Journalism Awareness: Dalam Sebuah Catatan Ita Rodiah* Abstract This Article analyses a keen relationship between mass media and the audience, and also analyses between their elemenets and attibutes that intersects one to another. After the awareness of both sides . ass media and the audienc. meet, mingle, and even grapple in the process of productions and receptions, they mutually produce an awareness that make them both more mature, i. the awareness of mass media related to its role and its function. the awareness of the audience regarding their essence and their existence as an audience. Key words: Journalism, publication, information, audience, demography, in-depth. , media, segmentation, fit to print, news, news editor, prominence, watchdog. Abstrak Artikel ini mengkaji hubungan yang saling menginginkan antara media massa dan audience serta elemen dan atribut yang saling bersinggungan diantara keduanya. Setelah kesadaran pada masing-masing pihak bertemu, berjabatan, bahkan bersitegang dalam proses produksi dan resepsinya, kemudian lahirlah kesadaran yang mendewasakan diantara keduanya, kesadaran media massa akan peran dan fungsinya dan kesadaran audience terhadap esensi dan eksistensinya sebagai seorang audience. Kata Kunci: Journalism, publikasi, informasi, audience, demografi, in-depth. , media, segmentasi, fit to print, berita, news editor, prominence, watchdog. * Ita Rodiah. Pemerhati Susastra. Bahasa, dan Budaya. Fakultas Adab dan Humaniora. Universitas Islam Negeri Jakarta . ta_rodiah@yahoo. Latar Belakang Dalam pelbagai sisi kehidupan, peran dan pengaruh sebuah informasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia -inseparable, karena relasi antara kehidupan dan informasi menciptakan relasi inner-dialectical antara satu dengan lainnya. Sebuah informasi pada saat bersamaan dapat memanifestasikan dua fungsi yang berbeda untuk tidak mengatakan bertentangan, karena dua hal yang berbeda tidak selalu bermakna bertentangan- yaitu pada satu sisi informasi merefleksikan, merekam, menyebarluaskan, dan merepresentasikan sesuatu -reflects the fact dan dapat berupa peristiwa, opini, kecenderungan, kondisi, orang, dan lain sebagainya yang mengandung unsur news content, news value- dan pada sisi lain, informasi dapat membentuk dan mengkonstruksi sesuatu, bahkan dapat mempengaruhi audience dalam memahami sebuah fakta atau realitas -shape and influence the audience. Informasi setidaknya dapat mengurangi ketidakpastian dalam melihat dan memahami sesuatu. Kendatipun informasi memiliki peran penting, tetapi tidak semua informasi secara otomatis dapat menjadi berita dalam media massa dan kendatipun berita pada dasarnya adalah fakta, tetapi tidak setiap fakta dapat menjadi berita. Dalam hal inilah peran penting media massa memainkan fungsinya dalam proses pemilihan dan pemilahan bahan dan material berupa informasi untuk dapat menjadi sebuah berita. Dalam proses ini, pelbagai unsur yang terlibat didalamnya -dari mulai pelbagai kepentingan, objektivitas dan akurasi faktual, news value, news content, kode etik, bahkan sudut pandang tertentu- dapat saling bertemu, bersentuhan, dan Kondisi yang tidak sederhana ini seringkali luput dari pandangan dan perhatian audience sebagai subjek reseptor -walaupun hakikatnya audience tidak pernah dibebani tugas ini. Peran dan fungsi sebuah informasi menduduki posisi penting yang dapat membantu, menuntun, dan membukakan jalan bagi pengetahuan lainnya untuk diresepsi dan dimanfaatkan oleh audience. Kecepatan tersebarnya sebuah informasi tidak lagi menjadi hambatan dalam dunia kekinian, dengan dukungan kecanggihan teknologi bahkan hal tersebut tidak dapat dibendung lagi. Arus deras informasi dapat diakses bahkan dipilih dan disesuaikan dengan kepentingan audience sebagai subjek reseptor -interest. Kemudahan dalam mengakses informasi tersebut selaiknya diiringi pula dengan kebijaksanaan dan sikap AoawasAo audience dalam memanfaatkannya. Dengan posisinya sebagai subjek, audience dapat mengaktifkan dan memanfaatkan fungsinya yang tidak hanya sekadar reseptor an sich, tetapi sebagai subjek aktif yang mampu memanfaatkan posisinya tanpa harus tergerus dalam arus informasi tersebut. Kompleksitas hubungan antara media massa, berita, dan audience ini memicu lahirnya kajian lintas disiplin -inter dicipline, karena di dalamnya melibatkan beberapa keilmuan. Hal ini menjadi stimulus bagi perkembangan pengetahuan dan keilmuan terutama yang memiliki kaitan dengan dunia jurnalisme. Sebagian dampak positif itu dapat kita temukan -setidaknya hal itu ditandai- dengan semakin banyaknya kajian yang berupaya untuk mendekati dan memahami pola ketidaksederhaan yang terjadi dalam relasi yang dipaparkan di atas dan tulisan ini adalah salah satu bagian dari upaya tersebut. Pembahasan Informasi dan Issue dalam Produksi Berita Berita merupakan publikasi informasi mengenai seseorang, situasi, dan sesuatu based on the fact- yang memiliki nilai berita -news values, menarik, dan happening yang disebarluaskan secara masif baik melalui media cetak -baik surat kabar atau majalah, media elektronik seperti media online maupun program siaran -televisi atau radio. 