Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 5. No 1. Januari 2024 AuBUDAYA MAAoPASILAGA TEDONG DITINJAU DALAM MODEL BUDAYA TANDINGAN MENURUT PERSPEKTIF STEPHEN B. BEVANSAy Ocsilia Imel Patibang Institut Agama Kristen Negeri Toraja ocsiliaimelpatibang@gmail. ABSTRAK Perkembangan zaman akan terus maju, dan hal ini juga akan mempengaruhi budaya atau pun tradisi. Berbagai pandangan yang menjadikan pula keunikan, kekhasan, bahkan nilai dan makna dalam kebudayaan setiap daerah juga terancam mengalami suatu perubahan atau pergeseran makna. Tidak terlepas dari itu, yang seharusnya apa yang menjadi makna atau tujuan budaya tersebut hendaknya tetap dipertahankan. Berbicara soal kebudayaan atau konteks, maka bagaimana sebuah konteks itu akan dipandang dari suatu perspektif salah satu model kontekstual yaitu AuModel Budaya TandinganAy yang akan melihat bagaimana tradisi MaApasilaga Tedong di Toraja yang memiliki perubahan makna akan dimurnikan melalui suatu perspektif Stephen Bevans dengan modelnya Aubudaya tandinganAy. MaA pasilaga tedong diakui sebagai ungkapan penghiburan dan kesenangan dengan cara mengadu beberapa kerbau di upacara pemakaman . ambu soloA) pun juga sebagai salah satu adat budaya Toraja. Dengan tetap mempertahankan konteks dan juga memperhatikan kekeliruan yang terjadi dalam budaya MaApasilaga Tedong ini, serta memurnikan konteks tersebut. Selain itu, penerapan Injil untuk memperbaiki perubahan budaya pun perlu dilakukan agar pengembalian makna MaApasilaga Tedong menjadi tradisi sesuai dengan jati dirinya. Kata Kunci: MaAo Pasilaga Tedong, injil, model budaya tandingan, kebudayaan ABSTRACT The times will continue to advance, and this will also influence culture and traditions. Various views that give rise to uniqueness, distinctiveness, even value and meaning in the culture of each region are also threatened with a change or shift in meaning. Apart from that, the meaning or purpose of culture should be Talking about culture or context, then how a context will be viewed from the perspective of one of the contextual models, namely the "Counterculture Model" which will see how the Ma'pasilaga Tedong tradition in Toraja which has a change in meaning will be purified through the perspective of Stephen Bevans with his model AucountercultureAy. Ma' pasilaga tedong is recognized as an expression of consolation and pleasure by pitting several buffaloes at a funeral ceremony . ambu solo') and also as one of the Toraja cultural customs. By maintaining the context and also paying attention to the mistakes that occur in the Ma'pasilaga Tedong culture, as well as purifying the context. Apart from that, it is necessary to apply the Bible to correct cultural changes so that the meaning of Ma'pasilaga Tedong is restored to a tradition in accordance with its identity. Keywords: Ma' Pasilaga Tedong, gospel, counterculture model, culture PENDAHULUAN Indonesia adalah negara dengan keberagaman suku, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama dan bahasa yang unik. Dan salah satu suku yang terkenal di Indonesia dengan adat dan kebudayaan yang sangat unik adalah suku Toraja. Salah satu suku yang ada di Sulawesi Selatan adalah suku Toraja. Masyarakat Toraja menganut tiga agama berbeda: Kristen. Islam, dan Aluk Todolo, sistem kepercayaan animisme. Penerapan beberapa ritual yang memerlukan pengorbanan hewan kurban dalam jumlah besar dalam kehidupan masyarakat Toraja didasarkan pada konsep Aluk Todolo ini. Keyakinan