Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Vol. 11 No. 4 Desember 2022 P - ISSN : 2503-4413 E - ISSN : 2654-5837. Hal 538 Ae 546 PENGARUH PROFITABILITAS. LIKUIDITAS. SALES GROWTH. OPERATING CAPACITY DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP FINANCIAL DISTRESS By : Miftahul Sholikhah NurAoaini Rokhmania Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya nuraini@perbanas. Article Info Article History : Received 16 Des - 2022 Accepted 25 Des - 2022 Available Online 30 Des Ae 2022 Abstract This study aims to examine the effect of profitability, liquidity, sales growth, operating capacity and company size on financial distress. The research population is tourism companies listed on the Indonesia Stock Exchange in the 2017-2021 period. The research sample was determined based on purposive sampling with the results of 66 companies experiencing financial distress while 14 companies did not experience financial distress. The analytical method uses logistic regression and the findings show that profitability, liquidity and operating capacity have an effect on financial distress, while sales growth and company size have no effect on financial distress. Keyword : Profitability. Liquidity. Sales growth. Operating Capacity. Company Size. Financial adalah dikarenakan sedikitnya penelitian mengenai sektor tersebut. PENDAHULUAN Calon investor dan kreditur akan melakukan analisa terhadap suatu perusahaan sebelum melakukan kegiatan investasi. Perusahaan yang sehat, selalu memiliki laba positif, pertumbuhan laba juga positif dan tidak mengalami kesulitasn keuangan akan memiliki daya tarik buat bagi Tetapi jika perusahaan mengalami kesulitan keuangan seperti laba negatif dan gagal memenuhi kewajibannya tentu tidak akan menarik bagi calon investor atau kreditur. Amanda & Muslih, . menyatakan bahwa jika pendapatan perusahaan lebih kecil dari biayanya sehingga berakibat kesulitan dalam memenuhi kewajiban maka perusahaan tersebut mengalami financial distress. Financial distress disebabkan karena pengambilan keputusan yang kurang tepat (Wulandari & Fitria, 2. , kurangnya perhatian manajemen terhadap faktor penyebab padahal saat itu perusahaan sudah mengalami kemunduran sehingga terlambat untuk melakukan perbaikan (Kusumawati & Bsirnanitta, 2. Secara garis besar penyebab masalah keungan perusahaan dapat dikelompokkan menjadi faktor internal seperti penjualan dibawah target, kesalhan produksi, dan inefisiensi. Sedangkan faktor eksternal seperti adanya perang dunia, resesi perekonomian global maupun pandemi termasuk Covid-19. Adanya wabah corona di tahun 2020 termasuk bencana bagi seluruh perusahaan di berbagai sektor yang termasuk sektor pariwisata lingkup penginapan yang telah peneliti pilih untuk dijadikan sampel Alasan mengapa peneliti memilih perusahaan sektor pariwisata lingkup penginapan Berdasarkan data dari situs web BPS . ttps://w. id/), pada tahun 2020 terdapat penurunan yang sangat tajam pada tahun 2020 seperti yang terlihat di batang pada gambar 1. Namun, pada tahun 2021 grafik tersebut naik sebanyak 3,67 dimana keberhasilan ini merupakan dedikasi, komitmen, strategi dan teori pengembangan sektor pariwisata yang dijalankan di tengah wabah corona. Hasil penelitian terdahulu yang tidak konsistensi juga menjadi dasar penelitian semacam ini dilakukan kembali. Profitabilitas dinilai Gambar 1 Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang tahun 2017-2021 berpengaruh terhadap financial distress menurut Afiezan et al . Liahmad et al . Fadlillah, . , namun hasil yang berlawanan tampak pada Sari et al. , . Fadlillah . menunjukkan bahwa likuiditas memiliki pengaruh Tingkat Penghunian Kamar pada Hotel Bintang Sumber : Badan Pusat Statistik . signifikan