Volume 7. Nomor 2, 2026, hlm 379-388 Jurnal Terapan Teknik Industri ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 https://jurnal. id/index. php/jenius Penerapan line balancing pada perakitan AC menggunakan metode ranked positional weight (RPW) Application of line balancing in AC assembly using ranked positional weight (RPW) method Zelya Bayu Fitaloka*. Asep Erik Nugraha *Universitas Singaperbangsa Karawang. Jl. Ronggowaluyo. Telukjambe Timur. Karawang. Jawa Barat 41361. Indonesia *Email: zelyabayu@gmail. com, asep. erik@ft. INFORMASI ARTIKEL Histori Artikel Artikel dikirim 00/00/0000 Artikel diperbaiki 00/00/0000 Artikel diterima 00/00/0000 ABSTRAK Ketepatan waktu pemenuhan permintaan konsumen merupakan faktor penting dalam menjaga daya saing industri manufaktur. Salah satu permasalahan yang sering terjadi pada sistem produksi adalah ketidakseimbangan lintasan perakitan yang menyebabkan bottleneck, meningkatnya Work-in-Process (WIP), tingginya idle time, serta menurunnya tingkat produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi awal lintasan perakitan Air Conditioner (AC) Indoor dan meningkatkan efisiensi produksi melalui metode Ranked Positional Weight (RPW). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data waktu kerja melalui metode time study. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode RPW meningkatkan kinerja lintasan produksi, yang ditunjukkan oleh peningkatan line efficiency 8% menjadi 91. 4% dan penurunan balance delay dari 15. Selain itu, total idle time dan nilai smoothness index juga mengalami penurunan, yang mengindikasikan distribusi beban kerja yang lebih seimbang antar stasiun kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa metode RPW efektif dalam mendukung perbaikan keseimbangan lintasan perakitan serta berkontribusi langsung terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas sistem produksi. Kata Kunci: Line Balancing. Ranked Positional Weight. Line Efficiency. Balance Delay. Smoothness Index ABSTRACT Timeliness in fulfilling customer demand is a crucial factor in maintaining competitiveness in the manufacturing industry. One common problem in production systems is assembly line imbalance, which leads to bottlenecks, increased Work in Process (WIP), excessive idle time, and decreased This study aims to analyze the initial condition of an indoor Air Conditioner (AC) assembly line and improve production efficiency through the Ranked Positional Weight (RPW) method. A quantitative descriptive approach was employed by collecting work time data using a time study The results indicate that the implementation of the RPW method improves assembly line performance, as reflected by an increase in line efficiency from 84. 8% to 91. 4% and a decrease in balance delay from 15. In addition, reductions in total idle time and smoothness index were observed, indicating a more balanced workload distribution among These findings suggest that the RPW method effectively JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. supports assembly line balancing and directly contributes to improving efficiency and productivity in the manufacturing system. Keywords: Line Balancing. Ranked Positional Weight. Line Efficiency. Balance Delay. Smoothness Index Pendahuluan Sebagai bagian dari sistem produksi manufaktur, lini perakitan . ssembly lin. memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan perusahaan memenuhi target output secara tepat waktu . Namun, pada praktiknya, banyak lini perakitan menghadapi permasalahan ketidakseimbangan beban kerja antar stasiun, yang menyebabkan aliran produksi tidak berjalan secara optimal dan menurunkan kinerja sistem secara