2 Informasi yang dimuat dalam berita tidak selalu penting, tetapi terkadang menarik bagi audiences,3 bahkan informasi terkadang tidak menarik bagi audience, tetapi sangat mungkin memuat nilai berita yang penting. Hal inilah yang seringkali menjadi problematika dalam dunia jurnalisme,4 tetapi sekaligus menjadi arena yang mampu memicu adrenalin para jurnalis yang terlibat di dalamnya. Informasi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, individu dituntut memiliki kekayaan wawasan -a man with wealth of quality- untuk menunjang keberlangsungan dirinya sebagai seorang individu yang berhadapan dengan pelbagai arena kehidupan yang bersinggungan dengan pengetahuan, wawasan, bahkan tindakan praktis yang memanifestasikan informasi di dalamnya -pengetahuan yang berlandaskan pada kebenaran, bukan sebaliknya. 5 Problematika dasar dari audience tersebut membuka peluang bagi dunia jurnalisme6 untuk memenuhi kebutuhan atau setidaknya memberi tawaran informasi yang mampu melegakan dahaga audience terhadap kebutuhan akan informasi. Hal tersebut bukan merupakan pekerjaan yang mudah, tetapi justru pada titik penting inilah dunia jurnalisme akan mendapatkan peran maksimalnya di hadapan audience sebagai subjek reseptor dari informasi yang dipublikasikannya -news. Muatan informasi dalam berita -news content- memang tidak selalu sinonim dengan peristiwa atau kejadian terbaru -terkini, day-to-day questions, tetapi news content dapat juga berupa informasi mengenai peristiwa, kejadian, sesuatu, dan situasi yang telah lalu -has used the past, bahkan yang mungkin terjadi atau akan terjadi. Kendatipun demikian, tingkat relevansi dengan kekinian -newness- dan akurasi terhadap fakta, kejadian, situasi, dan gagasan pemikiran aktual -on what is happening in society, current events- menjadi bagian integral yang menyatu dalam proses pengolahan informasi tersebut menjadi sebuah berita yang dinilai laik dimuat dalam media massa -news production. Informasi aktual dan akurasi faktual menjadi hal yang tidak dapat dikesampingkan dalam publikasi sebuah informasi baik melalui apa yang ditulis dalam media cetak maupun media elektronik seperti media online atau melalui apa 2 Potter membahasakannya dengan AuNews is what is new, it. s whatAos happeningAy. Lihat Deborah Potter. AuHandbook of Independent JournalismAy. Bureau of International Information Programs, 2006, 5. AuNews is something that is new, interesting and trueAy. Lihat Richard Rudin dan Trevor Ibbotson. An Introduction to Journalism: Essential Techmiques and Background Knowledge (Great Britain: Focal Press, 2. , 5. Alejandro mengatakan AuMore recently, a growing number of readers, viewers, and listeners are going online for news. Television, newspapers, and radio are still here but there is a growing competition from interactive online mediaAy. Lihat Jennifer Alejandro. AuJournalism in the Age of Social MediaAy. Reuters Institute for the Study of Journalism University of Oxford, 2010, 5. Penulis memilih istilah audience dalam tulisan ini dengan pertimbangan bahwa istilah ini sering digunakan oleh penulis-penulis yang berkecimpung dalam dunia jurnialisme. Misalnya yang digunakan oleh Jorgensen & Hanitzsch, lihat Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies (New York and London: Routledge, 2. , 4. Richard Rudin dan Trevor Ibbotson. An Introduction to Journalism: Essential Techmiques and Background Knowledge, , hlm. 4 AuJournalism derives a great deal of its legitimacy from the postulate that it is able to present true pictures of realityAy. Lihat Charlotte Wien. AuDefining Objectivity within Journalism: An OverviewAy. Julian Baggini. Making Sense: Filsafat di Balik Headline Berita (Bandung: Teraju, 2. , 9. 6 Menurut Jorgensen dan Hanitzsch, jurnalisme merupakan kajian inter-dicipline didalamnya terdapat sejarah, sosiologi, linguistik, ilmu politik, kajian budaya, sastra yang termasuk dalam ilmu sosial dan Juga dapat dibidik pada sisi kajian komunikasinya, medianya, bahkan sisi jurnalismenya itu sendiri. Lihat Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. 7 Zelizer mengatakan berita merefleksikan kenyataan Aunews is a reflection of the realAy. Lihat Barbie Zelizer. AuJournalism and the AcademyAy. Ibid, hlm. Tetapi, pada sisi yang bersebrangan bahkan berita dapat membangun kontruksi Aunews shapes the way we see the worldAy. Lihat Ibid, hlm. yang disiarkan dan ditayangkan dalam program siaran berita radio dan televisi. Dalam persoalan ini eksistensi dan peran seorang jurnalis menjadi penting dalam proses pemahaman dan peliputan produksi informasi8 yang akan dipublikasikan menjadi sebuah berita yang dapat berupa reporting, criticism, editorializing, dan conferral of judgement on the shape of things. 9 Ketidaksederhanaan ini seringkali menimbulkan ketidakseimbangan informasi -distorsi. Oleh sebab itulah seorang jurnalis memainkan peran penting dalam arus informasi dunia jurnalisme. 10 Kemampuan seorang jurnalis dalam mengolah dan menyajikan informasi tersebut akan menentukan nilai suatu informasi dan hal ini pula yang akan membentuk brand image media, sekaligus personal brand jurnalis tersebut. 