1253 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP OBJEK WISATA RELIGI PUJA MANDALA Oleh Solihin Mulyadi1. I Putu Budiarta2. Ida Ayu Ketut Sumawidari3 1,2,3 Politeknik Negeri Bali. Indonesia E-mail: 1solihinmoelyadi@gmail. com, 2putubudiarta@pnb. dayuketutsumawidari@pnb. Article History: Received: 25-09-2025 Revised: 26-10-2025 Accepted: 29-10-2025 Keywords: Persepsi. Wisatawan. Wusata religi. Puja Mandala Abstract : Penelitian ini mengkaji persepsi wisatawan terhadap keberadaan dan daya tarik wisata religi Puja Mandala di Nusa Dua. Bali. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, studi kepustakaan, wawancara mendalam dengan pengurus lembaga keagamaan, pemuka agama dari lima rumah ibadah, perwakilan wisatawan, serta kuesioner yang diisi oleh 100 responden. Analisis dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi tema utama terkait interaksi sosial dan pemanfaatan ruang lintas agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puja Mandala merepresentasikan kerukunan lima agama melalui keberadaan Masjid Agung Ibnu Batutah. Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Vihara Buddha Guna. Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa, dan Pura Jagatnatha. Sejak diresmikan pada tahun 2004, kompleks ini menjadi ikon wisata religi yang melengkapi citra Bali sebagai destinasi wisata alam dan budaya, sekaligus teladan harmonisasi antarumat beragama. Wisatawan mengapresiasi keberadaan lima rumah ibadah tersebut, pesona alam, serta kekayaan tradisi dan seni-budaya Bali. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertahankan dan memperkuat edukasi tentang kerukunan, toleransi, dan multikulturalisme di Puja Mandala untuk menginspirasi masyarakat luas. PENDAHULUAN Pariwisata telah menjadi industri terbesar dewasa ini, baik dilihat dari jumlah tenaga kerja yang terserap maupun dari jumlah dolar yang dihasilkan. Semakin banyak negara berkembang tertarik untuk mengembangkan sektor pariwisata, termasuk Indonesia. Di samping menjadi sumber devisa negara, pariwisata mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat (Pitana, dkk. , 2. Pada tahun 2009 tercatat sekitar 6,3 juta wisatawan mancanegara . yang berkunjung ke Indonesia, namun pada tahun 2019 jumlahnya meningkat pesat menjadi 16,1 juta wisman atau ada kenaikan sekitar 10 juta wisman dalam 10 tahun terakhir. Pendapatan dari sektor pariwisata pun terus menunjukkan kenaikan. Pada tahun 2018 jumlah Pendapatan Domestik Bruto dari sektor pariwisata menyentuh angka 16,426 miliar dolar AS. Berkembangnya industri pariwisata Indonesia berakibat pada meningkatnya jumlah lapangan pekerjaan yang terkait. Pada tahun 2008 tercatat 6,8% dari jumlah pekerja nasional adalah pekerja dari sektor pariwisata, namun pada tahun 2019 jumlahnya meningkat signifikan menjadi 11,83% dari total pekerja nasional. Dengan demikian industri pariwisata Indonesia telah memainkan peranan penting bagi a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. Pariwisata Bali menjadi sektor pembangunan yang terus dikembangkan untuk menunjang perekonomian masyarakat Bali. Perekonomian Bali didominasi oleh sektor pariwisata . ,78%), sektor pertanian . ,24%), sektor kelautan/perikanan . ,21%), sektor industri . ,63%) dan sektor lain sebesar 15,14% (Bapeda Bali, 2. Pengembangan pariwisata sebagai sektor pembangunan utama ini dilakukan karena Bali tidak memiliki sumber daya alam seperti migas, hasil hutan, maupun idustri manufaktur beskala besar seperti halnya