Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Penguatan Generasi Cerdas Bermedia Sosial melalui Penguasaan Keterampilan Memirsa Siti Ulfiyani. Rawinda Fitrotul Mualafina. Mukhlis. Raden Yusuf Sidiq Budiawan Universitas PGRI Semarang Artikel Info ABSTRAK Genesis Artikel: Latar Belakang: Adiksi terhadap media sosial memunculkan berbagai dampak salah satunya ketidakwaspadaan pada informasi yang diperoleh. Hal itu disebabkan tidak semua informasi yang dibagikan berasal dari sumber yang kredibel. Tujuan: Untuk itu, kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan tujuan mengedukasi generasi muda di SMK PGRI 03 Salatiga untuk cerdas dalam bermedia sosial melalui penguasaan keterampilan memirsa. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan dengan empat metode mencakup studi kasus, tanya jawab interaktif, latihan terbimbing, dan latihan mandiri. Hasil: Hasil pelaksanaan menunjukan bahwa peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan memirsa dalam aktivitas bermedia sosial. Melalui penguasaan keterampilan memirsa peserta mampu mengenali informasi yang diperoleh melalui media sosial. Hasil lain yang diperoleh ialah peserta lebih bijak dalam merespons informasi. Hal itu tampak pada respons atas postingan, peserta memberikan komentar dengan bahasa yang baik dan santun. Kesimpulan: Simpulan dari kegiatan pengabdian ini adalah Melalui penguasaan keterampilan memirsa peserta mampu mengenali informasi yang diperoleh melalui media sosial. Dikirim, 26 Juni 2024 Diterima, 12 Juli 2024 Diterbitkan, 9 November 2024 Kata Kunci: Generasi Muda Generasi Cerdas Sosial Media Keterampilan Memirsa ABSTRACT Keywords: Young Generation Smart Generation Social Media Viewing Skills Background: Addiction to social media has various impacts, one of which is unawareness of the information obtained. This is because not all information shared comes from credible sources. Objective: For this reason, this service activity was carried out with the aim of educating the younger generation at SMK PGRI 03 Salatiga to be smart in social media through mastering viewing skills. Method: This activity was conducted using four methods, including case studies, interactive Q&A, guided practice, and independent practice. Results: The results of the implementation showed that participants gained knowledge and viewing skills in social media Through the mastery of viewing skills, participants were able to recognize information obtained through social media. In addition, participants are wiser in responding to information. This can be seen in the responses to posts. participants provide comments with good and polite Conclusion: The conclusion of this service activity is that through mastery of viewing skills, participants are able to recognize information obtained through social media. This is an open access article under the CC BY-SA License. Penulis Korespondensi: Raden Yusuf Sidiq Budiawan. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas PGRI Semarang. Email: r. b@upgris. Orchid ID: https://orcid. org/0009-0005-2704-0752 Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. PENDAHULUAN Internet menjadi gaya hidup baru masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan informasi. Hal tersebut dibuktikan dengan laporan We Are Social yang menyebutkan bahwa pada awal tahun 2023 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 213 juta atau setara dengan 77% dari total populasi Indonesia. Melalui internet, aksesibilitas informasi tidak lagi terbatas. Hal itu diperkuat dengan dukungan fasilitasi internet yang memungkinkan pengguna untuk mendapatkan informasi dengan lebih cepat, mudah, dan praktis. Dengan aksesibilitas informasi berbasis internet, pengguna dihadapkan pada muatan informasi yang sangat beragam dengan daya jangkau yang sangat luas (Diavano & Andalas. Ibrahim et al. , 2. Bahkan, pengguna internet dapat dengan mudah memperoleh informasi dengan beragam alternatif karena variasi informasi yang ditawarkan (Rozan & Dewi, 2022. Sobandi. Untuk memenuhi kebutuhan akan informasi, pengguna internet memanfaatkan berbagai platform media sosial, karena