JBEE : Journal Business Economics and Entrepreneurship http://jurnal. id/jurnal/index. php/bee JBEE Volume 6. No 2, 2024 Eksplorasi Hubungan Budaya Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai di Wilayah Perbatasan melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB) Maria Angela Siokalang1. Dedy2 Institut Shanti Bhuana. Kalimantan Barat E-mail: angelasiokalang@student. 1,2, Received: 01 Desember 2024. Accepted: 20 Desember 2024. Published: 31 Desember 2024 Abstrak Kinerja pegawai pada suatu organisasi merupakan cerminan dari kualitas organisasi itu Sebagai wilayah terdepan dan terluar, puskesmas di wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang diharapkan dapat menghasilkan kinerja pegawai yang baik, agar kualitas dari puskesmas juga dinilai baik berdasarkan tingkat akreditasi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini dapat menjadi upaya pemerintah untuk mencerminkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia yang baik kepada masyarakat sekitar maupun masyarakat di negara Malaysia. Penelitian ini mencoba untuk mengkaji eksplorasi Hubungan Budaya Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB). Partial Least Square diterapkan untuk menganalisis hasil dari data 104 kuesioner yang telah kembali, dengan SmartPLS 4. 0 sebagai media alat analisisnya. Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan bahwa secara statistik keseluruhan hipotesis diterima. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini hanya meneliti pada bidang kesehatan saja dengan terbatasnya variabel yang digunakan, sehingga belum dapat menggali informasi yang lebih urgensi di wilayah perbatasan. Kata kunci: Budaya Kerja. Kualitas Kehidupan Kerja. Kinerja Pegawai. Organizational Citizenship Behavior. Wilayah Perbatasan. Abstract The performance of employees in an organization reflects the quality of the organization As a border and outermost region, the health centers in the border areas of Bengkayang Regency are expected to have good employee performance, so the quality of the health centers is also considered good based on the accreditation level set by the This can be a government effort to reflect the quality of health services in Indonesia to the surrounding community and people in Malaysia. This study attempts to explore the relationship between work culture and quality of work life on employee performance through organizational citizenship behavior. Partial Least Square was used to analyze the results of 104 returned questionnaires using SmartPLS 4. 0 as the media analysis tool. Based on the results of the study, all hypotheses were statistically accepted. The limitations of this study were that it only examined the health sector with limited variables used, so it could not explore more pressing information in the border area. Keywords: Work Culture. Quality of Work Life. Employee Performance. Organizational Citizenship Behavior. Border Areas. PENDAHULUAN Kinerja merupakan salah satu aspek penting dalam pencapaian tujuan organisasi, maka setiap organisasi memperhatikan kualitas dari SDM yang 234 | Maria Angela Siokalang. Eksplorasi Hubungan Budaya Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB) ada agar menghasilkan kinerja yang Seiring bertambahnya waktu. SDM diakui sebagai masukan penting dalam penyelenggaraan layanan kesehatan. Hal ini dikarenakan sistem kesehatan sedang menghadapi reformasi dan transisi yang sulit seperti, perluasan sektor swasta, reformasi sektor publik dan layanan sipil, pertumbuhan migrasi internasional. HIV/AIDS, dll. Menilik beberapa tahun belakangan ini, pemerintah selalu memperhatikan para tenaga kesehatan khususnya di wilayah perbatasan, hal tersebut dikarenakan daerah perbatasan Daerah perbatasan memilliki berbatasan langsung secara darat dengan luar negeri. Kabupaten Bengkayang merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, namun pada kenyataannya wilayah perbatasan di Kabupaten Bengkayang infrastruktur, rendahnya kualitas SDM, kurangnya fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta kelangkaan sumber pangan (Marhayani & Indraswati, 2. Akibat dari fasilitas kesehatan yang kurang memadai baik itu di Ibukota kabupaten maupun di kecamatan Jagoi Babang, membuat masyarakat di wilayah perbatasan lebih memilih Kuching Malaysia kesehatan yang tersedia begitu juga (Suwartiningsih et al. , 2. Tak hanya itu adanya promosi dari Aumulut ke mulutAy dari pasien atas pengalamannya yang telah berobat di Rumah Sakit Kuching terhadap kualitas layanan kesehatan serta harga pengobatan yang lebih murah juga membuat masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah perbatasan lebih memilih untuk melakukan pengobatan di negara Malaysia (Supriyatni et al. , 2. Urgensi bidang kesehatan di wilayah perbatasan sangat perlu diperhatikan, adanya puskesmas di setiap kecamatan diharapkan mampu untuk meningkatkan dan menggerakkan program-program kesehatan sampai ke pelosok-pelosok desa. Kualitas mutu layanan dari puskesmas itu sendiri ditandai dengan tingkat akreditasi yang dimiliki oleh setiap puskesmas, karena akreditasi puskesmas itu sendiri adalah satu cara untuk meningkatkan mutu pelayanan puskesmas dan fasilitas Kabupaten Bengkayang memiliki 17 puskesmas di setiap kecamatan yang sudah terakreditasi. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bengkayang, tingkat akreditasi untuk puskesmas itu sendiri terbagi menjadi 4 kriteria yaitu Terakreditasi Dasar. Terakreditasi Madya. Terakreditasi Utama, dan Terakreditasi Paripurna. Namun puskesmas yang berada di kabupaten bengkayang mendapatkan hasil akreditasi dasar dan madya saja. Belum terdapat puskesmas yang terkareditasi utama ataupun paripurna. Akreditasi puskesmas dapat dikatakan adalah hasil dari kinerja organisasi itu sendiri, yang mana kinerja organisasi dihasilkan dari kinerja dari masingmasing pegawainya. Pada wilayah perbatasan terdapat beberapa puskesmas yaitu Puskesmas Jagoi Babang dan Puskesmas Siding, yang mana dari masing-masing puskesmas tersebut mendapatkan tingkat akreditasi Madya dalam artian tingkat kualitas mutu yang masih dalam posisi bawah pada standar fasilitas kesehatan. Terdapat beberapa penelitian yang menyatakan bahwa kinerja pegawai khususnya di bidang kesehatan dapat dipengaruhi oleh Budaya Kerja. Kualitas Kehidupan Kerja, dan juga OCB (Aktif Budiono. Ariyani et al. , 2016. Astuti & Soliha, 2021. Natasya & Awaluddin. Wulandari & Sholihin, 2. Idealnya Copyright A 2024 Institut Shanti Bhuana Bengkayang | e-ISSN 2656-9469. P-ISSN 2684-6829 JBEE : Journal Business. Economics and Entrepreneurship tercermin dari beberapa hal, seperti profesional, kualitas kehidupan kerja, budaya kerja, dan usaha yang dilakukan oleh tenaga kerja tersebut (Lubis, 2. Maka dari itu, untuk menghasilkan kinerja tenaga kesehatan yang baik perlu memperhatikan pengaruh dari budaya kerja serta kualitas kehidupan kerja di puskesmas wilayah perbatasan. Pada Puskesmas Jagoi Babang dan Puskesmas Siding selalu menjalankan 12 layanan indikator kesehatan sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2024 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Selain itu adanya pandemi Covid-19 dan virus lainnya, membuat bertambahnya pelayanan kesehatan yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan hal tersebut sebagai salah Puskesmas menghasilkan kualitas layanan yang baik, para tenaga kesehatan dituntut untuk secara optimal melaksanakan program-program kerja tersebut dan menjadikan hal tersebut sebagai budaya kerja di Puskesmas Siding dan Puskesmas Jagoi Babang. Menurut Hermawati . , mekanisme pengembangan budaya kerja diawali dengan kesepakatan terhadap nilai-nilai yang diyakini sebagai pilihan dasar, dan