Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. p-ISSN: 2798-3188, e-ISSN: 2798-0316 || http://bk. id/index. php/chr DOI: https://doi. org/ 10. 24036/0001342chr2025 Received (October 21st 2. Accepted (November 22nd 2. Published (December 30th 2. Expressive arts therapy in group counseling: a systematic literature review Gusni Dian Suri*). Neviyarni S. Netrawati Netrawati. Rezki Hariko Universitas Negeri Padang. Indonesia *Corresponding author, e-mail: gusnidians@fip. Abstract Expressive arts therapy, is a therapeutic approach that has been increasingly applied in various educational and mental health contexts. However, studies that specifically and systematically examine the application of expressive arts therapy within group counseling settings remain limited. This study aims to map and synthesize existing research findings on expressive arts therapy in the context of group counseling through a Systematic Literature Review (SLR). A total of 53 scholarly articles published between 2015 and 2025 were analyzed based on predefined inclusion and exclusion criteria. Bibliometric analysis using VOSviewer was conducted to identify thematic patterns, research trends, and conceptual linkages among topics. The findings indicate that previous studies have predominantly focused on creative arts therapy, expressive interventions, and psychosocial outcomes, while integration with the theoretical frameworks and practices of group counseling remains suboptimal. From a methodological perspective, most studies employed qualitative approaches, pilot studies, and program evaluations, whereas experimental studies and systematic reviews specifically addressing expressive arts therapy in group counseling are still scarce. These findings indicate the absence of an integrated model that incorporates expressive arts therapy into group counseling. This study therefore contributes by highlighting the need for the development of a more systematic and contextually grounded group counseling model based on expressive arts therapy. Keywords:. Expressive arts therapy, konseling kelompok, creative arts therapy, dinamika kelompok dan systematic literature review. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. A2025 by author. Pendahuluan Konseling kelompok merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memanfaatkan interaksi antar anggota kelompok untuk membantu individu memahami diri, mengembangkan keterampilan sosial, serta mengatasi permasalahan psikososial (Corey, 2016. Gladding, 2016. Prayitno, 2. Keberhasilan konseling kelompok sangat dipengaruhi oleh pendekatan yang digunakan konselor dalam menciptakan suasana aman, mendorong keterbukaan, dan memfasilitasi keterlibatan aktif anggota kelompok (Jacobs et al. , 2016. Yalom & Leszcz, 2. Oleh karena itu, pendekatan yang mampu menjangkau aspek emosional dan pengalaman subjektif peserta menjadi semakin dibutuhkan dalam praktik konseling kelompok. Dalam praktiknya, pelaksanaan konseling kelompok sering menghadapi kendala berupa keterbatasan kemampuan anggota dalam mengungkapkan emosi dan pengalaman personal secara Kondisi ini umumnya muncul pada tahap awal pembentukan kelompok atau ketika anggota berhadapan dengan pengalaman yang bersifat kompleks dan sensitif. Keterbatasan ekspresi verbal tersebut dapat menghambat keterlibatan anggota, memperlambat terbentuknya kohesi kelompok, serta Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. membatasi kedalaman proses konseling (Yalom & Leszcz, 2. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan konseling yang mampu menjangkau pengalaman emosional anggota kelompok melalui cara-cara yang lebih fleksibel dan tidak hanya bergantung pada komunikasi verbal. Salah satu pendekatan yang berkembang untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah expressive arts Pendekatan ini memanfaatkan berbagai media seni, seperti seni rupa, musik, gerak, drama, dan tulisan, sebagai sarana ekspresi emosi dan pengalaman batin yang sulit disampaikan melalui kata-kata (Knill et al. , 2005. Malchiodi, 2. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa expressive arts therapy berkontribusi terhadap peningkatan kesadaran diri, regulasi emosi, serta kesejahteraan psikologis dalam konteks pendidikan dan kesehatan mental (Stuckey & Nobel, 2010. Haeyen et al. , 2018. Kaimal et al. , 2. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa pendekatan ini memiliki potensi untuk mendukung proses konseling yang lebih reflektif dan bermakna. Namun kajian mengenai expressive arts therapy hingga saat ini masih lebih banyak ditempatkan dalam kerangka creative arts therapy secara umum atau difokuskan pada intervensi individual dan konteks klinis. Penelitian yang secara khusus mengintegrasikan expressive arts therapy ke dalam kerangka teoretis dan praktik konseling kelompok masih relatif terbatas. Akibatnya, keterkaitan antara penggunaan media seni dengan dinamika kelompok, tujuan konseling kelompok, serta peran konselor dalam memfasilitasi proses kelompok belum banyak dikaji secara mendalam (Gladding, 2016. Yalom & Leszcz, 2. Penelitian-penelitian yang sudah ada didominasi oleh pendekatan kualitatif, studi percontohan, dan evaluasi program (McNiff, 2014. Kapitan, 2. Sementara itu, penelitian dengan desain eksperimental yang kuat maupun kajian sistematis yang secara spesifik menempatkan expressive arts therapy sebagai pendekatan dalam konseling kelompok masih relatif sedikit. Kondisi ini menunjukkan bahwa dasar empiris yang mendukung integrasi expressive arts therapy dalam konseling kelompok belum terbangun secara optimal. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa masih terdapat kesenjangan penelitian terkait integrasi expressive arts therapy dalam konseling kelompok, baik dari sisi konseptual maupun metodologis. Padahal, pendekatan ini berpotensi memperkaya dinamika kelompok, meningkatkan keterlibatan anggota, serta mendukung proses refleksi dan perubahan psikologis secara lebih mendalam (Gladding, 2016. Yalom & Leszcz, 2. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian yang mampu memetakan dan mensintesis hasil-hasil penelitian yang telah ada secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan Systematic Literature Review terhadap studi-studi yang membahas expressive arts therapy dalam konteks konseling kelompok. Kajian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai perkembangan penelitian, kecenderungan metodologis, serta peluang pengembangan model konseling kelompok berbasis expressive arts therapy yang lebih sistematis dan kontekstual. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. untuk memastikan proses identifikasi, seleksi, dan pelaporan artikel dilakukan secara transparan dan sistematis (Page et , 2. Pendekatan SLR digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mensintesis temuan penelitian yang relevan mengenai expressive arts therapy dalam konteks konseling kelompok (Aromataris & Pearson, 2014. Pollock & Berge, 2. Fokus penelitian ini adalah kajian expressive arts therapy dalam konteks konseling kelompok. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data Scopus dengan bantuan platform penelusuran referensi Watase (UAKe. sebagai alat pendukung untuk pencarian artikel, pelacakan sitasi, dan identifikasi artikel relevan berdasarkan kata kunci yang telah Artikel yang disertakan merupakan publikasi ilmiah dan diseleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi: . artikel jurnal ilmiah yang mebahas expressive arts therapy, . artikel tersedia dalam teks lengkap, . artikel diterbitkan pada periode 2015-2025. Analisis data dilakukan melalui pemetaan bibliometrik menggunakan VOSviewer untuk mengidentifikasi tema dan kecenderungan penelitian. Expressive arts therapy in group counseling: a systematic A Suri. , et al 73 Research Question RQ1: Apa saja tema utama yang muncul dalam penelitian mengenai expressive arts therapy dalam konteks konseling kelompok? RQ2: Bidang atau aspek apa saja yang masih kurang dieksplorasi dan berpotensi dikembangkan dalam penelitian selanjutnya terkait expressive arts therapy dalam konseling kelompok? Prism Procedure Prosedur seleksi artikel dalam penelitian ini mengikuti pedoman PRISMA. Proses identifikasi dilakukan melalui basis data Scopus dengan bantuan platform penelusuran referensi Watase (UAKe. menggunakan kata kunci expressive arts therapy, creative arts therapy, expressive arts counseling, emotional expression group, dan group counseling intervention. Gambar 1. Diagram Alir PRISMA http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Pada tahap identifikasi awal, diperoleh 469 artikel. Selanjutnya, 12 artikel duplikat dihapus, 180 artikel dieliminasi secara otomatis berdasarkan kriteria tahun publikasi . 