Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 5. No 2. Juli 2024 MEMBANGUNKAN GEMBALA SEBUAH METAFORA TANTANGAN TEOLOGI PASTORAL BAGI GEREJA MASA KINI Natanael Tarigan STFT GKI I. S Kijne Jayapura tarigannatanael45@gmail. ABSTRAK Tulisan ini merupakan kajian teologi pastoral atas miskinnya penggembalaan dalam gereja. Tujuannya untuk memperlihatkan pentingnya kesadaran baru dalam berteologi kontekstual melalui tindakan penggembalaan. Tanpa pertumbuhan teologi penggembalaan dalam suatu gereja maka, gereja itupun akan miskin teologi Artikel ini hendak menjawab pertanyaan, bagaimana seharusnya gereja menata ruang berteologi melalui kegiatan penggembalaan sebagai sebuah teologi konstruktif dalam kehidupannya? Dengan demikian akan terlihat teologi khas dari sebuah gereja. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pengumpulan datanya melalui studi Penulis mencari sejarah dan perkembangan teologi pastoral dalam buku-buku dan menganalisis proses berteologinya dan dijadikan sebagai data dalam hal menunjukkan kualitas atas teologi Temuannya bahwa titik berangkat gereja yang kontekstual ialah ruang-ruang Bila ruang itu tidak tersedia maka teologi kontekstual gereja itu juga akan tandus. Adapun sistimatika penulisannya, dimulai dari pengertian teologi penggembalaan, dilanjutkan penalaran singkat sejarah perkembangan penggembalaan, kemudian melihat sekilas metode yang berkembang dalam penggembalaan, dan alternatif yang menjadi tantangan kesadaran gereja dalam tugas dan panggilannya dalam penggembalaan. Kata Kunci: Penggembalaan . Metode Berteologi. Sejarah Pastoral. Kesadaran Teologi. Arah Pastoral. Spiral Pastoral ABSTRACT This paper is a pastoral theology studies on the poor pastoral care in the church. It aims to bring out the importance of a new awareness of contextual theology through the act of shepherding. If there is no growth of shepherding theology in a church, then the church will be poor in contextual theology. This article would like to address the question, how should the church organize the space of theology through shepherding activities as a constructive theology in its life? Thus the typical theology of a church will be revealed. The method used in this research is descriptive qualitative. The data was collected through library studies. The author searches the history and the development of pastoral theology in several books and analyzes the process of theology and serves as data in terms of showing the potential quality of contextual theology. The finding is that the departure point of the contextual church is pastoral spaces. If that space is not provided, then the church's contextual theology will also be dry. The systematics of the writing, starting from the definition of shepherding theology, followed by a brief historical reasoning of the development of shepherding, then a glimpse of the methods that develop in shepherding, and alternatives that challenge the awareness of the church in its task and calling in shepherding. Key Words: Pastoral, theology method, the history of pastoral, theology awareness, the task of pastoral, the spiral of pastoral PENDAHULUAN Kebanyakan warga gereja, ketika membicarakan pastoral . mengasiosiasikannya dengan pelayanan gereja terhadap masalah-masalah praktis yang terjadi di lingkungan gereja. Sebut saja masalah pendampingan kepada mereka yang berdukacita, masalah-masalah rumah tangga, konflik dalam jemaat, pelayanan kepada orang sakit, kunjungan rumah tangga, dll. Pokoknya kegiatan yang menolong warga jemaat secara langsung agar mereka tetap setia sebagai warga gereja. Secara umum mereka menengarai bahwa bahwa orang akan lari dari kandang bila para pemimpin tidak melakukan pelayanan penggembalaan dengan baik. Tidak ada yang salah dengan pengetahuan umum ini, sayangnya pemahaman seperti ini sudah tidak memadai bila kita menyebut pastoral. Pelayanan pastoral . dianggap sebagai keterampilan praktis seorang pendeta yang akan diperoleh dari pengalaman menjadi seorang gembala. Ini berakibat pada waktu yang lama . ungkin berlangsung juga sampai sekaran. , penggembalaan sebagai ilmu kurang Dalam lingkungan pelayanan gereja, penggembalaan selalu terlihat dari buku-buku manual, pedoman, atau aturan penggembalaan. Diharapkan bahwa para pelayan gereja akan mempedomani dan mempraktikannya secara langsung. Dalam hal ini, seorang pastor kurang diberi ruang terhadap pemikiran dan kajian terhadap tindakan penggembalaan tersebut. Krisis ruang kritis ini mengakibatkan kesan lain bahwa penggembalaan adalah kumpulan petunjuk dan aturan. Tidak rahasia lagi bahwa aturan selalu terkesan kurang up to date. Ini meresahkan dan membuat iklim penggembalaan dalam jemaat-jemaat menjadi momok. Emmanuel Lartey seorang teolog penggembalaan memperlihatkan salah satu prinsip penting dalam teologi penggembalaan adalah refleksi kritis atas pelayanan penggembalaan itu sendiri (Lartey 2016, . Karena itu dapat dikatakan bahwa penggembalaan bukan kumpulan pengalaman semata melainkan kajian ilmiah terhadap tindakan para gembala. Proses ini akan menjadi lingkaran yang membentuk spiral antara pelayanan penggembalaan dan teologi penggembalaan. Progres ini seharusnya terlihat