Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3100-3109 Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia The Influence of Intellectual Capital on Financial Performance in Plantation Companies Listed on the Indonesian Stock Exchange Juanferi Simamora*. Ahmad Rifai. Didi Muwardi Jurusan Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Riau. Pekanbaru *Email: Juanferi. simamora2169@student. (Diterima 07-05-2025. Disetujui 15-07-2. ABSTRAK Perusahaan perkebunan di masa yang akan datang akan dihadapkan pada permasalahan lahan akibat meningkatnya keterbatasan sumber daya lahan perusahaan perkebunan. Oleh sebab itu, dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan nilai perusahaan, diperlukan inovasi serta pengembangan pada aset tidak berwujud perusahaan perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh modal intelektual terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 36 perusahaan listing di Bursa Efek Indonesia. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah laporan keuangan 10 perusahaan listing yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2021-2023. Penelitian ini menggunakan analisis regresi data panel untuk menganalisis pengaruh variabel Value Added Capital Employed (VACA). Value Added Human Capital (VAHU), dan Structural Capital Value Added (STVA), terhadap kinerja keuangan, yaitu Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE). Hasil penelitian menunjukkan modal intelektual berpengaruh terhadap kinerja keuangan baik ROA dan ROE. Secara Parsial VACA dan VAHU berpengaruh signifikan dan positif terhadap ROA, sedangkan VACA dan STVA berpengaruh signifikan dan positif terhadap ROE. Kata kunci: Intelektual Kapital. Kinerja Keuangan. Perusahaan Perkebunan ABSTRACT In the future, plantation companies will face land problems due to the increasing limitations of plantation company land resources. Therefore, in order to maintain and increase the value of the company, innovation and development of intangible assets of plantation companies are needed. This study aims to analyze the effect of intellectual capital on the financial performance of plantation companies. The sample used in this study was 36 companies listed on the Indonesia Stock Exchange. The data used in this study are the financial reports of 10 listed companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2021-2023. This study uses panel data regression analysis to analyze the effect of the variables Value Added Capital Employed (VACA). Value Added Human Capital (VAHU), and Structural Capital Value Added (STVA), on financial performance, namely Return on Assets (ROA) and Return on Equity (ROE). The results of the study show that intellectual capital has an effect on financial performance, both ROA and ROE. Partially. VACA and VAHU have a significant and positive effect on ROA, while VACA and STVA have a significant and positive effect on ROE. Keywords: Intellectual Capital. Financial Performance. Plantation Company PENDAHULUAN Industri perkebunan di Indonesia menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan lahan akibat meningkatnya konversi lahan untuk kepentingan industri, pemukiman, dan infrastruktur. Sementara itu, permintaan global terhadap komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, teh, dan kopi terus Dalam menghadapi tantangan ini, perusahaan perkebunan dituntut untuk mencari cara inovatif dalam mengoptimalkan lahan yang semakin terbatas agar tetap menghasilkan keuntungan yang maksimal. Untuk mengatasi keterbatasan ini dan tetap memperoleh keuntungan yang maksimal, perusahaan perkebunan perlu memanfaatkan aset tak berwujud sebagai strategi utama dalam meningkatkan produktivitas dan daya saing. Pergerakan dunia bisnis saat ini mengarah pada dominasi era ekonomi baru yang menempatkan pengetahuan sebagai fondasi utama aset tak berwujud. Sejalan dengan pandangan Deniswara . Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Juanferi Simamora. Ahmad Rifai. Didi Muwardi modal intelektual diakui sebagai sumber daya esensial yang mendorong kinerja dan valuasi Definisi ini diperkuat oleh Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. yang mengutarakan aset tak berwujud sebagai aset non-moneter teridentifikasi tanpa wujud fisik, yang dimiliki dengan tujuan menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk keperluan administratif. Dalam konteks ini, pemanfaatan modal intelektual muncul sebagai solusi strategis untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan usaha, termasuk dalam sektor perkebunan. Menurut Niken . , meningkatnya fokus perusahaan terhadap aset tak berwujud didorong oleh tujuan perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif dan mengoptimalkan aset pengetahuan . nowledge asse. sebagai landasan eksistensi perusahaan perkebunan. Fenomena ini memicu kemunculan istilah knowledge-based industries, yang merujuk pada perusahaan perkebunan yang menjadikan pengelolaan modal intelektual sebagai sumber utama keunggulan kompetitif dan pertumbuhan jangka panjang. Dalam konteks industri perkebunan, kemajuan dalam industri perkebunan tidak lagi terbatas pada ekspansi fisik lahan, melainkan juga pada optimalisasi modal intelektual yang dimiliki perusahaan. Modal intelektual mencakup tiga dimensi krusial: modal manusia . uman capita. , modal struktural . tructural capita. , dan modal relasional . elational capita. Ketiga aspek ini memegang peranan vital dalam meningkatkan efisiensi operasional, mendorong inovasi, dan memperkuat daya saing perusahaan perkebunan di Indonesia. Lebih lanjut. Khalique . mengklasifikasikan modal intelektual sebagai kategori aset tak nyata yang berakar pada pendidikan, pengetahuan, keahlian profesional, loyalitas pelanggan, basis data, kebijakan, prosedur, integritas, kejujuran, dan ketangkasan intelektual, yang fundamental bagi keberhasilan bisnis. Dengan demikian, pemahaman dan pengelolaan modal intelektual menjadi krusial bagi keberlanjutan dan daya saing perusahaan perkebunan di era ekonomi berbasis pengetahuan ini. Penelitian ini bertujuan untuk: . mengidentifikai modal intelektual pada perusahaan perkebunan yang terdaftar di Buesa Efek Indonesia, . mengidentifikasi kinerja keuangan pada perusahaan perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, . , menganalisis pengaruh modal intelektual terhadap kinerja keuangan pada perusahaan perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. METODE PENELITIAN Data yang digunakan pada penelitian ini adala data laporan keuangan tahun 2021-2023 perusahaan perkebunan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia. Variabel yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan adalah return on asset (ROA), dan return on equity (ROE). Sedangkan variabel yang digunakan untuk mengukur intelektual kapital adalah value added capital employed (VACA), value added human capital (VAHU), dan structural capital value added (STVA). Sampel penelitian ini sebanyak 10 perusahaan yang ditentukan dengan metode purposive sampling dengan cara memilih perusahaan perkebunan yang mempublikasi laporan keuangan secara berturut-turut selama periode Intelektual kapital diukur dengan menggunakan metode value added intellectual coefficient (VAIC), yang diperoleh dari akumulasi nilai tiga komponen yaitu VACA. VAHU, dan STVA. Value added capital employed (VACA) adalah rasio yang menunjukkan konstribusi yang dibuat oleh setiap unit dari ekuitas terhadap value added (VA) perusahaan perkebunan. Value Added (VA) adalah indikator yang paling objektif untuk menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam penciptaan nilai. Menurut (Ulum, 2. VA diperoleh dari selisih output dan input, output diperoleh dari revenue dan mencakup seluruh beban dan jasa yang dijual di pasar, sedangkan input adalah seluruh beban yang digunakan dalam memperoleh revenue. VACA dihitung dengan: VACA = Sedangkan value added human capital (VAHU) adalah rasio yang menunjukkan kontribusi setiap dana yang diinvestasikan dalam human capital (HC) terhadap value added (VA) perusahaan Human capital (HC) beban karyawan pada periode tertentu perusahaan perkebunan. VAHU dihitung dengan: Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3100-3109 VAHU = Structural capital value added (STVA) adalah rasio yang mengukur jumlah structural capital (SC) yang dibutuhkan untuk menghasilkan value added (VA) perusahaan perkebunan. SC dihitung dari selisih dari value added dan human capital. STVA dihitung dengan: STVA = Untuk mengetahui