Mutiara Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. No. April 2025 e-ISSN 3025-1028 Available at: https://jurnal. tiga-mutiara. com/index. php/jimi/index Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi *Rijaludin1. Karsim2. Mazayatul Mufrihah3. Pramana Saputra4 1,2,3,4Universitas Tanjungpura E-mail: Rijaludin967@gmail. karsim@ekonomi. mazayatulmufrihah@ekonomi. saputra@ekonomi. Abstract This study investigates the influence of the work environment and quality of work life on individual work productivity among Generation Z, with mental health serving as a mediating variable within the structural model. Generation Z, as a demographic cohort increasingly dominating the labor force, exhibits distinctive psychosocial characteristics that necessitate adaptive managerial approaches, particularly concerning psychological well-being in the The sample comprised 161 respondents employed across various industrial sectors in Indonesia, selected using a sampling technique based on LemeshowAos formula for populations lacking explicit definition. Data were analyzed using the Structural Equation Modeling (SEM) approach to assess causal relationships among constructs and to validate the proposed theoretical model. Empirical findings reveal that both the work environment and quality of work life exert a positive and statistically significant influence on mental health. Furthermore, these two variables also directly contribute to enhanced work productivity. addition, mental health is demonstrated to be a significant mediator in the relationship between the independent variables and productivity, thereby reinforcing their indirect effects. These results underscore the importance of organizational policy formulation that strategically positions mental health as a core element in human resource management Accordingly, well-being-based workplace interventions not only enhance productivity but also foster a sustainable work ecosystem for the current and future workforce. Keywords: Work Environment. Quality of Work Life. Mental Health. Work Productivity. Generation Z. Abstrak Penelitian ini menginvestigasi pengaruh lingkungan kerja dan kualitas kehidupan kerja terhadap produktivitas kerja individu pada Generasi Z, dengan kesehatan mental sebagai variabel mediasi dalam model struktural. Generasi Z, sebagai kelompok demografis yang kian mendominasi angkatan kerja, menunjukkan karakteristik psikososial yang menuntut pendekatan manajerial yang adaptif, khususnya terkait kesejahteraan psikologis di tempat Sampel terdiri dari 161 responden yang bekerja di berbagai sektor industri di Indonesia, diperoleh melalui teknik penentuan sampel berdasarkan rumus Lemeshow untuk populasi yang tidak terdefinisi secara eksplisit. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menguji hubungan kausal antar konstruk dan mengonfirmasi validitas model teoretis yang diajukan. Temuan empiris menunjukkan bahwa Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 66 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 baik lingkungan kerja maupun kualitas kehidupan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesehatan mental. Selanjutnya, kedua variabel tersebut juga berkontribusi secara langsung terhadap peningkatan produktivitas kerja. Selain itu, kesehatan mental terbukti sebagai mediator signifikan dalam hubungan antara variabelvariabel independen dan produktivitas, yang memperkuat pengaruh tidak langsung Hasil ini menekankan pentingnya perumusan kebijakan organisasi yang menempatkan kesehatan mental sebagai elemen strategis dalam sistem pengelolaan sumber daya manusia. Dengan demikian, intervensi berbasis kesejahteraan kerja tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menciptakan ekosistem kerja yang berkelanjutan bagi generasi pekerja masa kini dan mendatang. Kata-kata Kunci: Lingkungan Kerja. Kualitas Kehidupan Kerja. Kesehatan Mental. Produktivitas Kerja. Generasi Z. PENDAHULUAN Produktivitas kerja merupakan komponen esensial dalam pencapaian efisiensi dan efektivitas organisasi, khususnya di tengah transformasi digital yang mendorong perubahan struktur tenaga kerja. Generasi Z, yang secara demografis mencakup sekitar 20-25% populasi Indonesia atau setara dengan 55 hingga 70 juta jiwa pada tahun 2023 (BPS), mulai mendominasi pasar tenaga kerja dengan karakteristik khas seperti digital nativity, preferensi terhadap pekerjaan yang bermakna, serta perhatian terhadap kesehatan mental. Meskipun memiliki kapabilitas adaptif terhadap teknologi, data menunjukkan bahwa tingkat produktivitas Generasi Z di Indonesia relatif rendah, yaitu sebesar 29,23%, sehingga menimbulkan urgensi bagi organisasi untuk merumuskan strategi peningkatan produktivitas yang berbasis pada kebutuhan dan ekspektasi generasional. Beragam penelitian empiris mengindikasikan bahwa lingkungan kerja yang kondusif secara signifikan meningkatkan kepuasan kerja, yang berimplikasi positif terhadap produktivitas karyawan. Kualitas kehidupan kerja . uality of work lif. , yang mencakup keseimbangan antara aspek personal dan profesional serta dukungan terhadap pengembangan kompetensi, diidentifikasi sebagai determinan utama dalam meningkatkan efektivitas dan daya saing tenaga kerja. Tingkat quality of work life yang tinggi berasosiasi Jean M. Twenge. AuWhy Increases in Adolescent Depression May Be Linked to the Technological Environment,Ay Current Opinion Psychology . 