Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 PENERAPAN TERAPI SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIC (SEFT) PADA PASIEN RESIKO PERILAKU KEKERASAN Rio Irvanda Yuris1*. Tesha Hestyana Sari2. Aulia Akbar3 1,2 Universitas Riau 3 RSJ Tampan Provinsi Riau *Koresponden: Tesha Hestyana Sari. Alamat: Pekanbaru. Email: tesahesty@gmail. Received: 12 agust | Revised: 20 aguts | Accepted: 28 agust Abstrak Latar Belakang: Risiko perilaku kekerasan merupakan diagnosis keperawatan yang sering ditemukan pada pasien gangguan jiwa, menempati peringkat kedua tertinggi di Ruang Mandau II Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Intervensi yang selama ini digunakan adalah terapi generalis dan psikofarmaka. Sebagai alternatif, terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) diterapkan selama 4 hari pada tiga pasien terpilih. Tujuan: Tujuan studi ini yaitu menganalisis penerapan evidence based practice dalam asuhan keperawatan pada pasien resiko perilaku kekerasan dengan penerapan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique. Metodologi Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan menerapkan evidence based practice berupa terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei Ae 31 Mei 2025 terhadap 3 orang pasien dengan masalah keperawatan resiko perilaku kekerasan di Ruang Mandau 2 Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Hasil: Hasil pre-post terapi menunjukkan penurunan skor tanda gejala risiko kekerasan: pasien 1 dari 27 ke 17, pasien 2 dari 18 ke 11, dan pasien 3 dari 25 ke 13. Kesimpulan: Hasil ini mendukung bahwa SEFT efektif menurunkan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan, sehingga direkomendasikan untuk diterapkan oleh perawat jiwa pada pasien skizofrenia. Kata Kunci: Resiko perilaku kekerasa. SEFT, terapi modalitas skizofrenia, dan demensia. Di Indonesia sendiri. Riskesdas Latar Belakang Gangguan jiwa merupakan respons maladaptif . mencatat tingginya angka penderita gangguan jiwa, terhadap stresor dari dalam maupun luar individu yang dengan gangguan skizofrenia sebagai salah satu diagnosis menyebabkan perubahan pada pola pikir, persepsi, perilaku, terbanyak di beberapa provinsi seperti Bali dan Aceh. Survei dan emosi. Kondisi ini berdampak pada terganggunya fungsi Kesehatan Indonesia . juga menunjukkan bahwa sosial dan individu dalam ribuan rumah tangga memiliki anggota dengan gangguan berinteraksi dan menjalankan aktivitas sehari-hari secara jiwa, termasuk di Provinsi Riau. Salah satu bentuk gangguan Menurut data WHO . , jutaan orang di dunia jiwa yang paling sering ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan jiwa adalah perilaku kekerasan, yaitu kehilangan fisik, serta Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 kendali terhadap diri sendiri yang dapat membahayakan diri, orang lain, atau lingkungan sekitar. Tujuan Penelitian Gejala yang sering muncul antara lain marah. Tujuan studi ini yaitu menganalisis penerapan gelisah, agresif, hingga tindakan fisik yang destruktif. Data evidence based practice dalam asuhan keperawatan pada dari Ruang Mandau II RSJ Tampan Provinsi Riau pasien resiko perilaku kekerasan dengan penerapan terapi menunjukkan bahwa risiko perilaku kekerasan merupakan Spiritual Emotional Freedom Technique. diagnosis terbanyak kedua setelah halusinasi, dengan jumlah pasien mencapai 28 orang pada bulan April 2025. Meskipun telah diberikan terapi generalis, psikofarmaka, dan restrain. Metode Penelitian Desain Penelitian kejadian perilaku kekerasan masih sering muncul, yang menandakan perlunya pendekatan lain yang lebih efektif. Salah satu intervensi yang potensial adalah Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT), nonfarmakologis yang menggabungkan teknik penyadapan pada titik meridian tubuh, afirmasi positif, dan elemen Berbeda dengan terapi lain yang hanya berfokus pada aspek psikologis. SEFT menyentuh aspek spiritual