KESKOM. : 110-116 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS ( J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A LT H ) http://jurnal. Determinan Kejadian Diare pada Anak Balita umur 659 bulan di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa. NTB Tahun 2019 Determinants of Diarrhea in Children aged 6-59 months in North Moyo District. Sumbawa Regency. West Nusa Tenggara 2019 Ririn Akmal Sari1. Ratu Ayu Dewi Sartika2 Departmen Gizi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia ABSTRACT ABSTRAK Background : Diarrhea in children is s ll a health problem that occurs in the Sumbawa Regency, especially in North Moyo district. West Nusa Tenggara. The magnitude of the problem can be seen from the high morbidity and mortality due to diarrhea. Diarrhea in children can contribute to the acute burden of disease (UNICEF, 2. Based on the Regional Health ProAle of West Nusa Tenggara Province in 2018, the prevalence of diarrhea in children aged 6-59 months in North Moyo District was 28. higher than the na onal, provincial, and district levels. The purpose of this study was to And out the corela on of determinants of diarrhea in children aged 6-59 months in North Moyo District. Sumbawa Regency. Methods : Cross sec onal design was used in this study with 406 sample of children aged 6-59. Data collec on was carried out by measuring weight, interview and observa on. The Chi-Square test and regresi logis c were used to analysis the study. Results : The results showed the prevalence of diarrhea in children aged 6-59 months in North Moyo District was 18. Sta s cal analysis showed that the signiAcant corela on was the number of family members, posyandu visits, exclusive breas eeding, how to help children diarrhea, and washing hands with soap . value <0. The number of family members is the dominant factor associated with diarrhea in children aged 6-59 months in North Moyo District (OR: 2. 78, 95% CI 1. 97, p value <0. Coclucion : Make the preven on and treatment of diarrhea everybody's responsible. Implementa on of preven on and treatment is approached in an integrated way to produce a greater impact in eAorts to overcome diarrhea in children. Latar belakang: Diare masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia khususnya di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa. Besarnya masalah terlihat dari ngginya angka kesakitan dan kema an akibat diare. Diare pada balita dapat berkontribusi pada beban penyakit akut (UNICEF, 2. Berdasarkan data ProAl Kesehatan Daerah NTB Tahun 2018, prevalensi diare pada balita di Kecamatan Moyo Utara sebesar 28,7% lebih nggi dibandingkan data di ngkat nasional, provinsi, maupun kabupaten. Tujuan peneli an untuk mengetahui hubungan faktor determinan terhadap kejadian diare pada anak balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa NTB Tahun 2019 Metode: Desain peneli an adalah cross sec onal dengan jumlah sampel sebanyak 406 balita. Pengumpulan data melalui pengukuran berat badan, wawancara dan observasi. Analisis data dengan uji Chi-Square dan regresi logis k. Hasil: Hasil peneli an menunjukkan prevalensi diare pada anak balita umur 6-59 bulan sebesar 18,7% dimana terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah anggota keluarga, kunjungan posyandu, riwayat ASI Eksklusif, cara mencari pertolongan saat anak diare, dan mencuci tangan dengan sabun . value<0,. Jumlah anggota keluarga menjadi faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Moyo Utara (OR: 2,78, 95%CI 1,29-5,97, pvalue<0,. Kesimpulan: Pencegahan dan pengobatan diare harus menjadi tanggung jawab semua orang sehingga diare bukan lagi masalah sektor kesehatan semata. Keywords : Children . exclusive breas eeding . washing habits . the number of family members. Kata Kunci :ASI Eksklusif . jumlah anggota keluarga . kebiasaan cuci tangan. Correspondence : Ratu Ayu Dewi Sar ka Email : ratuayu. ui@gmail. com, 089602974813 A Received 16 Maret 2021 A Accepted 16 April 2021 A p - ISSN : 2088-7612 A e - ISSN : 2548-8538 A DOI: h ps://doi. org/10. 