Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam Sakolaku Kecamatan Maja Kabupaten Majalengka Dedeh Komalasari*. Maria Hidayanti. Lita. Anisa Eka F Universitas Majalengka. Majalengka. Indonesia *Coresponding Author: dedekomalasari@unma. Dikirim: 12-10-2025. Direvisi: 02-11-2025. Diterima: 06-11-2025 Abstrak: Pembelajaran perlindungan diri pada anak, merupakan program pembelajaran dengan tujuan menciptakan iklim lingkungan belajar yang positif yang berarti lingkungan yang anti kekerasan, anti perundungan dan lingkungan toleransi tinggi. Permasalahan yang timbul dikarenakan maraknya isu dan kasus kekerasan yang terjadi pada anak dan bahkan sering terjadi dan dilakukan oleh orang terdekat. Setelah diidentifikasi disebabkan oleh kurangnya pemahaman orang tua terhadap pendampingan dalam mencegah segala bentuk kekerasan pada anak serta kurangnya pengalaman belajar anak untuk mengidentifikasi Ketika terjadi ancaman atau bahaya serta pengalaman mengatasinya. Program pengabdian ini dilaksanakan di TK Islam Sakolaku yang berada di Kecamatan Maja. Majalengka. Metode pelaksanaan pengabdian ini dilaksanakan melalui tahapan soialisasi kemudian pelatihan dengan metode demonterasi, dimana pelatihan menggunakan pendekatan pembelajaran konkret sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini. Pelaksanaan pelatihan diberikan kepada orang tua/wali juga Guru dan segenap komite pembelajaran TK Islam Sakolaku. Hasil dari Pelatihan tersebut bertambah mendalamnya pemahaman orang tua/wali mengenai pentingnya pencegahan kekerasan pada anak, pentingnya sinergitas antara orang tua dan guru dalam hal pembelajaran dan pola pengasuhan anak serta menambah dan mengasah pengalaman belajar anak dalam hal perlindungan diri serta waspada dalam mengidentifikasi ancaman maupun bahaya yang memungkinkan terjadi kekerasan maupun perundungan. Kata Kunci: pembelajaran perlindungan diri. anti kekerasan. lingkungan aman Abstract: Learning Self-Protection for Children: A Program to Create a Positive Learning Environment. The learning program aims to create a positive learning environment, which means an environment that is anti-violence, anti-bullying, and high in tolerance. The problem arises due to the rampant issues and cases of violence against children, often committed by those closest to them. After identification, it was found that the lack of parental understanding in preventing all forms of violence against children and the lack of children's learning experiences in identifying threats or dangers and overcoming them. This community service program was implemented at TK Islam Sakolaku in Maja District. Majalengka. The method used was socialization followed by training using demonstration methods, with a concrete learning approach suitable for early childhood learning characteristics. The training was given to parents/guardians, teachers, and the entire learning committee of TK Islam Sakolaku. The results of the training showed an increased understanding of parents/guardians regarding the importance of preventing violence against children, the importance of synergy between parents and teachers in learning and parenting patterns, and an increase in children's learning experiences in self-protection and vigilance in identifying potential threats or dangers that may lead to violence or bullying. Keywords: Self-Protection Learning. Anti-Violence. Child-Friendly @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA PENDAHULUAN Berita maraknya kekerasan terhadap anak, akhir-akhir ini banyak menyita perhatian Masyarakat. Kekerasan yang terjadi ada yang terjadi dilingkungan rumah anak baik itu dilingkungan keluarga maupun Masyarakat dan sering juga terjadi beberapa kasus dilingkungan