kinerja modal intelektual perusahaan perkebunan, dapat dihitung dengan: VAIC = VACA VAHU STVA. Identifikasi kinerja intelektual kapital menggunakan kategori ulum . Tabel 1. Kategori Kinerja Intelektual kapital Kategori kinerja intelektual kapital Top Performers Ou 3,00 Good Performers 2,00-2,99 Common Performers 1,5-1,99 Bad Performers O 1,5 Sumber: Ulum . Kinerja keuangan perusahaan perkebunan diukur dengan ROA dan ROE, dihitung dengan rumus ROA = X 100% ROE = X 100% ROA adalah Return On Asset periode 2021-2023. ROE adalah Return On Equity periode 2021-2023, laba bersih dihitung dari Laba bersih perusahaan setelah pajak periode 2021-2023, total aset dihitung dari total aset tahun berjalan periode 2021-2023. Ekuitas adalah modal tahunan perusahaan periode Selanjutnya Untuk mengetahui pengaruh modal intelektual terhadap kinerja keuangan perusahaan dilakukan analisis regresi data panel, dengan rumus sebagai berikut: it = 1X1it 2X2it A 3X3it eit it adalah ROA dan ROE . X1it adalah value added capital employed . X2it adalah value added human capital . X3it adalah structural capital value added . , adalah konstanta, 1, 2, 3 adalah koefisien regresi, eit adalah Error term. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi modal intelektual perusahaan perkebunan Identifikasi modal intelektual perusahaan perkebunan dilakukan melalui analisis mendalam terhadap tiga variabel utama yaitu human capital, relational capital, dan structural capital Tujuan dari identifikasi ini adalah untuk memahami secara mendalam faktor-faktor pembentuk modal intelektual yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan perkebunan. Dengan menganalisis ketiga variabel ini, diharapkan dapat ditemukan gambaran tentang kinerja intellectual capital yang dimiliki perusahaan perkebunan. Menurut Ulum . VAIC mengindikasikan kemampuan intelektual organisasi yang dapat juga dianggap sebagai BPI (Business Performance Indicato. Pulic . menunjukkan efisiensi penciptaan nilai perusahaan, semakin tinggi koefisien VAIC, semakin baik manajemen memanfaatkan potensinya. VAIC memantau dan mengukur efisiensi penciptaan nilai perusahaan berdasarkan angka-angka berbasis akutansi. Hasil identifikasi Value Added Intellectual Coeffisien (VAIC) perusahaan perkebunan: Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Juanferi Simamora. Ahmad Rifai. Didi Muwardi Tabel 2. Hasil Identifikasi Kinerja Intelektual Kapital Perusahaan Perkebunan Listing di BEI Tahun Value Added Intellectual Capital Tahun 2021 Nama Perusahaan VACA VAHU STVA VAIC Kategori Astra Agro Lestari 0,192 6,425 0,844 7,461 Top Performers Cisadane Sawit Raya 0,620 5,056 0,802 6,479 Top Performers FAP Agri 0,283 3,786 0,735 4,805 Top Performers Nusantara Sawit Sejahtera 1,379 3,234 0,691 5,304 Top Performers Palma Serasih 0,262 5,815 0,828 6,904 Top Performers Salim Ivomas 0,208 7,247 0,862 8,318 Top Performers Sampoerna Agro 0,326 10,595 0,906 11,827 Top Performers Sumber Tani Agung 0,612 6,159 0,838 7,608 Top Performers Triputra Agro Lestari 0,236 2,436 0,590 3,262 Top Performers 10 Tunas Baru Lampung 0,373 5,704 0,825 6,901 Top Performers Tahun 2022 Astra Agro Lestari 0,135 4,698 0,787 5,621 Top Performers Cisadane Sawit Raya 0,550 3,973 0,748 5,271 Top Performers FAP Agri 0,414 5,217 0,808 6,440 Top Performers Nusantara Sawit Sejahtera 1,032 2,215 0,548 3,795 Top Performers Palma Serasih 0,285 5,549 0,820 6,653 Top Performers Salim Ivomas 0,187 7,382 0,865 8,434 Top Performers Sampoerna Agro 0,342 9,789 0,898 11,028 Top Performers Sumber Tani Agung 0,432 5,799 0,828 7,059 Top Performers Triputra Agro Lestari 0,385 4,103 0,756 5,244 Top Performers 10 Tunas Baru Lampung 0,389 5,848 0,829 7,066 Top Performers Tahun 2023 Astra Agro Lestari 0,084 2,912 0,657 3,653 Top Performers Cisadane Sawit Raya 0,307 2,844 0,648 3,800 Top Performers FAP Agri 0,180 2,074 0,517 2,772 Good Performers Nusantara Sawit Sejahtera 0,616 1,578 0,366 2,560 Good Performers Palma Serasih 0,203 4,449 0,775 5,426 Top Performers Salim Ivomas 0,124 5,024 0,801 5,949 Top Performers Sampoerna Agro 0,201 6,189 0,838 7,228 Top Performers Sumber Tani Agung 0,288 3,429 0,708 4,425 Top Performers Triputra Agro Lestari 0,223 2,135 0,532 2,890 Good Performers 10 Tunas Baru Lampung 0,290 