5Ae2. , 33 artikel dikeluarkan yang tidak relevan dengan konteks konseling kelompok atau tidak memenuhi kriteria metodologis dasar, dan 30 artikel tanpa abstrak tidak dilanjutkan ke tahap penyaringan. Tahap skrining menghasilkan 214 artikel, yang kemudian diseleksi pada tahap kelayakan. Sebanyak 160 artikel tidak berhasil diperoleh dalam teks lengkap, dan 1 artikel dikeluarkan karena alasan metodologis. Dengan demikian, 53 artikel dinyatakan memenuhi kriteria dan dimasukkan dalam tinjauan sistematis. Alur seleksi ini disajikan pada Gambar 1 (Diagram Alir PRISMA). Database Resources Sumber data penelitian ini diperoleh dari basis data Scopus yang diakses melalui Watase (UAKe. sebagai platform pendukung pencarian literatur, pelacakan sitasi, dan identifikasi artikel relevan. Penggunaan Watase (UAKe. difokuskan sebagai alat bantu teknis untuk mempermudah pengelolaan referensi dan pemetaan awal publikasi yang sesuai dengan kata kunci penelitian. Selection Criteria Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi: . artikel jurnal internasional bereputasi, . membahas expressive arts therapy atau pendekatan seni ekspresif dalam konteks konseling kelompok, . tersedia abstrak dan teks lengkap, serta . diterbitkan dalam rentang tahun 2015Ae2025. Artikel diseleksi berdasarkan relevansi judul, abstrak, dan kesesuaian metodologi dengan fokus penelitian. Dari keseluruhan artikel yang teridentifikasi, sebanyak 53 artikel memenuhi kriteria dan dianalisis lebih Data Extraction Strategy Data dari artikel terpilih diekstraksi secara sistematis untuk menjawab pertanyaan penelitian. Informasi yang dikaji meliputi tujuan penelitian, konteks konseling kelompok, pendekatan expressive arts therapy yang digunakan, serta temuan utama. Selanjutnya, data dianalisis secara sintesis tematik dan diperkuat melalui pemetaan bibliometrik menggunakan VOSviewer untuk mengidentifikasi pola, tema dominan, dan kecenderungan penelitian. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dirancang untuk menjawab dua tujuan utama, yaitu: . mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dalam penelitian empiris mengenai expressive arts therapy dan creative arts therapy, serta, . mengungkap bidang penelitian yang masih kurang dieksplorasi dan memerlukan perhatian lebih dalam studi mendatang. Tema utama yang diuji dalam Penelitian Subjek utama dalam kajian ini direpresentasikan melalui kata kunci yang berkaitan dengan expressive arts therapy, creative arts therapy, expressive arts counseling, emotional expression group, dan group counseling Tingkat kemunculan bersama . o-occurrenc. antar kata kunci digunakan untuk mengidentifikasi area penelitian yang telah berkembang secara intensif. Kata kunci dengan frekuensi kemunculan tinggi diperlakukan sebagai indikator tema penelitian yang dominan . an Eck & Waltman. Dengan menggunakan perangkat lunak VOSviewer, analisis dilakukan secara bertahap dengan meningkatkan ambang batas kemunculan kata kunci hingga diperoleh struktur jaringan yang stabil dan Karena expressive arts therapy dan art therapy merupakan istilah pencarian inti dalam studi ini selama periode 2015-2025, hasil analisis menunjukkan bahwa perhatian penelitian selama periode analisis terutama terfokus pada intervensi terapeutik berbasis seni dan keterkaitannya dengan kondisi kesehatan mental. Expressive arts therapy in group counseling: a systematic A Suri. , et al 75 Gambar 2. Peta Visualisasi Jaringan Kemunculan Bersama Kata Kunci yang Paling Sering Muncul Berdasarkan Gambar 2, peta jaringan kemunculan bersama seluruh kata kunci menunjukkan bahwa penelitian dalam bidang expressive arts therapy memiliki tema yang saling berkaitan. Hal ini menandakan bahwa kajian expressive dan creative arts therapy berkembang secara lintas disiplin, melibatkan psikologi, terapi klinis, konseling, serta penelitian berbasis seni. Analisis jaringan kata kunci menggunakan VOSviewer