Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 HUBUNGAN PEKERJAAN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PREMATUR DI RUMAH SAKIT UMUM DEWI SARTIKA KOTA KENDARI Winartin1. Wa Ode sri Kamba Wuna2*. Ano Luthfa3 STIKes Pelita Ibu * waodesrikambawuna543@gmail. Received: 11-03-2024 Revised: 11-05-2024 Approved: 25-05-2024 ABSTRACT Background: Preterm birth, defined as delivery before 37 weeks of gestation, is a leading cause of neonatal mortality and long-term morbidity. Maternal employment status and parity have been identified as contributing factors. Objective: This study aimed to analyze the relationship between maternal employment and parity with preterm birth occurrence at Dewi Sartika General Hospital. Kendari City. Methods: This analytical study employed a cross-sectional approach. The population and sample consisted of 79 mothers who delivered prematurely at Dewi Sartika General Hospital during 2018-2022, selected using total sampling method. Secondary data were obtained from medical records and analyzed using univariate and bivariate analyses with Chi-Square test at 0. 05 significance level. Results: The majority of mothers experiencing preterm birth were aged 20-35 years . 9%), primipara . 6%), high school educated . 4%), and employed . 6%). Preterm classification was most dominant . 4%). Significant associations were found between employment status and preterm birth classification . = 0. , and between parity and preterm birth classification . = 0. Working mothers tended to experience more severe preterm births . ery preter. , while high-risk parity . rimipara and multipara Ou. was associated with increased severe preterm Conclusion: Maternal employment and parity have significant associations with preterm birth occurrence. Prevention strategies should consider maternal workload and provide education regarding pregnancy risks based on parity. Promotive and preventive interventions in healthcare facilities are essential to reduce preterm birth incidence. Keywords: Preterm birth, maternal employment, parity, high-risk pregnancy PENDAHULUAN Persalinan prematur merupakan persalinan yang terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu hingga kurang dari 37 minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir (Saifuddin, 2. Meskipun penyebab persalinan prematur sering kali tidak diketahui secara pasti, beberapa faktor diketahui turut berperan, seperti kondisi ibu, janin, dan plasenta, serta faktor lingkungan seperti status sosial ekonomi dan psikososial (Hariyani. Nyoman Murti, & Wijayanti, 2. Berbagai komplikasi kehamilan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, seperti preeklamsia berat, ketuban pecah dini, perdarahan antepartum seperti plasenta previa atau abruptio plasenta, infeksi, anemia, hingga gaya hidup ibu seperti kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol. Selain itu, stres kerja, interval kehamilan yang terlalu dekat, dan status gizi ibu . isalnya kurang energi kroni. juga menjadi faktor risiko Ketidakseimbangan hormonal akibat stres psikis dapat menyebabkan gangguan implantasi embrio dan perkembangan plasenta, yang akhirnya memicu Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 kontraksi dini dan persalinan prematur (Ansari T. , 2. Dampak dari persalinan prematur cukup kompleks. Bayi yang lahir prematur berisiko mengalami gangguan organik, membutuhkan perawatan intensif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih rendah. Bahkan, kelangsungan hidup bayi baru lahir prematur sangat dipengaruhi oleh usia gestasi dan berat lahir (Ida Rahmawati et al. , 2. Kelahiran prematur menjadi penyumbang utama Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia, dengan 72,0% kematian balita terjadi pada masa neonatal . sia 0Ae28 har. Selain BBLR, penyebab lain seperti asfiksia, infeksi, dan kelainan bawaan juga mendominasi penyebab kematian bayi (Profil Kesehatan Indonesia, 2. Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa jumlah persalinan prematur terus meningkat selama lima tahun terakhir, dari 2,23% pada tahun 2018 menjadi 3,27% pada tahun 2022. Di RSUD Bahteramas, tren kelahiran prematur cukup tinggi meskipun mengalami penurunan, yakni dari 28,77% pada 2020 menjadi 13,47% pada 2022. Sedangkan di RSU Dewi Sartika Kota Kendari, kasus kelahiran prematur juga menunjukkan peningkatan, dari 0,63% pada tahun 2018 menjadi 1,96% Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hariyani dkk. menunjukkan bahwa usia, paritas, dan anemia berhubungan signifikan dengan kelahiran prematur di RSUD Soreang. Kabupaten Bandung. Penelitian lain oleh Rosyidah dkk. juga menemukan hubungan antara usia ibu dan persalinan prematur di RS Panembahan Senopati. Yogyakarta. Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara pekerjaan dan paritas dengan kejadian persalinan prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis survei analitik dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor risiko dalam hal ini pekerjaan dan paritas ibu dengan kejadian persalinan prematur. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Dewi Sartika Kota Kendari pada bulan Januari 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan prematur berdasarkan rekam medis antara tahun 2018 hingga 2022 sebanyak 79 orang yang juga dijadikan sebagai sampel menggunakan metode total sampling (Sugiyono 2. Data yang digunakan bersifat sekunder dan diperoleh melalui telaah dokumen rekam medis menggunakan instrumen berupa formulir ceklist observasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square dengan taraf signifikansi = 0,05 untuk menguji hubungan antar variabel (Sutriyawan 2021 Arikunto 2. Data kemudian diolah melalui proses coding editing scoring dan tabulasi untuk selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan tabel silang. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Karakteristik Responden Karakteristik Umur Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Kelompok Umur Jumlah . Persentase (%) < 20 Tahun 20-35 Tahun > 35 Tahun Total Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Berdasarkan Tabel 1, distribusi umur responden menunjukkan bahwa mayoritas ibu yang mengalami kelahiran prematur berada pada kelompok umur reproduktif sehat . -35 tahu. sebanyak 60 orang . ,9%). Kelompok umur > 35 tahun menunjukkan proporsi sebesar 12,7% . , sementara kelompok umur < 20 tahun memiliki proporsi 11,4% . Karakteristik Paritas Tabel 2. Distribusi Responden Berdasarkan Paritas di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Paritas Jumlah . Persentase (%) Paritas I Paritas II Paritas i Paritas Ou IV Total Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa primipara (Paritas I) memiliki proporsi tertinggi dalam kejadian kelahiran prematur dengan 40 kasus . ,6%), diikuti oleh multipara grand (Paritas Ou IV) sebanyak 27 kasus . ,2%). Paritas II dan i menunjukkan proporsi yang relatif rendah, masing-masing 8 kasus . ,1%) dan 4 kasus . ,1%). Karakteristik Pendidikan Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Tingkat Pendidikan Jumlah . Persentase (%) SMP SMA Diploma/Perguruan Tinggi Total Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Tabel 3 memperlihatkan bahwa responden dengan pendidikan SMA mendominasi kasus kelahiran prematur dengan 43 kasus . ,4%), diikuti oleh pendidikan Diploma/Perguruan Tinggi sebanyak 20 kasus . ,3%). Responden dengan pendidikan SMP berjumlah 11 orang . ,9%), sedangkan pendidikan SD memiliki proporsi terendah yaitu 5 orang . ,3%). Karakteristik Pekerjaan Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Status Pekerjaan di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Status Pekerjaan Jumlah . Persentase (%) Ibu Rumah Tangga (IRT) PNS/Pegawai Swasta Wiraswasta Total Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Berdasarkan Tabel 4, responden yang bekerja sebagai PNS/Pegawai Swasta Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 menunjukkan proporsi tertinggi yaitu 35 orang . ,3%), diikuti oleh ibu rumah tangga sebanyak 24 orang . ,4%), dan wiraswasta sebanyak 20 orang . ,3%). Distribusi ini mencerminkan bahwa ibu yang bekerja di sektor formal memiliki akses yang lebih baik terhadap pelayanan kesehatan rujukan. Analisis Univariat Klasifikasi Kelahiran Prematur Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Klasifikasi Kelahiran Prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Klasifikasi Prematur Jumlah . Persentase (%) Preterm . -36 mingg. Very Preterm . -31 mingg. 