Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 12. Nomor 2, 2025 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index Character Analysis of Figure in The Classical Literary Work Pan Balang Tamak 1I Wayan Ardita, 2I Nengah Sueca 1,2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. ITP Markandeya Bali. Bali. Indonesia 1arditaw12@gmail. com, 2su3ca. nngah@gmail. Corresponding authorAos email: arditaw12@gmail. ARTIKEL INFO ABSTRACT Article history: Received 13 Juni 2025 Accepted 1 Juli 2025 Published 25 Juli 2025 Indonesian old literature, as a rich cultural heritage, reflects the values of life upheld by various societal strata and eras, with the story of Pan Balang Tamak serving as a significant example. This study aims to describe the character of Pan Balang Tamak and explore the moral values embedded in the narrative, including cleverness, wisdom, and critique of social injustice. The qualitative research method employed involves a descriptive analysis of the literary text, with a focus on character development and interactions within the cultural context of Bali. The findings reveal that the character of Pan Balang Tamak not only illustrates the complexity of human nature but also conveys relevant moral messages, such as the importance of critical thinking and resistance to injustice. This character inspires younger generations to understand and challenge unjust social norms, while also imparting values of wisdom and creativity essential for navigating the challenges of the modern era. Thus, this study affirms the importance of preserving classical literature as an educational medium capable of shaping societal character and safeguarding cultural heritage. Keywords: Analysis. Old Literature. Pan Balang Tamak. Character. Figure DOI: 10. 33603/deiksis. PENDAHULUAN Sastra Indonesia mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat dari berbagai lapisan dan zaman(Bambang & Slamet, n. Karya-karya sastra ini, seperti yang terlihat dalam cerita Pan Balang Tamak, tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran moral, etika, dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam hal ini, sastra lama berperan penting dalam membentuk identitas budaya bangsa dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah serta tradisi masyarakat Indonesia. Karya sastra Pan Balang Tamak sendiri merupakan contoh nyata dari kekayaan sastra lama yang mengandung nilai-nilai luhur dan pelajaran hidup. Melalui narasi dan karakter yang ada dalam karya tersebut, pembaca dapat menemukan refleksi tentang perjuangan, kejujuran, dan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 I Wayan Ardita1. I Nengah Sueca 2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Hal ini menunjukkan bahwa sastra lama tidak hanya sekedar teks, tetapi juga merupakan cermin dari perjalanan sejarah dan budaya bangsa. Untuk itu, pentingnya pelestarian sastra lama menjadi semakin jelas, karena karya-karya ini menyimpan pengetahuan yang dapat membantu generasi muda memahami akar budaya mereka dan menghadapi tantangan zaman modern(Hasjim et al. , 1. Dengan demikian, upaya untuk melestarikan sastra lama harus melibatkan kolaborasi antara pemerintah, sejarawan, dan Melalui pendidikan dan kegiatan literasi, nilai-nilai yang terkandung dalam sastra lama dapat diperkenalkan kembali kepada generasi penerus. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga warisan budaya tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat(Rasjid, 1. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang karya-karya seperti Pan Balang Tamak sangat penting untuk mengembangkan rasa cinta terhadap sastra dan budaya Indonesia secara keseluruhan. Pentingnya pelestarian sastra lama seperti Pan Balang Tamak tidak hanya sebagai upaya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana pengembangan karakter dan identitas bangsa. Sastra lama memiliki peran strategis dalam pendidikan karakter dengan menyampaikan nilai-nilai moral, etika, dan kearifan lokal yang relevan dalam kehidupan Melalui integrasi sastra lama ke dalam kurikulum pendidikan dan berbagai kegiatan literasi, generasi muda dapat lebih memahami akar budaya mereka sekaligus membangun rasa kebanggaan dan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa(Intan et al. , 2. Selain itu, inovasi dalam pelestarian sastra lama, seperti penggunaan media digital dan pendekatan kreatif, juga terbukti efektif dalam menghidupkan kembali minat masyarakat, khususnya generasi milenial, terhadap karya-karya tradisional yang sarat akan makna filosofis dan Pelestarian ini juga harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, praktisi budaya, hingga masyarakat luas, agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sastra lama dapat terus diwariskan secara berkelanjutan. Dengan demikian, sastra lama tidak hanya menjadi dokumen sejarah, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan pembelajaran yang dinamis dalam membentuk karakter individu dan masyarakat yang berbudaya serta berdaya saing di tengah dinamika globalisasi. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa sastra lama merupakan media komunikasi masyarakat adat yang efektif sekaligus alat pendidikan yang membentuk kepribadian dan norma sosial dalam masyarakat(Irawan Syahmi & Yamin. Dengan strategi pelestarian yang holistik dan kolaboratif, nilai-nilai dalam karya sastra seperti Pan Balang Tamak dapat terus hidup dan menjadi pondasi yang kuat dalam pembentukan identitas budaya bangsa Indonesia serta pendidikan karakter generasi penerus. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 First Author1. Second Author2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Cerita rakyat Pan Balang Tamak dari Desa Nongan. Bali, merupakan salah satu warisan sastra lisan yang sarat akan nilai-nilai kearifan lokal sekaligus menampilkan potret kompleksitas karakter manusia dalam kehidupan sosial masyarakat. Tokoh Pan Balang Tamak digambarkan sebagai sosok yang cerdik, kritis, dan licik, yang mencerminkan ambivalensi moral dan sifat adaptif dalam menghadapi tekanan sosial maupun kebijakan yang tidak adil. Dalam cerita, ia sering kali menjadi sasaran kebencian warga desa karena kecerdasannya yang melebihi orang lain, serta keberaniannya dalam mematahkan argumen para pemangku adat, seperti kepala desa dan tetua. Ia bukan sekadar tokoh penentang, tetapi juga pemikir kritis yang berani melawan norma sosial yang dianggap tidak sesuai dengan nilai keadilan. Karakter ini membuka ruang refleksi terhadap pentingnya berpikir mandiri, keberanian menyuarakan kebenaran, serta tanggung jawab moral atas setiap tindakan. Melalui sikapnya. Pan Balang Tamak menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang sekaligus penegak hak individu(Sukartha, 2016. Keunikan karakter inilah yang menarik untuk dikaji melalui pendekatan kritik sastra, tidak hanya dalam aspek intrinsik cerita, tetapi juga dalam konteks nilai-nilai kearifan lokal dan kritik sosial yang Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada tiga pertanyaan utama: bagaimana karakter tokoh Pan Balang Tamak digambarkan dalam cerita rakyat Desa Nongan. Bali. nilainilai kearifan lokal apa saja yang tercermin melalui karakter tersebut. serta bagaimana bentuk kritik sosial yang disampaikan melalui tokoh Pan Balang Tamak dalam konteks budaya masyarakat Bali. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan karakter tokoh Pan Balang Tamak dan menggali nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita tersebut. Pan Balang Tamak, sebagai salah satu tokoh sentral dalam cerita rakyat Bali, merupakan representasi dari berbagai sifat manusia yang kompleks, termasuk kecerdikan, kebijaksanaan, serta kelemahan seperti kikir dan licik. Melalui analisis karakter ini, penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana Pan Balang Tamak berinteraksi dengan masyarakat di sekitarnya dan bagaimana sikap serta tindakannya mencerminkan kritik sosial terhadap norma-norma yang berlaku. Selain itu, penelitian ini juga akan menyoroti nilai-nilai moral yang dapat dipetik dari perjalanan hidup, seperti pentingnya kejujuran, keberanian untuk melawan ketidakadilan, dan konsekuensi dari tindakan yang tidak etis. Dengan mendalami karakter Pan Balang Tamak, diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan baru mengenai bagaimana sastra lama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat. Melalui penyelesaian konflik dan I Wayan Ardita1. I Nengah Sueca 2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. resolusi dalam cerita, pembaca dapat menguraikan pelajaran moral yang relevan dengan konteks kehidupan sehari-hari (N. Sudiani et al. , 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman lebih luas tentang peran sastra dalam mencerminkan dan membentuk nilai-nilai budaya Bali masyarakat serta memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk menghargai warisan budaya mereka. Penelitian ini juga bertujuan untuk menegaskan peran sastra