ABSTRAK Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan proses penting dalam pemberian ASI yang dimulai dalam satu jam pertama setelah bayi lahir. IMD dilakukan dengan membiarkan bayi secara alami mencari payudara ibu dan mulai menyusu sendiri (The Breast Craw. Berdasarkan penelitian, tingkat pengetahuan ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di BPM Ani Wahyu Wijayanti menunjukkan bahwa 32,9% memiliki pengetahuan baik, 31,4% cukup, dan 35,7% kurang. Faktor pendidikan berpengaruh signifikan, di mana ibu dengan pendidikan tinggi lebih banyak memiliki pengetahuan baik . %). Namun, ibu hamil yang belum berpengalaman dalam melahirkan justru memiliki pengetahuan lebih baik . ,2%) dibandingkan yang berpengalaman . ,8%), bertentangan dengan teori bahwa pengalaman meningkatkan pengetahuan. Sebagian besar ibu hamil memperoleh informasi tentang IMD dari tenaga kesehatan . ,7%), tetapi ibu yang mendapatkan informasi dari non-tenaga kesehatan memiliki tingkat pengetahuan lebih baik . ,9%). Hal ini menunjukkan bahwa akses informasi dari berbagai sumber, termasuk media dan program pemerintah, berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang IMD. Kata kunci: Inisiasi Menyusu Dini. ASI Eklusif, ibu hamil. ABSTRACT Early Initiation of Breastfeeding (IMD) is an important process in providing breast milk that begins within the first hour after the baby is born. IMD is done by letting the baby naturally search for the mother's breast and start breastfeeding on their own (The Breast Craw. Based on research, the level of knowledge of pregnant women about Early Initiation of Breastfeeding (IMD) at BPM Ani Wahyu Wijayanti shows that 32. 9% have good knowledge, 31. 4% are sufficient, and 35. are lacking. The education factor has a significant influence, where mothers with higher education have more good knowledge . %). However, pregnant women who have not experienced childbirth actually have better knowledge . 2%) than those who have experience . 8%), contrary to the theory that experience increases knowledge. Most pregnant women obtain information about IMD from health workers . 7%), but mothers who obtain information from non-health workers have a better level of knowledge . 9%). This shows that access to information from various sources, including the media and government programs, plays an important role in increasing pregnant women's knowledge about IMD. Keywords: Early Initiation of Breastfeeding. Exclusive Breastfeeding, pregnant women. PENDAHULUAN Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan proses penting dalam pemberian ASI yang dimulai dalam satu jam pertama setelah bayi IMD dilakukan dengan membiarkan bayi secara alami mencari payudara ibu dan mulai menyusu sendiri (The Breast Craw. Proses ini harus dilakukan segera setelah lahir tanpa menunda dengan kegiatan lain seperti penimbangan atau pengukuran bayi. Bayi hanya dikeringkan kecuali bagian tangannya, dan kontak kulit antara ibu dan bayi harus dipertahankan untuk mendukung keberhasilan IMD (Kemenkes RI, 2. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa IMD memiliki banyak manfaat, termasuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi. Menurut WHO . IMD berpotensi menyelamatkan hingga 1 juta bayi setiap WHO dan UNICEF juga merekomendasikan IMD sebagai langkah strategis dalam mengurangi angka kematian bayi, dengan potensi menyelamatkan hingga 22% dari bayi yang meninggal sebelum usia satu bulan. Oleh karena itu. Pemerintah Indonesia mendukung penuh program ini dan menjadikannya sebagai indikator global dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Meskipun manfaat IMD sangat besar, cakupan pelaksanaannya di Indonesia masih Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2019, cakupan ASI Eksklusif hingga usia 6 bulan hanya mencapai 37,3%, masih jauh dari target 50% pada tahun 2025. Data Kemenkes RI . menunjukkan bahwa hanya 58% bayi yang mendapatkan ASI Eksklusif hingga 4 bulan dan hanya 42% yang mendapatkan ASI Eksklusif hingga 6 bulan. Selain itu, pemberian ASI pada 30 menit pertama setelah lahir hanya mencapai 10,5%, sementara dalam satu jam pertama hanya 45% bayi yang mendapatkan ASI (Kemenkes RI, 2. Kurangnya pengetahuan ibu hamil mengenai IMD menjadi salah satu faktor utama rendahnya pelaksanaan IMD di masyarakat. Studi pendahuluan yang dilakukan di BPM Ani Wahyu Wijayanti. Jakarta Timur, menunjukkan bahwa dari 10 ibu hamil yang diwawancarai, hanya 2 orang . %) yang mengetahui tentang IMD, sedangkan 8 orang . %) tidak mengetahui tentang IMD. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman ibu hamil, terutama pada trimester i, mengenai pentingnya IMD bagi kesehatan bayi mereka. Berdasarkan latar belakang tersebut, diperlukan penelitian yang lebih mendalam untuk menggambarkan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang IMD, khususnya di BPM Ani Wahyu Wijayanti. Dengan penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan strategi yang lebih efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman ibu hamil mengenai pentingnya IMD, pelaksanaan IMD dan mendukung keberhasilan pemberian ASI Eksklusif di Indonesia. METODE DAN BAHAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif dengan mengambil data secara primer di BPM Ani Wahyu Wijayanti dari Jumlah sampel sebanyak 70 Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini di BPM Ani Wahyu Wijayanti berjumlah 70 orang diperoleh hasil yaitu responden yang berpengetahuan baik berjumlah . ,9%), berpengetahuan cukup berjumlah 22 orang . ,4%) dan responden yang berpengetahuan kurang berjumlah 25 orang . ,7%). rendah berjumlah 12 orang . ,1%), responden yang berpendidikan sedang berjumlah 38 orang . ,3%) dan responden yang berpendidikan tinggi berjumlah 20 orang . ,6%). Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik tentang inisiasi menyusu dini yang paling banyak adalah ibu hamil yang memiliki pendidikan tinggi yaitu sebesar . %). Hal ini sesuai dengan teori yang dinyatakan oleh bahwa Mubarak. Wahid Iqbal . , bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin mudah dalam menerima informasi, dan pada akhirnya pengetahuan yang dimilikinya akan semakin Sebaliknya, jika seseorang memiliki pendidikan yang rendah, maka akan menghambat perkembangan sikap orang tersebut terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan. Ini sesuai dengan penelitian dari Hariarti . , yang "Pengaruh Edukasi Terhadap Perubahan Pengetahuan dan Sikap Inisiasi Menyusu Dini pada Ibu Hamil di Kota Parepare" dimana ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik tentang inisiasi menyusu dini yang paling banyak adalah ibu hamil yang memiliki pendidikan tinggi yaitu sebesar . ,6%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Ibu Hamil berdasarkan Pendidikan di BPM Ani Wahyu Wijayanti Tabel 3 Distribusi Frekuensi Ibu Hamil berdasarkan Pengalaman di BPM Ani Wahyu Wijayanti Pendidikan Rendah Sedang Tinggi Total Pengalaman Berpengalaman Tidak Total HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, melalui penyebaran kuesioner yang meliputi 20 pertanyaan pengetahuan ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini, dan pertanyaan tentang sumber informasi responden serta identitas responden meliputi pendidikan, paritas dan pendidikan. Kuesioner ini disebarkan kepada 70 ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC di BPM Ani Wahyu Wijayanti dan diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini di Di BPM Ani Wahyu Wijayanti Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Jumlah Jumlah Persentase 32,90% 31,40% 35,70% Persentase 17,10% 54,30% 28,60% Pada tabel 4. 2 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi pendidikan ibu hamil di BPM Ani Wahyu Wijayanti. Dari semua responden yang berjumlah 70 orang diperoleh hasil yaitu responden yang berpendidikan Jumlah Persentase 27,10% 54,30% Pada tabel 4. 