sekolah anak. Kekerasan yang terjadi banyak sekali ragamnya dimulai dari kekerasan fisik, kekerasan verbal, kekerasan fsikis, bahkan kekerasan seksual. Pemerintah sendiri dalam hal ini di bawah kementrian pendidikan dan kebudayaan, menggaungkan berbagai program seperti AuSekolah Anti BullyingAy. AuSekolah Anti KekerasanAy, bahkan berbagai program lainya demi mendukung Pencegahan Kekerasan terhadap anak. Kekerasan pada anak tentu bertentangan dengan aturan konstitusi di Indonesia, yaitu Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang perlindungan anak (Wibowo, 2. Ada satu kasus mencuat di tahun 2024 ini cukup menyita perhatian Masyarakat yaitu munculnya pemberitaan seorang murid TK di Pekan baru. Riau dilaporkan mencabuli temanya. Baik pelaku maupun korban keduanya berjenis kelamin sama dan sama-sama berusia 5 tahun sedang mengikuti pendidikan setingkat PAUD yaitu dijenjang TK. Penomena ini membuat miris berbagai kalangan dan cukup menyita Dimana ada yang salah dengan sistem pengasuhan maupun pengabaian dalam tumbuh kembang anak. Berdasarkan hasil penelusuran pihak berwenang kasus ini bermula, ayah korban mengatakan perilaku anak sulungnya berubah beberapa bulan terakhir. Sang anak disebut kerap memainkan kemaluan dan memamerkan kepada sang ibu. Awalnya sering memainkan kemaluannya. Bahkan dia kasih tau sama istri saya, . bu korba. " kata ayah korban saat diwawancara wartawan . Ternyata berdasarkan hasil penelusuran, pelaku yang merupakan teman sebaya korban mengakui awal melakukan hal tersebut dikarenakan sering melihat video berbau pornograpi di hp orang tuanya sehingga anak yang pemahamanya belum matang, mencerna apa yang ia lihat tanpa filter serta bimbingan. Sehingga anak TK diusia yang sedang dalam proses berekspolorasi mengalami eksplorasi liar dan tak Kasus ini merupakan kasus kekerasan meskipun pelaku masih dibawah umur. Kasus lain yang sedang viral juga saat ini yang menimpa anak-anak adalah terbunuhnya seorang anak Perempuan berumur 8 tahun di Menado oleh tantenya sendiri dikarenakan tantenya menginginkan emas yang dipakai oleh anak tersebut. Kasus ini begitu membuat kaget banyak pihak dikarenakan pelaku masih memiliki hubungan keluarga dengan korban (Kompas TV, 2. Contoh kasus diatas dan beberapa pemberitaan lainya juga menimbulkan keresahan serta kekhawatiran khususnya orang tua dan masyarakat terutama yang memiliki anak masa todler dan sudah sekolah di TK atau PAUD karena sedang masa bermain dan tidak selalu berada dalam pengawasan orang tua. Begitupun dengan orang tua wali siswa di TK Islam Sakolaku. TK Islam Sakolaku berada diKecamatan Maja Kabupaten Maja yang berdiri sejak tahun 2020 dan baru memperbarui. ijin operasional TK Islam Sakolaku sebuah lembaga layanan Pendidikan anak usia dini yang menyediakan. layanan anak usia dini yang bernuansa islami yang mengedepankan akhlak dan perilaku. TK Islam Sakolaku memiliki dua layanan kelompok Usia yaitu kelompok A (Usia 4-5 tahu. dan Kelompok B (Usia 5-6 tahu. Tiap kelompok memiliki satu orang guru kelas dan satu orang guru pendamping. Memiliki SDM yang mumpuni dan sesuai dengan bidangnya. dengan Kurikulum acuan Kurikulum Nasional. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA Terletak didekat pusat kecamatan maja, namun cukup aman dan nyaman karena tidak berada dijalan ramai kendaraan roda 4 serta suasana asri dan sejuk menciptakan lingkungan dan berkomitmen menyelenggarakan layanan PAUD Holistik Intergeratif (HI) yaitu adanya layananan pendidikan, pengasuhan, kesehatan dan perlindungan. Sesuai dengan makna sekolah yang dicita-citakan dalam konteks iklim lingkungan belajar yaitu bahwa satuan pendidikan mampu menghadirkan iklim lingkungan belajar yang bhineka, inklusif, aman, menjaga