WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Model Interaksi Mahasiswa Papua dengan Masyarakat Kota Banda Aceh dalam Membentuk Keadaban Warga Negara Maimun Universitas Syiah Kuala maimunAceh@unsyiah. Irwan Putra Universitas Syiah Kuala Irwanputra@unsyiah. Nazir Ufrani Universitas Syiah Kuala Nazirufrani69@gmail. Abstrak- Mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di berbagai wilayah Indonesia sering kali menghadapi tantangan sosial dan budaya, seperti diskriminasi, stereotip negatif, dan kesulitan beradaptasi. Namun, situasi yang berbeda terlihat di Banda Aceh, mahasiswa Papua mampu membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat lokal. Meskipun berbagai penelitian telah membahas hubungan sosial dikalangan mahasiswa perantau, masih sedikit yang fokus pada interaksi spesifik antara mahasiwa Papua dan masyarakat Aceh sehingga interaksi tersebut berjalan harmonis tanpa konflik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana model interaksi antara mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh terbentuk dan kontribusinya dalam membangun harmoni sosial di tengah keberagaman budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus, serta pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan 10 mahasiwa Papua dan 10 masyarakat Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh diawali oleh rasa senasib dan nilai keislaman yang kuat sehingga membentuk model interaksi sosial asosiatif, melalui kerja sama dalam kegiatan sosial budaya, akomodasi terhadap perbedaan agama dan kebiasaan, akulturasi melalui pertukaran budaya Aceh dan Papua, dan asimilasi dalam penyesuaian perilaku. Sehingga interaksi berlangsung harmonis dan minim konflik. Interaksi ini membentuk nilai keadaban warga Negara, seperti sikap saling menghargai, partisipasi aktif, kemampuan mengelola perbedaam secara damai, serta kepedulian sosial. Kata kunci: Model Interaksi. Mahasiswa Papua. Masyarakat Banda Aceh. Keadaban Warga Negara PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu instrumen penting dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi kelompok marjinal seperti mahasiswa asal Papua. Sejak tahun 2012, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikt. telah meluncurkan program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADi. sebagai upaya pemerataan akses pendidikan tinggi bagi pelajar dari daerah 3T (Terdepan. Terluar, dan Tertingga. , termasuk Papua dan Papua Barat (Haridian et al. , 2. Program ADik telah berkembang dari 770 mahasiswa pada 2012 menjadi lebih dari 7. 600 mahasiswa pada WIDYA ACCARYA 2025 tahun 2023 (Yanuar, 2. Tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, salah satunya Provinsi Aceh. Aceh menjadi salah satu daerah tujuan studi bagi mahasiswa penerima program ADik. Berdasarkan data dari Kabid Humas Polda Aceh, pada tahun 2019 tercatat sebanyak 105 mahasiswa asal Papua dan Papua Barat menempuh pendidikan di Aceh. Mereka tersebar di berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Syiah Kuala. Universitas Malikussaleh. Universitas Samudera, dan Universitas Teuku Umar. data Di Universitas Syiah Kuala sendiri tercatat sebanyak 33 mahasiswa Papua yang aktif berkuliah dalam P a g e 161 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index rentang waktu 2017 hingga 2024 menurut data dari biro akademik dan kemahasiswaan Universitas Syiah Kuala. Namun demikian, berbagai wilayah lain di Indonesia, mahasiswa Papua kerap menghadapi tantangan dalam proses interaksi dengan masyarakat setempat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa, mereka kerap distigmatisasi sebagai individu yang kasar, malas, peminum