Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Overview of Toddler Nutritional Status at Integrated Health Posts (Posyand. in Selat Village. Buleleng Regency Ni Komang Aprilia Badrawati1. Putu Irma Pratiwi2. Ni Nyoman Ayu Desy Sekarini3 Kebidanan. Fakultas Kedokteran. Universitas Pendidikan Ganesha. Buleleng, 81116 . Indonesia, aprilia@student. Kebidanan. Fakultas Kedokteran. Universitas Pendidikan Ganesha. Buleleng, 81116 . Indonesia, irma. pratiwi@undiksha. A Kebidanan. Fakultas Kedokteran. Universitas Pendidikan Ganesha. Buleleng, 81116 . Indonesia, ayu. desy@undiksha. Korespondensi Email: aprilia@student. Article Info Article History Submitted, 2026-01-20 Accepted, 2026-02-29 Published, 2026-03-13 Keywords: Toddlers. Nutritional Status. Posyandu. Anthropometri Kata Kunci: Balita. Status Gizi. Posyandu. Antropometri Abstract Malnutrition among toddlers remains a major public health concern in Indonesia, marked by the coexistence of undernutrition and overnutrition. This study aimed to describe the nutritional status of toddlers using heightfor-age, weight-for-height, and weight-for-age indicators at Integrated Health Posts (Posyand. in Selat Village. Buleleng Regency . This study applied a descriptive quantitative design with a total sampling approach. All toddlers who attended Posyandu activities and were recorded during the study period were included. A total of 214 toddlers from six Posyandu in Selat Village were Secondary data were obtained from routine Posyandu records, including age, sex, body weight, and Nutritional status was assessed using the World Health Organization Child Growth Standards, and Zscores were calculated with WHO Anthro software. Data analysis was conducted univariately and presented in the form of frequency distributions and percentages. The findings showed that most toddlers were in the 24Ae59 months age group. Based on height-for-age, the majority of toddlers had normal growth status, although cases of stunting and severe stunting were still identified across all Posyandu. Assessment using weight-for-height indicated that most toddlers had normal nutritional status, while undernutrition, overweight, and obesity were also observed. Similarly, weight-for-age analysis revealed that most toddlers had normal body weight, but underweight and risk of overweight conditions remained These results indicate a double burden of malnutrition in Selat Village. Strengthening routine growth monitoring, improving the competence of health workers and Posyandu cadres in anthropometric assessment, and enhancing parental nutrition education are essential to prevent and manage nutritional problems Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng among toddlers. Abstrak Masalah gizi pada anak balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia, ditandai dengan masih ditemukannya kondisi stunting, wasting, underweight, serta overweight. Ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh pada masa balita dapat berdampak pada hambatan pertumbuhan fisik, gangguan perkembangan kognitif, serta peningkatan risiko kesakitan dan kematian pada usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan status gizi balita berdasarkan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), dan berat badan menurut umur (BB/U) di Posyandu Desa Selat. Kabupaten Buleleng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik total sampling, yaitu melibatkan seluruh balita yang tercatat dan hadir pada kegiatan posyandu saat penelitian Jumlah sampel sebanyak 214 balita yang tersebar di enam posyandu, yaitu Posyandu Dauh Margi Srilestari II. Angsoka I. Melati. Mawar. Teratai, dan Sakura. Data diperoleh dari pencatatan kegiatan posyandu yang meliputi umur, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan balita. Penilaian status gizi dilakukan menggunakan standar antropometri WHO berdasarkan nilai Z-score. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kelompok usia 24Ae59 Berdasarkan indikator TB/U, mayoritas balita memiliki tinggi badan normal, namun masih ditemukan balita dengan kategori pendek dan sangat pendek di seluruh posyandu. Penilaian status gizi berdasarkan indikator BB/TB menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kategori gizi baik, meskipun masih terdapat balita dengan gizi kurang, gizi lebih, dan Sementara itu, berdasarkan indikator BB/U, sebagian besar balita memiliki berat badan normal, namun masih dijumpai balita dengan berat badan kurang serta risiko berat badan lebih. Pendahuluan Masalah gizi pada balita merupakan salah satu indikator utama dalam menilai derajat kesehatan anak dan keberhasilan pelayanan dasar di masyarakat. Balita termasuk dalam kelompok usia yang sangat rentan terhadap masalah gizi karena berada pada periode emas pertumbuhan dan perkembangan (Anwar et al. , 2. Ketidakseimbangan asupan zat gizi pada periode ini dapat berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kapasitas belajar anak (Hulu et al. , 2. Permasalah gizi pada balita seperti stunting, underweight, wasting, severely wasting, dan overweight, berisiko mengalami hambatan pertumbuhan fisik, gangguan perkembangan kognitif, serta peningkatan kerentanan terhadap penyakit infeksi dan kematian pada usia dini (Handajany et al. , 2. Selain itu, status gizi yang tidak optimal Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng pada masa balita juga berkontribusi terhadap rendahnya kualitas sumber dayav manusia di masa depan (Pratiwi et al. , 2. Secara global, permasalahan gizi pada balita masih menunjukkan angka yang UNICEF melaporkan bahwa pada tahun 2020 prevalensi stunting pada balita mencapai 22,3% sementara wasting sebesar 6,8%, temuan ini menunjukkan bahwa kekurangan gizi kronis dan akut masih menjadi tantangan utama, khususnya di negara berkembang, serta mencerminkan belum meratanya perbaikan status gizi di berbagai wilayah dunia (UNICEF et al. , 2. Kondisi ini menegaskan bahwa kekurangan gizi kronis dan akut masih menjadi tantangan utama dalam upaya pencapaian target pembangunan kesehatan anak (Ferreira, 2. Status global tersebut sejalan dengan kondisi nasional di Indonesia. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita secara nasional berada pada angka 19,8%, underweight 16,8%, wasting 6,2%, severe wasting 1,2%, dan overweight 3,4%. Meskipun terjadi penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut mencerminkan beban gizi ganda yang memerlukan perhatian serius dan intervensi berkelanjutan (Kementrian Kesehatan RI, 2. Data ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi beban gizi ganda, yaitu masalah kekurangan gizi dan kelebihan gizi yang terjadi secara bersama (Unicef, 2. Provinsi Bali secara umum memiliki prevalensi masalah gizi balita yang lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional, berdasarkan SSGI 2024, prevalensi stunting balita di Provinsi Bali tercatat sebesar 8,7%, underweight 7,2%, wasting 3,1%, severe wasting 0,3%, dan overweight 6,4%. Jika ditinjau lebih spesifik pada tingkat kabupaten/kota. Kabupaten Buleleng tercatat memiliki prevalensi stunting terbesar 14,8%, underweight 8,9%, wasting 3,4%, severe wasting 0,5%, dan overweight 6,4%. Angka stunting di Kabupaten Buleleng tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Bali (Kementrian Kesehatan