Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi Anggota Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir Desa Marindal I. Patumbak. Deli Serdang Putri Dewi Utami1. Nispul Khoiri2. Erwan Efendi3 1,2,3 Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan. Indonesia Email : putridewiutami@gmail. com1, nispulkhoiri@uinsu. id2, erwanefendi@uinsu. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui problematika yang terjadi di dalam meningkatkan partisipasi anggota majelis taklim Nur Hasanah Hilir Desa Marindal I Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang dan mengetahui upaya apa saja dalam mengatasi problematika yang ada di dalam majelis taklim Nur Hasanah Hilir. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan memperoleh data dari lapangan dan dianalisis menggunakan fakta dan keadaan di lapangan kemudian dibentuk menjadi teori atau kalimat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Hasil penelitian ini adalah problematika dalam bidang kehadiran, problematika dalam bidang materi pembelajaraan, problematika dalam bidang media pembelajaran, problematika dalam bidang pembayaran iuran/arisan. Adapun upaya dalam mengatasi problematikaproblematika tersebut yaitu: memberikan pemahaman kepada anggota majelis taklim agar lebih giat menghadiri kegiatan pelaksanaan majelis taklim sebagai wadah silaturahmi, memberikan materi yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari, melengkapi media di majelis taklim, memberikan pemahaman untuk rajin membayar iuran/arisan. Kata kunci: Majelis Taklim. Partisipasi Anggota. Problems in Increasing the Participation of Taklim Council Members Nur Hasanah Hilir Marindal I Village. Patumbak. Deli Serdang Abstract This study aims to determine the problems that occur in increasing the participation of members of the taklim assembly of Nur Hasanah Hilir. Marindal I Village. Patumbak District. Deli Serdang Regency and find out what efforts are made to overcome the problems that exist in the taklim assembly of Nur Hasanah Hilir. This type of research is qualitative research by obtaining data from the field and analyzing it using facts and conditions in the field which are then formed into theories or sentences. This study uses a qualitative descriptive approach by collecting data through interviews, observation and documentation. The data sources in this study consist of two primary data sources and secondary data sources. The results of this study are problems in the field of attendance, problems in the field of learning materials, problems in the field of learning media, problems in the field of payment of contributions/arisan. The efforts to overcome these problems are: providing understanding to members of the taklim assembly so that they are more active in attending the implementation of the taklim assembly as a forum for hospitality, providing material according to daily needs, completing media in the taklim assembly, providing an understanding to be diligent in paying dues /lottery club. Keywords: Taklim Assembly. Member Participation. || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety PENDAHULUAN Islam adalah agama risalah untuk manusia. Umat manusia adalah pendukung amanah untuk meneruskan risalah dakwah baik sebagai umat kepada umat-umat yang lain ataupun selaku perorangan, di tempat manapun mereka berada dan menurut kemampuannya masing-masing (Alawiyah, 1997: . Islam menetapkan umatnya untuk menyerukan dan melaksanakan agama Allah Swt dan Rasulnya, bahwa Islam merupakan agama dakwah. Agama yang berarti ada cara untuk menyebarluaskan kebenaran dan mengajak manusia untuk melaksanakan apa yang menjadi perintah dan laranganNya. Dakwah merupakan kewajiban yang wajib bagi seluruh umat Islam dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, bahkan dakwah menjadi tugas rutin dan berkesinambungan dari masa ke masa (Anshari, 1993: . Banyaknya istilah yang semakna dengan dakwah menunjukkan bahwa manusia harus senantiasa diseru, diajak, dibimbing, diberikan nasihat dan diperingatkan agar hidupnya terencana sesuai dengan tuntunan Allah Swt dan Rasul seperti yang termaktub di dalam Alquran dan sunnah. Allah Swt telah memberi kehidupan kepada manusia, kemudian Allah pula yang menyeru manusia dalam menjalani kehidupannya sesuai dengan petunjuk Alquran guna memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dakwah pada dasarnya ialah usaha untuk menyebarkan, melestarikan dan membumikan ajaran Islam, sehingga Islam tidak terasing dalam kehidupan umat. Untuk cepat terwujudnya tujuan itu, perlu dirumuskan format baru dalam pelaksanaan dakwah yaitu majelis taklim. Menurut Hasbullah . 