89Ae94, https://w. com/science/article/abs/pii/S2352250X19300880. Nidya Dudija dan Muhammad Dzaky Apriliansyah. AuPsychological Well-Being Among Generation Z Employees: A Literature Review,Ay IJSRM: International Journal of Scientific Research and Management 12, no. : 79Ae87, https://ijsrm. net/index. php/ijsrm/article/view/5572. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 67 Rijaludin. Karsim. Mazayatul Mufrihah. Pramana Saputra: Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi dengan peningkatan keterlibatan kerja karyawan, yang pada akhirnya memperkuat produktivitas dan kepuasan kerja. 3,4,5 Namun, di tengah tekanan pekerjaan yang semakin kompleks, mental health menjadi variabel penting yang perlu diperhatikan terkait produktivitas, terutama bagi generasi muda yang lebih rentan terhadap stres dan kelelahan. Sebagai contoh, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mental health yang baik dapat memediasi pengaruh faktor work environment terhadap produktivitas. Peneliti lain juga menyebutkan bahwa kondisi mental health karyawan memainkan peran mediasi yang signifikan, yang dapat memperkuat atau bahkan menghambat hubungan antara quality of work life dan produktivitas. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa 78% dari Generasi Z merasa mudah stres di tempat kerja, dan 65% dari mereka mengalami kecemasan terkait pekerjaan. Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI), mayoritas yang mengalami depresi berasal dari kelompok usia ini. Namun, meskipun banyak yang menyadari kondisi mental mereka, hanya sekitar 10,4% yang mencari bantuan profesional. Hal ini mencerminkan pentingnya faktor mental health dalam membangun generasi pekerja yang produktif dan sehat. Work environment mencakup elemen fisik dan emosional di tempat kerja yang memengaruhi keterlibatan, produktivitas, dan kepuasan kerja, termasuk suasana umum serta dinamika sosial. 6 Aspek fisik meliputi pencahayaan, suhu, sirkulasi udara, tata letak, dan tingkat kebisingan, sementara aspek non-fisik menekankan hubungan positif antara karyawan dan atasan. Lingkungan kerja yang ideal ditandai dengan fasilitas memadai, relasi harmonis, serta peralatan yang mendukung produktivitas. Indahyati dan Hendarti menyatakan bahwa lingkungan kerja merupakan ruang kolaboratif antara atasan dan karyawan,7 sedangkan Fau dan Buulolo menekankan pentingnya suasana kekeluargaan. Rezwana Rafiq et al. AuImpact of Working from Home on Activity-Travel Behavior during the COVID-19 Pandemic: An Aggregate Structural Analysis,Ay Transportation Research Part A: Policy and Practice 159 . : 35Ae54, https://w. com/science/article/pii/S0965856422000507. Nisa Salsabila et al. AuThe Influence of Quality Work of Life. Workload. Work Stress. Lifestyle and Environment on the Productivity of the Millennial Workforce in Mataram City,Ay International Journal of Management Science . 43Ae51, https://unram. com/simlitabmas/kinerja/penelitian/jurnal/809ed85e-5afe-457c-81d81a74cd2a284e-P-Nisa Salsabila. Hadi Al-Abrrow et al. AuUnderstanding EmployeesAo Responses to the COVID-19 Pandemic: The Attractiveness of Healthcare Jobs,Ay Global Business and Organizational Excellence 40, no. : 19Ae33, https://onlinelibrary. com/doi/abs/10. 1002/joe. Nathania Jessica et al. AuThe Effect of Work Environment and Work-Life Balance on Job Satisfaction: Work Stress as a Mediator,Ay Journal of Economics. Management and Trade 29, no. : 54Ae 65, https://journaljemt. com/index. php/JEMT/article/view/1074. Hanif Nur Indahyati dan Yanita Hendarti. AuPengaruh Kompensasi. Motivasi Kerja dan Lingkungan Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Di PT. Murni Srijaya Sragen,Ay Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta . 276Ae282, https://ejournal. id/index. php/smooting/article/view/494. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 68 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 komunikasi, dan kepatuhan terhadap kebijakan. 8 Bagi Gen Z, 68% menganggap fleksibilitas waktu dan kerja hybrid sebagai kebutuhan utama. Namun, studi di Karawang mengungkapkan bahwa 40% karyawan Gen Z mengalami penurunan produktivitas karena desain ruang kerja yang tidak ergonomis dan tekanan sosial. 9 Perbedaan generasi dan kondisi kerja yang tidak mendukung turut berdampak pada menurunnya kinerja. Quality of work life mencerminkan hubungan antara respons terhadap pekerjaan dengan aspek mental health dan kepuasan kerja. Konsep ini memandang karyawan bukan sekadar bagian mekanis organisasi, melainkan individu yang merancang, menjalankan, dan mendukung sistem kerja secara menyeluruh. 