yang dimiliki oleh daerah-daerah lainnya di Indonesia. Sektor pariwisata sengaja dipilih menjadi primadona sektor pebangunan demi menyejahterakan masyarakat di Pulau Dewata ini. Sebagai destinasi pariwisata dunia. Bali amat digemari wisatawan. Para pelancong yang berlibur di Bali dapat menikmati beragam objek dan atraksi wisata, baik yang bersifat alam maupun Wisata alam yang dapat dinikmati di Bali antara lain: . Wisata pantai . arine touris. Ae Kegiatan wisata di sekitar pantai yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana untuk berenang, memancing, menyelam, serta berbagai olahraga air lainnya. Fasilitas pendukung seperti akomodasi, restoran, dan tempat hiburan turut menunjang kegiatan ini. Wisata cagar alam . Ae Jenis wisata yang menonjolkan keindahan alam, kesejukan udara pegunungan, keunikan margasatwa langka, serta keragaman flora yang jarang ditemui di tempat lain. Agrowisata Ae Wisata yang berlangsung di kawasan pertanian, perkebunan, atau ladang pembibitan, di mana wisatawan dapat menikmati pemandangan alam, serta hasil segar pertanian seperti sayurmayur dan aneka buah lokal (Anshori, 2. Selain keindahan alam. Bali juga menawarkan wisata budaya, yang mencakup: . Peninggalan sejarah dan monumen Ae Termasuk situs kepurbakalaan, gedung bersejarah, kota dan desa tua, bangunan keagamaan, serta lokasi-lokasi bersejarah seperti bekas medan pertempuran yang menjadi daya tarik tersendiri. Museum dan benda purbakala Ae Candi serta peninggalan arkeologis lainnya yang merefleksikan kekayaan sejarah Bali. Tradisi budaya dan wisata etnik . thnic touris. Ae Menyajikan tradisi serta kehidupan masyarakat lokal yang unik dan menarik untuk dipelajari. Wisata religi . Ae Kunjungan ke objek-objek wisata yang terkait dengan kehidupan spiritual masyarakat, termasuk masjid kuno dan makam keramat di kampungkampung muslim Bali (Ardika, 2004. Anshori, 2. Saat ini, wisata religi menjadi salah satu tren yang berkembang. Wisatawan tidak hanya mencari kesenangan fisik, tetapi juga kesenangan batin. Wisata religi identik dengan aktivitas berbasis keyakinan dan nilai-nilai spiritual, dan kini telah menjadi bagian dari wisata budaya. Pergeseran tren kepariwisataan dari Ausun, sand, and seaAy menuju Auserenity, sustainability, and spiritualityAy menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual semakin menjadi pertimbangan dalam perjalanan wisata. Wisata religi berkaitan erat dengan kunjungan ke tempat-tempat suci, rumah ibadah, dan makam keramat. Di Bali, objek wisata religi tak lepas dari keberadaan umat Islam yang telah menetap sejak abad ke-14. Umat Islam tersebar di berbagai penjuru Bali dan telah hidup berdampingan, berbaur, serta berakulturasi dengan tradisi dan budaya lokal. Penelitian Pusat Arkeologi Nasional sejak 1980 menunjukkan keberadaan berbagai situs arkeologis umat Islam, seperti makam tua, masjid kuno, naskah klasik, serta pemukiman tua. Pembauran budaya dan kekerabatan antara umat Islam dan masyarakat lokal menunjukkan proses akulturasi yang damai dan harmonis. Berbagai peninggalan tersebut kini menjadi objek wisata budaya dan ziarah yang memperkaya daya tarik Bali. Pulau Bali tidak hanya menawarkan objek wisata alam dan budaya, tetapi juga wisata religi yang berakar pada sejarah dan kehidupan umat Islam di Bali. Ziarah, yang awalnya merupakan kegiatan spiritual, kini berkembang menjadi wisata ziarah . ilgrimage touris. Ai yakni perjalanan a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 