Jurnal Pendidikan Bahasa Volume 15. Nomor 2. Juni 2025 | ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Gejala Fonologis sebagai Cermin Gangguan Pemerolehan Bahasa: Tinjauan Psikolinguistik Anak Usia 5 Tahun Risma Fitriyani1. Siti Maulida1,*. Sundawati Tisnasari1 Universitas Sultan Ageng Tirtayasa *Corespondence: sitimaulida04085@gmail. Artikel Info Abstrak Submission Studi ini bertujuan untuk menginvestigasi permasalahan fonologis yang dialami seorang anak berusia lima tahun enam bulan dalam kerangka psikolinguistik. Gejala fonologis seperti penggantian bunyi, penghilangan suara, pemendekan kata, dan kesalahan pelafalan diamati pada seorang anak yang bernama Muhammad Nizam Affandi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan analisis data mengikuti model Miles dan Huberman. Penelitian ini menemukan tujuh puluh tiga data yang didapat dari observasi tanggal 23 April 2024 dan dua puluh lima data yang ditemukan pada observasi tanggal 31 Mei 2025. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami pola gangguan berbicara yang spesifik, termasuk penggantian bunyi /k/ dengan /t/, /r/ dengan /l/, serta kesulitan dalam mengucapkan bunyi /U/. Gangguan ini diasosiasikan dengan keterbatasan dalam memori fonologis, kurangnya stimulasi verbal, serta kemungkinan adanya hambatan fisiologis dalam koordinasi organ bicara. Hasil ini dianalisis dengan menggunakan teori fonologi generatif dan psikolinguistik untuk menjelaskan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan bahasa. Penelitian ini menekankan pentingnya intervensi awal melalui stimulasi lingkungan dan terapi artikulasi yang tepat. 2025-06-05 Revisions 2025-06-26 Publish 2025-06-30 Kata Kunci: Akuisisi Bahasa. Fonologi Anak. Gangguan Bicara. Fonologi Generatif. Psikolinguistik This is an open access article under the CC - BY license. PENDAHULUAN Perkembangan bahasa pada anak usia dini sangat penting sebagai dasar kemampuan berbahasa, berpikir, serta interaksi sosial. Salah satu aspek kunci dalam pemerolehan bahasa adalah fonologi, yaitu sistem bunyi yang ada dalam bahasa serta cara penggunaan dan penyusunannya untuk menciptakan makna. Jika terjadi gangguan dalam pemerolehan fonologi, hal tersebut bisa memengaruhi kemampuan komunikasi verbal anak dan juga dapat berdampak pada aspek kognitif dan emosionalnya (Gleason dan Ratner, 2. Gejala yang berkaitan dengan fonologiAiseperti penggantian bunyi, penghilangan bunyi, dan distorsi bunyiAidapat menjadi tanda awal adanya masalah dalam pemerolehan bahasa. Akuisisi fonologi adalah proses yang rumit, melibatkan tidak hanya faktor biologis tetapi juga sangat dipengaruhi oleh rangsangan dari lingkungan, interaksi sosial, serta kesiapan neuropsikologis anak (Owens. Anak-anak mempelajari bahasa melalui proses input-output linguistik yang dilakukan secara berulang yang berasal dari interaksi sosial. Jika anak tidak mendapatkan cukup input atau respons linguistik dari sekitarnya, maka kemungkinan terjadinya gangguan artikulasi dan fonologis akan meningkat. Penelitian tentang akuisisi fonologi pada anak-anak kecil telah dilakukan oleh beberapa peneliti Mudopar . dalam studinya mengenai akuisisi bahasa pertama pada anak berusia dua hingga tiga tahun menemukan bahwa anak-anak menunjukkan tanda-tanda perubahan dan penghilangan suara bahasa, seperti perubahan dari fonem /k/ menjadi /t/, /r/ menjadi /l/, serta hilangnya bunyi konsonan di awal kata. Fenomena ini terjadi disebabkan oleh belum matangnya sistem artikulasi dan keterbatasan dalam penguasaan suara bahasa pada usia awal. Selain itu. Sari dan Effendi . meneliti perkembangan bahasa https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. anak berusia satu sampai tiga tahun dan mengidentifikasi tanda-tanda fonologis seperti penghilangan fonem, pemendekan atau pemanjangan kata, serta penggunaan fonem yang sama untuk makna yang berbeda. Temuan ini menekankan pentingnya peran lingkungan dan interaksi sosial dalam pengembangan kemampuan fonologis anak. Kedua studi tersebut menunjukkan bahwa anak-anak pra-sekolah berada dalam risiko tinggi mengalami masalah pada aspek fonologi, namun keduanya belum menjelajahi lebih dalam hubungan antara gejala fonologis dengan aspek psikologis dan sosial anak, serta belum menilai gejala fonologis sebagai refleksi dari gangguan akuisisi bahasa secara keseluruhan dalam sudut pandang psikolinguistik. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengisi kekurangan tersebut dengan menganalisis gangguan fonologis pada seorang anak yang berusia lima tahun enam bulan, dan menghubungkannya dengan kondisi psikologis serta lingkungan sekitarnya melalui pendekatan psikolinguistik. Fokus penelitian ini diharapkan bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keterlambatan dalam akuisisi bahasa pada anak-anak kecil. Konteks psikolinguistik, gangguan fonologis masuk dalam kategori gangguan produksi bahasa. Menurut klasifikasi American Speech-Language-Hearing Association . , gangguan fonologi pada anak dapat disebabkan oleh kurangnya stimulasi, faktor neurokognitif, serta rendahnya keterlibatan orang tua dalam proses penguasaan bahasa anak. Anak-anak yang mengalami gangguan fonologis tidak hanya menghadapi kesulitan dalam pelafalan, tetapi juga memiliki batasan dalam pemahaman sosial-linguistik. Dari perspektif psikolinguistik klasik, masalah fonologi pada anak dapat dilihat sebagai hasil dari kombinasi faktor kognitif, biologis, dan sosial. Jean Berko Gleason . menyatakan bahwa proses memperoleh bunyi bahasa dipengaruhi tidak hanya oleh kematangan fisik, tetapi juga oleh faktor internal seperti ingatan fonologis dan interaksi verbal yang