10 Dengan quality of work life yang baik, perusahaan mampu memenuhi nilai, kebutuhan, dan keinginan karyawan, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang nyaman. Hal ini berdampak pada meningkatnya motivasi, tanggung jawab, kesejahteraan mental, dan produktivitas kerja. Mental health merupakan aspek penting dalam kehidupan, termasuk di lingkungan kerja, karena berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan kontribusi karyawan. Keseimbangan mental meningkatkan kepuasan kerja. Generasi Z, yang kini mendominasi angkatan kerja di Indonesia, tergolong rentan terhadap masalah mental. Menurut American Psychological Association (APA), hanya 45% dari Gen Z yang menyatakan kondisi mental mereka baik atau sangat baik, dan mereka memiliki tingkat stres tertinggi dibanding generasi Jika tidak dikelola, stres ini dapat berkembang menjadi gangguan mental serius seperti depresi, yang berdampak negatif pada kepuasan dan produktivitas kerja. Di era transformasi digital dan perubahan demografis tenaga kerja, produktivitas Generasi Z di Indonesia menunjukkan kecenderungan rendah meskipun generasi ini memiliki tingkat adaptasi teknologi yang tinggi. Fenomena ini mengindikasikan perlunya analisis komprehensif terhadap determinan produktivitas, khususnya pengaruh kualitas lingkungan kerja . ork environmen. , kualitas kehidupan kerja . uality of work lif. , serta Jhon Firman Fau dan Progresif Buulolo. AuPengaruh Lingkungan Kerja terhadap Produktivitas Kerja Pegawai di Kantor Samsat Kabupaten Nias Selatan,Ay Remik: Riset dan E-Jurnal Manajemen Informatika Komputer 7, no. : 533Ae536, https://w. id/index. php/remik/article/view/12104. Achmad Firdaus Aljabbar dan Prijati. AuPengaruh Lingkungan Kerja. Motivasi Kerja dan Beban Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada CV. Indah Makmur,Ay Jurnal Ilmu dan Riset Manajemen 13, no. : 1Ae 15, https://jurnalmahasiswa. id/index. php/jirm/article/view/6081. Irham Habibi Fanindra dan Yudi Tri Harsono. AuPengaruh Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Produktivitas Karyawan Produksi PT. Dharma Polimetal tbk. ,Ay Flourishing Journal 2, no. : 727Ae740, https://journal3. id/index. php/psi/article/view/3811. Niken Kusumawardani Saptono. Edy Supriyadi, dan Tabroni Yusuf. AuPengaruh Work Life Balance dan Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan Kerja melalui Employee Engagement dengan Kesehatan Mental sebagai Variabel Moderator pada Karyawan Generasi Milenial (Studi Kasus: Direktorat Keuangan PT. Angkasa Pura (Perser. ,Ay Jurnal Ekobisman . 88Ae108, https://journal. id/index. php/ekobisman/article/view/1837. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 69 Rijaludin. Karsim. Mazayatul Mufrihah. Pramana Saputra: Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi kondisi kesehatan mental . ental healt. Kesehatan mental diduga berperan sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara lingkungan kerja dan kualitas kehidupan kerja terhadap produktivitas, yang menambah kompleksitas dinamika tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh work environment dan quality of work life terhadap produktivitas kerja Generasi Z, serta memverifikasi peran mediasi kesehatan mental dalam hubungan tersebut. Fokus penelitian mencakup identifikasi dimensi-dimensi lingkungan kerja dan kualitas kehidupan kerja yang memiliki kontribusi signifikan terhadap produktivitas, serta pemahaman mekanisme psikologis yang mendasari peran mediasi kesehatan mental. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi konseptual dan empiris bagi pengembangan kebijakan organisasi dan strategi manajerial yang lebih adaptif terhadap karakteristik Generasi Z, guna meningkatkan kesejahteraan mental dan produktivitas tenaga kerja secara berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif sebagai paradigma utama, yang menitikberatkan pada pengukuran variabel secara objektif dan analisis statistik untuk menguji hipotesis berdasarkan teori yang sudah ada. 12 Pendekatan ini memungkinkan peneliti melakukan generalisasi hasil pada populasi yang lebih luas melalui data numerik yang terstruktur. Berdasarkan tujuan analisis hubungan antar variabel, penelitian dikategorikan sebagai penelitian asosiatif kausal yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memverifikasi hubungan sebab-akibat antara konstruk variabel yang diteliti. 13 Data dikumpulkan menggunakan instrumen berupa kuesioner berbasis skala Likert lima poin, yang dirancang untuk mengukur intensitas sikap dan persepsi responden dengan rentang skor dari 1 . angat tidak setuj. hingga 5 . angat setuj. 14 Distribusi kuesioner dilakukan secara daring menggunakan platform media sosial (Instagram. Facebook. WhatsApp, dan TikTo. , untuk mengoptimalkan cakupan dan representasi sampel yang terdiri dari anggota Generasi Z di Indonesia yang memiliki pengalaman kerja di berbagai sektor. 15 Dalam menentukan ukuran sampel, digunakan rumus Lemeshow sebagai metode statistik untuk menghitung Dahlia Amelia et al. Metode Penelitian Kuantitafi (Yayasan Penerbit Muhammad Zaini, 2. Mujibur Rohman. Metodologi Penelitian: Kualitatif dan Kuantitatif (Yogyakarta: PT. Penamuda Media, 2. Suhadarliyah et al. Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pidie: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini. Sidik Priadana dan Denok Sunardi. Metode Penelitian Kuantitatif (Tangerang: Pascal Books, 2. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 70 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 jumlah responden minimum dalam penelitian survei dengan populasi yang tidak diketahui secara pasti, berdasarkan tingkat signifikansi dan margin error yang dapat diterima. Analisis data dilakukan dengan menerapkan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS) menggunakan perangkat lunak SmartPLS versi 4. SEM-PLS merupakan metode statistik multivariat yang memungkinkan estimasi simultan model pengukuran dan struktural, serta efektif untuk data dengan distribusi non-normal dan ukuran sampel terbatas. Evaluasi model diawali dengan validasi model pengukuran untuk memastikan validitas konvergen dan reliabilitas konstruk laten, diukur melalui loading faktor indikator Ou 0,7. Average Variance Extracted (AVE) Ou 0,5, dan Composite Reliability (CR) Ou 0,7. Validitas diskriminan diuji menggunakan kriteria Fornell-Larcker guna memastikan diferensiasi konstruk yang memadai. Setelah model pengukuran memenuhi standar validitas dan reliabilitas, analisis dilanjutkan pada model struktural untuk menguji hubungan kausal antar konstruk laten sesuai hipotesis penelitian. Pendekatan SEM-PLS ini menyediakan estimasi parameter yang andal sekaligus memungkinkan pengujian model teoritis secara komprehensif dalam penelitian sosial yang kompleks. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Work Environment Kode Item WE1 WE2 WE3 WE4 WE5 WE6 WE7 WE8 WE9 Quality of QWL1 Work Life QWL2 QWL3 QWL4 QWL5 QWL6 Uji Validitas Ket 793 valid 762 valid 755 valid 707 valid 734 valid 783 valid 847 valid 827 valid Uji Reliabilitas CR AVE Ket 607 Reliabel 641 Reliabel Abd. Mukhid. Metodologi Penelitian Pendekatan Kuantitatif, ed. Sri Rizqi Wahyningrum (Surabaya: Jakad Media Publishing, 2. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 71 Rijaludin. Karsim. Mazayatul Mufrihah. Pramana Saputra: Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi QWL7 0. 793 valid WL8 783 valid Mental MH1 702 valid Health MH2 821 valid MH3 855 valid MH4 830 valid 642 Reliabel MH5 838 valid MH6 823 valid MH7 791 valid MH8 737 valid Work WP1 831 valid Producktivity WP2 849 valid WP3 751 valid WP4 846 valid WP5 824 valid 0. 681 Reliabel WP6 797 valid WP7 837 valid WP8 869 valid WP9 822 valid WP10 0. 822 valid Tabel 2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Sumber: Data Smart PLS4 . Berdasarkan Tabel 2, seluruh indikator untuk variabel work environment, quality of work life, mental health, dan work productivity memiliki nilai outer loading di atas 0,70, yang menunjukkan validitas indikator, meskipun nilai minimum 0,60 masih dapat diterima. Selanjutnya, uji reliabilitas menunjukkan bahwa nilai CronbachAos Alpha (CA) dan Composite Reliability (CR) seluruh variabel melebihi 0,70, sementara nilai Average Variance Extracted (AVE) juga melampaui ambang 0,50. Dengan demikian, instrumen yang digunakan dapat dinyatakan valid dan reliabel. Seluruh konstruk dalam studi ini menunjukkan reliabilitas yang memadai, ditunjukkan oleh nilai CronbachAos Alpha (> 0,. Composite Reliability (> 0,. , dan Average Variance Extracted (AVE > 0,. Hasil tersebut mengindikasikan tingkat konsistensi internal yang tinggi, sehingga seluruh indikator dapat dianggap andal secara Variabel Mental Health Mental Health Quality Work Life Work Environment Work Productivity Joseph F. Hair Jr. et al. Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) Using R (Switzerland: Springer Nature Switzerland AG, 2. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 72 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 Quality Of Work Life Work Environment Work Productivity Tabel 3. Analisis Validitas Diskriminan (Fornell-Lacke. Sumber: Data Smart PLS4 . Nilai diagonal yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan korelasi antar konstruk secara signifikan memenuhi kriteria Fornell-Larcker, mengukuhkan validitas diskriminan konstruk. Temuan ini menegaskan eksklusivitas konseptual setiap konstruk tanpa adanya tumpang tindih substantif antar variabel. Uji Inner Model Variabel Mental Health Work Productivity R-square R-square adjusted Tabel 4. R-Square Sumber: Data Smart PLS4 . Keterangan Moderat Subtansial RA sebesar 0,812 dan RA adjusted 0,808 pada Work Productivity mengonfirmasi bahwa variabel independen menjelaskan 81,2% variabilitas variabel dependen. Sementara itu. Mental Health memiliki nilai R-square sebesar 0,716 dan nilai R-square yang disesuaikan sebesar 0,712, yang berarti variabel independen menjelaskan 71,6% variasi dari variabel dependennya. Lebih lanjut, dalam mengevaluasi nilai R-square (RA), semakin tinggi nilai RA, maka semakin baik model dalam menjelaskan variabel dependen. Secara umum, ambang batas interpretasi nilai RA adalah 0,75 . , 0,50 . , dan 0,25 . 18 Secara keseluruhan, nilai R-square tersebut menunjukkan bahwa variabel independen memberikan penjelasan yang cukup baik terhadap variable dependen, meskipun kemungkinan masih ada faktor lain yang turut memengaruhi variabel dependen tersebut. Hasil Uji Hipotesi Hipotesis Original Direct Effect H1: Work Environment - 0. > Mental Health H2: Quality of work life -> Mental Health P values Hasil Diterima Diterima Ibid. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 73 Rijaludin. Karsim. Mazayatul Mufrihah. Pramana Saputra: Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi H3: Work Environment - 0. > Work Productivity H4: Quality of work life -> Work Productivity H5: Mental Health -> Work Productivity Indirect Effect H6: Work Environment - 0. > Mental Health -> Work Productivity Diterima Diterima Diterima Diterima H7: Quality of work life Diterima -> Mental Health -> Work Productivity Tabel 5. Temuan dari Dirrect Effect Test dan Indirect Effect Sumber: Data Smart PLS4 . Pengujian hipotesis menggunakan PLS-SEM dengan bootstrapping berdasarkan kriteria signifikansi t > 1,96 dan p < 0,05 mengonfirmasi bahwa seluruh hipotesis (H1AeH. diterima dengan p = 0,000. Temuan ini menguatkan bahwa lingkungan kerja dan kualitas hidup kerja berkontribusi signifikan terhadap kesehatan mental dan produktivitas kerja. Selanjutnya, hipotesis mediasi (H6 dan H. juga terbukti signifikan, mengidentifikasi kesehatan mental sebagai mediator kunci dalam hubungan tersebut. Dengan demikian, peningkatan lingkungan dan kualitas hidup kerja secara langsung dan tidak langsung, melalui perbaikan kesehatan mental, dapat meningkatkan produktivitas kerja secara Pengaruh Work Environment terhadap Mental Health Hipotesis pertama (H. menunjukkan bahwa work environment yang kondusif berperan penting dalam meningkatkan mental health Generasi Z. Penemuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh, yang menyebutkan bahwa work environment yang mendukung, baik dari aspek fisik maupun emosional, dapat meningkatkan kesejahteraan mental karyawan. 