yang berkaitan dengan agama, sejarah, adat istiadat, dan kepercayaan (Muliadi dkk. , 2. Objek wisata ziarah di Bali meliputi kampung-kampung muslim dan makam-makam keramat yang tersebar di berbagai kabupaten/kota. Di antaranya: . Kabupaten Klungkung: Kampung Muslim Gelgel. Kusamba, dan Toyapakeh. Kota Denpasar: Kampung Jawa. Kepaon, dan Pulau Serangan. Kabupaten Buleleng: Kampung Pegayaman dan Kampung Bugis. Kabupaten Jembrana: Kampung Loloan. Kabupaten Karangasem: Kampung Kecicang. Saren Jawa, dan Ujung Karangasem. Di lokasi-lokasi tersebut ditemukan peninggalan arkeologis berupa makam para leluhur muslim yang dimuliakan. Kini, kampung-kampung tersebut berkembang menjadi destinasi wisata ziarah yang menarik minat wisatawan. Selain situs bersejarah. Bali juga memiliki objek wisata religi kontemporer, yakni Kompleks Puja Mandala di kawasan Nusa Dua. Di kompleks ini berdiri lima rumah ibadah dari lima agama yang diakui di Indonesia, berdampingan secara harmonis. Puja Mandala menjadi simbol toleransi dan penguat identitas Bali sebagai destinasi wisata dunia. Artikel ini secara khusus membahas persepsi wisatawan terhadap keberadaan dan daya tarik wisata religi di Puja Mandala. METODE PENELITIAN Artikel ini merupakan hasil dari sebuah studi kualitatif yang bertujuan untuk memahami persepsi dan Kesan wisatawan terhadap obyek wisata religi Puja Mandala. Ciri utama studi kualitatif terletak pada pendekatannya yang eksploratif, interpretatif, dan kontekstual, dengan fokus pada makna, pengalaman, serta proses sosial yang terjadi di lapangan (Creswell, 2. Data penelitian diperoleh melalui tiga teknik utama, yaitu observasi langsung di lapangan, studi kepustakaan terhadap literatur yang relevan, serta wawancara mendalam dengan berbagai narasumberAitermasuk pengurus lembaga keagamaan di Puja Mandala, pemuka agama dari lima rumah ibadah, dan perwakilan wisatawan. Selain itu, data juga dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh 100 responden untuk mengetahui opini wisatawan terhadap objek wisata religi Puja Mandala. Seluruh data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan deskriptifanalitis untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari interaksi sosial dan pemanfaatan ruang lintas agama di kawasan tersebut. Penulisan laporan disusun secara naratif guna menghadirkan gambaran yang utuh, kontekstual, dan mendalam mengenai persepsi dan Kesan wisatawan terhadap obyek wisata religi Puja Mandala. HASIL DAN PEMBAHASAN Objek Wisata Religi Puja Mandala Objk wisata religi utama di Komplek Puja Mandala adalah berupa lima rumah ibadah, meliputi Masjid Agung Ibnu Batutah. Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Vihara Buddha Guna. Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa, dan Pura Jagatnatha. Kompleks Puja Mandala merupakan suatu destinasi wisata religi yang berada di kawasan Desa Adat Bualu. Kelurahan Benoa. Kecamatan Kuta Selatan. Kabupaten Badung. Kompleks Puja Mandala merupakan bagian dari Kawasan wisata Nusadua, terletak di delapan meter dari permukaan laut dengan curah hujan 2500 Mm selama lima bulan, dengan suhu rata-rata harian 28-29AC. Puja Mandala secara keseluruhan memiliki luas 2,5 hektare, masing-masing rumah ibadah diberikan jatah lahan yang sama, yakni seluas lebih kurang 0,5 hektare. Adapun tempat ibadah yang terdapat di Puja Mandala adalah Masjid Agung Ibnu Batutah. Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Vihara Buddha Guna. Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa, dan Pura Jagatnatha Nusa Dua. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Pertama. Masjid Agung Ibnu Batutah menempati lahan seluas 2325 M2 dengan bangunan seluas 1450 M2. Posisi Masjid Agung Ibnu Batutah berada di paling barat. Kompleks Puja Mandala. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 1994 dan diresmikan pada tahun 1997. Secara umum, ruang masjid ini bisa dibagi menjadi empat lantai. Lantai pertama, paling bawah difungsikan sebagai tempat parkir. Lantai dua terdapat toilet, tempat parkir, tempat parkir ambulans, dan tempat ibadah juga beserta ruangan kantor. Di lantai dua ini juga bisa dijadikan tempat kegiatan sosial-kemasyarakatan termasuk sunatan dan resepsi pernikahan. Lantai tiga terdapat ruang ibadah, ruang informasi dan tempat pemandian jenazah. Seperti lantai dua, di lantai tiga juga dimanfaatkan untuk kegiatan sosial-kemasyarakatan seperti kegiatan sunatan dan resepsi Lantai empat merupakan bangunan utama masjid sebagai tempat ibadah yang bangunannya mendapatkan bantuan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP). Jamaah Masjid Agung Ibnu Batutah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu jamaah tetap dan jamaah tidak tetap. Jamaah tetap Masjid Agung Ibnu Batutah adalah para pekerja di lingkungan Kawasan Nusa Dua dan sekitarnya serta umat Islam setempat. Selanjutnya jamaah tidak tetap Masjid Agung Ibnu Batutah adalah wisatawan muslim pengunjung Puja Mandala. Umumnya wisatawan melakukan sholat dhuhur dan sholat asar di Masjid Agung Ibnu Batutah ini. Kedua. Gereja Paroki Maria Bunda. Rumah ibadah umat Katolik ini menempati lahan seluas 2415 M2 dengan bangunan seluas 754 M2. Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa ini berada tepat di sebelah timur Masjid Agung Ibnu Batutah. Gereja ini memiliki arsitektur yang khas yaitu terdapat menara tunggal dengan dinding depan gevel yang mengikuti bentuk Bagian belakang gereja ini memiliki bentuk atap tumpang. Paroki Maria Bunda Segala Bangsa merupakan paroki dari Gereja Katolik Roma Keuskupan Denpasar yang berpusat di Benoa. Kuta Selatan. Gereja Paroki Maria Bunda Segala Bangsa mulai dibangun tahun 1994 dan diresmikan pada tahun 1997. Bangunan gereja umat katolik ini memiliki empat lantai. Lantai pertama, paling bawah terdapat ruangan orang muda Katolik. Lantai dua terdapat aula serbaguna, klinik, kamar tamu, perpustakaan, toilet. Di lantai tiga terdapat ruang sekretariat, koperasi, aula serbaguna, toilet, dan ruang Pastor. Selanjutnya di lantai empat, ada ruang ibadah. Umat Kristen yang beribadah di gereja Katolik ini adalah jemaat tetap, yakni para pekerja di lingkungan Kawasan Nusa Dua dan sekitarnya serta umat Katolik setempat, juga jemaat tidak tetap yakni wisatawan yang sedang berkunjung di gereja ini. Ketiga. Vihara Buddha Guna. Vihara Buddha Guna menempati lahan seluas 2741 M 2. dengan bangunan seluas 1375 M2 . Vihara Buddha Guna mulai dibangun sejak tanggal 20 Oktober 1994 dengan meletakkan batu pertama, dan peresmiannya tanggal 20 Desember 1997. Bangunan Vihara Buddha Guna memiliki tiga lantai. Di lantai pertama terdapat ruang ibadah yang diberi nama Dhammasala Velluvana, ruang Bhikkhu, ruang makan Bhikkhu, dan ruang Wisma Umat sebagai peristirahatan umat. Di lantai dua terdapat perpustakaan, ruang informasi, security, front office, ruang makan, dapur, ruang tidur tamu, dan ruang ibadah juga yang diberi nama 50 Dhammasala Dhammamandira. Di lantai tiga yang merupakan