sering terjadi. Hal yang sama juga disampaikan oleh Patricia Kuhl . , yang menekankan bahwa paparan terhadap suara sejak dini sangat penting bagi pembentukan representasi bunyi di dalam otak anak, yang secara bertahap akan membentuk sistem fonologis berdasarkan pengalaman sosial-linguistik. Di sisi lain. Eric Lenneberg . menyoroti bahwa kemampuan untuk memperoleh bahasa, termasuk fonologi, sangat tergantung pada masa kritis perkembangan sistem saraf. Ketika stimulasi linguistik tidak mencukupi dalam periode tersebut, kemungkinan keterlambatan dalam memperoleh bunyi akan meningkat. Ketiga pandangan ini menunjukkan bahwa masalah fonologi tidak dapat dipisahkan dari perkembangan otak, kemampuan memori, dan kualitas interaksi lingkungan pada awal kehidupan anak. Melalui latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis berbagai bentuk gejala fonologis pada seorang anak berusia lima tahun enam bulan bernama Nizam yang memiliki kesulitan dalam melafalkan huruf AuF-G-J-K-N-Q-R-S-T-XAy dan berbicara tidak jelas, serta mengaitkannya dengan faktor psikologis dan lingkungan menggunakan pendekatan psikolinguistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekurangan dalam kajian sebelumnya yang belum secara jelas menghubungkan aspek fonologis dengan kondisi psikososial anak. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai penyebab, karakteristik, dan potensi solusi untuk gangguan fonologis pada anak usia dini. Penelitian sebelumnya belum banyak yang secara khusus meneliti hubungan antara gejala fonologis pada anak dan faktor psikologis serta lingkungan dengan pendekatan psikolinguistik yang terintegrasi. Namun, gangguan fonologi pada anak-anak kecil dapat memiliki konsekuensi yang signifikan, termasuk kesulitan dalam berbahasa serta masalah sosial dan emosional. Oleh sebab itu, penelitian ini sangat penting untuk menjembatani celah yang ada, yang belum menghubungkan aspek linguistik dengan psikososial secara Inovasi dari penelitian ini terletak pada penerapan pendekatan psikolinguistik dalam menganalisis gangguan fonologi berdasarkan kasus-kasus nyata. Penelitian ini menggabungkan analisis bentuk fonologis dengan faktor kognitif, fisiologis, dan konteks sosial, sehingga memberikan wawasan yang lebih komprehensif mengenai penyebab serta kemungkinan solusi untuk gangguan fonologi pada anak-anak usia METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan penggambaran mendalam terhadap fenomena fonologis secara alami (Moleong, 2. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak bernama Muhammad Nizam Affandi, yang akrab dipanggil Nizam. Nizam berusia lima tahun enam bulan, lahir di Serang pada 10 Desember 2019, dan tinggal di Jalan Tembus Gang Rs C Ella. Desa Argawana. Kecamatan Pulo Ampel. Kabupaten Serang. Provinsi Banten. Penetapan subjek dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara sadar dengan berdasarkan kriteria tertentu. Purposive sampling bertujuan untuk memilih informasi yang paling kaya dan relevan bagi penelitian yang dilakukan (Patton, 2. Penelitian ini dilakukan selama satu tahun, observasi sejak 23 April 2024 sampai 31 Mei 2025, sehingga dapat diketahui perkembangan bahasa dan pemerolehan bahasa Nizam selama satu tahun. Hal ini bertujuan untuk mendalami faktor dan penyebab Nizam kesulitan dalam mengucapkan beberapa fonem. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa metode, yaitu: pengamatan, wawancara, pencatatan, dan analisis. Metode tersebut sejalan dengan pendapat Sugiyono . yang mengemukakan bahwa dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif, informasi dapat diperoleh melalui interaksi langsung antara peneliti dan subjek, serta melalui catatan dokumentasi yang relevan. Pengamatan dilakukan untuk mengamati perilaku bahasa subjek dalam konteks yang nyata. Wawancara dilaksanakan dalam format semi-terstruktur untuk menggali informasi dari orang tua atau pengasuh terkait dengan perkembangan bahasa anak. Pencatatan digunakan untuk mengumpulkan data tambahan, seperti rekaman audio atau video, serta hasil observasi lapangan lainnya. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan model analisis kualitatif yang terdiri dari tiga langkah: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, 2. Reduksi data dilakukan untuk memilih data yang relevan, penyajian data dikemas dalam bentuk naratif atau tabel, dan kesimpulan ditarik secara induktif berdasarkan pola-pola yang teridentifikasi di lapangan. Memastikan kevalidan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi sumber, metode, dan teori. Selain itu, prinsip kredibilitas juga diterapkan dalam validasi data. Keabsahan dalam penelitian kualitatif dapat dilihat dari berbagai aspek seperti kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas (Moleong. Kredibilitas penelitian ini dicapai melalui observasi mendalam, penggunaan beragam sumber informasi, serta kajian teori yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Melalui pendekatan metodologis tersebut, diharapkan penelitian ini mampu memberikan analisis yang memadai dan mendalam tentang pengaruh gejala fonologis terhadap perkembangan bahasa pada anak usia lima tahun. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Fonem Objek Penelitian Kajian Fonologi Hasil analisis tanggal 23 April 2024. Muhammad Nizam Affandi mengalami kesulitan dalam pelafalan huruf AuF-G-J-K-N-Q-R-S-T-XAy. Apabila dibaca dalam satuan huruf, misalnya: Tabel 1. Kesalahan Pengucapan Huruf Huruf Pengucapan Dilafalkan Nizam Penelitian selanjutnya tanggal 31 Mei 2025. Nizam memiliki perkembangan dalam pemerolehan serta pengucapan huruf, di mana Nizam sudah bisa mengucapkan huruf /f/, /j/, /n/, /s/, dan /w/. Namun, dia masih kesulitan dalam pengucapan huruf /g/, /k/, /q/, /r/, dan /x/. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Tabel 2. Analisis Fonem pada Penelitian terhadap Nizam Tanggal 23 April 2024 Kesalahan Fonem yang Diucapkan /nzam/ /ian/ /puwang/ /tatoh/ /lali/ /poici/ /tatak/ /ayang-ayang/ /atit/ /ditit/ /mabal/ /tuota/ /tena/ /mateni/ /botol/ /tatut/ /nyaliin/ /calah/ /cucah/ /mate/ /titi/ /telus/ /ayeh/ /adu/ /toan/ /peda/ /aya/ /butan/ /atu/ /eli/ /matanya/ /ndak/ /dombi/ /jaatin/ /bunsut/ /uti/ /tolah/ /teta/ /tauh/ /pacal/ /cana/ /mam/ /pelmen/ /bolon/ /melah/ /ciapa/ /jemoy/ /boweh/ /becok/ https://ejournal. id/index. php/jpb/index Fonem Asli Nizam . amanya sendir. layang-layang pateni . ahasa Jawa Seran. berhenti make . entuk asal paka. ahasa Jawa Seran. luka uki . ama temanny. Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Kesalahan Fonem yang Diucapkan /do/ /penen/ /at/ /malahin/ /dewe/ /anjin/ /gian/ /badus/ /itutan/ /totat/ /dadi/ /lumah/ /celu/ /bica/ /tar/ /ape/ /dambal/ /pentuk/ /alah/ /bantung/ /empet/ /ndut/ /jua/ /mot/ Fonem Asli Rido dewek . ahasa Jawa Seran. sendiri bentuk . ahasa Jawa Seran. bentur Bandung kopet . ama panggilan sepupunya, aslinya Azk. Risma . ama sepupuny. Fonologi generative memusatkan perhatian pada dua level analisis: bentuk tersirat . nderlying for. dan bentuk tersurat . urface for. (Yulianto, 2. Bentuk tersirat mengacu pada representasi fonologis sebagai wujud dasar, sedangkan bentuk tersurat adalah representasi fonetis yang dapat didengar saat berucap. Dalam proses pembelajaran bahasa oleh anak, seringkali terjadi penyederhanaan bunyi dari bentuk dewasa menjadi bentuk yang diucapkan oleh anak, yang dikenal sebagai bentuk anak . hild's for. (Ingram, 1. Proses ini mencakup penggantian, asimilasi, dan modifikasi struktur suku kata, yang menjadi landasan dalam menganalisis keanehan bicara pada anak. Berdasarkan informasi yang diperoleh, seorang anak bernama Nizam menunjukkan berbagai pola penyederhanaan fonologis yang sejalan dengan teori fonologi generatif. Penyederhanaan ini mencerminkan proses fonologis yang bersifat umum pada anak, di mana anak mengadopsi prosedur bertingkat untuk menyederhanakan ucapan orang dewasa (Ingram, 1. Berikut adalah analisis pola fonologis yang ditemukan pada Nizam, dihubungkan dengan teori fonologi generatif dan kesulitan berbicara: Pola Penggantian Fonem dalam Ucapan Anak Penggantian fonem adalah proses di mana anak mengganti satu fonem dengan fonem yang lain dalam Penggantian ini merupakan ciri yang umum ditemukan dalam analisis fonologis ucapan anak, yang dapat dilihat dari perbandingan antara ucapan anak dan model yang diucapkan oleh orang dewasa (Yulianto. Data menunjukkan beberapa pola penggantian fonem pada Nizam, antara lain: Fonem /k/ berbunyi /t/ Penyebutan fonem /k/ menjadi /t/ ini, apabila fonem /k/ berada di awal dan tengah. Tabel 3. Fonem /k/ menjadi /t/ Kata Diucapkan Kata Asli /tatak/ /atit/ https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Kata Diucapkan Kata Asli /ditit/ /tuota/ /tena/ /tatut/ /mate/ /butan/ /matanya/ /uti/ /tolah/ /teta/ /betok/ /itutan/ /totat/ Kata katak diucapkan sebagai /tatak/, sakit menjadi /atit/, dan kuota diucapkan sebagai /tuota/. Pola ini sesuai dengan proses fronting . , di mana konsonan velar seperti /k/ diganti dengan konsonan alveolar seperti /t/ karena wilayah artikulasi yang lebih depan di mulut (Yulianto, 2. Proses ini banyak dijumpai pada anak yang masih sangat muda, sebagaimana ditunjukkan oleh Joan . erusia 2 tahu. yang mengucapkan shoe menjadi /zu:/ (Yulianto, 2. Kejadian serupa juga terlihat pada anak-anak yang berusia lebih dari dua tahun, termasuk rentang usia subjek dalam studi ini. Menurut teori pemerolehan fonologi Ingram . , anak-anak secara bertahap membangun sistem bunyi dengan menyederhanakan bentuk kata dari orang dewasa melalui berbagai proses fonologis seperti penggantian, asimilasi, dan penghilangan bunyi konsonan di akhir kata. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Wulandari . mengungkapkan bahwa seorang anak berumur 5 tahun 3 bulan masih mengucapkan kata sekolah sebagai /to. ah/, yang menunjukkan adanya penghilangan konsonan dan penggantian yang khas dalam pemerolehan bahasa pada fase awal. Ini menunjukkan bahwa proses-proses fonologis tidak hanya terjadi pada usia yang sangat muda seperti dua tahun, tetapi dapat berlanjut hingga masa prasekolah, tergantung pada perkembangan masing-masing anak. Fonem /s/ menjadi /c/ Penyebutan ini diucapkan ketika fonem /s/ berada di awal dan tengah. Tabel 4. Fonem /s/ menjadi /c/ Kata Diucapkan Kata Asli /poici/ /calah/ /cucah/ /pacal/ /cana/ /ciapa/ /becok/ /celu/ /bica/ Proses transformasi bunyi /s/ menjadi /c/ bisa dipahami melalui teori fonologi perkembangan anak, terutama proses afrikasi, seperti yang dijelaskan oleh Ingram pada tahun 1976. Anak-anak sering menggantikan suara frikatif semacam /s/ dengan afrikat /c/ karena mereka masih memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbicara di usia kecil. Hal ini sejalan dengan pendapat Clark pada tahun 2003 yang menyatakan bahwa anak cenderung menyederhanakan cara mereka mengucapkan kata. Fonem /g/ menjadi /d/ Penyebutan ini juga katika fonem /g/ berada di awal dan tengah. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Tabel 5. Fonem /g/ menjadi /d/ Kata Diucapkan Kata Asli /adu/ /badus/ /ndak/ /dambal/ Seperti dalam tabel, lagu diucapkan menjadi /adu/, bagus menjadi /badus/, dan gambar diubah menjadi /dambal/. Ini juga merupakan cara fronting, di mana konsonan velar bersuara /g/ diganti dengan konsonan alveolar bersuara /d/ (Yulianto, 2. Proses ini menunjukkan kecenderungan anak untuk menyederhanakan cara bicara menjadi posisi yang lebih mudah, yaitu alveolar. Fonem /j/ diganti dengan fonem /t/ Tabel 6. Fonem /j/ menjadi /t/ Kata Diucapkan Kata Asli /tatoh/ /tauh/ Substitusi /j/ menjadi /d/ seperti kata jatuh diucapkan sebagai /tatoh/ dan jauh menjadi /tauh/. Ini mencerminkan proses penggantian di mana fonem afrikatif palatal /j/ dialihkan kepada konsonan hambat alveolar /t/, yang lebih mudah diucapkan (Yulianto, 2. Fonem /r/ menjadi /l/ Perubahan terjadi ketika fonem /r/ berada di awal, tengah, dan akhir. Tabel 7. Fonem /r/ menjadi /l/ Kata Diucapkan Kata Asli /lali/ /mabal/ /botol/ /telus/ /nyaliin/ /pacal/ /pelmen/ /melah/ /malahin/ /lumah/ Dari data dalam tabel, kata lari diucapkan sebagai /lali/, mabar menjadi /mabal/, dan merah menjadi /melah/, dan lainnya. Pola ini dikenal sebagai gliding atau peluncuran, di mana bunyi alir /r/ digantikan dengan bunyi alir lain seperti /l/ (Yulianto, 2. Proses ini kerap terjadi karena /r/ memiliki cara pengucapan yang lebih rumit dibandingkan /l/. Fonem /c/ menjadi /t/ Terjadi ketika fonem berada di tengah dan akhir, misalnya: Tabel 8. Fonem /c/ menjadi /t/ Kata Diucapkan Kata Asli /botol/ /totat/ /at/ Perubahan bunyi /c/ menjadi /t/ dalam kata botol yang diucapkan sebagai bocol adalah bagian dari proses fonologis yang disebut stopping. Ingram . menjelaskan bahwa stopping adalah saat suku kata https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. frikatif atau afrikat diganti dengan bunyi plosif yang lebih mudah diucapkan oleh anak-anak. Dalam konteks ini, afrikat /c/ digantikan dengan plosif /t/ karena cara pengucapannya lebih mudah. Fonem /l/ menjadi /w/ Pergantian terjadi ketika fonem /l/ berada di tengah, misalnya: Tabel 9. Fonem /l/ menjadi /w/ Kata Diucapkan Kata Asli /puwang/ /boweh/ Proses pergeseran fonem /l/ ke /w/ seperti pada kata pulang yang diucapkan puwang tergolong dalam kategori gliding. Menurut Clark . , fenomena gliding umumnya terjadi pada anak-anak karena semivokal seperti /w/ lebih mudah untuk dihasilkan dibandingkan likuida /l/. Hal ini menyebabkan anak-anak cenderung mengganti bunyi likuida yang sulit dengan semivokal yang lebih sederhana. Fonem /g/ menjadi /j/ Tabel 10. Fonem /g/ menjadi /j/ Kata Diucapkan Kata Asli /jemoy/ Perpindahan fonem /g/ menjadi /j/ dalam kata gemoy yang diucapkan sebagai jemoy adalah contoh dari fronting, yaitu suatu proses di mana bunyi velar seperti /g/ digantikan oleh bunyi yang diucapkan lebih dekat ke depan di mulut, seperti /j/. Menurut Yule . , fronting biasanya muncul karena posisi artikulasi yang lebih depan lebih mudah diakses oleh anak-anak ketika mereka mulai belajar berbicara. Fonem /b/ menjadi /p/ Tabel 11. Fonem /b/ menjadi /p/ Kata Diucapkan Kata Asli /pentuk/ Perubahan bunyi /b/ menjadi /p/ seperti pada ucapan kata bentuk menjadi pentuk merupakan contoh dari devoicing, yang merupakan proses di mana suara bersuara (/b/) digantikan dengan suara tak bersuara (/p/). Yavas . menyatakan bahwa fenomena ini terjadi karena anak-anak pada usia tertentu belum memiliki kemampuan untuk mengatur fitur suara . dengan akurat, sehingga menyebabkan sering terjadinya penggantian seperti ini. Fonem /t/ menjadi /d/ Tabel 12. Fonem /t/ menjadi /d/ Kata Diucapkan Kata Asli /dadi/ Sebaliknya Pergantian dalam pengucapan fonem /d/ menjadi /t/, misalnya /bantung/=bandung. Peralihan bunyi /t/ menjadi /d/, contohnya pada kata tadi yang diucapkan menjadi dadi, merupakan jenis dari penggantian suara. Yavas . menjelaskan bahwa hal ini terjadi saat anak-anak mengubah karakter bunyi yang awalnya tidak bersuara dengan menambahkan elemen suara, yang disebabkan oleh dampak lingkungan fonologis atau keterbatasan dalam pengendalian gerakan artikulator. Fonem /p/ menjadi /m/ Tabel 13. Fonem /p/ menjadi /m/ Kata Diucapkan Kata Asli /mateni/ https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Pada situasi seperti pateni yang diucapkan sebagai mateni, perubahan bunyi /p/ menjadi /m/ bisa dipahami melalui proses asimilasi nasal atau penyederhanaan yang terjadi dengan mengganti bunyi oral menjadi nasal. Ingram . menyatakan bahwa ini termasuk dalam pola penyederhanaan artikulasi, di mana bunyi nasal seperti /m/ lebih mudah dikuasai oleh anak daripada bunyi plosif oral seperti /p/. Fonem /z/ menjadi /d/ Tabel 14. Fonem /z/ menjadi /d/ Kata Diucapkan Kata Asli /dombi/ Perubahan fonem /z/ menjadi /d/ seperti dalam pengucapan kata zombi menjadi dombi adalah bagian dari proses penyederhanaan fonologis yang dialami anak-anak, yang dikenal sebagai substitusi suara bersuara. Yavas . menyatakan bahwa anak-anak sering menggantikan frikatif bersuara seperti /z/ dengan plosif bersuara seperti /d/ karena plosif lebih mudah diatur saat diucapkan. Pendapat ini sejalan dengan penjelasan Ingram . yang menyatakan bahwa anak-anak cenderung menyederhanakan cara mereka mengucapkan fonem yang rumit saat mereka belajar bahasa. Pola lain mencakup perubahan dari /c/ menjadi /t/ . ontohnya bocor menjadi /botol/), /l/ berubah menjadi /w/ . isalnya pulang menjadi /puwang/), /g/ menjadi /j/ . isalnya gemoy diucapkan sebagai /jemoy/), /b/ menjadi /p/ . isalnya bentuk berubah menjadi /pentuk/), /t/ menjadi /d/ . emisal tadi menjadi /dadi/), /d/ menjadi /t/ . ontohnya bandung menjadi /bantung/), /p/ menjadi /m/ . eperti pateni diucapkan /mateni/), dan /z/ menjadi /d/ . isalnya, zombi diucapkan /dombi/). Pola-pola ini menunjukkan kecenderungan anak untuk mengganti fonem dengan fitur pengucapan yang lebih sederhana atau lebih mudah diucapkan, seperti transisi dari frikatif ke