Aluk Todolo tentang hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan alam, antara manusia dengan manusia lain, dan antara manusia dengan dirinya sendiri mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai-nilai budaya yang menonjol dalam cerita rakyat Toraja. Aluk Todolo dikenal juga dengan nama Alukta (Aluk Nene' Todolot. merupakan akronim dari agama yang dianut oleh nenek moyang kita secara turun Masyarakat Toraja menganut tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi dan dikenal dengan nama Aluk Todolota yang artinya Auagama nenek moyang kitaAy sebelum memeluk agama Kristen dan Islam. Detil kejadian alam dan organisasi yang mengatur kehidupan masyarakat Toraja tercakup dalam ajaran Aluk Toddolo. Cara hidup masyarakat Toraja sangat dipengaruhi oleh konsep kuno tersebut. Hikmah yang disampaikan Aluk Todolo telah merasuki setiap aspek kehidupan masyarakat, hingga ajaran tersebut menjadi sumber dari segala ritual. Aluk Todolo menjadi landasan pelaksanaan beberapa ritual adat di Toraja. Toraja menampilkan adat istiadat dan ekspresi seni, termasuk pakaian adat, tarian, dan upacara atau upacara. Menurut Frans B. Palebangan, istilah adat berasal dari bahasa Arab, tepatnya AudniAy yang diterjemahkan menjadi AuadaA Ay dalam bahasa Toraja. Adat istiadat merupakan salah satu komponen kebudayaan masyarakat dan digambarkan sebagai adat istiadat tradisi yang diakui dan diikuti oleh anggota masyarakat selama beberapa generasi di suatu negara. Oleh karena itu, adat istiadat dapat dilihat sebagai sebuah kebiasaan yakni, sebagai segala sesuatu yang diakui, diketahui, dan dilakukan secara konsisten. Jadi, adat istiadat dapat dilihat sebagai praktik yang sudah mendarah daging dan diwariskan dari nenek moyang kepada anak, cucu, cicit, dan seterusnya. Di Toraja, salah satu ritual adatnya disebut Aurambu soloAy. Tujuannya adalah untuk menghormati roh atau jiwa orang yang meninggal dan mengirimkannya ke akhirat. bisa juga menyebut proses ini sebagai penyucian roh orang yang meninggal. Selain itu, upacara adat Pemakaman Rambu Solo dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap arwah leluhur. 2 Kalau dalam pelaksanaannya, salah satu syarat diadakannya ritual tersebut. Tergantung pada persyaratan ritual, jumlah, jenis, dan bahkan harga kerbau yang digunakan sangat bervariasi. Kelas sosial ekonomi keluarga yang ditinggalkan menentukan berapa banyak kerbau yang disembelih di Rambu Solo. Jumlah kerbau yang dikurbankan meningkat seiring dengan meningkatnya status sosial ekonomi suatu keluarga. Oleh karena itu, belanja pelaksanaan Rambu Solo sebesar 4-5 miliar rupiah bukanlah sesuatu yang luar biasa. Mayoritas pengeluaran ini digunakan untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan hewan kurban tersebut. Di Toraja, kerbau merupakan komoditas yang sangat berharga, dengan harga berkisar antara ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk satu ekornya. Oleh karena itu, para peternak kerbau di Toraja dan pemerintah harus terus mengembangkan industri peternakan kerbau di wilayah Aspek sosial budaya kehidupan masyarakat Toraja menjadi salah satu variabel yang mempengaruhi nilai pasar kerbau. Selain itu, masyarakat Toraja menganggap kerbau banyak dicari oleh masyarakat Toraja karena merupakan hewan yang melambangkan kemakmuran. Ma'pasilaga Tedong atau adu kerbau merupakan salah satu dari sekian banyak rangkaian acara Rambu Solo. Kerbau yang digunakan dalam pertarungan seringkali merupakan jenis