kemudian diinternalisasikan diimplementasikan pada aktivitas tugas serta dinamika organisasi. Beberapa faktor yang menyebabkan pegawai memiliki kinerja yang unggul adalah dengan adanya budaya kerja yang diterapkan dalam organisasi serta adanya sistem penghargaan yang diberikan oleh organisasi. Selain itu juga peraturan, budaya, sumber daya, hubungan antar rekan kerja, lokasi, serta faktor-faktor dari lingkungan internal dan external, yang mana dari semua hal JBEE Volume 6. No 2, 2024 | 235 itu merupakan beberapa cara yang dapat Kualitas kehidupan kerja itu sendiri merupakan suatu kualitas hubungan yang terjalin antara karyawan dan lingkungan kerja, yang mana dari suasana kerja yang positif terciptalah suatu kualitas kehidupan kerja yang kondusif dalam mencapai tujuan organisasi (Nanjundeswaraswamy & Swamy, 2. Budaya kerja dengan jam kerja yang panjang dan ekspektasi untuk selalu siap sedia juga menciptakan work family conflict bagi para pegawai terutama pegawai wanita (Padavic et al. Sistem kerja tenaga kesehatan juga memiliki jam piket, terlebih lagi Puskesmas Jagoi Babang merupakan puskesmas yang memiliki Instalansi Gawat Darurat (IGD) sehingga memiliki jam piket 24 jam. Terkadang tak sedikit beberapa tenaga kesehatan yang bersedia meluangkan waktunya untuk menggantikan jam piket rekan kerjanya apabila ada yang berhalangan. Selain itu, masih banyak tenaga kesehatan di puskesmas wilayah perbatasan yang bukan penduduk asli dari daerah tersebut sehingga mereka bersedia meninggalkan keluarganya untuk bekerja di wilayah Sebuah lembaga kesehatan akan memiliki kualitas pelayanan yang baik apabila tenaga kesehatan yang dimiliki oleh lembaga kesehatan tersebut mempunyai rasa tanggung jawab yang melebihi atas beban tugas pekerjaan dan secara sukarela memberikan waktu dan energi mereka agar pekerjaan yang ditugaskan dapat selesai dan berhasil (Kailola, 2019. Novelia Mery et al. Panggayuhan et al. , 2019. Putri & Utami, 2017. Tarigan et al. , 2. Berdasarkan pemaparan uraian permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji Kinerja dari tenaga kesehatan di wilayah perbatasan yang dapat dipengaruhi oleh Budaya Kerja. Kualitas Kehidupan Kerja melalui OCB. Copyright A 2024 Institut Shanti Bhuana Bengkayang | e-ISSN 2656-9469. P-ISSN 2684-6829 236 | Maria Angela Siokalang. Eksplorasi Hubungan Budaya Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB) METODE PENELITIAN Penelitian ini Kusumastuti et al. , . metode metode-metode untuk menguji beberapa teori tertentu dengan meneliti hubungan antar variabel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survey yang mana merupakan sebuah metode yang dilakukan dalam penelitian dengan populasi besar maupun kecil, dengan menggunakan data yang diambil dari populasi tersebut untuk kemudian diteliti sehingga ditemukan beberapa kejadian yang relatif, distribusi, serta sosiologis ataupun psikologis. Biasanya penelitian survey ini digunakan dalam mengambil suatu generalisasi dari suatu observasi yang tidak mendalam, namun generalisasi yang dilakukan akan lebih akurat apabila digunakan dengan sampel yang representatif (Unaradjan, 2. Penelitian ini mengambil lokasi di Puskesmas Kecamatan Jagoi Babang dan Puskesmas Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat. Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2024 sampai selesai. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer merupakan sumber data yang didapatkan langsung dari subyek yang berhubungan dengan penelitian ini. Menurut Unaradjan, . data primer merupakan data yang secara langsung diberikan kepada pengumpul data. Pada penelitian ini data diperoleh melalui observasi dengan cara wawancara dan juga pengisian kuesioner yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan di Puskesmas Jagoi Babang dan Puskesmas Siding. Sedangkan data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data (Unaradjan, 2. Data sekunder tidak perlu diolah kembali karena data ini telah diperoleh dan dihimpun oleh pihak lain. Data sekunder diperoleh peneliti dengan melakukan studi kepustakaan dan dari dokumendokumen yang terkait pengelolaan manajemen di Puskesmas Wilayah Perbatasan. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah pengambilan sampel yang menggunakan beberapa pertimbangan yang disesuaikan dengan kriteria yang diinginkan agar dapat mendapatkan jumlah sampel yang akan diteliti (Kusumastuti et al. , 2. Adapun yang menjadi kriteria dalam penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang sudah bekerja minimal selama 5 tahun, maka jumlah sampel yang digunakan dari Puskesmas Kecamatan Jagoi Babang dan Puskesmas Kecamatan Siding berjumlah 104 orang. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan aplikasi smart PLS HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan kepada para tenaga kesehatan di Puskesmas Jagoi Babang dan Puskesmas Siding yang berjumlah 104 orang. Berdasarkan kuesioner yang kembali, responden mengisi kuesioner tersebut dengan baik dan jelas sehingga dapat dengan layak untuk di analisis. Tabel 1 Data Responden Bidang Kerja Jumlah Puskesmas Siding Dokter Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker Farmasi Petugas Laboratorium Kesehatan Masyarakat Copyright A 2024 Institut Shanti Bhuana Bengkayang | e-ISSN 2656-9469. P-ISSN 2684-6829 JBEE : Journal Business. Economics and Entrepreneurship Kesehatan Lingkungan Gizi Jumlah Puskesmas Jagoi Babang Dokter Perawat Perawat Gigi Bidan Apoteker Farmasi Petugas Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kesehatan Lingkungan Gizi Jumlah Total Responden Teknik analisis SEM Ae PLS yang dibantu dengan alat analisis SmartPLS 0 dilakukan dengan 2 tahap analisis yaitu analisis model pengukuran . uter mode. dan pengukuran model struktur . nner mode. Selanjutnya analisis dan evaluasi model pengukuran . uter mode. dalam gambar hasil calculatePLS Algorithm sebagai berikut: Gambar 1. Model Pengukuran (Outer Mode. Setelah terpenuhi maka dilakukan evaluasi terhadap model struktural dengan melihat R-square yang merupakan uji goodness-fit model . ntuk melihat besarnya variabel eksogen secara bersama-sama/ JBEE Volume 6. No 2, 2024 | 237 Selanjutnya untuk melihat signifikansi pengaruh . ang dihipotesiska. dengan malihat koefisien parameter dan nilai signifikansi t statistik. Pengujian terhadap model struktural dengan cara melihat R-square, yaitu untuk menilai seberapa besar kontruk endogen dapat dijelaskan oleh kontruk endogen. Nilai R-square yang diharapkan yaitu sebesar 0 Ae 1. Nilai R-square dapat PLS,dalam hal ini nilai R-square sebesar 0,75 menunjukkan model PLS yang R-square 0,50 menunjukkan model PLS yang moderate dan nilai R Square sebesar 0,25 menunjuk kan model PLS yang lemah (Ghozali, 2. Hasil output SmartPLS dengan menggunakan calculate-PLS Algorithm sebagai berikut: Tabel 2. Hasil Uji Model Struktural R-square Variabel R-square Kinerja Pegawai OCB Hasil R-square pada tabel 2 menunjukan pengaruh Budaya Kerja. Kualitas Kerja dan OCB terhadap Kinerja Pegawai memberikan nilai sebesar 0,772, artinya variabel konstruk Kinerja Pegawai yang dapat dijelaskan oleh variabel konstruk Budaya Kerja. Kualitas Kehidupan Kerja dan OCB sebesar 77,2 %, sedangkan sisanya 22,8% dijelaskan oleh variabel lain Selanjutnya pengaruh variabel konstruk Budaya Kerja dan variabel konstruk Kualitas Kehidupan Kerja terhadap variabel konstruk OCB memberikan nilai Rsquare sebesar 0,713, artinya variabel konstruk OCB yang dapat dijelaskan oleh variabel konstruk Budaya Kerja dan Copyright A 2024 Institut Shanti Bhuana Bengkayang | e-ISSN 2656-9469. P-ISSN 2684-6829 238 | Maria Angela Siokalang. Eksplorasi Hubungan Budaya Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB) variabel