Keyakinan sebagai Faktor Penting dalam Kepatuhan Pengobatan TB pada Anak Devi Trianingsih1. Dessie Wanda2. Fajar Tri Waluyanti3 Program Studi S1 Keperawatan. STIKes Pertamedika. Jakarta. Indonesia Departemen Keperawatan Anak. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Depok. Indonesia trianingsih27@gmail. Abstract Children are one of the most vulnerable populations to the spread of tuberculosis (TB) ger, however, unfortunately the success of TB treatment in DKI Jakarta is still quite low. This study aimed to determine the factors that most influence TB child treatment adherence. The method used was descriptive analysis with cross sectional approach. The sample was determined using techniques Consecutive Sampling: Non Probability Sampling which numbered 168 people. This study illustrated that belief variable was the most influencing factors of TB treatment adherence in children . value 0,001. =0. OR 8,02 after controlled by long-term treatment of TB. PMO, cognitive developments stages, coping behaviour, memory, treatment regimens, communication with health care providers, social support and access to health facilities. This study expected to be source of knowledge for nurses to provide clientAos belief and improve adherence to TB treatment in children. Keyword: belief, adherence, children, tuberculosis Abstrak Anak-anak adalah salah satu populasi rentan terhadap penyebaran kuman tuberkulosis (TB), namun sangat disayangkan tingkat keberhasilan pengobatan TB di DKI Jakarta masih cukup rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang paling mempengaruhi kepatuhan pengobatan TB pada anak. Metode yang digunakan adalah analisis deskripsi dengan pendekatan potong lintang. Sampel ditentukan dengan menggunakan teknik Consecutive Sampling: Non Probability Sampling yang berjumlah sebanyak 168 orang. Studi ini memberikan gambaran bahwa variabel keyakinan menjadi faktor yang paling mempengaruhi kepatuhan pengobatan TB pada anak . value 0,001. =0. OR 8,. setelah dikontrol oleh variabel lama pengobatan TB. PMO, tahapan perkembangan kognitif anak, perilaku koping, memori, regimen pengobatan, komunikasi dengan penyedia layanan kesehatan, dukungan sosial dan akses ke fasilitas kesehatan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan bagi perawat dalam mengembangkan keyakinan klien guna meningkatkan kepatuhan pengobatan TB pada anak serta mampu menambah informasi dalam memberikan intervensi asuhan keperawatan pada anak dengan TB. Kata kunci: keyakinan, kepatuhan, klien anak, tuberkulosis Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 ISSN: 2656-6222. DOI 10. 33088/jkr. Available online: https://jurnal. poltekkes-kemenkes-bengkulu. id/index. php/jkr 12 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 PENDAHULUAN Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paruAnak-anak merupakan populasi yang sangat berisiko terhadap penularan TB. Masalah lain seperti MDR TB yang meningkat menjadi ancaman penyebaran TB pada anak (Jenkins et al. , 2. Menurut profil kesehatan Indonesia tahun 2015, terjadi peningkatan proporsi kasus TB berdasarkan kelompok umur 0-14 tahun dalam 3 tahun terakhir. Data tersebut menunjukkan bahwa pada tahun 2013 proporsi kasus TB sebesar 6,89%, pada tahun 2014 meningkat menjadi 7,10% dan meningkat kembali pada tahun 2015 sebanyak 8,5%. Kondisi ini tidak sebanding dengan proporsi kasus TB untuk kelompok umur 15-64 tahun yang justru mengalami penurunan. Resiko penyebaran kuman TB di usia anak-anak lebih mudah jika dibandingkan dengan usia dewasa. Anak-anak berusia di bawah 5 tahun yang melakukan kontak dengan pasien TB positif berisiko tinggi tuberculosis dan lebih dini menderita penyakit TB serta gejala khasnya (Rutherford et al. , 2. Anak yang berdekatan dengan seseorang terjangkit TB dan tinggal di dalam rumah kecil meningkatkan risiko terinfeksi (Newton. Brent. Anderson. Whittaker & Kampmann. Permasalahan yang muncul terkait kesuksesan pengobatan TB pada anak adalah kepatuhan minum obat TB. Rentang waktu pengobatan yang lama . sangat mungkin sekali terjadi ketidakpatuhan dalam pemberian terapi. Rutherford et al. menyatakan bahwa 74,4% anak-anak kota Bandung memiliki kepatuhan yang rendah dalam menjalani terapi INH selama periode 6 Rata-rata lama pengobatan untuk pengobatan TB pada anak