11 Media yang memiliki reputasi reliabilitas dan kredibilitas memiliki kesempatan emas untuk menjadi media komersial yang berhasil tidak hanya menjadi media kredibel, tetapi juga mampu menarik minat audience dan juga iklan di dalamnya. Sensitivitas jurnalis dapat membawa berita pada informasi yang sarat dengan nilai berita -news value, sehingga informasi tersebut dapat dipublikasikan dengan tidak mengabaikan fungsi utamanya sebagai watchdog yang bertugas mengawal pelbagai peristiwa, gagasan, situasi, dan lain sebagainya yang memberi dampak luas terhadap khalayak -audience. Sensitivitas ini pula yang mampu membawa informasi disampaikan secara in-depth. Kredibillitas seorang seorang jurnalis datang dari profesionalisme -good work, keterbukaan terhadap kritik -openness about the mistakes, dan kemampuan untuk merespon dengan baik segala bentuk kritik responding to criticism. 13 Fakta, opini, dan interpretasi menjadi keahlian lain yang harus dimiliki seorang jurnalis dalam proses pemilahan dan pengolahan informasi untuk menjadi sebuah berita. Kendatipun nilai akurasi informasi dalam bentuk berita bukan merupakan hal yang mudah untuk dicapai, diantaranya disebabkan oleh banyaknya fakta yang masuk dalam material informasi, kecepatan jurnalisme modern, dan banyaknya orang yang membantu dalam proses produksi sebuah informasi-berita, tetapi dalam hal ini audience berhak menerima informasi yang disampaikan oleh media massa secara objektif, lengkap, akurat, dan faktual terhadap informasi -news- yang diketengahkan dan disodorkan oleh media massa tersebut. Otentisitas sebuah informasi terkait erat dengan sumber informasi -news source, yang diperoleh apakah berasal main source atau second source, informasi yang didapatkan dari tangan kedua dan seterusnya 8 AuNews becomes a construction and the interaction of reporters and sources is how that construction comes to beAy dan AuNews is not what journalist think, but what their sources sayAy. Lihat Daniel A. Berkowitz. AuReporters and heir SourcesAy. Ibid, hlm. 9 Lihat Barbie Zelizer. AuJournalism and the AcademyAy. Ibid. , hlm. 10 Fleeson menyarankan 10 langkah tepat untuk melakukan investigative reporting: broaden the definition of investigative reporting, build institutional support for your product, build & maintain sources, educate yourself about your subject, look for documents, get out of the office & observe. make your story come alive, assess-assess,-assess, verification & confirmation, tackling the big organize your material, and investigative reporting in daily journalism. make the time. Lihat Lucinda S. Fleeson. AuTen Steps to Investigative ReportingAy. International Center for Journalists Advancing Quality Journalism Worldwide, 6-27. 11 AuBrand image is a set of perceptions about a brand as reflected by the brand associations held in consumerAos memoryAy. Lihat Michael Korchia. AuBrand Image and Brand AssociationsAy. Graduate School of Economic and Management, 3. Stephen L. Sondoh. Maznah Wan Omar, etc. AuThe Effect of Brand Image on Overall Satisfaction and Loyalty Intention in the Context of Color CosmeticAy. Asia Academy of Management Journal. Vol. No. 1, 83-107. January 2007, 86. 12 AuA newspaper. TV station or radio station with a reputation for credibility and reliability has an excellent change for commercial successAy. Lihat International Center for Journalist (ICFJ). AuJournalism Ethics: The Global DebateAy. International Center for Journalist Advancing Quality Journalism Worldwide, 2009, 6. 13 Aidan White. The Ethical Journalism Initiative: To Tell You the Truth (Belgium: International Federation of Journalist, 2. , 10. tentunya akan sangat rentan terhadap distorsi -the origin of the source material. Integritas seorang jurnalis menjadi hal yang perlu mendapat perhatian terutama bagi audience yang skeptis terhadap informasi yang diterimanya. Resiko terbesar bagi audience adalah kesia-siaan dalam menghabiskan waktu untuk menerima informasi dengan tingkat akurasi dan nilai berita yang rendah. Proses konversi informasi menjadi sebuah berita membutuhkan batas ruang lingkup yang disebut sebagai dicipline of verification diantaranya menurut Deuze layanan publik -publik service, objektivitas -objectivity, hak otonom -autonomy, ketepatan waktu atau kesegeraan -immediacy, dan etika -ethic. Sedangkan menurut Shapiro independensi -independent, akurat -accurate, terbuka terhadap kritik -open to appraisal, proses penyuntingan -editing, dan unsersored. 