9: . , majelis taklim merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua, yang telah dipraktikkan sejak zaman Rasulullah Saw. Meski tidak nyata dengan sebutan majelis taklim, namun pengajian pada zaman Muhammad Saw, di tempat tinggal Al-Kham bin Abi Al-Kham bisa disebut sebagai majelis taklim dalam konteks kekinian, meski tidak spekulatif seperti yang dikenal saat ini karena ajaran Islam secara bertahap disampaikan kepada umat Islam. Majelis taklim merupakan sebagai tempat atau lembaga pendidikan informal yang ada di masyarakat yang tumbuh dan berkembang dari kalangan masyarakat. Mengkaji, mendalami, serta mengetahui ilmu pengetahuan perihal agama Islam yang kepentingannya untuk kemaslahatan masyarakat. Biasanya pengajian-pengajian ini dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga yang menggunakan waktu dan kesempatannya untuk belajar bersama-sama di masjid. Oleh karena itu majelis taklim menjadi salah satu bentuk organisasi dakwah sebagai sentra pembelajaran Islam (Islamic learning institutio. (Manik, 2022: 91-. Majelis taklim merupakan adanya interaksi komunikasi yang kuat antara masyarakat awam dengan para mualim, serta antara sesama anggota jamaah majelis taklim tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu. Majelis taklim menjadi lembaga pendidikan keagamaan yang tidak memiliki banyak tenaga, waktu dan kesempatan menimba ilmu agama di jalur pendidikan formal. Inilah yang menjadikan majelis taklim memiliki nilai karakteristik tersendiri dibanding lembaga-lembaga keislamaan lainnya. Majelis taklim juga begitu pesat di Indonesia karena mayoritas masyarakatnya ialah baragama Islam. Majelis taklim yang dimaksud ialah Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir Desa Marindal I Kecamatan Patumbak. Kelompok majelis taklim dengan pengikut anggotanya ialah kaum hawa . bu-ib. dengan tujuan menjalin hubungan silaturahmi di berbagai wilayah. Partisipasi anggota merupakan suatu hal yang penting dalam kegiatan. Sangat sulit mencapai tujuan program kegiatan tanpa adanya bantuan atau dukungan dari || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety anggota masyarakat. Semakin besar partisipasi anggota dalam melaksanakan program tersebut, kemungkinan akan berjalan dengan lancar pelaksanaan program tersebut lebih besar dan sebaliknya. Agar tercapainya atau terwujudnya keberhasilan program kerja yang dilaksanakan, jelaslah sangat diperlukan dan dituntut keterlibatan setiap anggotanya secara Pertemuan dan kegiatan yang dilakukan di majelis taklim tentu adanya problematika yang dihadapi oleh anggota pengajian ibu-ibu di majelis taklim Nur Hasanah Hilir Desa Marindal I dalam meningkatkan partisipasi anggota majelis taklim. Problematika tersebut ada bukan karna kemauan bagi pengurus serta para anggota nya, tetapi adanya kesenjangan atau ketidaksengajaan serta beberapa faktor yang tidak bisa dipungkiri. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang diteliti oleh Priyanto . , menjelaskan bahwa Majelis Taklim mempunyai tujuan membentuk masyarakat yang mengetahui ilmu agama namun dalam praktiknya masyarakat bersikap kurang antusias serta tidak terlalu memperhatikan sumber daya manusia dan sistematis materinya, oleh sebab itu masyarakat kurang memahami tentang peran kegiatan Majelis Taklim yang sesungguhnya. Majelis taklim di masyarakat mengungkapkan kebutuhan dan keinginan terhadap pendidikan agama Islam. Harapan masyarakat adalah melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah yang tidak bertentangan dengan agama, dan mengarah pada kehidupan yang lebih baik. Kenyataannya masyarakat ragu untuk menghadiri pertemuan majelis taklim karena mereka mengklaim bahwa kegiatan tersebut cukup membosankan. Bahkan, sudah menjadi kebiasaan di masyarakat saat ini bahwa kebanyakan masyarakat lebih suka menghadiri acara hiburan yang diiringi musik yang menarik daripada menghadiri pertemuan majelis taklim. Menurut peneliti terdahulu Syamsul . , menyatakan bahwa majelis taklim memiliki sistem organisasi yang struktur dimana dalam keanggotaannya memiliki ketua majelis taklim sebagai penanggung jawab dari kegiatan pengajian yang dilaksanakan. Dilihat dari keseharian pengajian dalam pembelajarannya terus-menerus hanya membaca yasin, ceramah tanya jawab dan sekali-sekali mengikuti dzikir akbar di berbagai daerah dan apabila dilihat dari segi fasilitasnya kurang memadai karena tidak adanya papan tulis dan alat pengeras yang tidak terlalu kuat suaranya ketika pembelajaran. Kegiatan pengajian ini di jadikan