dan energi tubuh untuk mengatasi gangguan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa SEFT dapat membantu menurunkan stres, kemarahan, dan kecemasan secara Terapi ini juga sederhana, noninvasif, dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien, dan sesuai dengan nilai spiritual mayoritas masyarakat Indonesia. SEFT bekerja melalui stimulasi titik akupuntur yang memicu pelepasan hormon seperti serotonin, endorfin, dan GABA di sistem limbik dan prefrontal cortex, sehingga membantu mengontrol emosi dan stres. Efektivitas SEFT juga telah dibuktikan melalui berbagai penelitian yang menunjukkan hasil positif pada pasien dengan gangguan Penerapan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) dilakukan menggunakan metode studi menurunkan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan. Intervensi dilakukan terhadap tiga pasien di Ruang Mandau II RSJ Tampan Provinsi Riau yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, dengan pengawasan langsung dari kepala ruangan. Terapi dilaksanakan selama empat hari berturut-turut dari tanggal 28 hingga 31 Mei 2025, dengan durasi 10Ae15 menit per hari. Awalnya terapi dilakukan setiap 00 WIB, namun pada hari ketiga dan keempat dilaksanakan pukul 16. 00 WIB atas permintaan pasien karena aktivitas pagi yang padat. Pengukuran tanda dan gejala dilakukan sebelum dan sesudah terapi menggunakan lembar penilaian berdasarkan SLKI, yang mencakup tujuh menyerang, merusak lingkungan, agresif/amuk, suara keras, dan bicara ketus. Setiap indikator dinilai dengan skala 1Ae5. Data dianalisis untuk melihat perubahan skor gejala sebagai indikator efektivitas terapi. emosi seperti kecemasan dan kemarahan, termasuk pada pasien skizofrenia. Melihat tingginya prevalensi risiko Hipotesis perilaku kekerasan dan kurang efektifnya pendekatan terapi yang ada, serta bukti ilmiah yang mendukung efektivitas Hipotesis dalam penelitian ini, antara lain: SEFT, penulis merasa perlu melakukan asuhan keperawatan dengan pendekatan SEFT. Oleh karena itu, penulis tertarik menyusun karya ilmiah akhir dengan judul AuAsuhan H1: Ada penurunan tanda gejala resiko perilaku kekerasan dengan terapi SEFT. H0: Tidak ada penurunan tanda gejala resiko perilaku kekerasan dengan terapi SEFT Keperawatan Pada Pasien Risiko Perilaku Kekerasan dengan Penerapan Terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Penurunan Tanda dan Gejala Risiko Perilaku Kekerasan di RSJ Tampan Provinsi RiauAy, yang akan Populasi dan Sampel Penerapan terapi SEFT ini melibatkan 3 orang pasien dengan diagnosis keperawatan resiko perilaku dilaksanakan di Ruang Mandau II RSJ Tampan Provinsi Riau. Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Pasien dipilih sesuai dengan kriteria yang dapat Tabel 1. Hasil Pre-Post Test Pasien 1 Pasien 2 mengikuti arahan perawat. Instrumen Pengumpulan Data instrument pengumpulan data menunjukkan nilai Aplha Cronbach 0,1 yang mengindikasikan bahwa instrument telah valid dan reliabel untuk digunakan dalam penelitian nyata. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 28 Mei Ae Pre Post Pre Post Pre Post Verbalisasi kepada orang lain Verbalisasi umpatan Perilaku menyerang Perilaku Perilaku agresif/amuk Suara keras Bicara ketus Total Pengumpulan data menggunakan instrumen yang dibuat sendiri oleh peneliti. Uji validitas dan reliabilitas Pasien 3 Indikator 31 Mei 2025 terhadap 3 orang pasien dengan masalah keperawatan resiko perilaku kekerasan di ruang rawat inap Rumah Sakit Jiwa Tampan Provinsi Riau. Grafik 1. Observasi Tanda dan Gejala Resiko Perilaku Kekerasan Analisa Data Data diolah dengan menggunakan format penilaian pre-test dan post-test SLKI. Pertimbangan Etik Penerapan terapi berupa studi kasus dan telah disetujui oleh pihak rumah sakit dan didampingi oleh spesialis keperawatan jiwa. Hasil Penelitian Analisa Univariat Penerapan intervensi pada ketiga pasien berjalan dengan Selama mengikuti kegiatan terapi, ketiga