sifatnya yang dianggap lebih praktis dibandingkan media massa. Pada tahun 2023, di Indonesia jumlah pengguna aktif media sosial mencapai 167 juta atau setara 60,4% dari total Hal ini menjadi bukti bahwa, media sosial menjadi sarana pilihan sebagian besar pengguna internet untuk mengakses informasi (Siregar, 2. Dampak akses informasi melalui media sosial, langsung bersinggungan dengan kondisi psikologi Media sosial memunculkan fenomena FoMO . ear of missing ou. atau takut tertinggal. Takut tertinggal dalam konteks ini ialah takut tertinggal informasi. Jannah & Rosyiidiani . menyebutkan bahwa gejala FoMO mengarah pada adiksi pada media sosial yang salah satunya disebabkan oleh penggunaan telepon pintar pada masa pandemi yang semakin intens yang memicu keinginan untuk selalu meng-update diri dan mengkoneksikan diri dengan orang lain. Lebih lanjut, disampaikan oleh Taswiyah . FoMO mengarah pada perasaan takut akan AutertinggalAy suatu aktivitas tertentu, termasuk cemas karena dianggap Aukudet/kurang updateAy karena terlambat mengetahui tren atau berita baru. FoMO menjadi salah satu penyebab tingkat stress yang cukup tinggi khususnya pada remaja. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh Nadzirah et al. bahwa remaja secara signifikan memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gejala FoMO. Fenomena lain yang juga menjadi perhatian ialah maraknya informasi hoaks yang bermunculan di media sosial. Hoaks atau berita bohong atau palsu menjadi santapan yang muncul tanpa kendali di media sosial yang dimiliki oleh remaja, seperti Instagram dan X. Sebagaimana yang disampaikan oleh Hamzah & Putri . bahwa generasi muda merupakan target yang dapat terlibat dalam penyebaran berita hoaks. Untuk itu, menjadi penting untuk membentengi remaja dari dampak hoaks dengan cara memberikan mereka kemampuan untuk dapat memilah informasi secara bijaksana di tengah kebutuhan mengikuti tren yang cenderung tinggi. Untuk mengikuti perkembangan tren dan berita terkini, remaja membutuhkan kemampuan untuk memfilterasi informasi yang dibagikan melalui sosial media. Ketidakmampuan memilah informasi akan menyebabkan remaja mendapatkan informasi yang tidak benar dan bohong . yang mengakibatkan persepsi yang keliru atas suatu informasi. Disampaikan Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. oleh Putri . sebagian besar remaja dalam menjaring informasi melalui media sosial hanya dilakukan dengan membaca dari satu sumber saja tanpa analisis lebih lanjut terkait kredibilitas sumber dan validitas informasi yang dibaca. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Kurniadi . bahwa remaja cenderung acuh tak acuh atas validitas informasi, abai mengonfirmasi kebenaran informasi, enggan melacak sumber informasi, dan tidak tahu cara memeriksa kevalidan dari informasi yang dibaca. Kekhawatiran akan terpengaruhnya perilaku remaja akibat interpretasi yang keliru atas informasi yang diperoleh melalui media sosial menjadi pekerjaan rumah yang perlu disikapi secara bijak. Perlu upaya strategis dari berbagai pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini. Salah satu upaya konkret yang dapat dilakukan ialah mengedukasi remaja dalam memfiltrasi informasi dengan cara yang benar. Edukasi yang diberikan berfokus pada penguatan generasi cerdas yang dapat berpikir kritis dalam menyikapi informasi yang dibaca melalui media sosial (Cynthia & Sihotang, 2. Latar belakang tersebutlah yang menjadi alasan utama tim untuk memberikan edukasi kepada peserta didik di SMK PGRI 1 Salatiga. Peserta didik di SMK PGRI 1 Salatiga berada pada rentang usia 15Ai18 tahun dan aktif bermedia sosial. Berdasarkan informasi yang dihimpun, peserta didik di SMK PGRI 1 Salatiga mendapatkan izin untuk membawa telepon pintar dan mempergunakannya dalam proses pembelajaran sesuai instruksi guru. Namun, tidak jarang dalam proses pembelajaran peserta didik mencuri kesempatan untuk membuka berbagai sosial media yang dimiliki. Ini menjadi salah satu bukti, peserta didik memiliki adiksi terhadap media sosial yang merupakan gejala FoMO. Peserta didik merasa perlu mengecek aktivitas, tren, dan informasi yang dibagikan orang lain. Oleh karena itu, kondisi yang telah dipaparkan sebelumnya menjadi kekhawatiran yang juga turut dirasakan oleh guru dan kepala SMK PGRI 1 Salatiga. Sekolah, perlu mengambil peran dalam mengedukasi peserta didik dalam memfilterasi informasi, agar mereka tidak keliru dalam menginterpretasi informasi yang diperoleh yang dapat berpengaruh terhadap perilaku. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan kegiatan ini adalah mengedukasi generasi muda di SMK PGRI 03 Salatiga untuk cerdas dalam bermedia sosial melalui penguasaan keterampilan memirsa. Edukasi yang diberikan oleh tim pengabdi berfokus pada penguatan berpikir kritis peserta didik melalui penguasaan keterampilan memirsa. Keterampilan memirsa dalam kurikulum International Bacalaurate (IB) juga disebut dengan viewing skill yang dimaknai proses aktif memperhatikan dan menginterpretasikan media visual, misalnya televisi, film, foto, video, dan lain-lain. Pada era digital, media visual juga mencakup konten visual yang ditampilkan melalui berbagai platform media sosial (Mulyadi & Wikanengsih, 2. Memirsa menjadi keterampilan berbahasa AulamaAy yang menjadi hal baru dalam kurikulum merdeka yang dimaksudkan untuk menguatkan peserta didik dalam beradaptasi dengan era digital khususnya pada informasi berbasis teks multimodal yang massif dijumpai di media sosial, sehingga mereka lebih cerdas dalam memaknai setiap informasi yang diperoleh melalui media Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. METODE PENGABDIAN Pendekatan yang diimplementasikan dalam kegiatan pengabdian ini ialah pendekatan community Community development secara definitif diartikan berbagai usaha untuk memajukan dan mengembangkan masyarakat dengan pelibatan secara langsung dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek dan objek pembangunan (Arsawan et al. , 2016. Handoko, 2013. Na, 2. Dalam konteks ini, masyarakat yang dimaksud ialah peserta didik di SMK PGRI 3 Salatiga. Selain pendekatan, dalam pelaksanaan pengabdian juga diterapkan sejumlah metode. Metode yang diterapkan merupakan upaya menyelesaikan permasalahan mitra adalah dengan strategi kronologis yang berfokus pada pelatihan. Dalam praktiknya, akan lebih dititikberatkan pada latihan secara terbimbing langsung dan pemberian umpan balik. Dengan fokus pada Aulearning by doingAy ini diharapkan peserta didik menemukan kebermaknaan dari latihan yang dilaksanakan (Surahman & Fauziati, 2. Strategi ini dipilih dengan pertimbangan sasaran kegiatan merupakan remaja yang senang belajar dengan pelibatan langsung. Dalam kegiatan ini akan diterapkan empat metode pelaksanaan pada gambar 1: Gambar 1. Metode PKM Diskusi Berbasis Kasus Diskusi yang akan dilaksanakan berfokus pada pengenalan awal konteks permasalahan kepada peserta didik. Tim akan mengajak peserta didik membincangkan kasus terkait informasi yang tidak valid dan dampaknya. Peserta dapat menyampaikan pendapat sesuai perspektif yang dimiliki. Tanya Jawab Interaktif . emberian materi yang releva. Langkah selanjutnya, kegiatan dilaksanakan dengan metode tanya jawab interaktif. Materi yang disampaikan dikolaborasikan dengan pengalaman peserta dalam mempergunakan media sosial sebagai sumber informasi yang dilakukan secara interaktif. Dalam tahap ini, tim akan memberikan materi, yaitu . media sosial dan karakteristiknya, . keterampilan memirsa dan implementasinya, . fenomena media sosial dan karakteristiknya, dan . kredibilitas dan validitas sumber informasi Latihan Terbimbing Setelah bertanya jawab tentang berbagai materi yang relevan, kegiatan dilanjutkan dengan latihan Latihan dimaksudkan untuk menguatkan materi yang telah diberikan. Pada bagian ini, peserta akan diajak untuk berlatih menguji kredibilitas sumber dan validitasi informasi yang telah dipersiapkan oleh tim. Perwakilan peserta kemudian akan disilakan menyampaikan hasil latihan sebagai dasar umpan balik yang akan diberikan. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Latihan Mandiri Langkah akhir, dilaksanakan dengan metode latihan mandiri tanpa pendampingan dari tim. diberikan beberapa informasi yang bersumber dari media sosial untuk diuji baik kredibilitas maupun Tim akan memberikan umpan balik untuk memberikan penguatan atas latihan yang HASIL DAN ANALISIS Kegiatan pengabdian yang telah dilaksanakan berfokus pada upaya untuk memberikan pengetahuan berkaitan dengan media sosial dan penumbuhan sikap cerdas bermedia sosial melalui penguasan keterampilan memirsa. Kegiatan dilaksanakan dalam beberapa tahapan dengan hasil sebagai Praacara: Diskusi Berbasis Kasus Media sosial telah menjadi fenomena global yang memiliki sisi positif dan negatif bagi Beberapa di antara sisi negatif ialah maraknya berita hoaks dan aksi cyber bully yang dilakukan oleh pengguna media sosial. Sisi negatif tersebut, juga menjadi permasalahan prioritas yang menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak termasuk pelaku pendidikan di sekolah. Hal itu disebabkan, peserta didik khususnya di jenjang SMA/SMK/MA sederajat merupakan pengguna media sosial aktif. Dengan mendasarkan pada latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian dilaksanakan diawali dengan sesi diskusi berbasis studi kasus. Kasus yang diberikan ialah kasus cyberbullying yang dialami public figure pada Gambar 2. Gambar 2 berikut menunjukkan kasus nyata cyberbullying yang terjadi di media sosial. Gambar 2. Studi Kasus Peserta didik memberikan sejumlah respons atas kasus yang disampaikan. Berikut respons yang telah diberikan oleh peserta: Terdapat peserta yang menyayangkan postingan tersebut dan berkomentar bahwa operasi plastik merupakan hal tabu di Indonesia sehingga tidak perlu disebarluaskan Terdapat peserta didik yang berujar postingan tersebut merupakan aksi flexing atau bentuk pamer prestasi atau gaya hidup Terdapat peserta didik yang lebih memperhatikan komentar netizen dan beranggapan bahwa komentar netizen pada postingan tersebut terlalu jahat. Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Terdapat peserta didik yang merasa postingan tersebut tidak penting untuk dikomentari. Berdasarkan respon yang telah diberikan diperoleh sejumlah informasi. Pertama, sebagian besar peserta didik belum menerapkan keterampilan memirsa dalam menyikapi sebuah postingan di sosial Hal itu, dapat dilihat dari respons yang diberikan belum sepenuhnya memberikan detail informasi yang juga ditampilkan pada takarir postingan dan hanya berfokus pada video pendek yang Pada takarir, pemilik postingan menyampaikan bahwa dia mempergunakan filter dan itu hanyalah bentuk candaan belaka. Kedua, peserta belum mengetahui keterampilan memirsa dalam bermedia sosial yang berdampak terhadap penerimaan informasi secara apa adanya tanpa kroscek terlebih dahulu. Informasi yang dihimpun melalui sesi ini menjadi dasar penyajian materi pada kegiatan Gambar 3. Diskusi Berbasis Kasus Proses diskusi sebagaimana pada Gambar 3 di atas berjalan dengan cukup baik dan diikuti peserta dengan aktif dan patisipatif. Pemberian Materi Kegiatan pengabdian selanjutnya dilaksanakan dengan metode tanya jawab untuk memberikan sejumlah pengetahuan yang bermanfaat bagi peserta oleh tim pengabdian. Materi yang disajikan dibagi menjadi dua tahap. Pada tahap yang pertama, materi yang disajikan difokuskan pada pemahaman tentang media sosial. Materi yang disajikan pada tahap pertama di antaranya, . sifat konten media sosial, . karakteristik konten media sosial, . fenomena sosial di media sosial, . hoaks dan contohnya . budaya troll, dan . FoMO. Adapun pada tahap kedua, materi yang disampaikan bertujuan untuk memperkuat penguasan keterampilan memirsa Materi pada tahap kedua. Materi yang disampaikan yaitu . konsep memirsa, . Kredibilitas dan validitas sumber informasi melalui 4 tahap memirsa, dan . manfaat keterampilan memirsa dalam aktivitas bermedia sosial. Kegiatan pemberian materi dilaksanakan dengan tanya jawab interaktif. Dengan demikian, peserta dapat secara leluasa menyampaikan miskonsepsi dan permasalahan yang dijumpai serta bertanya secara terbuka yang berkaitan dengan pengetahuan yang sedang dibagikan. Melalui pemberian materi Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. diharapkan sikap cerdas bermedia sosial melalui penguasaan keterampilan memirsa dapat dicapai secara optimal. 