dan menjadi kekayaan gereja yang menumbuhkan warga jemaat kearah well being. Sesungguhnya dari awal abad ke-20 penggembalaan sudah mulai menjadi sebuah ilmu teologi yang berdiri sendiri. Ilmu ini bertolak dari pengalaman seorang pendeta bernama Anton Theophilus Boisen . Dia sendiri mengalami gangguan jiwa dan bisa mampu untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan memakai simbol-simbol yang ada dalam imu teologi. Bersama dengan dokter yang ada pada rumah sakit itu mengembangkan teori bahwa penting kehadiran teologi dalam penyembuhan di rumah sakit. Usaha mereka pada awalnya mengembangkan teori kehadiran para mahasiswa teologi di rumah sakit. Boisen sendiri kemudian memiliki teori membaca manusia sebagai dokumen hidup (The living human documen. Teori ini secara prinsip menekankan, sebagaimana para mahasiswa teologi dilatih secara cermat menafsirkan Alkitab sebagai dokumen maka kiranya mereka juga harus juga cermat dalam membaca kehidupan manusia sebagai dokumen yang hidup. Para mahasiswa yang sedang praktik di rumah sakit hendaknya mampu memahami para pasien sebagai sumber dari tangan pertama . umber prime. ilmu pengetahuan tentang hakikat manusia (Dykstra 2005, . Selanjutnya dia menjelaskan: AuSaya mau supaya mereka belajar untuk membaca dokumen yang hidup itu sama baiknya dengan buku-buku, secara khusus dokumen itu dibuka untuk menyingkapkan pemahaman dalam memberikan tindakan . epada pasie. Ay (Dykstra 2005, . Gagasan ini dikembangkan mitranya Charles Gerkin. Dia mulai melihat percakapan penggembalaan dalam penggembalaan dari sudut ilmu bahasa. Gerkin menekankan pentingnya mengklaim ulang dokumen yang hidup itu dalam pola-pola penafsiran simbol. Ternyata cerita-cerita dari seorang individu terkait erat dengan bahasa sehari-hari, bahasa yang bersumber dari relasi dengan orang tua, saudara-saudara, bahkan bahasa di sekitarnya. Gerkin melihatnya sebagai simbol-simbol, sehingga dengan tegas ia menyebutkan pemahaman terhadap cerita manusia tidak mungkin memisahkan pengalamannya dari bahasa (Dykstra 2005,. Sejak itu prinsip-prinsip hermeneutika dipakai untuk memahami kehidupan manusia yang utuh. Ini kemudian berkembang pesat dalam wacana ilmu teologi penggembalaan. Bonnie J. Miller- Mc Lemore membawa teori Boisen tersebut ke kancah perkembangan pemikiran feminist dan womenist yang menilai Pattison dan Lynch melukiskan ada Lima karakter teolog pastoral: . merefleksikan kehidupan manusia dalam pengalaman kontemporer. mengadopsi pendekatan dari berbagai displin ilmu. mendialogkan secara kritis anatara norma-norma teologi dan pengalaman kontemporer. membutuhkan teori dan praktik transforamsiional (Pattison dan Lynch 2005, . Karakter teolog yang seperti inilah yang memberikan keragaman kepedulian seluas kehidupan nyata manusia. penderitaan manusia itu dikonstruksi oleh sosial dan penggembalaan sebagai teologi dan pelayanan perlu mengkritisinya (Dykstra 2005, . Dia kemudian menamai teori penggembalaannya dengan lebel AujejaringAy dokumen yang hidup. Pada masa kini keterlibatan disiplin ilmu dan metodologi berkembang subur dalam teologi dan pelayanan penggembalaan. Penggembalaan adalah teologi kontekstual . an konstrukti. Isu-isu penggembalaan yang pada awalnya sangat individual kini menjadi lebih ke arah sosial, ekologi, sampai pasca human. Bagaimana seharusnya gereja menata ruang berteologi melalui kegiatan penggembalaan sebagai sebuah teologi konstruktif dalam kehidupannya? Gereja tanpa teologi yang konstruktif akan mengalami kehilangan jiwa. Diri gereja tidak akan cukup kuat untuk merangkul umatnya tanpa teologi yang relevan. METODE PENELITIAN Tulisan ini merupakan sebuah refleksi teologi pastoral atas lemahnya proses penggembalaan dalam gereja masa kini. Penulis memakai metode kualitatif dengan cara mengumpulkan beberapa teori yang penting dari tulisan-tulisan . ibrary researc. untuk mendeskripsikan tantangan pelayanan gereja melalui perspektif teologi penggembalaan . Penalaran narasi sejarah dan faktor-faktor yang menyembulkan perkembangan ilmu penggembalaan akan menjadi benang merah penelitian ini. Penulis mengakui bahwa konstruksi perkembangan ilmu teologi dan pelayanan pastoral ini masih sangat diwarnai oleh dunia Barat. Hal ini tidak terlepas dari tulisan-tulisan yang tersedia masih dominan dari dunia tersebut. Penulis akan menawarkan metafora membangunkan gembala untuk alternatif penguatan gereja masa kini dalam penggembalaannya. Untuk itu sistematika tulisan ini akan dimulai dari pengertian teologi penggembalaan, dilanjutkan penalaran singkat sejarah perkembangan penggembalaan, kemudian melihat sekilas metode yang berkembang dalam penggembalaan, dan alternatif yang menjadi tantangan kehadiran gereja dalam tugas dan panggilannya dalam penggembalaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Teologi Pastoral Kata Teologi berasal dari dua gabungan kata theos dan logos. Theos berasal dari bahasa Yunani yang artinya adalah Tuhan, sementara itu logos juga berasal dari bahasa yang sama yang artinya adalah perkataan atau pengetahuan. Jadi secara singkat dua kata itu digabungkan untuk pengetahuan atau ilmu yang membicarakan tentang Tuhan. Apakah Tuhan memang bisa