keseluruhan . Ketidakseimbangan lintasan produksi umumnya memicu terjadinya bottleneck, yaitu kondisi ketika satu atau beberapa stasiun kerja memiliki waktu proses lebih lama dibandingkan stasiun lainnya . Bottleneck ini berdampak pada meningkatnya Work in Process (WIP), munculnya waktu menganggur . dle tim. , rendahnya utilisasi sumber daya, serta penurunan produktivitas lini secara keseluruhan . , . Oleh karena itu, perbaikan keseimbangan lintasan menjadi aspek penting dalam upaya meningkatkan efisiensi dan kelancaran proses produksi . Salah satu pendekatan yang banyak digunakan dalam permasalahan keseimbangan lintasan adalah metode Ranked Positional Weight (RPW), yaitu metode heuristik yang digunakan untuk menentukan prioritas penugasan elemen kerja ke dalam stasiun kerja berdasarkan urutan dan ketergantungan antar tugas . Metode ini dikenal memiliki keunggulan dalam kemudahan penerapan serta mampu menghasilkan distribusi beban kerja yang relatif seimbang pada berbagai jenis lini perakitan . Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan metode RPW secara umum mampu meningkatkan efisiensi lintasan, menurunkan balance delay, serta mengurangi tingkat bottleneck pada sistem produksi di berbagai sektor industri, seperti otomotif . , shearing line . , dan industri mebel . Temuan tersebut mengonfirmasi bahwa RPW merupakan pendekatan yang aplikatif dan sederhana untuk perbaikan keseimbangan lintasan . Meskipun demikian, sebagian besar penelitian sebelumnya masih berfokus pada lini perakitan dengan karakteristik produk yang relatif homogen, sementara kajian mengenai penerapan RPW pada lini perakitan final Air Conditioner (AC) yang memiliki variasi model, kompleksitas komponen, serta dinamika permintaan yang tinggi masih terbatas . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memperbaiki keseimbangan lintasan produksi pada proses perakitan AC menggunakan metode RPW guna memperoleh distribusi beban kerja yang lebih seimbang dan meningkatkan kinerja lintasan produksi. Metode 1 Desain dan objek penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi kasus pada lini perakitan AC Indoor. Lini yang dianalisis terdiri dari 42 elemen kerja pada lima stasiun perakitan. Penelitian bertujuan menganalisis kondisi keseimbangan lintasan produksi awal dan meningkatkan tingkat kinerja lintasan melalui penerapan metode Ranked Positional Weight (RPW). Pengumpulan data dilakukan pada periode Desember 2024 hingga Februari 2025. Evaluasi dilakukan melalui perbandingan kondisi sebelum dan sesudah penerapan metode. Selama proses pengambilan data diasumsikan sistem produksi berada dalam kondisi operasi normal tanpa adanya gangguan. 2 Teknik pengumpulan data Data primer diperoleh melalui observasi langsung untuk memetakan aliran proses dan hubungan precedence antar elemen kerja. Pengukuran waktu dilakukan menggunakan metode studi waktu . ime stud. dengan stopwatch untuk memperoleh waktu siklus rata-rata setiap elemen kerja. Penilaian performansi operator dilakukan menggunakan metode Westinghouse System Rating untuk menentukan faktor penyesuaian . erformance ratin. Waktu baku dihitung dengan mempertimbangkan allowance standar perusahaan. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. 