Original Research Paper Uji Toksisitas Oral Single-Dose Ekstrak Kloroform Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix DC. ) pada Tikus Wistar (Rattus norvegicus Berkenhout. Single-Dose Oral Toxicity Study of Chloroform Extract of Kaffir Lime (Citrus hystrix DC. ) Leaves in Wistar Rats (Rattus norvegicus Berkenhout. Laksmindra Fitria1*. Maura Indria Meidianing1. Wilda Bunga Tina Sanjaya1. Isma Cahya Putri Gunawan1 Departemen Biologi Tropika. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Indonesia. *Corresponding Author, email: laksmindraf@ugm. Abstract: Leaves of kaffir lime (Citrus hystri. are commonly used as a seasoning in various Indonesian and Southeast Asian dishes. Phytochemical studies reported various secondary metabolites that possess medicinal Before exploring their potential as therapeutic agent, a series of toxicity studies must be conducted to assess the toxicity and safety levels. This research aimed to study the single-dose acute oral toxicity of chloroform extract of kaffir lime leaves (CECHL) in female Wistar rats (Rattus norvegicu. as experimental animal. The procedure followed OECD Test Guideline No. 420 with the dose 2000 mg/kg body weight for 14 days . ighting Parameters consisted of mortality, clinical signs of sublethal effect based on changes in general appearance and daily activity/behavior, hematological profile, and blood clinical biochemistry. Neither mortality nor sublethal effects were found during the experiment. All blood parameter values . rythrocytes, leukocytes, thrombocytes. ALT. AST, creatinine. BUN, glucose, cholesterol, and triglyceride. were within reference interval, indicating that CECHL is not harmful to normal physiology. In conclusion, single-dose oral administration of CECHL is safe, no-observed-adverse-effect-level (NOAEL) at dose 2000 mg/kg body weight or included in Category 5 based on the Globally Harmonized System of Classification and Labeling of Chemicals (GHS). Key words: chloroform extract, kaffir lime, natural product. OECD 420, single-dose acute oral toxicity Abstrak: Daun jeruk purut (Citrus hystri. merupakan salah satu bahan yang lazim digunakan sebagai bumbu penyedap dalam berbagai hidangan khas Indonesia dan Asia Tenggara. Kajian fitokimia menunjukkan sejumlah metabolit sekunder yang berkhasiat obat. Sebelum eksplorasi potensinya sebagai bahan obat, serangkaian uji toksisitas harus dilakukan untuk mempelajari tingkat ketoksikan dan keamanannya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari toksisitas oral single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut (EKDJP) pada tikus (Rattus norvegicu. Wistar betina sebagai hewan coba. Prosedur mengikuti OECD Test Guideline No. 420 dengan dosis 2000 mg/kg berat badan selama 14 hari . ighting stud. Parameter yang diamati meliputi: mortalitas, tanda-tanda klinis ketoksikan subletal berupa perubahan penampilan secara umum dan aktivitas/perilaku harian, profil hematologis, serta uji biokimia klinis darah. Tidak ada hewan yang mati maupun efek subletal yang ditemukan selama percobaan. Semua nilai parameter darah . ritrosit, leukosit, trombosit. ALT. AST, kreatinin. BUN, glukosa, kolesterol, dan trigliserid. berada dalam kisaran rujukan yang mengindikasikan bahwa EKDJP tidak mengganggu fisiologis normal. Dapat disimpulkan bahwa administrasi oral EKDJP single-dose bersifat aman, no-observed-adverse-effect-level (NOAEL) pada dosis 2000 mg/kg berat badan atau termasuk dalam Kategori 5 berdasarkan Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals (GHS). Kata kunci: jeruk purut, ekstrak kloroform, produk alam, toksisitas oral akut single-dose. OECD 420 Dikumpulkan: 27 November 2022 Direvisi: 4 Desember 2023 A 2024 Fitria, dkk This article is open access Diterima : 20 April 2024 Dipublikasi:30 April 2024 Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 41 Ae 56 DOI: http://dx. org/10. Pendahuluan Jeruk purut (Citrus hystrix DC. ) adalah salah satu spesies jeruk yang banyak tumbuh di kawasan tropis meliputi Asia Tenggara hingga Cina Selatan. Daun jeruk purut merupakan salah satu bahan penting dalam masakan Asia Tenggara karena menciptakan aroma dan rasa yang khas (Lim, 2. Selain sebagai bahan masakan, daun jeruk purut berpotensi sebagai bahan obat karena kaya akan berbagai