e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 PATOGENISITAS CENDAWAN ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana (Bals. ) PADA HAMA PASCAPANEN PATHOGENICITY OF ENTOMOPATHOGENIC FUNGI Beauveria bassiana (Bals. ) AGAINST POST-HARVEST PESTS Fazriani Batubara1. Hendrival1*. Muhammad Muaz Munauwar1. Baidhawi1. Novita Pramahsari Putri1. Nurmasyitah2 Program Studi Agroekoteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Malikussaleh Jalan Banda Aceh-Medan. Kampus Reuleut. Muara Batu. Aceh Utara. Propinsi Aceh. Indonesia Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Syamtalira Aron. Dinas Pertanian dan Pangan. Kabupaten Aceh Utara. Propinsi Aceh. Indonesia ABSTRAK Sitophilus oryzae dan Tribolium castaneum merupakan hama primer yang menyebabkan kerusakan kuantitas dan kualitas pada bahan pangan dan olahannya di penyimpanan. Pemanfaatan patogen serangga seperti cendawan entomopatogen mempunyai prospek yang baik untuk mengendalikan hama pascapanen. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas cendawan entomopatogen Beauveria bassiana yang menyebabkan infeksi dan mortalitas pada imago S. oryzae dan T. Aplikasi suspensi cendawan entomopatogen B. bassiana pada imago S. oryzae dan T. castaneum dengan metode pencelupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cendawan entomopatogen B. bassiana lebih efektif menyebabkan infeksi dan mortalitas pada imago S. oryzae dibandingkan imago T. Mortalitas pada imago S. lebih tinggi terjadi pada dengan pengenceran 10-1 sebesar 91,67%, sedangkan pada imago T. hanya mencapai 75%. Nilai LT50 pada imago S. oryzae dan T. castaneum pada pengenceran 10-1 lebih singkat yaitu 8,46 dan 9,15 hari daripada pengenceran 10-3. Cendawan entomopatogen B. memiliki kemampuan untuk mengendalikan hama S. oryzae dan T. Informasi ini memberikan prospek yang baik bagi pengendalian hayati pada hama pascapanen lainnya di penyimpanan. Kata kunci: Beauveria bassiana. Periode letal. Sitphilus oryzae. Tribolium castaneum ABSTRACT Sitophilus oryzae and Tribolium castaneum are primary pests that cause damage to the quantity and quality of post-harvest food especially grains in storage. The utilization of entomopathogens such as fungi has good prospects for controlling post-harvest pests. The study aims to evaluate the effectiveness of entomopathogenic fungi Beauveria bassiana in causing infection and mortality against the imago of S. oryzae and T. The research method used the dipping method by dipping the imago of S. oryzae and T. castaneum in the suspension containing entomopathogenic fungi B. The results found that the entomopathogenic fungi B. bassiana was more effective cause infection and mortality in S. oryzae compared to T. The higher mortality occurred in S. oryzae with dilution 10-1 of 67%, while T. castaneum only reach 75%. The LT50 value for S. oryzae and T. castaneum at dilution 10-1 were shorter, namely 8. 46 and 9. 15 days than at dilution 10-3. In addition, the entomopathogenic fungi B. bassiana was able to control the imago of S. oryzae and T. This information gives good prospects for biological control of other post-harvest pests in storage Keywords: Beauveria bassiana. Lethal period. Sitphilus oryzae. Tribolium castaneum Herbst (Coleoptera: Tenebrionida. merupakan hama utama yang menyebabkan kerusakan kuantitas dan kualitas pada serealia dan olahannya di penyimpanan (Hendrival & Meutia. Hendrival et al. , 2016. Hendrival & Melinda, 2017. Hendrival et al. , 2022. Kedua hama ini tersebar luas di daerah subtropis dan Pendahuluan Hama kumbang bubuk beras. Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionida. dan kumbang tepung merah. Tribolium castaneum -----------------------------------------------------------------*) Penulis Korespondensi. E-mail: hendrival@unimal. Telp: 6281360038391 e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 tropis (Hong et al. , 2018. Abdullahi et al. , 2. Hama S. oryzae (Coleoptera: Curculionida. tergolong hama primer pada serealia seperti seperti beras, sorgum, gandum, jagung, dan kacang mete di penyimpanan di penyimpanan (Attia et al. , 2017. Saad et al. , 2018. Hendrival et , 2019a. Mehta & Kumar, 2020. Hendrival et , 2. Sebaliknya, hama T. termasuk hama sekunder di tempat pengolahan dan penyimpanan tepung (Campbell et al. , 2010. Hendrival et al. , 2016. McKay et al. , 2019. Astuti et al. , 2. Kerusakan serealia oleh larva dan imago S. oryzae mencakup penyusutan berat penurunan kandungan karbohidrat, protein, dan vitamin serta membuat serealia rentan terhadap kontaminasi tungau dan cendawan (Zakladnoy, 2018. Okpile et al. , 2. Hendrival & Meutia . dan Hendrival & Melinda . melaporkan bahwa kerusakan beras dipengaruhi oleh kepadatan populasi dan periode penyimpanan. Kerusakan beras juga ditentukan jenis dan kadar air beras (Rini & Hendrival, 2017. Romadani & Hendrival Hendrival et al. , 2018. Annisa et al. , 2021. Hendrival et al. , 2022a. Nasution et al. , 2022. Susanti et al. , 2022. Hendrival et al. , 2022. Hama T. castaneum diketahui memiliki kemampuan bertahan hidup dengan baik pada berbagai jenis tepung (Ali et al. , 2011. Gerken & Campbell, 2. Musa & Lawal . dan Hendrival & Amanda . melaporkan bahwa castaneum dapat berkembang pada tepung jagung, beras, gandum, sorgum, dan biskuit. Kayode et al. dan El-Desouky et al. mengemukakan bahwa serangan yang berat dari T. castaneum pada tepung menyebabkan tepung tidak layak untuk dikonsumsi dan pertumbuhan jamur atau kapang yang menyebabkan tepung berwarna coklat. Larva dan imago merupakan stadia aktif makan dan menyebabkan kerusakan pada tepung (Perkin & Oppert, 2. Asosiasi antara S. castaneum, dan R. dominica dapat meningkatkan kerusakan sorgum dan gandum (Hendrival & Rangkuti, 2020. Hendrival et al. , 2022. Pengendalian hama S. oryzae dan T. castaneum dengan insektisida sintetik melalui Fumigasi dengan frekuensi dan dosis yang tinggi dapat menyebabkan dampak negatif seperti resistensi S. oryzae dan keracunan pada konsumen (Hendrival et al. , 2017a: Hendrival et , 2017. Jenis fumigan yang sering digunakan untuk mengendalikan metil bromida dan fosfin. Resistensi terhadap fosfin telah menciptakan tantangan besar untuk mengendalikan hama hama pascapanen lainnya di penyimpanan (Donahaye. Rani, 2012. Wakil et al. , 2. Oleh karena itu diperlukan pilihan pengendalian lainnya yang efektif terhadap hama S. oryzae dan castaneum tidak memiliki efek racun pada Pengendalian hayati merupakan sarana pengendalian alternatif yang layak dikembangkan untuk mengendalikan hama S. oryzae dan R. dominica yang telah dilaporkan resisten terhadap insektisida sintetik. Pengendalian hayati dilakukan dengan menggunakan musuh alami dari spesies serangga hama seperti parasitoid, predator, dan patogen Pemanfaatan patogen serangga seperti cendawan entomopatogen mempunyai prospek yang baik untuk mengendalikan hama pascapanen (Kavallieratos et al. , 2. Beauveria bassiana merupakan spesies cendawan entomopatogen yang memiliki banyak spesies serangga hama sebagai inangnya. Koloni cendawan Beauveria bassiana bewarna putih sehingga dikenal sebagai cendawan penyebab penyakit yang disebut dengan white muscardine fungus yang patogenik terhadap serangga sasaran (Bayu et al. , 2. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas B. untuk mengendalikan hama pascapanen seperti S. Rhyzopertha dominica. Acanthoscelides Callosobruchus Oryzaephilus Tribolium castaneum, dan Prostephanus truncatus (Abdel-Raheem et al. , 2015. Mantzoukas et al. , 2. Kajian penelitian tentang efektivitas cendawan B. terhadap S. oryzae dan T. castaneum sebagai tindakan pengurangan penggunaan insektisida sintetik di penyimpanan gabah dan beras. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas cendawan entomopatogen B. yang menyebabkan infeksi dan mortalitas pada imago S. oryzae dan T. Metode Penelitian Penelitian dilaksanakan dari Agustus samapi Nopember 2021 di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Malikussaleh. Propinsi Aceh. Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu cendawan B. bassiana, alkohol 70%, aquades. Potato Dextrose Agar (PDA), dan imago S. oryzae dan T. castaneum, beras merah, tepung gandum, serta media starter campuran berasAejagung. Alat yang digunakan yaitu autoclave, petridish, erlenmayer. Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 plastik tahan panas, jarum ose, timbangan analitik, bunsen, rak tabung reaksi, tabung reaksi, laminar air flow cabinet, oven, mikroskop, haemocytometer, dan aluminium foil. Pembiakkan serangga S. oryzae dan T. castaneum berdasarkan metode Hendrival & Meutia . dan Hendrival et al. Imago diinfestasikan ke dalam stoples plastik . inggi 12 cm dan diameter 15 c. dengan tingkat kepadatan populasi 40 pasang imago. Imago S. oryzae dipelihara dengan pakan beras merah sebanyak 250 g, sedangkan T. castaneum dengan pakan tepung gandum sebanyak 250 g. Pemeliharaan dilakukan dengan kondisi suhu 29Ae 32 0C dan RH 72Ae75%. Pemeliharan dilakukan selama empat minggu sesuai dengan siklus hidup kedua imago. Imago-imago dari stoples pemeliharaan dikeluarkan setelah empat minggu Beras merah dan tepung tersebut diinkubasikan kembali dengan pakan yang baru hingga didapatkan jumlah imago dengan umur yang seragam. Media starter yang digunakan untuk perbanyakan B. bassiana yaitu campuran beras dan Beras dan jagung tersebut dihancurkan secara terpisah dengan cara menggunakan blender, kemudian dibersihkan dengan air dan ditiriskan. Beras dan jagung dikukus secara terpisah dengan waktu yang berbeda. Beras dikukus selama 20 menit dan jagung selama 30 menit, kemudian kedua media tersebut dicampurkan dengan perbandingan 1:1 . g beras 100 g jagun. dan dikemas dalam plastik tahan panas. Sterilisasi menggunakan autoclave dengan suhu 121 oC selama 30 menit. Penanaman isolat B. pada media starter dilakukan diruang Laminar air flow cabinet. Potongan isolat B. dengan ukuran 1 cm2 diinokulasi pada media starter yang telah dikemas. Kantung plastik kemasan media starter dikembungkan, dilipat, dan direkatkan. Kemasan media starter tersebut diaduk dan diberi tanggal inokulasi serta disimpan selama 10Ae14 hari pada keadaan suhu ruangan 23 AC pada ruangan yang gelap. Media starter yang telah ditumbuhi miselium cendawan B. bassiana diambil dan dipisahkan dari media sebanyak 2 gram, kemudian dimasukkan kedalam tabung reaksi serta diberikan aquades sebanyak 9 ml kemudian dikocok dengan membenturkan tabung ke telapak tangan sampai media berasAejagung terpisah dari miselia cendawan. Setelah terpisah lalu dipindahkan kedalam tabung reaksi yang lain e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X sehingga tahapan ini menghasilkan tingkat pengenceran 10-1. Pada pengenceran 10-2 dilakukan dengan cara mengambil sebanyak 1 ml suspensi pada tingkat pengenceran 10-1 dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml aquades, demikian seterusnya dengan tahapan yang sama untuk mendapatkan pengenceran 10-3, 10-5, dan 10-7. Tujuan pengenceran bertingkat yaitu untuk memperkecil atau mengurangi jumlah mikroba yang tersuspensi dalam cairan. Aplikasi uspensi cendawan entomopatogen B. terhadap S. oryzae dan T. menggunakan suspensi sebanyak 5 ml per ulangan, karena pengaplikasian menggunakan botol dengan lebar 4 cm dan serangga uji yang digunakan sebanyak 20 imago maka sudah cukup untuk menutupi keseluruhan tubuh serangga uji Kerapatan spora pada setiap tingkat Haemocytometer dibawah mikroskop