keselamatan dan kesehatan peserta didik (BAN PDM, kemendikbudristek, 2. Namun akhir-akhir ini isu-isu yang berkembang tentang kekerasan pada anak baik itu bentuk kekerasan verbal, fisik, psikis maupun seksual kerap menjadi berita yang membuat miris sehingga memiliki dampak kekhawatiran orang tua saat menyekolahkan anaknya yang akhirnya malah menunggui anaknya secara bergerombol bahkan cenderung mengganggu proses pembelajaran. Anak usia dini masa nya sedang berekspolorasi namun karena kekhawatiran dari orang tua sehingga membatasi ekspolorasi anak dengan stigma bahwa kekerasan bisa terjadi kapan saja dan oleh siapa saja bahkan oleh orang terdekat. Berdasarkan permasalahan diatas pengabdian ini bertujuan sebagai salah satu Upaya menciptakan iklim lingkungan belajar yang positif yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap individu dalam lingkungan tersebut. Selaras dengan TK Islam Sakolaku komitmen dalam menyelenggarakan layanan holistik integeratif yang secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Penyelenggaraan sesuai dengan sekolah yang dicita-citakan, yaitu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pendidik yang reflektif, gemar belajar, berkolaborasi serta lingkungan sekolah yang aman, inklusif dan berkebhinekaan KAJIAN TEORI Sejalan dengan kebijakan pemerintah yaitu tujuan disusunnya Kebijakan Sekolah Ramah Anak adalah untuk dapat memenuhi, menjamin dan melindungi hak anak, serta memastikan bahwa satuan pendidikan mampu mengembangkan minat, bakat dan kemampuan anak serta mempersiapkan anak untuk bertanggung jawab kepada kehidupan yang toleran, saling menghormati, dan bekerjasamuntuk kemajuan dan semangat perdamaian. Satuan pendidikan diharapkan tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, namun juga melahirkan generasi yang cerdas secara emosional dan spiritual (Kementrian Pemberdayaan Perempuan, 2. Kekerasan yang paling umum terjadi adalah kekerasan seksual sebagai makhlukyang polos dan lugu kerapkali mereka menjadi sasaran empuk oleh oknumoknum yang tidak bertanggung jawab mereka memanfaatkan celah tersebut untuk berbuat kejahatan dan menjadikan anak-anak sebagai objek kejahatan yang keji (Sigiarto et al, 2. Mengingat fakta yang terjadi bahwa anak masa usia TK tidak selalu dalam pengawasan orang tua maupun guru bahwa penting untuk anak mampu mengenali jika terjadi kekerasan terhadap dirinya sehingga anak mampu mengatasi sesuai usia dan Pembelajaran Perlindungan diri sebagai bentuk antsipasi terhadap segala bentuk kekerasan yang mengintai anak. Selaras dengan esensi Kurikulum Nasional dalam implementasinya tujuan pengabdian masyarakat pembelajaran Perlindungan diri terhadap anak . elf safety for childre. adalah mewujudkan iklim lingkungan sekolah yang aman, inklusif dan berkbhinekaan, mencegah segala bentuk @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA kekerasan pada anak, sinergitas orang tua dan sekolah dalam mewujudkan layanan holistik integeratif, relevansi pembelajaran mendalam dengan ketercapaian indikator layanan pengasuhan dan perlindungan, tercapainya tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Dalam implementasi merdeka belajar ada 3 hal yang harus dihindari dalam lingkungan pendidikan yang meliputi meliputi intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual. Menurut Permendikbud no 82 Tentang Penanggulan Kekerasan pada anak . Sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) bahwa dalam menciptakan iklim lingkungan belajar yang baik sebuah sekolah harus meniadakan ketiga hal tersebut yaitu intoleransi, perundungan dan kekerasan seksual. Hal tersebut bisa di antisipasi dengan mengintegrasikan/memasukkan nilai-nilai anti kekerasan ke dalam visi dan misi