senyawa bioaktif yang berperan penting dalam perawatan Senyawa bioaktif pada umumnya adalah golongan metabolit sekunder. Metabolit sekunder merupakan senyawa yang diproduksi oleh tumbuhan, berfungsi sebagai perlindungan diri dalam menghadapi berbagai cekaman dan gangguan dari organisme lain. Oleh karena itu, metabolit sekunder berpotensi toksik bagi organisme lain (Oduola et al. , 2. Di sisi lain, metabolit sekunder dalam dosis yang tepat dapat berkhasiat sebagai obat (Fitria et al. , 2022. Kajian fitokimia menunjukkan bahwa daun jeruk purut mengandung berbagai metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tannin, dan triterpen (Nasution et al. Daun jeruk purut juga memiliki senyawa bioaktif seperti limonoid, asam fenolat, dan flavonoid yang tinggi (Jamilah et al. , 2011. Loh et al. , 2. Flavonoid memiliki manfaat antara lain sebagai antikanker, antioksidan, antiinflamasi, dan antivirus. Terdapat berbagai tipe flavonoid pada daun jeruk purut seperti quercetin, luteolin, hesperetin, peonidin, myricetin, cyanidin, isoharmnetin, dan apigenin (Miean & Mohamed, 2001. Butryee et al. , 2. Daun jeruk purut juga mengandung -tocopherol (AT) yang tinggi, termasuk tertinggi kedua setelah daun katuk (Sauropus androgynu. (Ching & Mohamed, 2. AT adalah salah satu isoform vitamin E yang bermanfaat antara lain sebagai antioksidan, antitumor, antiinflamasi, dan antimikroba (Murakami et al. , 1995. Jamilah et al. , 2011. Loh et al. , 2. Ekstrak kloroform daun jeruk purut (EKDJP) juga mengandung senyawa terpenoid berupa farnesol, nerodilol, spatulenol, dan mirtanol yang berperan sebagai antiinflamasi (Saptanti et al. , 2. Proses pengembangan dan pengujian bahan obat baru . rug discover. memiliki beberapa tahapan untuk memastikan agar suatu agen terapeutik benar-benar bermanfaat dalam kebutuhan medis. Uji in vivo praklinis adalah tahap penting untuk meminimalisir kegagalan dalam uji klinis akibat ketoksikan dosis (Svendsen et al. , 2. Bahan yang memiliki potensi terapeutik harus diuji terlebih dahulu sifat ketoksikannya terhadap tubuh. Toksisitas sistemik dapat terjadi pada organisme yang diberikan administrasi oral bahan asing . seperti obat herbal maupun sintetis. Kandungan dalam bahan asing tersebut akan berinteraksi dengan komponen sel/jaringan tubuh yang selanjutnya berpengaruh secara positif atau negatif terhadap kondisi fisik, perilaku, dan fisiologis organisme (Arika et al. Kajian ilmiah ketoksikan EKDJP belum pernah dilakukan padahal bahan ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi obat. Penelitian ini merupakan uji toksisitas tahap pertama yang bertujuan untuk mempelajari tingkat ketoksikan akut dosis tunggal EKDJP purut yang diberikan satu kali . ingle-dos. Prosedur mengikuti OECD Guideline No. (OECD, 2. yang telah menjadi acuan bagi para peneliti di berbagai negara di dunia. The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) merupakan sebuah forum tingkat internasional yang bertujuan untuk mengembangkan standar kebijakan guna Indonesia adalah salah satu dari 37 negara anggota OECD sejak tahun 2007 (OECD, 2. Bahan dan Metode Ethical Clearance Seluruh prosedur yang melibatkan hewan coba dalam penelitian ini telah disetujui oleh Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Hewan UGM berdasarkan Sertifikat Ethical Clearance Nomor 00128/EC-FKH/Eks. /2021. Identifikasi dan ekstraksi daun jeruk purut Daun jeruk purut dikoleksi dari kebun jeruk purut milik Ibu Tulus yang berlokasi di Desa Pekutan. Kecamatan Bayan. Kabupaten Purworejo. Jawa Tengah. Sebagian besar penduduk desa ini berprofesi sebagai pekebun Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. dengan produk utama jeruk purut (Anitasari, , 2. Identifikasi spesies telah dilakukan di Laboratorium Sistematika Tumbuhan Fakultas Biologi UGM dan dinyatakan sebagai Citrus hystrix DC. Berdasarkan Sertifikat Identifikasi Nomor 067/S. Tb. /IV/2022. Setelah dicuci bersih dengan air mengalir, daun jeruk purut dikeringanginkan lalu dimasukkan ke dalam inkubator bersuhu 50 oC hingga dicapai berat kering yang konstan. Daun yang telah kering dihaluskan menggunakan alat pelumat listrik hingga menjadi bubuk, kemudian direndam . dalam kloroform selama 3 x 24 jam dengan perbandingan bubuk:kloroform = 1:3. Rendaman diaduk secara rutin untuk memaksimalkan