terhadap financial distress tetapi tidak menurut Liahmad et al. , . Pranita &Kristanti . menunjukkan sales growth berpengaruh signifikan terhadap financial distress berlawanan dengan Giarto & Fachrurrozie . Fadlillah . menjelaskan operating capacity berpengaruh terhadap financial distress tetapi tidak dengan Mahaningrum & Merkusiwati . Syuhada & Muda . Liahmad et al. , . Syuhada & Muda . Pranita & Kristanti . menjelaskan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap financial distress berlawanan dengan Christella & Osesoga . Merkusiwati, . profitabilitas berpengaruh terhadap financial H1 : Profitabilitas berpengaruh terhadap financial distress Pengaruh Likuiditas terhadap Financial distress Hery, . rasio likuiditas adalah rasio yang dalam memenuhi kewajiban atau membayar utang jangka pendeknya. Likuiditas perusahaan dapat diukur dari current ratio atau rasio lancar yakni perbandingan aset lancar dengan kewajiban lancar. Hal ini berarti semakin tinggi nilai likuiditas semakin kecil kemungkinan terjadinya kondisi financial distress. Jika perusahaan mampu membayar atau memenuhi kewajiban jangka pendeknya maka akan memberi sinyal positif . ood new. dan bisa dikatakan perusahaan tersebut tidak mengalami kesulitan keuangan financial distress. Hasil penelitian dari Fadlillah, . Syuhada & Muda, . Pranita & Kristanti, . menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap financial distress. H2 : Likuiditas berpengaruh terhadap financial Spence pada tahun 1973 menyampaikan teori sinyal pertama kali. Dalam konteks financial distress Teori sinyal memberikan informasi persepsi manajemen akan kondisi dan masa depan Sinyal negatif . ad new. akan diterima oleh investor jika perusahaan mengalami masalah keuangan sehingga akan menurunkan minat untuk KAJIAN PUSTAKA Teori Sinyal Perusahaan yang berkualitas baik akan memberikan sinyal secara sengaja kepada pasar, dan mengharap agar pasar dapat membedakan kualitas perusahaan dibanding perusahaan lain (Suganda. Brigham & Daves, 2. Contoh sinyal tersebut adalah perusahaan yang memiliki laba besar cenderung akan meningkatkan hutangnya karena tambahan bunga yang dibayarkan akan dapat dibayar melalui laba yang dimiliki (Suganda, 2. Sinyal yang diberikan memberi keterangan, catatan, dan gambaran perusahaan baik di masa lalu maupun di masa depan. Pengaruh Sales growth terhadap Financial Pertumbuhan penjualan . ales growt. dapat diketahui dengan membandingkan perubahan penjualan periode berjalan dengan tahun sebelumnya dibagi dengan penjualan tahun sebelumnya. Hal ini berarti Sales growth dapat menjadi ukuran dari keberhasilan investasi yang dilakukan pada periode sebelumnya, sehingga rasio ini dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penjualan suatu perusahaan maka investor menilai bahwa perusahaan memiliki strategi pemasaran dan penjualan produk yang tepat. Pertumbuhan penjualan yang tinggi dapat meningkatkan pendapatan perusahaan sehingga mengurangi risiko financial distress. Sinyal positif . ood new. akan diterima oleh investor jika rasio pertumbuhan penjualan perusahaan selalu meningkat, sebaliknya jika rasio tersebut mengalami penurunan bahkan mencapai nilai negatif maka investor menganggap ini sebagai sinyal negatif . ad new. karena dikhawatirkan tidak akan mampu menutup baiay yang terjadi dan mengakibatkan mengalami kesulitan keuangan. Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Pranita & Kristanti, . menunjukkan sales growth berpengaruh signifikan terhadap financial distress. H3 : Sales growth berpengaruh terhadap financial Pengaruh Profitabilitas terhadap Financial Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh profit/laba. Profitabilitas dapat digunakan untuk mengetahui apakah perusahaan dalam keadaan sehat atau sedang dalam financial distress (Hery, 2. Untuk menghasilkan profit yang maksimal, perusahaan harus mengelola sumber daya yang dimiliki secara optimal. Rasio profitabilitas diproksikan melalui ROA (Return on Asse. ROA dapat diketahui melalui informasi yang tersaji di laporan keuangan perusahaan. Hal ini sejalan dengan teori signal, bahwasanya investor dapat mengetahui sinyal dari suatu perusahaan. Semakin tinggi nilai ROA berarti semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memperoleh profit/laba dengan menggunakan aset yang dimiliki. Sebaliknya nilai ROA yang rendah menunjukkan bahwa pengelolaan aset perusahaan kurang efektif dan akan mempersulit keuangan perusahaan dalam sumber pendanaan internal untuk investasi sehingga dapat meningkatkan potensi kesulitan keuangan atau financial distress. Penelitian yang dilakukan oleh Fadlillah, . Afiezan et al. , . Christella & Osesoga, . Syuhada & Muda, . Mahaningrum & Pengaruh Operating Capacity terhadap Financial Atika et al. , . dan Afiezan et al. , . berpendapat operating capacity ratio atau rasio akvitas digunakan untuk menilai perusahaan dalam menghasilkan penjualan dengan aset yang dimiliki. Operating capacity diproksikan dengan membandingkan penjualan bersih dengan rata-rata total aset. Semakin tinggi operating capacity berarti semakin efektif perusahaan menggunakan total asetnya sehingga semakin rendah kemungkinan terjadi kondisi financial distress. Pada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fadlillah, . menjelaskan bahwa operating capacity berpengaruh terhadap financial distress. H4 : Operating Capacity berpengaruh terhadap financial distress tersedia untuk melunasi kewajiban atau hutang. Ada beberapa cara untuk mengukur financial distress dan penelitian ini menggunakan metode Springate Profitabilitas Menurut Hery, . profitabilitas merupakan alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasionalnya. Sedangkan menurut Hariyanto . rasio profitabilitas menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham tertentu. Ada beberapa jenis rasio profitabilitas yang dapat digunakan, dalam penelitian ini peneliti menggunakan return on asset. Likuiditas Menurut Hery, . , likuiditas adalah indikator kemampuan untuk membayar kembali semua kewajiban jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan aset lancar yang ada. Menurut Yudiawati & Indriani, . , kurangnya kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajibannya saat ini adalah masalah likuiditas yang serius, yang dapat menyebabkan pelepasan paksa aset dan sumber daya lainnya dan juga berkontribusi pada masalah solvabilitas dan kebangkrutan. Likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan current ratio. Sales growth Sales growth dapat menjadi ukuran dari keberhasilan investasi yang dilakukan pada periode sebelumnya, sehingga rasio ini dapat digunakan untuk memprediksi pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang. Pertumbuhan penjualan . ales growt. dapat diketahui dengan membandingkan perubahan penjualan periode berjalan dengan tahun sebelumnya dibagi dengan penjualan tahun sebelumnya Operating Capacity Operating capacity atau rasio akvitas adalah rasio untuk menilai efektif atau tidaknya perusahaan dalam menggunakan aset-aset guna menghasilkan penjualan (Atika et al. , 2. Operating capacity diukur menggunakan total asset turnover yakni membandingkan penjualan bersih dengan rata-rata total aset. Ukuran Perusahaan Cinantya & Aryani, . berpendapat total aset yang dimiliki oleh perusahaan mencerminkan seberapa besar ukuran perusahaan, artinya semakin besar total aset maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu. Biasanya perusahaan besar akan mudah untuk memproduksi