15 Kode etik 16 tersebut menjadi guide yang memberi kebebasan dan kebertanggungjawaban seorang jurnalis dalam memroses dan mempublikasi sebuah berita. Seorang jurnalis yang profesional tidak akan menukar profesionalismenya dengan kebutuhan perut, pribadi, atau kelompoknya, karena hal itu akan mencederai reputasi profesinya sebagai seorang Seorang jurnalis yang profesional akan mengabdi pada apa yang ia yakini sebagai batasan pengertian sebuah berita, yang memberi ruang berjarak antara leburnya fakta aktual dengan opini, bahkan emosinya sebagai subjek yang berhadapan dan terlibat langsung dengan informasi tersebut. Fakta yang menjadi acuan dalam sebuah berita tidak selalu berupa kejadian atau situasi, tetapi dapat juga berupa pernyataan -press release. Dalam sebuah berita terkadang eksistensi fakta ditopang oleh fakta tambahan -pelengkap, seperti sumber informasi -sources of information, wawancara -interview, pelbagai bentuk dokumen dan informasi interpretatif -documentation and interpretation of information, informasi yang mungkin belum laik -going undercover, dan tindak lanjut terhadap informasi secara sistematis -systematic follow-up, yang keberadaannya sangat membantu seorang jurnalis dalam mengolah dan menyajikan berita dengan lebih baik -gathering information for in-depth reporting. 17 Proses yang tidak sederhana ini akan menentukan nilai dari suatu berita, sekaligus akan merefleksikan kapasitas seorang jurnalis dalam melakukan proses pengolahan dan penyampaian sebuah berita. Dalam sebuah berita,18 seorang jurnalis dapat mengawinkan antara fakta dengan drama dengan mencari hal menarik, seperti tindakan dramatis -misteri, ketegangan, kejadian aneh, komedi- untuk menghasilkan warna berita yang lebih menarik -fakta Selain itu, seorang jurnalis juga dapat mengawinkan antara fakta dengan elemen emosional yang memiliki implikasi membangkitkan perasaan audience, elemen tersebut dapat berupa minat audience berupa segala hal yang berkaitan Lihat Jennifer Alejandro. AuJournalism in the Age of Social MediaAy, op. , hlm. 15 Lihat Patrick Brethour. Tim Curie. Meredith Levine. Connie Monk, dan Ivor Shapiro,AyWhat is Journalism?Ay. A Report of the Ethics Advisory Committee of The Canadian Association of Journalists. June 15, 2012, 2. 16 AuEthical practice in general and in journalism in particular rests on common human valaueAy. Lihat International Center for Journalist (ICFJ). AuJournalism Ethics: The Global DebateAy, loc. , hlm. 17 Aretha Asakitikpi. Ben U. Nwanne. Chidinma H. Onwubere, dan Chsristine I. Ofulune. AuInvestigative and Interpretative ReportingAy. National Open University of Nigeria, 2012, ii. Shoemaker. Vos, dan Reese menyatakan pula bahwa seorang jurnalis dapat digempur oleh informasi dari pelbagai sumber Aujournalists are bombarded with information from internet, newspaper, television and radio news, news magazines, and their sourcesAy. Lihat Pamela J. Shoemaker. Tim P. Vos, dan Stephen D. Reese. AuJournalists as Gatekeepers, dalam Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. 18 Tom Brokaw mengungkap peran vital sebuah berita Auwhen the flow of news is obstructed. Aoa darkness fallsAo and anxiety growsAy dan ditambahkan oleh Kovach & Rosenstiel dengan Authe world, in effect, becomes too quietAy. Lihat Bill Kovach dan Thomas (To. Rosenstiel. The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect, (New York: Crown Publisher, 2. , 2. dengan human interest, seperti fashion, food, life style, dan lain sebagainya. Unsur lain yang dapat dipertimbangan menjadi sebuah berita adalah ketidakbiasaan dan mengejutkan -unussualness dan suprising, apakah berita itu memiliki dampak dan kedekatan secara masif -impact dan proximity, dan apakah subjek pelakunya adalah orang yang dikenal secara luas dan berdampak -news maker, prominence. Elemen prominence dalam sebuah berita -aspek prominence sangat mungkin berkaitan dengan biographical-focused dan image-focused dalam bahasa Barnhurst dan Nerore,19 seringkali menarik minat audience sehingga timbullah apa yang diistilahkan dengan names makes news dalam dunia jurnalisme. Hal ini seringkali disebabkan oleh adanya rasa kedekatan antara audience dengan apa yang diberitakan karena mengandung unsur human interest yang biasanya masuk pada tataran kategori berita soft news. Kedekatan dengan audience tersebut -proximity- sangat membantu proses tersebarnya informasi secara lebih cepat dari pada informasi yang diberitakan Tentu hal ini melahirkan hubungan mutualisme karena baik pihak media massa ataupun audience berada pada kondisi yang sama yaitu kepuasan dan tujuannya saling terpenuhi terpenuhi. Konflik pun -tidak selalu bermakna kekerasan-20 menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dan terkadang melatari suatu informasi sehingga dinilai laik dipublikasi secara masif, karena ia menjadi elemen penting dan yang paling sering muncul dalam berita. 21 Daya tarik sebuah konflik pun sangat potensial untuk menarik perhatian audience, karena sanggup melahirkan dampak emosional yang tidak hanya mencakup dan terbatas pada relasi konflik yang terjadi pada manusia semata, tetapi seringkali cakupan relasi konflik tersebut meluas pada manusia versus alam, hewan, lingkungan, dan lain sebagainya. Muatan konflikpun sanggup menjadi elemen emosional bagi audience seperti konflik fisik, mental, bahkan gagasan -ide. Cara penyajian konflik menjadi hal penting dalam proses pengolahan sampai publikasi berita, kemampuan jurnalis dalam meramu fakta dan fakta tambahan menjadi kunci ingin ditampilkan seperti apa konflik yang akan disuguhkan kepada Bahkan konflik dapat menghasilkan hal yang positif dan konstruktif dengan cara membuka ruang perubahan ke arah yang lebih baik jika diartikulasikan secara Selain konflik, elemen yang tidak kalah penting adalah kemajuan -progress- yang relevan dengan perubahan untuk kemajuan umat manusia seperti adanya penemuan baru -terobosan- di pelbagai bidang. Informasi yang mengandung elemen ini lebih bersifat informatif, inovatif, dan kreatif serta mendekatkan audience pada dimensi Human interest menjadi alat bantu yang siap membidik gelombang kuriositas audience, dengan kemampuan jurnalis memadupadankan vitalitas zaman tersebut akan mampu menciptakan warna berita yang menarik. Pemilihan secara tepat 19 Lihat Kevin G. Barnhurst dan John Nerore. AuJournalism HistoryAy dalam Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. 