4,778 0,791 5,858 Top Performers Sumber: Analisis laporan keuangan tahun 2021-2023 listing di BEI . Hasil identifikasi nilai rasio VACA, dapat dilihat terjadi penurunan pada semua perusahaan pada Hal ini disebabkan terjadi penurunan pendapatan perusahaan dan terjadi peningkatan beban keuangan perusahaan, yang menyebabkan terjadi penurunan value added perusahaan perkebunan sehingga mempengaruhi nilai VACA. Selanjutnya hasil identifikasi nilai rasio VAHU, dapat dilihat terjadi penurunan pada periode 2023, hal ini disebabkan terjadi peningkatan beban karyawan, sehingga mempengaruhi value added perusahaan perkebunan pada periode tersebut. Penurunan nilai rasio juga terjadi pada STVA pada periode 2023. Hal ini disebabkan terjadi penurunan pada nilai value added perusahaan yang mempengaruhi nilai rasio STVA perusahaan Rasio VAIC diperoleh dari penjumlahan rasio VACA. VAHU, dan STVA yang merupakan indikator dalam menghitung modal intelektual perusahaan. Rasio VAIC dari 10 perusahaan perkebunan yang terdapat di Bursa Efek Indonesia pada periode 2021 dan 2022 masuk dalam kategori top performers, karena lebih tinggi dari 3,00. Sedangkan pada periode 2023 terdapat 3 perusahaan yang memiliki rasio VAIC dibawah 3,00, sehingga termasuk kedalam kategori good performers. Rasio VAIC perusahaan perkebunan mengalami penurunan pada periode 2023, namun pada 3 perusahaan perkebunan yaitu FAP Agri. Nusantara Sawit Sejahtera, dan Triputra mengalami kenaikan beban yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lainnya, sehingga terjadi penurunan kinerja intelektual kapital menjadi good performance. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3100-3109 Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Perkebunan Analisis Kinerja keuangan adalah indikator yang digunakan untuk menilai seberapa baik perusahaan dalam mengelola dan menggunakan sumber daya mereka untuk mencapai tujuan bisnis. Kinerja keuangan yang baik dalam suatu perusahaan mencerminkan implementasi yang efisien dan tepat dari pedoman keuangan yang berlaku. Kinerja keuangan merupakan hal yang penting bagi sebuah perusahaan untuk dapat melihat sejauh apa perkembangan sebuah perusahaan dalam penerapan penilaian yang efektif pada sektor keuangan perusahaan. Return on asset (ROA) adalah salah satu rasio profitabilitas yang mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang ROA merupakan pengukuran kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset yang dimiliki, untuk menghasilkan profit (Kasmir. Semakin tinggi nilai ROA suatu perusahaan, menunjukkan besarnya tingkat keuntungan yang dapat dicapai oleh perusahaan tersebut. Tabel 3. Hasil Identifikasi Kinerja Keuangan (ROA) Perusahaan Perkebunan yang terdaftar di BEI Tahun 2021-2023 Return On Asset (%) Nama Perusahaan Astra Agro Lestari 6,801 6,127 3,772 Cisadane Sawit Raya 14,810 13,753 7,930 FAP Agri 5,136 8,689 1,873 Nusantara Sawit Sejahtera 8,247 2,314 0,057 Palma Serasih 5,730 6,223 3,576 Salim Ivomas 3,727 4,180 2,647 Sampoerna Agro 8,355 10,148 4,378 Sumber Tani Agung 21,154 18,266 11,708 Triputra Agro Lestari 9,631 21,263 11,980 10 Tunas Baru Lampung 3,756 3,385 2,365 Rata-rata 8,735 9,435 5,029 Sumber: Analisis laporan keuangan tahun 2021-2023 listing di BEI . Dapat diketahui bahwa nilai ROA tertinggi yaitu 21,263 diperoleh perusahaan Triputra Agro Lestari Tbk pada periode 2022. Hal ini menunjukkan perusahaan Triputra Agro Lestari Tbk mampu meningkatkan efisiensi penggunaan asetnya untuk menghasilkan laba bersih dibandingkan dengan perusahaan perkebunan lainnya. Sedangkan nilai ROA terendah yaitu 0,057 diperoleh oleh Nusantara Sawit Sejahtera Tbk pada periode 2023. Hal ini menunjukkan perusahaan Nusantara Sawit Sejahtera Tbk kurang efisien dalam menghasilkan keuntungan dari aset yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan perusahaan perkebunan lainnya. Pada tabel diatas juga memperlihatkan lima perusahaan yang mengalami peningkatan nilai pada periode 2021-2022 yaitu Perusahaan FAP Agri. Palma Serasih. Salim Ivomas. Sampoerna Agro, dan Triputra Agro Lestari, hal ini menunjukkan perusahaan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan asetnya untuk menghasilkan laba bersih. Lalu pada periode 2023 perusahaan tersebut mengalami Hal