Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. PERAN PSIKOLOGI DALAM MEMAHAMI DAN MEMFASILITASI MINDSET GOTONG ROYONG DI DESA SEMBAHE KABUPATEN DELI SERDANG Tengku Nuranasmita1. Anna Wati Dewi Purba2*, & Sutrisno3 Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Medan Area. Jalan H. Agus Salim Siregar. Deli Serdang. Sumatera Utara 20223. Indonesia Program Studi Teknik Industri. Fakultas Teknik. Universitas Medan Area. Jalan H. Agus Salim Siregar. Deli Serdang. Sumatera Utara 20223. Indonesia *Email: annawati@staff. Submit: 23-07-2025. Revised: 29-07-2025. Accepted: 30-07-2025. Published: 31-07-2025 ABSTRAK: Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat gotong royong di antara masyarakat Desa Sembahe. Deli Serdang, melalui pendekatan psikoedukasional yang berakar pada psikologi sosial. Kegiatan ini mengadopsi metode Penelitian Aksi Partisipatif (Participatory Action Researc. , yang menekankan kolaborasi antara pelaksana program dan masyarakat dalam mengidentifikasi permasalahan serta merancang solusi. Intervensi dilakukan melalui sesi kuliah interaktif yang mengeksplorasi perilaku prososial, norma sosial, dan teori identitas kelompok dengan melibatkan 20 peserta, termasuk penduduk setempat dan pejabat desa, yang secara aktif terlibat dalam diskusi, berbagi pengalaman, dan merefleksikan praktik gotong royong yang menurun. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran kolektif terhadap pentingnya gotong royong, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial dan solidaritas komunitas. Program ini berhasil mendorong perubahan perilaku dengan membangkitkan keterlibatan emosional dan kognitif terhadap nilai-nilai bersama. Komitmen para pemimpin desa untuk menghidupkan kembali kegiatan komunal mencerminkan dampak positif dari intervensi ini. Hasil ini menunjukkan bahwa pendidikan psikologi dapat menjadi alat strategis untuk memperkuat nilai kolektif dan membangun ketahanan sosial di tengah masyarakat pedesaan yang sedang mengalami perubahan akibat modernisasi. Kata Kunci: Gotong Royong. Identitas Sosial. Psikoedukasi. Psikologi Sosial. ABSTRACT: This community service program aims to revitalize the spirit of mutual cooperation . otong royon. among the people of Sembahe Village. Deli Serdang, through a psychoeducational approach rooted in social psychology. The activity adopted a Participatory Action Research (PAR) method, emphasizing collaboration between program implementers and the community in identifying problems and designing solutions. The intervention was conducted through interactive lecture sessions exploring prosocial behavior, social norms, and group identity Twenty participants, including local residents and village officials, actively engaged in discussions, shared experiences, and reflected on the declining practice of gotong royong. The results of the activity demonstrated an increased collective awareness of the importance of gotong royong, not only as a cultural heritage but also as part of social identity and community solidarity. The program successfully catalyzed behavioral change by fostering emotional and cognitive engagement with shared values. The commitment of village leaders to revitalizing communal activities reflects the positive impact of this intervention. These results demonstrate that psychology education can be a strategic tool for strengthening collective values and building social resilience in rural communities undergoing changes due to modernization. Keywords: Mutual Cooperation. Social Identity. Psychoeducation. Social Psychology. How to Cite: Nuranasmita. Purba. , & Sutrisno. Peran Psikologi dalam Memahami dan Memfasilitasi Mindset Gotong Royong di Desa Sembahe Kabupaten Deli Serdang. Nuras Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5. , https://doi. org/10. 36312/nuras. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat is Licensed Under a CC BY-SA Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman tinggi, terutama dalam aspek budaya. Sebagai bangsa yang besar dan kaya akan keragaman. Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang masing-masing memiliki ciri khas kedaerahannya. Dalam situasi yang demikian, sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk memiliki kesamaan pandangan dalam kehidupan berbangsa, serta membangun karakter nasional yang mencerminkan identitas bangsa di mata dunia. Karakter kebangsaan menjadi kunci utama dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik serta kehidupan masyarakat yang adil dan sejahtera (Anastasia, 2. Dengan mengembangkan karakter kebangsaan, diharapkan setiap individu dalam masyarakat semakin sadar akan perannya sebagai makhluk sosial yang hidup bersama dalam tatanan masyarakat. Salah satu wujud nyata dari karakter kebangsaan tersebut adalah semangat kerja sama yang merupakan salah satu karakter kebangsaan yang berangkat dari desa dan masyarakat dalam melakukan kegiatan gotong royong guna untuk menjadikan pengembangan yang lebih baik untuk desa tersebut (Ramdhan et al. Gotong royong mengandung nilai luhur yang harus dijaga, karena mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dalam praktiknya, gotong royong menekankan kerja bersama tanpa memandang status, melainkan mengutamakan semangat kebersamaan untuk mencapai tujuan bersama (Budiono et al. , 2. Gotong royong yang merupakan nilai luhur bangsa Indonesia yang mencerminkan semangat kebersamaan, kerja sama, dan kepedulian sosial. Dalam konteks masyarakat pedesaan, gotong royong berfungsi sebagai modal sosial untuk membangun solidaritas dan menyelesaikan berbagai permasalahan secara kolektif (Fusnika et al. , 2. Namun, pengaruh globalisasi, urbanisasi, dan transformasi digital telah menyebabkan nilai ini mengalami degradasi, terutama pada generasi muda yang cenderung lebih individualistik. Terdapat berbagai elemen dalam gotong-royong, seperti: kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Kolaborasi adalah kemampuan untuk bekerja bersama dengan orang lain disertai perasaan senang ketika berada bersama dengan orang lain dan menunjukkan sikap positif terhadap orang lain. Kepedulian menunjukkan bahwa individu tanggap terhadap kondisi yang ada di lingkungan maupun masyarakat untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Berbagi yaitu kemampuan memberi dan menerima segala hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan bersama, serta mau dan mampu menjalani kehidupan bersama yang mengedepankan penggunaan bersama sumber daya dan ruang yang ada di masyarakat secara sehat. Psikologi sosial memberikan kerangka kerja untuk memahami perilaku prososial, empati, dan pembentukan norma sosial (Regyna, 2. Dengan memanfaatkan pendekatan psikoedukatif, intervensi ini diarahkan untuk meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya gotong royong dalam kehidupan sehari-hari dan pembangunan desa. Psikologi sosial sebagai Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. cabang ilmu psikologi berfokus pada bagaimana pikiran, perasaan, dan perilaku individu dipengaruhi oleh kehadiran orang lain, baik secara nyata maupun imajinatif (Ju, 2. Dalam konteks masyarakat, terutama di desa seperti Sambahe, psikologi sosial memainkan peran penting dalam memahami bagaimana norma, nilai, dan interaksi sosial terbentuk dan memengaruhi perilaku kolektif. Salah satu konsep kunci dalam psikologi sosial adalah konformitas terhadap norma sosial, yaitu kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri dengan standar perilaku yang berlaku di kelompoknya. Ketika norma gotong royong dipahami dan dihargai bersama, individu akan cenderung lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam kegiatan kolektif demi menjaga keharmonisan sosial. Lebih jauh, teori identitas sosial dalam psikologi sosial menjelaskan bahwa individu akan merasa lebih termotivasi untuk berkontribusi ketika mereka merasa menjadi bagian dari kelompok sosial yang kuat dan positif (Leries & Neviyarni, 2. Dalam hal ini, gotong royong bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga simbol dari identitas kolektif yang memberikan makna sosial dan rasa Ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari kelompok yang peduli dan saling mendukung, partisipasi dalam kegiatan bersama pun meningkat. Psikoedukasi yang disampaikan dalam kegiatan PkM ini berupaya memperkuat identitas kelompok tersebut melalui penekanan pada nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan saling menghargai. Selain itu, konsep saling ketergantungan . yang dibahas dalam teori pertukaran sosial . ocial exchange theor. menunjukkan bahwa hubungan sosial yang saling menguntungkan akan memperkuat