19 Selain itu, studi dari Izawa et al. mengungkapkan bahwa peningkatan dalam work environment, khususnya dalam hal dukungan sosial serta kondisi fisik yang lebih baik, dapat mengurangi risiko gangguan mental, presenteeisme, serta stres psikososial yang 20 Penelitian dari Bergefurt et al. mengungkapkan bahwa kantor terutama terganggu oleh kebisingan, yang memengaruhi mental health mereka. 21 Kemudian penelitian Faraz V. Shahidi et al. AuAssessing the Psychosocial Work Environment in Relation to Mental Health: A Comprehensive Approach,Ay Annals of Work Exposures and Health 65, no. : 418Ae431, https://pubmed. gov/33555321/. Toshiaki Izawa et al. AuCytosolic Protein Vms1 Links Ribosome Quality Control to Mitochondrial and Cellular Homeostasis,Ay Cell 171, no. : 890Ae903, https://pubmed. gov/29107329/. Lisanne Bergefurt et al. AuThe Influence of Distractions of the Home-Work Environment on Mental Health during the COVID-19 Pandemic,Ay Ergonomics 66, no. : 16Ae33, https://pubmed. gov/35311483/. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 74 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 dari Jaya et al. menyatakan bahwa work environment yang buruk, baik dalam aspek fisik . eperti kondisi ruang kerja yang tidak nyama. maupun psikologis . eperti ketegangan antar karyawan dan atasan, kurangnya dukungan sosial, atau pengakuan yang renda. , dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan. 22 Sementara itu, penelitian Lange et al. menegaskan bahwa kesejahteraan di tempat kerja . orkplace wellbein. memiliki peran krusial dalam mendukung mental health karyawan, sehingga mereka dapat mencapai kondisi mental yang optimal dan bekerja secara lebih efektif. Pengaruh Quality of Work Life terhadap Mental Health Hipotesis kedua (H. mengungkapkan bahwa quality of work life yang baik berkontribusi secara positif terhadap mental health karyawan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh yNingyl et al. , yang menunjukkan bahwa keseimbangan yang optimal antara pekerjaan dan kehidupan pribadi membantu mengurangi tingkat stres dan kecemasan, sehingga berdampak positif pada mental health individu. 24 Penelitian dari Arya dan Diwanti, mengkaji hubungan antara hubungan Quality of work life terhadap kesehatan mental menyatakan bahwa berdampak positif, baik terhadap kesejahteraan mental maupun fisik dan sosial yang berarti semakin baik quality of work life maka semakin baik juga mental seseorang. 25 Penelitian dari Joyo Leityo et al. menekankan pentingnya quality of work life dalam mendukung kesejahteraan psikologis karyawan, seperti work environment yang aman dan layanan kesehatan kerja, secara signifikan mempengaruhi kontribusi karyawan terhadap produktivitas organisasi. 26 Penelitian dari Dhindayal et al. bahwa quality of work life yang rendah berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan stres di kalangan apoteker selama pandemi Arman Jaya et al. AuTurnover Intention: is it Influenced by Quality of Work Life and Job Satisfaction as a Mediator?,Ay South Asian Research Journal of Business and Management 5, no. : 179Ae187, https://sarpublication. com/media/articles/SARJBM_56_179-187. Annet H. De Lange et al. AuThe Relationships between Work Characteristics and Mental Health: Examining Normal. Reversed and Reciprocal Relationships in a 4-Wave Study,Ay An International Journal of Work. Health Organisations . 149Ae166, https://w. com/doi/abs/10. 1080/02678370412331270860. Nurhan yNingyl et al. AuRelationship between Positive Mental Health and Quality of Work Life in Nurses,Ay Turkish Journal of Clinical Psychiatry 27, no. : 239Ae249, chromeextension://efaidnbmnibpcajpcglclefindmkaj/https://jag. com/kpd/pdfs/KPD-84665RESEARCH_ARTICLE-CINGOL. Nadiazulfa Nur Arya dan Dyah Pikanthi Diwanti. AuPengaruh Lingkungan Kerja Karyawan dan Quality of Work Life (QWL) terhadap Kinerja Karyawan dengan Kesehatan Mental sebagai Variabel Intervening pada Karyawan BMT Bina Ihsanul Fikri Yogyakarta,Ay Jebital: Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital 1, no. : 13Ae26, https://jurnal. com/index. php/jebital/article/view/19. Joyo Leityo. Dina Pereira, dan yCngela Gonyalves. AuQuality of Work Life and Contribution to Productivity: Assessing the Moderator Effects of Burnout Syndrome,Ay International Journal of Environmental Research and Public Health 18, no. : 1Ae20, https://w. com/1660-4601/18/5/2425. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 75 Rijaludin. Karsim. Mazayatul Mufrihah. Pramana Saputra: Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi COVID-19. 