berbagai jenis produk dan probabilitas perusahaan untuk mengalami kebangkrutan semakin kecil. Perusahaan besar juga dapat menggunakan asetnya untuk mengatasi kesulitan keuangan. Pada penelitian ini, ukuran perusahaan diukur menggunakan logaritma natural (L. dari total aset. Pengaruh Ukuran Perusahaan Financial distress Ukuran perusahaan dapat menggambarkan seberapa besar jumlah aset yang dimiliki perusahaan (Loman & Malelak, 2. Semakin besar perusahaan maka semakin besar total aset yang Besarnya aset ini akan menarik perhatian investor karena perusahaan yang memiliki aset yang besar memiliki sumberdaya lebih untuk menghindari financial distress. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Liahmad et al. , . Syuhada & Muda, . Pranita & Kristanti, . menunjukkan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap financial distress. H5 : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap financial distress METODE PENELITIAN Klasifikasi Sampel Populasi pada penelitian ini adalah perusahaan pariwisata yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2017-2021 sejumlah 94 perusahaan, sedangkan sampel yang digunakan adalah laporan keuangan perusahaan pariwisata lingkup penginapan Pengambilan menggunakan kriteria tertentu / pusposive sampling (Sugiyono, 2. Sampel memiliki kriteria sebagai berikut: Perusahaan pariwisata lingkup penginapan yang terdaftar di BEI periode 2017-2021. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan secara lengkap periode 2017-2021. Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan variabel dependen financial distress dan variabel dependen profitabilitas, likuiditas, sales growth, operating capacity dan ukuran perusahaan. Definisi Operasional Variabel Financial distress Financial distress atau kesulitan keuangan merupakan salah satu indikator suatu perusahaan menuju kebangkrutan karena pendapatan lebih kecil dari biayanya sehingga berakibat kesulitan dalam memenuhi kewajiban (Amanda & Muslih, 2. Pendapat serupa disampaikan oleh Hariyanto, . bahwa kondisi financial distress merupakan ketidakmampuan perusahaan dalam membayar hutang . , sebagai dampak dari ketidakcukupan jumlah asset yang dahulunya Teknik Analisis Data Analisis Statistik Deskriptif Analisis deskriptif sendiri merupakan salah satu bagian dari analisis statistik yang mempelajari tentang cara penyajian dan pengumpulan data. Analisis deskriptif bertujuan untuk memperoleh hasil nilai maximmum, minimum, mean dan standar deviasi baik variabel independen maupun dependen (Ghozali, 2. Analisis Deskriptif Frequencies Pada penelitian ini lebih tepatnya menggunakan prosedur frequencies dikarenakan variabel yang berbentuk dummy agar dapat melihat sebanyak apa perusahaan yang mengalami financial distress dan perusahaan yang tidak mengalami financial distress. Analisis Regresi Logistik Analisis regresi logistik diperlukan untuk menguji apakah probabilitas terjadinya variabel terikat dapat diprediksi dengan variabel bebas yang Dalam penelitian ini tujuan analisis ini untuk mengetahui kekuatan prediksi profitabilitas, likuiditas, sales growth, operating capacity dan ukuran perusahaan terhadap financial distress dalam perusahaan pariwisata. Model persamaan regresi logistik dapat digambarkan sebagai berikut: ycyc ycyea = yeC yuya ycya yuya ycya yuyc ycyc yuye ycye ya Oe ycyc yuye ycye yeI Keterangan: yaya yaycu : Log dari perbandingan antara peluang 1Oeyaya financial distress dan non financial yca : Konstanta yu1Oe5 : Koefisien Regresi : Profitabilitas : Likuiditas : Sales growth : Operating capacity : Ukuran Perusahaan : Error term, yaitu tingkat kesalahan Terdapat beberapa langkah untuk menganalisis model fit dalam regresi logistik diantaranya adalah: Uji Kelayakan Model Regresi Logistik -2 Log Likelihood Value Adanya pengurangan nilai antara -2 log likelihood awal dengan akhir menunjukkan bahwa model fit dengan data Nagelkerke R2 Untuk mengetahui seberapa besar variabel independen mampu menjelaskan variabel Hosmer and LameshowAos Goodness of Fit Test HCA = model fit . ilai sig Ou 0,. H1 = model tidak fit . ilai sig < 0,. Tabel Klasifikasi Uji Hipotesis (Uji Wal. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Hasil analisis statistik deskriptif frekuensi dalam penelitian ini disajikan pada tabel 1 menunjukkan hasil analisis statistik deskriptif frekuensi pada perusahaan yang merupakan financial distress. Tabel 2, tabel 3, tabel 4, tabel 5 dan tabel 6 menunjukkan hasil analisis statistik deskriptif perusahaan financial distress dan perusahaan non financial distress masing-masing variabel. TABEL 1 HASIL ANALISIS DESKRIPTIF FREKUENSI Valid Valid Percent Cumulative Percent Frequency Percent Financial distress Non Financial distress Total Sumber: Output SPSS 24 TABEL 2 HASIL ANALISIS DESKRIPTIF VARIABEL PROFITABILITAS Perusahaan Financial Perusahaan Non Financial Sumber: Output SPSS 24 Minimum Maksimum Rata-rata Standar Deviasi -0,1253 0,1748 -0,008 0,0468 0,0157 0,2605 0,0709 0,062 TABEL 3 HASIL ANALISIS DESKRIPTIF VARIABEL LIKUIDITAS Perusahaan Financial Perusahaan Non Financial Sumber: Output SPSS 24 Minimum Maksimum Rata-rata Standar Deviasi 0,1546 16,204 2,578 2,748 1,702 16,138 5,372 4,589 TABEL 4 HASIL ANALISIS DESKRIPTIF VARIABEL SALES GROWTH Perusahaan Financial Perusahaan Non Financial Sumber: Output SPSS 24 Minimum Maksimum Rata-rata Standar Deviasi -0,9853 27,9805 0,5848 3,72 -0,1084 0,3911 0,0731 0,1527 TABEL 5 HASIL ANALISIS DESKRIPTIF VARIABEL OPERATING CAPACITY Perusahaan Financial Perusahaan Non Financial Sumber: Output SPSS 24 Minimum Maksimum Rata-rata Standar Deviasi 0,0006 0,4774 0,1294 0,1087 0,0612 0,5507 0,2487 0,1561 TABEL 6 HASIL ANALISIS DESKRIPTIF VARIABEL UKURAN PERUSAHAAN Minimum Maksimum Rata-rata Standar Deviasi Perusahaan Financial 22,1391 31,0622 27,1333 2,0333 Perusahaan Non Financial 22,3424 30,3606 26,2943 1,9758 Sumber: Output SPSS 24 Tabel 1 menunjukkan bahwa terdapat 80 sampel rata-rata, hal tersebut menandakan bahwa data data yang diperoleh pada periode tahun 2017 -2021 bersifat heterogen. Sedangkan standar deviasi yang pada sektor pariwisata lingkup penginapan. Sampel dimiliki perusahaan non financial distress lebih kecil data yang tidak mengalami financial distress dibandingkan dengan rata-rata, artinya data berjumlah 14 atau senilai 17,5%. Sampel data yang sedang mengalami kondisi financial distress atau Tabel 4 menunjukkan hasil variabel Sales senilai 66 atau 82,5%. growth diketahui bahwa pada non financial distress Tabel 2 juga dapat diketahui pada perusahaan nilai minimum dan maksimum sebesar -0,1084 dan yang tidak mengalami financial distress mempunyai 0,3911. Sedangkan perusahaan dengan financial profitabilitas minimum dan maksimum sebesar distress memiliki nilai minimum -0,9853 dan 0,0157 dan 0,2605. Sedangkan pada perusahaan maksimum 27,9805. Standar deviasi yang dimiliki financial distress nilai minimum dan maksimum perusahaan financial distress dan non financial sebesar -0,1253 dan 0,1748. Nilai rata-rata distress lebih besar dibandingkan dengan rata-rata, perusahaan yang mengalami financial distress lebih hal tersebut menandakan bahwa variabilitas data kecil dibandingkan dengan perusahaan yang tidak yang digunakan semakin besar atau heterogen. mengalami financial distress yaitu sebesar -0,008 < Tabel 5 menunjukkan analisis deskriptif 0,0709. Standar deviasi yang dimiliki perusahaan variabel operating capacity. nilai minimum financial distress lebih besar dibandingkan dari rataperusahaan