25311/keskom. Vol7. Iss1. Copyright @2017. This is an open-access ar cle distributed under the terms of the Crea ve Commons A ribu on-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 Interna onal License . p://crea vecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. which permits unrestricted non-commercial used, distribu on and reproduc on in any medium Keskom. Vol. No. 111 April 2021 PENDAHULUAN Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. Besarnya masalah tersebut terlihat dari ngginya angka kesakitan dan kema an akibat diare. Diare tetap menjadi penyebab utama kema an kedua setelah pneumonia di antara anak-anak di bawah 5 tahun secara global. Terhitung sekitar 8 persen dari semua kema an di antara anak-anak di bawah umur 5 tahun di seluruh dunia pada tahun 2017. Ini berar lebih dari 1. 300 anak kecil meninggal se ap hari, atau sekitar 480. 000 anak per tahun, meskipun ketersediaan pengobatan yang efek f sangat Penyakit diare juga berkontribusi pada beban penyakit akut dan merupakan penyebab utama kedua kema an pada anak di bawah 5 tahun secara global 2,3. Meskipun sebagian besar episode diare anak-anak adalah ringan, kasus-kasus akut dapat menyebabkan kehilangan cairan yang signiAkan dan dehidrasi, yang dapat menyebabkan kema an atau konsekuensi parah lainnya jika cairan dak digan pada tanda pertama diare. Secara global angka diare pada anak-anak dari rumah tangga yang menggunakan sumur terbuka untuk air minum tercatat 34%, diare lebih nggi sebesar 66% pada anak-anak dari keluarga yang melakukan buang air besar di sungai atau selokan4. Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama di Indonesia dimana berdasarkan Laporan Riskesdas 2007 menunjukkan diare sebagai penyebab 31,4% kema an anak usia antara 1 bulan hingga satu tahun, dan 25,2% kema an anak usia antara satu sampai lima tahun5. Berdasarkan data Riskesdas 2018, diketahui bahwa prevalensi diare pada balita di Indonesia sebesar 12,3%, sedangkan data prevalensi diare pada balita di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 15,1%6. Prevalensi diare pada balita di Kabupaten Sumbawa . ,3%) lebih nggi dibandingkan angka nasional7, dan Kecamatan Moyo sebagai lokasi peneli an ini terpilih karena memiliki prevalensi diare sebesar 28,7%, dimana angka ini masih lebih nggi dari angka kabupaten, provinsi, maupun nasional8. Tingginya angka penyakit diare di beberapa negara berkembang seper Asia. Afrika dan Amerika La n disebabkan oleh perumahan yang buruk, kepadatan penduduk, saluran pembuangan limbah dan sampah yang terbuka, hidup bersama dengan hewan peliharaan. BAB sembarangan, kondisi air yang dak bersih dan kurangnya akses ke air bersih. Akibatnya, angka kema an akibat penyakit diare akan tetap jauh lebih nggi di negara industri untuk waktu yang lama di masa depan9. WHO memperkirakan bahwa hampir satu miliar orang dak memiliki akses ke pasokan air yang lebih baik. Ada 1,7 miliar kasus penyakit diare dan 260 juta orang terinfeksi schistosomiasis se ap tahun. Sebagian besar penyakit dan kema an terjadi di negara-negara h p://jurnal. berkembang di Asia. Afrika dan Amerika La n. Banyak dari sta s k suram ini dapat dihindari dengan sanitasi sederhana dan langkah-langkah keamanan air seiring dengan pengembangan sumber daya air bersih dan pengobatan segera gejala kolera dan Kecamatan Moyo Utara menjadi salah satu wilayah pengembangan peternakan sapi baik untuk produksi daging dan susu dalam wilayah Kabupaten Sumbawa maupun yang akan dijual ke wilayah lainnya, seper Pulau Jawa. Sumatera dan wilayah lainnya. Lahan peternakan di Kecamatan Moyo Utara berupa peternakan sapi, kerbau, dan kuda tersebar di 4 desa yaitu Pungkit. Sebewe. Kukin, dan Penyaring dengan luas sebesar 257 Ha 1 1 . Dengan adanya lokalisasi peternakan yang berdekatan dengan lokasi pemukiman, maka kemungkinan besar akan menyebabkan banyak masalah kesehatan, terutama bagi anak balita. Hasil Pemantauan Status Gizi Tahun 2017 menunjukkan Kecamatan Moyo Utara memiliki prevalesi underweight sebesar 19,5% yang