RI, 2. Penilaian status gizi balita dilakukan melalui pengukuran antropometri yang meliputi berat badan dan tinggi badan berdasarkan umur (BB/U). Tinggi Badan menurut Umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB). Ketiga indikator tersebut merupakan standar nasional yang digunakan dalam pemantauan pertumbuhan anak sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang standar Antropometri Anak (Kementrian Kesehatan RI, 2. Setiap indeks memiliki klasifikasi berdasarkan nilai Z-score yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi gizi kurang, gizi buruk, maupun gizi lebih secara objektif dan terstandar (Dewi et al. , 2. Pengukuran antropometri yang dilakukan secara rutin di posyandu memiliki peran strategi dalam mendeteksi dini masalah gizi serta sebagai dasar perencanaan intervensi yang tepat sasaran (Didah et al. , 2. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menggambarkan status gizi balita di berbagai wilayah posyandu di Indonesia, termasuk di wilayah kerja puskesmas Gandasuli, yang menunjukkan masih ditemukan balita dengan status gizi kurang, buruk, maupun berisiko gizi lebih (Novarina et al. , 2. Namun demikian, hingga saat ini masih terbatas penelitian yang secara khusus memaparkan gambaran status gizi balita di Posyandu Desa Selat. Kabupaten Buleleng. Walaupun prevalensi status gizi balita di Kabupaten Buleleng telah dilaporkan dalam SSGI 2024, informasi tersebut masih bersifat agregat dan belum menggambarkan kondisi spesifik di tingkat desa dan posyandu. Padahal, posyandu merupakan garda terdepan dalam pemantauan pertumbuhan balita. Hingga saat ini, belum terdapat publikasi yang mengkaji secara khusus gambaran status gizi balita di Posyandu. Desa Selat. Kabupaten Buleleng, berdasarkan indikator antropometri. Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan Berat Badan menuru Umur (BB/U). Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Metode Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yang bertujuan unuk menggambarkan status gizi balita di 6 Posyandu Desa Selat. Kabupaten Buleleng. Penelitian dilakukan pada bulan Januari tahun 2025. Pendekatan deskriptif digunakan untuk memperoleh gambaran status gizi balita berdasarkan indikator antropometri tanpa melakukan analisis hubungan antarvariabel (Paramita et al. , 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang hadir dan tercatat pada kegiatan posyandu di Desa Selat pada saat penelitian dilaksanakan. Teknik pengambilan sample menggunakan total sampling, yaitu seluruh balita yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan sebagai sampel penelitian . Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan kegiatan posyandu, meliputi data umur, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan balita. Pengukuran berat badan dan tinggi badan dilakukan oleh kader posyandu dan petugas kesehatan sesuai dengan prosedur standar pengukuran antropometri . Data antropometri dianalisis menggunakan aplikasi WHO Anthor untuk memperoleh nilai Z-score berdasarkan standar pertumbuhan anak WHO (Hendra & Fadillah, 2. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi status gizi balita berdasarkan indikator Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB), dan Berat Badan menurut Umur ( BB/U). Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase, serta dilengkapi dengan narasi penjelasan. Hasil dan Pembahasan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut: Variabel Penelitian Table 1. Karakteristik Responden Menurut Indikator Umur Posyandu di Desa Selat. Kabupaten Buleleng Dauh Margi AngsokaI Srilestari II . (%) (%) Kategori Umur 0-11 Bulan 18,9% 12-23 Bulan 20,8% 24-59 Bulan 60,4% 37,5% 8,3% 54,2% Melati . (%) Mawar (%) Teratai . (%) Sakura (%) 20,4% 13,0% 66,7% 25,7% 25,7% 48,6% 36,0% 16,0% 48,0% 13,6% 27,3% 59,1% Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Kategori Umur Dauh Margi Angsoka I (%) Srilestari II (%) Melati (%) 0-11 Bulan Mawar (%) 12-23 Bulan Teratai (%) Sakura (%) 24-59 Bulan Berdasarkan hasil pada tabel 1 menunjukkan bahwa dari total 214 balita yang terdaftar pada enam posyandu di Desa Selat, distribusi umur balita didominasi oleh kelompok usia 24-59 bulan. Kelompok umur ini memiliki proporsi tertinggi di seluruh posyandu, dengan persentase berkisar antara 48,0% hingga 66,7%. Proporsi tertinggi kelompok umur 24-59 bulan ditentukan di Posyandu Melati . ,7%), diikuti oleh Posyandu Dauh Margi Srilestari II . ,4%) dan Posyandu Sakura . ,1%). Sementara itu, kelompok umur 0-11 bulan merupakan kelompok dengan proporsi terendah di sebagian besar posyandu, khususnya di Posyandu Sakura . ,6%) dan Posyandu Dauh Margi Srilestari II . ,9%). Table 2. Karakteristik Responden Menurut Indikator Jenis Kelamin Variabel Posyandu di Desa Selat. Kabupaten Buleleng Penelitian Dauh Margi Angsoka I Melati Mawar Teratai Sakura Srilestari II . = . (%) (%) (%) (%) (%) (%) Jenis Kelamin Laki-Laki 41,5% 54,2% 61,1% 40,0% 32,0% 45,5% Perempuan 8,5% 45,8% 38,9% 60,0% 68,0% 54,5% Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Jenis Kelamin Dauh Margi Angsoka I (%) Srilestari II (%) Melati (%) Mawar (%) Laki-Laki Perempuan Teratai (%) Sakura (%) Berdasarkan tabel 2 menurut karakteristik jenis kelamin diketahui bahwa, hasil penelitian menunjukkan bahwa balita perempuan memiliki proporsi yang lebih tinggi dibandingkan balita laki-laki disebagian besar posyandu. Proporsi balita perempuan tertinggi ditemukan di posyandu Teratai . ,0%) dan Posyandu Mawar . ,1%) dan Posyandu Angsoka I . ,2%). Temuan ini menunjukkan adanya variasi distribusi jenis kelamin balita antar posyandu di Desa Selat. Table 3. Karakteristik Responden Menurut Indikator Status Gizi (TB/U) Variabel Posyandu di Desa Selat. Kabupaten Buleleng Penelitian Dauh Margi Angsoka I Melati Mawar Teratai Sakura Srilestari II . (%) (%) (%) (%) (%) (%) Indikator Status Gizi (TB/U) Sangat Pendek 5 9,4% 0,0% 16,7% 11,4% 8,0% 36,4% Pendek 18,9% 12,5% 11,1% 11,4% 32,0% 18,2% Normal 69,8% 75,0% 72,2% 77,1% 56,0% 40,9% Tinggi 1,9% 12,5% 0,0% 0,0% 4,0% 4,5% Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Status Gizi (TB/U) Sakura (%) Teratai (%) Mawar (%) Melati (%) Angsoka I (%) Dauh Margi Srilestari II (%) Tinggi Normal Pendek Sangat Pendek Berdasarkan tabel 3 hasil dari indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), menunjukkan sebagian besar balita berada pada kategori normal di seluruh posyandu, dengan proporsi tertinggi di Posyandu Mawar . ,1%) dan Posyandu Angsoka I . ,0%). Meskipun demikian, masih ditemukan balita dengan kategori sangat pendek dan pendek di semua posyandu. Jika kedua kategori tersebut digabungkan, proporsi gangguan pertumbuhan linear tertinggi ditemukan di Posyandu Sakura . ,6%), diikuti oleh Posyandu Teratai . ,0%). Posyandu Melati . ,8%). Posyandu Dauh Margi Srilestari II . ,3%). Posyandu Mawar . ,8%), dan Posyandu Angsoka I . ,5%). Temuan ini mengindikasi bahwa masih dijumpai balita dengan kategori pendek dan sangat pendek diseluruh posyandu Desa Selat. Kondisi ini mengindikasi adanya gangguan pertumbuhan linear yang berkaitan dengan kekurangan gizi kronis dalam jangka Penilaian TB/U berperan penting dalam mendeteksi stunting yang seringkali tidak disadari oleh orang tua karena tidak selalu disertai dengan penurunan berat badan secara