Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 EFISIENSI TEKNIS USAHATANI TOMAT (Solanum lycopersico. DENGAN PENDEKATAN STOCHASTIC FRONTIER DI KECAMATAN PRINGGASELA TECHNICAL EFFICIENCY OF TOMATO (Solanum lycopersico. FARMING USING THE STOCHASTIC FRONTIER APPROACH IN PRINGGASELA DISTRICT Dimas Ilhami Saputra*1. Rini Endang Prasetyowati2. Elwani Hidayati3. Muhammad Anwar4 1,2,3,4 Universitas Gunung Rinjani 1 ilhamidimas91@gmail. com, 2 riniendang080881@gmail. com, 3 elwanih14011992@gmail. muh@gmail. Masuk: 02 Desember 2025 Penerimaan: 29 Desember 2025 Publikasi: 30 Desember 2025 ABSTRAK Fluktuasi hasil produksi yang terjadi dari tahun ke tahun menandakan adanya potensi permasalahan dalam efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi. Tujuan penelitian, analsisi efisiensi teknis usahatani tomat di Kecamatan Pringgasela. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja, dipilih tiga desa yaitu Desa Pengadangan. Aik Dewa, dan Jurit Baru dengan jumlah responden 30 orang petani dipilih secara quota sampling, di distribusikan di setiap desa secara proportional random sampling. Data di analisis menggunakan pendekatan model produksi Cobb-Douglas dan Stochastic Frontier. Penelitian menghasilkan temuan bahwa variabel tenaga kerja dan luas lahan signifikan mempengaruhi produksi tomat, sedangkan bibit, pupuk, dan pestisida tidak berpengaruh signifikan. Rata-rata nilai ET petani tomat sebesar 0,893 yang mengindikasikan bahwa dominan petani telah mencapai efisien secara teknis. Faktor sosial ekonomi . mur, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarg. mempengaruhi inefisiensi teknis. Petani yang lebih tua dan berpengalaman cenderung lebih efisien, sedangkan jumlah tanggungan keluarga yang tinggi meningkatkan inefisiensi. Hasil ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan penerapan teknologi budidaya yang tepat untuk meningkatkan efisiensi produksi tomat di wilayah penelitian. Kata kunci: Efisiensi Teknis. Kecamatan Pringgasela. Stochastic Frontier. Usahatani Tomat ABSTRACT Fluctuations in production yields from year to year indicate potential problems in the efficient use of production factors. The objective of this study was to analyze the technical efficiency of tomato farming in Pringgasela District. The research locations were purposively selected, with three villages: Pengadangan. Aik Dewa, and Jurit Baru. Thirty farmer respondents were selected using quota sampling and distributed within each village using proportional random sampling. Data were analyzed using the Cobb-Douglas production function approach and the stochastic frontier model. The results showed that land area and labor had a significant and positive effect on tomato production, while seeds, fertilizers, and pesticides had no significant The average technical efficiency score for tomato farmers was 0. 893, indicating that most farmers were technically Socioeconomic factors influencing inefficiency included age, farming experience, and family burden. Older and more experienced farmers tended to be more efficient, while larger family burdens increased inefficiency. These results demonstrate the importance of empowering farmer groups and extension workers to promote training and implement appropriate cultivation technologies to increase tomato production efficiency in the research area. Keywords: Technical Efficiency. Pringgasela District. Stochastic Frontier. Tomato Farming. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 PENDAHULUAN Indonesia memiliki letak geografis yang strategis dan kekayaan sumber daya alam yang Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian . mencatat tenaga kerja pertanian terhadap total tenaga kerja berjumlah 29,37% atau sekitar 23,11 juta orang . ,54 juta subsektor tanaman pangan dan 3,57 juta subsektor hortikultur. penduduk Indonesia menjadikan sektor agraris sebagai tumpuan hidup. Ini menunjukkan pentingnya peran sektor ini dalam perekonomian (Hidayah et al. , 2. Komoditi buah dan sayur mempunyai potensi perkembangan sangat besar. Permintaan masyarakat terhadap pangan diperkirakan akan terus meningkat secara proporsional di masa depan akibat perubahan pola konsumsi dan bertambahnya jumlah penduduk (Susanto et al. , 2014. Solihin et al. , 2. , perkembangan industri makanan olahan, anjuran konsumsi sayur dan buah untuk kesehatan (Novianti et al. Tomat (Solanum lycopersicu. merupakan tanaman hortikultura yang sering dimakan sebagai buah atau sayur segar. Dikenal sebagai tanaman tahunan, tomat tumbuh subur di berbagai iklim, terutama daerah tropis dan subtropis. Faktanya, nilai ekonomi komoditas tomat dianggap paling tinggi sehingga begitu banyak orang bekerja di industri pertanian, memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan (Septiadi & Mundiyah, 2. Kenyataan perilaku ekonomi unik keluarga petani bersifat subsisten, berbeda dengan perusahaan kapitalis yang berfungsi baik sebagai unit produksi maupun konsumen (Nabilah et al. , 2. Standar mendasar yang menyatukan permasalahan seperti pemilihan benih, jumlah benih, metode budidaya, waktu, rotasi tanaman, dan sebagainya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum manusia dengan cara yang stabil dan dapat diandalkan. Keterbatasan lahan . ahan pertanian sempi. , namun seringkali tenaga kerja dianggap sebagai satu-satunya sumber produksi yang relatif berlimpah, petani acap kali terpaksa melakoni aktivitas padat karya dengan hasil minimal sampai kebutuhan dasar terpenuhi (Yusuf & Septiadi, 2. Kabupaten Lombok Timur (LOTIM) merupakan salah satu sentra usahatani tomat, panen terluas . 201 hekta. dan produksi terbanyak . 541,2 to. di Provinsi Nusa Tenggara Barat (BPS NTB, 2. Karenanya, pengembangan usahatani tomat perlu ditingkatkan karena berpotensi besar dalam mendukung kesejahteraan ekonomi dan menjadi sumber utama nafkah penduduk di LOTIM. Sedangkan luas panen dan produksi tomat terbesar di Kabupaten Lombok Timur berada di wilayah Kecamatan Pringgasela (BPS Kabupaten Lombok Timur. Penggunaan faktor produksi mempunyai pengaruh besar terhadap efisiensi usahatani Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Mestinya, petani perlu memahami komponen produksi yang dapat meningkatkan produksi tomat secara optimal dan efisien (Fitri et al. , 2. Penelitian Nursan & Wathoni . mengungkap petani hortikultura belum mampu menghasilkan output maksimum dengan input tertentu, menyebabkan terjadinya in-efisiensi Alokasi teknis input usahatani tomat harus dapat dikalkulasi secara terperinci agar dapat memberikan profit maksimum (Kundrat et al. , 2. Berdasarkan uraian di atas, perlu dilaksanakan suatu kajian secara mendalam terhadap alokasi teknis faktor input produksi tomat dengan fokus analisis pada efisiensi teknis (ET) usahatani tomat (Solanum lycopersicu. di Kecamatan Pringgasela. LOTIM. Urgensi penelitian ini bahwa estimasi biaya dan alokasi teknis pada kegiatan usahatani penting untuk memprediksi capaian produksi maupun tingkat pendapatan dan ketahanan pangan berkelanjutan. METODE PENELITIAN Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret Ae Juni tahun 2025 di tiga desa yaitu Desa Pengadangan. Aik Dewa, dan Jurit Baru Kecamatan Pringgasela. Kabupaten Lombok Timur. Lokasi dipilih secara sengaja, merupakan sentra produksi tomat. Responden sebanyak 30 orang ditentukan kuota sampling, distribusi responden di setiap desa secara proportional random sampling, dengan rincian sebagai berikut: Desa Pengadangan = 1275 ycu 30 = 11 orang Desa Aik Dewa Desa Jurit Baru ycu 30 = 10 orang ycu 30 = 9 orang Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber relevan, dan data primer diperoleh dengan teknik observasi, wawancara tertstruktur, dan dokumentasi dengan berpanduan pada kuesioner. Pengaruh input produksi . uas lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerj. terhadap produksi tomat di analisis dengan fugsi produksi model Cobb-Douglas (Bachtiar & Tamami, 2. Y = aX1b1 X2b2 X3b3 X4b4 X5b5Vi Ui . Model Cobb-Douglass kemudian diubah ke dalam bentuk logaritma natural: Ln Y = b1LnX1 LnX2 LnX3 LnX4 LnX5 a Vi Ui . Dimana : Y : Produksi tomat . Koefisien variabel X1 : Luas lahan . X2 : Bibit . X3 : Pupuk . Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Pestisida . Tenaga kerja (HOK) Error Faktor sebelum variabel In-efisien Kondisi efisiensi teknis, yang mencirikan seberapa baik petani mampu menggunakan unsur-unsur produksi yang mereka miliki untuk memaksimalkan hasil, merupakan tujuan lain dari analisis ini. Jika faktor-faktor produksi berada pada kondisi maksimum, maka penggunaan faktor-faktor tersebut dianggap efisien secara teknis (Aziza, 2. ET = Yi/ a. Keterangan: ET = singkatan dari Technical Efficiency. Yi = jumlah produksi . terhadap i. = jumlah produksi yang diprediksi oleh fungsi produksi frontier Cobb-Douglass. Nilai ET berada di antara interval 0 hingga 1 atau 0 O TE O 1, sehingga jika ET = 1 maka kegiatan usahatani tomat tersebut dikatakan efisien (Wilujeng & Fauziyah, 2. Batas efisiensi teknis sebesar 0,7 digunakan sebagai acuan untuk menilai efisiensi teknis usahatani. Nilai indeks efisiensi ET Ou 0,7 menunjukkan bahwa usahatani telah mencapai efisiensi teknis yang optimal dan dianggap tidak efisien secara teknis jika nilai indeks efisiensinya < 0,7 (Yahyawi et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Variabel yang diduga mempengaruhi produksi tomat yaitu luas lahan=X1, bibit=X2, pupuk=X3, pestisida=X4, tenaga kerja=X5. Dengan estimasi maximum likelihood estimated (MLE) diperoleh hasil berikut: Tabel 1. No. Faktor Produksi yang Mempengaruhi Produksi Tomat di Kecamatan Pringgasela Variabel Koefisien Standard-eror t-ratio Konstanta Luas Lahan(X. Bibit (X. Pupuk (X. Pestisida(X. Tenaga Kerja(X. Sigma-squared. Gamma. LR*test*of*the one-sided*error Sumber: Data primer diolah, 2025. Keterangan: *nyata pada =1% . , **nyata pada =5% . , ***nyata pada =10% . Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Tabel 1 menunjukkan nilai yua=0,285 pada tingkat = 1%, artinya, berpengaruh nyata . Nilai yua > 0 menunjukkan adanya pengaruh inefisiensi teknis dalam model, dan juga nilai yua yang rendah menunjukkan bahwa error term . uN) terdistribusi normal. Menurut Sulistya & Waluyati . menyatakan bahwa jika nilai E . lebih dari nol, maka dapat disimpulkan terdapat keberadaan inefisiensi teknis dalam model, dengan komponen error . tetap sesuai asumsi distribusi normal. Karena terjadi inefisiensi teknis maka gamma . bernilai error sebesar 0,986 yang berarti variasi nilai error cukup tinggi yaitu 98%. Parameter likelihood ratio (LR)=77,182 lebih besar dari nilai tabel yang berarti terdapat adanya efek inefisiensi pada model. Hasil analisis MLE fungsi produksi stochastic frontier pada usahatani tomat dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut: Ln Y = 8,167 0. 749 Ln X1 0. 057 Ln X2 0. 020 Ln X3 0. 011 Ln X4 0. 258 Ln X5 a Berikut penjelasan masing-masing variabel: Luas lahan (X. : Estimasi luas lahan (X. diketahui mempunyai nilai koefisien sebesar 0,749 (=1%), berpengaruh signifikan dan berhubungan searah terhadap produksi tomat. Apabila luas lahan ditambah 1% maka akan meningkatkan produksi tomat sebesar 0,749%. Rata-rata lahan yang digunakan petani untuk budidaya tomat di Kecamatan Pringgasela seluas 0,13 Nilai kapital lahan sangat menentukan keberlanjutan usahatani berfungsi sebagai media tanam (Aziza, 2. , alokasi input variabel lahan berbanding lurus dengan jumlah produksi (Yusuf & Septiadi, 2. , dampak positif dan signifikan areal tanam tomat penentu total produksi (Br Kabeakan et al. Bibit (X. : Variabel bibit (X. tidak mempengaruhi produksi tomat dengan nilai koefisien=0,057. Meskipun petani telah menggunakan bibit unggul Servo F1, akan tetapi capaian produksi tidak optimal. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan yang ekstrim . erangan hama, penyakit, cuaca yang tidak menent. sehingga potensi agronomis bibit unggul terhambat untuk berkembang. Penelitian Majid et al. membuktikan, penggunaan bibit unggul tidak selalu menjamin produksi maksimal jika tidak didukung oleh pengelolaan budidaya yang baik, termasuk pengendalian hama penyakit dan kondisi lingkungan yang sesuai. Aspek perlakuan yang baik dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan vegetatif (Kahar, 2. sebab, tanaman tomat sangat rentan terhadap perubahan cuaca ekstrim dan serangan organisme pengganggu tanaman, sehingga tanpa pengelolaan terpadu, potensi bibit unggul tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Pupuk (X. : Variabel Pupuk (X. memiliki nilai koefisien=0. 020, tidak berpengaruh nyata terhadap produksi tomat. Kondisi faktual di daerah penelitian petani menggunakan pupuk Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 dengan dosis yang kurang tepat, kadang berlebihan maupun kurang dari kebutuhan tanaman Selain itu, jenis pupuk yang digunakan mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan unsur hara spesifik tanaman tomat di lokasi penelitian. Temuan Daroini et al. , pemupukan yang tidak sesuai dengan dosis dan kebutuhan tanaman menyebabkan pengaruh pupuk terhadap produksi menjadi tidak signifikan. Pupuk masih menjadi teknologi usahatani yang belum dapat digantikan perannya sebagai penunjang pertumbuhan tanaman, terlebih lagi saat ini pemerintah memberlakukan skema pengurangan subsidi pupuk kimia, sehingga alternatifnya adalah substitusi ke pupuk organik. Menurut Anwar et al. Ningsih et al. bahwa, pupuk organik lebih murah dan dapat di produksi secara mandiri oleh petani dengan bahan-bahan alami yang terdapat disekitarnya. Dosis pemupukan yang sesuai untuk tanaman tomat umumnya adalah NPK 15-15-15 00 kg/ha, atau pupuk tunggal Urea 125 kg/ha. SP36, 250 kg/ha. KCl 200kg/ha. ZA 300 kg/ha, dan pupuk kandang 30 ton/ha (Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Selanjutnya dijelaskan, aplikasi pupuk kendang. A urea dan ZA, serta seluruh SP36 maupun KCL sebagai pupuk dasar, ditempatkan pada lubang tanaman 2-7 hari sebelum Sisanya diberikan pada saat tanaman tomat berumur 4 minggu setelah tanam (MST) dengan teknik ditugal dengan jarak 10cm kiri-kanan tanaman atau di cor. Pemanfaatan pupuk organik cair (POC) lidah buaya dan air cucia beras terbukti dapat meningkatkan hasil produksi sayuran secara efektif (Ningsih et al. , 2. , pemberian pupuk biourine sapi . osis 20 ml/L) berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil sayuran pakcoy, merupakan dosis/takaran optimum yang direkomendasikan untuk tanaman sayur dan buah (Anwar et al. Pada lahan bedengan . -3 minggu atau 1 bulan sebelum tana. sebaiknya diberikan dolomit untuk menetralisir pH, kombinasi pupuk kompos dan anorganik dapat menyeimbangkan hara, memperbaiki sifat biologis tanah (Bahar et al. , 2. Pestisida (X. : Variabel Pestisida (X. tidak berpengaruh nyata terhadap produksi tomat dengan nilai koefisien=0. Penggunaan pestisida secara intensif namun tidak tepat pada daerah penelitian bahwa justru menyebabkan tanaman tomat rentan terserang hama dan Penggunaan pestisida dengan waktu aplikasi yang tidak tepat sasaran dan takaran dosis berlebihan menyebabkan resistensi sehingga efektivitas pengendalian hama menurun, justru signifikan menurunkan hasil produksi. Tenaga Kerja (X. : Variabel tenaga kerja (X. koefisien sebesar 0,258 (=1%), dinyatakan dapat meningkatkan atau mempengaruhi secara nyata dan berhubungan searah . terhadap produksi tomat. Apabila tenaga kerja ditambah 1% maka akan meningkatkan produksi tomat sebesar 0,258% dimana variabel lain diasumsikan konstan. Ketersediaan Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 sumber daya tenaga kerja dapat menunjang variabel lainnya, sebab tanpa tenaga kerja mustahil usahatani akan dapat dijalankan optimal (Amane, 2. Fakta di lapangan komoditi tomat menjadi usahatani yang digemari masyarakat, sebab permintaan di tingkat lokal yang cukup stabil. Aspek tenaga kerja . abour cos. menjadi perhatian juga bagi petani, karena penggunaan tenaga kerja yang tidak diimbangi dengan produktivitas kerja akan menyebabkan usahatani menjadi inefisien. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan khususnya pada alokasi tenaga kerja yang tepat dapat menunjang keberhasilan produksi usahatani dengan dukungan fungsi manajerial. Kapital tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap produksi (Majid et al. , input tenaga kerja dalam kegiatan usahatani menjadi faktor yang sangat penting (Piri et al. , 2. , karena proses produksi di lahan . n-far. dilakukan oleh tenaga kerja (Kundrat et al. , 2. Efisiensi Teknis Petani Tomat Fungsi produksi stochastic frontier digunakan untuk menganalisis efisiensi teknis usahatani tomat di Kecamatan Pringgasela. Lombok Timur. Usahatani dikatakan mencapai efisiensi secara teknis menurut model Coelli et al. yang dikutip Kurniawati . bahwa, nilai efisiensi teknis yang paling tinggi yaitu rentang <0,8, kemudian nilai efisiensi teknis tinggi yaitu rentang 0,8 sampai 0,6, nilai efisiensi teknis rendah yaitu rentang 0,6 sampai 0,4 lalu yang terakhir nilai efisiensi teknis paling rendah yaitu rentang >0,4. Nilai efisiensi teknis tersebut berhubungan terbalik dengan nilai efek inefisiensi teknis dan hanya digunakan untuk fungsi yang memiliki jumlah output dan input tertentu . rosection dat. Tabel 2. Rangkuman Nilai (Minimum. Maksimum dan Rata-rat. Efisiensi Teknis Usahatani Tomat di Kecamatan Pringgasela No. Keterangan Nilai Efisiensi Teknis Minimum . 0,104 Maksimum . 0,984 Rata-Rata 0,893 Sumber: Data primer diolah, 2025. Tabel 2 menunjukkan tingkat efisiensi teknis (ET) yang dapat dicapai petani tomat berkisar antara 0,104 hingga 0,984 dengan rata rata 0,893 telah memenuhi kriteria 0 O TE O 1, jika ET=1 usahatani efisien (Wilujeng & Fauziyah, 2. Berarti, rata-rata petani tomat di Kecamatan Pringgasela sudah efisien secara teknis. Hanya terdapat 1 orang petani yang belum mencapai efisiensi teknis. Efisiensi teknis yang dicapai memenuhi syarat ET pada usahatani mengacu pada temuan (Yahyawi et al. , 2. , ini juga menjadi indikator kemampuan petani tomat di Kecamatan Pringgasela sudah mampu dalam mengalokasikan faktor produksi secara Selanjutnya, untuk menjaga kestabilan kemampuan variabel produksi petani dapat lebih Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 maksimal mengalokasikan faktor input berdasarkan estimator yang bernilai positif dan signifikan terhadap produksi tomat. Analisis Faktor Inefisiensi Teknis Perilaku produksi yang tidak optimal menyebabkan in-efisiensi usahatani, baik karena ketidaktahuan, keterbatasan teknologi, atau keputusan manajerial yang tidak tepat, dengan menggunakan estimator maximum likelihood estimation (MLE) sebagai pendekatan analisis (Bachtiar & Tamami, 2. Variabel yang diduga menjadi penyebab inefisiensi teknis yaitu, umur (Z. , pengalaman berusahatani tomat (Z. , dan tanggungan keluarga (Z. Tabel 3. Hasil Pendugaan Inefisiensi Teknis Usahatani Tomat di Kecamatan Pringgasela. Maximum Likelihood Estimation (MLE) Variabel Koefisien Standard-eror t-ratio Konstanta Umur (Z. Pengalaman (Z. Tanggungan (Z. Sumber: Data primer diolah, 2025 Keterangan: *nyata pada =1% . , **nyata pada =5% . , ***nyata pada =10% . Tabel 3. menunjukkan in-efisiensi teknis dipengaruhi secara nyata oleh variabel umur (Z. , pengalaman usahatani (Z. , dan tanggungan keluarga (Z. Variabel usia (Z. bertanda negatif namun berpengaruh nyata terhadap inefisiensi dengan koefisien sebesar -9,211. Hal ini menjadi indikator bahwa, semakin lanjut usia seserang maka inefisiensi teknis dalam usahatani akan semakin tinggi. Meskipun petani yang lebih tua cenderung berpengalaman, memiliki local wisdom, berfikir yang lebih matang serta keterampilan yang lebih baik (Bachtiar & Tamami. Akan tetapi kemampuan fisik menjalankan kegiatan pertanian sudah menurun drastis (Ningsih & Anwar, 2. Mengingat usahatani tomat tergolong jenis usahatani yang membutuhkan tenaga dan kekuatan otot pada fase on farm, usia lanjut menjadi hambatan dan dan faktor pembatas pada aspek-aspek tertentu (Fitri et al. , 2. Variabel pengalaman usahatani tomat (Z. berpengaruh nyata (=0,. terhadap inefisiensi teknis petani tomat sebesar 4,190, bertanda positif sebagai