majemuk pada perbesaran 400x dengan menggunakan rumus Gabriel & Riyatno . sebagai berikut. Keterangan: : Kerapatan spora per ml larutan suspensi : Jumlah total spora dalam kotak sampel yang diamati : Jumlah kotak sampel yang diamati 0,25 : Faktor koreksi penggunaan kotak Haemocytometer Suspensi B. bassiana diaplikasikan dengan menggunakan metode dipping atau metode Imago S. oryzae dan T. diletakkan secara terpisah dalam botol kaca dan dimasukkan dengan 5 ml suspensi B. Volume suspensi B. bassiana yang digunakan berdasarkan perlakuan tingkat pengenceran, sedangkan pada kontrol hanya dengan aquades. Jumlah imago S. oryzae dan T. castaneum yang digunakan untuk setiap perlakuan tingkat pengenceran sebanyak 60 imago . imago per Imago-imago yang telah dicelupkan suspensi B. bassiana dibiarkan tergenang dalam suspensi selama 60 detik, kemudian imago tersebut diletakkan di permukaan kertas tissue. Imago S. oryzae tersebut dipelihara dalam cawan petri dengan makanan berupa beras merah sebanyak 10 g/cawan petri dan imago T. castaneum dipelihara di cawan petri dengan makanan berupa tepung gandum sebanyak 10 g/cawan petri. Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 Aplikasi cendawan entomopatogen B. bassiana pada imago dilakukan dengan metode pencelupan . ipping metho. Cendawan entomopatogen diencerkan menjadi tingkat pengenceran yaitu 10-1, 10-3, 10-5, dan 10-7. Suspensi yang telah diencerkan dituangkan kedalam botol kaca sebanyak 5 ml sesuai dengan tingkat pengenceran, sedangkan untuk kontrol menggunakan aquades sebanyak 5 ml. Imago S. oryzae atau T. castaneum dimasukkan sebanyak 20 imago per ulangan dan didiamkan selama 1 Mortalitas imago diamati sejak 1 sampai 14 hari setelah aplikasi cendawan. Mortalitas imago ditentukan dengan menggunakan rumus Mortalitas imago Keterangan: r = jumlah imago S. oryzae atau T. yang mati n = jumlah imago S. oryzae atau T. Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan tingkat pengenceran suspensi cendawan B. bassiana yang terdiri dari 10-1, 10-3, 10-5, 10-7, dan kontrol . Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis Perbandingan rata-rata perlakuan menggunakan uji DuncanAos Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 0,05. Hubungan antara pengenceran suspensi cendawan dengan waktu kematian imago ditentukan dengan analisis probit dengan menggunakan program POLO-PLUS. Nilai LT50 ditetapkan setelah waktu kematian imago mencapai lebih dari 50% pada setiap pengenceran suspensi. e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X dari cendawan B. baasiana sehingga kemampuan virulensi menjadi rendah. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa aplikasi cendawan entomopatogen B. bassiana menyebabkan mortalitas imago terpaut pengenceran suspensi (Tabel . Cendawan B. bassiana efektif untuk mengendalikan hama S. oryzae dan T. di penyimpanan. Hasil penelitian Kavallieratos et . dan Yassin et al. juga memperlihatkan bahwa cendawan B. memiliki tingkat mortalitas yang tinggi pada imago S. oryzae dibandingkan dengan cendawan Isaria fumosorosea dan Metarhizium anisopliae. Hasil penelitian Raya et al. Golshan et al. Artia et al. , dan Afifah et al. juga memperlihatkan bahwa B. dapat menyebabkan kematian pada imago S. oryzae dan T. Patogenisitas cendawan bassiana pada imago S. oryzae lebih tinggi dari S. granarius (Mantzoukas et al. , 2. Khashaveh et al. menyatakan bahwa imago S. granarius lebih rentan terhadap B. bassiana karena menyebabkan mortalitas yang tinggi dibandingkan dengan imago T. dan Oryzaephilus surinamensis. Penilaian hubungan waktu kematian dari cendawan entomopatogen B. bassiana terhadap mortalitas imago S. oryzae dan T. dinyatakan dengan LT50 (LT: lethal tim. Hubungan tersebut ditentukan dengan analisis Nilai LT50 merupakan waktu kematian setelah aplikasi cendawan