sebagai sarana penunjang untuk mendapatkan pendidikan agama di kalangan ibu-ibu dan bertujuan untuk membentuk kehidupan beragama yang bersifat ke agamaan terutama untuk anggota Majelis Taklim. Riset lain oleh Sunarti . mendapatkan hasil bahwa strategi yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi anggota majelis taklim Fastabiqul Khairat adalah dengan perumusan strategi pengenalan sasaran, pengkajian tujuan, efektivitas dan efisiensi. Bentuk partisipasi yang dilakukan bisa dengan berupa sumbangan finansial, berupa santunan, sumbangan fisik berupa pertemuan rutin dan aktif mengikuti kegiatan pelatihan vokasional. Sumbangan material diantaranya memberikan sumbangan atau bahan material bangunan untuk memperbaiki fasilitas umum terutama mesjid dan sumbangan moral yaitu diskusi tentang masalah keluarga dan pemecahannya. Majelis taklim Nur Hasanah Hilir berada di Desa Marindal I. Desa Marindal I kebanyakan dari masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang, ada juga beberapa masyarakatnya yang berprofesi sebagai karyawan. Desa Marindal I ini mayoritas penduduknya adalah Muslim, maka dari itu sangat dibutuhkan adanya perkembangan dari || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety ilmu keagamaan, pendidikan non formal dengan pengetahuan agama sehingga masyarakat Desa Marindal I masih ada ibu-ibu yang tidak begitu paham amalan sehari-hari dalam melaksanakan kewajiban dalam beragama. Dibentuknya majelis taklim ini sebagai sarana untukmenambah ilmu pengetahuan keagamaan dengan tujuan memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah. Kegiatan pengajian ini dilakukan sekali dalam satu minggu yaitu pada hari jumAoat dengan mendatangkan ustad sebulan sekali untuk memberikan ilmu pengetahuan keagamaan. Majelis taklim Nur Hasanah Hilir memiliki jamaah ibu-ibu yang tercatat sebanyak 80 orang, sedangkan yang hadir ketika pengajian berlangsung sekitar 50-55 orang. Namun persoalan dalam kegiatan majelis taklim adalah persoalan kehadirannya dalam mengikuti kegiatan keagamaan yang Oleh karena itu, partisipasi anggota majelis taklim dapat memengaruhi perkembangan jamaah majelis taklim Nur Hasanah Hilir yang berada di Desa Marindal I. Menurut Ibu Sri Wahyuni sebagai ketua majelis taklim menjelaskan bahwa sebelum menjadi ketua, majelis taklim tersebut belum memiliki AD-ART dan organisasinya belum tersusun secara terstruktur. Majelis taklim tidak memiliki variasi di dalamnya sehingga tidak terlihat perkembangan dan perubahan bagi masyarakat khususnya para ibu-ibu dalam bidang keagamaan seperti kurang lancar membaca Alquran dan bidang partisipasi lamban dalam pembayaran iuran. Faktor yang menjadi alasan lainnya tidak keseluruhan jamaah dapat hadir dalam majelis taklim karena beberapa anggota terdapat juga yang malas mengikuti pengajiannya karena faktor usia dan bekerja, sedangkan waktu pengajiannya setiap hari jumAoat pukul 00 WIB. Hasil observasi sementara, maka dapat peneliti temukan bahwa Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir melibatkan Ustad sebulan sekali sebagai penceramah serta memberi ilmu mengenai ajaran agama Islam. Keberadaan ustad yang terbatas dalam meningkatkan ilmu agama Islam, sehingga terdapat beberapa alasan ibu-ibu malu dalam membaca Alquran dan lamban dalam pembayaran iuran dikarenakan bekerja sehingga sebagian ibu-ibu tidak mau menghadiri kegiatan majelis taklim tersebut. Majelis taklim Nur Hasanah Hilir belum dimanfaatkan sepenuhnya oleh kaum ibuibu sebagai wadah kajian agama islam. Karena tujuan dari majelis taklim ini diharapkan menambah ilmu pengetahuan bagi para anggota, tetapi yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, bahkan menyebabkan kurang minat nya ibu-ibu dalam menghadiri kegiatan di majelis taklim. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian melalui penulisan artikel ilmiah yang berjudul Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi Anggota Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir Desa Marindal I Kecamatan Patumbak Kabupaten Deli Serdang. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi deskriptif. Alasan mendasar penggunaan metode ini ialah sesuai dengan upaya peneliti untuk mendeskripsikan tingkat partisipasi masyarakat Muslim Desa Marindal I dalam kegiatan majelis taklim. Informan penelitian meliputi kaum ibu majelis taklim, ketua majelis taklim, dan juga masyarakat sekitar Desa Marindal I. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya, data dianalisa menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan (Assingkily, 2. Akhirnya, || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety data dinyatakan absah apabila sudah memenuhi kriteria kredibilitas, kapabilitas, dependatabilitas dan konfirmabilitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Berdirinya Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir Setiap makhluk pasti memiliki sejarah hidupnya masing-masing, baik dari segi masa lalu yang baik dan juga masa lalu yang buruk sehingga ada yang mendorong untuk menjadi lebih baik dari yang sebelumnya sesuai perkembangan zaman, begitu juga dengan majelis taklim Nur Hasanah Hilir. Beberapa puluh tahun yang lalu. Desa Marindal I tergolong dengan masyarakatnya yang masih awam dalam bidang ilmu keagamaan, sehingga sangat dibutuhkan adanya pengajian tersebut untuk membimbing masyarakat awam untuk mengetahui perkembangan ilmu keagamaan untuk menghadapi suatu kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa Majelis taklim Nur Hasanah Hilir berada di Desa Marindal I Kecamatan Patumbak didirikan dengan kesederhanaan yang terbentuk oleh kuatnya ikatan silahturahmi dengan rahmat dan juga semangat dari para purna yang berjuang untuk mendirikan pengajian ini. Awal mula berdirinya majelis taklim ini didirikan oleh ibu Ikem pada tahun 1980an dan diikuti oleh ibu-ibu yang berada di pasar 7 dan 8 Desa Marindal I. Seiring perkembangan zaman, masyarakat semakin banyak yang mengikuti majelis taklim tersebut. Pada akhirnya majelis taklim ini pun di bentuk dalam 2 dua kelompok yaitu Majelis Taklim Nur Hasanah Hulu untuk masyarakat yang tinggal di pasar 7 dan Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir untuk masyarakat yang tinggal di pasar 8. Desa Marindal I khususnya pasar 8 ini masih kebanyakan masyarakatnya awam atau tingkat ilmu pengetahuan yang rendah dibidang ilmu keagamaan. Sehingga dibentuklah majelis taklim Nur Hasanah Hilir dengan mengadakan pengajian setiap satu kali dalam seminggu, yang dilakukan setiap hari jumAoat pukul 14. 00 secara bergilir dirumahrumah anggota dengan tujuan agar mengikat tali silaturahmi terhadap masyarakat penduduk di desa tersebut semakin dekat. Selain itu, kebutuhan ilmu pengetahuan keagamaan ini tentu sangat diperlukan oleh masyarakat setempat khususnya ibu-ibu sebagai madrasah untuk anak-anaknya. Rendahnya mengikuti majelis taklim ini dalam menambah wawasan pengetahuan keagamaan dikarenakan kesibukan ibu-ibu dalam kegiatan sehari-hari dalam mengurus rumah tangga, faktor usia dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam sehingga mereka lupa bahwa ada akhirat yang menjadi tujuan utama dalam menjalani kehidupan di dunia. Hal inilah yang memperkuat dilaksanakannya pengajian di majelis taklim Nur Hasanah Hilir. Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi Anggota Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir Problematika yang ada di penelitian ini adalah beberapa masalah yang terjadi di dalam kelompok majelis taklim dalam aktivitas pelaksanaannya. Problematika yang terjadi akan mengurangi kesuksesan dalam pelaksanaan sebuah majelis taklim. Dalam setiap kelompok ataupun organisasi tidak akan pernah jauh dari yang namanya persoalan ataupun Karena pada umumnya masalah itu akan terjadi dalam kondisi apapun. Namun masalah akan lebih meningkatkan kualitas jika diperbaiki dengan bijak dalam menyikapi || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety masalah-masalah yang terjadi. Ada beberapa penyebab yang membuat sebagian ibu-ibu tidak peduli lagi untuk menghadiri pengajian di majelis taklim Nur Hasanah Hilir, di Problematika dalam bidang kehadiran Kelompok organisasi adalah suatu kelompok yang memiliki ikatan yang kuat satu sama lain di dalam ikatan organisasi, karena dalam satu kelompok itu saling membutuhkan satu sama lain. Apabila salah satu bagian mengalami suatu masalah maka akan berpengaruh juga ke bagian yang lainnya. Namun apabila dalam satu kerja kelompok itu bekerja sama dengan baik maka akan mengatasi masalah dengan mudah. Berdasarkan hasil wawancara dengan sekretaris atau pengurus di majelis taklim Nur Hasanah Hilir. Beliau mengatakan: AuSaya lihat permasalahan yang ada di dalam bidang kehadiran kegiatan majelis taklim ini disebabkan karena sebagian anggota mengatakan alasan sibuk dengan mengurus rumah tangga dan berdagang, selanjutnya tidak bisa maksimal dalam membagi waktu untuk bisa ikut bergabung pengajian majelis taklim, selain itu juga dipengaruhi kurangnya daya tarik dari penyampaian materi dari ustadz yang bersangkutan sehingga kurangnya minat para anggota dalam menambah ilmu pengetahuan keagamaanAy (Hasil wawancara dengan ibu Umi Hajrah Lubis, 29 Juli 2022, pukul 15. 