memungkinkan pengelompokan tema penelitian berdasarkan frekuensi dan kekuatan keterkaitan antar kata kunci . an Eck & Waltman, 2. Klaster yang paling dominan berpusat pada kata kunci art therapy, yang memiliki ukuran node terbesar dan keterhubungan luas dengan kata kunci lain seperti music therapy, dance therapy, psychology, dan depression. Temuan ini menunjukkan bahwa penelitian expressive arts therapy masih didominasi oleh pendekatan klinis, khususnya penggunaan seni sebagai intervensi untuk menangani masalah kesehatan mental, terutama depresi. Beberapa penelitian menyatakan bahwa art therapy, music therapy, dan dance movement therapy efektif dalam menurunkan gejala depresi, membantu regulasi emosi, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis (Malchiodi, 2012. Slayton et al. , 2010. Koch et al. , 2. Klaster berikutnya berpusat pada creative arts therapy dan creative art therapy yang berkaitan erat dengan kata kunci autism. Hal ini menunjukkan bahwa creative arts therapy banyak diterapkan pada individu dengan kebutuhan khusus. Seni dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi nonverbal dan media untuk mengekspresikan emosi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat meningkatkan interaksi sosial, kemampuan komunikasi, dan keterlibatan emosional pada individu dengan autisme dan gangguan perkembangan lainnya (Gold et al. , 2006. Schweizer et al. Klaster lain yang cukup menonjol adalah creativity in counseling, yang terhubung dengan kata kunci counseling, creative approaches, dan arts. Klaster ini menggambarkan penggunaan seni dalam layanan bimbingan dan konseling, tidak hanya sebagai teknik terapi, tetapi juga sebagai pendekatan untuk pengembangan diri dan refleksi pengalaman individu. Penggunaan seni dalam konseling dapat membantu klien mengekspresikan perasaan, meningkatkan kesadaran diri, serta memperkuat hubungan konselor dan konseli (Gladding, 2. Posisi klaster ini yang berada di tengah jaringan menunjukkan perannya sebagai penghubung antara pendekatan klinis dan pendekatan perkembangan atau edukatif. http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Selain itu, terdapat klaster metodologis yang ditandai oleh kata kunci expressive arts therapy, artsbased research, dan arts-based inquiry. Klaster ini menunjukkan berkembangnya penelitian yang menggunakan seni tidak hanya sebagai intervensi, tetapi juga sebagai metode penelitian. Pendekatan penelitian berbasis seni memungkinkan peneliti menggali pengalaman individu secara lebih mendalam melalui simbol dan proses kreatif, terutama dalam penelitian kualitatif (McNiff, 2008. Leavy, 2. Namun demikian, keterkaitan klaster ini dengan klaster utama masih relatif terbatas, yang menunjukkan bahwa pendekatan arts-based research belum banyak terintegrasi dalam penelitian klinis arus utama. Klaster kecil seperti art therapy in prison dan art robots berada di bagian tepi jaringan dengan keterhubungan yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian expressive arts therapy dalam konteks pemasyarakatan dan penggunaan teknologi masih bersifat awal dan belum banyak dikaji. Meskipun demikian, beberapa studi menunjukkan bahwa art therapy di lembaga pemasyarakatan dapat membantu meningkatkan regulasi emosi dan kesejahteraan psikologis warga binaan, serta teknologi berpotensi membuka inovasi baru dalam praktik terapi seni (Gussak, 2007. Kapitan et al. Secara keseluruhan, menunjukkan bahwa penelitian expressive arts therapy masih berfokus pada pendekatan klinis berbasis art therapy dan kesehatan mental. Sementara itu, kajian yang mengaitkan expressive arts therapy dengan konseling, penelitian berbasis seni, serta konteks non-klinis dan inovatif masih terbatas. Temuan ini menunjukkan adanya peluang penelitian selanjutnya untuk memperkuat integrasi antara pendekatan klinis, konseling, dan arts-based inquiry guna memperluas kontribusi teoretis dan praktis bidang expressive arts therapy. Temuan-temuan deskriptif tersebut selanjutnya dibahas dengan menempatkan expressive arts therapy secara lebih spesifik dalam konteks konseling Discussion: Implications for Group Counseling Hasil analisis bibliometrik menunjukkan bahwa penelitian expressive arts therapy masih