Nursing Arts Vol 18. No 2. Desember 2024 ISSN: 1978-6298 (Prin. ISSN: 2686-133X . HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS Atrisnawati1. Elin Hidayat2. Widyawati L. Situmorang3 Universitas Widya Nusantara Email Korespondensi: atriscimon@gmail. Artikel history Dikirim. November 15th, 2024 Ditinjau. December 10th, 2024 Diterima. December 22nd, 2024 ABSTRACT The condition of Chronic Kidney Failure (CKD) patients during hemodialysis process mostly had high anxiety level. The various of koping mechanisms used by patients to deal anxiety mostly have significant obstacles. The purpose of this study is to analyze the correlation between koping mechanisms and anxiety levels toward Chronic Renal Failure patients undergoing hemodialysis. This type of research is quantitative analytic using a cross-sectional study approach. The total of population in this study were 124 Chronic Renal Failure patients undergoing Hemodialysis at Undata Hospital. Central Sulawesi Province in the first and second trimester of 2024, and the total of sample is 95 respondents that taken by purposive sampling technique. Analysis using the Chi-Square Test statistical test. The results of the chisquare statistical test showed a value of p = 0. <0. There is correlation between koping mechanisms and anxiety levels toward chronic renal failure patients undergoing hemodialysis at Undata Hospital. Central Sulawesi Province. Keywords: Renal Failure. Hemodialysis. Koping Mechanism. Anxiety Level ABSTRAK Kondisi pasien dengan Gagal Ginjal Kronik (GGK) dalam pelaksanaan hemodialisis sering kali diwarnai dengan tingkat kecemasan yang tinggi. Mekanisme koping yang digunakan oleh pasien untuk menghadapi kecemasan ini bervariasi, namun sering kali mengalami kendala yang Studi pendahuluan mengatakan bahwa pasien masih belum yakin akan mengalami kesembuhan walaupun menjalani hemodialisis dan terus merasakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani hemodialisis. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan menggunakan pendekatan studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisis di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan ke I dan II Tahun 2024 yang berjumlah 124 orang, dan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 95 responden, dengan teknik pengambilan sampel puposive sampling. Analisis menggunakan uji statistisk Chi-Square Test. Hasil uji statik chisquare menunjukan nilai p=0,001 . <0,. Kesimpulan ada hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Kata Kunci: Gagal Ginjal. Hemodialisis. Mekanisme Koping. Tingkat Kecemasan Atrisnawati dkk. Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat Kecemasan PENDAHULUAN Kondisi pasien dengan Gagal Ginjal Kronik (GGK) dalam pelaksanaan hemodialisis sering kali diwarnai dengan tingkat kecemasan yang tinggi. Proses hemodialisis yang dilakukan beberapa kali dalam seminggu merupakan prosedur medis yang sangat intensif dan berpotensi menimbulkan stres fisik dan psikologis yang signifikan (Kusuma, 2. Mekanisme koping yang digunakan oleh pasien untuk menghadapi kecemasan ini bervariasi, namun sering kali mengalami kendala yang signifikan (Kurniawan, 2. Pada sisi lain mekanisme koping yang lebih adaptif seperti mencari dukungan sosial dari keluarga, teman, atau kelompok pendukung pasien gagal ginjal bisa sangat membantu. Meskipun ada berbagai strategi koping yang dapat mengimplementasikannya dengan efektif (Slametiningsih, 2. Mekanisme koping maladaptif merujuk pada strategi-strategi yang tampak sebagai cara untuk meredakan stres atau emosi negatif, tetapi sebenarnya berkontribusi pada peningkatan masalah dalam jangka panjang (Gadia, 2. Menurut laporan International Society of Nephrology . , lebih dari 850 juta orang di seluruh dunia mengidap penyakit ginjal, dan prevalensi gagal ginjal kronik di seluruh dunia adalah 10,4% pada laki-laki dan 11,8% pada perempuan (International Society of Nephrology. Laporan dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia berjumlah 0,18% dari kasus Penyakit Tidak Menular (PTM), dan berdasarkan Provinsi, yang tertinggi adalah Provinsi Jawa