00 WIB). Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan ibu Sri Wahyuni. Ag. Beliau mengatakan: AuSaya melihat kehadiran anggota majelis taklim yang semakin berkurang bukan karena makan-makan yang ditiadakan, tetapi memang karena faktor kemalasan dari sebagian kawan-kawan, terutama di kalangan yang masih muda-muda, yang masih memiliki anak satu, dua dan tiga, mereka memang seolah tidak terlalu peduli dengan pengajian kami yang sekarangAy (Hasil wawancara dengan Ketua Majelis Taklim Nur Hasanah Hilir, 29 Juli 2022, pukul 19. 40 WIB) Selanjutnya wawancara dengan anggota yang tidak aktif di majelis taklim Nur Hasanah Hilir, beliau mengatakan: AuSaya tidak bisa setiap minggu mengikuti kegiatan majelis taklim Nur Hasanah Hilir dikarenakan saya pun buka warung kopi di rumah, saya pun tidak mempunyai kendaraan sehingga saya sangat sulit mengikuti kegiatan di majelis taklim iniAy (Hasil wawancara dengan ibu Sri Muna, 25 Juli 2022, pukul 14. 00 WIB) Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan, para anggota majelis taklim tidak serius dalam pelaksanaan kegiatan majelis taklim dikarenakan masih sibuk dengan kesibukannya masing-masing sehingga lebih memperkecil hubungan tali persaudaraan antar sesama. Anggota yang sering tidak hadir karena tidak ada kendaraan jika pengajiannya terlalu jauh, selain itu alasan yang paling umum adalah karena sibuk dengan pekerjaan yang lain, sehingga kurangnya minat belajar agama, dan sebagian ibu-ibu yang berdagang merasa tidak bisa ikut karena lelah ketika ingin mengikuti kegiatan majelis taklim. Dan terakhir ialah kurangnya rasa dan keinginan untuk mempelajari ilmu agama. || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Problematika dalam bidang materi pembelajaran Materi dalam menyampaikan ceramah adalah hal yang paling utama di dalam suatu majelis taklim karena itulah ilmu yang akan membuat para madAou menjadi manusia yang lebih baik dan bertakwa kepada Allah apabila yang disampaikan mereka Namun dalam penyampaian terjadi juga perbedaan pemahman dikarenakan faktor usia dan ilmu pengetahuan. Sebagaimana hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap anggota majelis taklim Nur Hasanah Hilir, beliau mengatakan: AuSaya terkadang tidak memahami apa yang disampaikan ustadznya, karen terkadang bahasa yang disampaikan sangat sulit untuk saya pahami, dan berhubung pendengaran saya juga sudah mulai kurang jadi kadang kadang saya tidak tau apa yang disampaikan dan juga karena kurangnya alat media, sepert alat tulis dan lain-lainAy (Hasil wawancara dengan Ibu Painten, 28 Juli 2022, pukul 17. 30 WIB). Selain itu masalah lain dari sebagian anggota pengajian Majelis Taklim Ibu-Ibu Nur Hasanah Hilir adalah mengenai dalil-dalil tentang apa yang disampaikan oleh daAoi. Karena sebagian ibu-ibu yang sudah lebih tinggi ilmunya sulit percaya dengan apa yang disampaikan tanpa pedoman yang sahih. Selanjutnya hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan anggota majelis taklim Nur Hasanah Hilir, beliau mengatakan: AuUstadz itu menyampaikan ceramah dengan kata-kata yang maknanya tinggi dan dalildalilnya juga tidak bisa kami pahami, sedangkan kami ibu-ibu disini semua masyarakat awam yang notabennya hanya ibu rumah tangga yang hanya tau tentang perdapuran sajaAy (Hasil wawancara dengan Ibu Sri Muna, 25 Juli 2022, pukul 14. 25 WIB). Hasil observasi peneliti. Ibu-ibu yang sudah mendekati usia lanjut, seorang daAoi kadang-kadang tidak mengulangi materi yang disampaikan sebelumnya untuk mempertajam daya ingat mereka dan materinya terlalu tinggi maknanya sehingga ibuibu yang awam tidak bisa memahami materi yang disampaikan. Materi yang diberikan oleh daAoi kepada para madAou anggota majelis taklim Nur Hasanah Hilir adalah mengenai seputar akidah, akhlak, syariah dan ibadah. Misalnya tentang muamalah terkadang mereka tidak memahami pembahasannya karena ustadznya tidak mengaitkannya dengan kejadian sehari-hari. Materi atau pesan dakwah yang disampaikan dalam pengajian tersebut sudah cukup baik untuk kalangan ibu-ibu, tetapi karena faktor usia terutama yang berusia 40 tahun ke atas sering lupa dengan pesan-pesan yang telah disampaikan, dan sulit memahami karena pendidikannya banyak yang masih rendah, rata-rata tamatan SD dan SMP sederajat menyebabkan mereka kurang mampu untuk memahami apa yang disampaikan, sehingga kemampuan daAoi dalam mengolah kalimat yang disampaikan sangat dibutuhkan agar mereka mudah memahami apa yang disampaikan. Pemahaman ustadz dalam menyampaikan materi kepada madAou sangat dibutuhkan baik dari segi kondisi ataupun