adalah 2Ae18 bulan dengan kombinasi beberapa regimen (Aketi et al. , 2. Pada tahapan pengobatan tersebut, anak akan mengalami hospitalisasi yang berdampak terhadap peningkatan kecemasan dan stres (Tewuh. Wahongan, & Onibala, 2. Hasil penelitian lain menyatakan bahwa kondisi gizi buruk/kurang cenderung didapatkan seorang anak pada dua bulan pertama tahapan pengobatan TB (Prayitami. Dewiyanti, & Rohmani, 2. Efek samping yang muncul dari rangkaian regimen pengobatan ikut menentukan keberhasilan penatalaksanaan TB pada METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui korelasi diantara faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan pengobatan TB pada Adapun kriteria inklusi dari penelitian ini adalah: Usia anak 0-14 tahun pada saat mulai pengobatan dan Anak sudah pernah menjalani pengobatan TB minimal selama enam bulan. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah anak sedang dirawat. Penghitungan sampel dengan menggunakan rumus Slovin dengan margin error sebesar 5% . =0,. Jumlah sampel didapatkan sebanyak 168 orang. Tempat penelitian Trianingsih, dkk. Keyakinan sebagai Faktor Penting dalam Kepatuhan . | 13 dilakukan di 3 Puskesmas wilayah Kotamadya Jakarta Selatan pada bulan Mei-Juni 2017. Penelitian menggunakan instrumen yang dikembangkan dari TB Medication Adherence Scale (TBMAS) (Yin et al, 2. dengan nilai korelasi > r tabel . =30. r tabel=0,. dan alpha cronbach > 0,6. antara frekuensi yang diobservasi dengan frekuensi yang diharapkan oleh peneliti. Pada analisis multivariat, jenis metode yang dipakai pada penelitian ini menggunakan model regresi logistik Teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini yaitu Consecutive Sampling: Non Probability Sampling. Teknik sampling ini dipakai pada semua subyek yang ada serta memenuhi kriteria penelitian dapat masuk sampai jumlah subyek yang diinginkan dapat terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael, 2. Tabel 1. Gambaran Karakteristik Anak dan Pengasuh Prinsip etik dalam penelitian ini adalah . , menimbulkan kerugian . on-maleficenc. , . , responden memiliki kesempatan yang sama . , kerahasiaan identitas . , . Sebelum pengumpulan data dilakukan, peneliti telah mendapat surat lolos kaji etik dari Tim Komite Etik Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (No. 165/UN2. F12. D/HKP. 04/2. Proses analisis data menggunakan aplikasi yang dipakai untuk analisis statistik. Statistical Package for the Sosial Sciences (SPSS) versi 20. Data yang ditemukan kemudian dilakukan analisis univariat, analisis bivariat, dan analisis multivariat. Metode yang dipakai dalam melakukan uji analisis bivariat adalah uji kai kuadrat. Dasar dari uji ini untuk membandingkan HASIL Kategori Karakteristik Anak Usia 0-2 tahun >2-7 tahun >7-11 tahun >11-14 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pengobatan TB 6-9 bulan 9-12 bulan Status TB Sembuh Pengobatan Putus Obat Karakteristik Pengasuh Usia E 30 tahun 17-30 tahun Sosial Ekonomi Baik Kurang Pendidikan SMP SMA Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Berdasarkan tabel 1 menunjukkan 43,5 % anak berada pada rentangusia >2-7 tahun dan sebagian besar berjenis kelamin lakilaki . %). Berdasarkan karakteristik pengasuh didapatkan mayoritas usia >30 tahun . ,4%) dan berpendidikan SMA . %). 14 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 Tabel 2. Analisis Hubungan Karakteristik Anak. Pengaruh Internal dan Eksternal dengan Kepatuhan Variabel Usia Anak 0-2 tahun E 2-7 tahun E 7-11 tahun E 11-14 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Lama Pengobatan TB 6 Ae 9 bulan E 9 Ae 12 bulan Status TB Sembuh Pengobatan Putus Obat Usia Pengasuh E 30 tahun E 17 Ae 30 th Sosial Ekonomi Baik Kurang Pendidikan Pengasuh SMA SMP Pekerjaan Pengasuh Bekerja Tidak Bekerja Tahapan Perkembangan Kognitif Anak Baik Kurang Baik Sifat Individu Baik Kurang Baik Perilaku Koping Baik Kurang Baik Memori Ingatan Baik Kurang Baik Keyakinan Baik Kurang Baik Regimen Pengobatan Baik Kurang Baik Kepatuhan Tinggi Rendah Komunikasi dengan Penyedia Layanan Kesehatan Baik Kurang Baik Dukungan Sosial Baik Kurang Baik Akses ke Fasilitas Kesehatan Baik Kurang Baik PMO Tidak Tabel 2 menggambarkan hubungan antara karakteristik anak dan pengasuh, faktor internal dan faktor eksternal dengan kepatuhan pengobatan TB