu menggunakan keterampilannya dalam mengatasi pengalaman negatif, menekan dan menghambat dalam proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya inidvidu dapat beradaptasi dan melaksanakan setiap tuntutan akademik dengan baik (Boatman, 2. Mahasiswa dengan resiliensi akademik yang rendah memiliki peluang keberhasilan dalam bidang akademik yang kecil atau bahkan dapat memperoleh kegagalan. Selain itu, dapat membuat individu menjadi stres dan melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa (Ayu & Nawangsih, 2. Tetapi berbanding terbalik dengan mahasiswa yang memiliki resiliensi akademik yang baik, dimana individu akan lebih sejahtera, memiliki keyakinan yang kuat untuk mencapai sesuatu dan juga mampu bangkit serta bertahan dalam kondisi sulit yang dihadapinya (Roellyana & Listiyandini, 2. Cassidy . mempertegas bahwa gambaran individu yang resilien dalam bidang akademik melalui ketekunan, refleksi dan mencari bantuan adaptif, afek negatif dan respon Selama proses menjadi resilien selama menempuh kegiatan akademik, nampaknya tidak terlepas dari berbagai faktor internal maupun eksternal (Li, 2. Salah satu faktor internal yang berkaitan dengan meningkat maupun menurunnya resiliensi akademik adalah optimisme (Hwang, & Kim, 2. Optimisme menjadi faktor yang utama dalam pembentukan resiliensi akademik, dimana individu yang optimisme merupakan individu yang memiliki keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan yang akan datang (Gymez-Molinero. Zayas. Ruiz, & Guil, 2. Artinya semakin tinggi tingkat optimisme maka semakin tinggi pula resiliensi akademik yang dimiliki individu. Penting bagi mahasiswa untuk memiliki pandangan optimisme, dimana optimisme dapat membawa pengaruh positif bagi kehidupan manusia dan orang yang optimis menunjukkan sikap ketahanan yang lebih tinggi ketika menghadapi situasi yang sulit. Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 Seligman . menjelaskan bahwa optimisme sebagai keyakinan individu tentang peristiwa buruk atau kegagalan yang hanya bersifat sementara, tidak mempengaruhi semua aktivitas individu dan tidak seutuhnya disebabkan oleh kesalahan individu tetapi bisa saja disebabkan oleh situasi, nasib dan orang lain. Individu yang optimis dapat berpikir positif dan memiliki keyakinan bahwa kebahagiaan dan hal-hal yang baik akan terjadi di masa depan (Maheshwari & Jutta, 2. Begitu pula dengan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, dimana mereka harus memiliki sikap optimisme dalam menjalankan kegiatan akademik agar perkuliahan dapat berjalan dengan baik dan tuntutan-tuntutan serta hambatan-hambatan dapat dilewati pula dengan suatu pandangan yang positif. Ketika mahasiswa memiliki optimisme yang rendah maka individu akan merasa tidak mampu menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik bahkan individu akan merasa telah gagal dalam perkuliahan. Tetapi jika mahasiswa memiliki optimisme yang tinggi, maka akan mampu menemukan koping yang tepat untuk mengatasi masalah dan memiliki pandangan yang positif dalam hidupnya (Ayu & Nawangsih. Dengan adanya optimisme dapat mendorong mahasiswa untuk memiliki resiliensi akademik yang baik sesuai dengan fungsinya yaitu membuat individu menjadi lebih tangguh dalam menghadapi berbagai masalah (Maheshwari & Jutta, 2. Selain itu, mahasiswa dengan optimisme yang tinggi memiliki keyakinan tentang masa depannya, tidak mudah putus asa, dan melihat suatu kegagalan itu sebagai sesuatu hal yang dapat diperbaiki menjadi baik (Musabiq & Meinarno, 2. Dengan adanya resiliensi akademik yang baik tentu membuat hidup seseorang menjadi sejahtera dalam bidang akademik, dan seseorang dengan resiliensi akademik yang baik itu muncul dari optimisme yang ada dalam dirinya untuk mencapai sesuatu (Hwang & Kim, 2. Dengan adanya sikap optimis pada diri mahasiswa, maka dapat membuat mahasiswa tersebut untuk bisa menjalankan tuntutan serta hambatan-hambatan dalam bidang akademik dengan baik (Aman, 2. Mahasiswa membutuhkan optimisme dan resiliensi akademik yang baik untuk dalam menjalankan perkuliahan dengan baik dan tidak merasa gagal dalam perkuliahan. Hasil penelitian yang dilakukan Kim dan Lee . menemukan adanya hubungan yang positif antara optimisme dan resiliensi akademik r = 0,782. Selain itu. Maheshwari dan Jutta . menemukan korelasi positif yang kuat antara optimisme dan resiliensi pada kalangan mahasiswa r = 0,563. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Listiyandini dan Akmal . menunjukan bahwa kekuatan optimisme tidak berkorelasi dengan resiliensi pada mahasiswa aktif fakultas psikologi universitas Y dan p>0,00. Melihat fenomena dan hasil penelitian terdahulu, maka peneliti ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai optimisme dan resiliensi akademik. Peneliti ingin menggali lebih lanjut karena sebagai seorang penerima beasiswa pastinya memiliki tekanan dan juga hambatan yang dihadapi serta ingin mengetahui bagaimana cara mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi mampu bertahan di tengah-tengah situasi yang sulit sekalipun. Mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi harus mampu bertahan agar dapat terus mempertahankan prestasi akademik yang dimiliki, sehingga beasiswa Bidikmisi tersebut tidak dapat dicabut. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara optimisme dengan resiliensi akademik pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Kemudian, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah terdapat hubungan positif antara optimisme dan resiliensi akademik pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. METODE Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan jenis kuantitatif dengan desain korelasional untuk menguji hubungan antara satu variabel bebas . dengan satu variabel terikat . esiliensi akademi. khususnya pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi di Indonesia. Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 Partisipan Penelitian Partisipan dalam penelitian ini adalah 110 mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia dengan menggunakan teknik snowball sampling, yaitu teknik pemilihan sampel yang awalnya dalam jumlah kecil kemudian menjadi besar. Dipilihnya snowball sampling, karena penyebaran kuesioner diberikan kepada mahasiswa yang menerima beasiswa Bidikmisi yang dikenal oleh peneliti di beberapa universitas negeri dan swasta di Indonesia, yang kemudian peneliti meminta bantuan untuk memperluas kuesioner kepada mahasiswa lain yang juga mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Gambaran demografi partisipan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Demografi Partisipan Karakteristik Partisipan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Lama Menerima Beasiswa Tahun ke-1 Tahun ke-2 Tahun ke-3 Tahun ke-4 Jenis Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi Negeri Perguruan Tinggi Swasta Frekuensi Persentase Pengukuran Metode pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari dua skala psikologi yaitu skala optimisme dan skala resiliensi akademik. Skala penelitian disebarkan menggunakan bantuan digital, yaitu google form. Skala Optimisme Optimisme diukur menggunakan Skala Optimisme yang dikembangkan oleh Christianto . berdasarkan aspek-aspek optimisme dari Seligman . , yaitu permanence, pervasiveness, dan personalization. Skala optimisme kemudian disesuaikan kembali oleh peneliti berdasarkan konteks partisipan dan dilakukan validasi oleh expert judgement. Skala optimisme terdiri dari 22 aitem yang disusun dengan dua jenis pernyataan, yaitu favorable dan unfavorable yang menggunakan model Likert dengan mempunyai empat macam pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). Contoh aitem dari skala optimisme, yaitu AuSaya mampu untuk tetap produktif di kegiatan akademik, meskipun ada banyak tantangan yang harus dihadapiAy. Dari hasil uji daya diskriminasi aitem, diperoleh semua aitem memenuhi kriteria . >0,. dengan nilai korelasi aitem total yang berkisar antara 0,3300,734 dan nilai Alpha Cronbach 0,894 . angat reliabe. Skala Resiliensi Akademik Resiliensi akademik diukur menggunakan Academic Resilience Scale (ARS-30. Cassidy, 2. yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Kumalasari. Luthfiyani, dan Grasiawaty . berdasarkan tiga dimensi resiliensi akademik dari Cassidy . , yaitu ketekunan, refleksi dan adaptasi dalam mencari bantuan, pengaruh negatif dan respon emosional. Skala resiliensi akademik kemudian disesuaikan kembali oleh peneliti berdasarkan konteks partisipan dan dilakukan validasi oleh expert judgement. Skala resiliensi akademik