20 McGoldrick menyatakan Auconflict is not the same as violenceAy. Violence pun ada beberapa jenis yaitu direct violence . ndividuals or groups intending to hurt/kill people seperti hitting, beating, stabbing, shooting, bombing, rapin. , cultural violence . mages and stories which justify or glorify violence seperti hate speech, xenophobia, persecution complex, myths and legends of war heroes, religious justifications for war, chosenness, gender violence, civilisational arroganc. , dan stryctural violence . uilt in to custom, practice and organisation. System based on exploitation et. McGoldrick juga menyederhanakan bagaimana sebuah kekerasan dapat bekerja dalam psikis manusia -human psyche. Lihat Annabel McGoldrick dan Jake Lynch. AuPeace Journalism: What is it? How to Do it?Ay. Repoting the World, 2000, 6-11. 21 Tom E. Rolnicki . Dow Tate, dan Sherri A. Taylor. Scholastic Journalism: Pengantar Dasar Jurnalisme (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2. , 12. 22 McGoldrick mengatakan Auconflicts can be positive and constructive by opening avenues of change if managed effectivelyAy lihat Annabel McGoldrick dan Jake Lynch. AuPeace Journalism: What is it? How to Do it?Ay, loc. , hlm. mengenai kedekatan baik secara geografis maupun minat, akan semakin terhujam dalam daya-tarik perhatian audience. Kemampuan dalam memahami dan mencermati sebuah informasi harus sejalan dengan common sense, dengan kejelian dalam melihat mainstream dan antimainstream sebuah informasi akan membawa pada penyajian informasi secara fairness-cover both side. Kelaikan dalam menjaga jarak dan dengan memilah informasi dari opini dan emosi jurnalis menjadi bagian krusial dan integral dalam proses peliputan dan pengolahan informasi, selain tanggung jawabnya dalam membuat informasi menjadi menarik, fresh, dan hangat. Berita dan Media Berita merupakan anak kandung jurnalisme,23 sebuah seni komunikasi antara media jurnalisme dengan audience yang disampaikan melalui pelbagai macam bentuk baik melalui tulisan dalam media cetak, 24 melalui tulisan, audio, dan visual dalam media elektronik seperti media online, maupun siaran dan tayangan program siaran televisi atau radio. Jurnalisme diikenal juga dengan sebutan form of communication, model of communication, dan act of communication. 25 Jurnalisme sendiri memiliki batasan pengertian sebagaimana yang dikatakan Harcup sebagai sebuah bentuk komunikasi yang berdasarkan pada pertanyaan dan jawaban dari pertanyaan who, what, where, when, why, dan how. Jurnalisme dikenal sejak saat manusia merasa membutuhkan membagi informasi mengenai diri mereka kepada orang lain,27 jika meminjam bahasa King a hunger for 28 Jurnalisme memiliki genrenya tersendiri seperti yang diklasifikasikan oleh Barnhurst dan Nerone, ada genre jurnalisme yang membidik biografi biograpfical-focused, membidik secara komprehensif comprehensive-focused, membidik suatu peristiwa atau kejadian tertentu event-focused, dan membidik suatu gambaran tertentu image-focused. Varian lain dari dunia jurnalisme yang mengkhususkan pada pola tertentu yaitu investigative journalism yang membidik tindakan tidak etis -unethical, immoralitas immorality, dan prilaku menyimpang -illegal behaviour aparat pemerintahan -pejabat 23 AuJournalism is simply the system societies generate to supply. newsAy Bill Kovach dan Thomas (To. Rosenstiel. The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect, op. , hlm. 24 Rudin mengatakan bahwa jenis tulisan antara koran dan majalah berbeda karena disesuaikan dengan konteks, pembaca, spesialisasi, editorial control, kepemilikan media , faktor komersial dan Rudin juga membagi ke dalam dua cara membedakan tulisan tersebut yaitu diary events dan off-diary events baik pada koran maupun majalah. Poin penting dalm proses penulisan baik koran maupun majalah diantaranya jenis tulisan typefaces, text boxes and justification . entre, right, left alignment dan justifie. , white space, cplour, pictures, headlines, dan captions. Lihat Richard Rudin dan Trevor Ibbotson. An Introduction to Journalism: Essential Techmiques and Background Knowledge, op. , hlm. & 80-89. 25 Beberapa fungsi jurnalisme diantaranya memberi informasi -to inform, mendidik -to educate, memberi hiburan -to entertain, dan melaksanakan kontrol sosial -social control. Lihat Sedia Willing Barus. Jurnalistik. Petunjuk Teknik Menulis Berita (Jakarta: Erlangga, 2. , 16-18. 