dibicarakan oleh manusia apalagi dijadikan menjadi satu cabang ilmu? Apakah teologi bisa dipahami seperti zoologi, ilmu yang objeknya adalah binatang, atau Geologi yang objeknya adalah bumi? Tom Jacobs dalam uraiannya yang berjudul. Pembaharuan dalam Teologi dan dalam Pengajaran Teologi memberikan definisi yang kiranya memadai, bahwa teologi bukan ilmu tentang Allah. Aumelainkan refleksi atas alasan-alasan yang membuat manusia berbicara mengenai AllahAy (Jacobs 1992, . Dengan demikian teologi memiliki konsernya kepada manusia yang beriman. Selanjutnya dia menegaskan: Aupendek kata teologi adalah suatu refleksi atas diri manusia, khususnya atas kemungkinan-kemungkinannya untuk berbicara mengenai Allah dan agamaAy (Jacobs 1992,. Dari pemahaman yang sedemikian ini maka begitu mudahnya ilmu teologi mengalami bias Ini pertanda bahwa memang teologi tidak netral melainkan berpihak kepada manusia dan masalah-masalahnya, selalu kontekstual. Namun ini tidak boleh diabaikan, sang teolog dan jemaat perlu menyadarinya. Karena itu Tjaard G. Hommes mengembangkan juga pemahaman teologi operasional (Hommes 1992, 344-. Pemahaman tentang subjektivitas dalam ilmu teologi sebenarnya sudah tidak asing, misalnya dalam bahasa sehari-hari kita mengenal istilah teologi liberal, konservatif, fundamentalis, dan lain-lain ini memperlihatkan bahwa subjektivitas itu berlaku di dalam ilmu teologi (Hommes 1992, . AuTeologi operatif adalah teologi pribadi seseorang . , yang dihasilkan dari pengaruh mempengaruhi antara pengalaman-pengalaman pribadi dan afirmasi iman yang ia sadariAy (Hommes 1992, . Apakah ini akan menjadi persoalan dalam kemurnian teologi? Jawabnya ya, namun hal itu tidak bisa dihindari, melainkan dipahami dan disadari. Kata Pastoral berasal dari bahasa Latin, pastor yang artinya ialah gembala, menurut Burck dan Hunter secara tradisional teologi pastoral mengacu kepada teologi penggembalaan . heology of shepherdin. yakni menyangkut kepedulian atau perhatian pemimpin agama terhadap kawanan domba gembalaan Allah (Burck dan Hunter 1990, . Hal ini tentu mengingatkan kita kepada kepedulian Allah pertama-tama kepada domba yang hilang, sang gembala mencarinya dan mengobatinya dan membawanya pulang. Dalam ilmu Teologi kata ini dikaitkan dengan bahasa Yunani poimen artinya memelihara ternak, itulah menjadi asal kata poimenics, studi tentang penggembalaan. Seward Hiltner melihat bawha poimenics sebagai ilmu telah berkembang di dalam gereja sejak abad ke-18 (Hiltner 1992,. Istilah poimenics menonjol sebagai akibat bahwa diabad-abad sebelumnya dipahami bahwa penggembalaan itu merupakan seluruh tugas yang melekat pada diri seorang pastor. Artinya apa saja yang harus dilakukan pastor dalam rangka bergereja itu adalah penggembalaan. Hal ini membuat arti penggembalaan seperti yang dimaksud Alkitab tergerus kepada hal-hal yang yang dipraktikkan oleh seorang petugas, bukan seperti yang dikiaskan Alkitab (Hiltner 1992, . Poimenics melihat bahwa tidak semua yang dilakukan pastor adalah dalam rangka penggembalaan, melainkan fungsi-fungsi penting pendeta dalam kataketik dan homiletika (Hiltner 1992,. Jadi dengan kata Poimenics telah menegaskan bahwa ada fungsi khusus penggembalaan, dan tidak semua yang dilakukan gembala dapat disebut penggembalaan. Untuk itu Hiltner mengambil satu jalan yang disebut dengan perspektif penggembalaan (Hiltner 1992, . Selanjutnya Hiltner menjelaskan bahwa teologi pastoral:Ay cabang atau bidang pengetahuan dan penyelidikan teologis yang mengarahkan perspektif penggembalaan kepada semua kegiatan dan fungsi gereja dan pendeta, dan kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan teologis dari refleksi pada pengamatan-pengamatan iniAy (Hiltner 1992, . Pemahaman ini penting dipegang untuk memahami akan status keilmuan teologi pastoral dan juga prinsip refleksi atas praktik penggembalaan tersebut. Karena itu baik praktisi pastoral di lapangan maupun dalam dunia akademis . palagi sekadar pelaksana buku panduan penggembalaan yang sudah ditetapkan gerej. perlu memahami lebih dalam pengertian teologi pastoral ini. Artinya bahwa praktisi pastoral bukanlah orang yang sekadar menerapkan ilmuilmu yang digali oleh para akademisi, melainkan mereka juga berpartisipasi aktif untuk menggali teologi pastoral sebagai sebuah praksis berteologi. Bukan juga bahwa akademisi terus menerus mengembangkan ilmunya dalam penggalian laboratorium teologi, melainkan menerima masalahmasalah praksis pastoral dan menggalinya untuk menjadi teori baru berteologi. Terlihat jelas sekarang, teologi pastoral merupakan teologi kontekstual itu sendiri. Untuk memahami teologi pastoral yang lebih utuh di sini dicatat pendapat Hommes tentang empat ketepatan . dalam memahami teologi Pastoral sebagai sebuah refleksi (Hommes 1992, 34-. Ketepatan deskriptif. Ketepatan ini merupakan kemahiran dan kecermatan sang petugas pastoral untuk mencatat dengan benar peristiwa dan fakta-fakta yang terjadi dalam Bukan hanya pelayanan tetapi juga ia mampu memantau praktik pelayanan pastoral dan identitasnya sebagai pelayan. Kehadirannya tidak sekadar melakukan tugas pelayanan secara rutin seperti yang sudah diatur, melainkan lebih mengutamakan kesadaran atas