3 Extremely Preterm (<28 mingg. Total Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Tabel 5 menunjukkan bahwa klasifikasi preterm . -36 mingg. mendominasi kasus kelahiran prematur dengan 39 kasus . ,4%), diikuti oleh very preterm . -31 mingg. sebanyak 27 kasus . ,2%), dan extremely preterm (<28 mingg. sebanyak 13 kasus . ,5%). Distribusi ini sesuai dengan pola epidemiologis kelahiran prematur di mana kasus preterm lebih sering terjadi dibandingkan dengan kasus yang lebih severe. Kategori Risiko Berdasarkan Paritas Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Risiko Paritas di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Kategori Risiko Paritas Jumlah . Persentase (%) Risiko Tinggi Risiko Rendah Total Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Berdasarkan Tabel 6, mayoritas responden termasuk dalam kategori risiko tinggi berdasarkan paritas, yaitu sebanyak 67 orang . ,8%), sedangkan yang termasuk kategori risiko rendah hanya 12 orang . ,2%). Kategori risiko tinggi meliputi primipara dan multipara grand (Ou. , sedangkan risiko rendah adalah paritas 2-3. Tingginya proporsi risiko tinggi menunjukkan pentingnya perhatian khusus pada kelompok ini dalam pencegahan kelahiran prematur. Status Pekerjaan (Dikategorika. Tabel 7. Distribusi Responden Berdasarkan Status Bekerja di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Status Pekerjaan Jumlah . Persentase (%) Bekerja Tidak Bekerja Total Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Tabel 7 memperlihatkan bahwa responden yang bekerja memiliki proporsi lebih tinggi yaitu 55 orang . ,6%) dibandingkan dengan yang tidak bekerja sebanyak 24 orang . ,4%). Kategorisasi ini diperoleh dengan menggabungkan PNS/Pegawai Swasta dan Wiraswasta ke dalam kategori "Bekerja", sedangkan Ibu Rumah Tangga masuk kategori "Tidak Bekerja". Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Analisis Bivariat Hubungan Status Pekerjaan dengan Klasifikasi Kelahiran Prematur Tabel 8. Hubungan Status Pekerjaan dengan Klasifikasi Kelahiran Prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Status Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Klasifikasi Prematur Total p-value Preterm Very Preterm Extremely Preterm ,2%) 25 . ,5%) ,4%) ,0%) ,0%) ,3%) ,7%) ,0%) 0,002 Total ,4%) 27 . ,2%) ,5%) ,0%) Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Uji Statistik: Chi-Square Test Hasil analisis pada Tabel 8 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status pekerjaan dengan klasifikasi kelahiran prematur . = 0,002 < 0,. Pada kelompok ibu yang bekerja, proporsi tertinggi terjadi pada klasifikasi very preterm . ,5%), diikuti oleh preterm . ,2%) dan extremely preterm . ,4%). Sebaliknya, pada kelompok ibu yang tidak bekerja, proporsi tertinggi terjadi pada klasifikasi preterm . ,0%), dengan very preterm hanya 8,3% dan extremely preterm 16,7%. Pola distribusi ini mengindikasikan bahwa ibu yang bekerja memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kelahiran prematur yang lebih severe . ery preter. , kemungkinan berkaitan dengan stress pekerjaan, aktivitas fisik berlebihan, atau kurangnya waktu istirahat selama kehamilan. Hubungan Paritas dengan Klasifikasi Kelahiran Prematur Tabel 9. Hubungan Kategori Risiko Paritas dengan Klasifikasi Kelahiran Prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Tahun 2018-2022 Klasifikasi Prematur Kategori Risiko Total p-value Preterm Very Preterm Extremely Preterm Risiko Tinggi 29 . ,3%) 25 . ,3%) 13 . ,4%) 67 . ,0%) 0,041 Risiko Rendah 10 . ,3%) 2 . ,7%) 0 . ,0%) 12 . ,0%) Total ,4%) 27 . ,2%) ,5%) ,0%) Sumber: Data sekunder yang telah diolah, 2023 Uji Statistik: Chi-Square Test Tabel 9 menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kategori risiko paritas dengan klasifikasi kelahiran prematur . = 0,041 < 0,. Pada kelompok risiko tinggi, distribusi klasifikasi prematur relatif merata dengan preterm . ,3%), very preterm . ,3%), dan extremely preterm . ,4%). Pada kelompok risiko rendah, mayoritas kasus terjadi pada klasifikasi preterm . ,3%) dan very preterm . ,7%), tanpa ada kasus extremely preterm . ,0%). Temuan ini menunjukkan bahwa paritas risiko tinggi . rimipara dan multipara gran. tidak hanya meningkatkan risiko kelahiran prematur, tetapi juga berkontribusi terhadap terjadinya kelahiran prematur yang lebih severe. Hal ini dapat disebabkan oleh faktor anatomi dan fisiologi pada primipara, serta komplikasi kehamilan yang meningkat pada multipara grand seperti hipertensi gestational dan diabetes mellitus Pembahasan Hubungan Pekerjaan dengan Kejadian Prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 79 ibu yang mengalami persalinan prematur, sebagian besar . ,6%) berasal dari kelompok ibu bekerja (PNS, swasta, atau wiraswast. , sementara 30,4% lainnya merupakan ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Tabel 4. 