entomopatogen B. bassiana yang menyebabkan mortalitas mencapai 50% dari populasi S. oryzae dan T. Penentuan nilai LT50 dilakukan pada pengenceran suspensi yang menyebabkan mortalitas telah mencapai 50% pada imago kumbang bubuk beras dan kumbang tepung merah yaitu pengenceran 10-1 dan 10-3, sedangkan pada tingkat pengenceran suspensi 105 dan 10-7 menyebabkan mortalitas dibawah 50% (Tabel . Berdasarkan hasil analisis probit diketahui bahwa pada pengenceran 10-1 menyebabkan mortalitas S. oryzae dan T. castaneum mencapai 50% terjadi pada 8,46 dan 9,67 hari, sedangkan pada pengenceran 10-3 terjadi pada 11,49 dan 12,53 hari. Nilai LT50 dari pengenceran 10-1 lebih rendah dibandingkan dengan pengenceran 10-3 pada kedua imago (Tabel . Berdasarkan hasil perbandingan nilai LT50 diketahui bahwa waktu kematian dari cendawan B. bassiana pada imago S. oryzae lebih rendah dibandingkan pada imago T. Cendawan B. bassiana memiliki laju infeksi yang tinggi pada imago S. oryzae daripada imago T. Hasil dan Pembahasan Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa aplikasi cendawan entomopatogen B. berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas imago S. oryzae dan T. castaneum (Tabel . Mortalitas pada kedua imago mulai terjadi pada 4 HSA. Aplikasi cendawan B. bassiana pada tingkat pengenceran 10-1 menyebabkan mortalitas yang paling tinggi diantara tingkat pengenceran Pada tingkat pengenceran suspensi 10-1 dapat menyebabkan mortalitas imago S. lebih tinggi yaitu 91,67% daripada T. yaitu 75%. Pengenceran suspensi 10-3 sampai 107 memperlihatkan penurunan mortalitas pada kedua imago. Penurunan mortalitas terjadi karena terjadinya penurunan jumlah propagul e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 Pada pengenceran 10-1 yang memiliki kerapatan spora paling banyak membutuhkan waktu yang yang singkat untuk menyebabkan kematian kedua imago dibandingkan dengan pengenceran 10-3 dengan kerapatan spora yang rendah (Tabel . Tabel 1. Pengaruh pengenceran suspensi cendawan entomopatogen B. bassiana terhadap mortalitas imago mortalitas imago S. oryzae dan T. Hama F hitung Pengenceran Kontrol Kontrol F hitung 4 HSA 0,00 a 6,67 b 0,00 a 0,00 a 0,00 a 36,18** <0,000 0,00 a 6,67 b 1,67 a 0,00 a 0,00 a 8,95** <0,002 6 HSA 0,00 a 25,00 d 10,00 c 6,67 bc 3,33 b 29,58** <0,000 0,00 a 20,00 d 11,67 c 5,00 b 0,00 a 24,54** <0,000 Mortalitas imago 8 HSA 10 HSA 0,00 a 0,00 a 41,67 e 61,67 e 20,00 d 38,33 d 16,67 c 26,67 c 10,00 b 16,67 b 409,27** 383,66** <0,000 <0,000 0,00 a 0,00 a 35,00 e 51,67 e 25,00 d 35,00 d 15,00 c 25,00 c 6,67 b 16,67 b 108,21** 233,84** <0,000 <0,000 12 HSA 0,00 a 81,67 e 56,67 d 36,67 c 26,67 b 609,74** <0,000 0,00 a 63,33 e 45,00 d 35,00 c 26,67 b 372,92** <0,000 14 HSA 0,00 a 91,67 e 66,67 d 48,33 c 28,33 b 570,20** <0,000 0,00 a 75,00 e 56,67 d 43,33 c 30,00 b 1353,79** <0,000 Keterangan: angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada tabel yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 0,05 Tabel 2. Pendugaan parameter hubungan waktu kematian dari pengenceran suspensi cendawan entomopatogen B. bassiana dengan mortalitas imago S. oryzae dan T. Hama Pengenceran Intersep garis probit dan galat baku -4,758 A 0,334 -5,323 A 0,430 -4,755 A 0,343 -4,582 A 0,377 Tabel 3. Kerapatan berdasarkan pengenceran suspensi Pengenceran suspensi Kemiringan regresi . probit dan galat baku 5,134 A 0,354 4,989 A 0,432 4,945 A 0,358 4,280 A 0,383 LT50 . 8,46 . ,066Ae8,. 11,49 . ,87Ae12,. 9,15 . ,70Ae9,. 