Jurnal Siti Rufaidah Volume 3. Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 DOI : https://doi. org/10. 57214/jasira. Tersedia: https://journal. org/index. php/JASIRA Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Siti Maulida Rahmah. Muhsinin. Sukarlan. Suci Fitri Rahayu Program Studi S1 Keperawatan. Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin. Jl. Parman Kompleks RS Islam. Ps. Lama. Kec. Banjarmasin Tengah. Kota Banjarmasin. Kalimantan Selatan,Indonesia, 70114 Penulis Korespondensi : mmaulida282@gmail. Abstract. Stunting is a growth failure condition in toddlers caused by chronic malnutrition, particularly during the critical first 1,000 days of life. This condition is influenced by various factors, including maternal education and feeding practices. This study aims to analyze the relationship between maternal education level and feeding patterns with the incidence of stunting among toddlers in the working area of the Pekauman Community Health Center. Banjarmasin City. The research employed a quantitative design with a cross-sectional approach. The population consisted of mothers with toddlers, with 66 respondents selected through accidental sampling. Data collection was carried out using structured questionnaires and documentation studies related to childrenAos nutritional status. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods, with the Spearman Rho test applied at a 0. 05 significance level. The findings revealed a significant relationship between maternal education level and stunting incidence . = 0. , suggesting that lower levels of maternal education were associated with higher stunting rates. Conversely, feeding patterns did not show a statistically significant relationship with stunting . = 0. , although descriptive data indicated that inappropriate feeding practices were common among respondents. The majority of mothers in this study had basic education . lementary to junior high schoo. , and a considerable number of toddlers were found to be stunted. Based on these results, it can be concluded that maternal education level plays an essential role in influencing stunting, while feeding patterns require further investigation with larger samples. The study recommends strengthening nutrition education and counseling programs for mothers, particularly those with low educational backgrounds, alongside regular monitoring of child growth and development by health professionals. Additionally, government efforts to expand access to health and nutrition information through easily accessible media are expected to contribute to stunting prevention and reduction strategies. Keywords: Feeding patterns. Maternal education. Pekauman Banjarmasin Community. Stunting. Toddlers Abstrak. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 000 hari pertama kehidupan. Salah satu faktor penyebabnya adalah rendahnya tingkat pendidikan ibu dan pola pemberian makan yang kurang tepat. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dan pola pemberian makan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah ibu yang memiliki anak balita, dengan sampel 66 responden yang dipilih secara accidental sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan studi dokumentasi status gizi anak. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Spearman Rho dengan signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan kejadian stunting . = 0,. , sedangkan pola pemberian makan tidak berhubungan signifikan . = 0,. Mayoritas ibu memiliki pendidikan dasar . d sampai sm. dan sebagian besar anak mengalami Disimpulkan bahwa tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap kejadian stunting, sedangkan pola pemberian makan tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Diperlukan peningkatan edukasi gizi bagi ibu melalui penyuluhan dan pemantauan tumbuh kembang anak oleh tenaga kesehatan, terutama bagi ibu dengan pendidikan Pemerintah diharapkan memperluas akses informasi kesehatan dan gizi melalui media yang mudah dipahami untuk mencegah dan menurunkan angka stunting. Kata kunci: Balita. Pendidikan ibu. Pola pemberian makan. Komunitas Pekauman Banjarmasin. Stunting Naskah Masuk: 23 Juni 2025. Revisi: 25 Juli 2025. Diterima: 24 Agustus 2025. Tersedia: 26 Agustus 2025 Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin LATAR BELAKANG Stunting adalah gangguan berkepanjangan yang disebabkan oleh kekurangan gizi, yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian mengenai stunting menunjukkan kondisi di mana terjadi gangguan pertumbuhan fisik, yang ditandai dengan pertumbuhan yang tidak optimal karena asupan gizi yang tidak memadai (Latief & Purnama. Menurut WHO, terdapat 