JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehata. Volume 6. No. Agustus 2022. Page 47-54 ISSN: 2579-7913 PANTANG MAKANAN SAAT ANAK SAKIT SEBAGAI FAKTOR DOMINAN BALITA STUNTING Hieronimus Amandus*. Sudarto. Irma Triyani. Vitria Wuri Handayani. Edita Linda. Titi Alina. 1-4Prigram Studi Keperawatan. Poltekkes Kemenkes Pontianak. Indonesia 5Puskesmas Menjalin. Kabupaten Landak. Indonesia 6Puskesmas Karangan. Kabupaten Landak. Indonesia email:amandusherkulanus@yahoo. Abstrak Lingkungan sosial budaya yang diperkirakan masih kuat melekat di masyarakat menjadi salah satu penyebab tingginya kasus balita stunting di Kabupaten Landak. Tujuan penelitian mempelajari hubungan aspek sosial budaya dalam transcultural nursing terhadap kejadian balita stunting usia 24 Ae 59 bulan. Jenis penelitian observasional analisis dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu dan balita usia 24-59 bulan. Besar sampel 149 responden, pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisa data univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisa data bivariat menggunakan uji statistik chi square, regresi logistik sederhana dan t independent, sedangkan analisa data multivariat menggunakan uji statistik regresi logistik ganda model prediksi. Hasil penelitian yaitu jumlah anak di keluarga, usia ibu, tipe keluarga, pantang makanan saat anak sakit berhubungan dengan stunting berdasarkan analisa bivariat dengan p value < 0,05. Setelah dilakukan analisis multivariat, faktor pantang makan saat anak sakit merupakan faktor dominan dengan (Adjusted OR 2,. (CI 95% 1,2208-5,0. value 0,. Studi ini mengukuhkan bahwa perilaku seorang individu akan dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya setempat dimana individu tersebut tinggal dan menetap. Kata kunci: stunting, pantang makanan, transcultural nursing Abstract One of the reasons for the high rate of stunting cases in Landak Regency is the sociocultural context, which is thought to still be very strongly rooted in the community. The goal of the study was to ascertain how the occurrence of stunting in children between the ages of 24-59 months and socio-cultural characteristics of transcultural nursing relate to one another. Cross sectional observational analysis was used in this study. Mothers and toddlers between the ages of 24-59 months made up the sample population, and there were 149 respondents. Frequency distribution statistics were used in univariate data analysis, the chi-square statistical test in bivariate data analysis, t-independent simple logistic regression in multivariate data analysis, and multiple logistic regression statistical test prediction models in multivariate data analysis. The results of the study were the number of children in the family, maternal age, type of family, food taboo when the child was sick and related to stunting based on bivariate analysis with p value<0. After multivariate analysis was performed, the factor of abstinence from eating when the child was sick was the dominant factor with (Adjusted OR 2. % CI 1. -value 0. This study confirms that an individual's behavior will be influenced by the local socio-cultural environment in which the individual lives and settles. Keywords: stunting, food taboo, transcultural nursing -47- Hieronimus Amandus et. Pantang Makanan Saat Anak Sakit Sebagai Faktor Dominan Balita Stunting PENDAHULUAN Kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Pada tahun 2018 terdapat sekitar 21,9% atau 149 juta balita di dunia mengalami stunting, namun angka ini sudah dibandingkan dengan data stunting pada tahun 2017 yaitu sebesar 22,2% (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI, 