Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Media Sosial sebagai Ruang untuk Mewujudkan Nilai Kasih bagi Semua Orang Disabilitas Berdasarkan Kajian Teologis dan Sosial dalam Perspektif Pendidikan Kristen Pe Demas Haba Ratu1. Enjel Runesi2. Rosalia Laata3. Rini Irenci Toto4. Trilin Ndoen5. Noldiana Ndoluanak6. Adriana Indra Santi Sole7 Pendidikan Agama Kristen. Institut Agama Kristen Negeri Kupang1,2,3,4,5,6,7 Email: pdemashabaratu@gmail. com, enjelrunesi@gmail. com, rosalialaata912@gmail. riniirenci@gmail. com, trilinndoen41@gmail. com, noldyndoluanak@gmail. com, idasole12@gmail. Abstrak Penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi marginalisasi sosial yang nyata, termasuk dalam konteks komunitas iman. Media sosial hadir sebagai ruang baru yang berpotensi mewujudkan nilai kasih . secara lebih inklusif dan merata. Artikel ini mengkaji secara teologis dan sosial bagaimana media sosial dapat difungsikan sebagai medium untuk mewujudkan nilai kasih bagi penyandang disabilitas dalam perspektif Pendidikan Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka . ibrary researc. dengan pendekatan teologi biblika dan analisis sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa: . teologi kasih Kristen yang berakar pada konsep Imago Dei menegaskan martabat setiap manusia termasuk penyandang disabilitas. media sosial memiliki potensi besar sebagai ruang inklusi, ekspresi diri, dan solidaritas digital. Pendidikan Kristen berperan penting dalam membentuk karakter kasih yang diwujudkan secara konkret melalui praktik digital yang bertanggung jawab, empatik, dan inklusif. Implikasi penelitian ini adalah perlunya gereja dan lembaga Pendidikan Kristen merancang strategi literasi digital berbasis nilai kasih yang berpihak kepada kelompok rentan, khususnya penyandang disabilitas. Kata Kunci: Media Sosial. Kasih. Disabilitas. Teologi Kristen. Pendidikan Kristen Inklusif PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang semakin cepat telah mengubah secara signifikan cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, dan menjalin hubungan sosial. Kehadiran media sosial seperti Instagram. Facebook. YouTube. TikTok, dan Twitter/X tidak lagi hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi ruang publik yang berperan penting dalam membentuk opini, identitas diri, serta solidaritas di tengah masyarakat. Namun, di balik kemajuan tersebut, penyandang disabilitas di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses terhadap teknologi, stigma sosial, serta berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menunjukkan bahwa jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai sekitar 22,97 juta jiwa atau sekitar 8,5% dari keseluruhan penduduk. Meskipun jumlahnya cukup besar, keterlibatan mereka dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, dunia kerja, dan aktivitas sosial, masih tergolong rendah. Penelitian yang dilakukan oleh Putra et al. mengenai pesan-pesan kesetaraan bagi penyandang disabilitas melalui pendekatan interaksi simbolik di media sosial mengungkapkan bahwa platform digital kini mulai dimanfaatkan oleh penyandang Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 disabilitas sebagai sarana untuk memperjuangkan hak-hak mereka sekaligus membangun identitas diri yang lebih positif, setara, dan bermartabat. Dalam pandangan teologi Kristen, setiap manusia memiliki martabat yang sama karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago De. , termasuk individu yang hidup dengan disabilitas. Menurut Silitonga . , pemahaman mengenai Imago Dei dan Imago Christi seharusnya menjadi dasar bagi gereja maupun masyarakat untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif, ramah, dan penuh kasih terhadap penyandang disabilitas. Selain itu, kasih . yang menjadi nilai utama dalam etika Kristen tidak hanya diwujudkan dalam hubungan sosial secara langsung, tetapi juga perlu dihadirkan dalam ruang digital dan media sosial yang saat ini menjadi tempat interaksi bagi jutaan orang setiap Pendidikan Kristen memegang peranan penting dalam menjawab tantangan tersebut. Menurut (Arifianto and Darius 2. , pendidikan