pasien kooperatif dan mampu mengikuti arahan dari ners muda. Terdapat penurunan tanda gejala resiko perilaku kekerasan pada pasien yang dapat dilihat pada tabel dan diagram Intervensi terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) dilakukan selama empat hari berturut-turut terhadap tiga pasien dengan masalah keperawatan risiko perilaku Setiap sesi terapi berdurasi 10Ae15 menit dan dilakukan satu kali per hari. Evaluasi efektivitas terapi dilakukan dengan membandingkan skor pre-test dan posttest menggunakan lembar penilaian SLKI yang mencakup tujuh indikator gejala: verbalisasi ancaman, umpatan, perilaku menyerang, merusak lingkungan, agresif/amuk, suara keras, dan bicara ketus. Pasien 1 Pada pasien pertama, total skor pre-test adalah 27, yang menunjukkan tingkat gejala yang cukup berat. Indikator tertinggi terdapat pada bicara ketus dengan skor 5, serta verbalisasi ancaman, umpatan, dan perilaku agresif masing-masing dengan skor 4. Setelah dilakukan terapi SEFT selama 4 hari, total skor posttest turun menjadi 17. Penurunan signifikan terjadi pada Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 indikator perilaku merusak lingkungan dari skor 3 menjadi status sosial ekonomi menengah ke bawah, yang berdampak 1, dan perilaku agresif dari skor 4 menjadi 2. Ini pada tekanan finansial berkepanjangan dalam rumah menunjukkan bahwa terapi SEFT memberikan dampak Selain itu, pasien adalah lulusan SMA dan positif dalam menurunkan ekspresi kekerasan baik secara menyatakan merasa malu serta tidak percaya diri untuk verbal maupun fisik. melamar pekerjaan karena latar belakang pendidikannya Pasien 2 Pasien kedua memiliki total skor pre-test sebesar yang rendah. Ketidakmampuan ini menyebabkan pasien Skor indikator berada pada tingkat sedang, dengan rata- menjadi bergantung secara finansial pada keluarga, rata skor 2 hingga 3 di semua aspek. Setelah terapi, total skor khususnya kepada saudara kandungnya. Ia sering meminta menurun menjadi 11. Penurunan paling menonjol terdapat uang namun kerap dimarahi, yang memperparah perasaan pada indikator bicara ketus dan perilaku menyerang yang tidak berharga dan memperkuat konflik interpersonal dalam masing-masing turun dari skor 3 dan 2 menjadi skor 1. Ini lingkungan sosial terdekatnya. Berdasarkan penelitian yang Wulandari Febriana menunjukkan gejala yang relatif lebih ringan dibanding mengungkapkan bahwa status ekonomi rendah merupakan pasien pertama, terapi SEFT tetap efektif menurunkan gejala faktor risiko kejadian skizofrenia dengan nilai p = 0,025. secara signifikan. Pasien 3 Pasien ketiga memiliki total skor Sebanyak 101 responden . ,3%) memiliki status ekonomi pre-test sebesar 25. Skor tertinggi terdapat pada umpatan, rendah, lebih banyak dibandingkan dengan responden yang merusak lingkungan, dan perilaku agresif dengan skor 4. memiliki status ekonomi tinggi yaitu sebanyak 35 orang Setelah intervensi, total skor post-test menurun menjadi 13. ,7%). Proporsi pasien skizofrenia dengan status ekonomi Penurunan signifikan terjadi pada indikator perilaku rendah tercatat sebesar 67 orang . ,3%), sedangkan pada merusak lingkungan dari skor 4 menjadi 1, dan umpatan dari kelompok ekonomi tinggi sebanyak 15 orang . ,9%). skor 4 menjadi 2. Hasil ini menunjukkan perbaikan yang Sampel dengan status ekonomi rendah memiliki risiko 2,627 cukup berarti pada ekspresi kekerasan secara fisik dan kali lebih besar untuk mengalami skizofrenia dibandingkan dengan sampel yang memiliki status ekonomi tinggi. Adapun Pasien 1 (Tn. A, laki-laki berusia 29 tahu. , datang ke IGD RSJ Tampan diantar oleh keluarganya karena menunjukkan perilaku agresif, yaitu memukul orang tuanya tiga hari sebelumnya. Berdasarkan hasil pengkajian, ditemukan adanya faktor predisposisi dan presipitasi yang kekambuhan gejala pada pasien terjadi dalam tiga hari Hasil Penelitian kejiwaannya saat ini. Dari sisi faktor predisposisi. Tn. memiliki riwayat gangguan jiwa