1015 JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 KESIAPAN SUMBER DAYA MANUSIA DESA WISATA BONJERUK MENGEMBANGKAN KONSEP DESTINASI WELLNESS TOURISM Oleh Baiq Nikmatul Ulya1. Hasnia Minanda2. Rizal Kurniansah3. Sesilia Dwi Supita4 1,2,3,4 Program Studi D3 Pariwisata. Fakultas Ekonomoni dan Bisnis. Universitas Mataram Email : 1bn_ulya@unram. id, 2hasnia_minanda@unram. rizalkurniansah@unram. id, 4Sesiliadwisupita@gmail. Article History: Received: 11-11-2024 Revised: 15-11-2024 Accepted: 17-11-2024 Keywords: Desa Wisata. Sumber Daya Manusia. Kompetensi Pariwisata. Wellness Tourism. Abstract: Desa Wisata Bonjeruk menjadi salah satu desa yang memiliki potensi dalam mengembangkan konsep Wellness Tourism. Penerapan konsep wisata tersebut dapat menambah daya tarik Desa Wisata Bonjeruk dalam menarik minat wisatawan untuk berkunjung, dimana konsep yang diatwarkan tidak hanya menikmati keindahan destinasi wisata namun juga melakukan aktivitas yang dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesiapan sumber daya manusia Desa Wisata Bonjeruk dalam mengembangkan konsep Wellness Tourism. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah deskriptif Hasil penelitian menggambarkan bahwa kesiapan SDM Desa Wisata Bonjeruk dari aspek pengetahuan, keterampilan, dan etika dapat menerapkan konsep wellness tourism. Namun perlu diperbanyak pelatihan spesifik terkait dengan wellness tourism seperti pelatihan spa atau terapi agar dapat menunjang kebugaran wisatawan saat berkunjung di desa wisata. PENDAHULUAN Sumber daya manusia menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan pada industri pariwisata karena pengalaman wisatawan saat berada di destinasi wisata dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap para pekerja di sektor pariwisata. Sumber daya manusia industri pariwisata yang diharapkan tidak hanya memiliki hard skill namun juga soft skill, kemampuan manajerial, dan pengetahuan dibidang IT. Kesiapan sumber daya manusia pada industri pariwisata dapat meningkatkan minat dan menciptakan kenyamanan bagi wisatawan. Oleh karena itu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melakukan berbagai macam upaya dalam memaksimalkan keterampilan dari sumber daya manusia yang menggeluti industri pariwisata dengan melakukan sosialisasi, pelatihan, uji kompetensi secara masal, serta membangun sekolah khusus pariwisata di berbagai daerah (Said et al. , 2. Perkembangan tren pariwisata yang mengalami perubahan setiap tahun dengan didasari berbagai macam kondisi membuat seluruh stakeholder pariwisata harus mempersiapkan sumber daya mereka untuk dapat terus memberikan pelayanan terbaik terhadap wisatawan. Pengembangan konsep pariwisata semakin meluas dengan mengikuti kebutuhan wisatawan yang semakin Salah satu konsep pariwisata yang kini mulai banyak dikembangkan adalah konsep Wellness Tourism. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Wellness Tourism menjadi konsep wisata yang berpeluang dalam meningkatkan kunjungan. Hal ini didasarkan oleh perubahan kebutuhan wisatawan yang tidak hanya ingin menikmati destinasi wisata namun juga ingin meningkatkan kesehatan jasmani dan Rohani melalui berbagai kegiatan wisata (Permanasari et al. Konsep Wellness Tourism telah dikembangkan di berbagai destinasi wisata di Indonesia terutama di Pulau Lombok. Pulau Lombok telah mencoba mengembangkan konsep Wellness Tourism di beberapa desa wisata. Salah satu desa wisata yang memiliki potensi dalam mengembangkan konsep Wellness Tourism salah satunya adalah Desa Wisata Bonjeruk. Dalam mengembangkan konsep Wellness Tourism. Desa Wisata Bonjeruk telah