Barat dengan jumlah 0,20% dan yang terendah adalah Provinsi Papua Selatan dengan jumlah 0,08%, sedangkan untuk Provinsi Sulawesi Tengah berada di angka 0,2% (Kemenkes, 2. Berdasarkan data Anxiety Disorders yang dirilis oleh World Health Organization (WHO) pada Bulan Juni 2022 terdapat 301 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan (Mental disorders. Perkiraan awal menunjukkan peningkatan sebesar 26% untuk gangguan kecemasan dalam satu tahun (Mental disorders, 2. Laporan dari Databoks Indonesia, prevalensi gangguan kesehatan mental untuk kategori kecemasan sebesar 2,7% untuk jenis kelamin lakilaki dan 4,5% untuk jenis kelamin perempuan dari populasi 269,58 juta jiwa (Perempuan RI Lebih Banyak Alami Gangguan Kesehatan Mental Daripada laki-laki, 2. Gambaran kasus tingkat kecemasan pasien dan mekanisme kopingnya dalam pelaksanaan hemodialisis dalam kasus gagal ginjal kronik di Indonesia terlihat dari beberapa penelitian diantaranya oleh Gea . menunjukkan bahwa mekanisme koping adaptif 56,3% dan tingkat kecemasan berada pada kecemasan sedang yakni 61,3% dari total sampel. 111 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 109-115 Mekanisme pertahanan diri adalah serangkaian teknik yang digunakan seseorang untuk mengelola stresnya, tekanan, atau situasi sulit dalam hidup mereka. Namun, tidak semua mekanisme koping bersifat positif. Ada mekanisme koping adaptif yang membantu individu menghadapi stres secara efektif dan memperkuat kesejahteraan mereka, dan ada mekanisme koping maladaptif, yang justru bisa memperburuk keadaan dan kesehatan mental seseorang. Masalah dalam mekanisme koping seringkali muncul ketika individu menggunakan strategi yang tidak efektif atau merugikan (Rahmawati P. Dkk, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Indriani . mendukung hal tersebut, dimana menunjukkan bahwa salah satu variabel penentunya adalah efektifitas dukungan sosial teknik koping. Membangun konsep diri yang baik bermanfaat bagi perkembangan koping individu yang adaptif, yang difasilitasi oleh fungsi sosial emosional. Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk meneliti terkait mekanisme koping dan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dengan judul Hubungan Mekanisme Koping Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif yang didasarkan pada studi Cross Sectional, dimana peneliti mengukur dan menilai variabel-variabel secara bersamaan dan menguji apakah ada keterkaitan diantara variabel-variabel tersebut secara bersamaan (Hikmawati, 2. Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah pada tanggal 31 Juli hingga 31 Agustus 2024. Ppulasi dalam penelitian ini yakni seluruh pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisis di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan ke I dan II Tahun 2024 yang berjumlah 124 orang. Sampel pada penelitian ini berjumlah 96 dengan teknik pengambilan sampel pada penelitian ini yakni menggunakan teknik Nn Randm Sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Alat ukur untuk variabel Bebas (Independen. yakni mekanisme koping menggunakan kuesiner yang di adpsi dari kuesioner Brief COPE (Koping Orientation to Problems Experience. , sedangkan alat ukur variable Terikat . yakni tingkat kecemasan di adopsi dari kuesioner Zung Self-rating Anxiety Scale (ZSAS). Peneliti melakukan analisa terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkrelasi. Data yang Atrisnawati dkk. Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat Kecemasan telah dikumpulkan kemudian diuji statistik menggunakan Pearson Chi-Square dengan tabel 2x3 dengan derajat kemaknaan atau tingkat signifikansi <0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Mekanisme Koping Pasien Yang Menjalani Hemodialisis Mekanisme Koping Frekuensi . Persentase (%) Adaptif Maladaptif Jumlah Berdasarkan pada tabel 1 dapat dilihat bahwa bahwa presentasi responden yang memiliki mekanisme koping adaptif sebanyak 64 responden . ,4%) dan yang memiliki mekanisme koping maladaptif sebanyak 31 responden . ,6%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Pasien Yang Menjalani Hemodialisis