proses penyarian. Rendaman disaring dengan kertas saring, kemudian filtrat yang terbentuk dievaporasi dengan bantuan kipas angin hingga kloroform menguap sempurna. Ekstrak kering yang diperoleh ditutup dengan aluminum foil dan disimpan dalam kulkas dengan suhu 4 oC hingga siap digunakan. Pengadaan dan pemeliharaan hewan coba Hewan coba berupa dua belas ekor tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1. betina Galur Wistar umur delapan minggu nulliparous hasil pengembangbiakan di Animal House Fakultas Biologi UGM. Selama percobaan, hewan dipelihara di tempat yang sama, dalam kandang komunal berukuran 38 x 25 x 23,5 cm3 dengan penutup berupa teralis dari bahan logam tahan karat. Kandang dilengkapi dengan wadah pakan, botol minum, dan alas tidur berupa serutan kayu. Pakan berupa pelet standar RatbioA (P. Citra Ina Feedmill. Jakart. dan air minum berupa air mineral dalam kemasan (P. Berkah Tirta Jaya. Yogyakart. Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Parameter lingkungan di fasilitas pemeliharaan adalah sebagai berikut: suhu ruang 26-28 oC, kelembapan udara 70-85 %, pencahayan alami dengan fotoperiode standar . jam gelap:12 jam teran. Kandang dicuci dan disemprot dengan disinfektan 2x seminggu. Rancangan percobaan Tikus dikelompokkan menjadi tiga, setiap kelompok terdiri atas empat individu sebagai ulangan: kelompok ke-1 dicekok akuades atau plasebo (KONTROL), kelompok ke-2 dicekok Tween80 5 % (TWEEN), dan kelompok ke-3 dicekok ekstrak kloroform daun jeruk purut (EKDJP). Dosis EKDJP adalah 2000 mg/kg berat badan sesuai dengan OECD Test Guideline No. 420 (OECD, 2. yang dilarutkan dalam akuades sebagai vehikulum. Tween80 digunakan untuk membantu melarutkan EKDJP dalam EKDJP. Tween80, dan akuades diberikan secara oral gavage 1 mL/ekor pada hari pertama penelitian . ingle-dos. Parameter dan pengambilan data Tanda-tanda ketoksikan diamati setiap hari secara kualitatif meliputi: ada tidaknya kematian, manifestasi klinis efek subletal, terutama penampilan fisik, aktivitas/perilaku, konsumsi makan dan minum, serta kondisi feses. Parameter kuantitatif berupa berat badan, suhu badan, profil hematologis berupa hitung eritrosit, leukosit, dan trombosit, uji biokimia darah berupa aktivitas alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST), serta kadar kreatinin, blood urea nitrogen (BUN), glukosa, kolesterol total, dan trigliserida. Semua parameter tersebut diukur pada hari ke-0, 7, dan Sampel darah dikoleksi dari sinus orbitalis setelah hewan tertidur akibat anestesi dengan KetamineA-XylazineA (K=100 mg/kg berat badan. X=10 mg/kg berat bada. secara intramuskular 0,1 mL/100 g berat badan. Sebelum dianestesi, tikus dipuasakan selama 6 jam (Norecopa, 2. Analisis profil hematologis menggunakan alat SysmexAXP100, sementara itu pemeriksaan parameter biokimia darah menggunakan kit DiaSysA dan alat MicrolabA300. Analisis data Data ditabulasi dalam MicrosoftAExcelA 2019 dilanjutkan dengan analisis statistika secara deskriptif menggunakan IBMASPSSA Data ditampilkan dalam bentuk rerata A Data juga dianalisis berdasarkan Repeated Measures ANOVA dan DuncanAos post hoc test (=0,. Pemilihan metode analisis statistik ini mengikuti Park et al. Selain dibandingkan antarkelompok dan antarwaktu, data juga dibandingkan dengan baseline. Baseline dapat dikonstruksikan berdasarkan kisaran nilai terendah hingga tertinggi pada populasi hewan coba dalam percobaan yang diukur pada hari ke-0 (Moser, 2. A 2024 Fitria, dkk This article is open access Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. Hasil dan Pembahasan Prosedur uji toksisitas yang dirancang oleh OECD menggunakan sampel hewan yang lebih sedikit dan meminimalisir efek samping terhadap hewan dibandingkan dengan uji toksisitas konvensional . ji toksisitas klasi. Uji toksisitas menentukan LD50 atau LC50, padahal tidak semua zat toksik menyebabkan kematian (Fitria et al, 2022. Hewan dapat tetap bertahan hidup selama percobaan namun mengalami beberapa efek subletal akibat bahan yang diberikan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengamatan terhadap beberapa tanda ketoksikan subletal yang muncul pada hewan selama percobaan (OECD, 2. Metode oral gavage lazim dilakukan dalam penelitian toksikologi dan farmakologi karena dosis yang masuk ke