162 juta anak di bawah 5 tahun di dunia, dengan 56% di antaranya berasal dari Asia. Dibandingkan dengan beberapa negara tetangga, angka prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi dibandingkan Vietnam . %). Malaysia . %), dan Thailand serta Singapura . %). Laporan Gizi Dunia menyebutkan bahwa Indonesia termasuk 17 negara dari 117 negara yang menghadapi tiga masalah gizi, yaitu stunting (Latief & Purnama, 2. Stunting sering terjadi pada anak berusia 24 hingga 35 bulan. Pada anak di bawah lima tahun, gejala stunting sering tidak langsung terlihat karena perbedaan antara anak stunting dan anak sehat pada usia tersebut tidak begitu mencolok. Masalah stunting lebih sulit diatasi jika anak sudah memasuki usia dua tahun (Fitriani & Darmawi, 2. Stunting terjadi karena beberapa hal, baik yang langsung maupun tidak langsung. Faktor langsung meliputi makanan yang tidak cukup, penyakit menular, berat badan dan panjang badan bayi saat lahir. Faktor tidak langsung meliputi keadaan pangan di rumah tangga, cara orang tua mendidik anak, tingkat pendidikan orang tua, serta layanan kesehatan yang diperoleh (Setiyawati et al. , 2. Pemantauan prevalensi kehamilan nasional pada tahun 2016 melebihi batas yang ditetapkan WHO, yaitu kurang dari 20%. Sebanyak sekitar 8,9 juta anak di Indonesia mengalami stunting, artinya satu dari setiap anak Indonesia mengalami pertumbuhan yang tidak normal. Lebih dari sepertiga anak balita di Indonesia berada di bawah standar rata-rata (Setiyawati et al. , 2. Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2023. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki prevalensi stunting sebesar 24,7%. Kota Banjarbaru memiliki prevalensi stunting sebesar 12,4%. Kota Tanah Bumbu memiliki prevalensi stunting sebesar 41,7%. Kotabaru memiliki prevalensi stunting sebesar 20,1%. Kabupaten Banjar memiliki prevalensi stunting sebesar 30,1%. Kabupaten Barito memiliki prevalensi stunting sebesar 15,9%. Kabupaten Tapin memiliki prevalensi stunting sebesar 14,4%. Kabupaten Tabalong memiliki prevalensi stunting sebesar 18,1%,sedangkan Kota Banjarmasin memilki prevelensi stunting sebesar 26,5% dimana lebih tinggi dibandingkan rata-rata prevalensi stunting di Provinsi Kalimantan Selatan (Yasmina, 2. Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 Hasil survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 21,6%, angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2021 yang sebesar 24,4%. Pemerintah juga menetapkan target penurunan angka stunting sampai 14% pada tahun 2022. Untuk mencegah stunting, pemerintah telah merencanakan beberapa upaya, seperti memberikan makanan tambahan (PMT) bagi bayi dan balita, mengadakan kampanye gizi, melakukan intervensi khusus seperti meningkatkan asupan nutrisi, memberikan ASI eksklusif, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta intervensi yang memperhatikan aspek sosial seperti meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat, meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan, serta promosi kesehatan secara umum (Sarwuna & Khoeriyah. Pendidikan ibu menjadi salah satu faktor penting dalam cara merawat, memberi makan, dan menjaga nutrisi anak. Hasil menunjukkan bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan rendah atau hanya dasar memiliki risiko mengalami stunting hingga 2,22 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang memiliki pendidikan lebih tinggi. Bayi yang berusia 0 sampai 2 tahun perlu mendapatkan semua kebutuhan gizinya dengan cara makanan yang sehat dan Pada anak yang mengalami stunting sejak masa awal kehidupan hingga usia lima tahun, terdapat risiko besar bahwa mereka tidak bisa mencapai potensi fisik, mental, dan kecerdasan maksimal saat usia dewasa. Faktor lain yang bisa memengaruhi terjadinya stunting pada balita adalah pendidikan Menurut BPS dalam "Analisis Perkembangan Anak Usia Dini Indonesia", pendidikan ibu mempengaruhi perkembangan fisik anak. Umumnya, persentase anak usia 24 sampai 35 bulan yang perkembangan kemampuan fisiknya sesuai dengan semakin tingginya tingkat pendidikan Pendidikan dihitung berdasarkan ijazah terakhir yang diperoleh dari pendidikan formal. Pendidikan ibu juga memengaruhi keterbukaan dan kemampuan menerima informasi. Ibu yang memiliki pendidikan tinggi terbukti lebih mampu menyerap informasi dari berbagai sumber. Sementara itu, ibu yang tidak berpendidikan atau hanya memiliki pendidikan dasar akan kesulitan mencegah stunting karena kurangnya kemampuan untuk memahami informasi terkait gizi bayi (Setiyawati et al. , 2. Penelitian (Susmita Sari et al. , 2. Mengatakan bahwa ada kaitan yang penting antara tingkat pendidikan ibu dengan stunting, dengan nilai p-value 0,000 dan risiko sebesar 3,3 kali. Penelitian (Holifah et al. , 2. Ada hubungan yang berarti antara stunting dengan tingkat pendidikan ibu, berdasarkan nilai p-value sebesar 0,018. Ibu yang memiliki pendidikan lebih tinggi cenderung lebih mudah dalam memutuskan apa yang harus diberikan kepada anaknya agar asupan gizi anak terpenuhi. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Karena itu, kurangnya gizi pada masa 1. 000 hari pertama kehidupan bisa menyebabkan gangguan pada pertumbuhan tinggi badan dan masalah perkembangan sel-sel otak. Pada saat 270 hari pertama masa kehamilan, yang dilanjutkan hingga 730 hari setelah lahir sampai usia 2 tahun atau 24 bulan, merupakan masa yang penting untuk pembentukan jaringan dan pematangan organ-organ yang menjadi dasar. Masa ini juga menjadi masa pembentukan potensi genetik anak hingga ia dewasa (Husnaniyah & Yulyanti, 2. Pola pemberian makan yang benar adalah cara memberi makan yang sesuai dengan jenis makanan, jumlah makanan, dan jadwal makan anak. Dari penelitian ini, sebagian besar orang tua sudah menerapkan pola pemberian makan yang tepat untuk anak balita yang mengalami stunting dan berbadan pendek. Hal ini karena pola pemberian makan yang dijelaskan dalam penelitian hanya mencerminkan kondisi anak balita saat ini, sedangkan menurut penelitian dari (Sari, 2. Status gizi balita stunting adalah akumulasi dari kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, sehingga tidak bisa langsung memengaruhi kondisi gizi balita. Kunci keberhasilan dalam memberikan gizi yang baik kepada anak terletak pada ibu. Pola makan yang baik sebelumnya sudah membentuk kebiasaan makan, sehingga pola pemberian makan pada hari tertentu tidak bisa langsung memengaruhi status gizi anak. Kunci keberhasilan dalam memberikan gizi yang baik kepada anak terletak pada ibu. Kebiasaan makan yang baik sangat bergantung pada pengetahuan dan keterampilan ibu dalam menyusun makanan yang memenuhi kebutuhan gizi (Najah & Darmawi, 2. Balita yang berusia 24 sampai 35 bulan kini tumbuh lebih cepat dan termasuk dalam kelompok yang paling rentan mengalami kekurangan gizi. Selama 2 sampai 3 tahun pertama, kelainan pertumbuhan linier atau lambatnya perkembangan mayoritas menunjukkan hubungan antara asupan gizi, energi, dan infeksi (Yasmina, 2. Sebelum melakukan penelitian di puskesmas Pekuman penelitian melakukan studi pendahuluan pada bulan November didapatkan data dari puskesmas Pekauman pada tahun 2023 pada kecamatan Pekauman berjumlah 15 anak yang mengalami stunting, kecamatan Kelayan Barat berjumlah 24 anak yang mengalami stunting,kecamatan Kelayan Selatan berjumlah 25 anak yang mengalami stunting,kecamatan mantuil berjumlah 72 anak yang mengalami stunting,kecamatan Basrih Selatan berjumlah 40 anak yang mengalami stunting. Pada tanggal 30 November 2024 tercatat data stunting di kecamatan Pekauman berjumlah 12 anak yang mengalami stunting, kecamatan Kelayan Barat berjumlah 22 anak yang mengalami stunting,kecamatan Kelayan Selatan berjumlah 22 anak yang mengalami stunting. Studi pendahuluan ini bertujuan untuk mencari informasi keadaan balita sebelum atau sesudah Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 mengalami stunting di puskesmas tersebut serta upaya meningkatkan pendidikan ibu dan pola pemberian makan tentang kejadian stunting dalam upaya mencegah stunting pada balita. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian di Puskesmas Pekaruman karena dari data yang ada belum ada penelitian yang menjelaskan pengaruh tingkat pendidikan ibu dan pola pemberian makan terhadap prevalensi kejadian stunting. Oleh karena itu, berdasarkan masalah tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian tentang AuHubungan Tingkat Pendidikan ibu dan pola pemberian makan dengan kejadian stunting di wilayah kerja upt puskesmas pekauman kota banjarmasin. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain analisis korelasi dengan pendekatan cross sectional yaitu pengukuran variabel penelitian yang dilakukan dalam satu waktu (Sugiyono, 2. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat pendidikan dan pola pemberian makan, sedangkan variabel dependen adalah kejadian stunting. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin pada bulan Juni hingga Juli 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita yang tercatat di Puskesmas Pekauman, dengan jumlah total 66 orang. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling dengan jenis accidental sampling yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui cocok dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti (Sugiyono, 2. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner. Untuk mengukur tingkat pendidikan ibu, mengukur pola pemberian makan dan kejadian stunting digunakan kuesioner yang telah dikembangkan berdasarkan teori, yang terdiri dari tiga sub variabel yaitu tingkat pendidikan ibu, pola pemberian makan, kejadian stunting. Untuk mengukur pola pemberian makan digunakan kuesioner dari skripsi yayuk . dan untuk mengukur kejadian stunting menggunakan studi dokumentasi dari rekam medik puskesmas. Data yang terkumpul dianalisis untuk mengetahui distribusi frekuensi masing-masing variabel menggunakan uji Sperman Rank untuk melihat hubungan tingkat Pendidikan ibu dengan kejadian stunting dan hubungan pola pemberian makan dengan kejadian stunting. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Pendidikan Ibu di Puskesmas Pekauman Banjarmasin Berdasarkan hasil penelitian terhadap tingkat pendidikan responden di wilayah kerja puskesmas pekauman banjarmasin sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi frekuensi tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Frekuensi (F) Persentase (%) Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Perguruan Tinggi Total Hasil tabel 1. menunjukkan tingkat pendidikan responden yang tertinggi adalah jenjang pendidikan Dasar berjumlah 38 orang . 6%) dan yang terendah adalah jenjang perguruan tinggi berjumlah 9 orang . ,6%) yang mendominasi dari penelitian ini. Pola Pemberian Makan di Puskesmas Pekauman Banjarmasin Berdasarkan hasil penelitian terhadap pola pemberian makan responden di wilayah kerja puskesmas pekauman sebagai berikut: Tabel 2. Ditribusi frekuensi pola pemberian makan responden Pola Pemberian Makan Frekuensi (F) Persentase (%) Tidak Sesuai Sesuai Total Hasil tabel 2. menunjukkan distribusi frekuensi pola pemberian makan pada responden sebagian besar di kategori sesuai berjumlah 60 orang . 91%). Kejadian Stunting di Puskesmas Pekauman Banjarmasin Berdasarkan hasil penelitian terhadap kejadian stunting responden di wilayah kerja puskesmas pekauman banjarmasin sebagai berikut: Tabel 3. Distribusi Frekuensi kejadian stunting Kejadian Stunting Stunting Tidak Stunting Total Frekuensi (F) Persentase (%) Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 Hasil tabel 3. menunjukkan distribusi frekuensi sebagian besar kejadian stuting responden pada kategori stunting sebanyak 45 orang . 18%). Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Berdasarkan hasil silang hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting responden di wilayah kerja puskesmas pekauman banjarmasin sebagai berikut: Tabel 4. Hasil Silang Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian Stunting Tingkat Pendidikan Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Perguruan Tinggi Total Sig: 0. Correlation Coefficient: -0,320 Kejadian Stunting Stunting 31,82 24,24 12,12 68,18 Tidak Stunting 25,76 4,55 1,51 31,83 Total Hasil tabel 4. menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan tingkat Pendidikan Dasar sebanyak 38 orang . ,58%) yang mengalami stunting sebanyak 21 orang . ,82%) dan tidak stunting sebanyak 17 orang . ,76%). Berdasarkan hasil uji coba pada tabel 4. 4 menunjukkan ada nya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja puskesmas Pekauman Banjarmasin. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikasi sebesar 0,009 (< 0,. dan Correlation Coefficient: -0,320 yang menunjukkan adanya hubungan yang artinya semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka kejadian stunting pada balita akan semakin rendah. Hal ini memiliki nilai korelasi yang lemah antara hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Hasil Hubungan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Berdasarkan hasil silang hubungan pola pemberian makan dengan kejadian stunting responden di wilayah kerja puskesmas pekauman Banjarmasin sebagai berikut: Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Tabel 5. Hasil Silang Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting Pola Pemberian Makan Tidak sesuai Sesuai Total Sig: 0. Kejadian Stunting Stunting Tidak Stuntimg 9,09 59,09 31,82 68,18 31,82 Total 9,09 90,91 Hasi tabel 5. menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan pola pemberian makan yang sesuai sebanyak 60 orang . ,91%) yang mengalami stunting sebanyak 39 orang . ,09%) dan tidak stunting sebanyak 21 orang . ,82%). Berdasarkan hasil uji coba pada tabel 3. 5 menunjukkan tidak ada nya hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting dengan nilai signifikan sebesar 0,081 (> 0,. Tingkat Pendidikan Ibu di Puskesmas Pekauman Banjarmasin Hasil analisa univariat pada tabel 4. 