memiliki potensi-potensi dari berbagai atraksi wisata yang telah dikembangkan. Namun potensi-potensi tersebut tidaklah cukup, potensi tersebut perlu didukung dengan tenaga sumber daya manusia yang mengerti dan memiliki keterampilan dalam mengembangkan konsep Wellness Tourism. Berdasarkan penelitian (Simatupang et al. , 2. pada destinasi yang mengembangkan konsep Wellness Tourism belum memiliki kesiapan dalam mengelola konsep pariwisata tersebut, hal ini dikarenakan dalam organisasi pengelolaan desa wisata belum memiliki sumber daya yang memiliki pengetahuan di bidang pariwisata. Sehingga untuk meningkatkan tren Wellness Tourism perlu menyediakan sumber daya manusia yang berkompeten untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang tertarik dengan konsep Wellness Tourism. Berdasarkan pemaparan-pemaparan tersebut maka selain mencari potensi Wellness Tourism yang ada di Desa Wisata Bonjeruk, perlu juga mengetahui bagaimana kesiapan sumber daya manusia yang ada di Desa Wisata Bonjeruk untuk siap mengembangkan konsep Wellness Tourism yang akan lebih lanjut diteliti melalui penelitian ini. LANDASAN TEORI Sumber Daya Manusia Pariwisata Industri pariwisata merupakan salah satu industri yang menyerap banyak tenaga kerja karena industri pariwisata tidak hanya menjual produk barang namun juga menjual produk jasa untuk wisatawan. Oleh karena itu berdasarkan UU No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan tenaga kerja pariwisata memiliki standar kompetensi yang ditandai dengan adanya sertifikat Keberadaan sumber daya manusia memiliki peranan penting dalam pengembangan Peranan sumber daya manusia dalam industri pariwisata diantaranya mengamati, mengendalikan, meningkatkan kualitas pariwisata, serta dapat menentukan kenyamanan dan kepuasan wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata (Said et al. , 2020. Simatupang et al. Sumber daya manusia (SDM) dalam industri pariwisata dapat berasal dari tenaga kerja yang telah berpengalaman di bidang hospitality dan masyarakat yang berada di destinasi wisata dimana mereka dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan dengan membawa nilai-nilai kearifan Selain itu masyarakat lokal perlu dipersiapkan juga untuk berperan aktif dalam pembangunan pariwisata, pelatihan harus dilakukan secara terstruktur agar Masyarakat tidak hanya menjadi penonton di destinasi wisata (Sayuti, 2. Dalam menjaga dan meningkatkan kualitas SDM, banyak aspek yang perlu diperhatikan oleh para pihak. Aspek-aspek tersebut terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan etika SDM. Jika masing-masing SDM terus memperdalam ilmu, meningkatkan keterampilannya, dan menjaga etika mereka saat berhadapan dengan wisatawan maka hal tersebut bisa berdampak terhadap kepuasan Selain itu perpaduan ketiga aspek tersebut dapat memperkuat kompetensi SDM sehingga dapat memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerjaannya untuk mencapai hal yang a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 diharapkan (Brigitha. Lapian and Taroreh, 2018. Wirawan and Gorda, 2. Wellness Tourism Wellness tourism adalah kegiatan wisata yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan jasmani dan rohani melalui pengalaman perjalanan yang menyenangkan, menyehatkan dan memberi kesempatan bagi individu untuk merawat diri. Wellness tourism merupakan segment pariwisata yang memiliki perkembangan sangat pesat. Berdasarkan Laporan Ekonomi Pariwisata selama 2015-2017, wellness tourism tumbuh pesat sebesar 6,5%. Para wisatawan membuat perjalanan wellness sebanyak 830 perjalanan pada tahun 2017 dimana lebih besar 139 