alkohol, menjadi sasaran pengawasan berlebihan, diperlakukan secara tidak adil, serta menjadi objek ejekan. Akibatnya, tidal sedikit dari mereka yang mengalami penolakan, termasuk dalam hal tempat tinggal, serta mengalami pengucilan dalam kehidupan sosial sehari-hari (Husna & Aryani, 2023. Nurrizka et al. , 2018. Tolapa et , 2025. Wijanarko & Syafiq, 2. Sebaliknya, mahasiswa Papua yang menempuh pendidikan di Aceh khususnya di Universitas Syah Kuala justru menunjukkan pengalaman interaksi yang positif dan Mereka menunjukkan kemampuan mempelajari bahasa dan budaya Aceh, serta menjalin komunikasi yang sopan dan terbuka dengan masyarakat sekitar. (Qazari, 2. Masyarakat Aceh juga menunjukkan sikap toleran dan terbuka terhadap keberadaan mahasiswa Papua yang memungkinkan terbentuknya hubungan sosial yang saling (Muclis Pribadi, 2017 ) Bahkan upaya moderasi agama dan dukungan paguyuban turut memfasilitasi kenyamanan mereka dalam proses adaptasi (Saiful Akmal et al. , 2022. Sutrisno, 2. Untuk memahami dinamika interaksi harmonis ini, pendekatan teori struktural fungsional dari Talcoot Parsons dapat Teori ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari subsistem-subsistem yang saling bergantung dan fungsi masing-masing pihak baik mahasiswa Papua maupun masyarakat Banda Aceh berkontribusi terhadap keteraturan Dalam konteks ini, interaksi yang terbangun mencerminkan berjalannya empat fungsi utama sistem sosial AGIL (Adaptasi. Goal atteitment. Integrasi dan Latens. Ketika masing-masing pihak menjalankan WIDYA ACCARYA 2025 perannya secara fungsional, maka terciptalah harmonisasi dalam masyarakat (Hisyam, 2. Meski demikian, kajian yang mendalami dinamika interaksi harmonis ini masih terbatas dan belum banyak dikaji secara teoritik maupun empiris secara mendalam. Penelitian lebih sering fokus pada narasi diskriminasi dibanding pada studi interaksi sosial yang konstruktif. Oleh Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana model interaksi antara mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh terbentuk dan kontribusinya dalam membangun harmoni sosial di tengah keberagaman budaya. II. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk memahami interaksi antara mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh serta mengkontribusi terhadap keadaan warga Penelitian ini dilakukan di Banda Aceh tepatnya di Kecamatan Syiah Kuala dan Kecamatan Ulee Kareng dengan populasi yang mencakup 10 Mahasiswa Papua, 4 tokoh masyarakat Banda Aceh, 4 masyarakat biasa dan 2 pemuda Banda Aceh. sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria: . mahasiswa Papua yang masih menempuh pendidikan di Universitas Syiah Kuala dan memiliki pengalaman interaksi dengam masyarakat lokal, serta . masyarakat Banda Aceh yang tinggal di sekitar lingkungan mahasiswa Papua dan memiliki interaksi langsung dengan mereka. Pemilihan ini bertujuan untuk memperoleh data yang relevan dan mendalam mengenai model interaksi yang terjadi. Data di kumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati langsung interaksi mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh dalam kehidupan sehari-hari, sementara wawancara mendalam dilakukan untuk menggali pengalaman dan persepsi dari kedua belah pihak. Dokumentasi melengkapi data melalui foto, catatan, serta reusam gampong. Data dianalisis dengan 3 tahapan Reduksi data, display data dan P a g e 162 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Reduksi data dilakukan dengan memilah informasi yang relevan dengan fokus penelitian, display dirancang dalam bentuk narasi dekriptif, sementara verifikasi dilakukan dengan membandingkan data antar informan dan menghubungkan dengan teori untuk menarik kesimpulan yang valid dengan menggunakan triangulasi metode, sumber, dan teori. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Interaksi Sosial dan Keadaban Warga Negara Manusia sebagai makhluk sosial selalu berusaha memenuhi kebutuhannya. Dan hubungan dengan orang lain. Keinginan untuk berinteraksi ini memicu kominakasi antar manusia yang pada umunya muncul dari kebutuhan untuk saling berhubungan. Soerjono Soekanto . alam Maradjabessy et al. , 2. mengartikan interaksi sosial yang dinamis meliputi hubungan antar individu, antar kelompok, maupun antar individu dengan kelompok. Interaksi ini dapat menghasilkan kerjasama atau bahkan konflik. Chaplin . alam Ramadhan, 2. menekankan bahwa interaksi sosial adalah pertalian sosial antar individu dan saling mempengaruhi ketika dua individu bertemu. Interaksi sosial dimulai dan mereka saling berkomunikasi. Adam Nasution . alam Adriansyah, 2. mendefinisikan interaksi sosial sebagai proses dimana individu atau kelompok saling berhubungan yang merupakan bentuk dari aksi sosial. Keadaban warga Negara dapat dimaknai sebagai kualitas moral dan sosial individu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yang tercermin melalui sikap, perilaku, dan interaksi sosial yang menghargai nilai-nilai etika, norma, serta tanggung jawab sosial. Salah satu fondasi utama dari keadaban ini ialah tata karma . dan etiket . , yang bukan hanya sekedar aturan perilaku, tetapi juga instrumen penting dalam pembentukan WIDYA ACCARYA 2025 karakter individu dan stabilitas sosial (Qamar. Wang, 2. Interaksi Awal Mahasiswa Papua dengan Masyarakat Banda Aceh Interaksi awal antara mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh berlangsung dalam suasana yang ramah dan penuh Sejak kedatangan, mahasiswa Papua merasakan sambutan yang baik dari masyarakat setempat, mulai daru sapan sopan, hingga pemberian arahan terkait aturan sosial dan kehidupan sehari-hari di lingkungan baru. Keakraban tersebut diperkuat oleh persepsi emosional masyarakat Banda Aceh terhadap Papua. Latar belakang sejarah perjuangan yang serupa menciptakan rasa senasib yang mendorong masyarakat untuk lebih terbuka dan tertarik membangun dialog dengan mahasiswa Papua. Nilai keislaman dan budaya lokal yang menjunjung kesopanan juga turut mendasari penerimaan tersebut. Masyarakat Banda Aceh tidak hanya menciptakan ruang komunikasi sosial dan Mahasiswa Papua diajak berdialog, dikenalkan dengan kebiasaan lokal, serta dibimbing oleh senior maupun mahasiswa lokal dalam kesehariannya. Pengalaman awal yang positif ini memberikan ketenangan emosional bagi mahasiswa Papua. Banyak dari mereka yang sebelumnya ragu kuliah di Aceh akhirnya merasa nyaman dan menilai Aceh sebagai tempat yang aman dan layak untuk menempuh Meskipun mahasiswa Papua tetap menghadapi sejumlah hambatan pada tahap awal, seperti perbedaan bahasa, logat daerah, jenis makanan, norma sosial, hingga nilai-nilai keagamaan. Perbedaan ini kerap menimbulkan rasa minder dan menurunkan kepercayaan diri mereka dalam menjalin interaksi dengan masyarakat sekitar. Kendati demikian, mahasiswa Papua menunjukkan semangat keterbukaan dan berupaya menyesuaikan diri dengan normanorma lokal, seperti berpakaian sopan, menjaga sikap, dan menghormati nilai religius Sebaliknya masyarakat Banda Aceh juga memberikan ruang adaptasi melalui komunikasi informal yang bersifat edukatif dan P a g e 163 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index suportif, bahkan memperlakukan mahasiswa Papua layaknya keluarga sendiri. Model Interaksi Mahasiswa Papua dengan Masyarakat Banda Aceh Penerimaan