komitmen terhadap kerja sama (Tomasello & Vaish, 2. Dalam praktik gotong royong, ketika masyarakat merasakan manfaat langsung dan tidak langsung dari kontribusi mereka, baik dalam bentuk apresiasi sosial, bantuan timbal balik, maupun kepuasan emosional, maka perilaku prososial akan cenderung dipertahankan dan ditularkan (Marhayati, 2. Oleh karena itu, melalui pendekatan psikologi sosial, penguatan gotong royong dapat diarahkan tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada dinamika sosial dan emosional yang mendasari keterlibatan Desa Sembahe di Kecamatan Sibolangit. Kabupaten Deli Serdang, adalah contoh wilayah yang mengalami pergeseran nilai sosial tersebut. Meskipun desa ini memiliki potensi pariwisata dan ikatan kultural yang kuat, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kolektif menunjukkan penurunan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai gotong royong masyarakat di Desa Sembahe melalui pendekatan psikologi sosial berbasis psikoedukatif. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang memadukan partisipasi aktif warga dengan proses refleksi dan aksi. PAR dipilih karena memungkinkan terjadinya kolaborasi antara pelaksana program dan masyarakat dalam merumuskan permasalahan sosial serta solusi yang relevan (Rahmat & Mirnawati. Dalam konteks kegiatan ini, warga Desa Sembahe tidak hanya berperan Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. sebagai peserta pasif, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam proses identifikasi kendala menurunnya praktik gotong royong, sekaligus menjadi subjek utama dalam membentuk perubahan sosial di lingkungan mereka. Kegiatan diikuti oleh 20 peserta yang dipilih secara purposive berdasarkan keberagaman usia, guna memperoleh perspektif yang lebih luas terkait dinamika nilai kebersamaan di berbagai generasi. Tahap awal kegiatan diawali dengan observasi lingkungan dan wawancara informal untuk menggali persepsi masyarakat terhadap nilai gotong royong, serta faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya partisipasi kolektif. Materi psikoedukasi disampaikan melalui presentasi PowerPoint secara interaktif, untuk memfasilitasi pemahaman peserta terhadap konsep-konsep psikologi sosial, seperti: perilaku prososial, norma sosial, dan identitas kelompok. Intervensi utama dilakukan melalui metode ceramah interaktif, yaitu sesi penyuluhan psikologis yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam dan dipandu oleh dosen dari Fakultas Psikologi. Universitas Medan Area. Ceramah disampaikan dengan materi berbasis teori psikologi sosial, terutama yang berkaitan dengan perilaku prososial, norma sosial, dan pembentukan identitas Untuk meningkatkan efektivitas pemahaman, penyampaian materi didukung dengan studi kasus lokal, ilustrasi visual, dan penggunaan bahasa yang komunikatif agar mudah dicerna oleh peserta yang berasal dari latar belakang pendidikan dan usia yang beragam. Peserta diberikan ruang untuk bertanya, menanggapi, dan berbagi pengalaman pribadi tentang praktik gotong royong di masa lalu, sehingga suasana menjadi partisipatif dan reflektif. Gambar 1. Materi PowerPoint Ceramah. Evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif kualitatif, dengan menilai keterlibatan peserta, kualitas interaksi selama ceramah, serta rencana tindak lanjut yang muncul dari diskusi. Observasi lapangan menunjukkan bahwa warga mulai menyadari pentingnya nilai gotong royong sebagai bagian dari identitas sosial Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. Keterlibatan peserta dinilai berdasarkan intensitas partisipasi dalam diskusi, respons terhadap pertanyaan, dan keikutsertaan dalam rencana tindak lanjut yang dicatat melalui lembar observasi partisipatif. Komitmen perangkat desa untuk menghidupkan kembali kerja bakti dan forum musyawarah kampung juga menjadi indikator positif keberhasilan kegiatan. Dengan menggunakan model ceramah yang dikombinasikan dengan pendekatan PAR, kegiatan ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong transformasi nilai dan perilaku sosial secara kolektif dalam komunitas yang dilayani. HASIL DAN DISKUSI Kegiatan psikoedukatif yang dilaksanakan melalui model ceramah interaktif mendapatkan respons positif dari peserta yang terdiri atas warga dan perangkat Desa Sembahe. Sebanyak 20 peserta hadir secara