terdiri dari 24 aitem yang disusun dengan dua jenis pernyataan, yaitu favorable dan unfavorable yang menggunakan model Likert dengan mempunyai empat macam pilihan jawaban, yaitu sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS) dan sangat tidak sesuai (STS). Contoh aitem dari skala resiliensi akademik, yaitu AuSaya akan mencoba berbagai cara yang berbeda untuk belajar Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 materi perkuliahan yang sulitAy. Dari hasil uji daya diskriminasi aitem, diperoleh 19 aitem memenuhi kriteria . >0,. dengan nilai korelasi aitem total yang berkisar antara 0,300-0,638 dan nilai Alpha Cronbach 0,869 . angat reliabe. Teknik Analisis Data Teknik analisis data penelitian menggunakan uji korelasi Product Moment dari Karl Pearson. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Deskriptif Tabel 2. Kategorisasi Variabel Optimisme Interval 66 O x O 88 44 O x O 66 32 O x O 44 Kategori Tinggi Sedang Rendah Frekuensi Jumlah Min = 32. Max = 88. Mean = 68,64. SD = 9,654 Persentase Hasil kategorisasi variabel optimisme pada Tabel 2, menunjukkan skor paling rendah 32, skor paling tinggi 88, dan rata-ratanya 68,64 dengan standar deviasi 9,654. Dengan demikan, tingkat optimisme yang diperoleh oleh sebagian besar mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi berada pada kategori tinggi dengan persentase 62%. Tabel 3. Kategorisasi Variabel Resiliensi Akademik Interval 57 O y O 76 38 O y O 57 33 O y O 38 Kategori Tinggi Sedang Rendah Frekuensi Jumlah Min = 33. Max = 76. Mean = 60,19. SD = 7,943 Persentase Hasil kategorisasi variabel resiliensi akademik pada Tabel 3, menunjukkan skor paling rendah adalah 33, skor paling tinggi 76, dan rata-ratanya 60,19 dengan standar deviasi 7,943. Dengan demikan resiliensi akademik yang dimiliki oleh sebagian besar mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi paling banyak berada pada kategori tinggi dengan persentase 74%. Uji Asumsi Normalitas Tabel 4. Uji One Sample Kolomogorov-Smirnov Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. -taile. Optimisme 0,830 0,496 Resiliensi Akademik 0,958 0,318 Berdasarkan hasil uji asumsi normalitas pada Tabel 4, menunjukkan nilai K-S-Z variabel optimisme sebesar 0,830 dengan signifikansi 0,496. Kemudian, nilai K-S-Z variabel resiliensi akademik sebesar 0,958 dengan signifikansi 0,318. Nilai signifikansi dari variabel optimisme dan resiliensi akademik lebih besar dari 0,05, maka variabel tersebut dikatakan berdistribusi normal. Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 Uji Asumsi Linieritas Tabel 5. Uji Linieritas ANOVA 20,470 1,692 Linearity Deviation from Linearity Sig. 0,000 0,030 Berdasarkan hasil uji linieritas pada Tabel 5, diperoleh nilai Fhitung sebesar 20,470 dengan signifikansi 0,000 . <0,. yang menunjukkan bahwa hubungan antara optimisme dengan resiliensi akademik adalah linier. Uji Hipotesis Korelasi Tabel 6. Uji Korelasi Karl Pearson Optimisme Resiliensi Akademik Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Optimisme 0,366** 0,000 Resiliensi Akademik 0,366** 0,000 Berdasarkan hasil perhitungan uji korelasi pada Tabel 6, diperoleh koefisien Pearson correlation sebesar 0,366 dengan signifikansi 0,000 . <0,. yang berarti ada hubungan positif signifikan antara optimisme dengan resiliensi akademik, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi optimisme yang dimiliki, maka akan semakin tinggi juga resiliensi akademik yang dimiliki oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Optimisme memberikan sumbangan terhadap resiliensi akademik sebesar 13,4% . Berdasarkan hasil penelitian, menunjukan bahwa hipotesis diterima yang dimana optimisme berhubungan positif signifikan dengan resiliensi akademik. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Roellyana dan Listiyandini . , bahwa hasil penelitian menunjukan adanya korelasi ke arah positif antara optimisme dan resiliensi Dimana semakin tinggi optimisme yang dimiliki oleh mahasiswa, maka semakin tinggi pula resiliensi akademik yang dimiliki. Hal ini berarti bahwa variasi meningkatnya resiliensi akademik karena adanya optimisme yang baik dari para mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Mahasiswa yang resilien adalah mereka yang mampu beradaptasi dalam bidang akademik dengan memberikan respon yang positif dalam mengatasi dan menghadapi tuntutan akademik (Satyaninrum, 2. Berdasarkan hasil analisis deskriptif dalam penelitian ini diketahui bahwa resiliensi akademik yang dimiliki mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi berada pada kategori tinggi . %), yang artinya mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi mampu menghadapi situasi sulit serta beradaptasi dengan tuntukan akademik. Sejalan dengan penelitian dari Sari dan Suhariadi . yang mengatakan bahwa mahasiswa dengan resiliensi akademik yang tinggi akan memiliki komitmen dalam menghadapi perubahan pada bidang Selain itu, dapat membantu mahasiswa untuk mengatasi dan mengelola stres dalam bidang akademik (Kumalasari & Akmal, 2. Resiliensi akademik yang tergambarkan di dalam kegiatan akademik mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi meliputi kemampuan akan ketekunan, refleksi dan adaptasi dalam mencari bantuan, pengaruh negatif dan respon emosional. Ketekunan yang ditunjukkan mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi terkait dengan cara mengakomodasi perilaku untuk bertahan menghadapi tuntutan akademik. Mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi juga mampu bekerja keras dan tidak mudah menyerah, sehingga dapat fokus pada proses serta Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 tujuan yang ingin dicapai dalam perkuliahan. Resiliensi akademik mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi nampak termanifestasi melalui kemampuan merefleksikan dirinya dengan cara menyadari apa yang ada dalam diri. Selain itu, mahasiswa juga mengetahui kelemahan dan kelebihan yang ada dalam dirinya sehingga dapat membentuk strategi dalam menghadapi kesulitan akademik. Ketika dalam kesulitan, mahasiswa penerima besiswa Bidikmisi dapat mencari bantuan dan dorongan dari individu lainnya seperti teman, orang tua dan lingkungan sekitarnya. Hal menarik lainnya yang membuat mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi mampu resilien dalam kegiatan akademik, karena dapat mengelola serta menghindari emosi negatif. Bustam. Gismin, dan Radde . memandang bahwa individu yang memiliki resiliensi akademik yang baik, akan menghindari hal-hal yang meresahkan, atau hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Kondisi ini nampak ditunjukkan oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi dalam penelitian ini, dimana mereka mampu belajar membatasi pengaruh negatif dari lingkungan yang mengarah pada kegagalan akademik yang ditempuh serta mengendalikan emosi-emosi negatif agar tidak memengaruhi produktivitas akademik yang Resiliensi akademik yang terjadi pada partisipan penelitian tidak terlepas dari faktor Gymez-Molinero dkk. mengungkapkan bahwa optimisme merupakan faktor pendukung dalam meningkatkan resiliensi serta dapat mengurangi tekanan psikologis pada Optimisme yang dimiliki oleh partisipan berada pada kategori tinggi . %), yang menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi memiliki optimisme yang baik, sehingga dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik Mahasiswa yang memiliki optimisme yang tinggi, cenderung mengarah pada munculnya harapan tentang hal-hal baik yang akan terjadi dalam perkuliahannya (Musabiq & Meinarno. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Roellyana dan Listyandini . yang menunjukkan bahwa optimisme berperan signifikan terhadap peningkatan resiliensi. Optimisme yang direpresentasikan oleh mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi berkaitan dengan kemampuan permanence, pervasiveness, dan personalization. Mahasiswa penerima beasiswa Bidimisi yang permanence memandang atau menyikapi masalah sebagai suatu keadaan yang sementara atau masalah yang dihadapi dirinya itu akan cepat berlalu. Selain itu, peristiwa buruk yang terjadi dalam hidupnya dipandang sebagai sesuatu keadaan yang dapat dilewati dengan waktu yang tidak lama. Sebaliknya, individu yang optimis akan memandang peristiwa yang baik bersifat menetap atau permanen (Seligman, 2. Partisipan yang optimis melalui kemampuan pervasiveness akan mencari tahu penyebab masalah sampai pada akarnya. Dalam menghadapi peristiwa buruk, mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang optimis akan memandang peristiwa tersebut disebabkan adanya hal