26 Asakitikpi memberi pengertian terhadap jurnalisme sebagai Auas a form of communication based on asking and answering the questions who, what, where, when, why, and how?Ay lihat Aretha Asakitikpi. Ben U. Nwanne. Chidinma H. Onwubere, dan Chsristine I. Ofulune. AuInvestigative and Interpretative ReportingAy, loc. , hlm. 27 Zelizer mengatakan dalam Jorgensen dan Hanitzsch Aujournalism has been around since people recognize a need to share information about themselves with ohersAy. Lihat Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. Maxwell King dalam Bill Kovach dan Thomas (To. Rosenstiel. The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect, op. , hlm. 29 Kevin G. Barnhurst dan John Nerore dalam Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. negara, politisi, dan kalangan khusus -private citizen. 30 Konten yang termuat di dalam jurnalisme di antaranya krisis global -global crisis, terorisme dan konflik -terrorism and conflict, perubahan iklim -climate change, kemiskinan dan penyakit -poverty and disease, dan lain sebagainya mengharuskan media jurnalisme melakukan penguraian guna mendapatkan pemahaman yang lebih mudah bagi audience -melakukan breakdown- dan sekaligus menjadi pengawas watchdog yang berperan sebagaimana Jurnalisme selaiknya sebuah koin yang memiliki dua sisi yang berbeda -tetapi dapat disinonimkan pula dengan saling melengkapi, binary oposition jika meminjam bahasanya Cixous-31 yang memiliki kemampuan untuk menampilkan informasi dalam dua wajah berbeda. Potensi tersebut sangat mungkin untuk dilakukan dengan konsekuensi logis terhadap adanya daya tarik dan efek berita bagi audience sesuai dengan yang diharapkan. Relasi antara jurnalisme dan audience menciptakan kondisi inner-dialectical tergantung pada kebutuhan apa yang akan dipenuhi, dikurangi, bahkan diabaikan oleh masing-masing pihak kepada pihak lain. Peran strategis tersebut dapat menciptakan kondisi kondusif antara kedua belah pihak atau mungkin sampai pada kondisi saling melumpuhkan. Tingkat kecepatan dan kemudahan dalam mengakses berita yang dipublikasi melalui pelbagai media menambah deras arus informasi yang sulit dibendung dihentikan, tidak berjalan beriringan dengan kemampuan audience dalam menyeleksi dan menyortir arus informasi tersebut. Integritas personal jurnalis dan media turut menjadi tolok ukur akurasi faktual sebuah berita, hal ini merupakan kabar baik dan menunjukkan bahwa tingkat kesadaran audience dalam mencermati diversitas content medium sebuah berita mulai tumbuh. Kesadaran ini menjadi salah satu key-point yang akan membantu audience dalam proses penerimaan dan pencernaan informasi secara cover both side. Mengingat bahwa berita merupakan produk personal seorang jurnalis -individual product- dan produk media massa yang bersifat organisatoris organizational product32 yang sangat rentan terhadap distorsi. Publikasi suatu berita memiliki inter-relasi dengan jumlah ruang publikasi yang dipersilakan media, hal itu pula berlaku apakah sebuah berita akan menjadi headline dan apakah akan disajikan secara singkat atau panjang lebar. Di dalam proses pengolahan informasi, media massa mempertimbangkan mengenai pemilahan prioritas informasi yang relevan atau penting untuk diketahui -impact refers to the relevance of a story to an audienceAos life33 oleh audience, kendatipun dalam hal ini mungkin audience tidak tertatik karena semata-mata mempertimbangkan bahwa berita tersebut mengandung nilai berita -news value and content, to inform people and 30 Kovach dan Rosenstiel. The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect yang dikutip oleh Ongowo. Lihat Jim Onyango Ongowo. AuEthics of Investigative JournalismAy. Institute of Communication Studies The University of Leeds, 2015, 4. 31 Konsep binary oposition pada awalnya merupakan term yang diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure yaitu binary combination. Terminologi tersebut digunakan dalam struktur-struktur kesadaran pengetahuan dan dipakai dalam ragam kajian lainnya seperti kajian postcolonialism binary oposition membagi dunia menjadi dua kategori dimana salah satunya lebih baik-unggul dari yang lain. Ferdinand de Saussure. Course in General Linguistics (New York: Philosophical Library, 1. , 50. Dalam literary criticism istilah binary oposition dipopulerkan oleh Helene Cixous, lihat Elizabeth Kowaleski Wallace. Encyclopedia of Feminist Literary Theory (New York: Routledge, 2. , 62. Lee B. Becker dan Tudor Vlad. AuNews Organizations and RoutinesAy, dalam Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. 