masih menjadi masalah menurut WHO. Data pengguna sumber air bersih untuk kebutuhan rumah tangga sebesar 87,8%, yaitu sumur . ali terlindung, gali dengan pompa, dan bor dengan pomp. , mata air terlindung dan PDAM. Sementara untuk kebutuhan ternak digunakan air sumur yang khusus dibuat di peternakan dan sungai yang terdekat. Minimnya sarana dan prasarana serta rendahnya pengetahuan peternak dalam membuang cucian dan feases berdampak pada polusi udara dan lingkungan sekitarnya. Hal ini diperparah dengan masih adanya budaya BAB sembarangan sebanyak 5,6% di semua kelompok umur baik di pantai maupun di sungai8. Tingginya keterpaparan berbagai faktor risiko pada balita di atas, berdampak langsung terhadap terjadinya diare pada balita. Tujuan dari peneli an ini untuk mengetahui hubungan berbagai faktor determinan terjadinya diare pada balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa. Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2019. METODE Peneli an ini menggunakan desain studi cross-sec onal dimana seluruh variabel yang diama dalam peneli an ini dilaksanakan pada saat yang bersamaan yang diperoleh melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner, pengukuran antropometri, dan observasi menggunakan lembar observasi. Peneli an dilakukan di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Data yang dikumpulkan merupakan data primer dimana sebanyak 406 anak usia 6-59 bulan dipilih mengunakan metode clustered random sampling dan sesuai dengan kritera inklusi dan eksklusi. Peneli an ini menganalisis data karakteris k balita . tatus gizi underweight, umur, jenis kelamin, berat badan lahi. , karakteris k keluarga ( ngkat pendapatan keluarga dan Ratu Ayu Dewi Sar ka, et al Determinants of Diarrhea in Children aged 6-59 months Determinan Kejadian Diare pada Anak Balita umur 6-59 bulan jumlah anggota keluarg. , pola asuh ( ngkat pengetahuan dan sikap ibu terhadap kesehatan dan gizi. ASI Eksklusif, kunjungan posyandu, dan cara memberi pertolongan saat anak diar. , dan higiene dan sanitasi . erilaku mencuci tangan, pembuangan nja balita, kebersihan kuku balita, tempat pembuangan sampah RT, pembuangan limbah cair RT, lantai rumah, penggunaan jamban (BAB), air bersih, jarak sep c tank dari sumber air, dan lokalisasi peternaka. terhadap kejadian diare pada balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa Provinsi NTB Tahun 2019. Peneli an ini telah lolos kaji e k yag dikeluarkan oleh Komisi E k Riset dan Pengabdian Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Nomor: Ket308/UN2. F10/PPM. 02/2019. Analisis yang digunakan yaitu analisis univariat, bivariat . hi squar. , mul variat . egresi logis . untuk menganalisis hubungan antara berbagai faktor determinan terhadap kejadian diare pada anak balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa. HASIL Distribusi Frekuensi dan Faktor Determinan Kejadian Diare pada Balita Umur 6-59 Bulan di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa Tabel 1 menggambarkan kejadian diare, distribusi frekuensi karakteris k balita, karakteris k keluarga, pola asuh, dan higiene dan sanitasi sebagai faktor determinan kejadian diare pada balita umur 6-59 bulan di Kecamatan Moyo Utara. Tabel 1 . Distribusi Frekuensi Kejadian Diare dan Faktor Determinan di Kec. Moyo Utara Tahun 2019 Prevalensi kejadian diare pada balita di Kecamatan Moyo Utara sebesar 18,7% lebih nggi dibandingkan angka nasional . ,3%) dan angka Provinsi NTB . ,1%) . Balita yang memiliki status gizi underweight sebesar 101 balita . ,9%). Kondisi tersebut yang menunjukkan bahwa Kecamatan Moyo Utara sebagai wilayah dengan masalah kesehatan khususnya underweight berdasarkan kategori yang ditetapkan oleh WHO. Kategori nggi jika memiliki persentase 20-29% . Balita yang lahir dengan berat badan lahir rendah sebesar 37 balita . ,7%) masih lebih nggi dari target yang ditetapkan oleh Kabupaten Sumbawa kurang dari 5 % . Keluarga balita sebagian besar memiliki pendapatan yang rendah . ,7%) dengan jumlah anggota keluarga lebih dari atau sama dengan 