satuan PAUD. Visi dan misi ini akan menjiwai seluruh penyelenggaraan program PAUD Berkualitas. Model PAUD Berkualitas bertujuan untuk membangun kesamaan visi tentang transformasi satuan PAUD sehingga memudahkan advokasi, baik kepada satuan PAUD maupun semua pihak yang mendukung program PAUD. Ketika memasukkan perlindungan dalam visi dan misi, maka akan menjadi acuan dalam menyusun strategi mewujudkan perlindungan anak di satuan. Selanjutnya menciptakan lingkungan belajar yang aman di satuan PAUD, baik secara fisik, psikis . dan juga sosial dengan melakukan pemenuhan hak dan perlindungan anak di lingkungan Pendidikan. Adapun lingkungan aman fisik, meliputi keamanan bangungan, lingkungan, penyediaan P3K, sedangkan lingkungan aman psikis, meliputi perangkat kebijakan di satuan PAUD yang anti kekerasan seksual, anti kekerasan fisik, anti perundungan, dan anti hukuman fisik. Satuan PAUD menyusun Standard Operational Prosedur (SOP) perlindungan anak. SOP dimaksud dapat digunakan sebagai mitigasi risiko tindak kekerasan dan penanganan jika terjadi Suasana belajar yang aman dan terbuka memungkinkan anak untuk aktif bertanya dan berpendapat tanpa rasa takut. Implementasi pendidikan seks yang sesuai usia terbukti berkontribusi pada penguatan perlindungan diri anak dan penciptaan budaya aman di sekolah PAUD (Anisah & Rohmah, 2. Jika terjadi peristiwa tindak kekerasan pada anak, maka aturan penanganan yang dapat diterapkan di sekolah yaitu jika mendapati bahwa salah satu anak didik Anda mengalami kekerasan seksual, diskusikan dengan Komite Perlindungan Anak (KPA) untuk cara penanganannya, jaga nama baik anak dan keluarganya dengan baik, serta tidak perlu menceritakan peristiwa kekerasan seksual tersebut kepada orang yang tidak berkepentingan, perlakukan anak seperti biasa, tidak perlu memberikan perhatian berlebih kepada anak, karena tindakan tersebut membuat anak merasa berbeda. Berikan dispensasi kehadiran jika diperlukan. Kemudian kenali siapa pelaku Jika pelaku adalah bagian dari satuan PAUD, berikan sanksi yang sesuai dengan perbuatannya. Namun walaupun demikian, ada satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa sangat penting bagi satuan melakukan mitigasi risiko terlebih dahulu, yang diawali dengan menyiapkan SOP pencegahan tindak kekerasan, satuan dapat memasukkan ke tematema pembelajaran di kelas terkait perlindungan anak. Guru dapat mengenalkan halhal praktis agar anak terhindar dari kekerasan seksual dan juga resiko menjadi pelaku di kemudian hari. Selanjutnya guru juga perlu mengedukasi tentang apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan situasi yang dapat mengancam keselamatan dan kenyamanannya baik saat berada di satuan PAUD maupun di lingkungan lainnya. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA Satuan menggunakan Pembelajaran Berbasisi Data (PBD) sebagai bahan evaluasi internal satuan sehingga dapat diketahui sejauh apa iklim belajar aman yang Kemudian adanya penyelenggaraan kelas orang tua sebagai wadah komunikasi belajar, berbagi dan diskusi bersama para orang tua. Kegiatan ini juga kesempatan guru untuk menyampaikan materi perlindungan anak sebagai upaya pencegahan kekerasan dalam keluarga dan juga sebagai wadah sosialisasi nilai-nilai anti kekerasan dan terus mendorong, memantau aktivitas kelas orang tua untuk menerapkan pencegahan tersebut di rumah masing-masing. Penelitian sebelumnya mengenai upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak dengan metode pendekatan baru yaitu Ajar mandiri. Ajar Mandiri merupakan sebuah istilah dari Anak Belajar Selamatkan Diri yang dikemas dalam sebuah augmented reality berbentuk game pada android (Mahanani, et al . Dalam upaya menurunkan serta mencegah bentuk