Tedong Pudu yang berkulit hitam dan badannya tidak bercorak. Sebagai tanda penghormatan, kerbau yang dikorbankan pada Errikus Sumule. Perilaku MaAopasilaga Tedong Dalam Pelaksanaan Tradisi Upacara Rambu SoloAo Di Kabupaten Toraja Utara . SKRIPSI, . : 4-6. Guruh Ryan Aulia. Kristina Roseven Nababan. Upacara Adat Rambu Solo. Jurnal Ulhuluddin. No. : 148. Upacara Rambu Solo akan diarak terlebih dahulu melewati dusun. Kemudian sore harinya akan ada adu Setelah itu, kerbau-kerbau tersebut dibunuh. Kemudian, pihak yang membantu pelaksanaan Rambu Solo menerima daging kerbau tersebut. Meskipun demikian, industrialisasi telah menyebabkan banyak perubahan pada cita-cita Ma'pasilaga Tedong. Budaya MaApasilaga tedong yang awalnya merupakan budaya yang dimaknai baik oleh masyarakat Toraja. Namun, oleh berbagai faktor, seperti perkembangan zaman . , pola pikir yang salah, serta kurangnya kesadaran akan nilai-nilai injil/agama. Hal ini menyebabkan perubahan makna asli pada budaya MaA pasilaga Tedong. Sehingga, melalui perspektif Bevans dari salah satu model teologi kontekstualnya yaitu Model Budaya Tandingan mencoba meninjau budaya MaApasilaga Tedong ini. Jurnal ini mencoba menyingkronkan bahkan membelah suatu budaya melihat tolak ukur budaya itu dianggap sesuai dengan kebenaran Injil atau benar dalam pandangan kekristenan. Oleh karena budaya maApasilaga Tedong merupakan budaya yang patut untuk dilestarikan sesuai dengan maknanya yang tercipta sejak awal. Bukan menilai sebagai budaya secara frontal, dan bukan budaya yang pantas untuk dimanfaatkan demi keuntungan semata, maka Budaya MaApasilaga Tedong ditinjau dalam model budaya tandingan menurut perspektif Stephen B. Bevans akan dilihat dalam tulisan ini. METODE PENILITIAN Model Budaya Tandingan adalah salah satu dari enam model Bevans. Model ini dapat dilihat dari dua hal, bahwa yang pertama model ini lebih mengacuh pada konteks yaitu, pengalaman, kebudayaan, lokasi sosial dan perubahan sosial. Manusia dan segala pengungkapan teologis diyakini ketika dalam situasi yang sesuai dengan kondisi historis dan kultural. Hal yang paling menonjol bahwa model ini selalu waspada terhadap kecurigaan konteks. Jika Injil sudah sangat berakar dalam konteks, maka haruslah ia menantang dan juga memurnikan konteks tersebut. Hal yang kedua adalah model budaya tandingan juga mengakui akan Injil yang akan menjadi pengarah akan dunia yang didalamnya segala sesuatu. Namun yang secara radikal berbeda dan membedakan Injil itu dari sebuah kejadian yang telah selesai mengenai dunia dan kebudayaan ciptaan manusia. Terkhusus ketika konteks itu memancarkan Injil yang tidak relevan juga di abaikan sama sekali, atau konteks di mana Injil menjadi sesuatu yang dapat memandang keberagaman yang dilihat di Model ini, dapat memperlihatkan cara merelasikan Injil dengan keterlibatan dalam konteks dengan penuh kesegaran dan kesejatian. Secara terminologi, model budaya tandingan adalah model yang bukan anti-budaya. Berbeda dengan karya Richard Niebuhr dan William Willimon yang mengarah pada anti-budaya. Para penganut model budaya tandingan lebih mengakui adanya pengkomunikasian yang tepat terhadap konteks dengan Injil itu, dengan tetap memperhatikan bagaimana penerimaan Injil, dan meyakini bahwa budaya tersebut bukanlah sesuatu yang jahat dan buruk. Meskipun pada realitanya mengandung sesuatu hal yang melawan atau melecehkan Sang Pencipta. Jadi, pada intinya model ini mengatakan bahwa teologi kontekstual baik dilakukan dengan