lama sebagai media pendidikan karakter yang efektif dan relevan dalam konteks modern. Sastra lama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, namun juga sebagai perangkat untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab sosial kepada pembaca(Ayu Wulandari, 2. Melalui karakter Pan Balang Tamak yang kompleks, yang menampilkan kecerdikan serta kebijaksanaan sekaligus kelemahan manusiawi, pembaca diajak untuk memahami dinamika sosial di masyarakat serta pentingnya sikap kritis terhadap ketidakadilan yang ada. Selain itu, dengan menyoroti nilai moral yang terkandung, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya wawasan tentang bagaimana sastra Bali dapat menjadi sarana pendidikan nilai-nilai kehidupan yang kaya akan kearifan lokal. Hal ini mendukung pendidikan karakter melalui sastra, yang terbukti dapat membentuk kepribadian dan sikap kritis masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih menghargai dan melestarikan perkembangan zaman(Ida Ayu Made Dwi Antari, 2. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa sastra adalah jendela budaya yang mampu menumbuhkan empati, pemahaman, dan kecintaan terhadap identitas budaya bangsa secara holistik(Aminah & STAI YPBWI Surabaya, 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan tidak hanya menjadi kajian akademis semata, tetapi juga menjadi referensi praktis yang dapat digunakan oleh pendidik, budayawan, dan masyarakat luas dalam upaya pelestarian serta pengembangan nilai-nilai budaya melalui sastra lama Bali, khususnya cerita Pan Balang Tamak. Dengan strategi pembelajaran sastra yang tepat, nilai-nilai luhur dalam sastra lama dapat terus diwariskan dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat jati diri bangsa dan membentuk karakter yang berwawasan luas dan berintegritas tinggi(Ida Ayu Made Dwi Antari, 2. Selain tujuan di atas penelitian ini juga memberikan manfaat yang sangat signifikan dalam konteks pemahaman karya sastra lama dan relevansinya terhadap pembentukan karakter masyarakat. Dengan mendalami karakter tokoh Pan Balang Tamak, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan lebih dalam mengenai bagaimana sastra lama p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 First Author1. Second Author2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. berfungsi sebagai cermin budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat. Karya sastra, terutama yang berasal dari tradisi lisan, mengandung hikmah dan pelajaran hidup yang dapat membentuk kepribadian individu serta memperkuat identitas budaya(Kadek & Dwipayana. Melalui analisis karakter dan nilai moral dalam karya tersebut, penelitian ini akan menyajikan gambaran tentang bagaimana nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sastra lama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memberikan kontribusi positif bagi pengembangan karakter masyarakat. METODE Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian kualitatif yang difokuskan pada analisis Metode kualitatif ini cocok untuk memahami fenomena sastra yang kompleks dan unik, seperti karakter tokoh dalam karya sastra lama Pan Balang Tamak . Dalam konteks ini, penelitian kualitatif memberikan perhatian utama pada makna dan pesan yang terkandung dalam teks cerita, sesuai dengan hakikat objek sebagai studi kultural(Simaremare et al. , 2. Teks cerita Pan Balang Tamak merupakan sumber data utama dalam penelitian ini. Dokumentasi teks cerita ini akan dieksplorasi secara mendalam untuk mengumpulkan data yang relevan. Penelitian ini menggunakan buku-buku dan sumber primer lainnya yang berkaitan dengan karya sastra lama tersebut, seperti catatan-catatan pengarang dan ulasan Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melibatkan beberapa strategi diantaranya, . Studi Pustaka : Peneliti melakukan tinjauan pustaka untuk memahami konteks sejarah dan kebudayaan dari karya sastra lama Pan Balang Tamak , serta untuk memperoleh informasi tambahan yang relevan. Eksplorasi Mendalam Terhadap Teks : Peneliti melakukan analisis tekstual yang mendalam terhadap teks cerita untuk mengidentifikasi unsur-unsur pokok seperti tokoh, plot, tema, dan gaya bahasa. Pencatatan Data : Semua data yang dikumpulkan dari teks cerita direkam dan dicatat secara sistematik untuk memastikan integritas data dan mempermudah proses analisis lebih mendalam. Kemudian data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis isi . ontent analysi. Yang menjadi fokus utama dalam analisis ini