bagi penyandang disabilitas perlu didasarkan pada pendekatan teologi yang humanis dan inklusif, yang menghargai martabat setiap orang serta mengakui hak mereka untuk memperoleh pendidikan dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan sosial. Selain itu. Pendidikan Kristen juga memiliki fungsi untuk membentuk karakter peserta didik agar mampu menghidupi nilai kasih secara nyata, tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam interaksi di ruang digital, termasuk melalui berbagai platform media sosial. Kajian ini memiliki beberapa tujuan utama, yaitu: . mengkaji dasar-dasar teologis kasih Kristen yang berkaitan dengan penghormatan terhadap martabat dan nilai kemanusiaan penyandang disabilitas. mengeksplorasi peluang serta berbagai tantangan yang muncul dalam pemanfaatan media sosial sebagai sarana inklusi bagi penyandang disabilitas di Indonesia. merumuskan peran Pendidikan Kristen dalam membentuk karakter yang mencerminkan kasih Kristiani melalui praktik-praktik digital yang mendukung terciptanya inklusi sosial bagi penyandang disabilitas. Melalui pembahasan tersebut, artikel ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran, baik secara teologis maupun praktis, bagi gereja, institusi pendidikan Kristen, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap isu disabilitas dan terwujudnya keadilan di era digital. METODE Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Pengumpulan data dilakukan melalui penelaahan berbagai sumber literatur ilmiah yang relevan, meliputi artikel jurnal, buku-buku teologi, serta dokumen kebijakan yang diterbitkan dalam rentang waktu lima tahun terakhir . 0Ae2. Literatur yang digunakan mencakup jurnal-jurnal di bidang teologi dan Pendidikan Kristen di Indonesia, kajian sosial dan komunikasi, serta berbagai dokumen gerejawi yang membahas isu disabilitas dan inklusi. Proses analisis data dilakukan dengan memanfaatkan pendekatan hermeneutika biblika untuk menafsirkan teks-teks Alkitab yang berkaitan dengan tema penelitian. Selain itu, digunakan pula analisis sosio-teologis guna memahami realitas disabilitas dalam konteks masyarakat Indonesia masa kini. Kerangka analisis penelitian ini bertumpu pada tiga aspek utama, yaitu teologi kasih . , konsep inklusi sosial, dan prinsip-prinsip Pendidikan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kristen yang bersifat transformatif. Berbagai temuan yang diperoleh dari sumber-sumber tersebut kemudian disintesiskan secara sistematis sehingga menghasilkan pembahasan yang terpadu, argumentatif, dan relevan dengan konteks yang dikaji. HASIL DAN PEMBAHASAN Landasan Teologis: Kasih. Imago Dei, dan Disabilitas Konsep kasih dalam teologi Kristen menempati posisi sentral dalam keseluruhan ajaran etika dan keselamatan Kristen. Dalam Yohanes 13:34Ae35. Yesus memberikan perintah kepada para pengikut-Nya untuk saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi Kasih . yang diajarkan dalam iman Kristen bersifat universal, tidak membedakan status, kondisi, ataupun latar belakang seseorang. Oleh karena itu, kasih tersebut juga mencakup individu-individu yang dalam pandangan masyarakat sering dianggap lemah, rentan, atau memiliki keterbatasan tertentu. Menurut Rollin dan Ndeo . , dalam kajian mengenai penyandang disabilitas sebagai bagian dari tubuh Kristus, setiap anggota tubuh memiliki nilai dan fungsi yang penting, termasuk bagian yang tampak lebih lemah sebagaimana dijelaskan dalam 1 Korintus 12:22Ae24. Pemahaman ini menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tidak seharusnya dipandang hanya sebagai penerima belas kasihan, melainkan sebagai individu yang memiliki peran aktif dan setara dalam kehidupan komunitas iman. Lebih lanjut. Silitonga . (AuDisabilitas Dalam Imago Dei Dan Imago Christi Teologi Inklusi Dan Keadilan,Ay n. ) menegaskan bahwa stigma sosial yang masih melekat terhadap penyandang disabilitas merupakan salah satu tantangan utama dalam mewujudkan inklusi sosial. Namun, pemahaman yang mendalam mengenai teologi tubuh. Imago Dei, dan Imago Christi dapat menjadi landasan bagi gereja untuk membangun komunitas yang lebih terbuka, ramah, dan