indikator hubungan searah bahwa, setiap tambahan satu tahun pengalaman justru akan mengurangi ET sebesar 4,190 atau sama dengan meningkatkan inefisiensi usahatani tomat dengan nilai yang sama pula. Berbeda dengan hasil penelitian Bachtiar & Tamami . yang menyimpulkan bahwa, pengalaman berusahatani memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat inefisiensi teknis pada usahatani sayuran bawang merah sebesr 0,945. Temuan Hasanah et al. mempertegas kondisi faktual di lokasi penelitian, variabel pengalaman usahatani bukan jaminan untuk dapat mengoptimalkan alokasi faktor input sehingga berdampak pada peningkatan efisiensi teknis. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 namun sebaliknya, justru signifikan dan positif mempengaruhi inefisiensi. Pengalaman petani sangat menentukan aspek teknis implementasi teknologi usahatani (Anwar, 2019. Azmi et al. Petani tomat di lokasi penelitian belum dapat menjadikan pengalaman sebagai variabel ET, sebab mereka mempertahankan praktik bertani tradisional, daya serap adopsi dan adaptasi sangat lamban terhadap inovasi yang di diseminasikan. Seharusnya, semakin lama pengalaman bertani tomat, maka petani akan lebih memahami penggunaan input yang optimal, sehingga dapat meningkatkan efisiensi teknis (ET), hasil produksi pun dapat ditingkatkan (Nursan & Wathoni, 2. Dengan pengalaman panjang merupakan perubahan nyata dalam kuantitas dan kualitas tenaga kerja sektor pertanian. Petani lebih memilih konsep gotong royong . odel Besir. , tenaga kerja swadaya difungsikan dengan lingkup keluarga dalam kerja sama (Iskandar et al. , 2. Alternatif situasi ini adalah mengintensifkan fungsi dan peran penyuluh serta kelembagaan kelompok tani (Sahwil et al. , 2025. Anwar & Hakikah, 2. , program SLPTT spesifik lokasi menggugah paradigma lama menjadi harapan kebaharuan model transfer teknologi pertanian modern (Abdullatip et al. , 2. Variabel tanggungan keluarga (Z. berpengaruh nyata (=0,. terhadap inefisiensi teknis usahatani tomat sebesar 1,259. Artinya, semakin banyak jumlah tanggungan keluarga petani, maka tingkat inefisiensi teknis dalam usahatani tomat semakin meningkat. Hal ini mengindikasikan jumlah tanggungan menjadi beban ekonomi rumahtangga petani tomat. Pendapat Fitri et al. Anwar et al. beban tanggungan keluarga dapat mengurangi fokus dalam mengalokasikan aliran kas untuk kebutuhan input usahatani tomat secara efisien, menyebabkan peningkatan inefisiensi. Tanggungan keluarga berpotensi sebagai penyedia tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dapat mengurangi cost produksi, akan tetapi kurang terampil (Wiranto et al. , 2. Meskipun profit usahatani tomat di wilayah lain di Lombok Timur dinyatakan tinggi (Suryadi, 2. , namun berbanding terbalik di lokasi penelitian sebab, tanggungan keluarga menyebabkan tekanan alokasi keuangan akibatnya berdampak negatif terhadap efisiensi usaha pertanian. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada AuEfisiensi Teknis Usahatani Tomat (Solanum lycopersico. dengan Pendekatan Stochastic Frontier di Kecamatan PringgaselaAy bahwa hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut : Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Penggunaan faktor produksi memiliki pengaruh yang berbeda-beda terhadap produksi tomat yaitu variabel luas lahan dan tenaga kerja berpengaruh nyata dan positif terhadap produksi Variabel bibit, pupuk, dan pestisida tidak berpengaruh nyata terhadap produksi tomat. Efisiensi teknis (ET) yang dapat dicapai pada usaha tani tomat di Kecamatan Pringgasela sebesar 0,893. Sedangkan inefisiensi usahatani tomat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi seperti usia, pengalaman, dan jumlah tanggungan keluarga. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mencapai efisiensi teknis (ET) sempurna dengan mengoptimalkan beberapa faktor input berdasarkan nilai estimator. Kemudian, meningkatkan fungsi dan peran penyuluh serta kelembagaan kelompok tani sebagai sarana atau media mentransfer inovasi pertanian DAFTAR PUSTAKA