adalah pada unsur tokoh dan karakterisasi yang terkandung dalam teks cerita. Analisis proses melibatkan beberapa langkah sistematis, seperti: Produksi Tokoh Utama : identifikasi tokoh-tokoh utama dalam cerita dan analisis perilaku, motivasi, dan interaksi mereka dengan tokoh lain. Analisis Karakterisasi : Analisis detail tentang bagaimana karakter tokoh Pan Balang Tamak ditampilkan dalam cerita, termasuk I Wayan Ardita1. I Nengah Sueca 2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. sifat-sifat positif maupun negatifnya. Interpretasi Makna : Interpretasi makna yang terkandung dalam karakterisasi tokoh tersebut, serta menanamkan moral dan estetika yang dapat diambil dari analisis tersebut. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang karakter tokoh Pan Balang Tamak dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam karyanya. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam analisis karakter tokoh Pan Balang Tamak, terdapat dua nilai moral yang sangat menonjol, yaitu kebijaksanaan dalam menghadapi situasi sulit dan kritik terhadap kebijakan penguasaan atau masyarakat yang tidak adil. Kebijaksanaan dalam Menghadapi Situasi Sulit Pan Balang Tamak digambarkan sebagai sosok yang cerdik dan mampu beradaptasi dengan berbagai situasi sulit yang menghadangnya. Meskipun sering kali menjadi sasaran kebencian dari masyarakat dan perangkat desa, ia menunjukkan kecerdikan yang luar biasa dalam menghadapi berbagai tekanan. Misalnya, ketika para pemimpin desa berusaha menjatuhkan hukumannya. Pan Balang Tamak tidak hanya memberikan pernyataan pasif, tetapi juga menggunakan akalnya untuk situasi tersebut. Ia dapat mementahkan argumen yang dilontarkan oleh kepala desa dan perangkatnya, sehingga mereka kesulitan untuk menyetujuinya(Sukartha. Kecerdikan mendalam dalam memahami dinamika sosial dan politik di desanya, serta kemampuan untuk bertahan dalam situasi yang tidak menguntungkan. Kemudian, ada juga kritik terhadap Kebijakan Penguasaan atau Masyarakat yang Tidak Adil Karakter Pan Balang Tamak juga berfungsi sebagai kritik sosial terhadap kebijakan penguasaan dan ketidakadilan di Ia sering kali menentang aturan-aturan yang dianggapnya tidak adil dan terlalu memaksakan kehendak. Dalam konteks ini. Pan Balang Tamak menjadi simbol perlawanan terhadap norma-norma yang tidak berpihak kepada rakyat kecil. Ketidakpuasan terhadap kebijakan desa yang dianggap tidak adil membuatnya berani bersuara meskipun itu berarti Dengan mencerminkan suara masyarakat yang terpinggirkan dan memberikan gambaran tentang pentingnya keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat(Sukartha, 2016. Sikap kritis yang dimiliki oleh tokoh Pan Balang Tamak bukan sekadar kecerdikan biasa, melainkan merupakan bentuk adaptasi sosial yang sangat relevan dalam menghadapi tekanan dan konflik di lingkungan masyarakat tradisional Bali. Sikap cerdas dan licik Pan Balang Tamak sebenarnya mencerminkan kemampuan untuk membaca situasi sosial dan memanfaatkan p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 First Author1. Second Author2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. celah dalam sistem hukum adat yang berlaku demi mempertahankan dirinya dari tekanan yang tidak adil. Misalnya, dalam beberapa episode, ia menggunakan argumen atau trik yang memperlihatkan kecerdasan strategisnya untuk menghindar dari hukuman warga atau perangkat desa yang bernuansa ketidakadilan. Kebijaksanaan ini tidak hanya bersifat pragmatis melainkan menunjukkan pemahaman mendalam terhadap norma sosial yang berlaku dan kemampuan mempertahankan diri dalam penyikapan ketatnya aturan tersebut. Dalam konteks penelitian sastra dan budaya, dualitas karakter ini yaitu kombinasi antara kecerdasan dan kelicikan di satu sisi, serta kritik sosial dan kebijaksanaan di sisi lain memberikan gambaran kompleks tentang bagaimana tokoh Pan Balang Tamak merupakan refleksi keunikan masyarakat Bali pada masa itu. Kajian ini memperlihatkan bahwa sastra lama tidak hanya berfungsi sebagai rekaman cerita hiburan, tetapi juga sebagai media untuk memahami norma sosial, kritik adat, dan nilai-nilai moral yang relevan sepanjang masa di tengah dinamika kehidupan masyarakat(Cristiana, n. Oleh karena itu, pelestarian dan pengkajian karya seperti Pan Balang Tamak tidak hanya melestarikan seni dan budaya, tetapi juga memperkaya pemahaman tentang peran sastra lama sebagai alat pendidikan nilai dan kritik sosial yang penting bagi pembentukan karakter masyarakat