apa yang dia lakukan tersebut secara kritis dan kreatif (Hommes 1992, . Untuk itu ketrampilan berkomunikasi menjadi begitu penting dalam mengumpul, mencatat dan Dalam penjelasnnya Burck dan Hunter menguraikan tiga pemahaman Teologi Pastoral menurut kalangan Protestan. Pertama, secara tradisional yang tugas utamanya adalah merumuskan prinsip-prinsip, teori-teori dan prosedur pealyan Pendeta. Kedua. Teologi Pastoral merupakan bidang studi Teologi Praktis tentang teori dan praktik pelayanan pastoral konseling. Dalam pemahaman yang kedua ini tugas teologi pastoral juga mencakup perhatian yang luas kepada masalah-masalah manusia, seperti kepribadiannya, masalah relasinya dan juga pengalammnya dalam sakit atau dukacita. Ketiga. Teologi Pastoral sebagai bentuk refleksi teologis yang didalamnya secara kritis mengamati, menilai dan memberikan semacam resolusi atas praksis yang ada. Pada bagian ketiga ini kelihatan ada pengintegrasian pemahaman teologi pastoral menjadi suatu refleksi, yakni uapaya berteologi secara pastoral (Burck dan Hunter 1990, 867-872 dan lihat juga Susanto 2003, 6-. Lebih lanjut Susanto juga menjelaskan bahwa ketiga pemahaman ini dianut juga di Indonesia, yang pertama terlihat dalam buku Peter Wongso yang meliahat teologi penggembalaan bersangkut paut dengan Pendeta dan tugas-tugasnya. Semetara yang kedua, dipahami oleh sekolah-sekolah Teologi melalui buku-buku Abineno yakni memahami teologi pastoral sebagai bidang studi teologi praktika tentang teori dan praktik penggembalaan. Sedangakan yang ketiga banyak dikembangakan melalui metode studi kasus (MSK) (Susanto 2003, 7-. memahami data-data. Menurut Hommes kesadaran ini bisa dilatih dalam CPE (Clinical Pastoral Educatio. Dalam pelatihan seperti ini mereka juga diajak untuk memahami diri sendiri sekaligus diri orang lain dan merefleksikan dalam situasinya. Persepsi analitis. Pengumpulan dan pendeskripsian data-data pelayanan Pastoral yang baik akan membantu untuk proses analisis (Hommes 1992, . Dari data-data yang terkumpul dapat dianalisis permasalahan-permasalahan pastoral secara umum, arah dan kecenderungan masyarakat yang sering terjadi berulang-ulang. Tidak saja jemaat tetap dalam proses analisis ini juga diharapkan akan muncul kesadaran praktik pelayanan sang pastor yang mungkin juga sekadar memperlakukan pelayanan yang berulang-ulang . tanpa kesadaran kritis dan kreatif lagi (Hommes 1992, . Penilaian yang mempunyai dasar kuat. Perlu disadari bahwa memberikan penilaian tidak mudah, apalagi ketika komunitas kita sudah semakin terbuka terhadap pengaruh-pengaruh yang bersifat global. Haruslah ada yang dibuat menjadi kriteria-kriterianya, dan ini tergantung dari wawasan yang dimiliki oleh petugas. Ilmu yang banyak saja tidak cukup sehingga lebih efektif kalau terlibat dalam lapangan (Hommes 1992, . Persolan menilai bukan hanya oleh petugas saja tetapi juga oleh komunitas supaya lebih akurat. Dapat dioperasikan. Ini merupakan sasaran akhir yakni berguna bagi kepentingan pelayanan Gereja dapat sokongan yang kuat untuk mengefektifkan pelayanannya seperti di bidang kerugmatik, diakonal, dan pembinaan komunitas (Hommes 1992, . Dengan demikian pada gilirannya gereja akan mengalami pembaruan dari hari ke hari. Catatan Hommes ini penting untuk ditempatkan di sini dalam rangka memantapkan hakikat teologi pastoral dalam konteks di Indonesia. Pertama, bahwa penerimaan atas diri para pendeta di Indonesia masih sangat tinggi dan menjadi pola anutan sehingga apa yang dia buat perlu akurat. Kedua, warga juga di sisi yang lain sudah cukup kritis, untuk menilai pendeta dan pelayanannya karena itu keterlibatan pendeta dan umat dalam mengonstruksi teologi sebagai refleksi makin penting, sebab gereja sekarang tidak lagi ada dalam model lama yang pendeta-sentris. Kebenaran refleksi haruslah bisa dipertanggungjawabkan dalam penopangan dan pembaharuan gereja. Sejarah Singkat Teologi Pastoral Tulisan ini akan menguraikan secara singkat sejarah teologi pastoral khususnya dalam pemahaman Kristen Protestan. Uraian ini penting ditempatkan dalam memahami hakikat teologi pastoral, dalam rangka untuk melihat dinamika sejarah bagaimana hubungan gereja, baik dalam praktik maupun dalam teori di lingkungan akademik dan dampaknya pelayanan pastoral dan perkembangan teologi pastoral sebagai sebuah refleksi. Hiltner memberikan pandangan tentang sejarah ini. Aubahwa subjek teologi pastoral mempunyai akar dan keyakinan dalam gereja protestan, namun di sisi yang lain pelaksanaannya pada abad-abad tertentu bentuk dan uraiannya mungkin tidak samaAy (Hiltner 1992, . Pemahaman tentang penyembuhan jiwa, soul care (Latin, cura animaru. sudah ada tercatat menjelang terjadinya reformasi Luther 1517, pada waktu itu dikaitkan dengan keselamatan jiwa dengan surat penebusan dosa, indulgensia dan juga ada yang disebut pengakuan dosa, absolusi (Hiltner 1992, 104-. Kedua hal ini menjadi titik sorot dalam pandangan sang Reformator Luther, sebab baginya ini menyangkut masalah teologis yang dipermaikan oleh otortitas gereja pada masa itu. Menurut Luther persoalan yang terbesar dengan masalah ini adalah mau memaksakan kehendak pejabat gereja kepada Allah. Karena itu penting untuk