3 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi paritas ibu hamil di BPM Ani Wahyu Wijayanti. Dari semua responden yang berjumlah 70 orang diperoleh hasil yaitu responden yang belum berpengalaman berjumlah 51 orang . ,9%), dan responden yang sudah berpengalaman berjumlah 19 orang . ,1%). Dalam hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik tentang inisiasi menyusu dini yang paling banyak adalah ibu hamil yang pengalaman dalam melahirkan yaitu sebesar . ,2%). Hal ini tidak sesuai dengan teori Mubarak. Wahid Iqbal . , yang menyatakan bahwa orang yang memiliki pengalaman akan mempunyai pengetahuan yang baik bila dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki pengalaman dalam segi apapun. Hal ini sesuai dengan penelitian Dwi Ernawati tahun . yang berjudu "Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini Di Puskesmas Jetis Kota Jogyakarta" bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuannya baik tentang inisiasi menyusu dini yang paling banyak adalah ibu hamil yang pengalaman dalam melahirkan yaitu sebesar . ,8%). Adanya ledakan pengetahuan sebagai akibat perkembangan dalam bidang ilmu dan pengetahuan baru bermunculan. Pemberian informasi seperti cara-cara pencapaian hidup sehat akan meningkatkan pengetahuan masyarakat yang dapat menambah kesadaran untuk berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini sesuai dengan penelitian Eka Fitriani . , yang berjudul "Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini" bahwa ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik tentang inisiasi menyusu dini adalah ibu hamil yang mendapatkan sumber informasi dari non tenaga kesehatan sebesar . ,30%). Peneliti berasumsi bahwa hal ini bisa terjadi karena di zaman teknologi ini orangorang bisa mencari informasi dari berbagai sumber tidak hanya lewat buku atau dari tenaga kesehatan saja, kemudian pemerintah saat ini juga lebih banyak membuat program-program baru demi terwujudnya masyarakat yang lebih Tabel 4 Distribusi Frekuensi Ibu Hamil berdasarkan Pekerjaan di BPM Ani Wahyu Wijayanti Pekerjaan Bekerja Tidak Total Jumlah Persentase Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi pekerjaan ibu hamil di BPM Ani Wahyu Wijayanti. Dari semua responden yang berjumlah 70 orang diperoleh hasil yaitu responden yang bekerja berjumlah 28 orang . %) dan responden yang tidak bekerja berjumlah 42 orang . %). Tabel 5 Distribusi Frekuensi Ibu Hamil berdasarkan sumber informasi di BPM Ani Wahyu Wijayanti Tentang Inisiasi Menyusu Dini Periode Desember 2016 Ae Februari 2017 Sumber Informasi Tenaga Kesehatan Non Tenaga Kesehatan Total Jumlah Persentase 55,70% 44,20% Pada tabel 5 dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi sumber informasi pengetahuan ibu hamil tentang inisiasi menyusu dini di BPM Ani Wahyu Wijayanti. Dari semua responden yang berjumlah 70 orang diperoleh hasil yaitu responden yang memperoleh sumber informasi tentang IMD dari tenaga kesehatan berjumlah 39 orang . ,7%), dan responden yang memperoleh sumber informasi tentang IMD dari non tenaga kesehatan berjumlah 31 ,2%) Tabel 7 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini Berdasarkan Paritas di BPM Ani Wahyu Wijayanti Pengalaman Berpengalaman Belum Jumlah Pengetahuan Cukup Kurang Jumlah Baik Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa ibu hamil yang pengetahuannya baik merupakan ibu hamil yang belum berpengalaman yaitu sebesar . ,8%), dibandingkan ibu hamil yang sudah berpengalaman . ,2%). Tabel 8 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini Berdasarkan Pekerjaan di BPM Ani Wahyu Wijayanti Pengetahuan Cukup Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Jumlah Baik Kurang Jumlah Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa ibu hamil yang pengetahuannya baik merupakan ibu hamil yang tidak bekerja yaitu sebesar . ,3%), dibandingkan dengan ibu hamil yang bekerja . ,1%). Tabel 9 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini Berdasarkan Sumber Informasi di BPM Ani Wahyu Wijayanti Pengetahuan Sumber Baik Cukup Kurang Jumlah Tenaga Non Tenaga Jumlah Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa ibu hamil yang pengetahuannya baik merupakan ibu hamil yang mendapatkan sumber informasi tentang IMD dari dari non tenaga medis . ,9%), dibandingkan ibu hamil yang mendapatkan sumber informasi tentang IMD dari tenaga kesahatan yaitu . ,6%). Berdasarkan hasil penelitian, tingkat pengetahuan ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di BPM Ani Wahyu Wijayanti menunjukkan variasi yang signifikan. Dari 70 responden, sebanyak 32,9% memiliki 31,4% pengetahuan cukup, dan 35,7% memiliki pengetahuan kurang. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian ibu hamil memiliki pemahaman yang baik tentang IMD, masih ada sebagian yang perlu diberikan edukasi lebih Hubungan Pengetahuan dengan Pendidikan Dari data yang diperoleh, ibu hamil dengan tingkat pendidikan tinggi memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan sedang atau Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo . , yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin mudah mereka menerima dan memahami informasi kesehatan. Studi serupa dilakukan oleh Sari et al. , yang menemukan bahwa ibu dengan pendidikan tinggi lebih memahami manfaat IMD dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan Hubungan Pengetahuan Pengalaman (Parita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang belum memiliki pengalaman melahirkan cenderung memiliki pengetahuan lebih baik tentang IMD dibandingkan dengan ibu yang sudah berpengalaman. Hal ini bertentangan dengan teori yang dikemukakan oleh Mubarak & Wahid . , yang menyatakan bahwa pengalaman seharusnya meningkatkan pemahaman seseorang terhadap suatu konsep atau praktik kesehatan. Namun, hasil ini didukung oleh penelitian Ernawati . , yang menemukan bahwa ibu hamil yang mendapatkan informasi dari sumber edukatif cenderung lebih memahami konsep IMD meskipun belum memiliki pengalaman Hubungan Pengetahuan dengan Pekerjaan Dari hasil penelitian, ibu hamil yang tidak bekerja memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang IMD dibandingkan dengan ibu yang Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah ibu yang tidak bekerja memiliki lebih banyak waktu untuk mencari informasi kesehatan dibandingkan ibu yang bekerja, yang mungkin memiliki keterbatasan waktu dalam mengakses informasi. Studi dari Putri & Rahmawati . juga menemukan bahwa ibu rumah tangga lebih aktif mencari informasi kesehatan karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan sosial yang mendukung edukasi kesehatan. Hubungan Pengetahuan dengan Sumber Informasi Sebagian besar ibu hamil mendapatkan informasi tentang IMD dari tenaga kesehatan . ,7%), sementara 44,2% mendapat informasi dari sumber non-tenaga kesehatan. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mendapatkan informasi dari sumber non-tenaga kesehatan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik . ,9%) dibandingkan dengan yang mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan . ,6%). Hal ini menunjukkan bahwa media digital, buku, dan pengalaman sesama ibu hamil mungkin lebih efektif dalam menyampaikan informasi tentang IMD dibandingkan informasi yang diberikan secara langsung oleh tenaga Studi dari Wijayanti et al. menegaskan bahwa akses informasi melalui media digital dan komunitas ibu hamil dapat meningkatkan pemahaman terkait praktik IMD secara lebih luas. KESIMPULAN Berdasarkan pengetahuan ibu hamil tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di BPM Ani Wahyu Wijayanti menunjukkan bahwa 32,9% memiliki pengetahuan baik, 31,4% cukup, dan 35,7% Faktor signifikan, di mana ibu dengan pendidikan tinggi lebih banyak memiliki pengetahuan baik . %). Namun, ibu hamil yang belum berpengalaman dalam melahirkan justru memiliki pengetahuan lebih baik . ,2%) dibandingkan yang berpengalaman . ,8%), bertentangan dengan teori bahwa pengalaman meningkatkan pengetahuan. Sebagian besar ibu hamil memperoleh informasi tentang IMD dari tenaga kesehatan . ,7%), tetapi ibu yang mendapatkan informasi dari non-tenaga kesehatan memiliki tingkat pengetahuan lebih baik . ,9%). Hal ini menunjukkan bahwa akses informasi dari berbagai sumber, termasuk media dan program meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang IMD. DAFTAR PUSTAKA