sebelumnya dan pernah dirawat inap di RSJ Tampan pada tahun 2019, kemudian menjalani rawat jalan di RSUD Duri. Berdasarkan teori, diketahui bahwa salah satu faktor predisposisi terjadinya gangguan jiwa adalah faktor biologis, yaitu adanya riwayat gangguan jiwa dalam keluarga atau pernah menderita gangguan jiwa sebelumnya. Pasien 1 (Tn. A) juga berasal dari keluarga dengan terakhir sebelum masuk rumah sakit. Pemicu utamanya adalah ketika pasien meminta sepeda motor kepada orang tuanya, namun permintaan tersebut ditolak. Penolakan ini menyebabkan pasien merasa marah, gelisah, dan frustasi, hingga akhirnya memicu perilaku agresif berupa mengamuk dan memukul orang tua. Situasi ini diperburuk dengan kurangnya dukungan emosional dan tidak adanya strategi koping adaptif yang dimiliki pasien, sehingga ia cenderung melampiaskan emosi melalui perilaku kekerasan. Kombinasi antara kerentanan psikososial jangka panjang . aktor predisposis. dan tekanan akut baru-baru ini . aktor presipitas. memicu kekambuhan perilaku kekerasan pada Hal keperawatan jiwa yang holistik, mencakup manajemen emosi, peningkatan harga diri, dan pemulihan fungsi sosial Selanjutnya, artikel dari Brady et al. , . , berjudul Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 "Adaptive Coping Reduces the Impact of Community Violence yang menengah ke bawah, serta tidak adanya dukungan Exposure on Violent Behavior" mengungkapkan bahwa koping adaptif seperti kemampuan mengelola konflik dan memperkuat kerentanan pasien terhadap kekambuhan. menenangkan diriAimemiliki peran protektif terhadap Sementara itu, faktor presipitasi yang memicu perilaku kekerasan. Sayangnya, pasien Tn. A justru menunjukkan respons destruktif seperti mengamuk dan meninggalnya sang ibu, yang terjadi beberapa hari sebelum memukul karena tidak memiliki keterampilan regulasi emosi pasien mulai menunjukkan gejala gangguan perilaku. dan tidak diajarkan strategi koping sejak awal. Kehilangan ini menimbulkan reaksi emosional mendalam Berdasarkan hasil pengkajian pasien 2 (Tn. berupa kesedihan, perasaan bersalah, dan kemarahan adalah seorang pria berusia 51 tahu. dengan riwayat terhadap diri sendiri. Ketidakmampuan pasien dalam gangguan jiwa yang sebelumnya pernah dirawat inap di RSJ mengelola duka ini menyebabkan munculnya ledakan emosi. Tampan dua tahun yang lalu. Saat ini, pasien datang ke IGD termasuk perilaku agresif, berbicara kasar, serta gangguan dalam kondisi emosional yang tidak stabil, menunjukkan Hal ini diperparah dengan tidak adanya mekanisme perilaku marah-marah, berteriak, berkata kasar, dan tertawa koping adaptif yang memadai untuk mengatasi stres Keadaan ini muncul setelah tiga hari sebelumnya emosional yang muncul. Menurut Tu et al. , . , individu pasien mengalami kehilangan ibu tercinta, yang secara yang di diagnosis dengan gangguan duka berkepanjangan emosional sangat berdampak padanya. (PGD) menunjukkan gangguan yang signifikan dalam Dari segi faktor predisposisi. Tn. R memiliki aktivitas sehari-hari, terbebani oleh rasa sakit emosional beberapa kerentanan psikososial yang telah berlangsung yang intens, fokus tanpa henti pada kenangan orang yang dalam jangka waktu lama. Ia merupakan ODGJ yang telah meninggal, dan sensasi kekosongan yang semakin mengalami stigma sosial yang berulang, terutama dalam lingkungan kerja, di mana ia sering kali ditolak dan Berdasarkan hasil pengkajian pada pasien 3 (Tn. dipandang rendah meskipun memiliki kemampuan bekerja adalah seorang remaja berusia 19 tahu. yang menunjukkan sebagai kuli bangunan. Pengalaman-pengalaman penolakan gangguan perilaku dan emosional setelah mengalami putus ini secara kumulatif menurunkan rasa percaya diri dan harga cinta dengan pacarnya. Meskipun pemicu langsung dari diri pasien. Berdasarkan penelitian oleh Danukusumah et al. perilaku kekerasan dan keinginan bunuh diri adalah . menyatakan bahwa stigma masyarakat masih tinggi kehilangan orang yang disayanginya . , kondisi ini . ean=129. SD=. Skor tertinggi pada aspek ideologi sebenarnya dipengaruhi oleh faktor predisposisi yang cukup komunitas kesehatan mental . ean=35,48. SD=. , diikuti Pasien memiliki riwayat depresi, rendahnya harga diri, dengan aspek kebajikan . ean=34,70. SD=. , aspek serta pola perilaku maladaptif dalam menghadapi tekanan, otoritarianisme . ean=31,12. SD=. dan yang terendah yaitu aspek pembatasan sosial . ean=27,86. SD=. Artinya menenangkan diri. Selain itu, pasien juga menunjukkan masyarakat beranggapan bahwa orang dengan gangguan bahwa ia tidak memiliki strategi koping yang baik dan jiwa harus mendapatkan perawatan yang memadai dan kurang merasakan manfaat dari aspek spiritual seperti perlu pelayanan kesehatan jiwa akan tetapi bukan di lingkungan mereka. Berdasarkan pemelitian oleh Graya & Brandyo . Pasien juga merasa tidak mampu memberikan koping dapat kontribusi yang berarti bagi keluarganya, terutama kepada memperparah gejala gangguan jiwa seperti depresi, ibunya, yang kini telah meninggal. Rasa bersalah dan kecemasan, serta meningkatkan ketidakstabilan emosi. perasaan tidak berguna semakin memperburuk kondisi Pasien yang mengalami konflik spiritual atau merasa putus Selain itu, latar belakang ekonomi keluarga asa dalam hubungannya dengan Tuhan cenderung lebih Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 rentan mengalami perasaan putus asa, rendah diri, dan asetilkolin ditekan, pikiran jadi lebih tenang dan tidak terlalu bahkan muncul keinginan untuk mengakhiri hidup. Ini aktif, sehingga emosi lebih stabil. terjadi karena keyakinan spiritual yang seharusnya menjadi Hasil pengkajian pada ketiga pasien sesuai dengan sumber kekuatan justru menjadi beban psikologis, terutama teori resiko perilaku kekerasan merupakan suatu kondisi saat harapan tidak terpenuhi. Dalam kasus ini, dukungan hilangnya kontrol diri seseorang yang berfokus pada diri spiritual yang lebih sehat dan pendekatan keagamaan yang sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar (Susilawati & konstruktif perlu diperkuat, bersamaan dengan intervensi Panzilion, 2. Risiko perilaku kekerasan merupakan psikologis seperti terapi kognitif dan pelatihan koping sesuatu yang dapat membahayakan secara fisik, emosional. Dengan demikian, spiritualitas pasien dapat kembali dan seksual bagi diri sendiri maupun orang lain. Berdasarkan menjadi sumber kekuatan, bukan pemicu tambahan hasil pengkajian dapat ditegakkan diagnosa keperawatan terhadap penderitaan emosionalnya. Dari emosional yang mendalam karena diputuskan oleh pacarnya SDKI keperawatan utama pada ketiga pasien adalah resiko perilaku kekerasan. memicu perubahan perilaku yang tajam dalam diri pasien. Setelah menegakkan diagnosa keperawatan, maka menunjukkan gejala isolasi sosial, keinginan bunuh diri, dilanjutkan dengan menyusun intervensi keperawatan. agresi verbal kepada keluarga, dan perilaku menyakiti diri. Intervensi yang diberikan kepada ketiga klien yaitu terapi Bahkan, upaya bunuh diri sempat dilakukan saat dalam generalis resiko perilaku kekerasan. Menurut Keliat . perjalanan menuju rumah sakit jiwa. Hal ini menggambarkan yaitu melatih pasien mengontrol emosi dengan napas dan tekanan emosional akut yang tidak mampu diatasi secara mengontrol emosi dengan cara fisik pukul bantal dan kasur, mandiri oleh pasien (Gozan & Menaldi, 2. melatih cara verbal/sosial . omunikasi asertif untuk Hasil pengkajian pada ketiga pasien diperoleh data bahwa ketiga pasien mendapatkan terapi farmakologis mengontrol mara. dan dilanjutkan dengan melatih pasien melakukan cara spiritual dan minum obat. sebagai berikut Lodomer 2mg . Trihexylphenidil Pelaksanaan terapi generalis pada ketiga pasien 2mg . Lodomer merupakan obat yang digunakan telah sesuai dengan standar asuhan keperawatan yang untuk membantu meredakan rasa cemas, ketegangan, dan berlaku bagi pasien dengan resiko perilaku kekerasan. mencegah kejang. Obat ini juga membantu