4 orang . ,4%). Balita mendapatkan ASI Eksklusif masih di bawah target cakupan yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa sebesar 90% dimana sebagian besar balita dak mendapat ASI Eksklusif . ,1%). Balita yang berkunjung ke posyandu di bawah 90 % target cakupan yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Tahun 2017 yaitu sebesar 79,8%. Kecamatan Moyo Utara masih belum termasuk dalam wilayah ODF karena masih ada keluarga balita yang dak BAB menggunakan jamban . ,4%) dan pembuangan nja balita masih ada yang membuang sembarangan/dibakar. ,5%). Hubungan antara Karakteris k Balita. Keluarga. Pola Asuh dan Higiene dan Sanitasi dengan Kejadian Diare di Kecamatan Moyo Utara Tahun 2019 j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 113 April Tabel 2. Hubungan antara Karakteris k Balita. Keluarga. Pola Asuh dan Higiene dan Sanitasi dengan Kejadian Diare di Kecamatan Moyo Utara Tahun 2019 Tabel 3. Pemodelan Regresi Logis k Pemodelan Pertama dan Pemodelan Terakhir Hasil analisis mul variat sebagaimana yang terlihat pada Tabel 3 ternyata variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian diare adalah variabel jumlah anggota keluarga, kunjungan posyandu, cara mencari pertolongan saat anak diare, dan kebiasaan cuci tangan. Faktor determinan yang paling dominan berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa NTB Tahun 2019 adalah jumlah anggota keluarga (OR=2,8 . 95% CI 1,29-5,. setelah dikontrol oleh variabel air bersih, riwayat ASI Eksklusif, tempat pembuangan sampah RT, jenis kelamin, dan kebersihan kuku balita. PEMBAHASAN Dari hasil uji bivariat terlihat faktor determinan yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa NTB Tahun 2019 adalah jenis kelamin balita (OR=1,68 . 95% CI 1,01-2,. , jumlah anggota keluarga (OR=2,79 . 95% CI 1,38-5,. , kunjungan posyandu (OR=2,35 . 95% CI 1,35-4,. , riwayat ASI Eksklusif (OR=1,83 . 95% CI 1,04-3,. , cara mencari pertolongan saat anak diare (OR=2,23. 95% CI 1,18-4,. , dan kebiasaan cuci tangan dengan sabun (OR=1,85 . 95% CI 1,07-3,. h p://jurnal. Diare masih menjadi masalah yang serius yang terjadi di Kabupaten Sumbawa khususnya di Kecamatan Moyo Utara. Ditemukan dalam analisis ini bahwa prevalensi kejadian diare pada balita di Kecamatan Moyo Utara sebesar 18,7% lebih nggi dibandingkan angka nasional . ,3%) dan angka Provinsi NTB . ,1%)6. Pada peneli an ini balita yang dak ru n berkunjung ke posyandu mengalami diare lebih nggi dibandingkan dengan balita yang ru n ke posyandu. Dari hasil analisis mul variat didapatkan balita yang dak ru n berkunjung ke posyandu akan mempunyai odds . mengalami diare sebesar 2,5 kali lebih nggi dibandingkan balita yang ru n berkunjung ke Hasil studi ini sejalan dengan peneli an yang dilakukan di Kecamatan Tembalang Kota Semarang Tahun 2017 menemukan bahwa orangtua yang dak melakukan pemanfaatan layanan kesehatan bayinya memiliki risiko 5 kali untuk mengalami diare dibandingkan dengan orangtua yang memanfaatkan layanan kesehatan14. Posyandu menjadi salah satu sarana pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang berada dekat dengan tempat nggal penduduk sehingga Ratu Ayu Dewi Sar ka, et al Determinants of Diarrhea in Children aged 6-59 months Determinan Kejadian Diare pada Anak Balita umur 6-59 bulan memudahkan untuk masyarakat mengakses pelayanan Pelayanan kesehatan khususnya di posyandu diharapkan dapat digunakan sebagai sarana untuk mengurangi angka kesakitan khususnya diare pada anak. Pemanfaatan posyandu sebagai sarana pelayanan kesehatan yang sederhana dalam masyarakat dapat dilihat dari seberapa sering masyarakat khususnya ibu membawa balitanya ke posyandu baik sebagai usaha untuk pencegahan maupun untuk pengobatan terhadap suatu penyakit, sehingga terlihat bahwa semakin sering balita mengakses posyandu sebagai upaya dalam mencegah risiko kejadian diare maka semakin rendah risikonya mengalami diare. Kepadatan hunian >4 orang dalam rumah tangga sangat mempengaruhi kerentanan balita mengalami diare dikarenakan diare merupakan penyakit