8 memperlihatkan bahwa dari 55 ibu bekerja, mayoritas . ,5%) mengalami very preterm birth . sia kehamilan 28Ae31 mingg. Sebaliknya, dari 24 ibu tidak bekerja, sebagian besar . %) mengalami preterm birth pada usia kehamilan 32Ae36 Hasil uji FisherAos Exact menunjukkan nilai p-value sebesar 0,002 (< 0,. , menandakan adanya hubungan signifikan antara pekerjaan ibu dengan kejadian persalinan prematur. Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa pekerjaan berat, aktivitas fisik tinggi, dan stres kerja berkorelasi dengan peningkatan risiko persalinan prematur. Aktivitas kerja yang menuntut, seperti berdiri lama, angkat beban, atau jam kerja melebihi 7 jam per hari, dapat meningkatkan kadar prostaglandin yang memicu kontraksi uterus lebih awal (Sulistyawati, 2. Selain itu, pekerjaan dengan tekanan psikologis tinggi berisiko menurunkan suplai nutrisi ke janin dan mengganggu sirkulasi darah plasenta, sehingga memperbesar peluang terjadinya kelahiran prematur (Manuaba, 2017. Hariyani et al. Penelitian ini juga sejalan dengan studi Antari . yang menunjukkan proporsi persalinan prematur lebih tinggi pada ibu yang bekerja dibandingkan ibu yang tidak bekerja, meskipun tidak ditemukan hubungan signifikan dalam kasus kelahiran Hasil ini menegaskan pentingnya pengaturan beban kerja selama kehamilan guna mencegah kejadian persalinan prematur. Hubungan Paritas dengan Kejadian Prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 79 ibu yang mengalami persalinan prematur, sebanyak 84,8% termasuk dalam kategori risiko tinggi . aritas Ou. , sementara sisanya . ,2%) tergolong risiko rendah. Berdasarkan Tabel 4. 9, dari 67 ibu dengan paritas tinggi, mayoritas . ,3%) mengalami preterm birth . sia kehamilan 32Ae 36 mingg. Begitu pula pada 12 ibu dengan paritas rendah, sebagian besar . ,3%) juga mengalami preterm birth dalam rentang usia kehamilan yang sama. Uji FisherAos Exact menghasilkan nilai signifikansi 0,041 (< 0,. , yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara paritas dengan kejadian persalinan prematur. Secara fisiologis, paritas tinggi diketahui dapat menyebabkan penurunan elastisitas otot rahim dan serviks akibat kehamilan berulang, yang pada akhirnya mengganggu kemampuan rahim dalam mempertahankan janin hingga cukup bulan (Hariyani et al. , 2. Proses persalinan yang terlalu sering dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan rahim dan menyebabkan gangguan pada sirkulasi darah ke Selain itu, kerusakan serviks yang disebabkan oleh manipulasi obstetri sebelumnya seperti kuretase atau dilatasi serviks dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur spontan (Qisti et al. , 2. Penelitian ini selaras dengan hasil studi Kartakusuma . yang menemukan hubungan signifikan antara paritas tinggi dan persalinan prematur di RSUD Provinsi NTB. Peneliti berasumsi bahwa baik paritas rendah . arena kurangnya pengalaman merawat kehamila. maupun paritas tinggi . arena penurunan fungsi reproduks. sama-sama berkontribusi terhadap peningkatan risiko persalinan prematur. Oleh karena itu, paritas harus diperhatikan sebagai faktor penting dalam upaya pencegahan komplikasi kehamilan, khususnya kejadian persalinan KESIMPULAN Hasil uji fisherAos exact untuk variabel pekerjaan diperoleh p-value 0,002<0,05 maka H0 ditolak Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan ada hubungan pekerjaan dengan kejadian persalinan prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari. Hasil uji fisherAos exact untuk variabel paritas diperoleh p-value 0,041<0,05 maka H0 ditolak Ha diterima, sehingga dapat disimpulkan ada hubungan paritas dengan kejadian persalinan prematur di RSU Dewi Sartika Kota Kendari. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 DAFTAR PUSTAKA