dalam tubuh hewan dapat dipastikan dan tidak menimbulkan efek negatif terhadap kesejahteraan hewan (Turner et , 2. Dosis tertinggi bahan atau zat yang direkomendasikan dalam uji toksisitas menurut OECD adalah 2000-5000 mg/kg berat badan. Dosis EKDJP dalam penelitian ini adalah 2000 mg/kg berat badan karena jika menggunakan dosis 5000 mg/kg berat badan maka konsistensinya menjadi terlalu pekat sehingga tidak dapat diberikan per oral. Selain itu, dosis 5000 mg/kg berat badan disarankan hanya untuk ekstrak akuosa atau infusa (OECD, 2. Polisorbat (Tween. digunakan sebagai emulsifier dan surfaktan karena EKDJP tidak mudah larut dalam air. Menurut Varma et al. Tween80 memiliki derajat toksisitas yang rendah sehingga lazim digunakan dalam penelitian farmakologi. Mahjoub et al. menggunakan Tween80 untuk membantu melarutkan ekstrak kloroform daun Olea europaea, demikian juga Fitria et al. menggunakan Tween80 untuk membantu melarutkan ekstrak kloroform daun Sansevieria Tanda-tanda ketoksikan fisik dan perilaku Hingga hari terakhir percobaan tidak ada tikus yang mati dan tidak dijumpai manifestasi klinis yang mengarah pada tanda-tanda ketoksikan akibat pemberian EKDJP. Kondisi fisik, aktivitas, perilaku, konsumsi makan dan minum, serta konsistensi feses tikus kelompok EKDJP relatif sama dengan tikus pada kelompok KONTROL dan TWEEN. Berat badan tikus pada ketiga kelompok dipertahankan pada kisaran Meskipun terjadi penurunan berat badan pada kelompok EKDJP namun tidak signifikan (Gambar . Sebaliknya, suhu badan tikus mengalami peningkatan hingga di atas kisaran baseline, namun karena terjadi pada ketiga kelompok, maka hal ini bukanlah efek toksik EKDJP (Gambar . Gambar 1. Berat badan tikus pada uji toksisitas single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut bahan, namun juga sangat dipengaruhi oleh teknis pemeliharaan . sehingga selama percobaan, terutama uji toksisitas, harus diiringi dengan penerapan kondisi lingkungan Tikus merupakan hewan sosial yang hidup secara komunal sehingga harus dipelihara secara berkelompok (Neff, 2. Status kesehatan tikus tidak semata-mata akibat perlakuan suatu Gambar 2. Suhu badan tikus pada uji toksisitas single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut A 2024 Fitria, dkk This article is open access Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. dan metode pemeliharaan yang baik (NRC. Ukuran kandang juga mempengaruhi pola aktivitas, lokomosi, kemampuan membau, berdiri tegak, memanjat, menggali, minum, makan, duduk, dan pergerakan kumis tikus (Saibaba et al, 1. Selama percobaan tidak ada tikus yang mati atau sakit. Bahkan semua tikus memperlihatkan kondisi fisik yang baik serta perilaku yang normal. Tikus yang sakit dapat dideteksi dengan adanya akumulasi porfirin di sekitar mata dan hidung . ercak Tikus yang stres memiliki mata yang membengkak serta akumulasi lipid dan Sekresi porfirin dan lipid lazim pada tikus yang sehat dan akan disebarkan ke sekitar wajah saat grooming. Tikus yang sakit atau stres tidak melakukan grooming dengan baik sehingga (Frohlich. Penampilan fisik dapat menggambarkan kondisi kesehatan tikus. Secara umum, tikus yang sehat menunjukkan postur yang baik dan tubuh yang Adanya gangguan kesehatan juga dapat ditandai dengan kepala tikus yang miring dan keseimbangan yang terganggu (Donnelly, 2. Tikus pada semua kelompok terlihat bersih, postur tegak, tidak bungkuk, dan tidak ada gangguan keseimbangan atau berjalan miring. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan dan pemberian EKDJP tidak mengganggu fisiologis Aktivitas dan perilaku hewan juga dapat menggambarkan kondisi kesehatannya. Tikus yang sehat akan aktif bergerak, menggigit, serta rutin melakukan grooming (Frohlich, 2020. Quesenberry & Boschert, 2. Selama percobaan, semua tikus tampak aktif melakukan grooming sehingga tubuhnya selalu bersih. Semua tikus aktif bergerak, berdiri, memanjat, menggali, dan bermain-main, serta menunjukkan interaksi sosial. Selain itu, semua tikus makan dan minum secara normal, serta pengamatan feses menunjukkan tidak ada individu yang mengalami diare. Hal ini membuktikan bahwa pemberian EKDJP tidak menimbulkan efek negatif pada tikus sebagai hewan coba. Hasil ini serupa dengan uji toksisitas ekstrak daun jeruk C. sudachi (Bagchi et al. , 2. dan