pada anak. Tabel 3. Pemodelan Akhir Multivariat Variabel Lama Pengobatan TB Tahapan Perkembangan Kognitif Perilaku Koping Memori Ingatan Keyakinan Regimen Pengobatan Komunikasi Dengan Penyedia Layanan Dukungan Sosial Akses ke Kesehatan PMO Fasilitas P Value 0,319 3,418 0,001 3,386 1,729 8,016 6,330 6,241 0,002 1,828 0,010 0,059 0,301 3,418 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan nilai OR tertinggi terdapat pada variabel keyakinan . value < 0,05 dan OR=8,. PEMBAHASAN Berdasarkan analisis multivariat yang dilakukan pada penelitian ini didapatkan bahwa keyakinan merupakan variabel yang paling mempengaruhi kepatuhan Trianingsih, dkk. Keyakinan sebagai Faktor Penting dalam Kepatuhan . | 15 pengobatan TB pada anak dengan nilai OR 8,02. Menurut Wijaya . keyakinan merupakan dasar/pondasi, karena dengan keyakinan yang kuat akan melahirkan potensi berlipat ganda untuk bertindak secara konkret sebagai perwujudan dari proses panjang kesuksesannya, dalam hal ini adalah kesuksesan pengobatan TB. Gambaran keyakinan pada penelitian ini anak/pengasuh yakin terhadap pengobatan, kesembuhan, serta kepatuhan terhadap Sebaran jawaban responden untuk variabel keyakinan sebagian besar berada pada kategori keyakinan baik. Anak yang berpersepsi keyakinan baik memiliki kepatuhan tinggi sebesar 86,4%, sedangkan yang berpersepsi keyakinan kurang baik memiliki tingkat kepatuhan tinggi sebesar 44,8% dari jumlah responden sebanyak 168 orang. Hasil analisis menggambarkan adanya hubungan bermakna antara keyakinan dengan kepatuhan pengobatan TB pada anak . value=0. 000 dan =0. Keyakinan diri didefinisikan oleh Bandura . adalah kepercayaan seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam melakukan sesuatu hal. Pada terminologi dihubungkan dengan efikasi diri yang memiliki pengertian persepsi seseorang mengenai seberapa mampu dirinya dapat berfungsi dalam kondisi tertentu yang erat kaitannya dengan harga diri, konsep diri serta locus of control (Rustika, 2. Pada anak-anak, keyakinan diri muncul dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya yaitu salah satunya adalah keluarga. Teori Child Health Belief Model (CHBM) menjelaskan bahwa keyakinan dari pengasuh memiliki pengaruh yang kuat terhadap pengobatan anak usia 8-14,7 tahun, dengan rata-rata usia 10,7 tahun (Bush & Iannotti, 1. Secara keseluruhan CHBM terdiri dari tiga faktor, yaitu faktor modifikasi, faktor kesiapan, dan faktor perilaku. Faktorfaktor tersebut berhubungan kepada penggunaan pengobatan yang diharapkan serta mampu memprediksi penggunaan pengobatan yang sebenarnya. Faktor modifikasi pada CHBM terdiri dari empat domain, yaitu . demografi termasuk usia, status sosial ekonomi, dan jenis kelamin, . kognitif/afektif termasuk locus of control terhadap kesehatan, harga diri, pengambilan resiko kesehatan, pengetahuan tentang pengobatan, dan otonomi terhadap pengobatan, . domain yang memungkinkan lainnya seperti petugas kesehatan serta frekuensi penyakit, . domain lingkungan termasuk motivasi dari pengasuh anak, ancaman terhadap penyakit yang dialami, keuntungan pengobatan yang dirasakan. Faktor pada domain demografi memberikan pengaruh terhadap faktor modifikasi yang lain. Pada faktor kesiapan melibatkan enam jalur tidak langsung, termasuk didalamnya motivasi dari dalam diri anak, ancaman penyakit yang dirasakan oleh anak, keuntungan dari pengobatan yang dijalani. Faktor paling terakhir dari teori CHBM adalah faktor perilaku yang berujung kepada penggunaan pengobatan yang Anak memiliki harapan dalam memutuskan untuk menjalani pengobatan yang sudah direncanakan. 16 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 1 Nomor 1. Mei 2019 Model kepercayaan kesehatan (Health Belief Model/HBM) yang dipublikasikan oleh ahli psikologi Amerika pada tahun 1950 sebagai upaya meningkatkan perilaku kesehatan bergantung secara langsung dari hasil keyakinan (Sisyahid & Indarjo, 2. Keyakinan tersebut yaitu kerentanan/keseriusan manfaat/kerugian (Newell. Modeste. Marshak & Wilson, 2. Dalam teori tersebut dijelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap bahaya penyakit dapat menimbulkan tindakan pencegahan agar komplikasi serius dari penyakit tersebut tidak dialaminya. Penelitian yang dilakukan oleh Siswantoro . menggambarkan bahwa keyakinan menjadi salah satu faktor