modern. Selain itu, karakter Pan Balang Tamak juga dikenal sebagai sosok yang kritis dan jenaka. Ia sering menyampaikan kritik sosial dengan cara yang humoris, menjadikannya tokoh yang menarik dalam konteks budaya masyarakat Bali. Dengan kecerdasan dan humor yang dimilikinya. Pan Balang Tamak mampu menyoroti ketidakadilan dan kejahatan di sekitarnya tanpa harus terlibat langsung dalam konflik terbuka. Hal ini tidak hanya membuatnya terlihat lebih cerdik tetapi juga memberikan pelajaran moral kepada masyarakat tentang pentingnya berpikir kritis terhadap aturan dan norma yang ada. Melalui humor dan sarkasme, ia tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak masyarakat untuk berpikir kritis terhadap lingkungannya(Sudirga. Menurut(Sukartha et al. , 2. , cara humoris ini membuat kritik sosial menjadi lebih diterima dan meminimalkan konflik terbuka, sehingga Pan Balang Tamak berperan sebagai agen perubahan sosial yang cerdik dan halus dalam menyuarakan ketidakadilan. Misalnya, saat para pemimpin desa mencoba melumpuhkannya dengan berbagai strategi. Pan Balang Tamak menggunakan kelucuan sebagai senjata untuk membuka kelemahan mereka serta memunculkan kesadaran kolektif akan pentingnya keadilan dan kebijaksanaan dalam mengelola kekuasaan. Dengan demikian, karakter Pan Balang Tamak tidak hanya berfungsi I Wayan Ardita1. I Nengah Sueca 2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. sebagai penghibur tetapi juga sebagai agen perubahan sosial melalui cara-cara yang penuh humor(Sukartha et al. , 2. Lebih jauh, analisis karakter dalam karya sastra Pan Balang Tamak menunjukkan bahwa cerita ini bukan sekadar hiburan ringan melainkan sarat dengan makna filosofis dan pendidikan sosial. Tokoh ini merepresentasikan kecerdikan manusia dalam menghadapi ketidakadilan dan konflik sosial, serta mengajarkan refleksi moral yang relevan hingga kini. Pesan mengenai kebijaksanaan dan keadilan yang tersirat di dalamnya tetap menjadi pedoman penting bagi masyarakat modern dalam menyikapi tantangan kehidupan seharihari(N. Sudiani et al. , 2. Dengan demikian. Pan Balang Tamak tidak hanya sebagai tokoh legenda yang jenaka, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan penegakan nilai moral yang universal. Dalam konteks budaya Bali, karakter ini mencerminkan cara khas masyarakat dalam mengekspresikan kritik sosial melalui pendekatan yang tidak langsung namun efektif. Pendekatan ini memungkinkan kritik dapat diterima tanpa menimbulkan pertentangan langsung, sebuah strategi komunikasi tradisional yang berakar kuat dalam budaya masyarakat Bali(Sudirga, 2. Oleh karena itu, kajian terhadap karakter Pan Balang Tamak memberikan wawasan penting tentang bagaimana sastra lama menjadi media pengajaran nilai-nilai sosial sekaligus penguat identitas budaya. Melalui analisis karakter karya sastra Pan Balang Tamak, karya sastra ini tidak hanya menyajikan kisah humoris, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang mendalam mengenai pentingnya kebijaksanaan dan keadilan dalam kehidupan sosial. Pesan-pesan ini tetap relevan dan dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat modern dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari bukan hanya itu Pan Balang Tamak juga merupakan representasi dari kecerdikan manusia yang sering kali berhadapan dengan ketidakadilan sosial. Karakter ini mengajak pembaca untuk memikirkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam setiap tindakan dan keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks kehidupan modern, karakter Pan Balang Tamak memiliki relevansi yang signifikan, terutama dalam menginspirasi pembaca untuk berpikir kritis dan kreatif . Karakter ini mencerminkan sosok yang berani menghadapi ketidakadilan dan norma-norma sosial yang kaku, menjadi contoh bagi generasi saat ini untuk tidak hanya menerima keadaan, tetapi juga untuk memahami dan menantang sistem yang ada(I Wayan Adi Diana Putra et al. , 2. Dalam dunia yang semakin kompleks, mana yang dapat dengan mudah disebarluaskan dan opini publik dapat dibentuk dengan cepat, sikap kritis informasi yang ditunjukkan oleh Pan Balang Tamak menjadi sangat penting. Ia menggambarkan bagaimana individu dapat p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 First Author1. Second Author2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. menggunakan kecerdikan dan kreativitas untuk mengatasi tantangan dan menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan yang dianggap tidak adil(Diana Putra et al. , n. Lebih jauh lagi, karakter Pan Balang Tamak juga mengajarkan pentingnya kemandirian berpikir . era revolusi industri 4. 