bangunan paling atas terdapat ruang utama yaitu tempat ibadah yang diberi nama Dhammahall. Terdapat beberapa ornamen dan patung yang menjadi bagian dari vihara ini. Di luar bangunan ini terdapat beberapa patung yang indah yaitu patung gajah putih di bagian depan, patung naga putih di bagian samping, serta terdapat patung Buddha. Bangunan tempat ibadah umat Buddha ini didominasi dengan warna emas dan putih. Selain itu, terdapat delapan lingkaran di sekeliling Buddha yang tampaknya melambangkan bahwa jika manusia ingin terlepas dari penderitaan maka harus melalui Jalan Utama Berunsur Delapan Sradha. Vihara ini selesai dibangun a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 pada tahun 2003. Umat buddha yang beribadah di vihara ini adalah para pekerja dan masyarakat di lingkungan Kawasan Pariwisata Nusa Dua serta wisatawan yang sedang berkunjung ke vihara ini. Keempat. Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa menempati lahan seluas 2251 M 2 dengan bangunan seluas 1519 M2. Posisi Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa berada di sebelah Timur Vihara. Geraja Protestan ini memiliki menara lonceng seperti Paroki Maria Bunda Segala Bangsa meskipun bentuknya berbeda. Tempat peribadatan umat Protestan ini terdiri atas bangunan utama dengan dua lantai berdinding marmer. Gereja umat Protestan ini dibangun pada tahun 1994 yang kemudian diresmikan tahun 1997. Gereja memiliki enam lantai. Di lantai pertama, paling bawah terdapat ruang doa. Lantai dua terdapat ruang kreasi. Lantai tiga terdapat ruang retreat. Lantai empat terdapat ruang Pastori (Rumah Pendet. Lantai lima terdapat ruang pertemuan dan Selanjutnya di lantai 6 terdapat ruang ibadah. Umat Kristen yang beribadah di Gereja Protestan Bukit Doa ini adalah jemaat tetap yang terdiri atas para pekerja di Kawasan Nusa Dua dan sekitarnya serta masyarakat Kristen setempat, juga jemaat gereja tidak tetap yakni wisatawan yang berkunjung di Puja Mandala. Selain persembahyangan (Kebaktia. rutin pada hari Minggu, gereja Protestan di Kompleks Puja Mandala ini juga memberikan pelayanan kepada wisatawan berupa paket perkawinan pasangan penganten, lengkap dengan pemberkatan dan doa bagi pasangan pengantin wisatawan asing yang berlibur di Bali. Kelima. Pura Jagatnatha menempati lahan seluas 2881 M 2 dengan bangunan seluas 1800 M2. Posisi Pura Jagat Natha Nusa Dua berada di paling timur Kompleks Puja Mandala. Pura Jagatnatha ini juga memiliki bentuk yang sama seperti pura di Bali pada umumnya. Bangunan ini tersusun dari batu berwarna hitam yang dilengkapi dengan gapura di pintu masuknya. Pura ini dibangun paling akhir dibandingkan keempat tempat peribadatan lainnya. Pura Agung Jagatnatha ini dibangun menghadap ke Gunung Agung Bali yang diyakini sebagai tempat dewa bersemayam Pura Jagat Natha Nusa Dua merupakan pura sosial (Pura Kahyangan Jaga. Pura ini diresmikan oleh Gubernur Bali Dewa Beratha pada tanggal 30 Agustus 2004. Pura Jagat Natha berstruktur seperti pura pada umumnya di Bali yaitu terdapat jaba pisan . alaman lua. , jaba tengah . alaman tenga. , jeroan . alaman dala. Di halaman luar terdapat bale kulkul, bale gong, wantilan, palinggih Apit Lawang. Di bagian halaman tengah terdapat bale pesantian, dan bale pawedaan. Di halaman bagian dalam terdapat Palinggih Padma. Pepetik, dan Penglurah. Umat Hindu yang melakukan persembahyangan di Pura Jagatnatha Nusa Dua adalah para pekerja di lingkungan kawasan pariwisata Nusa Dua dan sekitarnya. Persepsi Wisatawan