1 menunjukkan bahwa sebagian besar diketahui bahwa tingkat pendidikan dari responden penelitian ini yang tertinggi adalah tingkat pendidikan dasar sebanyak 38 orang . ,6%) dan yang terendeh perguruan tinggi berjumlah 9 orang . ,64%) yang mendominasi dari penelitian ini. Menurut penelitian oleh (NiAomah et al. , 2. tingkat pendidikan ibu yang rendah seperti hanya sampai jenjang SMP atau lebih rendah berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan risiko stunting pada anak-anak. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya pemahaman ibu terhadap praktik pemberian makanan yang benar, pengelolaan kesehatan anak, serta akses dan penggunaan layanan kesehatan. Ibu dengan pendidikan rendah juga cenderung memiliki pendapatan ekonomi yang lebih terbatas, yang berdampak pada ketersediaan makanan bergizi di rumah tangga. Penelitian oleh (Prasetyo et al. , 2. dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, disebutkan bahwa ibu yang berpendidikan rendah cenderung memiliki pengetahuan yang minim tentang pola makan seimbang. ASI eksklusif, dan pemberian MP-ASI yang tepat. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa anak-anak yang ibunya hanya tamat SMP memiliki prevalensi stunting yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tamat SMA atau perguruan Peneliti berasumsi bahwa rendahnya pendidikan ibu berpengaruh terhadap pengembalian keputusan dalam pemberian makan pada anak, termasuk pemilihan jenis makanan, frekuensi pemberi makan, dan cara pengolahan makanan yang sesuai dengan Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 kebutuhan tumbuh kembang anak. Pendidikan juga berkaitan erat dengan tingkat pemahaman terhadap pentingnya kunjungan ke posyandu, imunisasi, serta pencegahan penyakit infeksi yang berisiko memperparah kondisi gizi anak. Dengan demikian tingkat pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi status gizi. Intervensi untuk menurunkan prevalensi stunting sebaiknya juga melibatkan peningkatan pendidikan dan penyeluhuan kesehatan ibu. Pola Pemberian Makan di Puskesmas Pekauman Banjarmasin Hasil analisa univariat pada tabel 4. 2 diketahui bahwa pola pemberian makan dari responden penelitian ini yang tertinggi adalah pada kategori sesuai sebanyak 60 orang . ,91%). Menurut jurnal dari (Friyayi et al. , 2. yang berjudul "Hubungan Pola Pemberian Makan dengan Status Gizi Anak Balita di Posyandu Kelurahan Sukajadi", pola makan yang sesuai mencakup frekuensi, jenis makanan, dan waktu pemberian makanan yang sesuai dengan usia anak. Pemberian makan yang baik akan meningkatkan asupan gizi seimbang, terutama makronutrien dan mikronutrien penting seperti protein, zat besi, vitamin A, dan zinc yang dibutuhkan untuk mencegah gangguan pertumbuhan seperti stunting. Sedangkan menurut (Andriany et al. , 2. menegaskan pentingnya edukasi gizi yang terarah untuk penanganan stunting, terutama terkait pola makan seimbang, pemberian ASI eksklusif, dan MP-ASI yang tepat, yang dapat disalurkan melalui program berbasis masyarakat serta layanan kesehatan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin, peneliti menemukan bahwa masih banyak ibu yang belum menerapkan pola pemberian makan yang sesuai dengan rekomendasi gizi seimbang untuk anak balita. Hal ini terlihat dari data responden yang menunjukkan sebagian besar ibu memberikan makanan kepada anaknya tanpa memperhatikan kualitas gizi, frekuensi makan, serta variasi jenis Kejadian Stunting di Puskesmas Pekauman Banjarmasin Hasil analisa univariat pada tabel 4. 3 diketahui bahwa kejadian stunting dari responden penelitian ini yang tertinggi adalah pada kategori stunting sebanyak 45 orang . ,18%) sedangkan kategori tidak stunting sebanyak 21 orang . ,82%). Persentase kejadian stunting yang cukup tinggi ini mencerminkan bahwa masalah kekurangan gizi kronis masih menjadi isu serius di wilayah Kerja Puskesmas Pekauman. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Tingginya angka kejadian stunting pada anak balita sebagaimana terlihat dalam data penelitian ini, yaitu sebanyak 68,18% anak mengalami stunting, menunjukkan bahwa masalah gizi kronis masih menjadi tantangan serius di masyarakat. Menurut dalam jurnal (Intani et al. , stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun . 0 Hari Pertama Kehidupa. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi gizi yang tidak optimal pada masa tersebut berpengaruh besar terhadap kejadian stunting. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa stunting sangat berkaitan erat dengan faktor-faktor seperti tingkat pendidikan ibu, pengetahuan gizi, pola asuh, serta status ekonomi Anak-anak dari ibu yang berpendidikan rendah dan tidak memiliki pengetahuan cukup tentang gizi cenderung memiliki risiko stunting lebih tinggi karena asupan gizi yang diberikan kurang bervariasi dan tidak sesuai kebutuhan tumbuh kembang anak. Ini sejalan dengan tingginya angka kejadian stunting yang ditemukan dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin, ditemukan bahwa sebagian besar anak balita mengalami kejadian Hasil ini menunjukkan bahwa stunting masih menjadi permasalahan gizi kronis yang cukup tinggi di wilayah tersebut. Dari pengamatan langsung dan wawancara dengan responden, peneliti melihat bahwa kejadian stunting tidak hanya berkaitan dengan satu faktor saja, melainkan merupakan akibat dari kombinasi beberapa aspek, termasuk tingkat pendidikan ibu, pola pemberian makan, serta faktor lingkungan dan sosial ekonomi. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin Hasil analisa bivariat tabel 4. 4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan tingkat pendidikan dasar sebanyak 38 orang . ,6%) yang mengalami stunting sebanyak 21 orang . ,82%) dan tidak stunting sebanyak 17 orang . ,76%). Berdasarkan hasil uji coba pada tabel 4. 7 menunjukkan ada nya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja puskesmas Pekauman Banjarmasin. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikasi sebesar 0,009 (<0,. yang menunjukkan adanya hubungan negatif yang artinya semakin tinggi tingkat Pendidikan ibu maka kejadian stunting pada balita akan semakin rendah. Penelitian dari jurnal Indonesia oleh (Maryani, 2. dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, pendidikan ibu merupakan salah satu determinan penting dalam pencegahan stunting. Studi mereka menemukan bahwa ibu dengan pendidikan dasar memiliki Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 risiko lebih tinggi memiliki anak stunting dibanding ibu dengan pendidikan menengah atau Pengetahuan gizi yang kurang, rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif, dan pola makan yang tidak sesuai kebutuhan nutrisi menjadi penyebab utama. Pendidikan memberikan kemampuan ibu untuk memahami informasi kesehatan dan mengambil keputusan yang tepat untuk pertumbuhan anaknya. Dalam jurnal internasional oleh (Prasetyo et al. , 2. yang diterbitkan dalam The Lancet Global Health, disebutkan bahwa pendidikan ibu berperan penting dalam menentukan status gizi anak, terutama di negara-negara berkembang. Pendidikan yang lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan prevalensi stunting karena ibu lebih cakap dalam menggunakan sumber daya yang tersedia untuk kesehatan anak. Selain itu, ibu berpendidikan lebih terbuka dalam mengakses pelayanan kesehatan dan lebih sadar akan pentingnya pemantauan pertumbuhan anak sejak dini. Jelas bahwa pendidikan ibu menjadi faktor pelindung terhadap stunting. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas ibu memiliki tingkat pendidikan terakhir pada jenjang Sekolah Dasar, yaitu sebanyak 38 orang . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu belum mencapai jenjang pendidikan menengah atas atau pendidikan tinggi. Tingkat pendidikan ibu yang rendah dapat mempengaruhi pengetahuan, pemahaman, serta perilaku dalam hal pemberian asupan gizi kepada anak, yang secara tidak langsung dapat berkontribusi terhadap kejadian stunting. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Husnaniyah dkk. di wilayah kerja Puskesmas Kandanghaur. Kabupaten Indramayu, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 308 orang ibu yang memiliki anak balita dijadikan sampel melalui teknik accidental Hasilnya memperlihatkan bahwa sebagian ibu tidak menamatkan sekolah dasar. SMP, hingga perguruan tinggi, sementara kejadian stunting di antara anak-anak mereka mencapai 38,6 %. Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,005 (< 0,. , yang menandakan adanya keterkaitan yang signifikan antara rendahnya tingkat pendidikan ibu dan kejadian stunting pada anak-anak mereka (Husnaniyah et al. , 2. Ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya pemberian makanan yang bergizi, sanitasi, dan perawatan kesehatan Pendidikan juga dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam mengakses informasi terkait kesehatan dan gizi anak dari berbagai sumber, seperti tenaga kesehatan, media massa, atau Sebaliknya, ibu dengan pendidikan rendah mungkin memiliki keterbatasan dalam hal akses informasi dan pemahaman tentang pola makan seimbang serta pencegahan penyakit infeksi, yang merupakan faktor risiko terjadinya stunting. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Hubungan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Hasil analisa bivariat tabel 4. 5 menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan pola pemberian makan yang sesuai sebanyak 60 orang . ,91%) yang mengalami stunting sebanyak 39 orang . ,09%) dan tidak stunting sebanyak 21 orang . ,82%). Berdasarkan hasil uji pada tabel 4. 