27 Selain itu, penelitian Gonzylez-Baltazar et al. mengungkapkan bahwa karyawan yang memiliki quality of work life lebih baik cenderung memiliki kondisi mental yang lebih stabil karena mereka merasa lebih dihargai serta memiliki kendali yang lebih besar terhadap pekerjaan yang mereka jalani. Pengaruh Work Environment terhadap Work Productivity Berdasarkan hasil analisis, hipotesis ketiga (H. menunjukkan bahwa work environment yang nyaman dan mendukung berperan dalam meningkatkan Work Productivity Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari dan Widiastini yang menyatakan bahwa work environment yang baik dapat memotivasi karyawan untuk bekerja lebih efektif dengan menciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan. 29 Penelitian oleh Imamah et al. menegaskan bahwa ingkungan kerja yang mendukung interaksi positif antar karyawan, seperti adanya budaya kerja sama dan komunikasi yang efektif, dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan semangat kerja, sehingga produktivitas meningkat. Penelitian dari Wirahadikusumah menjelaskan bahwa work environment berpengaruh positif dan signifikan terhadap Work Productivity. 31 Organisasi tidak dapat berfungsi jika work environment yang berlangsung dalam organisasi tersebut tidak efektif. Fathussyaadah dan Ardiansyah dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa work environment memiliki pengaruh terhadap Work Productivity karyawan, meskipun pengaruhnya kurang 32 Hal ini menekankan pentingnya faktor-faktor lain dalam meningkatkan Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Amuntai et al. juga mengungkapkan Sherishka Dhindayal. Marothi P. Letsoalo, dan Tanuja N. Gengiah. AuMental Health Outcomes and Workplace Quality of Life among South African Pharmacists during the COVID-19 Pandemic: A Crosectional Study,Ay Journal of Pharmaceutical Policy and Practice 15, no. : 1Ae14, https://pubmed. gov/36258259/. Raquel Gonzylez-Baltazar et al. AuQuality of Work Life and Mental Health in Primary Care Physicians,Ay Procedia Manufacturing . 4935Ae4940, https://w. com/science/article/pii/S2351978915006356. Kadek Widia Lestari dan Ni Made Ary Widiastini. AuPengaruh Lingkungan Kerja dan Kepuasan Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan pada UD Sinar Abadi,Ay Bisma: Jurnal Manajemen 7, no. : 156Ae164, https://ejournal. id/index. php/BISMA-JM/article/view/31095. Imamah et al. AuPengaruh Budaya Organisasi dan Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan Kerja Karyawan,Ay Jurnal Nuansa: Publikasi Ilmu Manajemen dan Ekonomi Syariah 2, no. : 65Ae77, https://journal. id/index. php/Nuansa/article/view/1322. Wirahadikusumah. AuAnalisis Pengaruh Lingkungan Kerja dan Sikap Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan dengan Kompensasi sebagai Variabel Moderasi,Ay Jurnal Pendidikan Tambusai 8, no. : 42240Ae42250, https://jptam. org/index. php/jptam/article/view/20319. Eva Fathussyaadah dan Aar Ardiansyah. AuPengaruh Lingkungan Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan Bagian Produksi Susu UHT PT. Indolakto,Ay Jurnal Ekonomak 6, no. : 1Ae15, https://ejournal. id/index. php/ekonomak/article/view/107. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 76 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 bahwa kondisi work environment yang optimal, baik dalam aspek fisik maupun non-fisik, berkontribusi langsung terhadap peningkatan kinerja dan produktivitas tenaga kerja. Pengaruh Quality of Work Life terhadap Work Productivity Hipotesis keempat (H. mengungkapkan bahwa quality of work life yang baik berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan Work Productivity karyawan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tilaar et al. yang menyebutkan bahwa semakin tinggi quality of work life, semakin besar komitmen dan produktivitas yang ditunjukkan oleh karyawan. 34 Penelitian oleh Hidayah et al. mengungkapkan bahwa bahwa komponen quality of work life seperti keseimbangan kerja hidup, dukungan manajerial, dan work environment yang sehat berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produktivitas 35 Penelitian yang dilakukan oleh Hutubessy mengatakan bahwa bahwa quality of work life memiliki pengaruh langsung sebesar 43,3% terhadap Work Productivity karyawan, serta pengaruh tidak langsung melalui semangat kerja sebesar 15,42%, dengan total pengaruh mencapai 78,9%. 36 Menurut Tamhir mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh langsung positif quality of work life terhadap Work Productivity, artinya peningkatan quality of work life akan menyebabkan peningkatan Work Productivity. 37 Selain itu, penelitian oleh Sari juga menunjukkan bahwa work environment yang mendukung dan berkualitas dapat mengurangi tingkat kelelahan kerja . , meningkatkan efektivitas kerja, serta meningkatkan kepuasan karyawan terhadap pekerjaannya. Kimsry Amuntai. Mohammad Bukhori, dan Widi Ruspitasari. AuPengaruh Lingkungan Kerja. Motivasi dan Kompetensi terhadap Produktivitas Kerja Karyawan di Perusahaan PT. Ajidharma Corporindo,Ay Jurnal Ilmiah Riset Aplikasi Manajemen . 