yang mengalami financial distress rata, hal tersebut menandakan bahwa data yang sebesar 0,0006 dan nilai maksimum sebesar 0,4774. bersifat heterogen. Sedangkan pada non financial Pada tabel 5 juga dapat diketahui bahwa nilai distress lebih kecil dari rata-rata, hal tersebut minimum operating capacity perusahaan yang tidak menandakan bahwa variabilitas data yang digunakan mengalami financial distress sebesar 0,0612 dan semakin kecil atau homogen. nilai maksimum sebesar 0,5507. Nilai minimum Tabel 3 menunjukkan hasilvariabel likuiditas operating capacity pada perusahaan financial dimana nilai minimum perusahaan yang mengalami distress lebih kecil jika dibandingkan dengan financial distress sebesar 0,1546 dan nilai perusahaan non financial distress yaitu sebesar maksimum sebesar 16,204. Nilai minimum yang non 0,0006 < 0,0612. Nilai maksimum pada perusahaan financial distress sebesar 1,702 dan nilai maksimum financial distress lebih kecil jika dibandingkan sebesar 16,138. Nilai rata-rata perusahaan yang dengan perusahaan non financial distress yaitu sebesar 0,4774 < 0,5507. Standar deviasi yang dibandingkan dengan perusahaan yang tidak dimiliki perusahaan financial distress dan non mengalami financial distress yaitu sebesar 2,578 < financial distress lebih kecil dibandingkan dengan 5,372. Standar deviasi yang dimiliki perusahaan rata-rata, hal tersebut menandakan bahwa variabilitas financial distress lebih besar dibandingkan dengan data yang digunakan semakin kecil atau homogen. Tabel 6 menunjukkan analisis deskriptif variabel ukuran perusahaan dengan nilai minimum dan maksimum perusahaan yang mengalami financial distress 22,1391 dan 31,0622. Untuk non financial distress nilai minimum 22,3424 dan nilai maksimum 30,3606. Sedangkan standar deviasi lebih kecil dari rata-rata, baik pada perusahaan financial distress maupun non financial distress. Signifikansi value Sumber: Output SPSS 24 Berdasarkan tabel 9, chi-square sebesar 1,618 dengan signifikansi value 0,989 atau 98,9%, dimana lebih besar dari 0,05 atau 5%. Ini berarti bahwa tidak terdapat perbedaan antara model dengan data yang diobservasi, sehingga model telah dikatakan fit dengan data dan dapat diterima. Analisis Regresi Logistik Hasil Uji Kelayakan Model Regresi Logistik -2 Log Likelihood Value TABEL 7 HASIL UJI -2 LOG LIKELIHOOD BLOCK Nilai Keterangan Statistik -2 Log Likelihood Block 0 74,196 -2 Log Likelihood Block 1 23,061 Tabel Klaifikasi TABEL 10 HASIL UJI KALSIFIKASI 2X2 Prediksi Ket Ketepatan NFD Klasifikasi 97,0% NFD 64,3% Presentase Keseluruhan 91,3% Sumber: Output SPSS 24 Hasil uji klasifikasi 2 x 2 tersedia dalam tabel 10 yang menunjukkan persamaan uji regresi logistic yang dibentuk dapat mengklasifikasi ketepatan variabel dependen sebesar 91,3%. Ini berarti model regresi logistic yang digunakan peneliti dapat memprediksi kondisi perusahaan apakah mengalami financial distress atau tidak sesuai Ghozali, . yang menyatakan bahwa kebenaran suatu prediksi dari model prediksi akan dikatakan baik apabila nilai ketepatan melebihi 50%. Sumber: Output SPSS 24 Pada tabel 7 menunjukkan bahwa penambahan variabel profitabilitas, likuiditas, sales growth, operating capacity dan ukuran perusahaan ke dalam model dinyatakan fit karena nilai statistik uji -2 log likelihood mengalami penurunan dari nilai -2 log likelihood block 0 sebesar 74,196 menjadi -2 log likelihood block 1 sebesar 23,061. Nagelkerke R2 TABEL 8 HASIL UJI NAGELKERKE R-SQUARE -2 Log Cox & Snell Nagelkerk Likelihood R Square e R2 0,775 23,601 0,469 Sumber: Output SPSS 24 Pada tabel 8 menunjukkan hasil uji nilai Cox & Snell R Square sebesar 0,469 dan nilai Negelkerke R Square sebesar 0,775. Nilai Negelkerke R Square sebesar 0,775 berarti variabel