hambat atau dari konsonan bersuara ke konsonan tak bersuara (Yulianto, 2. Penggantian fonem seperti /k/ menjadi /t/ atau /r/ menjadi /l/ merupakan indikasi bahwa sistem fonologisnya masih dalam tahap perkembangan. Gabrielczyk et al. dalam penelitian longitudinal mereka menemukan bahwa pertumbuhan fonologi sangat dipengaruhi oleh kesadaran fonemik, yang erat kaitannya dengan persepsi ritma dan kestabilan pola bunyi. Gangguan pada ritme dalam ujaran dapat mempengaruhi ketepatan pengucapan dan penggabungan fonem dalam pembicaraan anak. Penghilangan Fonem dan Proses Struktur Silabis Selain penggantian. Nizam juga menunjukkan adanya pola penghilangan fonem, baik di awal, tengah, maupun akhir morfem, yang termasuk dalam proses struktur silabis. Struktur silabis meliputi reduksi kluster, penghapusan konsonan di akhir, penghilangan suku kata yang tidak bertekanan, serta reduplikasi (Yulianto. Berikut adalah analisis pola penghapusan fonem yang terjadi pada Nizam: Tabel 15. Penghilangan 1 Fonem di Awal Kata Diucapkan Kata Asli /aya/ /atu/ /eli/ Penghilangan ini umumnya sering terjadi di awal kata, yang menunjukkan kesulitan anak dalam mengucapkan fonem awal tertentu, seperti /k/ atau /b/. Tabel 16. Penghilangan 1 Fonem di Tengah Kata Diucapkan Kata Asli /nzam/ /jaatin/ /jua/ Proses penghilangan 1 fonem di Tengah seperti yang dipaparkan dalam data di tabel, hal tersebut mencerminkan penyederhanaan struktur silabis dengan menghapus fonem yang terdapat di tengah kata, yang seringkali sukar untuk dilafalkan oleh anak. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Tabel 17. Penghilangan 1 Fonem di Akhir Kata Diucapkan Kata Asli /dewe/ Proses ini sesuai dengan penghilangan konsonan di akhir, yang lazim terjadi pada anak untuk menyederhanakan pola suku kata dari KVK menjadi KV (Yulianto, 2. Penghilangan 2 dan 3 Fonem di Awal Di temukan juga penghilangan dua fonem yang berada di awal, misalnya: Tabel 18. Penghilangan 2 dan 3 Fonem di Awal Kata Diucapkan Kata Asli /ayang-ayang/ layang-layang /ditit/ /peda/ /tolah/ /do/ /gian/ /ndut/ /tar/ Penghilangan dua atau tiga fonem di awal seperti pada data tabel 4. Penghapusan ini menunjukkan kecenderungan anak untuk menghilangkan suku kata yang tidak bertekanan di awal kata (Yulianto, 2. Ketidakmampuan Mengucapkan Fonem [U] Objek penelitian ini juga ditemukan bahwa Nizam tidak dapat melafalkan fonem [U] atau dibaca /ng/ pada setiap morfem yang terdapat fonem [U], misalnya: Tabel 19. Penghilangan Fonem [U] Kata Diucapkan Kata Asli /bunsut/ /ndak/ /bolon/ /penen/ /anjin/ Data menunjukkan bahwa Nizam tidak dapat mengucapkan fonem /U/ . asal vela. pada setiap morfem yang memuat fonem ini, contohnya bungsut diucapkan sebagai /bunsut/, enggak menjadi /ndak/, dan pengen menjadi /penen/. Konteks fonologi generatif, fonem /U/ memiliki fitur distingtif [ nasal, vela. Ketidakmampuan ini bisa dipahami sebagai sebuah bentuk denasalisasi, di mana konsonan nasal seperti /U/ diubah menjadi konsonan non-nasal, seperti /n/ (Yulianto, 2. Proses ini terjadi lebih sering karena pengucapan nasal velar lebih rumit dibandingkan dengan nasal alveolar /n/. Perubahan Makna Fonem Analisis ini juga ditemukan bahwa Nizam tidak dapat mengucapkan fonem sesuai dengan makna fonem yang sebenarnya, misalnya: Tabel 20. Perubahan Makna Fonem Kata Diucapkan /ian/ /titi/ /ayeh/ /toan/ /ape/ https://ejournal. id/index. php/jpb/index Kata Asli Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Kata Diucapkan /empet/ /mot/ Kata Asli kopet . ama panggilan sepupunya, aslinya Azk. Risma . ama sepup. Nizam juga menunjukkan pengucapan fonem yang berbeda dari arti sebenarnya seperti data pada tabel di atas. Fenomena ini mirip dengan cluttering, yaitu berbicara dengan cepat dan membingungkan, yang sering ditemukan pada anak-anak dengan keterlambatan dalam perkembangan berbicara (Hurlock, dalam Soetjiningsing, 2. Selain itu, pemendekan fonem seperti makan yang diucapkan sebagai /mam/ mencerminkan proses reduksi suku kata, di mana anak menghilangkan sebagian dari suku kata agar pengucapan lebih mudah (Yulianto, 2. Pemendekan Fonem Nizam juga melakukan pengucapan fonem yang dipendekkan, misalnya: Tabel 21. Pemendekan Fonem Kata Diucapkan Kata Asli /mam/ Pemendekan bunyi yang dilakukan oleh anak, seperti pengucapan /mam/ dari kata makan, merupakan bagian dari proses pengurangan suku kata dalam perkembangan bunyi pada anak. Menurut Ingram . , proses ini disebut sebagai pengurangan suku kata, yaitu saat anak-anak menghapus salah satu suku kata dari kata yang memiliki lebih dari satu suku kata agar lebih mudah diucapkan. Clark . menyatakan bahwa pengurangan ini adalah cara alami untuk menyesuaikan pengucapan yang terjadi ketika anak masih dalam proses belajar berbicara. Umumnya, suku kata yang dihilangkan adalah yang tidak mendapatkan tekanan atau yang lebih sulit diucapkan secara fisik. Hal ini muncul karena kemampuan memori bunyi anak masih terbatas, sehingga mereka cenderung menyederhanakan kata-kata. Dengan demikian, pemendekan bunyi bukan sekadar sebuah kesalahan dalam pengucapan, tetapi merupakan strategi linguistik yang wajar dalam proses penguasaan bahasa anak, terutama pada tahap awal perkembangan cara berbicara. Hubungan dengan Gangguan Berbicara Kesulitan berbicara yang ditunjukkan oleh Nizam bisa dikategorikan sebagai gangguan berbicara ringan yang memengaruhi cara pengucapan dan pemilihan kata (Mulyani dkk, 2. Masalah berbicara sering kali terdiagnosis pada anak-anak dan dapat berdampak pada rasa percaya diri serta interaksi sosial mereka. Dalam konteks Nizam, pola penggantian, penghilangan bunyi, dan ketidakcocokan makna menunjukkan