juta pada tahun 2015 (Global Wellness Institute (GWI), 2018. Simatupang et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian (Kongtaveesawas et al. , 2. konsep wellness tourism juga bisa dilihat dari pengalaman fisik, pengalaman mental, pengalaman spiritual, dan pengalaman Pengalaman fisik dapat dilihat dari kualitas makananan dan minuman yang disediakan, kualitas layanan yang diberikan kepada wisatawan, terdapat program atau atraksi yang ditawarkan kepada wisatawan untuk membantu melakukan detoksifikasi pada tubuh mereka, harga produk yang terjangkau oleh wisatawan, serta kebijakan hygiene di destinasi. Pengalaman mental dapat dilihat dari adanya perubahan positif terkait kesehatan, penyegaran diri dari kehidupan sehari-hari, wisatawan medapatkan perhatian dan empati dari pengelola destinasi wisata, wisatawan merasa bagian dari destinasi wisata tersebut, wisatawan dapat belajar dari hal-hal yang baru di destinasi METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis data deskriptif kualitatif yang diaplikasikan pada setiap analisis permasalahan bersumber dari penjelasan dan penjabaran yang diberikan oleh informan. Informan pada penelitian ini adalah anggota Pokdarwis Desa Wisata Bonjeruk. Lokasi penelitian ini terletak di Desa Wisata Bonjeruk. Selanjutnya teknik pengumpulan data pada penelitian ini diantaranya observasi, wawancara, studi pustaka, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diklasifikasikan berdasarkan jenis data yang sesuai untuk menjawab pertanyaan, kemudian diinterpretasikan sesuai dengan konsep dan teori yang digunakan, selanjutnya ditarik kesimpulan sehingga dapat menjawab kedua pokok permasalahan yang dibahas dalam penelitian. Indikator kesiapan sumber daya manusia Desa Wisata Bonjeruk dilihat dari 3 aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, dan etika. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, telah dilakukan penelaahan lebih lanjut terkait bagaimana kesiapan sumber daya manusia (SDM) Desa Wisata Bonjeruk dalam mengembangkan konsep Wellness Tourism. Kesiapan SDM dilihat dari tiga aspek yaitu pengetahuan, keterampilan, dan etika. Pengetahuan Pengetahuan merupakan salah satu aset yang berharga untuk memperkuat kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang untuk individu maupun organisasi. Pengetahuan menjadi salah satu unsur kehandalan SDM dimana pengetahuan berperan ketika mereka melakukan tugas yang diberikan oleh lembaga (Rahma Sandhi Prahara. Muhammad Mujtaba Mitra Zuana, 2. Pengetahuan SDM tentunya didukung oleh latar belakang pendidikan yang telah ditempuh. Melalui pendidikan tersebut pengetahuan dan keterampilan SDM akan terbentuk. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa anggota dari Kelompok a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Sadar Wisata (POKDARWIS) Desa Wisata Bonjeruk memiliki berbagai macam latar pendidikan. Latar belakang pendidikan POKDARWIS beragam terdiri dari D3. S1, dan S2 dengan pekerjaan sebagai mahasiswa, guru, dosen serta menjadi guide lokal. Tentunya melihat dari latar belakang pendidikan tersebut, dapat dilihat bahwa POKDARWIS Desa Wisata Bonjeruk memiliki SDM yang bagus dan dapat menerapkan konsep pariwisata secara berkelanjutan. Selain itu terdapat dua anggota POKDARWIS yang telah menempuh pendidikan di bidang pariwisata, sehingga ilmu pariwisata sudah sangat melekat pada anggota-anggota tersebut. Selanjutnya, para anggota POKDARWIS mengetahui konsep pariwisata tidak hanya melalui pendidikan formal namun juga sosialisasi tentang pariwisata yang dilaksanakan oleh berbagai pihak. Sosialisasi tersebut diadakan dengan