Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Pengaruh Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Siswa Kelas X SMAN 4 Blitar Iven Ferina Kalimata Universitas Islam Balitar. Blitar. Indonesia Email: ivenferina41@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh strategi pembelajaran berdiferensiasi terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa kelas X SMAN 4 Blitar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Sampel penelitian terdiri dari 72 siswa kelas X, dibagi menjadi kelas eksperimen (XA) yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan kelas kontrol (XB) dengan pembelajaran konvensional. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas, dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang signifikan pada kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Rata-rata nilai post-test kelas eksperimen adalah 85,00, lebih tinggi dari kelas kontrol yang mencapai 81,94. Uji normalitas menunjukkan bahwa data pre-test dan post-test kedua kelas berdistribusi normal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berdiferensiasi berpengaruh positif terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa kelas X SMAN 4 Blitar. Kata Kunci: Pembelajaran Berdiferensiasi. Hasil Belajar. Pendidikan Pancasila PENDAHULUAN Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kesadaran berbangsa, dan bernegara bagi generasi muda Indonesia. Nilai-nilai luhur Pancasila menjadi fondasi utama dalam menciptakan warga negara yang bertanggung jawab, berintegritas, dan berkontribusi positif terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah bertujuan untuk menanamkan dan membentuk pemahaman serta penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan seharihari siswa (Sharindradini et al. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran Pendidikan Pancasila di tingkat SMA masih menghadapi berbagai tantangan. Berdasarkan penelitian NurafAoidah et al. , . , salah satu kendala utama adalah persepsi siswa terhadap materi Pendidikan Pancasila sebagai sesuatu yang abstrak dan kurang menarik, yang berdampak pada rendahnya motivasi dan hasil Kendala ini menjadi semakin kompleks ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa setiap siswa memiliki latar belakang, kemampuan, minat, dan gaya belajar yang berbeda. Hasil observasi yang dilakukan di SMA Negeri 4 Kota BlitarAisebuah sekolah negeri yang telah mengimplementasikan Kurikulum MerdekaAimengungkap bahwa proses pembelajaran masih didominasi oleh pendekatan konvensional seperti ceramah, tanya jawab, hafalan, dan pemberian tugas. Guru Pendidikan Pancasila. Bapak Saiful, menyampaikan bahwa meskipun terdapat keberagaman dalam kemampuan dan gaya belajar siswa, belum terdapat strategi pembelajaran yang mampu mengakomodasi kebutuhan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 individual siswa secara optimal. Lingkungan luar kelas juga belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung proses pembelajaran. Salah satu pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan ini adalah pembelajaran berdiferensiasi, yaitu strategi pengajaran yang menyesuaikan konten . , proses . ara belaja. , dan produk . asil belaja. sesuai dengan kebutuhan, minat, dan profil belajar siswa. Prinsip utama dari pembelajaran berdiferensiasi adalah bahwa setiap siswa adalah individu unik yang memiliki cara belajar yang berbeda (Azizah and Aprison 2. Namun dalam praktiknya, guru belum sepenuhnya menerapkan pembelajaran berdiferensiasi secara sistematis belum ada pemetaan gaya belajar siswa . isual, auditori, kinesteti. , variasi penyampaian materi, maupun tugas-tugas yang disesuaikan dengan profil Pembelajaran berdiferensiasi merupakan strategi pengajaran yang menyesuaikan konten . , proses . ara belaja. , dan produk . asil belaja. dengan kebutuhan, minat, serta profil belajar siswa secara individual. Setiap siswa adalah individu unik dengan gaya belajar yang berbeda-beda, seperti visual, auditori, dan kinestetik. Oleh karena itu, pembelajaran perlu dirancang untuk mengakomodasi keberagaman tersebut agar siswa dapat belajar secara lebih efektif dan bermakna. Guru memberikan variasi dalam penyampaian materi, metode pembelajaran, dan tugas-tugas yang disesuaikan dengan karakteristik serta kesiapan belajar siswa. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar siswa secara optimal. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung pengembangan potensi dan kreativitas siswa sesuai dengan gaya dan kebutuhan belajar masing-masing. Fokus pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya pada keseragaman materi, melainkan pada pemberian layanan yang personal dan relevan bagi setiap siswa. Tujuannya adalah untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran secara efektif (Maulidyah. Nugroho, and Darmawan 2. Urgensi dari penelitian ini didasarkan pada pentingnya menciptakan proses pembelajaran yang mampu menjawab keragaman siswa sebagai bagian dari pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Sejumlah penelitian sebelumnya Rachmadhani & Kamalia . telah membuktikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar secara signifikan dibanding metode konvensional karena memberikan ruang bagi siswa untuk belajar sesuai cara terbaik mereka. Studi oleh Afrina . di SMA Bina Warga 1 Palembang mengungkapkan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi yang menyesuaikan gaya belajar siswa . uditori, visual, kinesteti. mampu meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembelajaran yang berfokus pada konten, proses, dan produk sesuai kebutuhan individu siswa. Penelitian lain oleh Saria et al. menemukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi memberikan pengaruh positif terhadap minat dan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila, dengan peningkatan pemahaman nilai-nilai Pancasila secara efektif Permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah Bagaimana Strategi Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Di SMA Negeri 4 Kota Blitar. Alternatif solusi dalam konteks perbedaan kemampuan dan gaya belajar yang menonjol di SMA Negeri 4 Kota Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Blitar, strategi pembelajaran berdiferensiasi dipilih sebagai solusi yang paling sesuai karena memiliki potensi untuk mengatasi perbedaan individu secara lebih komprehensif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan menganalisis penerapan strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Pancasila di SMA Negeri 4 Kota Blitar. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan gambaran praktis mengenai implementasi diferensiasi dalam pembelajaran serta dampaknya terhadap motivasi dan keterlibatan siswa. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan strategi pembelajaran dalam konteks Kurikulum Merdeka, tetapi juga memberikan manfaat praktis bagi guru dalam menyusun dan melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan siswa. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian Penelitian eksperimen digunakan untuk membandingkan hasil belajar sebelum dan sesudah penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 4 Kota Blitar. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X SMAN 4 Kota Blitar. Sampel yang diambil adalah dua kelas, yaitu kelas XA dan XB, masing-masing berjumlah 36 peserta didik, sehingga total sampel adalah 72 peserta Kelas XA sebagai kelas eksperimen yang diberi perlakuan strategi pembelajaran berdiferensiasi, sedangkan kelas XB sebagai kelas kontrol dengan model pembelajaran Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik ini dipilih dengan pertimbangan bahwa sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila juga memberikan pertimbangan bahwa kelas yang dipilih memiliki keunggulan dibandingkan kelas lain dan dianggap mewakili peserta didik dari kelas lain. Prosedur penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan utama. Pertama, tahap persiapan yang mencakup penyusunan instrumen penelitian, pengurusan perizinan, serta koordinasi dengan pihak sekolah guna memastikan kelancaran pelaksanaan penelitian. Selanjutnya, pada tahap pelaksanaan, dilakukan pemberian pretest kepada dua kelas yang terlibat, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol, untuk mengetahui kemampuan awal Setelah itu, dilakukan perlakuan dengan menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi pada kelas eksperimen, sedangkan kelas kontrol tetap menggunakan metode pembelajaran konvensional. Setelah periode perlakuan selesai, kedua kelas diberikan posttest untuk mengukur