2. Stunting merupakan masalah gizi utama yang akan memberikan dampak pada kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat (Supariasa dan Purwaningsih, 2. , stunting adalah indikator hasil dari memberikan suatu dampak kondisi jangka pendek dan jangka panjang (Takele. Zewotir dan Ndanguza, 2. Ada bukti secara ilmiah bahwa stunting juga dapat meningkatkan kematian dan kesakitan lebih tinggi dengan beberapa penyebab infeksi, sehingga pengaruh jangka panjangnya adalah timbulnya penyakit degenerative dan tubuh yang pendek di masa depan (Yustisia. Anmaru dan Laksono, 2. serta gangguan pertumbuhan (Novitasari. Destriatania dan Febry, 2. Jika dilihat dari umur balita kejadian stunting banyak terjadi pada balita usia 24-59 bulan daripada balita usia 0-23 Hal ini menurut Anisa dikarenakan pada usia 3-5 tahun atau yang bisa juga pertumbuhannya . rowth velocit. sudah melambat (Mentari dan Hermansyah, 2. Kabupaten Landak adalah salah satu dari 14 Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat yang memiliki prevalensi stunting tertinggi nomor dua setelah Kabupaten Ketapang berdasarkan data Riskesdas 2018 yaitu 42,3%. Provinsi Kalimantan Barat menduduki peringkat ke delapan tertinggi yaitu 33,8% dengan nilai rata-rata masih di atas nasional yaitu 30,8%, namun sama halnya dengan data global dan nasional untuk prevalensi stunting di Kalimantan Barat juga mengalami penurunan dari hasil Riskesda tahun 2013 yaitu 38,6%. Ada yang menarik dari data Riskesda 2018, dimana terjadi peningkatan kasus balita stunting di Kabupaten/Kota Provinsi Kalimantan Barat yang salah satunya adalah Kabupaten Landak, dimana Riskesdas tahun 2013 data balita stunting di Kabupaten Landak adalah 32,7% jika dibandingkan Riskesda 2018 yang naik menjadi 42,3% (Kemenkes RI, 2. Di Kabupaten Landak, prevalensi balita stunting tertinggi ada di Kecamatan Mempawah Hulu yaitu sebesar 49,2% dari 1014 jumlah balita yang diukur (Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Landak, 2. Banyak mempengaruhi kejadian balita stunting berdasarkan bukti ilmiah hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, seperti penelitian yang dilakukan oleh Wardani. Wulandari Suharmanto menyatakan faktor kerawanan pangan berhubungan dengan stunting. Penelitian lainnya menyatakan tingkat pendidikan, pembatasan asupan makanan selama kehamilan dan inisiasi menyusui dini (Nurbiah. Rosidi and Margawati, 2. Jenis kelamin laki-laki, ukuran kecil anak saat lahir, anak-anak dari rumah tangga miskin, pendidikan ibu yang rendah, dan kelahiran kembar memberikan pengaruh yang signifikan terjadinya stunting pada anak-anak di masa datang (Gebru et al. Penelitian yang sama dilakukan oleh Fitri . menyatakan BBLR dan ASI eksklusif berhubungan dengan stunting. Supariasa Purwaningsih . menyatakan faktor pendapatan keluarga, pemberian ASI eksklusif, besar keluarga, pendidikan ayah, pekerjaan ayah, pengetahuan gizi ibu balita, ketahanan pangan keluarga, pendidikan ibu balita, tingkat konsumsi karbohidrat balita, ketepatan pemberian MP-ASI, tingkat konsumsi lemak balita, riwayat penyakit infeksi balita, sosial budaya, tingkat konsumsi protein balita, pekerjaan ibu balita, perilaku kadarzi, tingkat konsumsi energi balita, dan kelengkapan imunisasi balita. Faktor lingkungan terutama lingkungan sosial budaya secara statistik memberikan kontribusi sebesar 40% untuk masalah mempengaruhi perilaku individu yang ada di keluarga, kelompok dan masyarakat. Selain dibentuk oleh faktor genetik, perilaku individu juga dibentuk melalui pengaruh Hieronimus Amandus et. Pantang Makanan Saat Anak Sakit Sebagai Faktor Dominan Balita