Temuan ini menunjukkan bahwa masalah gizi kronis masih menjadi tantangan yang perlu ditangani secara berkelanjutan di tingkat posyandu. Table 4. Karakteristik Responden Menurut Indikator status Gizi (BB/TB) Variabel Posyandu di Desa Selat. Kabupaten Buleleng Penelitian Dauh Margi Angsoka I Melati Mawar Teratai Sakura Srilestari II . (%) (%) (%) (%) (%) (%) Indikator Status Gizi (BB/TB) Gizi Buruk 0,0% 0,0% 1,9% 0,0% 0,0% 4,5% Gizi Kurang 1,9% 0,0% 9,3% 2,9% 0,0% 0,0% Gizi Baik 73,6% 66,7% 66,7% 74,3% 60,0% 63,6% Berisiko Gizi 2 Lebih 3,8% 8,3% 20,4% 14,3% 36,0% 9,1% Gizi Lebih Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Variabel Penelitian Posyandu di Desa Selat. Kabupaten Buleleng Dauh Margi Srilestari II (%) 9,4% 11,3% Obesitas Angsoka I . (%) Melati . (%) Mawar (%) Teratai . (%) Sakura (%) 0,0% 25,0% 1,9% 0,0% 8,6% 0,0% 4,0% 0,0% 4,5% 18,2% Status Gizi (BB/TB) Sakura (%) Teratai (%) Mawar (%) Melati (%) Angsoka I (%) Dauh Margi Srilestari II (%) Obesitas Gizi Lebih Lebih Berisiko Gizi Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas balita di seluruh posyandu memiliki status gizi baik, dengan proporsi tertinggi di Posyandu Mawar . ,3%) dan Posyandu Dauh Margi Srilestari II . ,6%). Namun demikian, masih ditemukan balita dengan status gizi kurang, gizi buruk, gizi lebih, dan obesitas. Balita dengan kategori gizi kurang dan gizi buruk paling banyak ditemukan di Posyandu Melati . ,2%). Sementara itu, proporsi obesitas tertinggi terdapat di Posyandu Angsoka I . ,0%) dan Posyandu Sakura . ,2%). Yang menunjukkan adanya masalah gizi lebih di beberapa posyandu. Indikator berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kategori gizi baik. Meskipun demikian, masih ditemukan balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang, serta balita yang berisiko mengalami gizi Indikator BB/TB menggambarkan kondisi gizi akut yang sangat dipengaruhi oleh perubahan asupan makanan dan kejadian penyakit infeksi dalam waktu singkat (Dewi et , 2. Variabel Penelitian Table 5. Karakteristik Responden Menurut Status Gizi (BB/U) Posyandu di Desa Selat. Kabupaten Buleleng Dauh Angsoka I Margi . = . Srilestari II (%) . (%) Indikator Status Gizi (BB/U) Melati Mawar . (%) . (%) Teratai . (%) Sakura . (%) Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng Variabel Penelitian Sangat Kurang Gizi Kurang Posyandu di Desa Selat. Kabupaten Buleleng 1,9% 7,5% Normal 75,5% Risiko Berat 8 Badan Lebih 15,1% 0,0% 4,2% 66,7% 29,2% 1,9% 11,1% 79,6% 7,4% 2,9% 5,7% 82,9% 8,6% 4,0% 4,0% 80,0% 12,0% 0,0% 22,7% 72,7% 4,5% Status Gizi (TB/U) Sakura (%) Teratai (%) Mawar (%) Melati (%) Angsoka I (%) Dauh Margi Srilestari II (%) Badan Lebih Resiko Berat Normal Gizi Kurang Sangat Kurang Berdasarkan tabel 5 indikator berat badan menurut umur (BB/U), menunjukkan bahwa sebagian besar balita berada pada kategori berat badan normal di seluruh posyandu, dengan proporsi tertinggi di Posyandu Mawar . ,9%) dan Posyandu Melati 79,6%). Meskipun demikian, masih ditemukan balita dengan status kurang dan gizi kurang. Jika kedua kategori tersebut digabungkan, proporsi tertinggi ditemukan di Posyandu Sakura . ,7%), diikuti oleh Posyandu Melati . ,0%). Posyandu teratai . ,0%). Posyandu Mawar . ,6%) Posyandu Dauh Margi Srilestari II . ,4%) dan Posyandu Angsoka I( 4,2%). Selain itu, balita dengan kategori risiko berat badan lebih juga ditemukan di seluruh posyandu, dengan proporsi tertinggi di Posyandu Angsoka I . ,2%). Penelitian menunjuukan sebagian besar balita berada pada kategori berat badan Namun demikian, masih terdapat balita dengan status gizi kurang dan sangat kurang di seluruh posyandu. Balita dengan