Terhadap Puja Mandala Lima rumah ibadah di Kompleks Puja mandala. Nusadua telah menjadi objek wisata ziarah . di wilayah Bali Selatan yang menarik. Setidaknya ada tiga hal yang menarik di Kompleks Puja Mandala ini. Pertama, terdapat lima rumah ibadah yang didirikan dalam satu Kompleks Puja Mandala. Kedua, adanya kegiatan rutin peribadatan oleh kelima umat beragama secara damai dan Walaupun terkadang waktu kegiatan peribadatan bersamaan, namun peribatan masingmasing umat beragama tetap berlangsung secara hikmat. Antarumat beragama berupaya bekerja sama dan berkoordinasi secara harmonis, sehingga kegiatan peribadatan yang mereka laksanakan bisa dilangsungkan dengan hikmat. Ketiga, adanya praktik kerukunan dan toleransi antarumat Wisatawan yang sedang berkunjung ke Nusa Dua bisa menyempatkan untuk berkunjung ke Kompleks Puja Mandala untuk beribadah sekaligus melihat keindahan toleransi dan kerukunan di atas keberagaman. Lima rumah ibadah di Kompleks Puja Mandala telah menjadi objek wisata ziarah . yang banyak dikunjungi wisatawan. Setiap hari rata-rata terdapat 5 Ae 50 bus wisata ziarah yang a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 mampir di Masjid Agung Ibnu Batutah. Mereka singgah untuk mengambil objek foto sekaligus beribadah di masjid kebanggaan umat Islam di Kawasan Pariwisata Nusa Dua ini. Dengan situasi lingkungan Masjid Agung Ibnu Batutah yang aman, serta fasilitas yang memadai, maka wisatawan yang berkunjung bisa melaksanakan ibadah sholat dhuhur atau asar dengan nyaman. Wisatawan muslim yang berkunjung ke Bali, terutama yang memiliki kegiatan MICE (Meetings. Incentives Conferences and Exhibition. di Kasawan Pariwisata Nusa Dua rata-rata meyempatkan diri untuk berkunjug ke Kompleks Puja Mandala, termasuk kalangan pebisnis dan pejabat penting negara, baik tamu dari dalam negeri maupun tamu mancanegara. Di antara tamu penting yang pernah singgah, melaksanakan ibadah salat Jumat di Masjid Agung Ibnu Batutah adalah para delegasi Dialog Antaragama dari 17 negara yang hadir di Kompleks Puja Mandala pada tahun 1912. Setelah menunaikan sholat Jumat, di antara mereka juga meninjau satu per satu keberadaan lima rumah ibadah di Kompleks Puja Mandala (Gambar 4. Tamu pejabat negara lainnya yang pernah hadir di Masjid Agung Ibnu Batutah adalah sebagian rombongan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud yang melaksanakan sholat Jumat di Masjid Agung Ibnu Batutah pada tahun 2017 (Gambar 4. , dan Presiden RI Joko Widodo dan rombongan pada waktu pertemuan IMF World Bank tahun 2018. Kompleks Puja Mandala telah dijadikan paket wisata ziarah di wilayah Badung Selatan. Baik wisatawan yang sedang melakukan kegiatan MICE (Meetings. Incentives Conferences and Exhibitio. di Kawasan Parisata Nusa Dua, maupun rombongan wisatawan ziarah yang berkunjung di Bali memiliki agenda khusus untuk mengunjungi Masjid Agung Ibnu Batutah di Kompleks Puja Mandala. Lokasi Puja Mandala amat strategis karena berdekatan dengan objek wisata lainnya seperti Pantai Tanjung Benoa. Pantai Pandawa. Kompleks Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan Pura Sad Khayangan Jagad Uluwatu. Oleh karena itu, objek wisata Puja Mandala dijadikan paket khusus wisata ziarah dengan rute perjalanan: Tanjung Benoa Ae Kompleks Puja MandalaAe Pantai PandawaAeGaruda Wisnu Kencana (GWK) dan Pura Sad Khayangan Jagad Uluwatu yang sangat terkenal dan populer. Setiap hari, selalu ada tamu yang berkunjung ke Kompleks Puja Mandala. Pada