Stunting lingkungannya tumbuh dan berkembang terutama lingkungan sosial budaya. Lingkungan sosial budaya yang di dalamnya terdapat struktur keluarga, struktur masyarakat, tradisi, norma dan nilai adat istiadat yang diperkirakan masih kuat melekat di masyarakat Kabupaten Landak dapat mempengaruhi perilaku individu, sehingga segala macam tindakan atau perbuatan yang dilakukan oleh individu di masyarakat harus melihat terlebih dahulu pada tradisi, norma dan nilai yang ada di masyarakat, apakah tindakan tersebut bertentangan atau tidak dengan tradisi, norma dan nilai yang ada di masyarakat, apalagi masyarakat di Kabupaten Landak masih kuat memegang adat dan istiadat Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh (Purwanti dan Nurfita, 2. menyatakan ada hubungan positip kejadian stunting dengan kontak dengan budaya pada balita di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan aspek sosial budaya dalam transcultural nursing terhadap kejadian balita stunting usia 24 Ae 59 bulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut responden penelitian baik dari anak maupun dari ibu. METODE PENELITIAN Jenis penelitian observasional analisis Populasi penelitian ini adalah ibu dan balita umur 24-59 bulan. Besar sampel dihitung menggunakan rumus estimasi proporsi satu populasi dan pengambilan sampel menggunakan simple random Besar sampel adalah 149 Peneliti menggunakan lembar kuisioner sebagai instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data aspek sosial budaya dalam transcultural nursing, sedangkan pengumpulan data stunting peneliti menggunakan alat pengukur meteran untuk mengukur TB/U kemudian penentuan stunting atau tidak stunting berdasarkan nilai Z Score. Analisa data univariat menggunakan statistik distribusi frekuensi, analisa data bivariat menggunakan uji statistik chi square, regresi logistik sederhana dan t independent, sedangkan analisa data multivariat menggunakan uji statistik regresi logistic ganda model Penelitian ini telah lulus uji etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) Poltekkes Kemenkes Pontianak dengan No. 014/KEPK-PK. PKP/II/2021. Tabel 2. Karakteristik Responden Penelitian Dari Ibu Tabel 1. Karakteristik Responden Penelitian Dari Anak Variabel Jenis kelamin anak Laki-laki Perempuan Usia anak 24 Ae 35 bulan 36 Ae 48 bulan 49 Ae 59 bulan Status stunting Tidak n = 149 Tabel 1 menunjukkan jenis kelamin anak sebagian besar . %) adalah laki-laki, usia anak hampir setengahnya . %) adalah 49-59 bulan dan sebagian besar . %) anak memiliki status stunting. Variabel Usia ibu < 21 tahun 21 Ae 35 tahun 36 Ae 50 tahun Pekerjaan ibu Ibu rumah tangga Petani Pegawai Swasta Pegawai Negeri Sipil Pendidikan ibu Tidak sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi n = 149 Tabel 2 menunjukkan usia ibu sebagian besar . %) adalah 21-35 tahun, pekerjaan ibu sebagian besar . %) adalah ibu rumah tangga dan hampir setengahnya . %) pendidikan ibu adalah SMA. -49- Hieronimus Amandus et. Pantang Makanan Saat Anak Sakit Sebagai Faktor Dominan Balita Stunting Tabel 3. Analisis Bivariat Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stunting Balita Usia 24 -59 Bulan n = 149 Stunting n = 102 Variabel Jumlah anak di keluarga Urutan anak di keluarga Pertama Kedua Ketiga Empat seterusnya Usia ibu 19 Ae 35 tahun 36 Ae 50 tahun Mencari pertolongan pengobatan Praktek Mandiri Puskesmas Percaya sakit karena mahluk halus Percaya Tidak percaya Pergi ke pengobatan alternatif Pernah Tidak pernah Pantang makanan saat anak sakit Ada Tidak ada Pantang makanan saat ibu hamil Ada Tidak ada Pantang keluar rumah setelah lahiran Ada Tidak ada Ibu sebagai