status underweight berisiko mengalami gangguan pertumbuhan fisik serta penurunan daya tahan tubuh, sehingga lebih rentan terhadap penyakit infeksi. Indikator BB/U merupakan alat skrining awal yang penting untuk mengidentifikasi masalah kekurangan berat badan, meskipun tidak dapat membedakan apakah kondisi tersebut bersifat akut atau kronis sehingga perlu dikombinasikan dengan indikator antropometri lainnya (Hulu et al. , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa mayoritas balita di tingkat posyandu memiliki status gizi normal, tetapi masih ditemukan proporsi balita dengan gizi kurang dan sangat kurang. Penelitian oleh (Handajany et al. , 2. melaporkan bahwa status gizi balita berdasarkan BB/U didominasi oleh kategori normal, namun kasus underweight masih ditemukan sebagai dampak dari ketidakseimbangan asupan zat gizi dan pola asuh yang belum optimal. Hal ini menegaskan bahwa pemantauan pertumbuhan secara rutin tetap diperlukan untuk mencegah masalah gizi berkembang menjadi lebih berat (Hibatulloh & Zaky, 2. Masalah status gizi pada balita masih menjadi perhatian penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan anak, khususnya pada masa pertumbuhan awal yang Indonesian Journal of Midwifery (IJM) http://jurnal. id/index. php/ijm Volume 9 Nomor 1. Maret 2026 ISSN 2615-5095 (Onlin. ISSN 2656-1506 (Ceta. Gambaran Status Gizi Balita di Posyandu Desa Selat Kabupaten Buleleng bersifat krusial (Anwar et al. , 2. Hasil penelitian di enam posyandu Desa Selat menunjuukan bahwa meski sebagian besar balita memiliki status gizi normal, masih ditemukan balita dengan status gizi kurang, sangat kurang serta berisiko gizi lebih. Kondisi ini mencerminkan adanya variasi keseimbangan antara asupan zat gizi, kebutuhan metabolik, dan faktor lingkungan yang memengaruhi tumbuh kembang balita. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menggambarkan bawa posyandu di Desa Selat telah berperan dalam pemantauan pertumbuhan balita, namun masih diperlukan penguatan upaya promotif dan preventif terkait gizi. Edukasi kepada orang tua mengenai pemenuhan gizi seimbang, pemantauan pertumbuhan rutin, serta pencegahan penyakit infeksi menjadi langkah penting untuk menurunkan angka masalah gizi pada balita. Peran aktif kader posyandu dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan agar deteksi dini dan intervensi gizi dapat dilakukan secara tepat dan berkelanjutan. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian di enam posyandu Desa Selat. Kabupaten Buleleng, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar balita memiliki status gizi normal berdasarkan indikator TB/U. BB/TB, dan BB/U. Meskipun demikian, masih ditemukan balita dengan gangguan pertumbuhan linear, status gizi kurang, serta risiko gizi lebih di seluruh posyandu, yang menunjukkan adanya permasalahan gizi ganda di tingkat masyarakat. Kondisi ini menegaskan bahwa pemantauan pertumbuhan balita secara rutin melalui kegiatan posyandu masih sangat diperlukan. Oleh karena itu, disarankan adanya penguatan upaya promotif dan preventif, khususnya melalui edukasi gizi seimbang kepada orang tua, peningkatan peran kader posyandu dalam deteksi dini masalah gizi, serta tindak lanjut intervensi gizi yang berkesinambungan guna mendukung pertumbuhan dan perkembangan balita secara optimal. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Universitas Pendidikan Ganesha, khususnya Fakultas Kedokteran, atas dukungan dan fasilitas yang diberikan sehingga penelitian ini dapat dilaksanakan dengan baik. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dan membantu dalam proses pelaksanaan penelitian. Daftar Pustaka