penuh kasih. Dalam perspektif Imago Dei, setiap manusia memiliki martabat yang sama karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian, nilai seseorang tidak ditentukan oleh kondisi fisik, intelektual, maupun mentalnya, melainkan oleh martabat kemanusiaan yang telah dianugerahkan Allah sejak awal penciptaan. Advokasi bagi penyandang disabilitas dalam perspektif teologi Kristen, sebagaimana dijelaskan dalam kajian yang dipublikasikan pada jurnal In Theos . , berlandaskan pada ajaran Alkitab mengenai martabat manusia, keadilan, dan kasih. Teologi Kristen memandang bahwa setiap manusia, tanpa memandang kondisi fisik maupun mentalnya, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Oleh sebab itu, setiap individu memiliki nilai serta martabat yang melekat dan tidak dapat dikurangi oleh keterbatasan yang dimilikinya. Selain itu, prinsip keadilan dalam ajaran Kristen menuntut adanya perlakuan yang setara bagi semua orang serta penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan Sementara itu. Kristianto . menegaskan bahwa gereja yang sungguh-sungguh menghayati nilai-nilai Injil tidak boleh mengabaikan keberadaan kelompok-kelompok yang mengalami marginalisasi, termasuk penyandang disabilitas. Menurutnya, pelayanan yang dilakukan bagi dan bersama penyandang disabilitas tidak hanya dipahami sebagai bentuk bantuan sosial atau tindakan belas kasihan semata, melainkan sebagai perwujudan iman Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 yang nyata dan autentik dari komunitas Kristen yang telah mengalami kasih serta anugerah Kristus dalam kehidupannya. Media Sosial sebagai Ruang Inklusi dan Ekspresi Kasih Digital Perkembangan media sosial di Indonesia telah menjadikannya sebagai salah satu unsur penting dalam kehidupan masyarakat modern. Platform digital kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang memfasilitasi berbagai bentuk interaksi dan partisipasi publik (Rizqiyah et al. Menurut Poerwanti. Makmun, dan Dewantara, keberadaan teknologi digital seharusnya dimanfaatkan untuk mengurangi kesenjangan sosial yang ada di masyarakat (Poerwanti. Makmun, and Dewantara 2. Oleh karena itu, aksesibilitas digital menjadi aspek yang sangat penting untuk memastikan bahwa penyandang disabilitas dapat terlibat secara penuh dan setara dalam berbagai aktivitas di ruang digital. Di sisi lain, penelitian Putra et al. menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi medium yang efektif bagi penyandang disabilitas dalam menyuarakan nilai-nilai kesetaraan melalui berbagai bentuk interaksi simbolik (Natalia and Winayanti 2. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa platform digital memungkinkan mereka untuk membangun citra diri yang positif, mempertegas identitas yang bermartabat, serta memperluas jaringan solidaritas dengan berbagai komunitas. Selain itu, media sosial juga membuka peluang bagi penyandang disabilitas untuk menjangkau khalayak yang lebih luas dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Platform visual seperti Instagram, misalnya, dimanfaatkan sebagai ruang untuk membagikan pengalaman hidup, menyebarkan inspirasi, dan mengoreksi berbagai stigma serta stereotip negatif yang masih melekat dalam pandangan sebagian masyarakat terhadap disabilitas (Damayanti and Amdar 2. Penelitian yang dilakukan oleh Navindri et al. semakin memperkuat temuan mengenai peran media sosial bagi penyandang disabilitas. Dalam studi mereka tentang pembentukan citra diri penyandang disabilitas tunanetra melalui Instagram, ditemukan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang representasi diri (Daulay 2. Melalui platform tersebut, penyandang disabilitas dapat menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta kemandirian yang mereka miliki kepada masyarakat luas. Kehadiran mereka di media sosial secara tidak langsung menantang pandangan tradisional yang selama ini cenderung memosisikan penyandang disabilitas hanya sebagai objek belas kasihan (Siregar. Sos, and SP 2025. Martiningsih 2. Dalam perspektif Pendidikan Kristen. Damanik dan Selly . (AuPendidikan Penggunaan Media Sosial Bagi Remaja Kristen,Ay n. ) menegaskan