kekersan terhadap anak, bisa dilakukan melalui pembelajaran interaktif. Program edukasi interaktif dalam pencegahan pelecehan seksual pada anak usia sekolah telah terbukti lebih efektif dibandingkan metode tradisional (Hajri et al. , 2. Sebagai alternatif dapat digunakan pendekatan indoktrinasi, klasifikasi nilai, keteladanan, dan perilaku guru (Eterna et al. , 2. Pada pendekatan diatas bisa dijadikan sebagai sasaran dalam upaya pendekatan yang humanis dan sesuai dengan usia dan perkembangan anak METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Dalam pengabdian masyarakat ini kami menggunakan metode Pelatihan atau Demonsterasi. Metode Pelatihan dan Demonstrasi ini akan memiliki 3 sasaran yaitu untuk Guru. Orang tua dan peserta didik itu sendiri. Pelatihanya sendiri terintegerasi untuk siswa sebagai suatu program pembelajaran dalam menciptakan iklim lingkungan belajar yang positif. Untuk pembelajaran yang tepat sasaran, maka berikut adalah tahapan pelaksanaan Pengabdian : Observasi. Perencanaan Pengabdian, pelaksanaan, refleksi dan evaluasi, pelaporan. Dimana langkah awal dengan terlebih dahulu melakukan observasi dengan mitra pengabdian yaitu TK Islam sekolahku. Langkah pertama adalah membahas profil serta karakteristik TK Islam Sakolaku. Detail mengumpulkan data tentang karakteristik satuan, peserta didik maupun pendidik dan penyelenggara satuan. Setelah itu menganalisa berbagai kebutuhan belajar serta permasalahan yang muncul akar masalah serta solusinya. Setelah observasi dan dianalisa dilanjutkan dengan diskusi dan menentukan langkah-langkah yang sebelumnya sudah dirancang kemudian mensosialisasikan program tersebut kepada satuan dan komite orang tua. Adapun langkah-langkah pelaksanaan pengabdian adalah pertama sosialisasi pada sekolah dan komite, pelatihan Pembelajaran Self Safety For Children untuk Guru, pelatihan Pembelajaran Self Safety For Children untuk Peserta Didik, penggunaan PPT. Pamflet, vidio tentang Self safety For Children, adanya pendampingan pembelajaran dan evaluasi program berkelanjutan. Kemudian ada keberlanjutan dengan Panduan Perlindungan Diri Pada Anak TK Islam Sakolaku sebagai mitra berpartispasi dengan penyediaan tempat, kesiapan guru dan komite mengikuti pelatihan mengenai program perlindungan diri/ self safety for children serta komitmen sebagai satuan PAUD yang menyelenggarakan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA layanan holistik integeratif untuk keberlangsungan pembelajaran ini. Jadi setiap masuk kedalam projek dan rencana pembelajaran tahun berikutnya. Evaluasi ini penting dilakukan dan merupakan tahapan refleksi dimana hasil dari pengabdian ini akan dicatat hal-hal penting dari ketercapaian dan relevansi tujuan pengabdian dengan pelaksanaanya serta akan menjadi rencana tindak lanjut berikutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban dan ketuntasan program pembelajaran perlindungan diri pada anak. Tabel 1. Rancangan Kegiatan Kegiatan Perencanaan Pengabdian Pelaksanaan Pengabdian Penyusunan dan Pengumpulan Laporan Bulan Tindak lanjut IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Implementasi dan Hasil Kegiatan Pelaksanaan pengabdian mengenai Pembelajaran Perlindungan Diri Pada Anak dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 23 Mei 2025 bertempat di TK Islam Sakolaku, tepatnya di Mushola masih dalam lingkungan yayasan yang menaungi. Acara di buka dilanjutkan sambutan dari Kepala Sekolah dan Ketua Tim PKM. Acara inti dihantarkan oleh ketua Tim mengenai pentingnya sosialisasi anti kekerasan dilingkungan sekolah. Menggambarkan bagaimana iklim lingkungan Sekolah yang Bagaimana menciptakan iklim lingkungan yang baik dengan prinsip model Sekolah Ramah Anak. Pemaparan dari