didominasi oleh pendekatan klinis dan berorientasi pada intervensi individual, khususnya dalam konteks kesehatan Dominasi klaster art therapy serta keterkaitannya dengan kata kunci seperti depression dan mental health mengindikasikan bahwa terapi seni lebih sering diposisikan sebagai intervensi klinis dibandingkan sebagai pendekatan yang terintegrasi dalam layanan konseling kelompok (Malchiodi. Slayton et al. , 2010. Koch et al. , 2. Pola ini sejalan dengan kecenderungan umum dalam literatur terapi seni yang menempatkan seni sebagai sarana pemulihan klinis individual, terutama dalam konteks psikopatologi. Dalam perspektif konseling kelompok, temuan tersebut mengungkap adanya kesenjangan antara potensi expressive arts therapy dan pemanfaatannya dalam dinamika kelompok. Konseling kelompok menekankan interaksi antaranggota, kohesi kelompok, serta proses belajar interpersonal sebagai mekanisme utama perubahan psikologis (Yalom & Leszcz, 2020. Corey, 2. Media seni dalam expressive arts therapy berpotensi berfungsi sebagai sarana ekspresi simbolik bersama, fasilitasi interaksi kelompok, dan refleksi kolektif, sebagaimana ditegaskan dalam pendekatan expressive arts yang menempatkan proses kreatif sebagai pengalaman relasional, bukan sekadar ekspresi individual (Knill et al. , 2005. McNiff, 2. Namun demikian, aspek-aspek kelompok tersebut belum banyak menjadi fokus eksplisit dalam penelitian yang ada. Selain itu, sintesis lintas studi menunjukkan bahwa peran konselor dalam expressive arts therapy masih lebih sering dipahami sebagai terapis klinis dibandingkan sebagai fasilitator dinamika kelompok. Padahal, dalam konteks konseling kelompok, konselor memiliki peran strategis dalam mengelola proses kreatif secara kolektif, menjaga keamanan emosional kelompok, serta mengaitkan aktivitas seni dengan tujuan dan tahapan konseling kelompok (Jacobs et al. , 2016. Yalom & Leszcz, 2. Gladding . menegaskan bahwa penggunaan seni dalam konseling kelompok menuntut kompetensi fasilitasi Expressive arts therapy in group counseling: a systematic A Suri. , et al 77 kelompok, bukan hanya penguasaan teknik seni, agar aktivitas kreatif dapat berkontribusi secara optimal terhadap proses kelompok. Temuan ini menegaskan perlunya pergeseran fokus penelitian dari pendekatan klinis individual menuju pengembangan kerangka konseling kelompok berbasis expressive arts therapy. Pendekatan tersebut perlu memposisikan seni bukan sekadar sebagai teknik tambahan, tetapi sebagai bagian integral dari dinamika kelompok dan mekanisme perubahan terapeutik, seperti kohesi kelompok, dukungan sosial, dan refleksi bersama (Yalom & Leszcz, 2020. Gladding, 2. Dengan demikian, expressive arts therapy berpotensi dikembangkan sebagai pendekatan konseling kelompok yang sistematis dan kontekstual, bukan hanya sebagai intervensi terapeutik individual berbasis seni. Gambar 3. Peta Visualisasi Jaringan Kemunculan Bersama Kata Kunci untuk Semua Kunci Gambar 4. Peta Visualisasi Kepadatan Kata Kunci untuk Semua Kunci http://bk. id/index. php/chr Counseling & Humanities Review Vol. No. 2, 2025, pp. Hasil visualisasi overlay menggunakan VOSviewer menunjukkan bahwa penelitian tentang expressive arts therapy pada periode analisis berkembang dalam beberapa arah tematik. Pada fase awal . itunjukkan oleh warna biru hingga ung. , fokus penelitian lebih banyak diarahkan pada art therapy dalam konteks psikologi klinis, khususnya terkait dengan depression dan masalah kesehatan mental. Pada tahap ini, terapi seni diposisikan sebagai bentuk intervensi psikologis yang bertujuan mengurangi gejala depresi serta meningkatkan regulasi emosi individu (Malchiodi, 2012. Slayton et al. , 2. Selanjutnya, pada periode perkembangan berikutnya . arna hija. , penelitian mulai meluas dengan munculnya kata kunci seperti creative arts therapy, music therapy, dan dance therapy. Perkembangan ini menunjukkan adanya perluasan pendekatan terapi seni ke berbagai modalitas kreatif, serta penerapannya pada populasi yang lebih beragam, termasuk individu dengan kebutuhan khusus seperti Studi-studi pada fase ini menekankan peran seni sebagai media komunikasi nonverbal dan sarana penguatan interaksi sosial serta ekspresi emosi (Gold et al. , 