33 Lihat Aretha Asakitikpi. Ben U. Nwanne. Chidinma H. Onwubere, dan Chsristine I. Ofulune. AuInvestigative and Interpretative ReportingAy, loc. , hlm. break important news. 34 Kondisi sebaliknya dapat berlaku pula, media massa dapat mempublikasi sebuah berita yang menarik bagi audience, kendatipun nilai berita di dalamnya tidak menduduki urgensi yang masif dan krusial. Dalam proses inilah tingkat kapabilitas seorang jurnalis bergerak menembus batasan tersebut. Dalam fungsi dan tanggung jawabnya, seorang jurnalis dibebani tugas memberi pemahaman informasi yang diberitakan tanpa berusaha memaksakan pandangan opini, emosi personal- kepada audience. Praktik ini mendekatkan perspektif yang fair, cover both side, tidak arogan, dan tentunya menjauhkan dari kolonisasi sudut pandang Profesionalisme dalam proses pengolahan informasi tersebut melahirkan atraksi relativitas yang menyuguhkan pelbagai konsepsi yang berbeda terhadap suatu fakta, realitas, dan kebenaran. Pluralitas kebenaran tersebut akan sangat membantu audience dalam mengaburkan keyakinan bahwa tidak ada kebenaran superior atau inferior di atas kebenaran yang lain -kebenaran tunggal. Hal itu bermakna bahwa profesionalisme akan membantu meringankan beban audience dalam proses pemilahan dan resepsi informasi yang diterimanya. Reporter atau hunter bukanlah satu-satunya subjek yang memiliki peran penting dalam siklus informasi, misalnya peran editor copyreader, dan media planer menjadi kunci utama apakah sebuah informasi laik dipublikasikan menjadi sebuah berita atau tidak -fit to print. Editor -news editor- akan memainkan perannya dalam pemilahan informasi tersebut sesuai dengan kebijakan media. 35 Seorang editor selaiknya memiliki pemahaman terhadap ide utama dan fokus informasi, serta selektif terhadap waktu -timeliness- yaitu merujuk pada kemampuan sebuah berita untuk dapat dimanfaatkan dalam pemenuhan kebutuhan audience. Selain itu, seorang editor selaiknya juga memiliki kemampuan untuk menarik minat audience, oleh karena itu pemahaman terhadap kebijakan media, akurasi faktual, dan demografi audience menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari kapabilitas seorang editor. Media memiliki kemampuan untuk memilih bagaimana sebuah informasi akan disajikan pada audience secara luas, pilihan tersebut dapat berupa penyajian informasi secara imparsial, dewasa, informatif, nonsensasional atau bahkan secara parsial, emosional, persuasif, dan sensasional. Pilihan tersebut sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kebijakan yang dimiliki oleh masing-masing media. Sudut pandang berita -news angel- yang dipilih dan digunakan seorang jurnalis turut menggambarkan posisi berdiri jurnalis tersebut dan menentukan arah bidikan anak panah informasi yang hendak ditujunya -selecting and shaping the small amount of information that become news. 36 Dengan demikian sudah menjadi kelaikan bagi audience untuk menyertakan kesadaran dengan keterbukaan pikiran dan sikap kritisnya terhadap informasi yang diterima. Rudin mengatakan bahwa jurnalisme memegang peran yang sangat penting yang mampu mempengaruhi sudut pandang -vision du monde-, bahkan tingkah laku manusia -individual maupun sosial. 37 Akan tetapi dalam praktiknya, audience dalam House mengatakan Aujournalists have the responsibility to inform people and break important news storiesAy. Lihat Megan L. House dan Karin Viet. AuJournalism Basics: Reporting Current Events Through a Timeliness Worldview Au. Institute for Excellence in Writing, 2011, 5. 35 Salah satu fungsi journalisme menurut Rudin adalah Auact in the interest of a wider audienceAy. Lihat Richard Rudin dan Trevor Ibbotson. An Introduction to Journalism: Essential Techmiques and Background Knowledge, op. , hlm. 36 Bahkan Shoemaker. Vos, dan Reese menyatakan adanya proses yang tidak sederhana di dalamnya Au. process of selecting, writing, editing, positioning, scheduling, repeating, and otherwise massaging information to become newsAy. Lihat Pamela J. Shoemaker. Tim P. Vos, dan Stephen D. Reese. AuJournalists as Gatekeepers, dalam Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. 37 Au. Journalism also has an important influence in their view and attitudeAy Lihat Richard Rudin dan Trevor Ibbotson. An Introduction to Journalism: Essential Techmiques and Background Knowledge, , hlm. masyarakat modern sudah mulai menyadari dengan merespon, berinovasi, melakukan eksperimen, dan merekontekstualisasikan berita dalam pelbagai cara. 38 Keterbukaan akses secara lebar tersebut turut melahirkan kompetisi pada masing-masing media baik sesama media dalam satu arena seperti antar media cetak, bahkan melebar kepada kompetisi media antar arena seperti media elektronik seperti media online dan program siaran televisi atau radio. Audience: Pemikat dan Penikmat Ketertarikan audience terhadap suatu berita secara emosional atau ketertarikan secara pikiran melahirkan genre berita yang disebut hard news dan soft news. Dua jenis berita tersebut membidani lahirnya orientasi dan impact yang hendak dicapai oleh masing-masing jenis berita tersebut. Deliverabilitas pesan informatif akan mudah diterima audience berdasarkan ketertarikan audience secara personal terhadap suatu 39 Istilah bagi audience berbeda-beda karena tergantung melalui media apa audience mengakses berita, ada yang populer dengan istilah pembaca -reader, pendengar atau pemirsa -listeners, dan viewer yang erat kaitannya dengan media elektronik seperti media online. 