C. (Deshmukh et al. , 2. Profil hematologis Hasil analisis profil eritrosit, leukosit, dan trombosit disajikan pada Tabel 1, 2, dan 3. Interaksi antara zat asing yang masuk ke dalam tubuh . dan sel/jaringan tubuh dapat menyebabkan perubahan fisiologis yang dapat diamati melalui analisis profil hematologis. Perubahan dapat terjadi secara cepat atau lambat tergantung dari sifat dan derajat ketoksikannya (Arika et al. , 2. Secara alami, tubuh akan mempertahankan komposisi komponen darah agar tetap stabil . Oleh karena itu, peningkatan atau penurunan pada komponen darah dapat menjadi indikasi ketoksikan suatu bahan (Muriithi et al. , 2. Analisis profil eritrosit berguna untuk mendeteksi kejadian anemia, baik sebagai efek toksik secara langsung terhadap darah atau hemotoksisitas (Fitria et al. , 2022. , atau efek tidak langsung sebagai respons fisiologis akibat keracunan (Debelo et al. , 2. Berdasarkan Tabel 1, terjadi peningkatan dan penurunan . pada semua nilai parameter eritrosit seiring waktu pada semua kelompok. Namun demikian, penurunan bersifat tidak signifikan sehingga tidak mengindikasikan anemia. Anemia ditandai dengan reduksi jumlah RBC. HGB, dan HCT yang signifikan (Turner et al. , 2. Penetapan kejadian anemia juga ditentukan berdasarkan perhitungan indeks eritrosit (MCV. MCH. MCHC). MCV menggambarkan ukuran atau volume eritrosit. MCH mengkuantifikasi kadar hemoglobin per satuan eritrosit, dan MCHC mengindikasikan kadar hemoglobin per satuan volume (Sarma, 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EKDJP menurunkan nilai MCHC hingga di bawah baseline dan bersifat signifikan (Tabel . MCHC yang rendah menunjukkan abnormalitas pada proses sintesis hemoglobin dan kegagalan osmoregulasi darah (Arika et al. , 2. Walaupun penurunan MCHC bersifat signifikan hingga di bawah baseline, tetapi masih berada dalam interval rujukan tikus Wistar yang dipelihara di Animal House Fakultas Biologi UGM, yaitu 32,40-38,80 g/dL, sehingga masih tergolong relatif aman (Fitria et al. , 2022. Analisis profil leukosit penting karena menggambarkan fungsi imun pada hewan. Selain berpotensi antigenik atau imunogenik, masuknya xenobiotik melalui jalur oral dapat memicu inflamasi dan merusak sel/jaringan tubuh (Kumar et al. , 2. Kondisi ini dapat mengaktivasi jenis leukosit tertentu sehingga A 2024 Fitria, dkk This article is open access Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. Tabel 1. Profil eritrosit tikus pada uji toksisitas single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut PARAMETER RBC 106/AAL) HCT (%) HGB /dL) MCV L) MCH MCHC /dL) HARI KONTROL 6,35 A 0,84 7,25 A 0,19 7,10 A 0,14 34,45 A 4,34 39,23 A 1,24 38,70 A 0,62 11,85 A 1,52 13,23 A 0,29 12,97 A 0,41 54,20 A 0,82 54,13 A 0,31 54,53 A 0,21 18,65 A 0 ,54 18,23 A 0,12 18,23 A 0,21 34,43 A 0,53 33,73 A 0,40 33,50 A 0,54 KELOMPOK TWEEN EKDJP 6,94 A 0,11 7,09 A 0,65 6,87 A 0,09 7,17 A 0,30 7,15 A 0,12 7,00 A 0,15 38,63 A 0,17 38,50 A 3,93 37,97 A 0,86 39,33 A 1,97 40,20 A 0,45 39,00 A 1,42 13,33 A 0,26 13,53 A 1,30 13,20 A 0,41 13,67 A 0,54 13,53 A 0,21 13,10 A 0,57 55,63 A 0,87 54,23 A 0,98 55,30 A 0,57 54,87 A 0,76 56,23 A 0,42 55,70 A 0,91 19,17 A 0,12 19,07 A 0,45 19,23 A 0,37 19,07 A 0,33 18,93 A 0,25 18,70 A 0,45 34,53 A 0,58 35,20 A 0,42 a 34,73 A 0,29 34,73 A 0,45 ab 33,67 A 0,54 33,57 A 0,29 b BASELINE 5,43 Ae 7,75 29,10 Ae 41,90 9,80 Ae 14,50 53,10 Ae 56,80 18,00 Ae 19,70 33,70 Ae 35,50 - KONTROL= akuades volume 1 mL per oral. TWEEN= Tween80 5 % volume 1 mL per oral. EKDJP= ekstrak kloroform daun jeruk purut 2000 mg/kg berat badan, volume 1 mL per oral - RBC= red blood cell. HCT= hematocrit. HGB= hemoglobin. MCV= mean corpuscular volume. MCH= mean corpuscular hemoglobin. MCHC= mean corpuscular hemoglobin concentration. - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan . >0,. - Angka yang dicetak tebal menunjukkan nilai berada di luar baseline . ebih rendah atau lebih tingg. mengubah komposisinya di dalam tubuh, terutama neutrofil dan limfosit (Fitria et al. Berbeda dari manusia, tikus memiliki persentase limfosit yang lebih tinggi daripada neutrofil (Filho et al. , 2. Neutrofil dan limfosit memiliki peran yang berbeda dalam sistem imun. Neutrofil adalah sel utama dalam respons imun bawaan, sedangkan limfosit adalah sel utama dalam respons imun adaptif. Peningkatan persentase neutrofil menjadi tanda adanya inflamasi akut, sebaliknya peningkatan persentase limfosit menjadi tanda adanya infeksi virus, leukemia, dan stimulasi respons imun kronis (OAoConnell et al. , 2. Seperti halnya pada profil eritrosit, nilai parameter leukosit pada semua kelompok mengalami fluktuasi seiring Hampir semua nilai dipertahankan dalam kisaran baseline, hanya beberapa yang berada di luar kisaran baseline dan bersifat tidak signifikan (Tabel . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemberian EKDJP tidak berdampak negatif terhadap kesehatan tikus sebagai hewan Hasil ini serupa dengan uji toksisitas akut ekstrak daun jeruk C. sinensis (Tarkang et al. Pada hari ke-14, persentase eosinofil, basofil, dan monosit . yang semula 0 % meningkat menjadi 5-7 %. Karena peningkatan terjadi pada semua kelompok, maka hal ini bukanlah efek toksik EKDJP. Perhitungan N/L merupakan parameter yang valid untuk mengukur tingkat stres pada hewan laboratorium (Hickman, 2. Hasil penelitian menunjukkan A 2024 Fitria, dkk This article is open access Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. bahwa semua nilai N/L berada dalam kisaran baseline yang berarti tidak ada hewan yang mengalami stres selama percobaan berlangsung, termasuk pemberian EKDJP tidak memicu stres. Tabel 2. Profil leukosit tikus pada uji toksisitas single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut PARAMETER HARI WBC 103/AAL) LYM (%) NEU (%) MXD (%) N/L KONTROL 8,13 A 3,48 8,13 A 1,47 6,67 A 1,18 63,90 A 10,53 58,00 A 15,10 64,13 A 5,86 36,10 A 10,53 42,00 A 15,10 28,03 A 5,04 0,00 A 0,00 0,00 A 0,00 5,88 A 0,29 0,61 A 0,33 0,85 A 0,52 0,45 A 0,11 KELOMPOK TWEEN 9,13 A 1,33 9,03 A 0,82 9,47 A 1,14 78,30 A 3,00 83,33 A 2,35 77,23 A 2,75 21,70 A 3,00 16,67 A 2,35 22,77 A 2,75 0,00 A 0,00 0,00 A 0,00 5,03 A 0,26 0,28 A 0,05 0,20 A 0,03 0,30 A 0,04 EKDJP 8,30 A 2,09 9,57 A 1,89 8,67 A 1,77 73,27 A 1,65 67,97 A 3,56 67,03 A 6,26 26,73 A 1,65 32,03 A 3,56 27,93 A 0,98 0,00 A 0,00 0,00 A 0,00 7,12 A 0,36 0,37 A 0,03 0,47 A 0,07 0,42 A 0,02 BASELINE 3,80 Ae 13,50 45,80 Ae 82,20 17,80 Ae 54,20 0,00 0,03 Ae 1,18 - KONTROL= akuades volume 1 mL per oral. TWEEN= Tween80 5 % volume 1 mL per oral. EKDJP= ekstrak kloroform daun jeruk purut 2000 mg/kg berat badan, volume 1 mL per oral - WBC= white blood cell. LYM= lymphocyte. NEU= neutrophil. MXD= mixed . osinophil, basophil, monocyt. N/L= ratio of neutrophil and lymphocyte. - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu lajur dan kolom menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan . >0,. - Angka yang dicetak tebal menunjukkan nilai berada di luar baseline . ebih rendah atau lebih tingg. Pemeriksaan profil trombosit bermanfaat untuk diagnosis permasalahan perdarahan di dalam tubuh. Terdapat banyak faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi jumlah trombosit, antara lain: teknis pra-analisis pada proses sampling darah dan selama analisis yaitu metode perhitungan yang digunakan (Baccini et al. Analisis profil trombosit menunjukkan pola yang serupa dengan profil eritrosit dan leukosit, di mana nilai parameter trombosit pada semua kelompok mengalami fluktuasi seiring waktu, namun tidak signifikan dan sebagian besar dipertahankan dalam kisaran baseline. Jika ada nilai yang beada di luar baseline, sifatnya tidak signifikan. (Tabel . Hal ini menunjukkan bahwa pemberian EKDJP tidak mengganggu proses normal hemostasis, trombosis, dan penyembuhan luka, baik melalui perubahan jumlah, ukuran, maupun aktivitas trombosit. Tabel 3. Profil trombosit tikus pada uji toksisitas single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut PARAMETER HARI PLT 103/AAL) KONTROL 842,25 A 478,81 1062,67 A 320,59 KELOMPOK TWEEN 915,00 A 173,77 1136,33 A 59,61 EKDJP 864,00 A 407,40 1216,00 A 11,05 BASELINE 802,00 Ae 1322,00 A 2024 Fitria, dkk This article is open access Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. PCT (%) MPV PDW L) 1337,67 A 82,69 0,54 A 0,29 0,68 A 0,17 0,84 A 0,03 6,55 A 0,41 6,47 A 0,47 6,27 A 0,29 7,43 A 0,69 7,33 A 0,73 7,03 A 0,46 1188,33 A 43,40 0,59 A 0,10 0,74 A 0,02 0,78 A 0,02 6,53 A 0,17 6,50 A 0,14 6,53 A 0,17 7,33 A 0,26 7,27 A 0,12 7,33 A 0,24 1100,00 A 401,25 0,59 A 0,28 0,80 A 0,02 0,72 A 0,26 6,83 