aktif dan menunjukkan antusiasme yang tinggi selama sesi berlangsung. Mereka secara terbuka menyampaikan pandangan, pengalaman, serta kekhawatiran mereka mengenai menurunnya semangat gotong royong di lingkungan mereka. Selama sesi berlangsung, peserta tidak hanya mendengarkan materi yang disampaikan oleh narasumber, tetapi juga terlibat dalam dialog terbuka yang memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan dan penguatan nilai-nilai kolektif. Hal ini menunjukkan bahwa metode ceramah yang dipadukan dengan diskusi mampu menjadi sarana efektif untuk membangun kesadaran sosial masyarakat. Melalui penyampaian materi berbasis teori psikologi sosial yang mencakup norma sosial, pengaruh sosial, perilaku prososial, serta prinsip pertukaran sosial, peserta memperoleh sudut pandang baru dalam memaknai gotong royong. Konsep interdependensi atau saling ketergantungan menjadi titik penting yang disampaikan dalam kegiatan ini, di mana gotong royong dipahami sebagai bentuk investasi sosial jangka panjang. Ketika individu merasa bahwa kontribusinya membawa manfaat nyata, baik berupa penghargaan sosial, bantuan timbal balik, maupun rasa puas secara emosional, maka mereka akan lebih termotivasi untuk terus berpartisipasi. Lebih lanjut, komitmen dari tokoh masyarakat dan perangkat desa untuk menginisiasi kembali kegiatan kerja bakti secara rutin merupakan indikator kuat bahwa kegiatan ini berhasil membangkitkan semangat kolektif yang sempat Komitmen tersebut tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses internalisasi nilai yang terjadi selama sesi psikoedukasi. Peserta mendapatkan pemahaman baru bahwa kerja sama sosial bukan sekadar bentuk kewajiban, tetapi merupakan wujud aktualisasi nilai kemanusiaan dan solidaritas. Dalam diskusi yang berlangsung, juga teridentifikasi sejumlah hambatan internal maupun eksternal yang menjadi penyebab menurunnya praktik gotong royong, seperti: meningkatnya beban kerja individu, pengaruh media sosial yang mendorong gaya hidup individualistik, serta tidak adanya figur pemersatu dalam Pengakuan terhadap hambatan ini menunjukkan adanya refleksi kritis dari peserta, yang merupakan langkah awal menuju perubahan sosial yang Salah satu temuan penting dari kegiatan ini adalah adanya kesadaran baru di kalangan peserta bahwa semangat gotong royong bukan sekadar kebiasaan Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. lama, melainkan merupakan bagian dari identitas sosial yang selama ini tidak Dalam perspektif psikologi sosial, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep social identity theory, yang menyatakan bahwa individu akan lebih terdorong untuk berperilaku prososial jika mereka merasa menjadi bagian dari kelompok yang memiliki nilai dan tujuan bersama (Lee & Chung, 2. Melalui pemahaman ini, warga mulai menyadari bahwa keterlibatan mereka dalam kegiatan sosial bukan hanya berdampak pada lingkungan fisik, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan keterikatan sosial. Komitmen dari tokoh masyarakat dan perangkat desa untuk menginisiasi kembali kegiatan kerja bakti secara rutin merupakan indikator awal keberhasilan kegiatan ini dalam menggerakkan aksi kolektif. Gambar 2. Daftar Hadir Peserta. Diskusi selama kegiatan juga memperlihatkan adanya hambatan internal maupun eksternal yang menyebabkan menurunnya praktik gotong royong, seperti: meningkatnya beban kerja individu, pergeseran nilai akibat modernisasi, dan kurangnya tokoh pemersatu. Namun, melalui penyampaian materi psikologi sosial yang menjelaskan pentingnya norma sosial, pengaruh sosial, serta prinsip pertukaran sosial (Efendi & Safnowandi, 2016. Grossmann, 2. , peserta memperoleh wawasan baru tentang bagaimana gotong royong dapat direvitalisasi melalui perubahan pola pikir. Peserta juga diajak untuk memaknai kembali gotong royong sebagai bentuk investasi sosial yang berdampak pada keharmonisan dan kesejahteraan bersama. Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini adalah terwujudnya perubahan pola pikir masyarakat mengenai pentingnya kerja sama sosial sebagai bagian dari identitas bersama. Diharapkan setelah kegiatan ini, masyarakat tidak hanya memahami makna gotong royong secara kognitif, tetapi juga memiliki komitmen afektif dan perilaku yang konsisten untuk menjaga serta mengembangkan praktik Dalam jangka panjang, hasil yang ditargetkan adalah terbentuknya komunitas yang memiliki solidaritas tinggi, partisipatif dalam pembangunan desa, serta mampu menciptakan ekosistem sosial yang saling mendukung. Jika dilakukan secara berkelanjutan, kegiatan semacam ini dapat memperkuat daya tahan sosial masyarakat desa dalam menghadapi perubahan sosial, ekonomi, maupun budaya yang semakin kompleks. Hasil yang diharapkan juga mencakup terciptanya struktur sosial yang lebih adaptif, di mana masyarakat memiliki kesadaran kolektif untuk mengorganisasi diri dalam menyelesaikan masalah lingkungan secara mandiri. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model edukasi sosial yang replikatif, sehingga pendekatan serupa dapat diterapkan di desa-desa lain yang mengalami pergeseran nilai akibat tekanan modernisasi. Dengan peningkatan literasi sosial dan psikologis melalui kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat mampu menjadi agen perubahan yang berkelanjutan bagi komunitasnya sendiri. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menghasilkan pemahaman konseptual, tetapi juga membangkitkan kesadaran kolektif untuk membangun kembali budaya gotong royong sebagai modal sosial utama dalam kehidupan Gambar 3. Dokumentasi Pemateri dan Peserta. SIMPULAN Kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa pendekatan psikologi sosial melalui psikoedukasi partisipatif merupakan strategi yang efektif dalam menghidupkan kembali nilai-nilai gotong royong di tengah masyarakat desa yang Uniform Resource Locator: https://e-journal. com/index. php/nuras Nuras : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat E-ISSN 2808-2559. P-ISSN 2808-3628 Volume 5. Issue 3. July 2025. Page, 196-204 Email: nurasjournal@gmail. mengalami pergeseran sosial dan budaya. Melalui metode ceramah interaktif berbasis teori psikologi sosial dan partisipasi aktif warga, peserta menyadari bahwa gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan bagian penting dari identitas sosial dan kekuatan kolektif masyarakat. Dampak positif tercermin dari antusiasme peserta dalam diskusi, meningkatnya kesadaran akan nilai kebersamaan, serta komitmen perangkat desa untuk mengaktifkan kembali kerja bakti secara rutin. Transformasi yang terjadi mencakup perubahan pola pikir, penguatan solidaritas sosial, dan partisipasi aktif dalam pembangunan desa. Secara evaluatif, kegiatan ini berhasil membangun ruang dialog dan refleksi yang bermakna bagi warga, memperlihatkan bahwa psikoedukasi tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga mendorong tindakan nyata. Refleksi dari kegiatan ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis nilai dan partisipasi dalam membangun kembali praktik sosial yang mulai tergerus oleh modernisasi. Ke-depan, kegiatan serupa dapat diperluas skalanya dan diintegrasikan ke dalam program pembangunan masyarakat untuk memperkuat kohesi sosial secara SARAN Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini, disarankan agar pendekatan psikoedukatif yang telah dilakukan dapat dikembangkan secara berkelanjutan melalui kegiatan lanjutan yang lebih sistematis dan melibatkan lebih banyak elemen masyarakat. Pelibatan generasi muda, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan setempat menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan nilai-nilai gotong royong yang telah mulai dihidupkan kembali. Dengan menjadikan kegiatan ini sebagai awal dari serangkaian program edukatif dan kolaboratif, diharapkan masyarakat dapat terus mempertahankan semangat kolektif dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang ada, terutama di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup yang semakin individualistik. Selain itu, penting untuk melakukan pendampingan dan monitoring secara periodik terhadap pelaksanaan kegiatan gotong royong di Desa Sembahe. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa perubahan pola pikir dan perilaku prososial yang telah dibangun melalui kegiatan ini tidak hanya berhenti pada tingkat pemahaman, tetapi benar-benar terimplementasi dalam tindakan nyata yang Adanya fasilitator lokal atau kader desa yang dilatih dalam pendekatan psikologi sosial juga dapat menjadi motor penggerak dalam menjaga semangat kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini dengan baik dan lancar. REFERENSI