ini disebabkan karena laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan dalam hubungannya dengan total asetnya menurun pada periode 2023. Sedangkan pada periode 2021-2023, ada perusahaan lima perusahaan yang mengalami penurunan nilai ROA yaitu perusahaan Astra Agro Lestari. Cisadane Sawit Raya. Nusantara Sawit Sejahtera. Sumber Tani Agung dan Tunas Baru Lampung. Penurunan nilai ROA pada perusahaan perkebunan disebabkan oleh menurunnya laba bersih setelah pajak perusahaan. Hal ini menyebabkan terjadi penurunan nilai ROA yang signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Return On Equity (ROE) adalah rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal Rasio ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini. semakin baik posisi pemiliki perusahaan. ROE sering digunakan bersama dengan rasio keuangan lainnya untuk memberikan gambaran komprehensif tentang kinerja perusahaan. Menurut Kasmir . nilai ROE mewakili total pengembalian modal . dan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengubah investasi ekuitas menjadi laba bersih. Adapun hasil perhitungan Return On Equity (ROE) perusahaan perkebunan periode 2021-2023 yaitu sebagai berikut: Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Juanferi Simamora. Ahmad Rifai. Didi Muwardi Tabel 4. Hasil Identifikasi Kinerja Keuangan (ROE) Perusahaan Perkebunan yang terdaftar di BEI Return On Equity (%) Nama Perusahaan Astra Agro Lestari 9,765 8,057 4,822 Cisadane Sawit Raya 33,233 26,207 13,105 FAP Agri 12,792 19,218 3,979 Nusantara Sawit Sejahtera 43,868 11,146 0,197 Palma Serasih 15,008 15,283 6,683 Salim Ivomas 6,752 7,132 4,267 Sampoerna Agro 17,724 19,874 7,996 Sumber Tani Agung 40,002 27,585 16,284 Triputra Agro Lestari 15,376 29,663 14,650 10 Tunas Baru Lampung 12,198 11,730 7,463 Rata-rata 20,672 17,590 7,945 Sumber: Analisis laporan keuangan tahun 2021-2023 listing di BEI . Dapat diketahui bahwa nilai ROE tertinggi yaitu 43,868 diperoleh perusahaan Nusantara Sawit Sejahtera Tbk pada periode 2021. Hal ini menunjukkan perusahaan Nusantara Sawit Sejahtera Tbk sangat efisien dalam mengelola modal dan menghasilkan keuntungan yang baik. Sedangkan nilai ROA terendah yaitu 0,197 diperoleh oleh Nusantara Sawit Sejahtera Tbk pada periode 2023. Hal ini menunjukkan perusahaan Nusantara Sawit Sejahtera Tbk kurang efektif dalam menghasilkan laba dari modal yang diinvestasikan dibandingkan dengan perusahaan perkebunan lainnya. Pada tabel di atas juga memperlihatkan lima perusahaan yang mengalami peningkatan nilai ROE pada periode 2021-2022 yaitu Perusahaan FAP Agri. Palma Serasih. Salim Ivomas. Sampoerna Agro, dan Triputra Agro Lestari. Hal ini menunjukkan perusahaan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan modal untuk menghasilkan laba bersih. Selanjutnya pada periode 2023 perusahaan tersebut mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan menurun pada periode 2023. Sedangkan pada periode 2021-2023, perusahaan Astra Agro Lestari. Cisadane Sawit Raya. Nusantara Sawit Sejahtera. Sumber Tani Agung dan Tunas Baru Lampung, mengalami penurunan nilai ROE yang mengartikan perusahaan-perusahaan tersebut pada periode 2021-2023 mengalami penurunan nilai laba bersih dibandingkan dengan aset perusahaan. Penurunan nilai ROE pada perusahaan perkebunan menandakan bahwa perusahaan mengalami penurunan efisiensi dalam menghasilkan laba dari modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham. Hal ini disebabkan penurunan laba bersih dibandingkan periode sebelumnya. Pengaruh Kinerja intelektual kapital terhadap kinerja keuangan (ROA) Hasil penelitian pengaruh kinerja modal intelektual terhadap kinerja keuangan (ROA) menunjukkan nilai probabilitas F hitung sebesar 0,000 lebih kecil dari tingkat signifikansi = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel Capital Employe (VACA). Human Capital (VAHU), dan Structural Capital (STVA) secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan Return On Asset (ROA). Secara keseluruhan kinerja intelektual kapital berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan yang diukur dengan ROA, yang ditunjukkan nilai probabilitas F statistik (Tabel . Berdasarkan hasil regresi data panel, nilai koefisien determinasi . djusted R-squar. untuk