tujuan untuk semakin memperluas pengetahuan para pengelola wisata dalam mengembangkan atraksi di desa wisata. Oleh karena itu mereka telah mengetahui berbagai konsep pariwisata salah satunya konsep wellness tourism. Pengetahuan dinilai penting untuk dimiliki oleh para pelaku wisata. Jika para pelaku wisata memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pariwisata seperti atraksi wisata dan kondisi geografi destinasi wisata maka hal tersebut dapat berdampak terhadap kenyamanan dan kepuasan wisatawan (Brigitha. Lapian and Taroreh, 2. Keterampilan Keterampilan dapat berkontribusi pada keberhasilan individu, tim, dan organisasi secara Keterampilan dapat meningkatkan produktivitas SDM lebih tinggi, kemampuan beradaptasi, inovasi dan kreatifitas, peningkatan kualitas kerja, dan pengembangan karir. Oleh karena itu SDM tidak hanya mementingkan pengetahuannya saja, namun bagaimana pengetahuan tersebut dapat diimplementasikan dengan keterampilan yang mereka miliki. Keterampilan SDM dapat diasah melalui kegiatan pelatihan dan pengembangan yang sesuai dengan lingkup pekerjaan. Pelatihan menjadi salah satu strategi industri pariwisata dalam meningkatkan kemampuan SDM untuk memberikan pelayanan prima. Pelatihan dapat berdampak signifikan terhadap pengetahuan dan peningkatan kinerja SDM. Sehingga untuk mendukung terlaksananya pelatihan yang optimal perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak seperti pemerintah, akademisi, dan masyarakat (Turere, 2013. Satriani. Utami and Prasetya, 2. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa anggota POKDARWIS melakukan berbagai macam pelatihan untuk meningkatkan keterampilan. Jenis-jenis pelatihan yang telah diikuti diantaranya pelatihan guiding, paket wisata dan kepemanduan, pelatihan pemasaran digital destinasi wisata, pelatihan homestay dan pelatihan guiding, pelatihan pemandu lokal, pelatihan memperdalam sejarah bonjeruk, pertanian, dan pemakaman, pelatihan pemandu ecopark dan pelatihan pemandu ecotourism. Pelatihan-pelatihan tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan anggota di bidang pariwisata. Selanjutnya POKDARWIS Desa Wisata Bonjeruk sendiri telah melakukan pelatihan terkait pembuatan minuman herbal dimana bahan-bahan dasarnya berasal dari sumber daya alam desa wisata tersebut. Pelatihan pembuatan minuman herbal dapat meningkatkan pemahaman /wawasa masyarakat desa tentang keprawisatsaan dan kecakapan dalam mengolah masakan lokal. Selain itu dengan melalui pelatihan tersebut, bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang ingin merasakan kuliner sehat. Oleh karena itu pelatihan pembuatan minuman herbal dapat menjadi salah kesiapan SDM Desa Wisata Bonjeruk dalam menerapkan konsep wellness tourism. Selain itu, dengan adanya penyajian minuman herbal dapat memperkenalkan keanekaragaman hayati dari Desa Wisata Bonjeruk (Oka. Winia and Pugra, 2. Namun untuk menerapkan penerapan konsep wellness tourism di destinasi wisata perlu dilakukan pelatihan yang lebih spesifik seperti pelatihan terkait spa atau terapi serta bagaimana a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 menangani tamu disabilitas. Hal ini dikarenakan konsep wellness tourism yang mengedepankan aktivitas-aktivitas yang dapat meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani di destinasi wisata. Etika Etika memiliki peran penting dalam kesiapan sumber daya manusia dengan memastikan bahwa karyawan tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga bertindak dengan integritas dan tanggung jawab. Hal ini tidak hanya mempengaruhi lingkungan kerja tetapi juga dampak jangka panjang pada