keadaan yang ada pada madAou itu sendiri. Selain itu yang harus dilakukan ustadz adalah mennghubungkan materi yang disampaikan kedalam kehidupan mereka sehari-hari. || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Problematika dalam Bidang Media Pembelajaran Media pengajian adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dakwah yang telah ditentukan. Media dakwah atau sebagai perantara yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah kepada obyek dakwah atau sarana dakwah dalam pelaksanaan Majelis Taklim Ibu-ibu Nur Hasanah Hilir. Media yang dipakai didalam majelis taklim Nur Hasanah Hilir tempat perkumpulan para anggota pengajian tersebut, artinya perkumpulan para anggota pengajian itu dijadikan sebagai perantara untuk menyampaikan materi pengajian kepada anggota majelis taklim sementara media yang ada di majelis taklim itu belum memadai sebagaimana dinamakan majelis taklim pada umumnya ataupun masih banyak kekurangan dalam bidang media. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan ibu Painten, beliau mengatakan: AuSaya lihat peralatan dalam pengajian majelis taklim kami ini kurang lengkap dengan alat-alat seperti papan tulis, spidol, penggaris dan alat pengeras seadanya sehingga pada saat daAoi memberikan ceramah kurang efektif karena media yang terbatas, dikarenakan banyak ibu-ibu yang duduknya di luar, apabila dilengkapi dengan alat tulis, spidol dan penggaris akan lebih baik untuk memperkuat pemahaman bagi para anggota kan, karena kalau hanya ceramah saja tanpa catatan akan mengakibatkan kita sebagai anggotanya cepat lupa jika sarana dan prasarana di majelis taklim lengkap kami jadi lebih semangat lagi ikut dalam kegiatan majelis taklimAy (Hasil wawancara dengan Koordinator bidang Marhaban, 28 Juli 2022, pukul 17. 40 WIB). Observasi yang peneliti lakukan, problematika yang muncul atau sering terjadi karena organisasi perkumpulan pengajian ini belum dikelola dengan baik dan Contohnya penulis tidak menemukan adanya fasilitas yang memadai seperti, papan tulis, alat penggaris, dan pengeras suara seadanya, sehingga dalam pengajian mengalami pemahaman yang kurang baik dan mudah lupa dengan apa yang sudah disampaikan oleh daAoi atau pemateri. Problematika dalam Pembayaran Iuran/Arisan Di setiap organisasi, anggota diwajibkan untuk membayar uang iuran/arisan untuk membantu dan meringankan adanya hal-hal yang memberatkan anggota-anggota majelis taklim Nur Hasanah Hilir. Pembayaran iuran/arisan ini pun dikutip secara Begitu pun anggota majelis taklim masih ada saja yang telat dalam pembayaran uang iuran/arisan ini. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan, dengan ibu Israkiyah, beliau mengatakan: AuSelama saya diamanahkan menjadi bendahara, masalah hanya di pembayaran iuran/arisan. Saat ada anggota yang arisannya naik tetapi anggota tersebut belum membayar ataupun jarang datang maka uang arisannya ditahan dulu sampai anggota tersebut rajin mengikuti pengajian tiap minggunya. Saat ditagih uang iuran kebanyakan anggota yang tidak ada dirumah atau tidak ada uang lagi, padahal uang iuran itu ya untuk kebaikan bersama, jika ada orang sakit, kemalangan dan inventaris lainnya ya kita sebagai pengurus inti akan mengambil uang dari iuran tersebutAy (Hasil wawancara dengan bendahara di majelis taklim Nur Hasanah Hilir, 28 Juli 2022, pukul 17. WIB). || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Selanjutnya hasil wawancara yang peneliti lakukan, dengan ibu Sri Wahyuni, beliau mengatakan: AuPenyebabnya anggota yang sudah jarang ikut berpartisipasi dalam kegiatan pelaksanaan majelis taklim dari arisan yaitu anggota yang arisannya sudah naik, mungkin mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri dibanding dengan silaturahmi yang dijalin kepada sesama anggota majelis taklim Nur Hasanah Hilir dan adanya perbedaan pendapat oleh individu lainnyaAy (Hasil wawancara dengan Ketua majelis taklim Nur Hasanah Hilir, 29 Juli 2022, 19. 40 WIB). Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa, untuk mencapai tujuan organisasi, tidak jarang terjadi perbedaan persepsi atau pandangan di antara individu atau diantara kelompok individu dalam mengartikan misi organisasi sehingga menimbulkan pertentangan. Banyak yang menganggap bahwa masalah di dalam organisasi tidak dapat dihindari, masalah dapat memperjelas kekurangan organisasi. Masalah dapat dijadikan sebagai alat untuk melakukan perubahan sebagaimana kita ketahui masalah dapat menjadi positif sejauh ia memperkuat kelompok-kelompok dan menjadi negative sejauh ia bergerak melawan struktur dengan harapan bahwa proses tersebut akan mengarah pada kepuasan (Sutopo, 2. Setelah mengetahui beberapa problematika yang ada di majelis taklim Nur Hasanah Hilir, selanjutnya bagaimana memberikan solusi yang pada masalah tersebut menemukan solusi yang lebih baik untuk suatu masalah, dan mempertahankan hubungan kekeluargaan dengan satu sama lain. Upaya Mengatasi Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi Anggota Majelis Taklim Adapun upaya mengatasi problematika peningkatan partisipasi anggota majelis taklim di antaranya. pertama, memberikan pemahaman kepada anggota majelis taklim agar lebih giat menghadiri kegiatan pelaksanaan majelis taklim sebagai wadah silaturahmi. Keorganisasian jika dibentuk dengan baik akan membuat suatu kelompok tersebut bisa menjalankan tugasnya dengan efektif, serta apabila suatu kelompok bekerja sama dalam menjalankan kegiatan yang ada di dalamnya tentunya akan menghasilkan keakraban diantara anggota kelompok itu sendiri. Kebanyakan dari mereka anggota aktif mengeluarkan pendapat untuk lebih ditekankan absensi kehadiran setiap pelaksanaan kegiatan majelis taklim. Ketika peneliti melakukan wawancara dengan ibu Umi Hajrah Lubis, beliau mengatakan: AuSaya rasa untuk mengatasi permasalahan dalam kehadiran ini perlu penegasan kepada setiap anggota diberikan himbauan untuk rajin menghadiri dalam pelaksanaan kegiatan majelis taklim, untuk membantu menjalankan majelis taklim dengan baik, dengan mengusulkan agar siapa yang tidak aktif akan diberi surat peringatan bahkan diberikan denda agar mereka tersadar bahwa duduk di majelis taklim itu sangat penting karena dapat di terapkan di kehidupan sehari-hari dan akan mendapatkan pahala yang berlipat gandaAy (Hasil wawancara dengan sekretaris majelis taklim Nur Hasanah Hilir, 29 Juli 2022, pukul 15 WIB). || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety Selanjutnya wawancara dengan ibu Sri Wahyuni. Ag, beliau mengatakan: AuSolusi yang diberikan bagi anggota yang tidak mempunyai kendaraan di sampaikan kepada mereka bahwa ada dana transportasi yang diberikan oleh ketua agar semua anggota dapat berperan dalam kegiatan yang dilaksanakan dan menjalin silaturahmi kepada sesama yang lainAy (Hasil wawancara dengan Ketua majelis taklim Nur Hasanah Hilir, 29 Juli 2022, 40 WIB). Sesuai dengan hasil observasi peneliti lakukan, setiap anggota yang menjalankan pelaksanaan kegiatan majelis taklim diharuskan untuk mempunyai sifat bertanggung jawab dalam suatu kelompok harus tahu apa tugas dan kewajibannya dalam kelompok organisasi, misalnya sebagai ketua harus mampu memberikan tauladan yang baik layaknya seorang pemimpin untuk mengatur anggota. Seorang ketua harus mampu menjalankan organisasi dengan membuat absen kehadiran setiap kali mengadakan pengajian, apabila ada yang tidak hadir diberikan sanksi berupa membayar uang alpa sesuai kesepakatan dalam organisasi supaya kehadiran semakin banyak. Upaya Kedua ialah membuat silabus yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Materi yang sesuai dengan kebutuhan madAou dalam berdakwah akan menjadi hal yang paling utama untuk dibahas dalam majelis taklim. Sebagaimana hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada ibu Sri Wahyuni. Ag beliau mengatakan: AuSaya harap Ustadz akan memberikan materi yang lebih baik yaitu denganmenambahkan materi yang lebih menarik dan menyangkut dengan kejadian-kejadian didalam lingkungan ataupun memberikan solusi yang Islami dalam memecahkan suatu permasalahan yang sering dihadapi di dalam lingkungan masyarakat, sehingga kita menjadikan pengajian ini sebagai suatu solusi dalam permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungan masyarakatAy (Hasil wawancara dengan Ketua majelis taklim Nur Hasanah Hilir, 29 Juli 2022, pukul 19. 40 WIB). Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, majelis taklim Nur Hasanah Hilir tersebut harus ada perbaikan didalam materi dakwah. Maddah atau materi dakwah adalah isi pesan atau materi ajaran Islam itu sendiri, sebab ajaran Islam yang sangat luas itu bisa dijadikan maddah dakwah Islam kepada para madAou. Materi yang begitu luas maka seorang dai harus memperhatikan situasi dan kondisi masyarakat yang ada serta menempuh bermacam-macam metode pendekatan, misalnya pendekatan substansial, situasional dan kondisional, kontekstual, disamping itu karena pesan-pesan dakwah ini haruslah manusiawi, dengan harapan dapat membentuk pengalaman sehari-harinya menurut tatanan agama, maka materi dakwah pun harus meningkatkan kemampuan dan akomodasi manusia dalam kehidupannya. Upaya ketiga ialah melengkapi media di majelis