3 Teknik pengolahan dan analisis data Uji keseragaman dan kecukupan Data: Uji keseragaman dan kecukupan data dilakukan untuk memastikan jumlah pengamatan representatif dan berada dalam kendali statistik. Perhitungan uji kecukupan dan parameter studi waktu mengacu pada formulasi standar dalam literatur teknik industri . Perhitungan Waktu Standar: Waktu standar diperoleh dari waktu siklus rata-rata yang telah disesuaikan dengan performance rating, kemudian dikalikan dengan allowance untuk memperoleh waktu baku . Metode Ranked Positional Weight (RPW): Penyeimbangan lintasan menggunakan metode Ranked Positional Weight (RPW), yang merupakan pendekatan heuristik dalam line balancing. Metode ini mengalokasikan elemen kerja ke dalam stasiun kerja berdasarkan bobot posisi dengan mempertimbangkan hubungan precedence dan batasan waktu siklus . Kinerja lintasan produksi dievaluasi menggunakan indikator efisiensi lintasan, balance delay, idle time, dan smoothness index yang dihitung berdasarkan formulasi standar keseimbangan lintasan . Hasil evaluasi dibandingkan antara kondisi awal dan hasil perancangan ulang untuk menilai peningkatan performa sistem produksi. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Pengukuran waktu kerja dilakukan secara langsung di lini produksi indoor AC terhadap 42 elemen kerja yang tersebar dalam lima stasiun utama. Setiap elemen diamati sebanyak lima kali pengulangan ( = . Sebelum dianalisis lebih lanjut, data diuji kecukupan dan keseragamannya. Uji kecukupan menggunakan tingkat keyakinan 95% ( = . dan ketelitian 10% ( = 0,. dengan Oc Oe Oc Seluruh elemen kerja menghasilkan nilai A < 5, sehingga data dinyatakan cukup. Uji keseragaman dengan batas kontrol atas (BKA) dan bawah (BKB) pada tingkat keyakinan yang sama menunjukkan bahwa semua data berada dalam rentang kendali, berarti data seragam. Waktu siklus rata-rata setiap elemen ( ) dihitung dari kelima pengamatan. Tabel 1 memperlihatkan waktu siklus rata-rata untuk ke-42 elemen kerja. Tabel 1. Waktu siklus rata-rata elemen kerja per stasiun Total Stasiun Kerja No. Elemen Kerja Waktu . Stasiun 1 O-1 Insulator Cabinet 1 (Sub Line Assy O-2 Insulator Cabinet 2 Cabine. O-3 Insulator Cabinet 3 O-4 Assembly Drain Hose to Cabinet O-5 Drain Hose Leak Test Assembly Cross Flow Fan. Fan O-6 Motor & Motor Cover to Cabinet O-7 Assembly Louver Motor Stasiun 2 O-8 Cutting and Bending Evaporator (Sub Line Assy O-9 Pasang Tube Assy to Evaporator Evaporato. Brazing Sensor Tube and Tube O-10 Assy O-11 Flow Test Pressure Resistance O-12 Confirmation O-13 Input Helium O-14 Helium Leak Test O-15 Vacuum Helium Rata-rata ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Stasiun Kerja No. Stasiun 3 (Sub Line Assy PWB) O-16 O-19 O-20 Total Waktu . Rata-rata O-22 O-27 Assembly Flare Bonet Assy PWB to Locking Card Assy PWB to Control Box Electrical Integration and Wiring Station Control Unit Inspection Assy Insulator to Front Panel O-28 Assy Front Panel to Cabinet O-17 O-18 O-23 O-24 O-25 O-26 O-29 O-30 O-31 O-32 O-33 O-34 Assy Evaporator to Cabinet Assy Tube Cover to Cabinet Assy Control Unit to Cabinet Assy Thermistor Wiring Arrangement Structural Inspection Assy Horizontal Louver Assy Open Panel to Front Panel EGW Voltage Inspection Electrical Inspection Noise Inspection Assy Air Filter Assy Aksesoris Baterai dan Remote Checker Assy Aksesoris Kit Pasang Blue Tape Pasang Sticker Label Shipping Judgement and Cleaning Assy Plastic Packing and Scan Label Install Packing 1 Instal Packing 2 O-21 Stasiun 4 (Sub Line Assy Front Pane. Stasiun 5 (Main Lin. Elemen Kerja O-35 O-36 O-37 O-38 O-39 O-40 O-41 O-42 Faktor penyesuaian . erformance ratin. ditentukan oleh leader produksi menggunakan metode Westinghouse berdasarkan empat faktor: skill, effort, condition, dan consistency. Nilai penyesuaian berkisar antara 0,80 hingga 1,38. Perusahaan juga menetapkan faktor kelonggaran . sebesar 30,6% yang mencakup waktu hilang akibat ketidakseimbangan distribusi kerja, pergantian model, transportasi, perbaikan kualitas, dan kontrol proses. Waktu normal ( ) dan waktu standar ( ) dihitung dengan persamaan: 100% Oe % !!"