11,79 . ,05Ae12,. tergantung pada jenis serangga uji. Mortalitas yang tinggi pada imago kumbang bubuk beras berkaitan dengan daya tahannya terhadap Imago S. oryzae yang rentan mempengaruhi virulensi cendawan B. pada berbagai perlakuan pengenceran suspensi. Virulensi tergantung pada jumlah spora cendawan entomopatogen pada serangga inang. Cendawan entomopatogen yang mempunyai virulensi tinggi biasanya memiliki periode letal yang singkat dan dapat membunuh inangnya dengan cepat serta meningkatkan mortalitas pada Hasil penelitian memberikan informasi bahwa virulensi yang tinggi disertai dengan meningkatkan mortalitas yang terjadi pada imago oryzae dan T. Virulensi cendawan dan mortalitas imago berkaitan dengan karakter biologi dari cendawan B. bassiana, sedangkan Kerapatan spora B. 1360,64 x 106 107,2 x 106 32,8 x 106 18,4 x 106 Cendawan entomopatogen B. memiliki laju infeksi yang tinggi pada imago S. oryzae sehingga mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan pada imago T. Perbedaan laju infeksi menyebabkan perbedaan mortalitas pada kedua imago. Perbedaan ini entomopatogen B. bassiana menyebabkan mortalitas dengan periode letal yang berbeda e-ISSN : 2621-7236 p-ISSN : 1858-134X Jurnal Agrotech 13 . Desember 2023 mortalitas kedua imago berkaitan dengan kerentanan imago tersebut terhadap cendawan B. Hasil pengamatan menujukkan bahwa tidak semua imago kumbang bubuk beras dan kumbang tepung merah yang terinfeksi cendawan bassiana dan mati terlihat ditumbuhi miselium cendawan pada suhu 28 0C. Miselium cendawan bassiana akan terlihat pada tubuh imago terjadi pada 20Ae23 hari setelah inkubasi. Proses infeksi sampai terjadinya kematian pada imago memerlukan waktu berkisar antara 3 sampai 14 hari setelah aplikasi. Proses infeksi tersebut terjadi melalui empat tahapan yaitu inokulasi, germinasi, penetrasi, diseminasi, dan kolonisasi (Dannon et al. , 2. Proses infeksi inang akan terjadi setelah adanya kontak dengan tubuh inang kemudian konidia berkecambah membentuk hifa penetrasi yang akan menembus kutikula S. dan T. Hifa yang berada dalam tubuh serangga tersebut akan berkembang di dalam tubuh imago. Miselium cendawan B. yang bewarna putih akan menembus kutikula pada tubuh imago S. oryzae dan T. sehingga tubuh serangga mati mengeras seperti Jika kondisi lingkungan kurang menguntungkan bagi cendawan, maka cendawan hanya berlangsung di dalam tubuh serangga tanpa menembus kutikula imago tersebut. Periode waktu yang dibutuhkan cendawan entomopatogen untuk kematian serangga tergantung dari virulensi isolat, faktor serangga yang terdiri umur dan stadia maupun proses ganti kulit, dan faktor lingkungan seperti temperatur, kelembaban, dan angin (Chandrasekharan & Nataraju, 2. Cendawan B. bassiana juga menghasilkan toksin yang meracuni serangga inang hingga menyebabkan kematian. Beragam toksin yang dihasilkan cendawan B. bassiana seperti beauvericin, bassianin, bassiacridin, bassianolide, cyclosporine, dan tenellin yang merusak sistem syaraf, menggagalkan proses ganti kulit dan mengakibatkan kematian serangga inang (Behie et al. , 2015. Vikhe et al. Jaber & Ownley. Bayu et al. , 2. Beauverizin merupakan toksin yang sangat berperan dalam infeksi Beauvericin sangat toksik membunuh tungau Tetranychus urticae (Al Khoury et al. , 2. Senyawa bassianolide juga mampu membunuh larva S. litura (Lepidoptera. Noctuida. hingga mencapai 100% (Petlamul & Prasertsan, 2. Sementara itu, senyawa bassiacridin dilaporkan cukup toksik membunuh serangga Locusta migratoria (Orthoptera: Acridida. (Keswani et , 2. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa cendawan entomopatogen B. memiliki kemampuan untuk mengendalikan hama S. oryzae dan T. Informasi ini pengendalian hayati pada hama pascapanen lainnya di penyimpanan. Kesimpulan Cendawan entomopatogen B. lebih efektif menyebabkan infeksi dan mortalitas pada imago S. oryzae dibandingkan imago T. Mortalitas pada imago S. oryzae lebih tinggi terjadi pada dengan pengenceran 10-1 sebesar 91,67%, sedangkan pada imago T. castaneum hanya mencapai 75%. Periode letal pada pengenceran 10-1 lebih singkat dari pengenceran 10-3 pada kedua imago. Daftar Pustaka