Sosial sebagai Fondasi Interaksi Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Papua merasakan penerimaan sosial yang positif dan terbuka dari masyarakat Banda Aceh. Penerimaan ini tercermin dalam sikap ramah, seperti memberikan bantuan secara spontan, mengundang dalam kegiatan sosial, hingga dipercayai menjadi pendamping Masyarakat juga memberi ruang bagi keterlibatan mahasiswa Papua dalam acara budaya dan keagamaan, seperti perayaan maulid, diskusi lintas agama, dan kegiatan ekonomi seperti menjual makanan khas Papua selama menghormati nilai-nilai lokal. Penerimaan ini tidak hanya terjadi di ruang sosial, namun juga dalam lingkungan akademik. Mahasiswa Papua merasa diperlakukan secara setara dan dihargai sebagai bagian dari komunikas Masyarakat Banda Aceh meilai mahasiswa Papua sebagai individu yang sopan, tertib, dan menghargai norma sosial, sehingga memperkuat hubungan timbal balik yang konstruktif. Bentuk Interaksi Asosiatif: Kerjasama. Akomodasi. Akulturasi, dan Asimilasi Berdasarkan temuan lapangan, bentuk interaksi sosial yang dominan adalah interaksi asosiatif : Kerja Sama Mahasiswa Papua terlibat dalam masyarakat, seperti gotong royong membersihkan sekretariat HIMAPA dan lingkungan masyarakat, buka puasa bersama, dan kolaborasi tarian Papua Aceh. Dalam proses ini, mereka belajar menjaga komunikasi WIDYA ACCARYA 2025 terbuka dan saling menghormati dalam perbedaan, tanpa kehilangan identitas Sejalan dengan pendapat Athoillah . , mencerminkan adanya tujuan bersama untuk membangun keteraturan sosial. Akomodasi Mahasiswa Papua menunjukkan kemampuan beradaptasi dengan nilai lokal melalui toleransi, menyesuaikan nada suara ketika berbicara dengan masyarakat, menjaga sikap dengan tidak minum alkohol, mengikuti aturan, serta menhindari konflik. Masyarakat Banda Aceh juga merespons secara positif dengan memberikan ruang aman bagi mahasiswa Papua, menunjukkan sikap toleran, dan menyampaikan perbedaan dan teguran secara bijak dan halus. Akomodasi ini merupakan bentuk dari upaya meredakan potensi konflik antar kelompok sosial (Hermansyah & Muhammad Aqil, 2. Akulturasi Akulturasi mahasiswa Papua mempertahankan identitas budayanya, seperti berbahasa Papua di komunitas internal dan menyajikan makanan khas saat acara dalam kegiatan masyarakat lokal. Interaksi ini menghasilkan percampuran budaya yang tidak menghapus identitas asal, melainkan memperkaya hubungan sosial (Sapitri, 2. Asimilasi Proses asimilasi terlihat dari perubahan perilaku mahasiswa Papua dalam menyesuaikan diri dengan norma masyarakat Banda Aceh, seperti berpakaian lebih tertutup, menjaga sopan santun, hingga menyesuaikan aktivitas harian dengan lingkungan Bahkan sebagian mahasiswa merasakan dampak positif terhadap praktik keagamaannya. Asimilasi terjadi menghargai antar budaya . aid rasul. P a g e 164 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index Kontravensi dan Koflik yang minim Meskipun interaksi berjalan baik. Kesalahpahaman terjadi akibat perbedaan kebiasaan atau minimnya pemahaman masyarakat terhadap budaya Papua. Misalnya, doa bersama mahasiswa Papua di lingkungan tempat tinggal mereka yang menggunakan bahasa daerahnya sempat keagamaan di gereja, padahal kegiatan tersebut hanya merupakan ungkapan syukur atau saat berduka. Selain itu, kekhawatiran akan perbedaan cara mahasiswa enggan mengikuti kegiatan sosial seperti gotong royong. Konflik terbuka sangat jarang terjadi. Salah satu insiden sempat mencuat pada tahun 2019 dalam pertandingan futsal antara mahasiswa Papua dengan siswa SMA, dikarenakan kesalahpahaman dari siswa SMA. Namun berhasil diselesaikan secara damai di Polsek Syiah Kuala. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun potensi konflik ada, kedua belah pihak mampu menyelesaikan secara dialogis tanpa memperluas ketegangan. Analisis Interaksi Sosial dengan Teori AGIL Talcott Parsons Model mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh juga dapat dianalisis melalui kerangka teori sistem sosial Talcott Parsons, khususnya empat fungsi utama dalam skema AGIL (Adaptasion. Goal attainment. Integration, dan Latenc. (Hisyam, 2. Teori ini menjelaskan bahwa suatu sistem sosial dapat bertahan memenuhi keempat fungsi ini secara Dalam konteks penelitian ini, keempat fungsi tersebut terwujud dalam dinamika hubungan sosial sebagai berikut: Adaptation (A) Fungsi adaptasi tercermin dalam kemampuan kedua belah pihak untuk WIDYA ACCARYA 2025 menyesuaikan diri terhadap kondisi sosial dan budaya yang berbeda. Mahasiswa Papua belajar memahami norma sosial masyarakat Banda Aceh, menyesuaikan gaya hidup mereka, komunikasi, dan perilaku publik agar selaras dengan nilai lokal. Sebaliknya, masyarakat Banda Aceh menunjukkan fleksibilitas kultural melalui penerimaan terhadap perbedaan bahasa, kebiasaan, dan ekspresi budaya mahasiswa Papua, selama tidak bertentangan secara prinsipil dengan norma lokal. Proses adaptasi ini memperlihatkan mekanisme sosial yang memungkinkan individu dari latar belakang berbeda untuk tetap hidup berdampingan secara harmonis. Goal Attainment (G) Tujuan bersama yang hendak dicapai dalam interaksi ini adalah terciptanya hubungan sosial yang harmonis dan saling menghargai. Baik mahasiswa Papua maupun masyarakat Banda Aceh berkontribusi dalam menjaga ketertiban sosial melalui partisipasi dalam kegiatan bersama, komunikasi terbuka, dan pengelolaan konflik secara damai. Keterlibatan mahasiswa Papua dalam aktivitas kampus dan masyarakat menjadi bentuk kontribusi konkret terhadap tujuan kolektif ini, yaitu integrasi sosial yang . Integration (I) Fungsi pembentukan solidaritas sosial antara kedua kelompok. Mahasiswa Papua tidak hanya diperlakukan sebagai tamy, namun juga diterima sebagai bagian dari komunitas lokal. Hal ini tampak dalam undangan mengikuti acara keagamaan, pastisipasi dalam gotong royong, hingga relasi personal yang menyerupai hubungan kekeluargaan. Masyarakat dan mahasiswa membangun kohesi melalui interaksi sehari-hari yang didasari sikap saling menghargai, kesopanan, dan kepercayaan. Integrasi P a g e 165 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index ini mengurangi jarak sosial dan membentuk jaringan sosial lintas budaya yang inklusif. Latency (L) Fungsi latensi menjadi aspek pentig dalam konteks keberagaman budaya dan agama. Mahasiswa Papua, yang mayoritas beragama Kristen, tetap mempertahankan identitas dan praktik keagamaannya meski berada dalam lingkungan yang kental dengan nilai Islam. Disisi lain, masyarakat Banda Aceh berhasil menjaga norma keislaman dan adat istiadat lokal penerimaan terhadap keragaman. Kontribusi Keadaban Warga Negara Hidayati & Harmanto . membagi keadaban warga Negara menjadi dua kewarganegaraan, yang meliputi kepedulian sosial dan toleransi. Serta komitmen penghormatan terhadap hak minoritas dan partisipas aktif dalam kehidupan sosial dan Praktik keadaban warga Negara mahasiswa Papua dengan masyarakat Aceh. Toleransi yang menjadi pilar utama dalam kehidupan bersama. Mahasiswa Papua kesadaran budaya dan keagamaan yang tinggi dengan tidak mempermasalahkan perbedaan identitas, melainkan lebih menekankan pada titik temu dan bersamaan sebagai dasar membangun relasi sosial. Mereka cenderung membangun komunikasi yang terbuka dan etis. Tidak memaksakan pandangan pribadi serta berupaya mencari