#$%&' . Hasil perhitungan untuk seluruh elemen kerja disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Perhitungan waktu siklus, waktu normal, dan waktu standar setiap elemen kerja Elemen Kerja Allowance O-1 O-2 O-3 O-4 ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Elemen Kerja O-5 O-6 O-7 O-8 O-9 O-10 O-11 O-12 O-13 O-14 O-15 O-16 O-19 O-20 O-21 O-22 O-27 O-28 O-17 O-18 O-23 O-24 O-25 O-26 O-29 O-30 O-31 O-32 O-33 O-34 O-35 O-36 O-37 O-38 O-39 O-40 O-41 O-42 Allowance Waktu siklus . akt tim. ditentukan berdasarkan target produksi 1. 250 unit per shift dengan waktu tersedia 25. 000 detik per shift, sehingga: $ )* ' ' ,$ 25. = 20 '), /*%,) -*). Dengan total waktu standar seluruh elemen O. 1 = 712,71 detik dan jumlah stasiun % = 42, indikator keseimbangan lintasan awal dihitung. Balance delay (BD) y % Oe Oc )1 840 Oe 712. y 100% = y 100% = 15. y% . Efisiensi lintasan . ine efficiency. LE) ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Oc )1 y 100% = = 84. y% . Total waktu menganggur . dle tim. 9 !' ,:' = y % Oe Oc )1 = 840 Oe 712. 71 = 127. 29 detik Indeks kelancaran (Smoothness index. SI) <9 = OcBACD =>?@ Oe A = Oo3030. 93 = 55. Nilai SI yang cukup besar dan adanya stasiun dengan waktu standar melebihi takt time, misalnya O-22 = 24,74 detik. O-27 = 40,78 detik menunjukkan lintasan belum seimbang. Gambar 1 memperlihatkan perbandingan waktu standar setiap elemen terhadap takt time 20 detik, sedangkan Gambar 2 adalah precedence diagram awal. 30,00 Waktu . 25,00 20,00 15,00 10,00 5,00 0,00 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 Elemen Kerja ke- Gambar 1. Grafik perbandingan waktu standar dengan takt time sebelum balancing Gambar 2. Precedence diagram sebelum line balancing Untuk memperbaiki keseimbangan lintasan, digunakan metode Ranked Positional Weight (RPW). Bobot posisi setiap elemen dihitung dengan menjumlahkan waktu standar elemen itu sendiri dan seluruh elemen yang mengikutinya berdasarkan diagram precedence. Hasil pembobotan diurutkan dari nilai terbesar ke terkecil (Tabel . sebagai dasar prioritas pengalokasian ke stasiun kerja. Tabel 3. Pembobotan posisi pada setiap workstation dengan metode ranked positional weight Bobot Bobot Peringkat No. Elemen Peringkat No. Elemen O-8 O-18 ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Peringkat No. Elemen O-1 O-9 O-10 O-2 O-11 O-3 O-12 O-4 O-13 O-5 O-14 O-15 O-6 O-19 O-20 O-16 O-7 O-21 O-17 O-22 Bobot . Peringkat No. Elemen O-23 O-24 O-25 O-27 O-26 O-28 O-29 O-30 O-31 O-32 O-33 O-34 O-35 O-36 O-37 O-38 O-39 O-40 O-41 O-42 Bobot . Pembebanan stasiun kerja dilakukan dengan tetap mempertahankan takt time 20 detik. Karena beberapa elemen memiliki waktu standar di atas 20 detik seperti O-20. O-27, dan O-33, elemen tersebut dialokasikan dengan dua operator sehingga waktu efektifnya menjadi Selain itu, elemen-elemen dengan waktu kecil dan hubungan precedence berurutan digabung dalam satu stasiun. Tiga penggabungan utama yang dilakukan adalah: O-13 (Input Heliu. dengan O-14 (Helium Leak Tes. menghasilkan total waktu 19. O-19 (Assy PWB to Locking Car. dengan O-20 (Assy PWB to Control Bo. menghasilkan total waktu 19. 18 detik . O-38 (Pasang Sticker Labe. dengan O-39 (Shipping Judgement and Cleanin. menghasilkan total waktu 19. 