membaharui jabatan kependetaan yang lebih terfokus kepada pelayanan Firman dan Sakramen. Ini kiranya menjadi pengantar sejarah yang baik untuk memahami otoritas yang dimiliki pendeta di lingkungan gereja-gereja reformasi. Penulis mengikuti uraian Hiltner yang membagi tiga sejarah teologi pastoral hingga saat ini. Abad-abad awal Protestan. Istilah teologi pastoral sudah pernah tercatat di Jerman pada abad ke-18, pada waktu itu dia belum berwujud sebagai sebuah ilmu. Pada masa itu tugas ini dikaitkan dengan Seelsorge, yang berarti pemeliharaan dan penyembuhan jiwa-jiwa (Hiltner 1992, . Tugas ini dibebankan kepada gereja dan pendeta. Hiltner mencatat bahwa pada abad ke-16 tugas yang serupa lebih banyak dalam bentuk motivasi-motivasi yang diberikan kepada pendeta, sementara itu, pada abad ke-17 pada masa ini banyak berkaitan dengan kunjungan dari rumah ke rumah. Berkaitan dengan uraian ini, menarik untuk memahami sejarah yang sejajar yang diuraikan Lartey bahwa tradisi yang sama ada di dunia lain yang bukan Kristen, seperti di Mesir ada dikenal istilah semacam mantra penyembuhan . atoroi logo. , dan di tempat lain dalam sejarah kuno dengan istilah-istilah traditional healers (Lartey 2006, 47-. Maksudnya bahwa sebenarnya budaya-budaya non kristiani juga memiliki hal yang sama, meskipun isinya berbeda tapi mungkin tujuannya sama. Bahwa dalam tradisi-tradisi ada orang-orang yang memiliki tugas dalam pemeliharaan jiwa-jiwa. Ini yang kemudian dipakai Lartey juga untuk memungkinkan nama-nama orang yang berperan dalam proses penyembuhan itu bisa juga dipakai di lingkungan gereja, seperti di Afrika dan Filipina (Lartey 2006, 58, 63-. Protestantisme pada abad-abad kemudian. Pada masa abad ke-19 istilah teologi pastoral muncul dikaitkan dengan tugas pendeta di luar homiletika. Kata pastoral merupakan kata sifat yang mengidentifikasi tugas pendeta kecuali berkhotbah (Hiltner 1992, . Penggembalaan juga masih terbatas kepada jiwa-jiwa dan tidak melihat keutuhannya dengan tubuh manusia. Pada masa ini juga bangkit gerakan pietisme, yang sesungguhnya juga secara tersirat memprotes gereja yang sudah terlalu mapan pelayanannya. Karena itu mereka anti terhadap kemapanan struktur gereja dan pemerintahan, yang terpenting adalah keselamatan jiwa (Hilntner 1992, . Sekali lagi peralihan abad ke-18 sampai awal abad ke-19 dengan muncul gerakan pietisme tersebut menekankan pentingnya pastoral. Pada akhir abad ke-19 muncullah Schleiermacher yang melihat teologi praktika merupakan metode untuk memelihara dan menyempurnakan iman gereja. Baginya Teologi Praktika adalah salah satu disiplin ilmu Teologi dan Teologi Pastoral ada di dalamnya. Pada masamasa ini arah sistematika berteologi pastoral sudah semakin terbentuk. Teologi pastoral pada abad ke-20 dan 21. Pada masa ini tidak ada lagi usaha-usaha untuk menyusun karya sistematis tentang teologi praktika ataupun teologi pastoral. Sebaliknya yang muncul adalah terbitnya buku dan modul-modul yang dalam model petunjuk dan bantuan. Buku-buku tersebut semacam buku manual yang bersifat pegangan untuk petugas-petugas gereja (Hiltner 1992 116-. Kelihatan penyakit kemapanan di abad ke-19 tetap terbawa ke Barangkali hal ini yang masih melekat pada prilaku gereja yang masih menganggap buku pedoman lebih penting dari kemampuan berteologi pastoral. Syukur, secara akademik kajian teologi pastoral tetap dipertahankan di perguruan tinggi Hiltner yang adalah murid Anton Boisen memasukkan pengaruh gurunya dalam abad ini, sebagai salah satu pelopor CPE yang kian hari mengalami perkembangan yang signifikan. Namun baginya gurunya tersebut tidak ikut dalam mempengaruhi sistematika teologi pastoral, sebab ia tidak memperhatikan soal sistematika teologi pastoral dalam ilmu teologi. Lartey mungkin bisa dipinjam catatannya untuk melengkapi uraian sejarah singkat ini. Akhir abad ke-20 dan sampai kini, dia mencatat perkembangan teologi pastoral yang mengglobal. Ada perhatian serius oleh para teolog terhadap perkembangan teologi pastoral. Hal ini terlihat dari pertumbuhan asosiasi-asosiasi yang menghimpun teolog pastoral baik dalam wilayah global, regional dan negara-negara. Perkumpulan-perkumpulan ini dengan intens bertemu dan menggali terus sistematika berteologi pastoral (Lartey 2006, 43-. Bukan saja pertumbuhan asosiasi itu penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah pengaruhnya bagi pembangunan gereja-gereja yang semakin Lartey mengklasifikasikan perkembangan teologi pastoral bukan saja di Barat tetapi di belahan bumi yang lain juga. Secara kontekstual ia membagi lensa pandang dunia pastoral pada masa kini, dalam tiga tipe: Proses globalisasi . , proses internasionalisasi . , dan proses pempribumian . (Lartey 2006, . Lensa proses globalisasi yang dimaksudkan ialah proses di mana dunia semakin menjadi satu, baik cara hidup, pandangan duniawinya, nilai-nilai, teologi, antropologi yang pada prinsipnya dipengaruhi oleh negara-negara dunia pertama (Lartey 2006, . Lensa proses internasionalisasi, adalah menciptakan dialog agar dunia pertama dapat memahami keberadaan dunia kedua dan ketiga lebih dekat lagi. Sering kata internasionalisasi berkaitan dengan membawa isu-isu lokal untuk