ketua tim. Ibu Maria Hidayanti sebagai materi pengantar terhadap program Pembelajaran Perlindungan Diri Pada Anak. Gambar 1. Materi Pengantar AuSekolah ramah Anak anti KekerasanAy Kemudian materi dilanjutkan pada Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak atau self Safety For ChildrenAos oleh Anggota Tim Dedeh Komalasari. Program perlindungan diri pada anak / self safety for children adalah suatu pembelajaran yang diterapkan pada anak dalam rangka upaya pencegahan kekerasan pada anak. Yang bentuk pencegahanya oleh diri anak tersebut. Meskipun pencegahannya dilakukan pendampingan oleh orang dewasa namun secara mandiri anak dilatih untuk melakukan perlindungan diri baik dari kekerasan fisik. Psikis maupun seksual. Gambaran yang sebagai bentuk perlindungan diri pada anak diimplementasikan. yang pertama mengenalkan pada anak bagian tubuh yang boleh disentuh atau tidak boleh disentuh @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA Gambar 2. Peraga Bagian Tubuh yang boleh dan jangan di sentuh Anak akan di beritahukan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh maupun bagian-bagian yang tidak boleh disentuh. Anak juga diberi pemahaman mengenai perbedaan gender serta siapa saja yang boleh menyentuhnya. Pengenalan seperti ini diiringi lagu yang sesuai tentang bagian-bagian tubuh. Selanjutnya anak dilatih agar anak bisa lantang mengatakan AuTidakAy Gambar 3. Anak diajarkan untuk tegas berkata Tiidak Anak dilatih untuk dengan tegas mengatakan tidak jika ada orang yang akan menyentuhn atau melihat bagian tubuh yang tiboleh dilihat dan disentuh, atau orang saat menunjukan bagian tubuh tertentu. Atau saat orang asing membujuk rayu dengan iming iming. Selanjutnya anak berlatih untuk AuTeriak dan LariAy Gambar 4. Peraga Berlatih lari dan Teriak @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA Jika terjadi ada yang memaksa anak berlatih untuk berteriak kencang dan segera lari dan mencari orang atau tempat ramaiuntuk segera menceritakan yang terjadi Kemudian biasakan anak untuk bercerita pengalaman dan kejadian yang Gambar 5. Latih dan biasakan anak untuk bercerita Anak dilatih untuk selalu menceritakan aktivitasnya maupun kejadian yang Dan jadi lah guru/orang tua yang menjadi pendengar untuk anak. Biasakan orang tua menjadi pendengar aktif yang memfasilitasi agar anak memiliki kemampuan menyampaikan maupun menceritakan kejadian yang menimpanya dan buat situasi anak nyaman untuk bercerita, ciptakan ruang kepercayaan bahwa ibu dan guru menjadi tempat yang aman untuk bercerita. Jurus jurus penyelamatan bagi anak jika terjadi sesuatu yang menimpanya. disimulasikan saat pelatihan. berikut beberapa Gambaran saat simulasi jurus jurus Gambar 6. Ketika anak berada dalam bahaya Gambar 7. cara anak meloloskan diri @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA Gambar 8. Anak meloloskan diri Pembelajaran Dilakukan berulang ulang dan dengan cara yang menyenangkan bagi anak dimana anak akan memahami dan terstimulasi sesuai usianya. Orang tua dan Guru menyimak Pelatihan Pembelajaran Diri pada Anak dan mempraktekanya Setelah dilakukan pembelajaran Perlindungan diri terhadap anak. Materi dilanjutkan dengan penguatan peran orang tua dalam pola asuh yang disampaikan anggota Tim. Ibu Lita. Disampaikan sejauh mana peran orang tua dalam tumbuh kembang anak dalam membina dan memberikan pengasuhan yang tepat di era digital Sinergitas orang tua dan guru yang harmonis dengan tujuan membina generasi emas harus selaras, komitmen dan konsisten serta berkesinambungan. Materi yang disampaikan menguatkan materi sebelumnya bagaimana keterlinatan orang tua dalam pengasuhan dalam memberikan rasa aman dan nyaman untuk menciptakan iklim lingkungan belajar yang