umumnya mereka berasal dari luar Pulau Bali. Untuk mengetahui persepsi wisatawan terhadap objek wisata ziarah Puja Mandala, pada awal tahun 2023 dilakukan survey yang melibatkan 100 orang responden (N=. pengunjung Masjid Agung Ibnu Batutah. Sebanyak 88% pengunjung menyatakan bahwa alasan mereka berwisata di Pulau Bali adalah pesona alam Pulau Bali yang indah, sebanyak 92% mereka terpikat oleh tradisi dan seni-budaya Bali, sebanyak 95% responden mengaku kagum terhadap objek lima rumah Ibadah di Kompleks Puja Mandala, serta sebanyak 85% responden menyatakan tertarik dengan kerukunan dan toleransi umat beragama di Kompleks Puja Mandala pada khususnya dan di Bali pada umumnya (Gambar 4. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Alam yang Indah Tradisi & Senibudaya Bali Obyek Lima Rumah Ibadah Puja Mandala Kerukunan & Toleransi Umat Beragama Sumber: Anshori, 2023 Gambar 1. Persepsi wisatawan terhadap Masjid Agung Ibnu Batutah (N = . Di samping ingin melihat pemandangan alam Pulau Bali yang indah, wisatawan yang berkunjung memang ingin melihat keunikan tradisi dan seni budaya Bali. Mereka juga ingin melihat objek wisata ziarah, termasuk makam-makam keramat di Bali dan lima rumah ibadah di Kompleks Puja Mandala. AuKami bersama rombongan wisata ziarah 53 orang . atu bu. dari Banyumas. Jawa Tengah. Selain menikmati pemandangan alam indah di Bedugul, kami mengunjungi makammakam keramat, termasuk makam putri Raja Pemecutan. Raden Ayu Siti Khotijah di Denpasar, dan Masjid Agung Puja Ibnu Batutah yang pernah dikunjungi rombongan Raja Salman (Arab Saud. Adanya lima bangunan rumah ibadah dalam satu lokasi di Puja Mandala ini tentu amat menarik, menunjukkan kerukunan antarumat beragamaAy (Imron, 50 tahun, ketua rombongan wisatawan ziarah asal Banyumas. Jawa Tenga. Semua pelaku bisnis pariwisata di Bali berupaya memberikan pelayanan yang istimewa kepada wisatawan. Begitu pula pengelola Masjid Agung Ibnu Batutah juga berupaya memberikan pelayanan terbaiknya bagi wisatawan yang berkunjung, termasuk bersikap ramah kepada para tamu, menjaga kebersihan kamar mandi, toilet dan keasrian lingkungan masjid. Hal ini dilakukan agar wisatawan yang berkunjung ke Masjid Agung Ibnu Batutah merasa nyaman. Terkait dengan pelayanan masjid ini, sebanyak 84% responden menilai bahwa pelayanan petugas di lingkungan Masjid Agung Ibnu Batutah sudah cukup baik. Petugas Masjid Agung Ibnu Batutah telah memberikan pelayanannya dengan ramah. Selanjutnya sebanyak 79% responden menilai bahwa fasilitas Masjid, terutama kamar mandi, dan toilet dinilai sudah cukup memadai, kebersihan lingkungan terjaga sehingga mereka merasa nyaman (Gambar 4. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Pelayanan ramah, baik Fasilitas Masjid (Kamar mandi. Toile. memadai, bersih, nyaman Sumber: Anshori, 2023 Gambar 2. Persepsi wisatawan terhadap Pelayanan Masjid Agung Ibnu Batutah (N = . Sebagai objek wisata ziarah. Kompleks Puja Mandala Nusa Dua dikembangkan sebagai kawasan pariwisata berkelanjutan. Pembangunan pariwisata Bali didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat (Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1. Kegiatan pariwisata ziarah di Kompleks Puja Mandala mampu menguatkan kehidupan sosial-budaya masyarakat Hindu Bali. Kehidupan sosial-budaya dan tradisi masyarakat Bali di Kawasan Nusa Dua terdukung oleh adanya aktivitas pariwisata di Kompleks Puja Mandala. Pengaruh positif pariwisata yang memperkuat keberlangsungan tradisi dan