menganalisis konteks terlebih dahulu, menghargai konteks, dan disisi lain tetap membiarkan Injil mengatur,membentuk, menuntun seluruh proses. George Hunsberger berpendapat bahwa tantangan budaya tandingan adalah disatu pihak berusaha melakukan pendekatan Injil dalam budaya, dan disatu pihak berusaha melakukan penyerapan kedalam budaya. Hakikat model budaya tandingan ini tidak pada masalah menerjemakan Injil ke dalam konteks tertentu . odel terjemaha. , tidak juga pada persoalan mempermuda paham baru dari pengalaman, kebudayaan, lokasi sosial dan perubahan sosial . odel antropologi. , bukan tentang menemukan nilai yang baru yang berkaitan dengan Injil secara praksis . odel praksi. , namun dengan tujuan menemukan bahkan melibatkan konteks dengan cara menganalisis secara kritis dan tetap bersikap hormat, serta tetap melibatkan Injil yang sejati baik perkataan maupun tindakan, sehingga nyata istilah model ini sebagai perjumpaan atau Model ini sungguh membenarkan akan perubahan atau dinamika menjadi lebih baik dan menunjukkan kebenaran dalam konteks. Biasanya model ini lebih mengarah bahkan sering dijumpai pada gereja yang melakukan dinamika perubahan dengan lingkungan yang kuat. Bevans mengatakan dengan istilah budaya tandingan yang saya ajukan, saya bermaksud membawa pengertian secara luas istilah ini, hal yang mencakup segala sesuatu yang bermakna religius bagi seluruh cara hidup sekelompok orang yang dilanjutkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Budaya MaAopasilaga Tedong Toraja adalah salah satu kabupaten yang terdapat di provinsi Selawesi Selatan. Toraja terkenal akan budayanya yang unik, salah satunya adalah adu kerbau atau dalam bahasa Toraja dikenal dengan AuMaAopasilaga TedongAy. Biasanya MaApasilaga tedong diadakan bersamaan dengan upacara rambu soloA. Rambu soloA merupakan upacara pemakaman bagi leluhur yang telah meninggal. Dibandingkan dengan upacara rambu tukaA, upacara rambu soloA merupakan upacara atau adat yang lebih tinggi intensnya. Upacara rambu soloA ditandai dengan diadakan upacara meninggalnya Upacara rambu soloA yang juga disebut AAluk Rampe MatampuAo ini diadakan bukan pada waktu pagi namun, pada sore hari atau ketika matahari mulai tenggelam. Dalam upacara ini salah satu ritual yang dilakukan adalah MaA pasilaga Tedong. 3 MaA Pasilaga Tedong adalah budaya yang hanya ada di Toraja. Mungkin saja ada adu kerbau di berbagai daerah atau negara lain, namun tidak dianggap sebagai budaya seperti di Toraja. 4 Jika ditinjau dari sisi lain tentulah mengadu hewan merupakan perilaku tidak baik. Namun, dalam konteks budaya Toraja maka pikiran demikian harus Sebab, masyarakat Toraja memandang adu kerbau atau AuMaApasilaga TedongAy ini adalah aturan dari leluhur yang harus mereka patuhi. Ma'pasilaga tedong adalah istilah dalam budaya Toraja yang memiliki makna yang khusus. Upacara ma'pasilaga tedong sendiri merupakan bagian dari serangkaian upacara adat yang berkaitan dengan siklus kehidupan dan kematian. Upacara ini biasanya dilakukan untuk menghormati dan memberikan penghormatan kepada leluhur atau roh-roh nenek moyang yang dipercayai masih berada di sekitar masyarakat yang hidup. Upacara ini melibatkan pengorbanan hewan, terutama kerbau, sebagai simbol penghormatan dan tanda kekayaan. Sebelum upacara dimulai, masyarakat Toraja biasanya melibatkan prosesi persiapan yang melibatkan perencanaan, persiapan fisik, dan persiapan Selama upacara, kerbau yang akan dikorbankan akan dihias dan diarak secara khusus sebelum akhirnya dikorbankan sebagai bagian dari ritual. Daging hasil korban kemudian dibagikan kepada anggota masyarakat sebagai tanda persatuan dan kebersamaan. Upacara ma'pasilaga tedong bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada roh-roh leluhur, tetapi juga sebagai wujud solidaritas sosial dalam masyarakat Toraja. 