pentingnya pembinaan penggunaan media sosial yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani. Pemanfaatan media sosial yang didasarkan pada prinsip kasih dapat menjadi sarana yang efektif untuk membangun komunitas yang inklusif, mendukung satu sama lain, serta menghargai keberagaman. Sebaliknya, penggunaan media sosial tanpa pertimbangan moral dan etika berpotensi menumbuhkan perilaku negatif, seperti penyebaran stigma, perundungan . , dan berbagai bentuk marginalisasi yang bertentangan dengan ajaran kasih yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Selain itu, gereja pada masa kini semakin menyadari bahwa ruang digital merupakan salah satu medan pelayanan yang penting. Kajian mengenai katekese digital yang dilakukan oleh (Andreas Jimmy. Bernard Antonius Rahawarin, and Sandi Nugroho 2. menunjukkan bahwa media sosial membuka peluang yang luas bagi gereja untuk menyebarkan pesan Injil kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelompokkelompok yang sulit dijangkau melalui pelayanan konvensional. Bagi penyandang disabilitas yang mengalami keterbatasan mobilitas atau hambatan fisik dalam mengikuti ibadah dan kegiatan gerejawi secara langsung, media sosial dapat menjadi sarana yang lebih mudah diakses untuk membangun relasi dengan komunitas iman dan berpartisipasi dalam kehidupan gereja. Peran Pendidikan Kristen dalam Membangun Etos Kasih Digital Pendidikan Kristen, baik yang dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, gereja, maupun institusi pendidikan formal, memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan pola hidup yang sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Menurut (MallisaAo 2. Pendidikan Agama Kristen yang terintegrasi tidak hanya berkontribusi dalam pengembangan karakter dan mental penyandang disabilitas, tetapi juga berfungsi untuk membentuk kesadaran komunitas iman agar memiliki sikap yang inklusif, menghargai perbedaan, dan menunjukkan kasih kepada sesama tanpa diskriminasi. Dalam menghadapi perkembangan era digital. Pendidikan Kristen dituntut untuk melampaui pengajaran nilai kasih yang bersifat teoritis semata. Pendidikan Kristen perlu membimbing peserta didik agar mampu mengimplementasikan nilai kasih tersebut dalam tindakan nyata, termasuk dalam interaksi dan aktivitas di ruang digital. Sejalan dengan hal tersebut, (Gulo and Tapilaha 2. mengemukakan pentingnya reformasi Pendidikan Kristen yang mengintegrasikan dimensi spiritualitas dengan kemampuan berpikir kritis di tengah perkembangan teknologi digital. Pendekatan ini dinilai relevan untuk membekali peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di dunia maya, termasuk upaya mendorong terciptanya inklusi dan penghormatan terhadap penyandang disabilitas melalui penggunaan media sosial yang bertanggung jawab dan berlandaskan nilai-nilai Kristiani. Menurut (Mongi 2. , gereja perlu melakukan perubahan cara pandang terhadap penyandang disabilitas dengan beralih dari konsep Aupelayanan kepadaAy menjadi Aupelayanan bersamaAy mereka. Pergeseran paradigma ini menempatkan penyandang disabilitas bukan hanya sebagai penerima pelayanan, tetapi sebagai bagian aktif yang turut berkontribusi dalam kehidupan dan pelayanan gereja. Maka, perubahan tersebut perlu diimplementasikan dalam kurikulum Pendidikan Kristen pada berbagai jenjang, mulai dari sekolah minggu hingga pendidikan tinggi teologi. Kurikulum tersebut hendaknya secara jelas membahas isu disabilitas melalui pendekatan teologis, etis, dan praktis sehingga peserta didik memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya inklusi. Selain itu, (Parhusip and Saptono 2. menawarkan pandangan bahwa perjumpaan dengan keberagaman, baik dalam ruang fisik maupun ruang virtual, merupakan sarana penting untuk membangun toleransi dan kasih yang sejati. Mereka berpendapat bahwa sikap menghargai perbedaan tidak dapat tumbuh hanya melalui pengetahuan teoritis, melainkan perlu dibentuk melalui interaksi langsung dengan individu atau kelompok yang Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 memiliki latar belakang yang berbeda. Dalam konteks ini. Pendidikan Kristen memiliki peran