solusi damai dalam menghadapi perbedaan Di sisi lain, masyarakat Banda Aceh menunjukkan sikap inklusif dengan menerima kehadiran mahasiswa Papua selama mereka menghormati norma-norma lokal, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan syariat Kedua belah pihak WIDYA ACCARYA 2025 menghormati dan tidak menghakimi sehingga menciptakan ruang sosial yang damai dan dengan penuh penghargaan terhadap keberagaman. Kerjasama dan partisipasi aktif mahasiswa Papua dalam kegiatan sosial dan Mereka turut terlibat dalam berbagai aktivitas masyarakat, seperti pemeriksaan hewan kurban dan memasaknya bersama, diskusi keagamaan, buka puasa bersama, membersihkan lingkungan, kolaborasi tarian, gotong royong dengan masyarakat sekitar sekretariat HIMAPA, hingga mengikuti juga kegiatan keagamaan di Meskipun keterlibatan tersebut belum merata di semua mahasiswa Papua, keberadaan mereka dalam kegiatan tersebut mencerminkan kepedulian sosial dan penghormatan terhadap tradisi lokal. Masyarakat juga memberikan ruang dan mahasiswa Papua serta menunjukkan apresiasi meskipun kontribusi mereka masih terbatas. Kemampuan mengelola perbedaan dan ketegangan secara damai. Dalam proses interaksi kesalahpahaman tentu terjadi, misalnya terkait gaya komunikasi, praktik ibadah atau cara Namun baik mahasiswa Papua maupun masyarakat Banda Aceh cenderung merespon perbedaan tersebut dengan kesadaran antarbudaya dan komunikasi persuasif. Ketegangan yang muncul tidak berkembang menjadi konflik terbuka, karena kedua belah pihak menunjukkan sikap saling memahami dan menghargai keberagaman sebagai bagian dari kehidupan sosial yang dinamis. Kepedulian dan solidaritas sosial. Masyarakat Banda Aceh menunjukkan sikap empati melalui berbagai tindakan seperti memberi makanan, mengundang mahasiswa Papua dalam acara keluarga, membantu mereka ketika kesulitan, hingga menjadi tempat mahasiswa Papua Hal menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya sebagai penerima secara formal keberadaan mahasiswa papua, namun juga P a g e 166 WIDYA ACCARYA: Jurnal Kajian Pendidikan FKIP Universitas Dwijendra Vol 16 No 2. Oktober 2025 P ISSN: 2085-0018 E-ISSN: 2722-8339 Available Online at http://ejournal. id/index. php/widyaaccarya/index melibatkan mereka secara emosional dalam jaringan sosial yang lebih luas. Mahasiswa Papua merasa dihargai dan diperhatikan yang memperkuat rasa nyaman terhadap lingkungan tempat mereka menempuh pendidikan. IV. SIMPULAN Interaksi mahasiswa Papua dengan masyarakat Banda Aceh diawali oleh rasa senasib akibat sejarah masa lalu yang serupa serta adanya nilai keislaman yang kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Banda Aceh. Kesamaan ini menjadi dasar terbentuknya model interaksi sosial asosiatif, yang tercermin dalam kerja sama seperti gotong royong dan kegiatan budaya, akomodasi terhadap perbedaan agama dan kebiasaan, akulturasi melalui pertukaran budaya Aceh dan Papua, asimilasi Sehingga minimnya terjadi konflik. Interaksi tersebut berkontribusi pada pembentukan nilai-nilai keadaban warga Negara, yang tercermin dalam sikap saling menghargai, parisipasi aktif, mengelola perbedaan secara damai, serta kepedulian sosial. Berbeda dengan studi sebelumnya yang lebih banyak menyoroti tantangan interaksi seperti diskrimasi dan penolakan, sehingga terbatasnya kajian mengenai bentuk interaksi sosial yang positif mahasiswa Papua dengan masyarakat lokal. Penelitian ini mengisi kekosongan tersebut dengan menampilkan dinamika interaksi yang harmonis dan konstruktif, serta menekankan pentingnya faktor sejarah, nilai bersama, dan keterbukaan budaya dalam membentuk masyarakat yang inklusif. DAFTAR PUSTAKA