6 Dalam budaya Toraja, upacara adat memiliki peran penting dalam mempertahankan dan menghormati nilai-nilai leluhur serta memperkuat hubungan antaranggota masyarakat. Dalam kehidupan orang Toraja Kerbau dianggap sangat penting dan Hewan ini dianggap hewan yang disucikan, terkhusus dalam upacara Rambu SoloA. Mereka meyakini ketika upacara Rambu SoloA semakin banyak kerbau yang disembelih atau dikurbankan maka semakin cepat pula roh orang yang meninggal itu sampai ke surga atau tempat yang disebut puya. 7 Kerbau-kerbau berukuran besar yang dikurbankan dalam upacara rambu soloA diadukan terlebih dahulu disebut Adu kerbau atau MaApasilaga Tedong. Adu kerbau dihadiri oleh orang-orang yang ingin melihat atau menonton, kemudian dalam adu kerbau ini di pimpin oleh ketua Sebelumnya proses pemotongan beberapa ekor babi dilakukan,lalu dibagikan kepada To ParengngeAo. To Makaka, pemuka adat dan para gembala kerbau (To MangkambiAo atau To Mangla. Irwanto, and Robi Panggara. AuTinjauan Etika Kristen Terhadap Pelaksanaan Adu Kerbau (MaAopasilaga Tedon. Dalam Upacara Pemakaman (Rambu SoloA. Di Toraja Utara,Ay Repository STT Jaffray Vol 2 No 1 . : 3. Fajar Nugroho. Kebudayaan Masyarakat Toraja (Surabaya: JPBOOKS, 2. Ibid. Sulle Lua. Wawancara dengan masyarakat Toraja (Mengkendek, 29 November 2. Irwanto, and Robi Panggara. AuTinjauan Etika Kristen Terhadap Pelaksanaan Adu Kerbau (MaAopasilaga Tedon. Dalam Upacara Pemakaman (Rambu SoloA. Di Toraja Utara. Ay dilanjutkan dengan makan bersama. Barulah kerbau-kerbau yang akan diadu dikumpulkan terlebih dahulu atau disebut maAopasaAo tedong . stilah Toraja Utar. di Ulu baAobah, lalu kemudian secara beriringan menuju tempat atau arena . awah atau tanah yang luas dan data. To MakambiAo atau para gembala kerbau membawa kerbaunya masing-masing. 8 Dengan berbagai rangkaian kegiatan yang ada lalu kemudian MaA pasilaga Tedong dilakukan di arena yang telah ditentukan. Kerbau yang diadu diawali dengan kerbau bule atau kerbau albino. 9 Kerbau yang akan diadu bukan sembarangan Melainkan kerbau yang telah dipilih dengan jenis kerbau bule atau kerbau albino. Adapun spesies kerbau yang hanya di temukan di Toraja yaitu kerbau lumpur (Bubalus Bubali. 10 Kerbau di Toraja memiliki banyak jenis, seperti kerbau Saleko yang merupakan kerbau dengan bercak hitam putih, kerbau Lotong BokoA dengan bagian tubuh berwarna putih selain di bagian punggung berwarna hitam. Kerbau dengan jenis di atas memiliki harga jual mencapai ratusan juta rupiah. Kegiatan adu kerbau dijadikan sebagai ajang hiburan bagi keluarga maupun bagi masyarakat. Dalam ajang ini suatu kebanggan bagi para pemilik kerbau (Tedon. ketika melihat kerbau gembalaannya itu sedang bertarung, jadi ada apresiasi yang diberikan kepada mereka sebagai jerih payahnya selama merawat kerbaunya. Budaya MaApasilaga Tedong adalah tradisi yang harus terus dilestarikan dan dipertahankan. Namun seiring berkembangnya zaman kegiatan adu kerbau bukan hanya dijadikan ajang hiburan, justru dijadikan sebagai ajang taruhan atau judi. Realitas yang terjadi pada saat adu kerbau diadakan dalam sebuah arena, para penonton memilih kerbau . yang mereka anggap akan menang sehingga mereka pun mengeluarkan uang untuk dijadikan sebagai bahan taruhan. Pewarisan adat adu kerbau ini terus dilakukan kepada generasi sampai sekarang. Selain itu, kegiatan adu kerbau ini sangat digemari oleh orang Toraja. Namun, oleh generasi muda dan masyarakat Toraja sudah merusak budaya MaApasilaga Tedong ini. Hal ini dikarenakan bagi masyarakat budaya adu kerbau sudah dijadikan sebagai judi bahkan telah diizinkan. Di samping itu kegiatan ini dihadiri oleh banyak orang, sangat riuh, dan menarik para anak muda di Toraja untuk mengikuti kegiatan ini. Bahkan mereka juga masuk dalam kelompok-kelompok pendukung Dengan demikian para anak muda semakin semangat juga membuat kerbau mereka lebih Pengaruh modernisasi dapat saja menyebabkan pergeseran nilai dari MaApasilaga Tedong. Dampak modernisasi yang ada menjadikan moral anak muda menjadi rusak, mereka yang harusnya menjadi harapan bangsa . Anak muda seharusnya menjadi generasi yang mencerminkan sikap cinta akan budayanya, dengan begitu mengenal dan melestarikan budaya adalah cara menanamkan rasa kebanggan terhadap budaya. 11 Namun, melihat realitas yang ada anak muda sudah membuat kelompok-kelompok untuk mempersiapkan kerbau yang akan mereka adu . ikenal dengan kerbau petarun. Tak hanya itu adu kerbau yang awalnya bermakna baik, telah dirusak oleh masyarakat Toraja sendiri untuk digunakan sebagai tempat untuk mendapatkan uang dengan kata lain mereka melakukan perjudian. Dampak yang ditimbulkan oleh adu kerbau sendiri seperti masalah psikologis, ekonomi, sosial kepada para pelaku atau pemeran adu kerbau ini. Mereka membentuk kelompok-kelompok bersama dengan kerbau andalan masing-masing, juga membuat acara-acara di pondok mereka. Mirawaty Patiung et al. AuMa' pasilaga Tedong: Analisis Tradisi Adat Pemakaman Rambu Solo Di Toraja Sulawesi Selatan,Ay (Solidarity: Journal of Education. Society and Culture 9, 2. , 1072Ae1077. Nugroho. Kebudayaan Masyarakat Toraja. Yusuf & Toet. Indonesia Punya Cerita (Jakarta: Cerdas Interaktif, 2. Nurul Akhmad. Ensiklopedia Keberagaman Budaya (Jawa Tengah: ALPRIN, 2. Irwanto, and Robi Panggara. AuTinjauan Etika Kristen Terhadap Pelaksanaan Adu Kerbau (MaAopasilaga Tedon. Dalam Upacara Pemakaman (Rambu SoloA. Di Toraja Utara. Ay Tinjauan Model Budaya Tandingan Menurut Perspektif B. Bevans Tentang Budaya MaAopasilaga Tedong Tantangan kebudayaan sekarang ini adalah hubungan antara kebudayaan tradisional dan kebudayan modern, masalah perubahan nilai-nilai budaya serta masalah relasi antar agama dan Unsur yang menyeluruh dalam kebudayaan adalah . Menyangkut religi atau upacara keagamaan . Menyangkut pemerintahan . rganisasi kemasyarakata. Akademik . Kesenian . Language . Menyangkut mata pencaharian hidup . Menyangkut teknologi dan peralatan13 Berfokus pada poin ke-6 menyangkut mata pencaharian hidup. Seakan-akan maApasilaga tedong sudah dijadikan sebagai tempat bermata pencaharian yang jelas tidak sesuai dengan religi atau keagamaan di poin pertama. Lalu bagaimana tugas gereja dalam menghadapi tantangan seperti itu yang sangat dekat bahkan anggotanya adalah pelaku sendiri. Keterlibatan tersebut menjadi tantangan bagi gereja. Berjudi adalah hal yang dilarang dalam agama. Judi bertentangan dengan Injil. Firman Tuhan dalam 1 Timotius 6: 10. Akar dari segala kejahatan adalah cinta uang. Juga dalam Yakobus 4:1-10, persahabatan dengan dunia dan hawa nafsu menuntun pada dosa. AuJanganlah kamu menjadi hamba uang dan