model dalam penelitian ini adalah sebesar 0,5525 atau 55,25%. Hal ini menunjukkan 55,25% kinerja keuangan yang diukur dengan ROA dapat dijelaskan oleh kinerja intelektual kapital yang diukur dengan Capital Employe (VACA). Human Capital (VAHU), dan Structural Capital (STVA). Sedangkan sisanya 44,75% lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3100-3109 Tabel 5. Analisis Regresi Data Panel VACA. VAHU. STVA terhadap ROA Dependent Variable: ROA Method: Panel EGLS (Cross-section random effect. Date: 02/19/25 Time: 01:31 Sample: 2021 2023 Periods included: 3 Cross-sections included: 10 Total panel . observations: 30 Swamy and Arora estimator of component variances Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. VACA VAHU STVA R-squared Adjusted R-squared of regression F-statistic Prob(F-statisti. Secara parsial diketahui bahwa kinerja Capital Employe (VACA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROA, hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung sebesar 3,359 > t tabel sebesar 2,042 dengan nilai sig 0,002 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Selanjutnya diketahui bahwa Human Capital (VAHU) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan (ROA), hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung sebesar 2,326 > t tabel sebesar 2,042 dengan nilai sig 0,028 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Sedangkan Structural Capital (STVA) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROA, hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung sebesar 0,109 < t tabel sebesar 2,042 dengan nilai sig 0,913 > 0,05, sehingga H0 diterima dan Ha ditolak. ROA = - 0,017 7,809*VACA 0,718*VAHU Ae 0,643*STVA [CX=R] Hasil persamaan analisis regresi data panel diatas menunjukkan tanpa adanya biaya investasi terhadap modal inelektual pada perusahaan perkebunan di indonesia, maka kinerja keuangan yang diukur dengan ROA akan mengalami kerugian. Hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien konstanta sebesar -0,017. Selanjutnya ketika perusahaan mengalokasikan investasi terhadap Capital Employe (VACA), maka akan terjadi kenaikan kinerja keuangan yang diukur dengan ROA, hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien VACA sebesar 7,809. Artinya setiap 1 satuan dari Capital Employe akan mennyebabkan kenaikan ROA sebesar 7,809 dengan asumsi VAHU dan STVA konstan. Begitu pula dengan Human Capital, ketika perusahaan mengalokasikan investasi modal intelektual terhadap VAHU, maka akan terjadi kenaikan kinerja keuangan yang diukur dengan ROA, hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien VAHU sebesar 0,718. Artinya setiap 1 satuan dari Human Capital akan menyebabkan kenaikan ROA sebesar 0,718 dengan asumsi Capital Employe (VACA) dan Strucutural Capital (STVA) konstan. Kemudian Structural Capital, ketika perusahaan mengalokasikan investasi modal intelektual terhadap STVA, belum tentu terjadi kenaikan kinerja keuangan yang diukur dengan ROE, hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien STVA sebesar -0,643 dengan asumsi Capital Employe (VACA) dan Human Capital (VAHU) konstan. Pengaruh Modal Intelektual Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Juanferi Simamora. Ahmad Rifai. Didi Muwardi Pengaruh Kinerja intelektual kapital terhadap kinerja keuangan (ROE) Hasil penelitian pengaruh kinerja modal intelektual terhadap kinerja keuangan (ROE) menunjukkan nilai probabilitas F hitung sebesar 0,000 lebih kecil dari tingkat signifikansi = 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa variabel Capital Employe (VACA). Human Capital (VAHU), dan Structural Capital (STVA) secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan Return On Equity (ROE). Secara keseluruhan kinerja intelektual kapital berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan yang diukur dengan ROE, yang ditunjukkan nilai probabilitas F statistik (Tabel . Berdasarkan hasil regresi data panel, besarnya koefisien determinasi . djusted R-squar. untuk model dalam penelitian ini adalah sebesar 0,7876 atau 78,76%. Hal ini menunjukkan 78,76% kinerja keuangan yang diukur dengan ROE dapat dijelaskan oleh kinerja intelektual kapital yang diukur dengan Capital Employe (VACA). Human Capital (VAHU), dan