Tingkat Kecemasan Frekuensi . Persentase (%) Kecemasan Ringan Kecemasan Sedang Kecemasan Berat Jumlah Berdasarkan pada tabel 2 dapat dilihat bahwa presentasi responden yang berada pada tingkat kecemasan ringan sebanyak 33 responden . ,7%), responden yang berada pada tingkat kecemasan sedang sebanyak 46 responden . dan responden yang berada pada tingkat kecemasan berat sebanyak 16 responden . ,8%). Tabel 3. Hubungan Mekanisme Koping Dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis Tingkat Kecemasan Mekanisme Koping Ringan Sedang Total Berat Adaptif Maladaptif Jumlah P-Value 0,001 113 Nursing Arts. Vol. Nomor 2. Desember 2024 hlm: 109-115 Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa dari 64 . ,4%) responden yang memiliki mekanisme koping adaptif terdapat responden yang memiliki tingkat kecemasan ringan sebanyak 14 . ,4%) responden, tingkat kecemasan sedang sebanyak 36 . ,3%) responden dan tingkat kecemasan berat sebanyak 14 . ,5%) responden, sedangkan dari 31 . ,6%) responden yang memiliki mekanisme koping maladaptif terdapat responden yang memiliki tingkat kecemasan ringan sebanyak 19 . ,7%) responden, tingkat kecemasan sedang sebanyak 10 . ,7%) responden dan tingkat kecemasan berat sebanyak 2 . ,5%) responden. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-square, dapat dilihat bahwa nilai p=0,001 . <0,. yang artinya H1 diterima, ada hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Sunyoto . yang mengatakan bahwa ketika seseorang dihadapkan pada keadaan yang menimbulkan stres, maka individu tersebut terdorong untuk melakukan perilaku koping, dimana koping tersebut merupakan suatu cara bagi individu untuk mengatasi situasi atau masalah yang dialami baik sebagai ancaman atau suatu tantangan yang menyakitkan. Koping terbagi menjadi dua jenis, yaitu koping adaptif dan Koping adaptif adalah strategi yang membantu individu menghadapi stres secara positif dan konstruktif, seperti mencari solusi atau dukungan sosial. Sebaliknya, koping maladaptif adalah strategi yang cenderung tidak efektif dan dapat memperburuk kondisi, seperti menghindari masalah atau melibatkan diri dalam perilaku destruktif (Fabanyo et al. Hasil penelitian ini sejalan dengan pAnAlntnn Eng dnlkukn olAh Wijhatin . mengenai hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSI Sultan Agung Semarang pada 50 responden dengan menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menunjukan hasil analisis nilai signifikan p=0,001 . <0,. yang artinya bhw ada hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Lebih lanjut, pAnAlntn tAsAbut mAnEtkn bhw gangguan kecemasan berkembang ketika individu tidak memiliki mekanisme koping yang diperlukan untuk menghadapi tekanan hidup. Butuh beberapa waktu untuk beradaptasi bagi pasien untuk menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya dalam menjalani hemodialisis hingga pasien berhasil menyesuaikan diri. Menurut asumsi peneliti dari hasil penelitian yang menyatakan ada hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis Atrisnawati dkk. Hubungan Mekanisme Koping dengan Tingkat Kecemasan di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah bahwa mekanisme koping merupakan strategi yang digunakan individu untuk mengatasi stres dan kecemasan. Dalam konteks pasien gagal ginjal kronik, mekanisme koping dapat mempengaruhi bagaimana mereka beradaptasi dengan proses hemodialisis dan dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis mereka. Adanya dukungan emosional dari keluarga, penerimaan diri, kepercayaan secara spiritual merupakan dasar utama responden mampu melakukan mekanisme koping secara adaptif, walaupun proses penyakit yang mereka alami berimbas pada tingkat kecemasan dimana mereka masih memikirkan tentang bagaimana proses kesembuhan kedepannya. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terdapat hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Oleh sebab itu perlu dilakukan beberapa upaya asuhan keperawatan untuk meningkatkan dan membangun mekanisme koping adaptif serta mengurangi kecemasan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. UCAPAN TERIMA KASIH