hasil belajar mereka setelah intervensi. Tahap terakhir adalah analisis data, di mana data hasil pretest dan posttest dianalisis untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran berdiferensiasi terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Instrumen penelitian yang digunakan dalam studi ini terdiri dari beberapa jenis untuk memperoleh data yang komprehensif. Pertama, observasi keterlaksanaan pembelajaran dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran sehingga peneliti dapat memperoleh informasi yang akurat dan mendalam terkait aktivitas siswa maupun guru di Selain itu, dokumentasi berupa foto-foto kegiatan selama penelitian juga dikumpulkan sebagai bukti visual yang mendukung hasil penelitian. Untuk mengukur Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pengetahuan peserta didik terkait materi Pendidikan Pancasila, digunakan instrumen tes berupa 20 soal pilihan ganda yang diberikan melalui pre-test dan post-test. Data yang terkumpul melalui lembar observasi, dokumentasi, serta hasil pre-test dan post-test kemudian dianalisis menggunakan beberapa teknik analisis statistik. Analisis diawali dengan uji normalitas menggunakan formula Shapiro-Wilk melalui aplikasi SPSS 25. 00 untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal. Data dikatakan normal apabila nilai probabilitas . -valu. lebih besar dari 0,05. Selanjutnya, dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui kesamaan varians antara kelompok kontrol dan eksperimen. varians dianggap homogen jika nilai signifikansi > 0,05. Tahap berikutnya adalah analisis statistik deskriptif yang bertujuan mendeskripsikan hasil pre-test dan post-test dengan menghitung nilai rata-rata masing-masing kelompok menggunakan SPSS 25. Kemudian, uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji t untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil uji t akan dibandingkan dengan nilai probabilitas dan nilai t tabel sebagai dasar pengambilan Jika nilai probabilitas O 0,05 dan t hitung > t tabel, maka HCA diterima, yang berarti terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar antara kelas kontrol dan eksperimen. Sebaliknya, jika nilai probabilitas > 0,05 dan t hitung < t tabel, maka HCA diterima, yang menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara kedua kelompok. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini memiliki tujuan untuk menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi serta mengukur hasil belajar siswa kelas X dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 4 Kota Blitar. Hasil observasi awal menunjukkan adanya perbedaan kemampuan yang cukup mencolok di antara siswa, mulai dari yang cepat memahami materi hingga yang memerlukan waktu lebih lama. Aktivitas pembelajaran di kelas masih didominasi oleh metode ceramah, tanya jawab, hafalan, dan pemberian tugas. Penggunaan variasi konten, proses, produk, serta pemanfaatan lingkungan luar kelas belum maksimal, sehingga suasana belajar cenderung kurang menarik. Perlakuan khusus terhadap siswa dengan kemampuan rendah sudah dilakukan oleh guru, namun penerapan pendekatan berdiferensiasi secara menyeluruh belum terjadi. Validasi terhadap modul pembelajaran dilakukan sebelum implementasi strategi dimulai. Kelas eksperimen (XA) menerima strategi pembelajaran berdiferensiasi, sementara kelas kontrol (XB) tetap menggunakan metode konvensional. Pertemuan pertama di kelas eksperimen digunakan untuk tes gaya belajar siswa. Pertemuan selanjutnya di kedua kelas diisi dengan proses pembelajaran, pre-test, dan post-test. Pada pertemuan kedua, siswa dikelompokkan berdasarkan gaya belajar . uditori, visual, dan Setiap kelompok diberikan masalah yang sama mengenai implementasi nilai Pancasila sebagai wujud harmoni sosial. Kelompok auditori mendapat penjelasan langsung dari guru di dalam kelas, kelompok visual menonton video pembelajaran di taman sekolah, dan kelompok kinestetik mencari kartu materi di tempat yang telah ditentukan. Siswa kemudian menulis hasil pemecahan masalah pada lembar kerja dan mempresentasikan Pada pertemuan ketiga, siswa membuat karya sesuai gaya belajar masing-masing . odcast/wawancara untuk auditori, mind mapping untuk visual, dan karya tentang situasi yang menguji harmoni sosial untuk kinesteti. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kelas kontrol menerapkan pembelajaran konvensional. Siswa dikelompokkan secara acak dan diberikan masalah yang sama. Mereka menulis hasil pemecahan masalah pada lembar kerja dan mempresentasikannya. Pada pertemuan kedua, siswa membuat videoRolePlay bertema situasi yang menguji harmoni sosial. Tabel berikut menunjukkan deskripsi nilai pre-test dan post-test kelas eksperimen dan kontrol: Tabel 1. Deskripsi Nilai Pre-test dan Post-test kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Kelas Kontrol (XA) (XB) Rata-rata Pre-test 73,75 73,06 Rata-rata Post-test 85,00 81,94 Variansi Pre-test 143,393 97,540 Variansi Post-test 92,857 124,683 Standar Deviasi Pre-test 11,975 9,876 Standar Deviasi Post-test 9,636 11,166 Tabel tersebut menyajikan deskripsi statistik nilai pre-test dan post-test dari kelas eksperimen (XA) dan kelas kontrol (XB). Rata-rata nilai pre-test pada kelas eksperimen sebesar 73,75, sedikit lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol yang memiliki rata-rata 73,06. Setelah perlakuan, terjadi peningkatan rata-rata nilai post-test pada kedua kelas, di mana kelas eksperimen mencapai 85,00 sedangkan kelas kontrol sebesar 81,94. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar pada kedua kelas, namun peningkatan pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Variansi nilai pre-test kelas eksperimen lebih besar . dibandingkan kelas kontrol . , yang mengindikasikan bahwa penyebaran nilai di kelas eksperimen lebih lebar sebelum perlakuan. Setelah perlakuan, variansi nilai post-test menurun pada kelas eksperimen menjadi 92,857, sedangkan pada kelas kontrol meningkat menjadi 124,683. Standar deviasi yang mengikuti pola variansi menunjukkan bahwa nilai di kelas eksperimen cenderung lebih homogen setelah perlakuan, sementara di kelas kontrol menjadi lebih bervariasi. Setelah itu dilanjutkan dengan uji normalitas dilakukan pada nilai pre-test dan post-test untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Metode Shapiro Wilk digunakan dalam uji normalitas ini, dianalisis dengan SPSS 25. 00 for Windows pada taraf signifikansi 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal apabila signifikansi > 0,05. Tabel 2. Hasil Uji Normalitas Pretest Kelas Eksperimen Shapiro-Wilk Statistic Sig. PreTest Eksperiment Lilliefors Significance Correction Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Berdasarkan hasil uji normalitas pada Tabel 2 menggunakan uji Shapiro-Wilk, diketahui bahwa nilai signifikansi (Sig. ) untuk data Pretest kelas eksperimen adalah sebesar 0,088. Karena nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 ( = 5%), maka dapat disimpulkan bahwa data Pretest pada kelas eksperimen berdistribusi normal. Keterangan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Post-test kelas Ekperimen Shapiro-Wilk Statistic Sig. PostTest Eksperiment Lilliefors Significance Correction Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Berdasarkan hasil uji normalitas yang ditampilkan pada Tabel 3, diketahui bahwa nilai signifikansi (Sig. ) hasil Post-test kelas eksperimen sebesar 0,104. Nilai ini lebih besar dari taraf signifikansi 0,05, yang berarti data Post-test kelas eksperimen berdistribusi normal. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Shapiro-Wilk karena jumlah sampel kurang dari 50. Dengan terpenuhinya asumsi normalitas, maka data Post-test kelas eksperimen layak dianalisis menggunakan uji statistik parametrik. Tabel 4. Uji Normalitas Pre-test kelas Kontrol Shapiro-Wilk Statistic Sig. PreTest Kontrol Lilliefors Significance Correction Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Berdasarkan hasil uji normalitas yang tercantum dalam Tabel 4, nilai signifikansi (Sig. untuk data Pre-test kelas kontrol adalah sebesar 0,221. Nilai ini lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data Pre-test pada kelas kontrol berdistribusi normal. Uji ini menggunakan metode Shapiro-Wilk, yang sesuai untuk sampel dengan jumlah kurang Dengan demikian, asumsi normalitas terpenuhi dan data Pre-test kelas kontrol dapat dianalisis lebih lanjut menggunakan uji statistik parametrik. Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Post-test Kelas Kontrol Shapiro-Wilk Statistic Sig. PostTest Kontrol Lilliefors Significance Correction Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Berdasarkan hasil uji normalitas yang disajikan dalam Tabel 5, diperoleh nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,061 untuk data Post-test kelas kontrol. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data Post-test kelas kontrol berdistribusi Uji Shapiro-Wilk digunakan karena jumlah sampel kurang dari 50, dan hasilnya menunjukkan bahwa distribusi data tidak menyimpang secara signifikan dari distribusi Berdasarkan hasil uji normalitas, data pre-test dari kedua kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan distribusi yang normal. Oleh karena itu, analisis dapat dilanjutkan dengan melakukan uji homogenitas varians menggunakan uji Levene. Pengujian ini Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 25. 00 untuk Windows, dengan tingkat signifikansi yang ditetapkan sebesar 0,05. Tabel 6. Hasil Uji Homogenitas Levene Statistic df1 df2 Sig. Pre Test Based on Mean Based on Median Based on Median and with adjusted df 369 1 63. Based on trimmed mean Based on Mean Post Test Based on Median Based on Median and with adjusted df 003 1 69. Based on trimmed mean Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Berdasarkan Tabel 6, hasil uji homogenitas menggunakan uji Levene menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Sig. ) untuk pre-test berdasarkan mean adalah 0,479 dan untuk posttest sebesar 0,319. Kedua nilai tersebut lebih besar dari taraf signifikansi 0,05, yang berarti tidak terdapat perbedaan varians yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, baik pada data pre-test maupun post-test. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa data dari kedua kelompok memiliki varians yang homogen. Data yang diambil dari pre-test dan post-test akan diuji dengan menggunakan analisis statistic deskriptif dan uji hipotesis . Analisis statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan data yang terkumpul dalam penelitian ini. Fokus utama dari analisis ini adalah memberikan informasi tentang nilai rata-rata . , nilai minimum, nilai maksimum, dan standar deviasi dari setiap variabel yang diamati. Dengan pendekatan ini, dapat diketahui gambaran umum mengenai sebaran data yang diperoleh dari pre-test dan post-test. Tabel 7. Hasil Analisis Statistik deskriptif Kelas Eksperimen Range Minimum Maximum Mean Std. Variance Deviation Statistic Statistic Statistic Statistic Statistic Std. Statistic Statistic Error Hasil 1,288 9,636 92,857 Posttest Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Berdasarkan tabel 7, hasil analisis statistik deskriptif untuk kelas eksperimen menunjukkan informasi sebagai berikut. Data post-test yang diperoleh dari 36 peserta memiliki rentang nilai . sebesar 35, dengan nilai minimum 65 dan nilai maksimum Rata-rata . nilai post-test kelas eksperimen adalah 85, yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mencapai hasil yang baik dalam post-test. Nilai standar deviasi sebesar 1,288 menunjukkan bahwa sebaran data relatif kecil, yang berarti mayoritas peserta berada dekat dengan nilai rata-rata. Sementara itu, nilai variansinya adalah 9,636, yang lebih Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 mendalam mengukur penyebaran data. Dengan demikian, hasil analisis ini menggambarkan bahwa setelah pembelajaran, sebagian besar peserta memperoleh nilai yang relatif tinggi dan Uji hipotesis bertujuan untuk menguji apakah terdapat pengaruh signifikan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini, uji t dilakukan dengan bantuan program SPSS 25. 00 for Windows untuk membandingkan nilai signifikansi yang dihitung dari setiap variabel bebas terhadap variabel terikat, dengan taraf signifikansi sebesar 0,05. Keputusan pengujian diambil dengan membandingkan nilai pada kolom Sig. -taile. dengan alpha penelitian. Untuk uji hipotesis ini, digunakan uji Independent Sample t-test, yang dirancang untuk menentukan apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara dua kelompok atau populasi yang data nya bersifat independen. Tabel 8. Hasil Uji Statistik pada Sample Test N Mean Std. Deviation Varians eksperimen 36 85. Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Tabel 8 menunjukkan hasil uji statistik pada sample test yang menggambarkan perbandingan antara kelas eksperimen dan kontrol. Kelas eksperimen terdiri dari 36 peserta dengan rata-rata nilai sebesar 85,00, standar deviasi 9,636, dan varians 92,857. Sedangkan kelas kontrol juga terdiri dari 36 peserta, dengan rata-rata nilai 81,94, standar deviasi 11,116, dan varians 124,683. Data ini memberikan gambaran mengenai perbedaan distribusi nilai antara kedua kelompok, dimana kelas eksperimen memiliki nilai rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Tabel 9. Uji Hipotesis Dengan Uji T Levene's Test for t-test for Equality of Means Equality of Variances Sig. Mean Std. Error Difference Difference Sig. df taile. Hasil Equal variances . belajar assumed Equal variances not assumed Sumber: SPSS 25. 00 for Windows Tabel 9 menunjukkan hasil uji hipotesis menggunakan uji t untuk membandingkan perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Berdasarkan LeveneAos Test for Equality of Variances, diperoleh nilai F sebesar 0. 506 dengan signifikansi 0. 479, yang lebih besar dari 05, menunjukkan bahwa varians antara kedua kelompok dapat dianggap sama. Oleh karena itu, hasil uji t dilakukan dengan asumsi varians yang sama (Equal variances Nilai t yang diperoleh adalah 2. 268 dengan derajat kebebasan . 70 dan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. 007, yang lebih kecil dari 0. 05, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Rata-rata perbedaan nilai antara kelas Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 eksperimen dan kelas kontrol adalah 3. 056 dengan standar error perbedaan sebesar 2. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar antara kedua kelompok. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari adanya implementasi strategi pembelajaran berdiferensiasi untuk mengukur hasil belajar siswa kelas X pada pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 4 Kota Blitar. Adapun pengambilan keputusan berdasarkan perbandingan niai t hitung dengan t tabel dalam uji independent sample t test. Diketahui nilai t hitung adalah sebesar 2. Selanjutnya memasukkan nilinya langsung pada rumus, sehingga diperoleh: Ditemukan nilai t tabel sebesar 2,032. Karena t hitung . lebih besar dari t tabel . , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Ini menunjukkan adanya perbedaan rata-rata hasil belajar siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa implementasi strategi pembelajaran berdiferensiasi berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas X dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 4 Kota Blitar. Strategi pembelajaran berdiferensiasi merupakan pendekatan yang menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan, gaya belajar, minat, dan tingkat kemampuan siswa secara individual. Pendekatan ini memfasilitasi perbedaan kebutuhan belajar siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar secara signifikan (Izsta. Montessori, and Indrawardi 2. Kelebihan pembelajaran berdiferensiasi meliputi beberapa aspek penting yang berkontribusi pada peningkatan kualitas dan efektivitas pembelajaran. Pertama, pembelajaran berdiferensiasi mampu meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan dibandingkan dengan metode konvensional, karena strategi ini menyesuaikan materi, proses, dan produk pembelajaran dengan kebutuhan, minat, dan gaya belajar siswa yang beragam (Izsta et al. Kedua, pendekatan ini meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam proses belajar, karena siswa merasa mendapatkan materi dan tugas yang relevan serta sesuai dengan kemampuan dan minat mereka, sehingga proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan bermakna (Ramayani. Nabila, and Khairi 2. Ketiga, pembelajaran berdiferensiasi mendukung perkembangan keterampilan sosial dan kolaboratif siswa melalui kerja kelompok yang beragam, yang penting untuk kehidupan masa depan. Keempat, metode ini juga meningkatkan rasa percaya diri . elf-estee. siswa karena setiap individu dapat berprestasi sesuai dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan mereka tanpa merasa dibandingkan secara tidak adil dengan teman sekelas (Nasriah 2. Selama pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, beberapa kendala muncul yang memengaruhi kelancaran dan efektivitas kegiatan. Guru tidak selalu dapat mendampingi siswa secara langsung ketika mereka berpencar di area belajar yang berbeda, meskipun LKPD telah disusun secara rinci. Alokasi waktu menjadi kendala lain karena siswa sering terburu-buru menyelesaikan tugas, terutama saat diskusi kelompok dan presentasi. Tingkat motivasi dan partisipasi siswa pun bervariasi. Sebagian siswa menunjukkan antusiasme tinggi dan aktif berkontribusi, sementara lainnya kurang berminat dan cenderung pasif. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kondisi ini memengaruhi dinamika kelompok serta hasil tugas. Guru perlu lebih cermat dalam mengidentifikasi dan mengatasi penyebab rendahnya motivasi siswa. Cara mengatasi kesulitan siswa dalam menerapkan strategi pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan melalui berbagai langkah praktis yang berfokus pada kendala-kendala umum yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran. Salah satu langkah awal yang penting adalah menyesuaikan pola pikir dan strategi guru. Guru perlu meninggalkan pendekatan pembelajaran yang seragam untuk seluruh siswa dan mulai menerapkan pengajaran yang responsif terhadap kebutuhan individu. Perubahan pola pikir ini menuntut kesiapan guru untuk mengembangkan dan menggunakan berbagai pendekatan yang sesuai dengan keberagaman siswa di kelas (Iqbal. Andra, and Gusmaneli 2. Untuk memudahkan proses adaptasi, guru dapat memulai dari hal-hal kecil dengan menetapkan tujuan yang realistis. Contohnya, guru bisa terlebih dahulu menerapkan strategi diferensiasi pada beberapa siswa yang membutuhkan perhatian khusus sebelum memperluas penerapannya ke seluruh kelas (Melintas 2. Selain itu, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan, workshop, atau seminar sangat penting agar guru memiliki pemahaman dan keterampilan yang memadai dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis guru, tetapi juga membangun kepercayaan diri dalam merancang pembelajaran yang efektif dan adaptif. Di sisi lain, keterbatasan waktu yang sering menjadi hambatan dalam menyusun materi dan penilaian yang bervariasi dapat diatasi dengan perencanaan yang matang. Guru disarankan untuk menyusun rencana pembelajaran yang mencakup strategi, media, dan prosedur pelaksanaan secara terstruktur agar kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih efisien (Wulandari. Melisa, and Nada 2. Pemanfaatan sumber daya dan teknologi juga menjadi solusi yang efektif, khususnya dalam menghadapi keterbatasan fasilitas fisik. Guru dapat memanfaatkan media digital, aplikasi edukatif, serta berbagai sumber belajar online untuk mendukung variasi konten dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Penting juga bagi guru untuk mengenali karakteristik dan gaya belajar siswa, baik melalui observasi, diskusi, maupun penggunaan instrumen asesmen seperti pertanyaan pemantik. Pemahaman terhadap gaya belajar dan minat siswa ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan konten, proses, dan produk pembelajaran agar lebih relevan dan menarik (Kurniasih 2. KESIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah implementasi strategi pembelajaran berdiferensiasi berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa kelas X pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SMAN 4 Kota Blitar. Hal ini didukung oleh hasil uji hipotesis yang menunjukkan perbedaan signifikan antara kelas eksperimen yang menggunakan strategi pembelajaran berdiferensiasi dan kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional. Dengan menyesuaikan proses pembelajaran dengan kebutuhan, gaya belajar, minat, dan tingkat kemampuan siswa, strategi ini mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, serta hasil belajar siswa secara keseluruhan. Saran yang dapat diberikan berdasarkan temuan penelitian ini adalah agar guru dapat lebih mengoptimalkan penggunaan strategi pembelajaran berdiferensiasi dalam proses Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Perlu adanya pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan bagi guru untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan strategi ini secara efektif. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi efektivitas pembelajaran berdiferensiasi, seperti dukungan dari pihak sekolah, ketersediaan sumber daya, serta karakteristik siswa yang lebih spesifik. DAFTAR PUSTAKA