akseptor KB Akseptor Bukan akseptor Keluarga sebagai anggota BPJS Anggota Bukan anggota Keluarga memiliki tabungan Ada Tidak ada Tipe keluarga Keluarga besar Keluarga inti * p value < 0,05 Tidak Stunting n = 47 p value 0,04* 0,06 0,00* 0,40 0,49 0,94 0,01* 0,54 0,60 0,49 0,08 0,67 0,02* Tabel 3 menunjukkan hasil analisis uji statistik bivariat bahwa faktor jumlah anak di keluarga, usia ibu, pantang makanan saat anak sakit dan tipe keluarga merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan dengan p value < 0,05. Hieronimus Amandus et. Pantang Makanan Saat Anak Sakit Sebagai Faktor Dominan Balita Stunting Tabel 4. Analisis Multivariat Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Stunting Balita Usia 24 Ae 59 Bulan n = 149 Variabel Jumlah anak di keluarga Umur ibu Urutan anak di keluarga Tipe keluarga Pantang makanan saat anak Keluarga sebagai anggota BPJS 0,58 0,60 0,46 0,06 0,02 Model Awal CI 95% 1,2298 0,5824-2,5968 0,9788 0,9029-1,0612 1,2219 0,7113-2,0989 0,4775 0,2204-1,0344 2,4021 1,1381-5,0698 0,01 0,14 0,4434 Tabel 4 menunjukkan bahwa faktor jumlah anak di keluarga, umur ibu, urutan anak di keluarga, tipe keluarga, pantang makanan saat anak sakit dan keluarga sebagai anggota BPJS yang diikutkan dalam analisis multivariat menggunakan uji statistik regresi logistik ganda model prediksi memberikan hasil faktor pantang makanan saat anak sakit merupakan faktor dominan yang dapat mempengaruhi stunting pada anak usia 24-59 bulan dengan p value 0,01 dan OR . Pantang makanan saat anak sakit mempunyai peluang 2,4 kali menyebabkan stunting pada anak usia 24-59 Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pantang makanan saat anak sakit sangat berpengaruh terhadap kejadian stunting balita usia 24-59 bulan. Pantang makanan merupakan nilai budaya yang ditetapkan oleh komunitas budaya tetapi terbatas oleh anggota komunitas tersebut saja. Pantang makanan saat anak sakit termasuk ke dalam nilai budaya yang tidak baik atau dapat merugikan kesehatan namun dibenarkan oleh masyarakat terkait. Jenis makanan seperti ikan dan telur dipercaya oleh masyarakat sebagai makanan yang tidak boleh dimakan jika anak sedang sakit. Pantang makanan saat anak sakit dapat menyebabkan intake nutrisi pada anak tidak terpenuhi sehingga anak menjadi stunting (Yustisia. Anmaru dan Laksono, 2. , oleh karena itu perlu adanya jenis makanan lain pengganti ikan dan telur sebagai alternatif pilihan lain yang bisa diberikan kepada anak sehingga kebutuhan gizinya bisa terpenuhi. 0,1481-1,3692 Model Akhir CI 95% 2,4761 1,22085,0225 Anak sakit haruslah mendapatkan nutrisi yang baik dari makanan yang dimakan oleh mereka, ini karena asupan energi dan zat gizi makro sangat berhubungan dengan status gizi pada anak (Ayuningtyas. Simbolon dan Rizal, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Kodish et al. menyatakan keputusan diet dalam rumah tangga bukan hanya berdasarkan ketersediaan dan adanya akses untuk memperoleh makanan tersebut, tetapi dipengaruhi oleh tradisi-tradisi lama dan norma sosial yang dianut oleh komunitas Kuatnya tradisi dan norma sosial terkait pantang makanan saat anak sakit di daerah tempat penelitian memberikan dampak yang tidak baik terhadap pertumbuhan dan perkembangan status gizi Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan anak usia 24-60 bulan yang tidak pantang makanan memiliki status gizi yang lebih baik dari pada anak yang pantang makanan (Susanti. Pambayun dan Febry, 2. Seorang perawat harus bisa mengubah budaya pantang makanan saat anak sakit di masyarakat dengan menggunakan strategi pendekatan transcultural nursing. Negosiasi atau rekontruksi budaya