670Ae679, https://journal. id/index. php/jiram/article/view/52. Natalia R. Tilaar. Greis M. Sendow, dan Rotinsulu Jopie Jorie. AuPengaruh Kualitas Kehidupan Kerja. Disiplin Kerja dan Kompensasi terhadap Produktivitas Kerja Pegawai pada Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara,Ay Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi. Manajemen. Bisnis dan Akuntansi 5, 2 . : 2070Ae2078, https://ejournal. id/index. php/emba/article/view/16494. Andi Muhammad Ilham Hidayah. Haeruddin, dan Arni Rizqiani Rusydi. AuHubungan Komponen Quality of Work Life (QWL) dengan Produktivitas Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Labuang Baji,Ay JAHR: Journal of Aafiyah Health Research 5, no. : 388Ae396, https://pascaumi. id/index. php/jahr/article/view/1834. Eline Octoviana Hutubessy. AuPengaruh Quality of Work Life dan Semangat Kerja terhadap Produktivitas Kerja Karyawan PT. PLN (Perser. Cabang Ambon,Ay Jurnal Administrasi Terapan 2, no. : 510Ae519, https://ejournal-polnam. id/index. php/JAT/article/view/2107. Lukman Tamhir. AuPengaruh Kualitas Kehidupan Kerja terhadap Produktivitas Kerja Guru,Ay JHPP: Jurnal Hasil Penelitian Pengembangan . 20Ae27, https://jurnalcendekia. id/index. php/jhpp/article/view/197. Gina Permata Sari. AuPengaruh Kepribadian dan Quality of Work Life (QWL) terhadap Produktivitas Kerja Guru Sekolah Menengah Atas Negeri Wilayah I Kota Administrasi Jakarta TimurAy (Universitas Negeri Jakarta, 2. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 77 Rijaludin. Karsim. Mazayatul Mufrihah. Pramana Saputra: Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi Pengaruh Mental Health terhadap Work Productivity Hipotesis kelima (H. dalam penelitian ini menunjukkan bahwa mental health yang baik berperan penting dalam meningkatkan Work Productivity. Hal ini sejalan dengan penelitian Whiteford yang mengungkapkan bahwa karyawan dengan kondisi mental yang stabil lebih mampu menyelesaikan tugas dengan baik. 39 Penelitian oleh Ridwan et al. menunjukkan bahwa beban kerja yang tinggi berdampak negatif terhadap mental health dosen, yang pada gilirannya menurunkan Work Productivity. 40 Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Putri et al. menyebutkan bahwa mental health tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas dengan nilai P-Value . ,127 > 0,. 41 Penelitian oleh Bubonya et al. menyebutkan bahwa hasilnya menunjukkan bahwa gangguan mental health, seperti depresi dan kecemasan, berhubungan dengan peningkatan absensi dan presensi, yang pada akhirnya menurunkan Work Productivity. 42 Penelitian yang dilakukan oleh Singh et al. juga mendukung temuan ini, dengan menyebutkan bahwa mental health yang terjaga memungkinkan karyawan untuk tetap fokus dan bekerja secara efisien, sehingga berkontribusi pada peningkatan Work Productivity. Mental Health Memediasi Hubungan antara Work Environment dan Work Productivity Berdasarkan hasil analisis, hipotesis keenam (H. menunjukkan bahwa mental health menjadi faktor yang menjembatani hubungan antara work environment dengan work productivity karyawan. Hal ini didukung oleh penelitian Oliveira et al. yang menyatakan bahwa work environment yang nyaman dan mendukung dapat meningkatkan kesejahteraan mental karyawan, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan Work Productivity. Penelitian oleh Arya dan Diwanti menegaskan bahwa work environment mempunyai Harvey Whiteford. AuThe Productivity Commission Inquiry into Mental Health,Ay The Australian and New Zealand Journal of Psychiatry 56, no. : 328Ae331, https://pubmed. gov/34259051/. Riana Ridwan. Sri Suwarsi, dan Indra Fajar Alamsyah. AuPengaruh Beban Kerja terhadap Kesehatan Mental Dampaknya pada Produktivitas Dosen,Ay Bandung Conference Series: Business and Management 4, no. : 204Ae212, https://proceedings. id/index. php/BCSBM/article/view/10508. Cahyani Nurwa Putri. Adi Wibowo Noor Fikri, dan Christophorus Indra Wahyu Putra. AuPengaruh Motivasi. Kepuasan Kerja. Kesehatan Mental dan Penghargaan terhadap Produktivitas Pekerja di Era Gig Economy: Studi Kuantitatif pada Freelancers di Bekasi Timur,Ay IJESM: Indonesian Journal of Economics and Strategic Management . 260Ae272, https://journal. com/index. php/ijesm/article/view/425. Melisa Bubonya. Deborah A. Cobb-Clark, dan Mark Wooden. AuMental Health and Productivity at Work: Does What You Matter?,Ay Labour Economics . 150Ae165, https://w. com/science/article/abs/pii/S0927537116301506. Aakash Manoj Singh et al. AuA Study on the Relation Between Mental Health and Productivity of Individuals in Education Sector,Ay AMIERJ: Aarhat Multidisciplinary International Education Research Journal 13, no. : 96Ae107, https://w. com/download-article/3584/. Claire de Oliveira et al. AuThe Role of Mental Health on Workplace Productivity: A Critical Review of the Literature,Ay Applied Health Economics and Health Policy 21, no. : 167Ae193, https://pubmed. gov/36376610/. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 78 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 pengaruh posistif dan signifikan terhadap karyawan melalui intervening mental health pada mental health akan mendorong atau memperkuat pengaruh work environment yang terbukti bahwa mental health memperkuat work environment. 45 Menurut Prayoga et al. menunjukkan bahwa penelitian ini secara eksplisit menguji dan membuktikan bahwa mental health memediasi hubungan antara work environment dan Work Productivity. 46 Hasil analisis menunjukkan bahwa work environment yang baik meningkatkan mental health, yang pada gilirannya meningkatkan Work Productivity. Selain itu, penelitian oleh Shahidi et juga mengungkapkan bahwa kondisi mental karyawan berperan penting dalam mengoptimalkan dampak positif work environment terhadap kinerja dan produktivitas Mental Health Memediasi Hubungan antara Quality of Work Life dan Work Productivity Hipotesis ketujuh (H. mengungkapkan bahwa mental health berperan sebagai penghubung antara quality of work life dan Work Productivity karyawan. Hal ini sejalan dengan penelitian Oliveira et al. yang menunjukkan bahwa kesejahteraan mental karyawan menjadi faktor utama yang mengaitkan quality of work life yang baik dengan peningkatan 48 Penelitian oleh Busti et al. mental health karyawan, yang dipengaruhi oleh stres kerja, berperan penting dalam menentukan tingkat kelelahan kerja, yang pada akhirnya memengaruhi produktivitas. 