dibahas dalam satu meja dengan orang-orang Barat (Lartey 2006, 4. Ternyata dalam bidang teologi pastoral ini semakin intens dengan berdirinya ikatan atau asosiasi Teolog pastoral yang bersifat regional kini semakin menjadi berkat dalam memperkuat teori dan praktik pastoral. Lensa ketiga proses pribumisasi adalah proses di mana model-model teologi Barat tidak diterima begitu saja di dunia non Barat, bahkan dievaluasi dan ditetapkan kembali apakah itu cocok dengan tempat yang baru (Lartey 2006, . Di dalam proses ini orang Pribumi sendiri menilai dengan kepekaan, cita rasa, dan kreativitas yang mereka miliki, sebelum diterpakan sebagai sebuah model dalam pelayanan pastoral. Bukan hanya model tapi juga pencocokan nama-nama dan gelar-gelar yang dapat dipahami oleh orang pribumi. Dengan demikian terbentuklah pemahaman yang memiliki akar, yang digali secara mendalam dari kekayaan kebudayaan dan nilai-nilai kehidupan lokal. Menarik bahwa ternyata lensa-lensa Lartey ini bisa membuktikan bahwa teologi pastoral itu pada masa kini adalah teologi kontekstual. Ia mengambil contoh-contoh bahwa negara-negara Asia yang kental dengan budayanya memakai lensa yang berbeda dengan Barat yang lebih pragmatis. Begitu juga Afrika yang sangat unik pemahaman akan diri mereka yang tidak terpisahkan dengan kosmologi berbeda dengan Amerika Latin yang ingin mengalami pembebasan dari segala bentuk penindasan. Teologi pastoral yang juga adalah teologi kontekstual ternyata mampu mengonstruksi masalahmasalah praksis kemasyarakatan. Metode Teologi Pastoral Dari uraian di atas ada tiga wilayah yang kelihatan penting menjadi pilar-pilar konstruksi Teologi Pastoral. Pertama pemahaman terhadap persoalan-persoalan manusia secara utuh. Hal ini penting karena teologi pastoral bukan berawal dari Alkitab. Refleksi justru dimulai dari pengalamanpengalaman manusia yang dipenuhi suka maupun duka. Begitu luas pengalaman manusia dalam penderitaan, bagaimana manusaia bisa bertahan, berjuang dan mengalami pemulihan? Ini antara lain wilayah teologi pastoral yang sangat krusial. Wilayah kedua adalah wilayah dialog manusia dengan ilmu-ilmu yang lain yang bisa membatu teologi untuk lebih dalam dan kritis tentang eksistensi Di sini perlu keterlibatan psikologi, sosiologi dan juga antropologi untuk menafsir secara luas tentang manusia. Wilayah ketiga adalah wilayah pemahaman/ refleksi teologi dan agama. Alkitab sendiri juga sarat dengan pemahaman tentang kesakitan, penderitaan bahkan tragedi-tragedi yang mengitari hidup manusia. Berikut akan dibicarakan soal metode berteologi dalam teologi pastoral. Daniel Susanto, seorang teolog pastoral Indonesia menilai bahwa dalam praktiknya ada tiga metode yang lazim yakni metode deduktif, metode induktif dan metode korelasi ( Susanto 2003, . Metode deduktif adalah Aymetode yang menerapakan teori-teori teologis tertentu ke dalam praktik pastoralAy (Susanto 2003, . Dalam model ini pelayanan pastoral didikte oleh ajaran-ajaran Alkitab atau gereja yang sudah siap saji, misalnya dalam pelayanan duka, atau sakit jawabannya sudah tersedia dalam Alkitab atau ajaran resmi gereja yang lainnya dan tinggal pakai. Bukan berarti ilmu yang lain tidak perlu tetapi ilmu-ilmu itu hanya untuk menolong sang pastor memahami situasi supaya teori tertentu tersebut dapat dimasukkan/diapakai secara tepat. Metode induktif adalah kebalikan dari metode deduktif. Dalam metode ini praksis pelayanan pastoral menjadi penting sebab dengan pemahaman dan penalaran yang tepatlah baru bisa dapat jawaban yang tepat pula. Aukebenaran-kebenaran teologis ditemukan di tengah-tengah konteks yang nyataAy(Susanto 2003, . Jadi nilai-nilai yang ditemukan dalam pelayanan pastoral itu dapat menjadi alat untuk membangun teori yang baru. Dalam hal ini teori dari ilmu-ilmu yang lain tidak lagi hanya dijadikan menjadi alat tetapi juga menjadi sumber dalam berteologi. Metode korelasi, adalah metode yang dikembangkan oleh seorang teolog kenamaan Amerika berkebangsaan Jerman. Paul Tillich. Dia mengembankan metode ini dalam satu jalan dialog antara masalah-masalah yang diajukan oleh manusia dan jawaban yang muncul dari Alkitab. Teori inilah yang kemudian dikembangkan oleh David Tracy. Seward Hiltner. Hans-George Gadamer dan Don Browning dalam format korelasi mutual yang kritis (Lartey 2006, 87-. Dalam buku. Systematic Theology. Volume I. Paul Tillich menguraikan tetang metode korelasi dalam teologi Kristen dan filsafat. Tentang metode korelasi sendiri ia katakan: Auexplains the contents of the Christian faith through existential questions and theological answers in mutual interdependenceAy (Tillich 1951, . Selanjutnya ia menjelaskan tiga hal sehubungan dengan teorinya ini. pertama, bahwa metode korelasi dapat diaplikasikan ke dalam persoalan-persoalan ilmu pengetahuan keagamaan. kedua, pengertian korelasi menentukan . pernyataan tentang Allah dan dunia. dan ketiga, korelasi mengkualifikasikan pemikiran tentang hubungan manusia dan keAllah-an berkaitan dengan pengalaman beragama (Tillich 1951,60-. Secara tersirat Paul Tillich kelihatannya untuk menanggapi Karl Barth yang menekankan argumentasi hubungan Audari atas ke bawahAy ke-Allah-an mengarah kepada kemanusiaan. Bagi