3 Latihan Terbimbing Mengkaji kasus dan menerima pengetahuan merupakan awal dari tahap pelaksanaan pengabdian. mengenali, mengidentifikasi, dan menyimpulkan berbagai postingan termasuk berita hoaks atau bukan. Latihan tersebut bertujuan untuk memberikan peserta trik sederhana dalam menyikapi berbagai informasi yang muncul di media sosial. Mereka dapat secara langsung berlatih mengidentifikasi informasi dengan keterampilan memirsa yang telah diberikan pada tahap selanjutnya untuk kemudian mengetahui sebuah berita/informasi termasuk hoaks atau bukan. Selain itu, peserta juga diajak melihat komentar netizen di sosial media untuk menilai AuApakah komentar yang disampaikan sudah sesuai konteks konten postingan atau cenderung memicu kesalahpahaman yang berujung perpecahan, kebencian, dan hal destruktif lainnya?Ay. Postingan yang dijadikan bahan latihan merupakan postingan yang viral dan marak dibicarakan. Dengan demikian, peserta mengenali informasi yang disajikan. Pemilihan kasus viral juga dilatarbelakangi keinginan tim agar peserta merefleksikan pendapat pribadi yang selama ini mereka miliki, sudah tepat atau belum. Kasus yang dimaksud ialah: Reaksi Dewi Sandra usai netizen lemparkan komentar jahat karena namanya mirip dengan Sandra Dewi yang terlibat kasus korupsi 271 T. Cherliy eks Cherrybelle yang viral diduga melakukan prosedur operasi plastic saat memposting reel dengan filter khusus untuk meniruskan wajah Palestina merdeka yang dibagikan melalui grup Whatsapp di tengah serangan Israel yang belum Anak durhaka berubah menjadi ikan yang viral di Facebook dan grup Whatsapp Peserta antusias selama latihan terbimbing peserta menyimak dengan baik, tertib, dan memberikan feedback atau umpan balik yang aktif atas kasus-kasus yang didiskusikan . 4 Latihan Mandiri Untuk mengetahui dampak jangka pendek atas berbagai tahapan yang dilaksanakan, tim pengabdi memberikan latihan mandiri untuk peserta sebagaimana ditunjukkan Gambar 4 di bawah ini. Gambar 4. Peserta Mengerjakan Latihan Mandiri Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. Pada Gambar 4 tersebut, peserta secara berpasangan mengerjakan tugas untuk melihat respons termasuk komentar yang mungkin bisa mereka berikan atas sebuah postingan. Berdasarkan hasil pengerjaan tugas yang telah dilakukan, diperoleh respons yang berbeda untuk dua pertanyaan yang Secara terperinci berikut hasil pekerjaan peserta. Untuk pertanyaan pertama terkait respons yang akan diberikan atas postingan tersebut, ditemukan sejumlah hasil. Pertama, pola yang digunakan peserta dalam mengidentifikasi postingan sudah tepat. Peserta mencermati postingan dalam bentuk foto dan membaca caption atau penjelasan atas postingan untuk memahami konteks postingan yang Kedua, meski identifikasi sudah dilakukan dengan tepat, respons yang disampaikan berbeda. Respon yang diberikan yaitu: . tidak perlu memberikan respons, karena tidak semua postingan perlu dikomentari, beberapa hanya perlu lewat saja, . bijak membagikan informasi di media sosial, tidak perlu memposting hal yang memancing komentar jahat netizen, . memberikan komentar positif setelah menganalisis gambar dan caption, agar pembagi postingan termotivasi untuk tetap percaya diri, dan . setelah mengidentifikasi secara detail, tidak memberikan komentar cukup mengambil nilai positif dari Dari empat bentuk respons, hampir 40% peserta memilih untuk bersikap bijak dengan tidak memberikan komentar dan lebih memilih mana postingan yang perlu mendapatkan perhatian dan mana yang hanya perlu dilewati begitu saja. Pemilihan sikap bijak ini, dilandasi alasan, takut salah memberikan komentar karena hal yang dibagikan cenderung sensitif. Untuk pertanyaan kedua berkenaan dengan komentar yang Mungkin diberikan diperoleh hasil yang bervariasi. Akan tetapi, tidak semua peserta memberikan komentar. Sebesar 53% peserta konsisten untuk tidak memberikan komentar atas postingan tersebut. Alasan yang diberikan salah satunya ialah postingan dianggap hal yang tidak perlu dikomentari. Sementara itu, sebesar 47% peserta memberikan komentar atas postingan yang diberikan. AuUdah