8 menunjukkan tidak ada nya hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting dengan nilai signifikan sebesar 0,081 (> 0,. Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh (Fitriana, 2. , yang menyebutkan bahwa pola makan saja tidak selalu menjadi penentu utama kejadian stunting. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ada faktor lain yang lebih berpengaruh, seperti status ekonomi keluarga, akses terhadap layanan kesehatan, riwayat penyakit infeksi, serta status gizi ibu selama Oleh karena itu, meskipun pola pemberian makan sudah sesuai, apabila aspek lainnya tidak terpenuhi, anak tetap berisiko mengalami stunting. Faktor penyebab keterlambatan atau stunting antara lain berat badan lahir rendah, jarak kelahiran, kecukupan gizi dan kejadian diare. Penyebab stagnasi gizi antara lain kurangnya asupan lemak dan kurangnya konsumsi kacang-kacangan dan makanan yang mana mengandung kuning telur serta keragaman makanan yang mana dikonsumsi. Penelitian (Amalia, 2. dalam jurnal "Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Balita di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Gondokusuman II Yogyakarta", menjelaskan bahwa pengetahuan dan praktik ibu tentang gizi tidak selalu tercermin dalam praktik harian pemberian makanan. Dalam beberapa kasus, meskipun ibu mengaku memberikan makanan sesuai waktu dan frekuensi, kualitas gizi dari makanan tersebut belum tentu memenuhi kebutuhan zat gizi mikro dan makro anak. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa pola pemberian makan yang "terlihat baik" secara kuantitas belum tentu memadai secara kualitas. Peneliti melihat bahwa ketidaksesuaian dalam pola pemberian makan bisa meliputi beberapa aspek, seperti frekuensi makan yang kurang, jenis makanan yang kurang bergizi, pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tidak sesuai usia, serta kurangnya keberagaman makanan. Hal ini sangat memengaruhi asupan zat gizi mikro dan makro yang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak, khususnya pada usia 0Ae5 tahun yang merupakan masa keemasan . olden ag. Faktor lain yang mungkin memengaruhi tidak adanya hubungan secara statistik adalah adanya variabel perancu . , seperti status ekonomi, tingkat pendidikan ibu, dan Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 akses terhadap pelayanan kesehatan. Ibu dengan pola makan yang kurang baik bisa jadi juga memiliki keterbatasan informasi atau pengetahuan gizi, namun jika anak tetap mendapatkan makanan bergizi dari sumber lain . isalnya program bantuan makana. , maka risiko stunting dapat ditekan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian terhadap 66 responden di Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman mengenai hubungan tingkat pendidikan dan pola pemberian makan dengan kejadian stunting, diperoleh bahwa sebagian besar ibu memiliki pendidikan dasar sebanyak 38 orang . ,6%) dan pola pemberian makan yang diberikan kepada anak mayoritas sesuai sebanyak 60 orang . ,91%). Kejadian stunting masih cukup tinggi, dengan 45 anak . ,18%) mengalami Analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan ibu dan kejadian stunting pada balita, dengan nilai signifikansi 0,009 (<0,. dan koefisien korelasi 0,320, sedangkan pola pemberian makan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan stunting . ilai signifikansi 0,081 >0,. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat teoretis dalam pengembangan ilmu keperawatan anak, khususnya terkait peran pendidikan ibu dan pola pemberian makan dalam pencegahan stunting. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi awal untuk mengkaji faktor-faktor lain yang memengaruhi stunting, seperti status ekonomi, sanitasi, atau infeksi penyakit, dengan cakupan wilayah dan variabel yang lebih luas untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif. DAFTAR REFERENSI Aliyati, & Nini. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu tentang stunting pada balita di Puskesmas Rasanae Timur Kota Bima. Andriany. Ahmar. , & Sianturi. Mitigating child stunting: Communitybased strategies in Maibo Village. Sorong Regency. Indonesia. Journal of Current Health Sciences, 5. , 91Ae96. https://doi. org/10. 47679/jchs. Anjani, & Sri. Penerapan pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu tentang stunting pada balita di wilayah kerja UPTD Puskesmas Rawat Inap Banjarsari Metro Utara. Arikunto. Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik (Edisi revis. PT Rineka Cipta. Dewi. Pengaruh kemampuan kerja, motivasi, dan pengembangan karier terhadap kinerja karyawan PT. Bina Buana Semesta. JEBI: Jurnal Ekonomi Bisnis Indonesia, 16. Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu dan Pola Pemberian Makan dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pekauman Kota Banjarmasin Dwi Kusumawati. Budiarti. , & Susilawati. Hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian balita stunting. JIKA, 6. , 2598Ae3857. Efriana. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu tentang stunting pada balita di Desa Balohan Kecamatan Sukajaya Kota Sabang. Fitriana. Hubungan umur ibu saat melahirkan dengan kejadian stunting pada balita usia 24Ae59 bulan di wilayah kerja Puskesmas. Friyayi. , & Wayan Wiwin. Hubungan pola pemberian makan dan pendapatan keluarga dengan kejadian stunting pada balita: Literature review. Borneo Student Research, 3. Hastuti. Rahmadi. Sumardilah. Mariani. , & Hakim. Optimalisasi pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita untuk mencegah stunting di Desa Trimodadi. Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 4. , 343Ae350. https://doi. org/10. 54082/jamsi. Holifah. Adhyanti, & Hafid. Pola asuh pemberian makan dan tingkat pendidikan pengasuh baduta stunting di wilayah kerja Puskesmas Tete. Sulawesi Tengah. Jurnal Diskursus Ilmiah Kesehatan, 1. , 35Ae47. https://doi. org/10. 56303/jdik. Husnaniyah. , & Yulyanti. Hubungan tingkat pendidikan ibu dengan kejadian The Indonesian Journal of Health Science, 12. Intani. Satriani, & Anshory. Relationship between knowledge of maternal nutrition and diet with nutritional status of toddlers in the work area of the Sidomulyo Health Center. Samarinda City. Formosa Journal of Science and Technology, 1. , 1069Ae1080. https://doi. org/10. 55927/fjst. Jariah. Yulia. , & Ulfa. Dampak stunting terhadap perkembangan kognitif Jurnal Ilmiah Cahaya Paud, 6. , 33Ae38. https://doi. org/10. 33387/cahayapdv6i1. Latief. , & Purnama. Hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 12Ae59 bulan. Jurnal Pendidikan Keperawatan dan Kebidanan, 1. Mangrove. Gambut. Yasmina. Lasari. Muhtar. Medyna. , & Firani, . Pendampingan pemetaan stunting di Puskesmas Pekauman dan Puskesmas Mantuil Kota Banjarmasin. Seminar Nasional Lahan Basah, 6. Maryani. Hubungan pola pemberian makan, pola asuh dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita usia 12Ae59 bulan di Desa Babakan Kecamatan Ciseeng Tahun 2022. SIMFISIS Jurnal Kebidanan Indonesia, 2. , 397Ae404. https://doi. org/10. 53801/sjki. Najah. , & Darmawi. Hubungan faktor ibu dengan kejadian stunting di Desa Arongan Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya. Jurnal Biology Education, 10. , 45Ae https://doi. org/10. 32672/jbev10i1. NiAomah. , & Muniroh. Hubungan tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, dan pola asuh ibu dengan wasting dan stunting pada balita keluarga miskin. Jurnal Siti Rufaidah - VOLUME 3. NOMOR, 3 AGUSTUS 2025 e-ISSN: 3032-1344. p-ISSN: 3032-1336. Hal 55-69 Prasetyo. Permatasari. , & Susanti. The effect of mothersAo nutritional education and knowledge on childrenAos nutritional status: A systematic review. International Journal of Child Care and Education Policy, 17. Springer. https://doi. org/10. 1186/s40723-023-00114-7 Rahmah. Desy. Theresia. , & Laili. Correlation of motherAos education and received stunting information with motherAos stunting knowledge. Journal of Nursing Care, 6. https://doi. org/10. 24198/jnc. Rohmah. , & Hudi. Implementasi program Au1-10-100Ay pemerintah Kabupaten Lamongan dalam upaya penanggulangan stunting di Kecamatan Sukodadi. Journal Publicuho, 7. , 1603Ae1611. https://doi. org/10. 35817/publicuho. Sari. Apriana. , & Hikmah. Hubungan pola pemberian makan dan tingkat pendidikan dengan kejadian stunting pada anak usia 12Ae59 bulan. Sarwuna. , & Salis. Hubungan pola asuh dan sanitasi lingkungan dengan kejadian stunting pada balita di Kelurahan Sawahan. Setiyawati. Ardhiyanti. Hamid. Ayu. Muliarta. , & Raihanah. Studi literatur: Keadaan dan penanganan stunting di Indonesia. IKRA-ITH Humaniora, 8. https://doi. org/10. 37817/ikraith-humaniora. Suseno. Hubungan pengetahuan, pola pemberian makan, dan status ekonomi keluarga terhadap status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Beringin Raya Kota Bengkulu. Poltekkes Kemenkes Bengkulu. Susmita Sari. Sartika. Alfiana Ikhwani. Lia Basuni. , & Hamzar. Hubungan pola pemberian makan dan tingkat pendidikan dengan kejadian stunting pada anak usia 12Ae59 bulan. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis, 17. https://doi. org/10. Wijayanti. Anik. , & Reny. Hubungan pengetahuan dengan sikap ibu hamil tentang pemanfaatan Buku KIA. Jurnal Asuhan Ibu dan Anak, 9. , 67Ae74. https://doi. org/10. 33867/c2byzp04 Yasmina. Pendampingan pemetaan stunting di Puskesmas Pekauman dan Puskesmas Mantuil Kota Banjarmasin.