strategis dalam menciptakan kesempatan bagi peserta didik untuk mengalami perjumpaan yang bermakna dengan berbagai bentuk keberagaman. Melalui proses tersebut, akan terbentuk generasi yang tidak hanya memahami konsep kasih secara kognitif, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara nyata dan konsisten dalam kehidupan seharihari, termasuk dalam interaksi di dunia digital (Legi et al. Penelitian yang dilakukan oleh (Zebua and Angelina 2. menunjukkan bahwa media sosial dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan spiritualitas generasi Zillenial apabila digunakan secara bijaksana dan didasarkan pada nilai-nilai Kristiani. Hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa media sosial tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi kehidupan iman, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperdalam pertumbuhan rohani serta mengekspresikan kasih secara kreatif. Hal ini mencakup pula upaya menunjukkan kepedulian dan penghargaan terhadap sesama, termasuk penyandang disabilitas. Dalam perspektif Pendidikan Kristen, implementasi kasih terhadap penyandang disabilitas melalui media sosial dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk tindakan nyata. Pertama, mendorong pembuatan dan penyebarluasan konten digital yang mengangkat nilai keberagaman serta menegaskan martabat penyandang disabilitas (Lumbantobing et al. Kedua, mendukung terwujudnya aksesibilitas digital dengan memanfaatkan berbagai fitur yang ramah disabilitas, seperti deskripsi audio, teks terjemahan . , dan desain antarmuka yang mudah diakses (Wibowo and Murtopo 2. Ketiga, membangun komunitas daring yang aman, terbuka, dan inklusif sehingga penyandang disabilitas dapat berpartisipasi sebagai anggota yang setara (Dirkareshza et al. Keempat, membekali komunitas iman dengan kesadaran untuk menolak serta melawan ujaran kebencian, stereotip negatif, dan berbagai bentuk diskriminasi terhadap penyandang disabilitas di ruang digital (Ridha et al. Kelima, memberikan dukungan terhadap berbagai inisiatif yang dilakukan oleh penyandang disabilitas dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemberdayaan diri, penguatan komunitas, dan advokasi hak-hak mereka (SUPRON 2. Tantangan dan Peluang: Menuju Ekosistem Digital yang Berkeadilan Kasih Walaupun media sosial menyediakan peluang yang besar untuk mengimplementasikan nilai-nilai kasih terhadap penyandang disabilitas, masih terdapat berbagai tantangan yang perlu dihadapi. Salah satu tantangan utama adalah kesenjangan digital . igital divid. , yang menyebabkan tidak semua penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses perangkat teknologi maupun jaringan internet yang memadai. Menurut(Poerwanti. Makmun, and Dewantara 2. , upaya mewujudkan inklusi digital di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan dan memerlukan kerja sama serta komitmen yang berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, dan masyarakat sipil. Selain itu, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah masih adanya sikap dan pandangan negatif terhadap penyandang disabilitas yang kerap muncul di media sosial. Berbagai bentuk perundungan siber . , komentar yang meremehkan, serta konten yang mengeksploitasi atau mempermalukan penyandang disabilitas masih sering Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 ditemukan di ruang digital (Musakif. Verolyna, and Kurnia Syaputri 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi semua orang. Dalam konteks tersebut. Pendidikan Kristen yang berlandaskan nilai kasih memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran moral dan etika digital umat agar mampu menolak, mengkritisi, dan melawan berbagai bentuk perilaku destruktif yang bertentangan dengan ajaran kasih Kristiani (Melkisedek et al. Tantangan berikutnya berkaitan dengan tingkat aksesibilitas platform media sosial itu sendiri. Hingga saat ini, banyak platform media sosial yang populer belum sepenuhnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan beragam kelompok penyandang disabilitas, seperti individu dengan hambatan penglihatan, pendengaran, maupun keterbatasan motorik (Poerwanti. Makmun, and Dewantara 2024. Sulistiani 2. Maka, upaya memperjuangkan peningkatan aksesibilitas digital menjadi langkah penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih setara. Dalam perspektif Kristen, perjuangan tersebut dapat dipahami sebagai wujud nyata kasih dan keadilan sosial yang selaras dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Meskipun demikian. Tetapi media sosial juga menawarkan berbagai peluang yang bersifat transformatif bagi gereja dan lembaga Pendidikan Kristen. Platform digital dapat dimanfaatkan untuk membangun komunitas virtual yang terbuka dan inklusif, menyediakan layanan ibadah serta pembinaan rohani yang mudah diakses oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, serta menghadirkan kisahkisah inspiratif yang menunjukkan karya dan kemuliaan Allah melalui kehidupan mereka (Inayah 2024. Komari, n. Selain itu, media sosial dapat menjadi sarana untuk membina generasi muda Kristen agar mampu menjadi pelaku kasih dan pembawa nilai-nilai Kristiani dalam ruang digital. Dengan pemanfaatan yang bertanggung jawab dan berlandaskan kasih, media sosial berpotensi menjadi alat yang efektif dalam mendukung pelaksanaan misi gereja yang menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia secara menyeluruh (Larosa 2025. Salabbaet 2. KESIMPULAN Kajian ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki potensi yang besar untuk menjadi sarana dalam mengimplementasikan nilai-nilai kasih terhadap penyandang disabilitas dalam kerangka Pendidikan Kristen. Dasar teologis yang berakar pada konsep Imago Dei, kasih agape, dan pemahaman tentang tubuh Kristus memberikan landasan yang kuat bagi gereja dan komunitas iman untuk mendorong terwujudnya inklusi yang menyeluruh bagi penyandang disabilitas. Upaya tersebut tidak hanya penting dalam kehidupan bergereja, tetapi juga dalam ruang digital yang semakin berpengaruh dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam konteks ini. Pendidikan Kristen memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter yang mencerminkan kasih Kristiani dalam interaksi digital. Peran tersebut diwujudkan melalui pengembangan literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai iman Kristen, dukungan terhadap aksesibilitas digital bagi penyandang disabilitas, pembentukan komunitas daring yang inklusif, serta upaya menolak dan melawan berbagai bentuk diskriminasi yang terjadi di ruang digital. Dengan demikian, media sosial yang digunakan secara bertanggung jawab dan berdasarkan etika kasih Kristiani tidak hanya Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga dapat menjadi ruang perwujudan kehadiran kasih Allah. Melalui tindakan-tindakan yang menghargai martabat manusia, mendorong kesetaraan, dan menciptakan inklusi, komunitas pengikut Kristus dapat menghadirkan nilainilai Kerajaan Allah secara nyata di dunia digital. Kajian ini memberikan beberapa implikasi praktis bagi gereja dan lembaga Pendidikan Kristen di Indonesia. Salah satunya adalah pentingnya pengembangan kurikulum literasi digital yang didasarkan pada perspektif teologi disabilitas, sehingga peserta didik memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai nilai inklusi dan penghargaan terhadap martabat setiap manusia. Selain itu, diperlukan upaya untuk membekali para pelayan gereja dan pendidik Kristen dengan keterampilan dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana pelayanan yang inklusif dan berlandaskan kasih. Gereja dan lembaga pendidikan juga perlu menjalin kerja sama yang erat dengan komunitas penyandang disabilitas dalam merancang serta melaksanakan berbagai program digital agar programprogram tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi mereka. Melalui langkah-langkah tersebut, gereja dapat menjalankan perannya sebagai terang dan garam dunia, termasuk dalam konteks ekosistem digital yang terus berkembang. Dengan menghadirkan komunitas yang menjunjung tinggi kasih, kesetaraan, dan inklusi, gereja mampu menjadi agen transformasi yang relevan dan berdampak positif bagi seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang maupun kondisi individu. DAFTAR PUSTAKA