A 0,24 6,57 A 0,25 6,60 A 0,16 7,80 A 0,36 7,47 A 0,62 7,50 A 0,37 0,25 Ae 0,83 5,90 Ae 7,00 6,40 Ae 8,20 - KONTROL= akuades volume 1 mL per oral. TWEEN= Tween80 5 % volume 1 mL per oral. EKDJP= ekstrak kloroform daun jeruk purut 2000 mg/kg berat badan, volume 1 mL per oral - PLT= platelet or thrombocyte. PCT= plateletcrit. MPV= mean platelet volume. PDW= platelet distribution width. - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu lajur dan kolom menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan . >0,. - Angka yang dicetak tebal menunjukkan nilai berada di luar baseline . ebih rendah atau lebih tingg. Profil biokimia darah Uji fungsi hati lazim dilakukan dengan menganalisis aktivitas ALT dan AST. Keduanya merupakan enzim sitosol yang akan keluar dari sel-sel hati yang rusak dan masuk ke sirkulasi Oleh karena itu dapat digunakan sebagai indikator kesehatan hati (Lala et al. , 2. Hasil menunjukkan bahwa nilai ALT dan AST pada semua kelompok berfluktuasi seiring waktu namun tidak signifikan dan berada dalam kisaran baseline (Tabel . Hal ini mengindikasikan bahwa pemberian EKDJP tidak menganggu fungsi normal hati. Alih-alih bersifat hepatotoksik, beberapa ekstrak daun jeruk bahkan memiliki potensi hepatoprotektif atau mampu memperbaiki fungsi hati akibat stres oksidatif, seperti C. maxima (Abirami et al. aurantium (Shu et al. , 2. , dan C. grandis (Anmol et al. , 2. Uji fungsi ginjal lazim dilakukan dengan mengukur kadar kreatinin dan BUN. Kedua limbah metabolisme ini aktif diekskresikan melalui urin jika ginjal berfungsi normal. Oleh karena itu, peningkatan kadar kreatinin dan BUN dalam darah menjadi indikator kerusakan fungsi ginjal (Dominguez et al. , 2. Hasil pengukuran kreatinin dan BUN menunjukkan pola yang sama dengan ALT dan AST (Tabel . , yang berarti pemberian EKDJP tidak mengganggu fungsi normal ginjal. Menurut Li et . ekstrak daun C. macrocarpa, dan C. memiliki potensi nefroprotektif yakni mampu memperbaiki fungsi ginjal akibat stres oksidatif. Tabel 4. Evaluasi fungsi hati dan ginjal tikus pada uji toksisitas single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut KELOMPOK PARAMETER HARI BASELINE KONTROL TWEEN CECHL 53,30 A 17,18 23,80 A17,27 15,03 A 2,00 ALT 52,55 A 21,25 52,7 A 2,78 56,67 A 6,27 10,60 Ae 70,50 (U/L) 44,93 A 15,06 53,87 A 5,91 67,97 A 15,24 98,43 A 27,11 71,27 A 32,21 94,73 A 62,63 AST 82,78 A 12,34 82,20 A 3,84 81,10 A 15,22 31,60 Ae 172,20 (U/L) 95,93 A 16,90 90,40 A 3,61 102,07 A 25,06 A 2024 Fitria, dkk This article is open access Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. CRE g/dL) BUN g/dL) 0,48 A 0,08 0,41 A 0,05 0,34 A 0,04 23,37 A 5,37 19,77 A 6,23 17,70 A 6,90 0,41 A 0,07 0,47 A 0,03 0,38 A 0,05 13,60 A 1,46 17,84 A 3,55 15,43 A 4,21 0,27 A 0,05 0,40 A 0,04 0,35 A 0,03 12,31 A 0,23 15,80 A 0,29 15,99 A 0,62 0,20 Ae 0,60 11,57 Ae 29,42 - KONTROL= akuades volume 1 mL per oral. TWEEN= Tween80 5 % volume 1 mL per oral. EKDJP= ekstrak kloroform daun jeruk purut 2000 mg/kg berat badan, volume 1 mL per oral - ALT= alanine transaminase. AST= aspartate transaminase. KRE= creatinine. BUN= blood urea - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu lajur dan kolom menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan . >0,. Pada kajian toksisitas, perlu diamati juga efek pemberian bahan uji terhadap kadar glukosa, kolesterol, dan trigliserida sehingga diperoleh informasi bahwa bahan uji tersebut tidak mengganggu metabolisme normal nutrien. Gangguan metabolisme karbohidrat dan lipid berpotensi meningkatkan risiko kejadian sindrom metabolik terutama diabetes melitus dan dislipidemia (Fitria et al. , 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EKDJP tidak berdampak negatif terhadap kadar glukosa, kolesterol, dan trigliserida. Terjadi fluktuasi nilai seiring waktu namun tidak signifikan dan nilai dipertahankan dalam kisaran baseline (Tabel . Umran et al. melaporkan bahwa ekstrak daun C. efektif menurunkan kadar glukosa darah pada tikus diabetes . nduksi streptozotosi. karena kandungan flavonoid yang tinggi. Flavonoid juga mengendalikan kadar kolesterol dan trigliserida sehingga dapat mencegah sindrom metabolik (Mahmoud et al. , 2. Kombinasi ekstrak daun sinensis dan C. paradisi menurunkan kadar kolesterol pada tikus hiperlipidemia (Mallick & Khan, 2. Ekstrak daun C. limon dilaporkan dapat menurunkan kadar glukosa darah, kolesterol, dan trihgliserida pada tikus diabetes . nduksi aloksa. (Halalsheh et al. , 2. Oleh karena semua hasil pemeriksaan parameter darah menunjukkan tidak ada efek negatif yang bersifat signifikan akibat pemberian EKJDP, maka pengamatan histopatologis tidak perlu dilakukan. Tabel 5. Profil metabolik tikus pada uji toksisitas single-dose ekstrak kloroform daun jeruk purut KELOMPOK PARAMETER HARI BASELINE KONTROL TWEEN EKDJP 170,50 A 53,06 191,33 A 45,21 163,67 A 10,84 GLU 169,67 A 52,00 158,33 A 23,04 146,00 A 29,02 118,00 Ae259,00 . g/dL) 154,67 A 31,38 200,33 A 37,51 129,67 A 20,53 94,95 A 23,10 66,27 A 7,83 77,30 A 12,45 CHOL 69,29 A 10,74 60,43 A 4,36 83,07 A 14,09 60,00 Ae 131,00 . L 65,21 A 18,01 59,60 A 6,00 69,93 A 4,51 110,50 A 70,24 82,90 A 19,08 71,10 A 18,55 69,08 A 34,36 57,67 A 30,69 50,57 A 16,01 25,80 Ae 217,60 . g/dL) 92,93 A 51,40 71,80 A 9,33 60,97 A 13,47 - KONTROL= akuades volume 1 mL per oral. TWEEN= Tween80 5 % volume 1 mL per oral. EKDJP= ekstrak kloroform daun jeruk purut 2000 mg/kg berat badan, volume 1 mL per oral - GLU= glucose. CHOL= total cholesterol. TG= triglycerides. - Angka yang diikuti oleh huruf yang sama dalam satu lajur dan kolom menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan . >0,. A 2024 Fitria, dkk This article is open access Fitria dkk . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 43 Ae56 DOI 10. 22146/bib. - Angka yang dicetak tebal menunjukkan nilai berada di luar baseline . ebih rendah atau lebih tingg. Berdasarkan protokol uji toksisitas oleh OECD, apabila dosis tertinggi suatu bahan/zat setelah diujicobakan kepada hewan ternyata tidak menimbulkan efek buruk yang mengarah kepada tanda-tanda ketoksikan, maka akan dikategorikan sebagai no-observed-adverseeffect level (NOAEL) pada dosis tersebut. Dosis ini selanjutnya digunakan untuk menentukan dosis pada uji toksisitas tahap subkronik-kronik, sekaligus untuk menentukan kriteria keamanan pada manusia dalam uji klinis (OECD, 2. Selain standardisasi protokol uji toksisitas, klasifikasi atau kategorisasi bahan/zat kimia yang berpotensi toksik juga diperlukan. Dalam hal ini kami mengacu pada The Globally Harmonized System of Classification and Labeling of Chemicals (GHS). GHS adalah sistem internasional yang dikembangkan oleh PBB untuk menstandardisasi dan menyelaraskan klasifikasi serta pelabelan bahan kimia secara Hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemberian EKDJP hingga dosis 2000 mg/kg berat badan tidak menunjukkan adanya tandatanda ketoksikan hingga rentang waktu 14 hari. Dengan demikian, berdasarkan OECD, maka EKDJP dinyatakan aman atau NOAEL pada dosis 2000 mg/kg berat badan. Sementara itu, berdasarkan kriteria GHS, maka EKDJP termasuk ke dalam Kategori 5, yaitu substansi yang relatif aman namun memiliki potensi toksik . oksisitas renda. Oleh karena itu, uji toksisitas EKDJP perlu dilanjutkan ke tahap berikutnya, tidak hanya tingkat subkronik hingga kronik, namun juga untuk keamanan sistem reproduksi serta pertumbuhan dan perkembangan generasi keturunannya (United Nations, 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa administrasi oral akut . ingle-dos. ekstrak kloroform daun jeruk purut hingga dosis 2000 mg/kg berat badan bersifat aman atau tidak toksik bagi tikus Wistar betina sebagai hewan coba. Dengan kata lain kategori ketoksikan ekstrak kloroform daun jeruk purut berdasarkan OECD adalah no-observed-adverseeffect-level (NOAEL) pada dosis 2000 mg/kg berat badan. Sementara itu, berdasarkan Globally Harmonized System of Classification and Labelling of Chemicals (GHS) maka ketoksikan ekstrak kloroform daun jeruk purut termasuk dalam Kategori 5. Kontribusi penulis LF mendesain percobaan dan memantau jalannya penelitian. MIM. WBTS, dan ICPG melakukan percobaan dan pengambilan data. dan MIM menganalisis data dan menyusun Ucapan terima kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pengelola Animal House Fakultas Biologi UGM. Laboratorium Fisiologi Hewan Fakultas Biologi UGM, dan Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT-UGM) yang telah memfasilitasi penelitian ini. Konflik kepentingan Tidak ada potensi konflik kepentingan yang dilaporkan oleh penulis. Referensi