Tillich terbalik bahwa hubungan itu dalam tatanan pertanyaan manusia dan jawaban yang berasal dari Allah (Tillich 1951, . Mengenai jawaban terhadap pertanyaan eksistensial manusia ini, dengan tegas Tillich menjawab hanya dari wahyu illahi saja tidak bisa ditemukan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan. Peran ilmu-ilmu humanis hanya sebagai pendamping untuk mengidentifikasi jawaban teologis. Dalam penjelasannya dia menegaskan: AuThe Christian message provides the answers to the questions implied in human existence. These answers are contained in the revelatory events on which Christianity is based and are taken by systematic theology from the source, through the medium, under the norm. Their content cannot be derived from the questions, that is, from analysis of human existenceAy (Tillich 1951, . David Tracy membaharui metode korelasi ini. Aukorelasi terjadi antara pertanyaan dan jawaban bersifat timbal balik. Itu berarti antara pertanyaan dan jawaban terdapat hubungan yang saling mempengaruhiAy (Susanto 2003, 9-. Tom Jacobs juga memberikan penjelas tentang pembaharuan David Tracy ini sebagai berikut: bahwa dalam rangka melawan pemahaman Tillich tentang jawaban hanya dari Allah saja, maka Tracy menekankan dalam eksistensi manusia tidak hanya ada pertanyaan tetapi juga jawaban (Jacobs 1992, . Jadi dalam sumber-sumber pertanyaan ada jawaban-jawaban yang berkorelasi secara mutual dengan jawaban-jawaban yang muncul dari sumber-sumber kekristenan dan kedua-duanya saling memperlengkapi dalam merekonstruksi teologi. Mengenai metode-metode ini menurut Susanto, sudah dipergunakan di Indonesia, dan dalam pengamatannya kecenderungan memakai metode deduktif masih sangat dominan (Susanto 2003, . Dia sendiri mengusulkan untuk membangun metode korelasi sebagai sebuah metode berteologi yang relevan di Indonesia. Alasannya karena melalui metode ini para teolog bisa berteolgi secara kontekstual (Susanto 2003, . Dari metode ini Suanto juga melihat tiga model yang mirip dan relevan untuk Indonesia (Susanto 2003, 10-. metode yang dikembangkan oleh J. Banawiratma dan Tom Jacobs dengan metode teologi proyek . momen dan 12 langka. Begitu juga metode Studi Kasus (MSK) yang dikembangkan SEAGST Institute of Advanced Pastoral Studies dengan 4 tahapan langkah: . Deskripsi,. Analisis, . Interpretasi dan . Aksi (Aksi Pastoral, aksi pastoral teologi. Terakhir dia juga mengusulkan metode CPE (Clinical Pastoral Educatio. Tentunya semua metode ini memerlukan ketrampilan yang terus menerus untuk diasah melalui pengalaman dan pelatihan. Melanjutkan revisi terhadap metode korelasi mungkin masih bisa juga diusulkan dalam makalah ini, metode yang digagas oleh Don Browning dan Emmanuel Lartey. Don S. Browning yang menyebutnya sebagai practical moral reasoning (Lartey 2006, . Metode ini muncul dalam menjawab pergumulan Browning tentang hubungan pendampingan pastoral serta pastoral konseling dan etika sosial pada zaman yang pluralis ini. Dalam mencari link inilah muncul pemahamannya tentang habitus . dalam pengertian praktik kebijaksanaan . untuk kehidupan. Esensi metode ini adalah membangun theological frameworks, bingkai-bingkai kerja yang bersifat teologis untuk dipraktikkan. Melalui metode ini habitus dapat dibangun dalam percakapan-percakapan yang terencana dan memiliki tujuan, ada empat langkah penting. menceritakan pengalaman untuk mendefenisikan masalah. memperhatikan, mendengarkan, dan memahami. analisa kritis dan dan . pengambilan keputusan dan strategi (Lartey 2006, . Daniel Susanto mencatat ada 9 tujuan CPE: Menolong orang menyadari identitas pastoralnya Menolong orang untuk mengembangkan ketrampilan pastoralnya Menolong orang untuk memahami dirinya sendiri Menolong orang meningkatkan pertumbuhan pribadinya Menolong orang meningkatkan hubungannya dengan orang lain. Menolong orang meningkatkan hubungannya dengan Tuhan Menolong orang untuk bekerja bersama dengan orang-orang dari kelompok profesi yang berbeda Menolong orang mendapatkan pengetahuan tentang pelayanan pastoral khususnya pendampingan pastoral Menolong orang untuk melakukan refleksi teologi pastoral (Susanto 2003, . Dalam metode ini diharapkan adanya pemahaman yang bertumbuh bersama-sama sehingga setiap orang yang menjadi warga komunitasnya dapat mengambil keputusan yang baik, baik pilihan individu maupun pilihan-pilihan sosial yang bermoral (Lartey 2006, . Kelihatannya metode ini relevan juga dikembangkan di Indonesia sebab sering juga kita mendengar bahwa keputusan moral kelompok membatasi keputusan moral pribadi, masyarakat Indonesia pada umumnya masih terikat dalam hubungan sosial. Lartey memberi contoh untuk ini adalah dalam memberi solusi terhadap persoalan perkawinan, seksualitas dan masalah kejujuran, bagaimana supaya pemahaman pribadi dan sosial yang sama-sama terbuka kepada situasi yang lebih global dapat dipertimbangkan bersama-sama, sekali lagi agar keputusan individual dan sosial selaras. Satu lagi metode yang digagas oleh Emmanuel Lartey, yang dia beri nama liberating intercultural praxis( Lartey 2006, 89-. Metode ini muncul sebagai jawaban atas semakin majemuknya persoalan sosial dan budaya konstruksi teologi. Manusia