menular yang dak hanya terjadi pada balita tetapi terjadi juga pada orang dewasa. Jika orang dewasa dalam rumah tangga mengalami diare maka balita yang nggal pada rumah tangga yang sama memiliki risiko untuk dapat mengalami diare 15. Jumlah anggota keluarga menunjukkan bahwa kepadatan orang yang nggi dapat mendukung kondisi higienis yang berbahaya dan kontaminasi pada makanan dan air yang berisiko terjadinya diare pada anak 16. Notoadmodjo S . mengatakan bahwa kepadatan hunian sangat berpengaruh terhadap koloni kuman penyebab penyakit menular, seper gangguan saluran pernafasan dan diare17. Kepadatan hunian dalam satu rumah tangga akan memberikan pengaruh yang berar bagi para penghuninya dan dapat mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan. Dengan jumlah anggota keluarga yang lebih banyak akan menyebabkan kontak langsung antara anggota keluarga sehingga akan mempengaruhi penularan penyakit infeksi17. Proporsi balita mengalami diare yang nggal di dalam rumah yang jumlah anggota keluarganya Ou 4 orang dalam peneli an ini lebih besar dibandingkan dengan balita yang memiliki jumlah anggota keluarga < 4 orang. Hasil analisis mul variat didapatkan nilai OR yang paling nggi adalah variabel jumlah anggota keluarga yaitu 2,78 . % CI: 1,29-5,. , ar nya balita yang berasal dari keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga Ou 4 orang akan mempunyai odds . mengalami diare sebesar 2,78 kali lebih nggi dibandingkan balita yang berasal dari keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih sedikit setelah dikontrol variabel kunjungan posyandu, cara mencari pertolongan saat anak diare, mencuci tangan, air bersih. ASI Eksklusif, tempat pembuangan sampah, jenis kelamin, dan kebersihan kuku balita. Peneli an ini sejalan dengan peneli an sebelumnya yang menemukan adanya hubungan antara banyaknya anggota keluarga dalam rumah dengan kejadian diare pada balita27,28,29. Namun peneli an ini dak sejalan dengan peneli an yang dilakukan di Kenya yang menemukan dak ada hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan kejadian Diare akan dapat dicegah dengan manajemen rumah sederhana menggunakan terapi rehidrasi oral. Ibu memainkan peran sentral dalam manajemen dan pencegahannya21. Hasil peneli an menunjukkan ibu yang dak membawa balitanya ke sarana pelayanan kesehatan saat anak diare memiliki balita yang mengalami diare lebih nggi dibandingkan dengan ibu yang membawa balitanya ke sarana pelayanan kesehatan. Hasil analisis mul variat didapatkan nilai OR dari variabel cara mencari pertolongan saat anak diare adalah 2,25 . % CI : 1,12-4,. , ar nya ibu yang dak membawa anaknya ke fasilitas pelayanan kesehatan saat anaknya mengalami diare akan mempunyai odds . mengalami diare sebesar 2,25 kali lebih nggi dibandingkan balita dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan saat mengalami diare. Hasil peneli an ini sejalan dengan peneli an yang dilakukan di Diredawa Ethiopia Timur dimana praktek ibu yang berhubungan dengan upaya pencegahan dan pengelolaan penyakit diare 22 dan juga peneli an yang dilakukan oleh Rokkappanavar, dkk yang menemukan bahwa praktek ibu yang baik terkait manajemen diare akan dapat membantu mengurangi angka kesakitan dan kema an pada balita23. Pelayanan kesehatan membutuhkan kontak langsung dengan fasilitas kesehatan sehingga jika ibu dak membawa balita ke fasilitas kesehatan maka pelayanan kesehatan dan informasi terkait lima langkah pen ng menuntaskan diare pada anak dak tersampaikan dan akan memperburuk kondisi balita saat diare. Cara terbaik untuk mencegah masalah kesehatan dari kuman dan cacing salah satunya adalah dengan mencuci tangan dengan sabun dan air setelah menggunakan toilet (BAB/BAK), setelah membersihkan pantat bayi, dan sebelum menyiapkan makanan, memberi makan anak-anak, atau makan24. Efek mencuci tangan dengan sabun paling konsisten pada penurunan diare sekitar 48% 25. Pada peneli an ini ibu yang kebiasaan cuci tangannya berisiko akan berisiko memiliki balita mengalami diare dibandingkan dengan ibu yang