taklim. Media adalah alat pendukung dalam aktivitas dakwah, jika media kurang memadai makan keefektivitasan dalam berdakwah akan berkurang. Sesuai dengan hasil wawancara rata-rata berpendapat yang sama dalam hal masalah media, yaitu wawancara dengan ibu Painten, ibu Israkiyah dan Ibu Sri Muna. Mereka mengatakan: AuKami pikir alat-alat untuk melengkapi media dalam majelis taklim sebaiknya di ambil dana dari uang, dengan uang kas untuk kegiatan lainya akan lebih diperhatikan dengan baik, sehingga pembayarannya tidak sebagaimana sebelumnya tidak dibayar sesuai waktunya || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety bahkan ada yang tidak membayar sama sekali, dengan uang kas tersebut kan kita bisa menggunakannya untuk keperluan alat-alat kita dalam pelaksanaan pengajianAy. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, problematika dalam media pembelajaran di majelis taklim Nur Hasanah Hilir, perlu adanya fasilitas yang lengkap dengan tujuan agar pemahaman para ibu-ibu anggota pengajian lebih baik dan tidak mudah lupa dengan apa yang telah disampaikan oleh dai. Karena memang media dalam majelis taklim tersebut hanya ada tempat dan tikar seadanya, tanpa alat tulis dan alat pengeras suara seadanya. Contohnya pengeras suara adalah salah satu hal yang paling penting digunakan dalam sebuah pengajian. Dalam upaya ini perlu adanya ketegasan dari pengurus agar menyarankan kepada anggota supaya mengusulkan melengkapi alat tulis, seperti papan tulis, spidol dan alat tulis pendukung lainnya, serta anggota mempersiapkan alat tulis masing-masing untuk mencatat apa yang telah disampaikan oleh daAoi tersebut. Upaya keempat ialah memberikan pemahaman untuk rajin membayar iuran/arisan. Pembayaran iuran/arisan sangat diperlukan didalam organisasi karena dengan program pembayaran iuran/arisan ini akan membantu anggota apabila mendapatkan giliran Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Israkiyah selaku bendahara majelis taklim Nur Hasanah Hilir, beliau mengatakan: Ausaya pikir sesama anggota harus lebih saling mengerti satu sama lainnya dalam membayar iuran/arisan dikarenakan apabila saya mengutip uang arisan ke rumah anggota yang tidak ada orang dirumahnya akan saya talangi dulu uang tersebut, jika tidak ada uang pegangan saya maka saya lewatkan orang nya dan jangan marah jika namanya tidak adaAy (Hasil wawancara dengan bendahara majelis taklim nur hasanah Hilir, 28 Juli 2022, pukul 20 WIB). Hasil observasi yang peneliti lakukan, di dalam pembayaran iuran/arisan ini ibu Israkiyah selaku bendahara majelis taklim Nur Hasanah Hilir akan membayarkan terlebih dahulu jika anggota yang dikutip tidak ada orang dirumah, tetapi jika bendahara tidak mempunyai uang lebih maka nama yang sudah mendapat arisan tidak diikutkan kembali. Demikianlah beberapa upaya dalam mengatasi problematika dalam meningkatkan partisipasi anggota majelis taklim Nur Hasanah Hilir. Upaya ini tentunya harus terus dilakukan dengan baik oleh para pengurus, di samping meningkatkan partisipasi, komunikasi, kerjasama serta saling mengkoordinasi antar sesama pengurus dengan baik juga dengan para anggota majelis taklim yang ada, sehingga berbagai program kerja yang akan dilaksanakan dapat dengan mudah dan sukses untuk diwujudkan secara bersama. Tanggung jawab dan memiliki jiwa kebersamaan dengan berbagai elemen yang dimiliki majelis taklim adalah potensi besar yang harus mampu untuk dikelola secara maksimal oleh pengurus inti, untuk terealisasinya berbagai tujuan organisasi majelis taklim yaitu, dengan terwujudnya majelis taklim dengan semangat dalam menuntut ilmu agama. SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa problematika dalam meningkatkan partisipasi jamaah majelis taklim nur hasanah ialah problematika dalam bidang kehadiran, problematika dalam bidang materi pembelajaraan, problematika dalam bidang media pembelajaran, problematika dalam bidang pembayaran iuran/arisan. Adapun || Putri Dewi Utami, et. || Problematika dalam Meningkatkan Partisipasi. Edu Society: Jurnal Pendidikan. Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 3 2022, hal 739-750 Avaliable online at: https://jurnal. permapendis-sumut. org/index. php/edusociety upaya dalam mengatasi problematika-problematika tersebut yaitu: memberikan pemahaman kepada anggota majelis taklim agar lebih giat menghadiri kegiatan pelaksanaan majelis taklim sebagai wadah silaturahmi, memberikan materi yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari, melengkapi media di majelis taklim, memberikan pemahaman untuk rajin membayar iuran/arisan. DAFTAR PUSTAKA