Structural Capital (STVA). Sedangkan sisanya 21,24% lainnya dijelaskan oleh variabel lain diluar model. Tabel 6. Analisis Regresi Data Panel VACA. VAHU. STVA terhadap ROE Dependent Variable: ROE Method: Panel EGLS (Cross-section random effect. Date: 02/19/25 Time: 15:09 Sample: 2021 2023 Periods included: 3 Cross-sections included: 10 Total panel . observations: 30 Swamy and Arora estimator of component variances Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. VACA VAHU STVA R-squared Adjusted R-squared of regression F-statistic Prob(F-statisti. Secara parsial diketahui bahwa kinerja Capital Employe (VACA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROE, hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung sebesar 8,037 > t tabel sebesar 2,042 dengan nilai sig 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Sedangkan Human Capital (VAHU) berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROE, hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung sebesar 0,222 < t tabel sebesar 2,042 dengan nilai sig 0,825 > 0,05, sehingga H0 diterima dan Ha ditolak. Selanjutnya diketahui bahwa Structural Capital (STVA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROE, hal ini ditunjukkan dari nilai t hitung sebesar 2,326 > t tabel sebesar 2,042 dengan nilai sig 0,005 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. ROE = - 26,137 33,867*VACA 0,150*VAHU 34,662*STVA [CX=R] Hasil persamaan analisis regresi data panel diatas menunjukkan tanpa adanya biaya investasi terhadap modal inelektual pada perusahaan perkebunan di indonesia, maka kinerja keuangan yang diukur dengan ROE akan mengalami kerugian. Hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien konstanta sebesar -26,137. Selanjutnya ketika perusahaan mengalokasikan investasi terhadap Capital Employe (VACA), maka akan terjadi kenaikan kinerja keuangan yang diukur dengan ROE sebesar 33,867, hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien VACA sebesar 33,867. Artinya setiap 1 satuan dari Capital Employe akan mennyebabkan kenaikan ROE sebesar 33,867 dengan asumsi VAHU dan STVA Begitu pula dengan Human Capital, ketika perusahaan mengalokasikan investasi modal intelektual terhadap VAHU maka akan terjadi kenaikan kinerja keuangan yang diukur dengan ROE sebesar 0,150, hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien VAHU sebesar 0,150. Artinya setiap 1 satuan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 3100-3109 dari Human Capital akan menyebabkan kenaikan ROE sebesar 0,150 dengan asumsi Capital Employe (VACA) dan Strucutural Capital (STVA) konstan. Kemudian Structural Capital, ketika perusahaan mengalokasikan investasi modal intelektual terhadap STVA, maka akan terjadi kenaikan kinerja keuangan yang diukur dengan ROE sebesar 34,662, hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien STVA sebesar 34,662. Artinya setiap 1 satuan dari Structural Capital akan menyebabkan kenaikan ROE sebesar 34,662 dengan asumsi Capital Employe (VACA) dan Human Capital (VAHU) konstan. KESIMPULAN Periode 2023 terjadi penurunan kinerja modal intelektual perusahaan perkebunan terdaftar di Bursa Efek Indonesia, yang disebabkan terjadi penurunan pendapatan perusahaan dan terjadi peningkatan beban keuangan perusahaan. Secara keseluruhan kinerja intelektual kapital berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan yang diukur dengan ROA, yang ditunjukkan nilai probabilitas F statistik sebesar 0,000. Sedangkan secara parsial diketahui bahwa kinerja Capital Employe (VACA) dan Human Capital (VAHU) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROA. Sedangkan Structural Capital (STVA) tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROA. Hasil penelitian juga menunjukkan secara keseluruhan kinerja intelektual kapital berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan perkebunan yang diukur dengan ROE, yang ditunjukkan nilai probabilitas F statistik sebesar 0,000. Sedangkan secara parsial menunjukkan bahwa Capital Employe (VACA) dan Structural Capital (STVA) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROE. Sedangkan Human Capital (VAHU) berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap kinerja keuangan yang diukur dengan ROE. DAFTAR PUSTAKA