adanya gangguan berbicara yang mungkin disebabkan oleh faktor fisik . eperti, koordinasi organ bicar. atau faktor lingkungan . urangnya rangsangan verbal yang cuku. (Efendi, dalam Nurhidayati dkk, 2. Secara teoritis, pola ini juga dapat dianalisis menggunakan pendekatan biner dalam fonologi generatif, di mana ciri-ciri pembeda seperti [ konsonanta. , [ vela. , atau [ nasa. diutilisasikan untuk menjelaskan perubahan bunyi (Yulianto, 2. Sebagai contoh, penggantian bunyi /k/ menjadi /t/ dapat diartikan sebagai perubahan ciri dari [ vela. menjadi [ alveola. , yang lebih mudah diucapkan oleh anak. Dampak terhadap Pembelajaran Bahasa Memahami gangguan berbicara pada anak dapat membantu merancang metode pengajaran yang lebih efektif (Field dalam Indah, 2. Situasi Nizam ini, intervensi bisa dilakukan dengan mengutamakan latihan pengucapan untuk bunyi-bunyi yang sulit, seperti /U/, /r/, atau /s/, serta menyediakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bahasa, seperti interaksi verbal yang lebih sering dengan orangtua (Efendi, dalam Nurhidayati dkk, 2. Pendekatan ini sejalan dengan teori fonologi generatif, yang menekankan pentingnya pemahaman mengenai representasi dasar (RD) dan aturan fonologis untuk mendeskripsikan proses pembelajaran bahasa (Yulianto, 2. Dibandingkan dengan hasil penelitian tanggal 31 Mei 2025 secara umum Nizam memiliki perkembangan dalam pengucapan kosa kata dari hasil analisis tanggal 23 April 2024 selama satu tahun Dari tujuh puluh tiga kosa kata masih ada dua puluh lima kosa kata yang sulit diucapkan, seperti pada tabel berikut. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Tabel 22. Analisis Hasil Observasi Tanggal 31 Mei 2025 Kesalahan Fonem yang Diucapkan Fonem Asli /lali/ /mabal/ /bocol/ /mate/ /ladu/ /taya/ /tatak/ /butan/ /watu/ /matanya/ /enda/ /uti/ /tolah/ /teta/ /matan/ /pemen/ /bolon/ /badus/ /cotat/ /dadi/ /selu/ /gambal/ /bandun/ Bandung /duda/ /rima/ Risma Hasil analisis ini menunjukkan adanya perubahan penyebutan kata dan tidak adanya perubahan penyebutan kata dari hasil penelitian tanggal 23 April 2024. Adapun kata yang memiliki perubahan penyebutan terdapat dua belas kata, yaitu AubocorAy. AulaguAy. AukayaAy. AuwaktuAy. AumakanAy. AupermenAy. AucoklatAy. AuseruAy. AugambarAy. AuBandungAy. AujugaAy, dan AuRismaAy. Berikut analisis lanjutan: Analisis Psikolinguistik dari Tuturan Nizam Psikolinguistik adalah bidang kajian yang mencoba memahami psikologi bahasa, khususnya dalam kaitannya dengan proses belajar bahasa, hubungan antara pikiran dan otak, serta pengaruh sosial dan budaya terhadap bahasa (Steinberg & Sciarini, 2. , selain itu psikolinguistik juga mempelajari proses-proses mental dan neurologis yang mendasari cara seseorang memperoleh, memproduksi, dan memahami bahasa. Hal pemerolehan bahasa pada anak, pola tuturan Nizam menggambarkan tahap perkembangan bahasanya yang khas, tetapi juga menunjukkan tanda-tanda adanya kesulitan berbicara yang dapat dikaitkan dengan gangguan berbicara ringan. Berikut ini adalah analisis psikolinguistik terhadap pola tuturan Nizam, dengan penekanan pada proses kognitif, fisiologis, dan lingkungan yang mempengaruhi pemerolehan bahasanya. Proses Kognitif dalam Pemerolehan Bahasa Bidang psikolinguistik, hubungan antara bahasa dan pemikiran sangat erat, karena ungkapan verbal mencerminkan kemampuan kognitif individu (Indah, 2. Pola penggantian fonem yang ditunjukkan oleh Nizam, seperti mengganti /k/ dengan /t/ . ontohnya, katak menjadi /tatak/) atau /s/ dengan /c/ . eperti polisi menjadi /poici/), menunjukkan bahwa ia sedang membangun representasi fonologis di dalam pikirannya, meskipun belum sepenuhnya mampu menghubungkan fonem-fonem tertentu dengan sistem artikulasi yang tepat. Berdasarkan teori fonologi generatif, representasi dasar (RD) yang ada dalam pikiran penutur mencerminkan pengetahuan fonologis yang melekat, yang kemudian diubah menjadi representasi fonetis (RF) dengan mengikuti aturan fonologis (Chomsky dan Halle, 1968, dalam Yulianto, 2. Situasi https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Nizam, kesalahan dalam pemetaan ini tampak dari perbedaan antara RD . ontohnya, /katak/) dan RF yang terbentuk (/tatak/). Hal ni menunjukkan bahwa kesalahan tersebut berhubungan dengan keterbatasan dalam proses kognitif, terutama terkait dengan memori fonologis jangka pendek. Memori ini berfungsi untuk menyimpan dan memproses informasi bunyi sebelum diucapkan (Baddeley, 2. Ketidakmampuan Nizam dalam melafalkan fonem /U/ . ontohnya, enggak menjadi /ndak/) atau fonem yang seharusnya sesuai makna . eperti pulang menjadi /ian/) menunjukkan bahwa ia mengalami kesulitan dalam menyimpan representasi fonologis yang rumit atau mengaksesnya dengan tepat. Faktor Fisiologis dalam Kerancuan Berbicara Faktor fisik memiliki peranan penting dalam pengucapan, karena organ artikulasi seperti lidah, bibir, dan pita suara harus berfungsi dengan baik agar suara yang dihasilkan tepat (Efendi, dalam Nurhidayati dkk. Pola kesalahan dalam berbicara yang dialami Nizam, seperti lisping (/s/ berubah menjadi /c/, contohnya susah menjadi /cucah/) dan penggantian /r/ dengan /l/ . eperti merah menjadi /melah/), menunjukkan kemungkinan adanya tantangan dalam koordinasi organ-organ yang digunakan untuk berbicara. Lisping dapat muncul karena kesalahan dalam struktur rahang, gigi, atau bibir, yang bisa bersifat sementara . isalnya, karena kehilangan gigi depa. atau permanen . isalnya, karena bentuk mulut yang tidak idea. (Hurlock dalam Soetjiningsing, 2. Perspektif fonologi generatif, penggantian fonem seperti /s/ menjadi /c/ bisa dipahami sebagai perubahan dalam fitur distingtifnya, misalnya dari [ frikatif, alveola. menjadi [ afrikatif, palata. (Yulianto Namun, dari sudut pandang psikolinguistik, pola ini juga bisa menunjukkan adanya disartria ringan, yaitu masalah dalam artikulasi yang diakibatkan oleh pengendalian organ bicara yang belum sepenuhnya berkembang (Chaer, dalam Indah, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa kesulitan Nizam dalam mengucapkan fonem seperti /U/ atau /r/ mungkin disebabkan oleh keterbatasan dalam gerakan motorik halus pada lidah, yang memerlukan gerakan lebih rumit untuk menghasilkan suara velar atau trill. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak-anak cenderung menyederhanakan suara yang rumit, seperti /r/ menjadi /l/, untuk memudahkan pengucapan atau dalam rangka penyederhanaan proses (Yulianto, 2. sejalan dengan Sastra . menjelaskan bahwa gangguan fonologis meliputi substitusi, ommisi, penambahan, dan ketidakberaturan fonem. Berdasarkan pengamatan. Nizam menunjukkan bentuk substitusi dan ommisi yang cukup konsisten dalam cara pengucapannya, seperti menghilangkan bunyi di awal dan akhir kata, serta mengganti bunyi yang sulit dengan bunyi yang lebih mudah baginya. Berdasarkan wawancara dengan orang tua, terungkap bahwa kurangnya stimulasi verbal dan perhatian saat fase kritis penguasaan bahasa . sia 0Ae5 tahu. menjadi salah satu penyebab utama. Hal ini didukung oleh Indah . yang mengungkapkan bahwa otak dan alat bicara yang tidak menerima cukup input verbal akan terpengaruh dalam kemampuan berbahasa, baik dalam penerimaan maupun pengungkapan. Lebih lanjut. Chaer . mengelompokkan penyebab gangguan berbahasa menjadi dua kategori utama, yaitu: . faktor medis, seperti kelainan pada sistem saraf pusat atau alat bicara, dan . faktor sosial, seperti kurangnya dukungan dari lingkungan atau keterasingan dari komunitas. Dalam kasus Nizam, kedua faktor tersebut saling Hal ini belum ada kelainan fisiologis yang teridentifikasi, lingkungan keluarga yang minim stimulasi verbal berkontribusi besar terhadap keterlambatan dan gangguan dalam bahasa. Observasi terhadap Muhammad Nizam Affandi menunjukkan bahwa ia mengalami kesulitan saat mengucapkan beberapa fonem, termasuk /f/, /g/, /j/, /k/, /n/, /q/, /r/, /s/, dan /x/. Kesalahan pengucapan ini meliputi penggantian fonem . isalnya /k/ diucapkan sebagai /t/, atau /r/ diucapkan sebagai /l/), penghilangan fonem di berbagai posisi dalam morfem . aik di awal, tengah, atau akhi. , serta pemendekan fonem dan perubahan makna karena kesalahan pelafalan. Fenomena ini, dari sudut pandang psikolinguistik, menunjukkan adanya rintangan dalam proses internalisasi dan produksi bahasa, terutama terkait pengolahan suara dan akses ke memori fonologis. Kesalahan fonologis yang dialami anak berusia 3-5 tahun mencerminkan sistem fonem yang belum sepenuhnya stabil, yang disebabkan oleh lemahnya penyimpanan suara dalam memori kerja dan ketidakaturan dalam artikulasi (Zulkhi dan Wardani, 2. Sisi lingkungan, kurangnya interaksi linguistik serta perhatian orang tua menjadi faktor penting yang mempengaruhi kemampuan fonologis anak. Temuan Patresia dkk. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. menunjukkan bahwa minimnya rangsangan linguistik untuk anak memengaruhi kesulitan dalam pengucapan fonem tertentu, terutama jika tidak ada intervensi sejak awal. Lingkungan sosial serta penggunaan dialek lokal dapat memperkuat atau mengurangi akuisisi fonem standar (Panggabean dkk. , 2. Dalam kasus Nizam, yang menggunakan bahasa Indonesia dan dialek Jawa Serang, terdapat kecenderungan untuk menciptakan variasi fonetik baru atau pencampuran, seperti jemoy untuk gemoy, dan pentuk untuk bentuk. Fenomena ini mencerminkan bahwa dalam komunitas yang mengadopsi dua bahasa atau lebih, anak dapat menghadapi ambiguitas fonologis yang lebih rumit. Lingkungan dan Interaksi Sosial Lingkungan memiliki peranan penting dalam proses belajar bahasa anak. Menurut Efendi . alam Nurhidayati dkk, 2. , jika ada dukungan dari keluarga dengan stimulasi verbal yang cukup, hal ini bisa meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas kemampuan berbicara anak. Data menunjukkan bahwa Nizam seringkali menyederhanakan bunyi . eperti mengubah kata makan menjadi /mam/) atau menghilangkan bunyi . eperti mengubah sedikit menjadi /ditit/), hal ini mungkin menunjukkan kurangnya paparan terhadap model berbicara orang dewasa yang konsisten. Penerapan psikolinguistik, diperlukan interaksi verbal yang intens dan paparan bahasa yang kaya untuk membangun pemahaman fonologis yang tepat di dalam pikiran anak (Hoff. Melikasari ddk. menambahkan bahwa lingkungan sosial yang kurang responsif secara verbal dapat mengakibatkan anak terjebak dalam stagnasi fonologis. Rendahnya tingkat komunikasi interaktif mungkin menyebabkan gangguan persepsi fonemik dan menghalangi artikulasi yang benar. Hubungan dengan Gangguan Berbahasa dan Implikasi Klinis Pola bicara Nizam menunjukkan tanda-tanda kebingungan berbicara yang bisa dikelompokkan sebagai gangguan bicara ringan, seperti cluttering atau lisping (Hurlock, dalam Soetjiningsing, 2. Cluttering, yang ditandai dengan berbicara dengan cepat dan membuat bingung, terlihat dalam pemendekan bunyi seperti makan menjadi /mam/. Disisi lain, lisping terlihat dari penggantian bunyi /s/ dengan /c/, yang mungkin berkaitan dengan faktor fisiologis seperti koordinasi bibir atau lidah yang belum optimal. Namun, kesulitan Nizam dalam mengucapkan bunyi /U/ atau menghasilkan ujaran yang tepat juga bisa menunjukkan adanya masalah berbahasa yang lebih kompleks, seperti disleksia fonologis ringan atau afasia perkembangan. Sudut pandang