49 Selain itu, penelitian oleh Sari juga membuktikan bahwa ketika kondisi mental karyawan tetap stabil, mereka dapat lebih efektif dalam memanfaatkan work environment yang berkualitas untuk meningkatkan produktivitas mereka. KESIMPULAN Hasil analisis struktural kuantitatif mengindikasikan bahwa work environment dan quality of work life (QWL) secara signifikan memberikan kontribusi positif terhadap mental Arya dan Dyah Pikanthi Diwanti. AuPengaruh Lingkungan Kerja Karyawan dan Quality of Work Life (QWL) terhadap Kinerja Karyawan dengan Kesehatan Mental sebagai Variabel Intervening pada Karyawan BMT Bina Ihsanul Fikri Yogyakarta. Ay Vicky Prayoga et al. AuThe Effect of Work Work Environment and Quality of Work Life on the Work Productivity of Generation Z with Mental Health as A Mediating Variable,Ay The Management Journal Binaniaga . 163Ae178, https://w. com/publications/91365b6c49223b5a09fcdac5c13c3ebb. Shahidi et al. AuAssessing the Psychosocial Work Environment in Relation to Mental Health: A Comprehensive Approach. Ay Oliveira et al. AuThe Role of Mental Health on Workplace Productivity: A Critical Review of the Literature. Ay Muharramainil Fajri Busti. Yulihasri, dan Harif Amali Rivai. AuPengaruh Beban Kerja dan Resiliensi terhadap Job Burnout dengan Stres Kerja sebagai Variabel Mediasi,Ay Jurnal Informatika Ekonomi Bisnis 5, no. : 632Ae640, http://infeb. org/index. php/infeb/article/view/566. Sari. AuPengaruh Kepribadian dan Quality of Work Life (QWL) terhadap Produktivitas Kerja Guru Sekolah Menengah Atas Negeri Wilayah I Kota Administrasi Jakarta Timur. Ay Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 79 Rijaludin. Karsim. Mazayatul Mufrihah. Pramana Saputra: Pengaruh Work Environment dan Quality of Work Life terhadap Work Productivity Generasi Z: Mental Health sebagai Variabel Mediasi health dan Work Productivity pada populasi generasi Z di Indonesia. Work environment yang optimal mencakup aspek ergonomik, lingkungan psikososial yang suportif, serta ketersediaan sumber daya yang memadai, yang secara sinergis memfasilitasi homeostasis psikologis dan stabilitas afektif individu pekerja. QWL, yang dimensi-dimensinya meliputi keseimbangan kerja-hidup, otonomi kerja, pengakuan institusional, dan pengembangan kapasitas personal, secara empiris terbukti memperkuat indikator kesehatan mental, yang selanjutnya berimplikasi pada peningkatan efisiensi dan efektivitas performa kerja. Temuan ini konsisten dengan paradigma biopsikososial dan teori sumber daya kerja yang menekankan interdependensi antara kondisi lingkungan kerja dan kesejahteraan psikologis sebagai determinan kritikal produktivitas tenaga kerja, terutama dalam konteks generasi Z yang menghadapi dinamika transisional dalam dunia kerja modern. Secara mediatif, mental health berfungsi sebagai variabel intervening yang memediasi hubungan antara work environment dan QWL terhadap Work Productivity. Mekanisme mediasi ini mengimplikasikan bahwa perbaikan kondisi mental individu berperan sebagai moderator psikologis yang memperkuat pengaruh lingkungan kerja dan kualitas kehidupan kerja terhadap output kerja. Kesehatan mental yang terjaga ditandai oleh regulasi stres yang efektif, pengurangan gejala burnout, dan peningkatan kapasitas kognitif eksekutif yang berperan dalam fokus dan motivasi kerja. Dalam perspektif psikologi organisasi kontemporer, hal ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan holistik yang mengintegrasikan manajemen sumber daya fisik dan psikososial untuk mengoptimalkan Implikasi konseptual dari penelitian ini mendorong redefinisi kebijakan manajerial yang menempatkan kesehatan mental sebagai komponen strategis dalam pengembangan organisasi adaptif dan berkelanjutan, khususnya bagi generasi Z yang memiliki kerentanan psikososial lebih tinggi akibat eksposur terhadap tekanan kerja dan ketidakpastian lingkungan kerja global. Pendekatan tersebut menegaskan perlunya intervensi multidimensi yang berbasis bukti ilmiah untuk menciptakan ekosistem kerja yang resilien dan berdaya saing. REKOMENDASI PENELITIAN LANJUTAN Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk memperluas cakupan populasi dengan melibatkan responden Generasi Z dari berbagai latar sektor dan wilayah geografis di Indonesia, guna meningkatkan validitas eksternal dan representativitas temuan. Selain itu, penting untuk mengkaji secara lebih mendalam korelasi dan potensi hubungan kausal antara karakteristik lingkungan kerja dengan kondisi kesehatan mental serta produktivitas kerja. Copyright A2025. Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia, e-ISSN 3025-1. 80 Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia. Vol. No. April 2025 Pendekatan kualitatif, seperti wawancara mendalam, diusulkan sebagai metode yang relevan untuk menggali aspek-aspek psikologis dan konstruk budaya yang berkontribusi terhadap pembentukan persepsi Generasi Z terhadap kualitas kehidupan kerja dan dinamika lingkungan kerja secara lebih holistik dan kontekstual. REFERENSI