yang spesifik atau khusus yang tidak meluas keseluruh aspek kehidupan. Sebaliknya, orang yang pesimis akan melihat peristiwa buruk disebabkan oleh hal yang universal sehingga dapat memengaruhi seluruh aspek kehidupannya (Seligman, 2. Hasil penelitian menunjukkan adanya kemampuan personalization dalam diri mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Hal ini ditunjukkan dengan sikap partisipan yang melihat suatu peristiwa buruk yang terjadi berasal dari luar dirinya atau faktor eksternal. Sebaliknya, individu yang optimis melihat suatu peristiwa baik atau keberhasilan sebagai suatu hal yang berasal dari dirinya sendiri atau faktor internal (Seligman, 2. Optimisme dapat membantu mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi agar memiliki resiliensi akademik yang baik dengan cara memiliki ketekunan. Ketika individu tidak mudah menyerah dalam tekanan serta menjadikan suatu masalah sebagai motivasi untuk tetap bangkit maka disitu terbentuklah ketekunan pada dirinya. Dengan ketekunan mahasiswa memiliki semangat untuk mengatasi masalah yang ada serta mencapai tujuan dalam berkuliah. Ketekunan dapat menjadikan mahasiswa mampu bekerja keras melalui berpikir optimis untuk berusaha mencoba hal-hal baru. Suseno . dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa individu yang optimis akan berusaha mencari bantuan ketika dihadapkan dengan masalah. Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 karena individu beranggapan bahwa relasi sosial juga penting yang akan dapat membantu dirinya dalam situasi sulit. Mahasiswa akan mencari bantuan pada teman, dosen dan juga orang-orang sekitarnya. Selain itu, mahasiswa yang optimis akan merefleksikan dirinya dengan menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri. Ketika menyadari kelebihan dan kekurangan yang ada, maka individu akan cenderung menerima dirinya dan lebih survive untuk mencapai tujuan hidupnya. Mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi yang optimis pastinya juga merasakan pengaruh negatif terhadap dirinya. Dalam menyikapi hal tersebut, mereka akan memberikan respon yang positif kepada pengaruh negatif tersebut yang artinya individu mampu mengelolah perasaanya sehingga dapat memberikan respon positif. Khademi dan Kadkhodaie . mempertegas bahwa mahasiswa yang optimis jarang terkejut dengan masalah, karena memiliki pemikiran dan pandangan yang positif akan masa depannya walaupun dalam perkuliahan terdapat banyak hambatan dan tuntutan. Melalui penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi optimisme yang dimiliki mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, maka semakin tinggi pula resiliensi akademik yang dimiliki mahasiswa tersebut. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan terdapat hubungan positif signifikan antara optimisme dengan resiliensi akademik pada mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Skor optimisme berada pada kategori tinggi, dan skor resiliensi akademik berada pada kategori tinggi. Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin tinggi optimisme yang dimiliki, maka akan semakin tinggi pula resiliensi akademik mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi. Optimisme memberikan sumbangan terhadap resiliensi akademik sebesar 13,4%. Saran dari penelitian ini bagi mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, diharapkan untuk terus bertahan di tengah tuntutan akademik yang begitu berat dengan tetap berpikir positif serta memiliki sikap optimisme dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa. Bagi orang tua, diharapkan agar dapat mendukung serta memberi dorongan kepada anak sebagai seorang mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi, sehingga ketika mahasiswa mengalami masalah dalam perkuliahan, mereka mampu bertahan karena adanya dukungan dari orang tua. Bagi penelitian selanjutnya, diharapkan dapat memperluas cakupan penelitian pada kelompok-kelompok penerima beasiswa yang lain selain Bidikmisi, serta melakukan penelitian yang lebih dalam seperti apakah jenis kelamin dan perbedaan pembelajaran antara PTN dan PTS atau sejenisnya yang berpengaruh pada optimisme dan resiliensi akademik mahasiswa. Eriska Debora Isliko 1*. Arthur Huwae 2 Jurnal Psikohumanika. Volume 15. No 2 Desember 2023 Hal 56-66 DAFTAR PUSTAKA