independen yang terdiri dari profitabilitas, likuiditas, sales growth, operating capacity dan ukuran perusahaan dapat menjelaskan variabel dependen yaitu financial distress sebesar 77,5%. Hosmer and LameshowAos Goodness of Fit Test TABEL 9 HASIL UJI HOSMER AND LEMESHOW GOODNESS OF FIT Keterangan Nilai Statistik Chi-square 1,681 Hasil Uji Hipotesis Variabel 0,989 TABEL 11 HASIL UJI ANALISIS REGRESI LOGISTIK Wald Sig. Keterangan Profitabilitas (X. - 65,996 5,515 0,019 Signifikan Likuiditas (X. - 0,706 7,036 0,008 Signifikan Sales growth (X. - 0,219 0,458 0,499 Tidak Signifikan Operating Capacity (X. - 22,483 4,309 0,038 Signifikan Ukuran Perusahaan (X. 0,132 0,190 0,663 Tidak Signifikan Konstanta 8,020 0,826 0,364 Sumber: Output SPSS 24 Berdasar pada hasil uji hipotesisi pada tabel 11 didapatkan hasil persamaan regresi logistik sebagai ycyc ycyea = Oeyn, yayaya yiye, yi . cya ) ya Oe ycyc ya, yiyayi . cya ) ya, yayay . cyc ) yaya, yeynyc . cye ) Oe ya, yaycya . cye ) yeI . Mahaningrum & Merkusiwati, . menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap financial distress. Pengaruh Likuiditas terhadap Financial distress Berdasarkan hasil pengujian regresi logistik, variabel likuiditas memiliki pengaruh negatif dengan signifikansi < 0,05. Ini berarti bahwa semakin besar nilai likuiditas perusahaan maka risiko mengalami financial distress akan semakin kecil. Ini sesuai dengan tabel 3 dimana nilai rata-rata likuiditas pada perusahaan yang tidak mengalami financial distress lebih besar dibanding perusahaan yang mengalami financial distress Likuiditas diukur menggunakan current ratio yang ditentukan dengan rumus current asset dibanding current liability. Jika nilai current asset yang lebih besar dari nilai current liability ini merupakan sinyal positif . ood new. bagi calon investor / kreditur karena menunjukkan kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya sehingga akan terhindar dari financial distress, begitu pula sebaliknya. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian Fadlillah, . Syuhada & Muda, . Pranita & Kristanti, . menunjukkan bahwa likuiditas berpengaruh signifikan terhadap kondisi financial distress Dapat dilihat pada tabel 11 menunjukkan bahwa nilai koefisen dari variabel ukuran perusahaan bernilai Hal ini menandakan variabel X dan Y memiliki arah yang sama. Sedangkan pada variabel yang memiliki nilai koefisien negatif, yakni profitabilitas, likuiditas, sales growth dan operating capacity yang berarti variabel X dan Y memiliki arah yang berbeda. Tabel 11 juga menunjukkan bahwa variabel profitabilitas, likuiditas dan operating capacity memiliki nilai signifikansi < 0,05 sehinggan dapat digunakan untuk memprediksi adanya financial distress Hal ini menunujukkan bahwa semakin rendahnya profitabilitas, likuiditas dan operating capacity dapat memicu perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Artinya hipotesis diterima (H0 Namun variabel sales growth dan ukuran tidak dapat digunakan untuk memprediksi adanya kesulitan keuangan perusahaan karena nilai signifikansi > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis ditolak (H0 diterim. PEMBAHASAN Pengaruh Profitabilitas terhadap Financial Hasil pengujian regresi logistik pada profitabilitas menunjukkan bahwa nilai signifikansi < 0,05 dan nilai koefisien negatif. Profitabilitas diukur dengan ROA yang diperoleh dari laba bersih dibanding total aset. Jika nilai ROA semakin tinggi berarti laba perusahaan lebih besar dibandingkan total aset perusahaan, dengan kata lain perusahaan mampu menggunakan aset dengan baik dalam proses untuk menghasilkan laba. ROA bermanfaat untuk memprediksi laba perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga dengan hasil yang ada perusahaan gejala-gejala kebangkrutan, dan perusahaan dapat mengetahui dengan baik bahwa gejala-gejala perusahaan yang akan bangkrut dapat dideteksi. Meningkat atau menurunnya profitabilitas suatu perusahaan dapat diketahui dari laporan keuangan Perubahan ROA memberikan sinyal kepada calon investor, kreditur maupun stakeholder yang lain . Jika laba perusahaan meningkat maka akan memberikan sinyal positif kepada investor dan manajer, begitu pula sebaliknya jika laba perusahaan menurun maka akan memberikan sinyal yang negative kepada investor maupun manajer. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fadlillah, . Afiezan et al. , . Christella & Osesoga, . Syuhada & Muda. Pengaruh Sales growth terhadap Financial Berdasarkan hasil pengujian regresi logistik, variabel sales growth memiliki nilai signifikansi sebesar 0,499 > 0,05. Ini berarti pertumbuhan penjualan tidak mampu mempengaruhi financial distress Pertumbuhan sales growth juga akan menimbulkan pertumbuhan beban pada perusahaan. Jika perusahaan tidak dapat mengendalikan pertumbuhan biaya maka laba yang dihasilkan dari adanya sales growth tidak akan mampu menutup biaya yang timbul. Tabel 4 juga menunjukkan bahwa perusahaan yang mengalami financial distress ternyata memiliki rata-rata sales growth yang lebih tinggi dari perusahaan non financial distress tetapi nilai minimum perusahaan non financial distress lebih tinggi dibanding perusahaan financial distress. Tidak berpengaruhnya variabel sales growth bertolak belakang dengan teori yang digunakan peneliti, yaitu teori sinyal. Teori sinyal menjelaskan bagaimana informasi kepada investor maupun pengguna laporan keuangan lainnya. Informasi dapat berupa sinyal positif . ood new. maupun sinyal negative . ad Seharusnya sedikit banyaknya sales growth dapat memberikan sinyal kepada pihak eksternal. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mahaningrum & Merkusiwati, . Giarto & Fachrurrozie, . yang menjelaskan bahwa sales growth tidak dapat memprediksi kondisi financial distress. Sales growth dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh terhadap financial distress pada perusahaan Pariwisata yang terdaftar di BEI tahun 2017-2021. Keterbatasan Keterbatasan dalam penelitian yaitu banyaknya data laporan keuangan dan laporan tahunan yang sulit untuk didapatkan. Hal ini disebabkan karena perusahaan tidak lagi mengunggahnya di web perusahaan maupun di situs web BEI. Pengaruh Operating Capacity terhadap Financial Berdasarkan hasil pengujian regresi logistik, variabel operating capacity berpengaruh negatif terhadap terjadinya financial distress. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,038 yang berarti nilai signifikansi tersebut kurang dari 0,05 dengan arah koefisien regresi bertanda negatif. Operating capacity diukur dengan total asset turn over yakni penjualan dibanding total aset. Jika perusahaan memiliki aset yang lebih kecil dari penjualan yang dilakukan menunjukkan bahwa pemasarannya dengan baik. Hal ini juga mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam menggunakan aset yang dimiliki. Hasil tabel 5 juga menunjukkan perusahaan financial distress memiliki rata- rata operating capacity yang lebih kecil dibanding non financial distress. Hasil operating capacity juga memrupakan sinyal penting bagi calon investor / kreditur. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian Fadlillah, . menjelaskan bahwa operating capacity berpengaruh terhadap financial distress. Saran Berdasar pada kesimpulan dan keterbatasan ada maka peneliti menyampaikan saran yang dapat dipertimbangkan untuk penelitian selanjutnya yaitu disarankan mempertimbangkan sektor perusahaan yang akan digunakan agar data sampel yang digunakan menjadi lebih banyak. REFERENSI