cukuplah dirimu dengan apa yang ada padamuAy (Ibrani 13:. Segala sesuatu yang didapatkan dengan cepat dan mudah dalam Alkitab juga dikatakan AuHarta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa yang mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kayaAy(Ams. Sesuatu harta benda yang didapatkan dengan cara yang tidak benar akan cepat berkurang. Tidak hanya masalah harta atau uang namun juga pada kerbau yang mereka beri obat-obatan. Obat yang diberikan kepada kerbau petarung berguna memperkuat dan mengurangi rasa sakit ketika diadu Namun. Obat tersebut menimbulkan efek smping bagi kerbau. Amsal 12:10 AuOrang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam. Ay 14 Pandangan Injil Dalam Budaya MaAo Pasilaga Tedong Bagaimana memaknai budaya MaApasilaga Tedong yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dari mulanya, ditinjau dari model budaya tandingan. Mengacuh pada konteks yaitu, pengalaman, kebudayaan, lokasi sosial dan perubahan sosial. Serta, menggunakan Alkitab dan Tradisi sebagai sumber dan juga bukan anti budaya. Selain itu, model ini mengakui akan Injil yang akan menjadi pengarah akan dunia yang didalamnya segala sesuatu. Sehingga makna budaya maApasilaga tedong itu kembali pada makna yang sebenarnya. Apa yang tidak baik dan tidak sesuai dengan Injil atau kebenaran akan di tantang dan di murnikan kembali. Melihat Budaya tandingan ini juga merupakan model yang mencoba merelevansikan diri di tengah bahaya sektarianisme ataupun perilaku hidup yang mencoba melawan kebenaran. Sebagai Gereja tandingan yang bukannya menarik diri darinya melainkan ingin terlibat secara keseluruhan didalamnya. Pada dasarnya tugas gereja untuk menjadi missioner yang harus memberitakan Injil di segala bangsa, namun perlu diperhatikan akan bahaya yang nampaknya gereja hanya memperhatikan jati dirinya, potensi jemaatnya, jalannya peribadatannya, dan tidak bergerak bagi dunia. Gereja hendaknya harus mengotori tangannya untuk dapat bergerak dan bertindak secara nyata bagi dunia ini. Kekuatan utama model budaya tandingan adalah memiliki sikap yang berotoriter, berani, tegas dari sesuatu yang kadang kala dipandang sepele oleh kebanyakan orang, yaitu malas. Maksudnya Koentjaraningrat, "Kebudayaan. Mentalitas. Dan Pembangunan" (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. Norman S Geisler. Etika Kristen (Malang: LITERATUR SAAT, 2. malas terhadap hal yang berbau religius. Menjadikan kenyamanan semata, pendapat dan cita rasa sebagai kepuasan dan lawan akan nilai dari agama itu. 15 Sebagaimana model budaya tandingan adalah model yang juga mengandung pertobatan, membawa Injil kedalam konteks yang sesuai dengan nilai kebenaran. Di mana MaApasilaga Tedong sekarang sudah berubah makna dari makna yang sebenarnya. Di Toraja khususnya di Mengkendek pernah ada larangan untuk melakukan acara maA pasilaga tedong, di karenakan banyak yang melakukan perjudian yang tak sedikit melibatkan anak muda termaksud pemuda Kristen bahkan tokoh-tokoh agama. Judi adalah keruntuhan, dan sebagai orang percaya kita di larang keras untuk melakukan perjudian. Injil sebagai budaya, yang diperwujudkan seperti dalam kebaktian hari minggu, kebaktian rumah tangga,etos kerja,kesetiakawanan. Sehingga injil itu berwujud dalam budaya. Injil berbicara tentang sukacita, namun sebagian masyarakat Toraja mendefenisikan maA pasilaga tedong ini merupakan suatu kesenangan, sehingga dapat dikatakan bahwa maA pasilaga tedong ini merupakan sumber sukacita. Namun