kebiasaan mencuci tangannya dak berisiko. Perilaku ibu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dalam peneli an ini yaitu saat melakukan kegiatan seper menyiapkan makanan, memberi makan anak, setelah BAB. Setelah BAK, setelah menceboki anak, dan se ap kali tangan kotor. Hasil analisis mul variat perilaku ibu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir didapatkan nilai OR sebesar 1,83 (CI 95% 1,00-3,. , ar nya balita yang memiliki ibu yang dak mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir pada berbagai ak vitas . ebelum menyiapkan makanan, sebelum memberi makan anak, setelah BAB/BAK, setelah menceboki anak, dan se ap kali tangan koto. akan mempunyai odds . mengalami diare sebesar 1,83 kali lebih nggi dibandingkan balita yang ibunya ru n mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir pada berbagai ak vitas. Dalam beberapa budaya, nja anak-anak dianggap dak berbahaya dan orang dewasa mungkin dak mencuci tangan j u r n a l KESEHATAN KOMUNITAS Keskom. Vol. No. 115 April setelah memegangnya26. Namun, buk menunjukkan bahwa kotoran anak-anak sama-sama berbahaya dan mungkin mengandung konsentrasi patogen yang bahkan lebih nggi daripada orang dewasa karena interaksi mereka yang meningkat dengan bahan yang terkontaminasi di lingkungan mereka27. Mencuci tangan bertujuan untuk mendekontaminasi tangan dan mencegah transmisi silang28. Mencuci dengan sabun dan air dak hanya menghilangkan patogen secara mekanis, tetapi juga secara kimia membunuh Cora yang terkontaminasi dan membuat mencuci tangan lebih efek f29. Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir atau air dalam jumlah besar dengan gosokan yang kuat ternyata lebih efek f daripada beberapa anggota rumah tangga yang mencelupkan tangan mereka ke dalam mangkuk air yang sama . ering tanpa sabu. 28, yang merupakan prak k umum di banyak negara miskin sumber daya, terutama sebelum makan30. Hal ini dapat mengakibatkan kontaminasi makanan karena patogen yang ada di tangan anggota keluarga yang terinfeksi dapat ditransfer ke mereka yang kemudian mencelupkan tangan mereka ke dalam mangkuk air yang sama31. Mencuci tangan hanya dengan air baik air mengalir maupun dak dengan air mengalir tanpa menggunakan sabun merupakan hal yang biasa dilakukan oleh masyarakat di Kecamatan Moyo Utara, mereka biasanya hanya menyediakan mangkok kecil berisi air untuk digunakan sebagai tempat cuci tangan sebelum makan, gentong/ember berisi air yang diletakkan di dekat rumah untuk mencuci tangan dan kaki sebelum masuk rumah, atau langsung mencuci tangan dan kaki di sumur yang kebanyakan berada di luar rumah. KESIMPULAN Dalam studi ini prevalensi diare pada balita masih nggi di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian diare adalah variabel jumlah anggota keluarga, kunjungan posyandu, cara mencari pertolongan saat anak diare, dan kebiasaan cuci tangan. Faktor determinan yang paling dominan berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Moyo Utara Kabupaten Sumbawa NTB Tahun 2019 adalah jumlah anggota keluarga setelah dikontrol oleh variabel air bersih, riwayat ASI Eksklusif, tempat pembuangan sampah RT, jenis kelamin, dan kebersihan kuku. Edukasi Program Lintas Diare (Lima Langkah Tuntaskan Diar. dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat seper pemberian ASI Eksklusif, mencuci tangan dengan sabun. Pemberian MP-ASI, kunjungan posyandu. BAB di Jamban, dan perilaku sanitasi lainnya di masyarakat harus lebih massif dilakukan melalui peningkatan kapasitas petugas, peningkatan fasilitas sanitasi dan kebersihan melalui pemberdayaan KonCik Kepen ngan Penulis menyatakan bahwa dak ada konCik kepen ngan dalam peneli an ini Ucapan Terima Kasih Kami ingin menyampaikan terima kasih yang tulus kepada seluruh responden yang sudah memberikan informasi yang berharga dan sangat koopera f dalam peneli an ini. Demikian pula kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Indonesia melalui Proyek HIBAH PITTA 2019 atas dukungan dananya sehingga peneli an ini dapat terlaksana. DAFTAR PUSTAKA