semakin ditempatkan dalam konstruksi dan bentukan budaya (Lartey 2006, . Masalah jender, kelas sosial, dan ras semuanya telah membentuk pemahaman dan keberadaan manusia yang pada gilirannya akan menjadi lensa untuk menilai seluruh kehiduapan dan kenyataan. Bagaimana melibatkan semua bentukan sosial dan budaya ini dalam merekonstruksi teologi pastoral? Untuk apa semua itu dipahami dalam kehiduapan berteologi? Di sinilah metode Lartey ini memberi sumbangan, bahwa manusia perlu membebaskan diri dari segala praksis inkultural yang telah membentuk seseorang. Membangunkan Gembala: Tantangan Teologi Penggembalaan Masa Kini Bangun artinya tersadar, bukan hanya terlihat dari mata yang terbuka. Sikap seperti ini sering dituntut dalam menghayati spiritualitas di mana kesadaran relasi menjadi utama. Ini membuat seorang insan terjaga. Metafora membangunkan gembala yang digagas dalam tulisan ini bermaksud agar gereja terjaga dalam memahami tugas penggembalaannya yang tidak mudah seiring dengan perkembangan persoalan kemanusiaan yang semakin kompleks. Penulis menggugahnya melalui pertanyaan- pertanyaan yang mengarahkan alternatif pembangunan jalan penggembalaan sebagai sebuah persoalan teologi gereja yang kontekstual. Apakah gereja masih memiliki hati seorang gembala? Pelayanan pastoral . merupakan tindakan yang menandakan kehadiran tindakan Allah dalam pengalaman hidup manusia yang eksistensialis. Tindakan ini bersifat kritis, interpretatif, dan kreatif. Artinya pelayanan dan refleksi atas pelayanan bertolak dari Kata care yang selalu menyertai pastoral bisa dikaitkan dengan kata core, dalam bahasa Latin yang berarti hati. Dalam bahasa Indonesia frasa pastoral care itu diterjemahkan dengan pendampingan pastoral. Kata damping dan hati ini sangat hidup untuk memaknai kegiatan penggembalaan. Dalam Injil Yohanes ungkapan kepedulian gembala ini dituliskan Augembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanyaAy (Yoh 10:11. Generasi yang dipercayakan Allah kepada gereja pada prinsipnya harus dirawat dengan perhatian yang dalam. Kedalaman ini merupakan beban moral yang sejak awal diberikan oleh Yesus Sang Gembala Agung itu. Dalam Mazmur 23 terlihat kekuatan moral gembala itu dalam kegiatannya yang menuntun domba-domba kepada makanan dan minuman, serta kenyamanan. Pendampingan yang berasal dari hati ini bisa dilakukan secara pribadi dan komunal. Apakah gereja masih menjadi tempat yang aman bagi umatnya? Mencari yang hilang, menyembuhkan yang terluka, memberi mereka makan, dll. frasa-frasa yang sering dipergunakan menjadi tugas seorang gembala. Ungkapan-ungkapan ini dalam perspektif penggembalaan mereka itu berada dalam posisi yang tidak aman. Mereka tidak saja sedang sakit . tetapi juga mengalami penderitaan . Dalam berbagai kepustakaan teologi pastoral sering dipahami dosa dan kejahatan itu menjadi nyata dalam kompleksitas penderitaan manusia. Ini dengan mudah kita bisa lihat dalam trauma yang diakibatkan oleh kekerasan baik domestik maupun oleh sosial politik. Karena itu, mereka bukan hanya mencari pertolongan secara pastoral tetapi lebih utama adalah tempat yang aman bagi mereka. Dalam dunia penggembalaan menjaga rahasia orang lain itu wajib hukumnya. Ini merupakan cerminan kebutuhan rasa aman tersebut. Ini akan menjadi tantangan bagi gereja untuk menyediakan ruang yang aman bagi umat, tempat mereka bisa diterima dengan sepenuh hati. Mereka bisa mencurahkan isi hati, emosi, air mata, bahkan kata caci. Apakah petugas gereja masih berproses dalam memahami kemanusiaan umatnya secara Menggembalakan tidak sama dengan mendengarkan curahan hati orang yang digembalakan. Mendengarkan yang dituntut dalam dunia penggembalaan tujuannya adalah memahami orang lain secara utuh. Karen itu dalam proses penggembalaan harus terjadi pertumbuhan relasi Howard Clinebell, seorang penulis buku pastoral yang paling banyak dipakai di dunia teologi mengungkapkan justru permainan dalam relasi itu penting dalam pemenuhan tugas-tugas pastoral gereja. Ternyata teori tentang relasi penyembuhan ini berkembang menuju pemahaman manusia Empati yang dulu menjadi kata andalan penting dalam dunia konseling pastoral, sekarang terasa tidak cukup lagi maka muncullah apa yang disebut interpati dan komuniopati. Ini semua dalam keseriusan untuk memahami manusia secara utuh. Demikian juga pemahaman dengan memakai ilmu yang interdisipliner, kini ilmu-ilmu sosial termasuk pelayanan sosial, psikologi, dan juga ilmu-ilmu tentang otak manusia, termasuk neurosains, dipakai dalam mengembangkan teologi pastoral. Teolog pastoral dan pasti semua teolog yang lain merupakan teologi yang berproses. KESIMPULAN Penggembalaan yang dilakukan gereja perlu dibangun kembali dalam kerangka keterhubungan pelayanan dan refleksi teologi sehingga aksi dalam penggembalaan itu benar-benar dalam koridor teologi, bukan hanya sekumpulan tindakan karena manual gereja. Keseriusan itu terlihat dalam upaya membangun ruang yang aman bagi umatnya. Umat harus percaya bahwa gereja ingin membawa mereka kepada air yang tenang dan rumput yang hijau. Untuk itu para petugas gereja perlu kembali menghidupkan secara kontekstual lingkaran pastoral yang lebih sistematis. DAFTAR PUSTAKA