2006. Schweizer et al. , 2. Pada tahap yang lebih baru . arna hijau hingga kunin. , mulai muncul kata kunci seperti intervention, affect regulation, outcome, dan expressive arts, yang menunjukkan pergeseran fokus penelitian ke arah evaluasi efektivitas intervensi dan pemahaman mekanisme perubahan psikologis. Selain itu, kemunculan kata kunci creativity in counseling, arts-based research, dan arts-based inquiry menandakan meningkatnya perhatian terhadap penerapan expressive arts therapy dalam konteks konseling dan penelitian berbasis seni, tidak hanya dalam setting klinis tetapi juga dalam ranah pengembangan diri dan refleksi pengalaman (Gladding, 2016. McNiff, 2008. Leavy, 2. Meskipun penelitian expressive arts therapy terus berkembang, hasil visualisasi menunjukkan bahwa kajian yang secara khusus mengaitkan pendekatan ini dengan konseling kelompok . roup counselin. masih relatif terbatas. Padahal, expressive arts therapy memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam konseling kelompok karena mampu memfasilitasi ekspresi emosi, interaksi antaranggota, serta dinamika kelompok secara lebih mendalam melalui media seni. Oleh karena itu, penelitian mendatang perlu diarahkan pada pengembangan dan pengujian model konseling kelompok berbasis expressive arts therapy yang terstruktur dan kontekstual. Penelitian selanjutnya dapat berfokus pada efektivitas expressive arts therapy dalam konseling kelompok untuk meningkatkan regulasi emosi, keterampilan sosial, kelekatan kelompok, dan kesejahteraan psikologis peserta. Selain itu, kajian empiris yang mengevaluasi outcome konseling kelompok, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, masih sangat diperlukan untuk memperkuat bukti ilmiah pendekatan ini. Penggunaan desain kuasi-eksperimen atau mixed methods dalam konteks konseling kelompok di sekolah, perguruan tinggi, maupun komunitas dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai dampak intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa expressive arts therapy memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut, khususnya mengkaji penerapan expressive arts therapy dalam konseling kelompok dengan mempertimbangkan konteks budaya dan karakteristik kelompok, mengingat proses kreatif dan makna simbolik dalam seni sangat dipengaruhi oleh latar budaya. Dengan demikian, pengembangan konseling kelompok berbasis expressive arts therapy tidak hanya berkontribusi pada penguatan praktik konseling yang inovatif, tetapi juga memperluas pemahaman teoretis mengenai peran seni dalam dinamika kelompok dan proses perubahan psikologis. Simpulan Berdasarkan hasil Systematic Literature Review dan analisis bibliometrik, penelitian ini menunjukkan bahwa kajian expressive arts therapy masih didominasi oleh pendekatan klinis yang berorientasi pada intervensi individual, terutama dalam konteks kesehatan mental. Sementara itu, penelitian yang secara eksplisit mengintegrasikan expressive arts therapy ke dalam kerangka teoretis dan praktik konseling kelompok masih relatif terbatas. Temuan ini menegaskan adanya kesenjangan antara potensi Expressive arts therapy in group counseling: a systematic A Suri. , et al 79 pendekatan seni ekspresif dan pemanfaatannya dalam dinamika kelompok serta mekanisme perubahan psikologis berbasis interaksi antaranggota. Kontribusi ilmiah utama artikel ini terletak pada penyediaan sintesis konseptual yang memosisikan expressive arts therapy secara lebih jelas dalam konteks konseling kelompok. Melalui pemetaan tematik lintas studi, penelitian ini mengidentifikasi elemen-elemen kunci integrasi expressive arts therapy dalam konseling kelompok, meliputi fungsi media seni sebagai sarana ekspresi dan refleksi kolektif, peran konselor sebagai fasilitator proses kreatif dan dinamika kelompok, serta keterkaitan aktivitas seni dengan mekanisme perubahan kelompok seperti kohesi, interaksi interpersonal, dan dukungan sosial. Sintesis ini memberikan dasar teoretis awal bagi pengembangan kerangka konseling kelompok berbasis expressive arts therapy, sekaligus menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya untuk mengembangkan dan menguji model konseling kelompok yang lebih sistematis, empiris, dan kontekstual. Referensi