di dalam maA pasilaga tedong ini terjadi perjudian yang dimana berbicara tentang peruntuhan yang meyakini bahwa mereka mendapatkan suatu berkat atau uang dari berjudi, padahal sebagai orang yang percaya kita di tuntut untuk bekerja keras di ladang yang baik dan dari sumber yang baik pula. Kemudian bagaimana berita injil sebagai berita sukacita hadir dalam ritual ini, karena sukacita dalam injil tentu berbeda dengan sukacita dalam perjudian. Sukacita dalam injil berbicara tentang keselamatan, sukacita dalam ritual maA pasilaga tedong ketika para penonton dapat menyaksikan para kerbau beraduh dalam arena terlebih ketika para penjudi ini menang tentu akan merasakan sukacita. Bisakah injil menjadi tandingan bagi ritual maA pasilaga tedong ini sebagai suatu kebudayaan? Masih susah untuk dibandingkan karena sumber sukacitanya berbeda. Gereja mengambil kebijakan pastoral bahwa mereka tidak akan melayani rambu soloA yang menggelar acara maA pasilaga tedong. Inilah kasus yang terjadi di beberapa tempat di Toraja, dan inilah bukti bahwa budaya maA pasilaga tedong tidak bisa di sandingkan dengan injil. Injil bisa di sandingkan dengan rambu soloA karena di dalamnya terdapat ibadah peenghiburan. Namun apakah kemudian maA pasilaga tedong bisa menandingi injil namun dari ritual ini tidak akan menghasilkan keselamatan karena sesungguhnya injil tidak berbicara tentang untung rugi atau pun materi, injil tidak berbicara tentang banyaknya orang yang datang. Itulah sebabnya injil dan budaya maA pasilaga tedong ini tidak bisa di tandingkan, oleh karenanya salah satu keputusan yang tepat ketika gereja tidak melayani rambu solo yang di dalamnya terdapat acara maA pasilaga tedong. Injil tidak bisa di jadikan budaya tandingan dan di sandingkan karena berbeda substansi. Karena injil berbicara tentang keselamatan dan maA pasilaga tedong berbicara perjudian. Dengan demikian model ini bisa menolak budaya yang betul-betul tidak sejalan dengan Injil, bisa memurnikan budaya yang bisa diterima namun pemaknaannya tidak sesuai dengan Injil, dan menerima kebudayaan yang sejalan dengan Injil. KESIMPULAN Budaya MaApasilaga Tedong merupakan kebudayaan Toraja yang serangkai dengan upacara rambu soloA. Budaya ini memiliki keunikan, dapat membangun persaudaraan, dan terkhusus dapat menghibur keluarga yang sedang berduka di acara rambu soloA itu. Namun, seiring berjalannya waktu dengan perkembangan zaman, perubahan makna terhadap budaya ini juga bergeser. Sangat disayangkan tradisi yang dahulunya baik telah berubah menjadi tradisi yang tak bermoral. Oleh karena tradisi ini sudah dianggap kebanyakan orang sebagai kegiatan mencari uang secara mudah dan cepat. Dengan kata lain, melakukan perjudian dalam maApasilaga Tedong tersebut, sehingga timbul suatu nilai yang tidak baik ini. Bevans. Model-Model Teologi Kontekstual. Yekhonya F. Timbang, wawancara oleh penulis. Mengkendek. Tana Toraja, 2023 S . Kuranden. Wawancara oleh penulis. Mengkendek. Tana Toraja, 29 November 2023 Hendak ditinjau oleh perspektif Stephen B. Bevans melalui model budaya tandingan . Yang menekankan pada konteks, ingin memurnikan makna konteks dan menantang hal yang mengancam konteks. Oleh karena berbagai daerah tentunya terdapat berbagai bentuk budaya dan tradisi-tradisi yang sering dilakukan, yang terkadang itu tidak sesuai dan sejalan dengan Injil. Umat kristen harus pandai dalam menyeleksi budaya atau tradisi yang dihadapi agar tidak bertentangan dengan ajaran Kristen. DAFTAR PUSTAKA