psikolinguistik, masalah berbicara pada anak dapat berdampak pada rasa percaya diri dan interaksi sosial, yang pada gilirannya bisa memperburuk proses belajar bahasa (Mulyani dkk, 2. Situasi Nizam, pengucapan yang tidak tepat . eperti pulang menjadi /ian/) bisa menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi, yang berpotensi menimbulkan rasa frustrasi atau isolasi sosial. Oleh karena itu, intervensi psikolinguistik perlu mencakup: Pertama, terapi artikulasi adalah latihan yang ditujukan untuk memperbaiki cara pengucapan bunyibunyi seperti /U/, /r/, atau /s/, dengan penekanan pada pengembangan koordinasi motorik organ bicara (Chaer, dalam Indah, 2. Kedua, stimulasi dari lingkungan, orang tua serta pengasuh perlu berperan aktif dalam memberikan contoh tuturan yang jelas dan konsisten, serta memberikan koreksi yang mendukung tanpa memberikan tekanan (Efendi, dalam Nurhidayati dkk, 2. Lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pengembangan bahasa anak. Keluarga harus menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan bahasa, salah satunya dengan memberikan stimulasi verbal secara aktif dan terus-menerus. Dalam situasi ini, kurangnya interaksi verbal yang bermakna selama tahap awal perkembangan Nizam menyebabkan keterhambatan dalam kosakata dan artikulasi. Pernyataan ini sejalan dengan pandangan Crystal . alam Antonius, 2. bahwa bahasa berfungsi bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai saluran untuk mengekspresikan emosi dan membangun hubungan sosial. Ketidakberhasilan dalam fungsi ini dapat berdampak psikologis pada anak, seperti perasaan rendah diri dan menarik diri dari interaksi sosial. Ketiga, pendekatan kognitif mencakup latihan untuk memperbaiki ingatan fonologis jangka pendek, seperti permainan yang melibatkan pengulangan kata atau frasa, yang dapat membantu Nizam untuk lebih tepat dalam memetakan representasi fonologis (Baddeley, 2. https://ejournal. id/index. php/jpb/index Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. No. Juni 2025 ISSN: 2088-0316 | e-ISSN: 2685-0133 https://doi. org/10. 37630/jpb. Analisis ini menunjukkan bahwa Nizam berada dalam tahap perkembangan bahasa yang normal tetapi terlambat, dengan kemungkinan adanya faktor fisiologis atau lingkungan yang mempengaruhinya, yang dapat dilihat dalam tabel perkembangan bahasa Nizam yang menunjukkan kemajuan pada 31 Mei 2025. Namun, untuk memastikan apakah pola tuturan Nizam merupakan gangguan bahasa yang lebih serius . eperti, afasia perkembangan atau disleksia fonologi. , perlu dilakukan evaluasi klinis oleh spesialis patologi wicara. Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi Field . alam Indah, 2. , yang menekankan pentingnya memahami gangguan bahasa untuk merancang intervensi yang efektif. Integrasi dengan Teori Fonologi Generatif Konteks fonologi generatif, pola tuturan Nizam bisa dijelaskan menggunakan tiga komponen utama: representasi dasar (RD), aturan fonologis, dan representasi fonetis (RF) (Dell, 1. Contohnya, pada kata "katak". RD-nya adalah /katak/, tetapi aturan fonologis yang diterapkan Nizam menghasilkan RF /tatak/ melalui proses fronting . erubahan fitur [ vela. menjadi [ alveola. Dari perspektif psikolinguistik, proses ini menunjukkan keterbatasan dalam sistem kognitif dan motorik Nizam untuk menghasilkan representasi fonetis yang sesuai dengan RD orang dewasa. Aturan fonologis seperti AB/X-Y (Chomsky dan Halle, 1. dapat diterapkan untuk memodelkan perubahan ini, misalnya /k/ Ie /t/ / _V . berubah menjadi t sebelum voka. Analisis ini menunjukkan bahwa pendekatan fonologi generatif menyediakan kerangka yang kuat untuk secara sistematis memahami pola tuturan Nizam, sementara perspektif psikolinguistik menambah analisis ini dengan mempertimbangkan aspek kognitif, fisiologis, dan lingkungan. Gabungan kedua pendekatan ini memungkinkan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai penguasaan bahasa Nizam dan potensi gangguan berbicaranya. KESIMPULAN Penelitian ini, disimpulkan bahwa gejala fonologis yang dialami Nizam menggambarkan keterlambatan dalam pemerolehan bahasa yang dipengaruhi oleh faktor kognitif, fisiologis, dan lingkungan. Dari sisi kognitif, keterbatasan dalam memori fonologis menjadikan Nizam sulit untuk menahan dan mengulang bunyi yang rumit secara konsisten. Dari sudut fisiologis, kesulitan dalam menghasilkan bunyi seperti /k/, /r/, dan /s/ menunjukkan adanya keterlambatan dalam penguasaan bagian-bagian bicara. Sementara itu, dari segi lingkungan, kurangnya rangsangan verbal dan perbaikan dalam interaksi sehari-hari juga memperkuat pola fonologis yang salah. Ketiga faktor ini saling berhubungan dan memengaruhi keseluruhan pola pemerolehan bahasa Nizam. Gangguan yang terlihat, seperti penggantian bunyi, penghilangan suara, serta kesalahan dalam pengucapan, menunjukkan bahwa sistem fonologis anak sedang dalam proses perkembangan dan belum sepenuhnya stabil. Analisis menunjukkan bahwa kesulitan dalam mengartikulasikan bunyi /k/, /r/, dan /U/ berhubungan erat dengan kelemahan memori fonologis serta kurangnya interaksi verbal yang berkualitas dari lingkungan sekitarnya. Perspektif psikolinguistik dan fonologi generatif, fenomena ini dapat dijelaskan melalui mekanisme representasi dasar dan proses fonologis yang belum sepenuhnya matang. Tindakan intervensi yang dianjurkan meliputi terapi artikulasi, stimulasi verbal dari keluarga, dan pelatihan kognitif untuk meningkatkan memori fonologis anak. Temuan ini menekankan pentingnya deteksi dini terhadap gangguan fonologis sehingga perkembangan bahasa anak dapat didorong secara optimal melalui pendekatan yang sesuai. Daftar Pustaka