predisposisi yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan TB di Kabupaten Bojonegoro. Penelitian tersebut mengatakan bahwa keyakinan pada kerentanan dan keparahan penyakit TB dapat menjadi pondasi untuk melahirkan kekuatan yang berlipat ganda untuk berubah (Siswantoro, 2. Keyakinan pada kerentanan dapat menjadi titik tolak bagi petugas kesehatan untuk dapat memberikan edukasi kepada pasien agar dapat menjalani pengobatan sesuai Perawat sebagai salah satu bagian dari tenaga kesehatan memiliki peranan penting dalam membangun keyakinan klien dan keluarga guna meningkatkan kepatuhan pengobatan. Hal tersebut interpersonal yang kuat antara Perawat dan Klien. Peplau . memberikan gambaran dalam teori AuInterpersonal RelationshipAy bahwa keperawatan, yaitu instrumen edukasi, kekuatan mapan yang perkembangan ke depan dari kepribadian seseorang dalam mengarahkan kreatifitas, konstruktif, produktifitas, serta kehidupan Teori Peplau memiliki fokus spesifik dalam karakteristik dan proses dari hubungan terapeutik yang digunakan sebagai metode keperawatan. Metode keperawatan ini berfungsi untuk mengatur kecemasan dan peningkatan derajat kesehatan pasien. Teori ini dapat diaplikasikan oleh perawat sebagai pendekatan dalam memberikan asuhan Hubungan terapeutik antara perawat dan pasien yang Peplau mengembangkan sumber daya dalam dirinya untuk berperilaku hidup sehat dengan berperan aktif bersama perawat dalam proses dinamis ke arah perubahan (Reed & Shearer, 2. Konsep dari teori ini adalah kecemasan, pola hubungan, diri dan pengalaman. Peplau menggambarkan bahwa perawat harus memiliki kemampuan yang dapat memahami perilaku di dalam dirinya Kemampuan perawat dalam memahami perilakunya sendiri sehingga mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi (Putri, 2. Penjelasan model teori Peplau dijabarkan dalam setiap fase proses interpersonal, dimulai dari fase orientasi, identifikasi, eksploitasi dan resolusi. Proses interpersonal dimulai dari fase orientasi antara perawat dengan klien Trianingsih, dkk. Keyakinan sebagai Faktor Penting dalam Kepatuhan . | 17 secara langsung. Energi kecemasan yang timbul dalam diri klien ditransformasikan menjadi energi kecemasan yang produktif. Perawat menjalankan 6 peran yang berbeda selama proses interpersonal berlangsung, yaitu sebagai orang asing . , narasumber . esource perso. , guru . , pemimpin . , wakil/wali . , dan konselor . Peran tersebut dijalani selama proses interpersonal sampai keempat tahapan selesai. Proses ini membantu klien dan keluarga mengatasi ketakutan terhadap penyakitnya dengan cara mengajarkan seseorang merubah energi kecemasan menjadi sesuatu yang positif untuk meningkatkan derajat kesehatan (Putri. Proses terapi yang diterapkan dalam konsep ini adalah membangun rasa aman . uild feeling securit. , menjalin hubungan saling percaya . rusting relationshi. , serta membina kepuasan didalam berhubungan . nterpersonal Perawat berperan dalam berbagi pendapat tentang hal-hal yang dirasakan klien/dicemaskan . hare anxietie. dan bersikap empati dalam berhubungan dengan klien . mpathy and realtionshi. Perawat juga mampu mendorong munculnya rasa aman bagi klien dalam berinteraksi dengan orang KESIMPULAN Pada pengobatan TB pada anak, dapat kepatuhan tinggi sebesar 72%. Pada karakteristik anak dan karakteristik pengasuh, didapatkan tidak ada variabel yang berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan pengobatan TB pada Ada hubungan yang signifikan . ahapan perkembangan kognitif anak, sifat individu, perilaku koping, memori ingatan dan keyakina. dengan kepatuhan pengobatan TB pada anak. Ada hubungan yang signifikan antara faktor eksternal . egimen pengobatan, komunikasi dengan pemberi layanan kesehatan, dukungan sosial, akses ke fasilitas kesehatan dan PMO) dengan kepatuhan pengobatan TB pada anak. Faktor yang paling dominan dalam menentukan tingkat kepatuhan pengobatan TB pada anak adalah variabel keyakinan dengan OR 8,02. Bagi pelayanan keperawatan disarankan agar dapat menekankan pada penguatan keyakinan bagi anak/pengasuh saat menjalani pengobatan TB. Sampel pada penelitian ini didapatkan dari tiga Puskesmas Kecamatan di wilayah Jakarta Selatan. Data pasien yang diambil dari Puskesmas responden terkait kepatuhan pengobatan memiliki kecenderungan yang sama. DAFTAR PUSTAKA