reputasi dan keberhasilan organisasi. Etika menjadi hal sangat penting dalam bidang pariwisata karena berkaitan dengan hospitality. Penerapan etika yang baik tentunya berdampak terhadap terciptanya pelayanan pariwisata yang prima. Jika tercipta pelayanan prima, maka wisatawan akan mendapatkan Kesan yang menyenangkan, merasa puas, memiliki niat untuk berkunjung kembali serta mereka bersedia untuk ikut mempromosikan destinasi wisata (Widayati. Sulistiono and Purwoko, 2. Dalam memandu wisatawan, anggota POKDARWIS yang menjadi pemandu lokal tidak hanya mempersiapkan diri dari segi pengetahuan dan keterampilan saja, namun juga mempersiapkan penampilan dan memperhatikan tingkah laku mereka yang dapat membuat wisatawan nyaman saat menikmati atraksi di desa wisata. Sehingga para pemandu selalu mengutamakan sikap ramah pada wisatawan. Keramah tamahan membuat wisatawan merasa dihargai saat mendatangi desa wisata tersebut dan juga bisa mebuat wisatawan merasa nyaman dan betah saat berkeliling di desa wisata. Melalui pelatihan-pelatihan yang telah diikuti, para pemandu lokal telah ditekankan bahwa dalam bertutur kata harus berhati-hati terutama untuk tidak menyinggung terkait suku, ras, dan Mengingat bahwa wisatawan yang berkunjung di Desa Wisata Bonjeruk tidak hanya berasal dari satu pulau namun juga wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Sehingga dalam penyampaian materi atau berkomuniasi dengan wisatawan fokus membahas keunggulankeunggulan desa wisata untuk menarik minat wisatawan agar mau berkunjung kembali. Selain keramah tamahan, para pemandu lokal selalu menjaga penampilan mereka dengan rapi saat bertemu dengan wisatawan. Mereka memadu madankan pakaian mereka dengan pakaian khas masyarakat Desa Wisata Bonjeruk. Melalui penampilan tersebut, secara tidak langsung para pemandu memperkenalkan kondisi budaya sekitar desa wisata. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, telah dilakukan identifikasi kesiapan sumber daya manusia terhadap Desa Wisata Bonjeruk dalam mengembangkan konsep wellness tourism. Kesiapan SDM dilihat dari 3 aspek diantaranya pengetahuan, keterampilan, dan etika. Kesiapan SDM Desa Wisata Bonjeruk dari indikator pengetahuan dapat disimpulkan bahwa secara umum POKDARWIS Desa Wisata Bonjeruk telah mengetahui tentang konsep wellness tourism. Selain itu pengetahuan tersebut didukung dengan latar belakang pendidikan sebagian besar anggota POKDARWIS yang berasal dari pariwisata sehingga mereka sudah mengenali atau pernah mendengar tentang wellness tourism. Kesiapan SDM Desa Wisata Bonjeruk dilihat dari aspek keterampilan dapat disimpulkan bahwa Desa Wisata Bonjeruk perlu mengikuti berbagai macam pelatihan yang spesifik mengarah kepada wellness tourism. Anggota POKDARWIS telah mendapatkan pelatihan terkait dengan pembuatan minuman herbal dimana pelatihan tersebut menunjang penerapan konsep wellness Namun perlu adanya pelatihan spesifik seperti pelatihan spa atau terapi dimana spa sangat identik dengan konsep wellness tourism. https://stp-mataram. e-journal. id/JRT JRT Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Maret 2025 Berdasarkan aspek etika, kesiapan SDM Desa Wisata Bonjeruk dapat disimpulkan bahwa anggota POKDARWIS sangat menyadari betul pentingnya etika saat mendampingi atau memandu Dalam memandu wisatawan mereka memperhatikan keramah tamahan, perkataan, serta tingkah laku yang tidak melanggar norma. Karena mereka sadar melalui keramah tamahan tersebut wisatawan dapat merasa kenyamanan ketika mengunjungi Desa Wisata Bonjeruk. Sehingga mereka dapat menerapkan etika yang baik saat melayani wisatawan. Saran