konstruk Kualitas Kehidupan Kerja sebesar 71,3%, sedangkan sisanya 28,7% dijelaskan oleh variabel lain diluar yang diteliti. Untuk pengaruh Budaya Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai dan dimediasi oleh OCB yaitu dengan melihat nilai koefisien parameter dan nilai signifikansi t statistik. Nilai path coefficients bekisar antara -1 Semakin mendekati nilai 1 hubungan kedua konstruk semakin kuat, hubungan yang makin mendekati -1 mengindentifikasikan bahwa hubungan tersebut bersifat negatif (Sarstedt, 2. Hasil SmartPLS calculate-PLS Bootstrapping sebagai berikut: Tabel 3. Hasil Uji Signifikan Pengaruh Korelasi Antar Original T statistik Variabel BK -> Kinerja 0,241 BK -> OCB K3 -> Kinerja K3 -> OCB OCB -> Kinerja Pengaruh langsung dari setiap hipotesis di atas memiliki T Statistics yang lebih besar dari t tabel 1,666 . statistik > t tabe. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap hipotesis memiliki pengaruh yang signifikan dan positif dengan demikian dapat dikatakan bahwa korelasi antar masing-masing variabel sangatlah kuat. Hubungan Budaya Kerja dan Kinerja Hasil analisis yang menggunakan analisa jalur menunjukan koefisien jalur pengaruh langsung budaya kerja terhadap kinerja pegawai adalah sebesar 0,241. Hasilnya dapat diartikan bahwa variabel budaya kerja berpengaruh langsung terhadap variabel kinerja Dukungan puskesmas dalam membentuk budaya kerja yang baik akan meningkatkan kinerja pegawai. Semakin tinggi kesadaran suatu organisasi meningkatkan budaya kerja, maka semakin tinggi juga kinerja pegawai yang diperoleh organisasi tersebut, terbuktinya hipotesis ini mendukung hasil penelitian sebelumnya. Selain itu Sembiring & Winarto . juga pengaruh budaya kerja terhadap kinerja karyawan di rumah sakit milik Unit digunakan adalah 89 pegawai pada rumah sakit milik pemerintah di Kota Medan. Penelitian menyimpulkan bahwa budaya kerja memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai pada rumah sakit milik pemerintah di Kota Medan. Hubungan Kualitas Kehidupan Kerja dan Kinerja Pengaruh Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai adalah sebesar 0,384 variabel kualitas kehidupan kerja juga memiliki nilai t hitung yang lebih besar dari t tabel, yang berarti bahwa kualitas kehidupan kerja memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai di puskesmas wilayah perbatasan Kabupaten Bengkayang. Seperti yang dikatakan Daniel . dalam penelitiannya bahwa Kualitas Kehidupan Kerja berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja mempengaruhi pada kinerja organisasi itu sendiri, hal ini menunjukkan bahwa apabila suatu organisasi tersebut memiliki kebijakan yang baik terkait Copyright A 2024 Institut Shanti Bhuana Bengkayang | e-ISSN 2656-9469. P-ISSN 2684-6829 JBEE : Journal Business. Economics and Entrepreneurship kualitas kehidupan kerja dan menjadi sistem yang berkelanjutan maka segala gesekan ataupun kendala dapat dikelola dengan baik nantinya. Hubungan Budaya Kerja dan OCB Hasil analisis yang menggunakan analisis jalur menemukan bahwa koefisien jalur pengaruh langsung dari budaya kerja terhadap OCB adalah sebesar 0,330 dengan T statistic sebesar 2,526 yang mana lebih besar dari t tabel, hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh positif dan signifikan dari budaya kerja terhadap OCB, apabila diinterpretasikan semakin baik budaya kerja yang berkembang di puskesmas bengkayang maka semakin tinggi OCB dari pegawai puskesmas tersebut. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Rosdiana . yang menyimpulkan bahwa adanya pengaruh positif antara budaya kerja dengan OCB pada pegawai PT. Pegadaian Jawa Tengah, selain itu penelitian yang dilakukan Husodo . juga menemukan bahwa budaya kerja berpengaruh positif secara signifikan terhadap OCB. Hubungan Kualitas Kehidupan Kerja dan OCB Pegaruh langsung dari variabel Kualitas Kehidupan Kerja terhadap OCB memiliki koefisien jalur yaitu 0,542 dan T Statistics yaitu 3,951 yang mana lebih besar dari t tabel 1,666 . statistik > t tabe. Hal ini juga dapat diartikan bahwa Kualitas Kehidupan Kerja signifikan positif terhadap OCB, sehingga apabila semakin tinggi Kualitas Kehidupan Kerja dari para tenaga kesehatan di puskesmas wilayah perbatasan, maka semakin tinggi pula JBEE Volume 6. No 2, 2024 | 239 tingkat OCB dari para tenaga kesehatan Penelitian yang dilakukan oleh Andini . dengan studi kasus pada Guru SMA di Sleman, menghasilkan suatu temuan yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara kualitas kehidupan kerja dengan OCB hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi Kualitas Kehidupan Kerja yang dimiliki maka akan semakin tinggi pula perilaku OCB. Hubungan OCB dan Kinerja Pengaruh langsung OCB terhadap Kinerja Pegawai adalah sebesar 0,306 variabel kualitas kehidupan kerja juga memiliki nilai t hitung yang lebih besar dari t tabel yaitu sebesar 2,843, yang berarti bahwa terdapat pengaruh yang positif dari OCB terhadap kinerja pegawai, hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi OCB pegawai di puskesmas wilayah perbatasan maka akan semakin tinggi pula kinerja yang akan dihasilkan oleh pegawai tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh Sari et , . yang meneliti tentang Pengaruh Kepuasan Kerja. Komitmen Organisasi. Kepribadian Profesionalisme Dosen Terhadap Organizational Citizenship Behavior Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Dosen . tudi Universitas Palangkaray. mengatakan bahwa OCB berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Dosen, sehingga beliau berpendapat bahwa dosen yang memiliki OCB akan mendapatkan kepuasan emosional, sehingga secara tidak KESIMPULAN Atas hasil penelitian yang telah dijabarkan sebelumnya, memperlihatkan bahwa budaya kerja dan kualitas Copyright A 2024 Institut Shanti Bhuana Bengkayang | e-ISSN 2656-9469. P-ISSN 2684-6829 240 | Maria Angela Siokalang. Eksplorasi Hubungan Budaya Kerja dan Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Kinerja Pegawai melalui Organizational Citizenship Behavior (OCB) kehidupan kerja berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pegawai dan juga OCB, selain itu OCB juga berpengaruh terhadap kinerja pada tenaga kesehatan di puskesmas wilayah Berdasarkan hasil olahan data deskriptif menunjukkan masih banyak tenaga kesehatan yang merasa susah dalam mengambil cuti kerja, dimana indikator ini terdapat pada variabel kualitas kehidupan kerja oleh sebab itu peneliti ingin menyarankan kepada pihak puskesmas yang berada di wilayah perbatasan yang mana adalah Puskesmas Siding dan Puskesmas Jagoi Babang agar dapat mengkaji ulang terkait kebijakan puskesmas atau dinas yang terkait dalam pemberian cuti kepada para tenaga kesehatan agar kualitas kehidupan kerja dari para tenaga kesehatan khususnya yang berada di wilayah perbatasan dapat terjaga sehingga dapat meningkatkan kinerja dari para pegawai tersebut yang kemudian juga akan berdampak pada SARAN Berdasarkan peneliti menyarankan agar dapat mengembangkan penelitian ini dengan mempertimbangkan variabel lainnya seperti kepuasan kerja, work life balance, work family conflict, stress kepemimpinan, dan lingkungan kerja, yang mana variabel-variabel tersebut memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja dari layanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit. Kemudian diharapkan kepada peneliti melakukan penelitian terhadap bidang kesehatan saja namun mungkin dapat melakukan penelitian terhadap kinerja pegawai di wilayah perbatasan pada bidang pendidikan ataupun bidang Sehingga penelitian terkait Kabupaten Bengkayang dapat lebih berkembang dan hasil penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah kabupaten bengkayang REFERENSI