0, di mana informasi dan teknologi berkembang pesat, kemampuan berpikir kritis menjadi suatu keharusan. Pembaca tidak hanya diajak untuk menerima informasi secara mentah-mentah, tetapi juga menganalisis dan menyebarkan berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan pesan moral yang terkandung dalam cerita Pan Balang Tamak, di mana ia tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga mewakili suara masyarakat yang terpinggirkan(Sukartha et al. , 2. Dengan demikian, karakter Pan Balang Tamak tidak hanya relevan sebagai tokoh dalam sastra tradisional, tetapi juga sebagai simbol perjuangan melawan ketidakadilan dan pengingat akan pentingnya berpikir kritis dalam menghadapi tantangan zaman modern. Pesan-pesan ini tetap hidup dan dapat dijadikan pedoman bagi generasi muda dalam mengembangkan sikap kreatif dan inovatif dalam kehidupan sehari-hari(Wastawa, 2. Seiring dengan semakin kompleksnya dinamika sosial dan ekonomi, karakter ini menginspirasi pembaca untuk berani merespons ketidakadilan dengan cara yang cerdas dan penuh strategi, bukan hanya pasif menerima keadaan. Seperti yang diungkapkan oleh penelitian(Cristiana, n. Pan Balang Tamak menunjukkan dualitas literatur yakni sebagai tokoh yang cerdik dan bijaksana sekaligus licik, yang mencerminkan realitas sosial di mana kecerdasan digunakan untuk menavigasi norma dan aturan yang terkadang tidak adil dalam masyarakat tradisional Bali. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa kecerdikan dan kebijaksanaan harus dikombinasikan untuk menghadapi tantangan sosial yang kompleks seperti dalam era globalisasi saat ini. Lebih jauh, karakter Pan Balang Tamak yang jenaka dan kritis dapat dijadikan model pendidikan karakter di era revolusi industri 4. 0, di mana kemampuan analisis kritis dan kreativitas sangat dibutuhkan. Pendekatan humoris dan sarkastik yang digunakan Pan Balang Tamak dalam mengkritik kebijakan tidak adil juga mengajarkan pentingnya komunikasi efektif yang dapat membangun kesadaran sosial tanpa menimbulkan konflik terbuka (Sukartha et al. , 2. Sikap kemandirian berpikir yang ditonjolkan tokoh ini sejalan dengan konsep pembelajaran abad ke-21 yang menekankan pengembangan kompetensi berpikir tingkat tinggi dan kecakapan hidup (Sudiani et al. , 2. Oleh karena itu. Pan Balang Tamak tidak hanya relevan sebagai tokoh sastra lama, tetapi juga sebagai figur inspiratif yang mengajarkan kita untuk menjadi individu yang mampu I Wayan Ardita1. I Nengah Sueca 2 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. beradaptasi dan bertindak kritis dalam menghadapi berbagai tekanan sosial dan dinamika Pesan moral yang terkandung dalam ceritanya memberikan fondasi kuat bagi generasi muda dalam membangun sikap kreatif, inovatif, dan berani memperjuangkan keadilan dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tantangan. Dengan memahami dan menginternalisasi karakter ini, masyarakat dapat lebih siap menghadapi perubahan serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang tetap relevan dan hidup di tengah arus globalisasi. KESIMPULAN Berdasarkan analisis karakter tokoh Pan Balang Tamak, dapat disimpulkan bahwa sosok ini merepresentasikan kombinasi unik antara kecerdikan, kebijaksanaan, humor, dan sikap kritis terhadap ketidakadilan. Karakter Pan Balang Tamak tidak hanya mampu bertahan dalam situasi sulit melalui strategi cerdas dan adaptif, tetapi juga berfungsi sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan atau norma yang tidak adil dalam masyarakat. Melalui pendekatan humoris dan sarkastik, ia menyampaikan kritik sosial secara halus namun efektif, sehingga pesan moral yang dibawanya dapat diterima tanpa memicu konflik terbuka. Dalam konteks budaya Bali. Pan Balang Tamak menjadi cerminan kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya berpikir kritis, kreatif, dan berani menghadapi ketidakadilan. Pesanpesan moral yang terkandung dalam ceritanya, seperti kebijaksanaan, kemandirian berpikir, serta keberanian memperjuangkan keadilan, tetap relevan hingga era modern, khususnya di tengah tantangan Revolusi Industri 4. Dengan demikian, karya sastra Pan Balang Tamak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter, penguatan identitas budaya, dan pengingat akan pentingnya mengombinasikan kecerdikan dengan nilai moral untuk menghadapi dinamika sosial yang kompleks. REFERENSI