adalah dua cara strategi yang dapat dilakukan untuk mengubah perilaku pantang makanan saat anak sakit. Perawat membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan Negosiasi bisa dilakukan dengan memberikan paparan informasi melalui edukasi tentang pentingnya nutrisi bagi anak saat sakit kepada keluarga atau masyarakat, sehingga jika informasi yang diberikan dapat -51- Hieronimus Amandus et. Pantang Makanan Saat Anak Sakit Sebagai Faktor Dominan Balita Stunting diterima dengan baik, maka perawat dapat melakukan rekontruksi budaya dengan cara mengubah persepsi masyarakat tentang pentingnya makanan dalam pemenuhan nutrisi saat anak sakit. Hasil penelitian ini juga menemukan bahwa keluarga yang memiliki anak lebih dari 2 orang memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian stunting balita usia 24-59 bulan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Abate et al. yang menyatakan bahwa keluarga yang memiliki anak lebih dari 2 orang memiliki peluang lebih tinggi untuk terjadinya stunting dibandingkan keluarga yang memiliki anak kurang dari 2 orang. Penelitian lainnya yaitu ibu dengan anak lebih dari satu juga berhubungan dengan status stunting (Destriatania, 2. Temuan ini membuktikan bahwa semakin banyak anak di keluarga berarti kebutuhan biologis dan psikologis yang akan diberikan kepada anak. Jumlah anak yang banyak di keluarga memberikan potensi kurangnya perhatian orangtua kepada anak dalam pemenuhan status gizi mereka, namun hasil penelitian ini perlu penguatan lebih lanjut untuk melihat apakah status ekonomi pada keluarga berhubungan dengan stunting untuk keluarga yang memiliki anak lebih dari dua orang. Jumlah anggota di keluarga berkaitan juga dengan tipe keluarga yang ada di Hasil penelitian menunjukkan tipe keluarga nuclear family dan tipe keluarga extended family sama-sama berkontribusi positip pada kejadian stunting balita usia 24-59 tahun. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya menyatakan stunting berat berhubungan dengan besarnya jumlah anggota di keluarga (Siswati, 2. , dan tinggal dengan keluarga besar (Destriatania, 2. Kegagalan orangtua dalam memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis inilah yang akan menyebabkan anak kekurangan asupan gizi sehingga jika hal ini berlangsung dengan lama, maka akan berdampak kepada pertumbuhan dan perkembangan anak di kemudian hari. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Athavale et dukungan keluarga kepada ibu merupakan salah satu hambatan dalam pemberian Penelitian lain oleh Ickes et al. yang menyatakan bahwa ibu yang memiliki dukungan sosial yang tinggi kepada anak lebih mungkin dapat memberikan makan dan minum anak sesuai dengan frekuensi pemberiannya. KESIMPULAN DAN SARAN Faktor transcultural nursing berdasarkan sun rise model Leiningers dari 7 aspek yang diteliti hanya ada 2 aspek yang dapat mempengaruhi stunting balita usia 24-59 bulan yaitu Kinship and Social Factor seperti jumlah anak di keluarga, usia ibu dan tipe keluarga, sedangkan Cultural Value and Life Aways yang berpengaruh adalah pantang makanan saat anak sakit. Faktor sosial dan kekerabatan yang kuat melekat di masyarakat Indonesia sangat berpengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Penelitian lanjut diperlukan untuk mencari strategi yang tepat dalam mengatasi masalah seperti melakukan negosiasi atau rekontruksi budaya, seperti edukasi tentang pentingnya makanan yang memiliki nilai gizi penting bagi pertumbuhan anak atau melakukan intervensi mengganti makanan yang menjadi pantangan oleh masyarakat dengan makanan yang memiliki nilai gizi yang sama berbasis kearifan lokal. REFERENSI