Kak Jangan dengerin omongan orang, kita manusia biasa Nggak bisa ngatur orang lain mau lihat atau menilai kita kayak gimana, itu hak mereka dan kita juga berhak buat Nggak dengerinnyaAy AuTetap semangat mbak, semua orang pasti pernah jerawatan, dan tuhan menguji mbak. Bahwa mbaknya pasti kuat karena tuhan tahu mbak pantang menyerahAy Merekomendasikan skinker yang sudah BPOM dan aman digunakan AuLekas sembuh. Kak. Ay AuTerima kasih telah mengingatkan. Ay AuTetap percaya diri. Kakak,Ay AuSemoga lekas sembuh. Kak. Ay Hasil baik yang diperoleh melalui kegiatan ini ialah, semua komentar yang disampaikan peserta cenderung positif dan sesuai dengan konteks postingan yang dikomentari. Bahasa yang digunakan Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. peserta pun termasuk positif. Hal ini menjadi dasar penyimpulan bahwa kegiatan pengabdian yang telah diberikan efektif karena tujuan yang telah dirumuskan tercapai dengan baik. 5 Evaluasi Kegiatan pengabdian ini berhasil menggambarkan efektivitas dalam meningkatkan pemahaman dan penguasaan keterampilan memirsa di kalangan peserta. Melalui diskusi berbasis kasus, pemberian materi, dan latihan terbimbing, peserta dapat mengenali dan menilai informasi secara lebih kritis di media sosial. Hasil dari latihan mandiri menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mampu mengidentifikasi konten yang layak untuk dikomentari dengan bijak, menunjukkan respons yang positif dan sesuai dengan konteks, serta menghindari komentar yang dapat memicu konflik atau kebencian. Hal ini mengindikasikan bahwa pengabdian ini berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan sikap cerdas bermedia sosial melalui penguasaan keterampilan memirsa. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam membentuk generasi yang lebih bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial dan menghadapi tantangan di era digital ini. KESIMPULAN Keterampilan memirsa menjadi solusi bagi berbagai permasalahan yang kerap dijumpai atas maraknya penggunaan media sosial. Permasalahan yang kerap dihadapi ialah hoaks dan budaya troll. Untuk itu, perlu strategi untuk meng-counter permasalahan tersebut dan menumbuhkan sikap Aubijak bersosial mediaAy. Keterampilan memirsa akan membantu peserta untuk mampu mengenali setiap informasi yang diperoleh. Itulah yang melatarbelakangi kegiatan pengabdian ini dilaksanakan. Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan berbagai metode dan tahapan yang secara kronologis tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga praktik langsung untuk mengenali, mengidentifikasi, dan pada akhirnya menyimpulkan sebuah postingan hoaks atau tidak. Juga, melalui kegiatan ini, peserta diajak bersikap cerdas dalam merespons setiap informasi atau postingan yang muncul di berbagai platform media sosial yang mereka miliki. Untuk mengembangkan lebih lanjut Program Pengabdian Masyarakat (PKM) ini, penting untuk mempertimbangkan pendekatan yang lebih luas dan terintegrasi dalam meningkatkan keterampilan memirsa di kalangan generasi muda. Selain memperkuat materi yang disampaikan sebelumnya, langkah selanjutnya dapat mencakup pengembangan platform online interaktif yang menyediakan konten edukatif secara terstruktur. Platform ini tidak hanya akan menyajikan informasi tentang penggunaan media sosial yang bertanggung jawab, tetapi juga akan memberikan simulasi kasus nyata untuk latihan Selain itu, kolaborasi dengan institusi pendidikan dan komunitas lokal dapat diperluas untuk mengadakan workshop rutin dan seminar mengenai keterampilan memirsa. Hal ini akan memperluas jangkauan program, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mempromosikan penggunaan media sosial yang aman dan produktif. Dengan terus mengembangkan strategi yang Archive: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Archive. Vol. No. Desember 2024, pp. ISSN: 2809-7076 (Onlin. ISSN: 2809-7246 (Prin. DOI: https://doi. org/10. 55506/arch. inovatif dan adaptif. PKM ini dapat menjadi model yang efektif dalam mempersiapkan generasi masa depan yang cerdas dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial. REFERENSI