mengontrol emosi Dalam melatih pasien dengan cara spiritual, pasien juga yang tidak stabil, terutama pada pasien dengan gangguan diajarkan berupa terapi modalitas lainnya, yaitu spiritual Lodomer bekerja dengan meningkatkan efek zat kimia alami di otak yang bernama GABA (Rasouli et al. menurunkan tanda dan gejala dari resiko perilaku GABA bertugas menenangkan sistem saraf. Saat kadar Spiritual Emotional Freedom Technic (SEFT) GABA meningkat, otak menjadi lebih tenang dan tidak mudah merupakan intervensi yang sederhana dan berbiaya rendah, terpicu oleh emosi negatif seperti marah atau gelisah. tidak memerlukan kualifikasi khusus dari terapis, serta tidak Sedangkan Trihexyphenidyl sering diberikan pada pasien menambah beban keuangan bagi pasien rawat inap dengan gangguan otak seperti parkinson atau efek samping (Wahyuni et al. , 2. Spiritual Emotional Freedom Technic dari obat antipsikotik. Namun, obat ini juga terbukti (SEFT) diberikan secara bersamaan kepada ketiga pasien membantu meredakan gejala gangguan stres seperti mimpi buruk atau pikiran berulang yang tidak menyenangkan menit/pertemuan yang dimulai pada pukul 10. 00 WIB/ , terutama pada pasien dengan trauma atau PTSD setelah pasien memakan snack siangnya untuk 2 hari (Sogo et al. , 2. Obat ini bekerja dengan menghambat zat pertama dan pada pukul 16. 00 WIB pada 2 hari selanjutnya. kimia asetilkolin di otak. Asetilkolin adalah zat yang bisa Penulis melakukan pre-test pada tanggal 26 Mei 2025 membuat pikiran jadi terlalu aktif atau tidak stabil. Saat menggunakan lembar observasi resiko perilaku kekerasan (SEFT) Volume 11. Nomor 2. April- September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 oleh SLKI sebelum dilakukan Spiritual Emotional Freedom Kesimpulan Technic (SEFT) dan post-test di tanggal 31 Mei 2025 setelah Gangguan jiwa yang dialami ketiga pasien dipicu selesai pemberian intervensi menggunakan alat ukur yang oleh adanya tekanan sosial, mekanisme koping yang tidak Ketiga pasien mampu mengikuti sesi terapi dengan baik sesuai arahan, pemenuhan kebutuhan yang belum terpenuhi secara tuntas. Hasil penerapan intervensi Spiritual Emotional Keadaan ini ini memperparah ketidakmampuan pasien Freedom Technic (SEFT) pada ketiga pasien yang dilakukan dalam mengelola adanya stressor secara adaptif, sehingga selama 4 hari berturut-turut dengan tanda dan gejala risiko klien cenderung untuk melampiaskan emosionalnya melalui perilaku kekerasan, ditemukan adanya penurunan skor total perilaku destruktif dan agresif kepada diri sendiri dan orang yang signifikan pada masing-masing pasien, baik secara Asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien kuantitatif maupun kualitatif terhadap masing-masing yaitu melatih terapi generalis, dan pemberian terapi indikator penilaian. Pada pasien 1 ditemukan total skor modalitas berupa Spiritual Emotional Freedom Technic menurun dari 27 menjadi 17, pasien 2 total skor menurun (SEFT). Spiritual Emotional Freedom Technic (SEFT) dari 18 menjadi 11, pada pasien 3 total skor menurun dari 25 berperan sebagai terapi yang dapat merileksasi dan Penurunan total skor tersebut terjadi pada mengalihkan perhatian pasien dari tindakan resiko perilaku berbagai indikator, termasuk verbalisasi ancaman, umpatan. Tujuan dari penerapan asuhan keperawatan ini perilaku menyerang, merusak lingkungan, amuk, suara tercapai, ditandai dengan penurunan disetiap indikator keras, dan bicara ketus. Semua pasien menunjukkan resiko perilaku kekerasan pada pasien 1 ditemukan total penurunan intensitas tanda dari level "meningkat" atau skor menurun dari 27 menjadi 17, pasien 2 total skor "cukup meningkat" menjadi "sedang", "cukup menurun", menurun dari 18 menjadi 11, pada pasien 3 total skor atau "menurun". Berdasarkan hasil pengukuran skor, menurun dari 25 menjadi 13. ditemukan bahwa pasien 2 mengalami penurunan skor yang lebih rendah dibandingkan pasien 1 dan pasien 3. Peneliti Referensi