52 detik Berdasarkan Tabel 4 hasil line balancing menunjukkan adanya penyederhanaan elemen kerja dari 42 menjadi 39 tanpa mengubah jumlah stasiun kerja. Penggabungan beberapa elemen kerja terlihat mampu meningkatkan efisiensi waktu proses di setiap stasiun. Seluruh elemen kerja telah disesuaikan dengan cycle time (CT) sebesar 20 detik, sehingga tidak ada yang melebihi batas Nilai idle time pada tiap elemen relatif kecil, meskipun masih terdapat beberapa elemen dengan idle time cukup tinggi seperti O-20. O-27, dan O-33. Hal ini menunjukkan masih adanya potensi perbaikan dalam distribusi beban kerja. Namun secara umum, sebagian besar elemen memiliki idle time di bawah 3 detik yang menandakan keseimbangan lini sudah cukup baik. Penggunaan dua operator pada elemen tertentu juga membantu menyesuaikan waktu kerja agar sesuai dengan CT. Secara keseluruhan, line balancing berhasil meningkatkan efisiensi dan pemerataan beban kerja pada lini produksi. Elemen Awal O-1 O-2 O-3 Tabel 4. Komposisi elemen kerja setelah line balancing Waktu Baku Elemen Total Kerja Baru . O-1 O-2 O-3 Idle Time . ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Elemen Waktu Baku Elemen Total Idle Time Awal . Kerja Baru . O-4 O-4 O-5 O-5 O-6 O-6 O-7 O-7 O-8 O-8 O-9 O-9 O-10 O-10 O-11 O-11 O-12 O-12 O-13 O-13 O-14 O-15 O-14 O-16 O-15 O-17 O-16 O-18 O-17 O-19 O-18 O-20 O-21 O-19 O-22 O-20 O-23 O-21 O-24 O-22 O-25 O-23 O-26 O-24 O-27 O-25 O-28 O-26 O-29 O-27 O-30 O-28 O-31 O-29 O-32 O-30 O-33 O-31 O-34 O-32 O-35 O-33 O-36 O-34 O-37 O-35 O-38 O-36 O-39 O-40 O-37 O-41 O-38 O-42 O-39 Keterangan: *Elemen dengan waktu standar >20 detik dialokasikan dengan dua operator sehingga waktu yang tercantum adalah setengahnya. Precedence diagram pada Gambar 3 menunjukkan alur proses kerja setelah dilakukan line balancing menjadi lebih teratur. Setiap elemen kerja telah disusun sesuai urutan ketergantungan sehingga tidak terjadi pelanggaran proses. Beberapa stasiun kerja terlihat berjalan secara paralel sebelum bergabung ke main line. Hal ini bertujuan untuk mengurangi waktu menganggur dan meningkatkan efisiensi kerja. Titik penggabungan proses menunjukkan koordinasi antar stasiun yang lebih baik. Setelah itu, alur proses berjalan lebih linear hingga tahap akhir produksi. Secara keseluruhan, line balancing berhasil membuat distribusi kerja lebih merata dan efisien. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Gambar 3. Precedence diagram setelah line balancing 2 Pembahasan Dari hasil penyeimbangan dengan metode RPW, diperoleh peningkatan performa lintasan Perhitungan dilakukan menggunakan persamaan . dengan total waktu standar O. 1 = 712,71 detik, jumlah stasiun % = 39, dan waktu siklus 20 detik. Perbandingan indikator performa sebelum dan setelah penyeimbangan disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Perbandingan performa lintasan sebelum dan setelah balancing Parameter Sebelum Balancing Setelah Balancing Perubahan Jumlah Elemen Kerja Oe 3 elemen Line Efficiency 6. Balance Delay Oe 6. Total Idle Time 29 detik 29 detik Oe 60 detik Smoothness Index Oe 13. Tabel 5 mengindikasikan peningkatan performa lintasan produksi pada seluruh indikator: efisiensi lintasan meningkat 6. 6% dari 84. 8% menjadi 91. 4%, balance delay menurun 6. 6% dari 2% menjadi 8. 6%, idle time berkurang 60 detik, dan smoothness index membaik sebesar 13. Simpulan Metode Ranked Positional Weight (RPW) mampu menyeimbangkan lini perakitan AC Indoor. Penerapannya meningkatkan efisiensi lintasan dari 84,8% menjadi 91,4% serta menurunkan balance delay, idle time, dan smoothness index secara nyata, yang mengindikasikan distribusi beban kerja lebih merata antar stasiun. Penelitian mendatang dapat mengintegrasikan RPW dengan metode heuristik lain seperti Kilbridge & Wester Column untuk menangani lini produksi multi-produk. Selain itu, pengembangan model line balancing dinamis yang mempertimbangkan faktor ergonomi, kurva pembelajaran, dan fluktuasi permintaan perlu dikaji guna meningkatkan akurasi dan relevansi penerapan di lingkungan industri yang lebih kompleks. Referensi