sosial-budaya masyarakat Bali perlu terus dikembangkan. Selain itu, kegiatan pariwisata ziarah di Kompleks Puja Mandala juga memiliki arti dalam mendukung pembangunan pariwisata Bali yang keberlanjutan. Upaya pembangunan pariwisata yang didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat (Piagam Pariwisata Berkelanjutan, 1. Pembangunan pariwisata berkelanjutan merupakan upaya terpadu dan terorganisasi untuk mengembangkan kualitas hidup dengan cara mengatur penyediaan, pengembangan, pemanfaatan dan pemeliharaan sumber daya secara berkelanjutan. Pariwisata berkelanjutan tercermin dalam adanya penguatan tradisi budaya masyarakat, pelestraian lingkungan hidup, dan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal (Mowforth, 2. Kegiatan pariwisata ziarah di Kompleks Puja Mandala juga memiliki arti dalam mendukung upaya pemberdayaan ekonomi rakyat. Berbagai jenis wirausaha tumbuh berkembang sejalan dengan dinamika kegiatan pariwisata di Kawasan Nusa Dua ini. Di antaranya adalah wirausaha warung makan, toko suvenir, toko yang menjual kerajinan alat-alat upacara, pemandu Berbagai jenis wirausaha rakyat ini jelas memberikan kontribusi yang berarti bagi perekonomian masyarakat lokal. Pariwisata telah memengaruhi jiwa kewirausahaan rakyat Bali seperti yang jelas terjadi di pasar-pasar tradisional di seluruh Bali. Seperti kata Pitana . , sektor pariwisata memang memiliki multiplier effect, yakni angka pengganda melebihi angka pengganda kegiatan ekonomi lainnya. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Dampak positif pariwisata di bidang ekonomi, tidak hanya berupa terbukanya berbagai macam peluang usaha rakyat, tetapi secara langsung maupun tidak langsung bisa membangkitkan seni-budaya dan kerajinan rakyat, serta aneka sektor jasa wisata lainnya. Bahkan, multiplier effect wisata itu juga menghidupkan sektor pertanian dan peternakan, termasuk bahan pangan, sayur mayor, buah-buahan lokal, telur, dagimg dan ikan untuk menunjang kebutuhan penyedia jasa boga wisata serta untuk kebutuhan konsumsi masyarakat Bali pada umumnya. Harus dipastikan penerima manfaat ekonomi dari kegiatan pariwisata adalah rakyat Bali, karena pariwisata dibangun untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata. Upaya pemberdayaan sosial-ekonomi rakyat Bali dari lapangan bidang pariwisata terus digencarkan, namun masih terjadi kesenjangan antarkabupaten/kota di Bali. Belum semua kabupaten/kota di Bali menikmati kue pariwisata secara adil-merata. Untuk itu, upaya pemerataan ekonomi wisata ke semua kabupaten kota di Bali patut KESIMPULAN Puja Mandala di Nusa Dua merupakan ikon wisata religi yang merepresentasikan kerukunan lima agama melalui keberadaan Masjid Agung Ibnu Batutah. Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Vihara Buddha Guna. Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa, dan Pura Jagatnatha. Sejak diresmikan pada tahun 2004, kompleks ini menjadi daya tarik istimewa bagi wisatawan, bersanding dengan keindahan alam dan kekayaan seni-budaya Bali. Wisatawan mengungkapkan kekaguman terhadap keberadaan lima rumah ibadah tersebut, sekaligus mengapresiasi toleransi dan kerukunan umat beragama yang tercermin di kawasan ini. Pesona alam serta kekayaan tradisi dan seni-budaya Bali turut memperkuat daya tarik Puja Mandala. Keseluruhan temuan ini menunjukkan bahwa Puja Mandala tidak hanya mempertegas citra Bali sebagai destinasi wisata alam dan budaya, tetapi juga sebagai teladan harmonisasi antarumat SARAN