positif. Setelah penyampaian materi dan simulasi dibuka sesi tanya jawab dan dapat diamati bagaimana ketertarikan orang tua terhadap bagaimana menciptakan iklim lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak-anak untuk mendukung tumbuh kembang anak yang baik. Kemudian acara ditutup setelah kegiatan tanya jawab. Pembahasan Pelaksanaan pengabdian yang dilaksanakan dalam tema Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak telah menarik atensi baik dari orang tua maupun guru di TK Islam Sakolaku. Hal ini terbukti dari ketertarikan orang tua saat menyimak dan mensimulasikan pembelajaran perlindungan diri pada anak. Secara fokus orang tua dan guru memperagakan kembali lalu merefleksikan dan mengulang kembali untuk Pelaksanaan yang diawali dulu dengan sosialisasi menggunakan materi pengantar, menghantarkan orang tua pada pemahaman betapa pentingnya sinergitas orang tua dan guru dalam Bersama-sama menciptakan iklim lingkungan belajar yang positif anti kekerasan dengan selogan AuSekolah Ramah AnakAy. Setelah peserta cukup @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Komalasari dkk. Pembelajaran Perlindungan Diri pada Anak di TK Islam SakolakuA faham terhadap kebutuhan-kebutuhan dasar anak tersebut barulah bisa siap untuk mengikuti bagaimana melatih anak melindungi dirinya sendiri karena tidak setiap waktu anak dalam pengawasan orang tua dan perlunya anak-anak mengidentifikasi bahaya dan ancaman yang mendekatinya. Karakter belajar anak yang kontekstual, bermakna dan konkret. Penggunaan peraga dan pelatihan dengan simulasi nyata merupakan pendekatan yang tepat dalam memberikan pembelajaran perlindungan diri pada anak. Sehingga baik orang tua maupun guru bisa mempraktekanya dengan cara menyenangkan dihadapan anak. Lalu setelah pelatihan dan simulasi tersebut, dikuatkan lagi dengan Materi pola asuh anak di era digital sehingga lebih memperkuat pemahaman orang tua terhadap kebutuhan perlindungan diri pada anak. KESIMPULAN Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema Pembelajaran Perlindungan Diri terhadap Anak atau Self Safety For ChildrenAos bisa disimpulkan cukup berhasil dalam menciptakan Iklim lingkungan belajar yang positif serta aman dan nyaman, yaitu dengan tercapainya dengan ditunjukan meningkatnya pemahaman orang tua/wali terhadap pendampingan dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak yaitu pemahaman mendalam orang tua terhadap pencegahan kekerasan pada anak, sinergitas pola pembelajaran dan pola asuh antara orang tua dan guru serta adanya kesadaran pentingnya bentuk pencegahan dan perlindungan terhadap kekerasan. Pengalaman Belajar anak secara konkret dapat dilaksanakan melalui Simulasi yaitu pengalaman belajar anak tentang pencegahan kekerasan, komunikasi yang disampaikan dengan baik serta anak mampu mengenali dan bisa mengidentifikasi bentuk ancaman atau kekerasan. Tim Pengabdian memiliki saran untuk semua pihak agar memahami salah satu bentuk pelayanan Sekolah yang Holistik Inegeratif adalah menyediakan layanan perlindungan terhadap anak. Bagaimana harus terciptanya iklim lingkungan belajar yang positif yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak yang tentu saja anti kekerasan, perundungan dan toleran. Untuk itu semua pihak harus terlibat dan adanya sinergitas antara orang tua dan guru. Dukungan dari pemerintah berupa undangundang perlindungan serta keterlibatan dari Masyarakat untuk terus mengkampanyekan anti kekerasan dan perlindungan pada Anak. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih sebesar besarya kami haturkan kepada Allah SWT, dukungan keluarga. Dekan Fakultas Agama Islam serta Universitas Majalengka atas dukunganya serta segenap unsur TK Islam Sakolaku. DAFTAR PUSTAKA