40 Dalam arus informasi yang masif dan serba cepat ini, kegiatan mempublikasikan informasi tidak sekadar menjadi tugas seorang jurnalis, tetapi juga perlahan masyarakat -terutama masyarakat citizen- mulai melakukan aktivitas publikasi informasi selaiknya seorang jurnalis, kendatipun standardisasi akurasi faktual, keseimbangan, atau kode etik yang berlaku dalam dunia jurnalisme tidak menjadi krusial bahkan mungkin tidak berlaku dalam prosesnya. Dalam dunia kekinian, segmentasi audience menjadi ukuran suatu media masa dalam mempublikasikan informasi yang hendak disebarluaskan. Segmentasi tersebut dapat berupa interest dan taste audience yang sangat dipengaruhi oleh preferensi personal, tingkat pendidikan, gaya hidup, dan bagaimana audience mengakses informasi -demografi audience. Audience memiliki daya magnitude yang sangat kuat bagi media massa42 mengingat potensi dan peran yang dimilikinya, sehingga akan sangat mempengaruhi sebuah media massa untuk melakukan peliputan berita yang pada akhirnya memiliki relevansi dengan pendapatan media massa dari iklan. Daya tarik audience tersebut secara tidak langsung menambah vitalitas dan warna terhadap informasi yang dipublikasi oleh media massa, bahkan seringkali mengorbarkan fairness-cover both side dan objektifvitas44 sebuah berita, hal ini banyak terjadi pada media massa yang dilatari oleh depedensi terhadap kepentingan 38 Jennifer Alejandro. AuJournalism in the Age of Social MediaAy, loc. , hlm. 39 Jika meminjam bahasa Rosenstiel Aupeople have an instrinsic need, an intrinsic to know what is occurring beyond their direct experienceAy lihat Bill Kovach dan Thomas (To. Rosenstiel. The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect, op. 40 Lihat Jennifer Alejandro. AuJournalism in the Age of Social MediaAy, loc. , hlm. White mengatakan Aueveryone is a journalist and a publisherAy. Lihat Aidan White. The Ethical Journalism Initiative: To Tell You the Truth, op. , hlm. 42 Rudin mengingatkan bahwa peran audience menjadi begitu penting dalam relasi media dan audience, karena berhubungan dengan eksistensi media, seperti dalam kutipan berikut Authe question of trust seems crucial here: if the public dont believe what they read, see, and hear from the journalistic media, then the whole basis of journalism would seem to be underminedAy. Lihat Richard Rudin dan Trevor Ibbotson. An Introduction to Journalism: Essential Techmiques and Background Knowledge, op. , hlm. 43 Misalnya dalam journalism education Josephi mengatakan Authe key question in journalism education to this day is whether journalism should be regarded as atrade or a professionAy. Lihat Beate Josephi. AuJournalism Education: Journalism -Trade or PrAy dalam Karin Wahl-Jorgensen dan Thomas Hanitzsch. The Handbook of Journalism Studies, op. , hlm. 44 Konsep truth dan reality tidak bisa dipisahkan dengan objektivitas, lihat Charlotte Wien. AuDefining Objectivity within Journalism: An OverviewAy, loc. , hlm. tertentu -padahal dalam dunia jurnalististik sifatnya sin qua non. 45 Fairness-cover both side, keberimbangan -balance, otonomi dan independensi autonomy & independence,46 dan akurasi ini juga yang pada akhirnya menempatkan media pada taste dan kelas tertentu. 47 Akurasi tersebut tidak hanya berdasar pada fakta, tetapi juga current issues yang disebut dengan currency. 48 Media yang mengabaikan unsur tersebut hanya membutuhkan waktu untuk kematian dininya. Bentuk antisipasi yang dapat dilakukan oleh audience adalah dengan memberikan ruang tidak hanya pada satu sumber informasi karena akan mencegah dari informasi yang tidak berimbang, akurasi faktual lemah, dan tendensi yang menuntun audience pada titik yang diinginkannya. Hubungan baik antara jurnalis dan audience sangat penting untuk mengurangi gap kesalahpahaman informasi yang ungkin terjadi, audience tidak hanya menjadi subjek yang harus memenuhi tugasnya untuk membeli produk jurnalistik, log-on pada suatu website tertentu, atau sekadar menjadi pemirsa dan pendengar dari suatu program siaran tertentu,49 tetapi juga menjadi subjek yang menikmati sajian yang disuguhkan oleh jurnalisme. Tidak dapat disangkal bahwa jurnalisme memberi kontribusi besar terhadap kemajuan dalam pelbagai bidang kehidupan, limpahan informasi yang disajikan dapat menjadi pemicu perkembangan selanjutnya -bahkan White mengatakan jurnalisme selaiknya sebuah cahaya. 50 Kontribusi pengetahuan, wawasan, dan informasi yang disajikan dengan gaya dan warna yang sarat nilai dan informatif membantu mempermudah audience dalam memahami kompleksitas 1kehidupan -help people better understand the complex world. Kesimpulan Dari catatan penulis di atas, sedikit memberi gambaran bahwa kesadaran seorang jurnalis dan audience dalam berhadapan dengan informasi -juga berita di dalamnyamenempati titik krusialnya. Bahwa elemen-elemen yang saling berpautan dan bergelantungan diantara dua relasi tersebut tidak dapat diabaikan, hasrat untuk mengenalinya menjadi alasan mengapa audience masih membutuhkan informasi dari media massa dan mengapa media massa masih menjadikan audience sebagai hasrat Setidaknya harapan untuk menyuguhkan gagasan-gagasan yang bertebaran dalam literatur yang tak terhingga jumlahnya untuk menjadi sebuah catatan ringkas ini melahirkan arena bagi penulis untuk setidaknya merubah-rubah kata -changing the words, bukan dunia -changing the world. Daftar Pustaka: