Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Analisis Pengaruh Strategi Pengelola Risiko. Efisiensi Operasional dan Net Interest Margin terhadap Profitabilitas Studi Kasus Bank Umum yang Terdaftar di Bei Periode 2022-2024 Erlin Kurniawati Universitas Paramadina. Indonesia Email: arlin. arlin3@gmail. Keywords: NPL. LDR. CAR. BOPO. NIM. ROA Kata Kunci: NPL. LDR. CAR. BOPO. NIM. ROA Abstract . The objective of this research is to analyze and empirically test the influence of risk management strategy (Non Performing Loan (NPL). Loan to Deposit Ratio (LDR). Capital Adequacy Ratio (CAR)), operational efficiency (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional / Operational Expenses to Operating Income (BOPO)), and Net Interest Margin (NIM) on the profitability of commercial banks, which is proxied by Return on Assets (ROA). The method used is a quantitative approach with secondary data sourced from the annual financial reports of 41 commercial banks listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) during the 2022 to 2024 period. The total sample of observations is 123 data points, and the analysis method used is panel data regression with the chosen model being the Fixed Effect Model. The results indicate that simultaneously, all independent variables (NPL. LDR. CAR. BOPO, and NIM) significantly affect bank profitability. Partially, the Capital Adequacy Ratio (CAR) variable does not significantly affect ROA. Meanwhile. Non Performing Loan (NPL). Loan to Deposit Ratio (LDR), and Net Interest Margin (NIM) positively and significantly affect ROA. Consistent with theory. Operational Expenses to Operating Income (BOPO) negatively and significantly affects ROA. The main conclusion of this research is that improving bank profitability in Indonesia is highly determined by the bank's ability to optimize its intermediation function (LDR), generate a high net interest margin (NIM), and strictly control operational expenses (BOPO). Banks are advised to focus more on operational efficiency and the productive utilization of capital. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menguji secara empiris pengaruh strategi pengelolaan risiko (Non Performing Loan (NPL). Loan to Deposit Ratio (LDR). Capital Adequacy Ratio (CAR)), efisiensi operasional (Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)), dan Net Interest Margin (NIM) terhadap profitabilitas bank umum, yang diproksikan dengan Return on Assets (ROA). Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder berupa laporan keuangan tahunan 41 bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2022 hingga 2024. Total sampel observasi adalah 123 data, dan metode analisis yang digunakan adalah regresi data panel dengan model terpilih Fixed Effect Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, seluruh variabel independen (NPL. LDR. CAR. BOPO, dan NIM) berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank. Secara parsial, variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Sementara itu. Non Performing Loan (NPL). Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Net Interest Margin (NIM) berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA. Sesuai dengan teori. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Kesimpulan utama penelitian ini adalah bahwa peningkatan profitabilitas bank di Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan bank dalam mengoptimalkan fungsi intermediasi (LDR), menghasilkan margin bunga bersih yang tinggi (NIM), serta mengendalikan beban operasional (BOPO) secara ketat. Bank disarankan untuk lebih fokus pada efisiensi operasional dan pemanfaatan modal secara produktif. PENDAHULUAN Industri per institusi financean memegang peranan strategis dalam sistem perekonomian nasional melalui fungsi intermediasi keuangan. Melalui mekanisme penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, institusi finance kemudian menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit atau pembiayaan kepada sektor produktif. Proses ini tidak hanya memperlancar arus dana dalam perekonomian, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas investasi, konsumsi, serta pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Beserta demikian, stabilitas dan kinerja sektor per institusi financean menjadi salah satu faktor fundamental dalam menjaga ketahanan sistem keuangan nasional (Hasan, 2. Keberlangsungan fungsi intermediasi tersebut sangat bergantung pada kemampuan institusi finance dalam menghasilkan laba secara konsisten. Keuntungan bersih menjadi indikator utama yang mencerminkan efektivitas pengelolaan aset serta efisiensi operasional institusi finance. Salah satu ukuran yang umum digunakan untuk mevalue keuntungan bersih, karena rasio ini menunjukkan kemampuan manajemen dalam memanfaatkan seluruh aset yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan. Tingkat yang tinggi mengindikasikan bahwa institusi finance mampu mengelola sumber dayanya secara optimal dan memperoleh daya tahan yang baik terhadap tekanan risiko. (Sekarsari. , & Yuniningsih, 2. Keuntungan bersih institusi finance berkaitan erat beserta pengelolaan risiko yang ada dalam aktivitas per institusi financean. Mencakup peraturan institusi finance Indonesia melalui Surat Edaran No. 13/24/DPNP/2011 Terkait Pevaluean Tingkat Kesehatan institusi finance Umum, ada beberapa tipe risiko yang harus dikelola, yaitu risiko kredit, risiko likuiditas, dan risiko permodalan. informasi dari institusi finance Indonesia, total pinjaman yang diberikan oleh institusi finance mengalami penurunan pada triwulan I 2024 sebanyak 60,8%. Penurunan ini terjadi di seluruh jenis pinjaman. Selain itu, mengacu pada pendataan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio pinjaman macet (Pinjaman mace. sektor per institusi financean Indonesia mengalami penurunan hingga mencapai sekitar 2,33% pada akhir April 2024, lebih rendah dibandingkan rata-rata di atas 3% selama pandemi COVID-19. Namun, pada Mei 2024. NPL untuk kredit meningkat menjadi 4,27% dari 3,65% pada Maret. Ini menandakan bahwa semakin banyak perusahaan yang gagal membayar kembali pinjaman tepat waktu (OJK, 2. Risiko Kredit, tercermin dari rasio Pinjaman macet (NPL). Menyampaikan proporsi kredit bermasalah beserta total kredit yang diberikan. Tingginya NPL dapat menurunkan pendapatan bunga dan menambah biaya cadangan kerugian, sehingga berdampak Lemah beserta keuntungan bersih (Sadewo. , & Mawardi, 2. Risiko likuiditas biasanya divalue beserta mengaplikasikan rasio Pinjaman terhadap simpanan (LDR). Ibadil dan Haryanto pada tahun 2014. LDR menunjukkan seberapa baik institusi finance dapat memenuhi permintaan penarikan dana nasabah beserta memanfaatkan kredit yang telah diberikan sebagai sumber likuiditas. Jika LDR terlalu tinggi, maka risiko tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendek akan meningkat, sementara jika LDR terlalu rendah, hal ini menunjukkan bahwa penyaluran kredit tidak berjalan optimal. Kedua situasi tersebut bisa berdampak pada tingkat keuntungan institusi finance. Studi yang dilakukan oleh Sadewo dan Mawardi pada tahun 2024 juga menemukan bahwa LDR memperoleh dampak kuat terhadap , sehingga pengelolaan likuiditas menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga kesehatan keuangan. Risiko permodalan diukur beserta mengaplikasikan Kecukupan modal (CAR). (Mahardian, 2. CAR mencerminkan kemampuan permodalan institusi finance untuk menyerap potensi Modal yang memadai memungkinkan institusi finance mengelola kegiatan operasional secara efisien, melindungi kekayaan pemegang saham, dan mendukung peningkatan keuntungan bersih . Selain manajemen risiko, efisiensi dalam operasional juga sangat penting untuk memengaruhi keuntungan. institusi finance perlu dapat mengatur pengeluaran operasional supaya tidak mengurangi pendapatan yang didapat. Tingkat efisiensi menunjukkan kemampuan pengelola dalam menurunkan biaya dan meningkatkan hasil. Efisiensi operasional dievaluasi beserta perbandingan antara Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO). Semakin sedikit angka pada rasio BOPO, semakin baik institusi finance dalam mengelola biaya dibandingkan beserta pendapatan yang diperoleh, sehingga peluang untuk meningkatkan keuntungan semakin besar (Hasan, 2. Selain indikator-indikator yang sudah disebutkan. Margin Bunga Bersih (NIM) juga merupakan variable penting dalam mevalue kinerja institusi finance. NIM diartikan sebagai perbandingan antara pendapatan bunga yang bersih beserta aset yang menghasilkan. Tingkat NIM yang tinggi menunjukkan seberapa baik manajemen institusi finance dalam mengelola aset produktif untuk mendapatkan pendapatan bunga bersih, sehingga dapat memberikan kontribusi kuat terhadap peningkatan keuntungan (Ristati. Nazir, & Mahfuzah, 2. Selain itu. NIM menjadi salah satu elemen utama dalam mevalue tingkat risiko institusi finance melalui metode Risk Based institusi finance Rating (RBBR). Di sisi lain, kegiatan pemberian dana oleh institusi finance tidak dapat dipisahkan dari berbagai jenis risiko, seperti risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional. Ketidakmampuan institusi finance dalam mengatasi risiko-risiko tersebut dapat menyebabkan kerugian yang besar dan dapat mengurangi keuntungan yang telah diraih. Oleh karena itu, pengelolaan risiko yang baik menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan keuntungan bersih institusi finance dalam jangka (Hasan, 2. menekankan bahwa pendekatan pengawasan yang berbasis risiko adalah bentuk pengawasan yang bersifat p ktif, di mana perhatian pengawasan terfokus pada risiko-risiko yang melekat pada setiap aktivitas yang dilakukan institusi finance. Rincian Terkait rata-rata Keuntungan bersih ( ). Kecukupan modal (CAR). Pinjaman terhadap simpanan (LDR). Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Pinjaman macet (NPL), dan Margin Bunga Bersih (NIM) pada institusi finance Umum Konvensional selama periode 2022Ae2024. Kinerja keuangan institusi finance umum konvensional di Indonesia selama periode 2022Ae2024 Menyampaikan dinamika yang fluktuatif. Kecukupan modal (CAR) mengalami peningkatan dari 25,62% pada tahun 2022 menjadi 27,75% di tahun 2023, kemudian sedikit menurun menjadi 26,72% pada 2024. Keuntungan bersih ( ) meningkat dari 2,45% . ke 2,78% . , namun sedikit menurun menjadi 2,68% pada 2024. Efisiensi Operasional (BOPO) cenderung meningkat dari 78,70% menjadi 81,35% pada 2024. Margin Bunga Bersih (NIM) mengalami fluktuasi dari 4,80% . , meningkat ke 4,92% . , lalu turun kembali ke 4,67% . Pinjaman terhadap simpanan (LDR) meningkat kuat dari 78,98% pada 2022 menjadi 86,14% di 2024. Pinjaman macet (NPL) Menyampaikan tren penurunan dari 2,44% pada 2022 menjadi 2,19% di 2023, kemudian sedikit naik ke 2,20% di 2024. Secara keseluruhan, periode 2022Ae2024 mencerminkan stabilitas sistem per institusi financean nasional beserta struktur modal yang kuat (CAR tingg. , keuntungan bersih yang cukup baik ( di atas 2%), serta manajemen kredit macet yang terjaga (NPL di bawah 3%). Namun demikian, efisiensi operasional (BOPO) dan stabilitas margin bunga (NIM) masih menjadi tantangan utama yang dapat memengaruhi keuntungan bersih institusi finance di masa menpendataan ng. Berbagai Studi terdahulu Menyampaikan temuan yang tidak konsisten terkait Dampak pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan kinerja keuntungan bersih per institusi Sadewo dan Mawardi . mengungkapkan bahwa Pinjaman macet (NPL) dan Pinjaman terhadap simpanan (LDR) berdampak kuat beserta Keuntungan bersih ( ), sementara Kecukupan modal (CAR) tidak Menyampaikan Dampak yang kuat. Sementara itu. Utami dan Silaen . menemukan bahwa NPL berdampak kuat beserta , sedangkan Efisiensi Operasional (BOPO) tidak berdampak secara parsial. namun secara simultan. NPL dan BOPO terbukti berdampak kuat beserta pada institusi finance BUMN, yaitu BNI. Mandiri, dan BRI. Berbeda beserta temuan tersebut. Ristati. Nazir, dan Mahfuzah . menyimpulkan bahwa NPL dan Margin Bunga Bersih (NIM) tidak memperoleh Dampak kuat beserta , sedangkan LDR dan BOPO justru berdampak Lemah . Temuan lain dikemukakan oleh Nusantara . yang Menjelaskan bahwa NPL. CAR. LDR, dan BOPO secara kuat memengaruhi . Sekarsari dan Yuniningsih . juga melaporkan bahwa CAR tidak berdampak beserta , namun Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Debt to Equity Ratio (DER) berdampak Kuat , sementara NPL berdampak Lemah beserta . Studi yang dilakukan oleh Paulina Natalia . Menyampaikan bahwa NPL. CAR, dan LDR tidak berdampak beserta , sedangkan NIM berdampak Kuat dan BOPO berdampak Lemah . Shafira . menemukan bahwa efisiensi operasional memperoleh Dampak Kuat dan kuat beserta keuntungan bersih , sedangkan kredit macet yang diproksikan melalui NPL tidak Menyampaikan Dampak baik sebelum maupun selama periode pandemi. Mahardian . Menjelaskan bahwa CAR. NIM, dan LDR berdampak Kuat kuat beserta , sedangkan BOPO berdampak Lemah kuat, sementara NPL berdampak Lemah namun tidak kuat. Selain itu. Dewi. Herawati, dan Sulindawati . mengungkapkan bahwa secara parsial NIM dan LDR berdampak Kuat kuat beserta , sedangkan NPL dan BOPO memperoleh Dampak Lemah Sejalan beserta hal tersebut. Ibadil dan Haryanto . juga membuktikan bahwa NIM berdampak beserta . Perbedaan hasil Studi tersebut Menyampaikan adanya research gap yang perlu ditelaah lebih lanjut. Studi ini berbeda beserta Studi terdahulu karena menekankan pada Variable strategi pengelolaan risiko (CAR. NPL, dan LDR), efisiensi operasional (BOPO), serta Margin Bunga Bersih (NIM) yang diduga berdampak kuat beserta keuntungan bersih institusi finance Selain itu. Studi ini mengaplikasikan periode 2022Ae2024, yaitu fase pemulihan pasca pandemi COVID-19, ketika industri per institusi financean menghadapi peningkatan risiko kredit, tekanan efisiensi, sekaligus peluang pertumbuhan ekonomi. Pada periode tersebut, per institusi financean dituntut lebih adaptif beserta dinamika ekonomi, perubahan suku bunga acuan, dan tingkat persaingan yang semakin ketat. Studi ini berkontribusi baik secara teoretis dalam pengembangan literatur manajemen keuangan per institusi financean maupun secara praktis bagi per institusi financean dalam merumuskan strategi pengelolaan risiko, peningkatan efisiensi, dan penguatan keuntungan bersih . Kebaruan Studi ini terletak pada pengintegrasian strategi pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan Margin Bunga Bersih (NIM) dalam satu model empiris untuk mengtelaah Dampaknya beserta keuntungan bersih institusi finance umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berbeda beserta Studi terdahulu yang umumnya mengTestmasing-masing Variable secara parsial sedangkan peneliti dilakukan secara simultan atau mengaplikasikan periode sebelum dan saat pandemi. Studi ini secara khusus mengaplikasikan pendataan pasca pandemi pada periode 2022Ae2024 yang mencerminkan fase pemulihan dan penyesuaian strategi per institusi financean beserta dinamika ekonomi dan kebijakan moneter terbaru. Fokus pada seluruh institusi finance umum yang terdaftar di BEI beserta cakupan sampel yang relatif luas juga menjadi value tambah Studi ini dibandingkan studi sebelumnya yang cenderung terbatas pada kelompok institusi finance tertentu. Secara teoritis, konsep manajemen risiko, efisiensi operasional, dan pengelolaan Margin Bunga Bersih (Net Interest Margin/NIM) diyakini memiliki pengaruh yang kuat terhadap keuntungan bersih institusi keuangan. Teori intermediasi keuangan dan manajemen risiko menjelaskan bahwa institusi keuangan yang mampu mengendalikan risiko kredit, menekan biaya operasional, serta menjaga margin bunga akan lebih mampu menghasilkan laba yang Namun, realitas menunjukkan bahwa kinerja keuntungan bersih perbankan di Indonesia, khususnya bank umum konvensional, masih menghadapi dinamika yang kompleks. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2022Ae2024 memperlihatkan adanya fluktuasi rasio Non-Performing Loan (NPL) yang mencerminkan ketidakstabilan dalam pengelolaan risiko Dari sisi metodologis, sebagian besar penelitian terdahulu masih berfokus pada periode sebelum pandemi atau hanya meneliti satu atau dua variabel keuangan secara parsial. Penelitian dengan cakupan terbaru yang secara simultan mengkaji pengaruh strategi pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan NIM terhadap keuntungan bersih pada periode pasca-pandemi . 2Ae2. masih terbatas. Selain itu, pendekatan kuantitatif yang digunakan dalam penelitian sebelumnya umumnya hanya menekankan analisis regresi sederhana tanpa mempertimbangkan dinamika pemulihan ekonomi serta perubahan regulasi sektor perbankan yang dikeluarkan oleh OJK pasca pandemi. Kondisi ini membuka ruang bagi penelitian baru untuk menguji kembali konsistensi teori dengan realitas terkini melalui pendekatan kuantitatif yang lebih komprehensif. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan pertanyaan penelitian ini mencakup pengujian apakah Non-Performing Loan (NPL). Loan to Deposit Ratio (LDR). Capital Adequacy Ratio (CAR), efisiensi operasional yang diukur melalui BOPO, serta Net Interest Margin (NIM) memiliki pengaruh terhadap keuntungan bersih, baik secara parsial maupun Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh masing-masing variabel tersebut terhadap keuntungan bersih, serta menguji secara simultan bagaimana kombinasi pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan pengelolaan margin bunga memengaruhi kinerja profitabilitas institusi keuangan. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur dan bukti empiris dalam kajian manajemen keuangan perbankan, khususnya terkait faktor-faktor yang memengaruhi keuntungan bersih pada bank umum konvensional. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bagi manajemen bank, temuan penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi untuk meningkatkan profitabilitas melalui penguatan manajemen risiko, peningkatan efisiensi operasional, dan optimalisasi NIM. Bagi investor, penelitian ini dapat menjadi referensi dalam menilai kinerja dan prospek perbankan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Sementara itu, bagi regulator seperti OJK dan Bank Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan pengawasan serta penilaian tingkat kesehatan perbankan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris: . pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap Return on Assets (ROA). pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap ROA. pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap ROA. pengaruh efisiensi operasional (BOPO) terhadap ROA. pengaruh Net Interest Margin (NIM) terhadap ROA. pengaruh simultan seluruh variabel independen terhadap ROA pada bank umum yang terdaftar di BEI periode 2022-2024. Manfaat penelitian ini terdiri dari manfaat teoretis berupa pengayaan literatur dan bukti empiris dalam kajian manajemen keuangan perbankan, khususnya terkait faktor-faktor yang memengaruhi profitabilitas pada bank umum konvensional di Indonesia periode pemulihan pasca pandemi. Manfaat praktis penelitian ini adalah memberikan masukan bagi manajemen bank dalam merumuskan strategi peningkatan profitabilitas melalui penguatan manajemen risiko, peningkatan efisiensi operasional, dan optimalisasi NIM. Bagi investor, penelitian ini dapat menjadi referensi dalam menilai kinerja dan prospek perbankan sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Sementara itu, bagi regulator seperti OJK dan Bank Indonesia, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan pengawasan serta penilaian tingkat kesehatan perbankan di Indonesia. METODE PENELITIAN Desain Studi Studi menerapkan desain eksplanatori yang berfokus pada pengTest an pengaruh antarvariabel antarVariable yang diteliti. Metode Studi yang diterapkan adalah explanatory research, yaitu jenis Studi yang berfokus pada penjelasan kedudukan Variable-Variable dalam suatu Studi serta hubungan yang terjadi di antara Variable tersebut. Explanatory research bertujuan untuk mengTestketerkaitan antarVariable melalui pengTest an hipotesa yang telah dirumuskan sebelumnya (Sugiyono, 2. Studi ini secara khusus bertujuan untuk mengtelaah Dampak strategi pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan Margin Bunga Bersih (NIM) beserta keuntungan bersih institusi Beserta pendekatan ini. Studi diharapkan mampu memberikan bukti empiris Terkait hubungan antarVariable yang diteliti (Sugiyono, 2. Penpendataan an dalam Studi ini diperoleh dari berbagai sumber yang relevan untuk menjawab rumusan masalah serta mencapai tujuan Studi. Jenis pendataan yang digunakan adalah pendataan sekunder, yang bersumber dari laporan keuangan dan publikasi resmi yang tersedia di Bursa Efek Indonesia (IDX). Studi ini mengaplikasikan pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan ilmiah yang dilakukan secara sistematis untuk mengkaji hubungan antarVariable dan fenomena yang terjadi (Prasetya & Susilo 2. Tujuan utama pendekatan ini adalah mengembangkan serta mengTestmodel terkait secara empiris yang diteliti. Dalam Studi kuantitatif, proses pengukuran menjadi elemen penting untuk memastikan objektivitas hasil telaah . Telaah pendataan menggunakann perangkat lunak EViews versi 12, mengaplikasikan model regresi pendataan panel. Model ini dipilih karena mampu menjelaskan hubungan kausal antarVariable yang diamati pada beberapa entitas ( institusi financ. dalam kurun waktu Metode Pengambilan pendataan Teknik Pengambilan pendataan dalam Studi ini mengaplikasikan metode dokumentasi. Metode dokumentasi dipilih karena Studi ini mengaplikasikan pendataan sekunder berupa laporan keuangan yang sudah tersedia secara publik dan telah diaudit. Pengambilan pendataan dilakukan beserta beberapa tahapan. Pertama, peneliti mengidentifikasi institusi finance umum konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan memenuhi kriteria purposive Kedua, peneliti mengunduh laporan keuangan tahunan . nnual repor. dan laporan publikasi keuangan dari website resmi BEI . , serta website resmi masingmasing institusi finance. Laporan ini berisi informasi Terkait neraca, laporan laba rugi, arus kas, serta catatan atas laporan keuangan yang digunakan untuk menghitung rasio-rasio keuangan Studi. Selain itu, peneliti juga menghimpun literatur, jurnal, buku, dan Studi terdahulu yang relevan sebagai referensi pendukung telaah . Literatur tersebut digunakan untuk memperkuat landasan teoritis, memperluas kajian empiris, serta membandingkan hasil Studi sebelumnya beserta temuan yang diperoleh dalam Studi ini. Teknik penentuan sampel yang diterapkan dalam Studi ini adalah purposive sampling, yaitu metode pemilihan sampel yang didasarkan pada pertimbangan dan kriteria tertentu yang relevan beserta tujuan Studi. Pemilihan teknik ini dilakukan agar sampel yang digunakan mampu memberikan informasi yang sesuai beserta kebutuhan telaah Studi. Adapun kriteria yang digunakan dalam pemilihan sampel Studi ini meliputi: Institusi finance umum yang tercatat secara berkelanjutan di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode pengamatan tahun 2022Ae2024. Institusi finance yang menerbitkan laporan keuangan tahunan secara lengkap dan telah diaudit selama periode Studi. Institusi finance yang memperoleh ketersediaan pendataan keuangan yang berkaitan beserta Variable Studi, yaitu Kecukupan modal (CAR). Pinjaman macet (NPL). Pinjaman terhadap simpanan (LDR). Efisiensi Operasional (BOPO). Margin Bunga Bersih (NIM), serta Keuntungan bersih ( ). Metode Telaah Pendataan Telaah statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik pendataan studi sehingga memudahkan proses interpretasi. Menurut Sugiyono . , telaah ini bertujuan menyajikan informasi dasar terkait pendataan melalui ukuran pemusatan dan penyebaran. Indikator yang digunakan meliputi value rata-rata . , standar deviasi, varians, value maksimum, dan value minimum dari setiap variable studi. Studi ini mengaplikasikan pendekatan regresi linier berganda berbasis pendataan panel, yaitu gabungan antara pendataan time series . untut wakt. dan cross section . ntar obje. Dalam pemilihan model regresi panel, digunakan tiga pendekatan utama, yaitu Common Effect Model (CEM). Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). CEM menggabungkan pendataan time series dan cross section dengan metode Ordinary Least Square (OLS) serta mengasumsikan tidak terdapat perbedaan karakteristik antar individu maupun waktu sehingga seluruh pendataan dianggap homogen selama periode studi (Ghozali, 2. FEM mengakomodasi adanya perbedaan karakteristik antar individu atau periode waktu melalui perbedaan value intersep, dengan asumsi koefisien slope tetap dan variasi individu atau waktu tercermin pada konstanta masing-masing unit. Keunggulan model ini adalah tidak mengharuskan asumsi bahwa error tidak berkorelasi dengan variable independen (Ghozali. Sementara itu. REM menganggap perbedaan antar individu dan waktu sebagai bagian dari komponen error serta digunakan ketika variasi individual dianggap acak dan tidak berkorelasi dengan variable independen. Model ini juga mampu mengatasi keterbatasan FEM yang mengurangi derajat kebebasan akibat penggunaan variable dummy (Ghozali, 2. Penentuan model estimasi dilakukan melalui beberapa pengujian, yaitu Test Chow. Test Hausman, dan Test Lagrange Multiplier (LM). Test Chow digunakan untuk menentukan pilihan antara CEM dan FEM berdasarkan value probabilitas Chi-Square, di mana jika probabilitas < 0,05 maka FEM lebih tepat digunakan, sedangkan jika > 0,05 maka CEM lebih sesuai (Ghozali, 2. Test Hausman bertujuan memilih antara FEM dan REM dan dilakukan apabila hasil Test Chow menunjukkan bahwa FEM lebih baik dibandingkan CEM. Jika probabilitas < 0,05 maka FEM dipilih, sedangkan jika > 0,05 maka REM lebih tepat digunakan (Ghozali, 2. Apabila model yang terpilih adalah CEM atau FEM, maka perlu dilakukan Test asumsi klasik, sedangkan jika REM digunakan maka Test asumsi klasik tidak diwajibkan karena model ini telah mengakomodasi asumsi tertentu terkait error (Mustika, 2. Selain itu. Test Lagrange Multiplier (LM) digunakan untuk memilih antara CEM dan REM, terutama jika hasil Test Chow dan Test Hausman tidak konsisten. Jika probabilitas < 0,05 maka REM lebih sesuai, sedangkan jika > 0,05 maka CEM yang dipilih (Ghozali, 2. Metode telaah pendataan dalam studi ini menggunakan regresi linier berganda untuk menganalisis pengaruh beberapa variable independen terhadap satu variable dependen. Model persamaan yang digunakan mencakup variabel laba bersih sebagai variabel dependen, dengan variabel independen berupa Capital Adequacy Ratio (CAR). Non Performing Loan (NPL). Loan to Deposit Ratio (LDR). Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), dan Net Interest Margin (NIM), serta error term sebagai komponen gangguan. Selanjutnya, dilakukan Test parsial (Test . untuk mengetahui pengaruh masing-masing variable independen secara individual terhadap variable dependen dengan tingkat signifikansi 5% ( = 0,. Jika probabilitas < 0,05 maka variable independen berpengaruh signifikan, sedangkan jika > 0,05 maka tidak berpengaruh signifikan (Ghozali, 2. Selain itu, dilakukan Test simultan (Test F) untuk mengevaluasi kelayakan model regresi dan mengetahui apakah seluruh variable independen secara bersama-sama memengaruhi variable dependen. Pengujian dilakukan dengan membandingkan value F-hitung dengan Ftabel atau melihat probabilitas pada tingkat signifikansi 5% (Ghozali, 2. Apabila hasil Test F tidak signifikan, maka Test parsial tidak direkomendasikan untuk ditafsirkan. Terakhir, digunakan Test koefisien determinasi (RA) untuk mengukur kemampuan variable independen dalam menjelaskan variasi variable dependen. Value RA berada pada rentang 0 hingga 1, di mana semakin tinggi nilai RA . menunjukkan semakin besar kemampuan model dalam menjelaskan variabilitas pendataan, sedangkan nilai yang rendah menunjukkan keterbatasan model dalam menerangkan perubahan variable dependen (Ghozali, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN PengTest an instrument Penentuan Estimasi Model antara Common Effect dan Fixed Effect Penentuan model yang digunakan untuk mengestimasi laba bersih dilakukan melalui Chow Test pada data panel. PengTest an ini membandingkan model Common Effect . ooled OLS) beserta Fixed Effect untuk melihat model yang paling sesuai. Hipotesis pengTest an: H0: Menggunakan Common Effect (Prob > 0,. H1: Menggunakan Fixed Effect (Prob < 0,. Dari hasil Studi beserta mengaplikasikan Chow Test, diperoleh nilai probabilitas ChiSquare sebanyak 0,00 yang lebih kecil dari 0,05. Beserta demikian, model Fixed Effect dinilai lebih tepat dibandingkan Common Effect dalam mengestimasi laba bersih. Pemilihan Model Random Effect dan Fixed Effect Untuk menentukan apakah model Random Effect atau Fixed Effect yang lebih sesuai, dilakukan Hausman Test. Test ini digunakan untuk memilih model terbaik Merujuk nilai probabilitas yang dihasilkan. Hipotesis pengTest an: H0: Fixed Effect lebih tepat dibandingkan Random Effect H1: Random Effect lebih tepat dibandingkan Fixed Effect Tabel 1. Hasil Hausman Test Test Summary Cross-section random Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. Prob Sumber: hasil olah data Eviews 12 Dari hasil Studi mengaplikasikan Test Hausman Test, diperoleh nilai probabilitas sebanyak 0,000. Hasil tersebut menunjukkan bahwa model Fixed Effect lebih tepat digunakan dibandingkan Random Effect dalam Studi ini. Pemilihan Model Random Effect dan Common Effect Test Lagrange Multiplier (LM) digunakan untuk menentukan pilihan antara Common Effect dan Random Effect, terutama jika hasil pengTest an sebelumnya menunjukkan perbedaan kesimpulan. Keputusan diambil Merujuk nilai probabilitas yang diperoleh. Hipotesis: H0: Menggunakan Common Effect (Prob > 0,. H1: Menggunakan Random Effect (Prob < 0,. Tabel 2. Hasil Lagrange Multiplier Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. f Prob Cross-section random 10. Sumber: hasil olah data Eviews 12 Merujuk hasil Test Langrange Multiplier Menyampaikan value probabilitas cross section Breusch-Pagan sebanyak 0,001 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga model yang lebih tepat digunakan adalah Random Effect. Beserta demikian. Random Effect Model dinilai lebih sesuai dibandingkan Common Effect Model dalam Studi ini. Test Regresi Data Panel Analisis dalam Studi ini menggunakan regresi linier berganda berbasis data panel. Terdapat tiga alternatif model yang dapat digunakan, yaitu Common Effect. Fixed Effect, dan Random Effect. Pemilihan model dilakukan terlebih dahulu melalui serangkaian Test spesifikasi model. Merujuk hasil pengTest an, model yang digunakan dalam Studi ini adalah Fixed Effect Model. Test regresi berganda dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Dampak Pinjaman macet. Pinjaman terhadap simpanan. Kecukupan modal Efisiensi Operasional dan Margin Bunga Bersih beserta keuntungan bersih . Hasil pengolahan statistik regresi ganda menghasilkan persamaan model regresi yaitu: Persamaan Model Regresi: = 4. 005628 CAR 0. 125433 NPL 0. 004523 LDR -0. 081048 BOPO 472322 NIM Merujuk persamaan tersebut, dapat dijelaskan bahwa: Konstanta sebanyak 4. 589367 Menyampaikan bahwa apabila seluruh Variable independen (CAR. NPL. LDR. BOPO. NIM) berada pada value nol, maka akan berada pada value 4. Ini menggambarkan tingkat pengembalian aset dasar tanpa Dampak Variable-Variable lain. Koefisien CAR . Menyampaikan bahwa setiap peningkatan CAR sebanyak 1 satuan akan meningkatkan sebanyak 0. 005628, beserta asumsi Variable lainnya konstan. Artinya, semakin tinggi kecukupan modal institusi finance, semakin besar kemampuan institusi finance menghasilkan laba. Koefisien NPL . Menyampaikan bahwa setiap kenaikan NPL sebanyak 1 satuan akan meningkatkan sebanyak 0. Secara teoritis hubungan ini biasanya Lemah , namun hasil empiris Studi dapat Menyampaikan sebaliknya karena faktor tertentu seperti manajemen risiko, pencadangan yang memadai, atau portofolio kredit tertentu. Koefisien LDR . mengindikasikan bahwa setiap peningkatan LDR sebanyak 1 satuan akan menaikkan sebanyak 0. Hal ini dapat Menyampaikan bahwa semakin tinggi penyaluran kredit beserta dana pihak ketiga, semakin besar pendapatan bunga yang memengaruhi peningkatan . Koefisien BOPO (Ae0. Menyampaikan bahwa setiap kenaikan BOPO sebanyak 1 satuan akan menurunkan BOPO menggambarkan efisiensi operasional institusi finance. semakin besar BOPO berarti biaya operasional semakin tinggi sehingga menurunkan laba. Koefisien NIM . Menyampaikan bahwa setiap kenaikan NIM sebanyak 1 satuan akan meningkatkan sebanyak 0. Ini menggambarkan bahwa semakin tinggi margin bunga bersih yang diperoleh institusi finance, semakin besar pula kemampuan institusi finance dalam menghasilkan laba dari asetnya. PengTest an hipotesa TestKoefisien Determinan (R. Koefisien determinasi (RA) merupakan ukuran yang digunakan untuk mevalue sejauh mana Variable independen mampu menjelaskan variasi pada Variable dependen (Ghozali, 2018:. Value koefisien determinasi berada pada rentang antara 0 hingga 1. Semakin kecil value RA Menyampaikan bahwa kemampuan Variable independen dalam menjelaskan perubahan Variable dependen semakin terbatas, sedangkan value RA yang semakin mendekati satu mengindikasikan kemampuan penjelasan model yang semakin kuat. Berikut disajikan hasil pengTest an koefisien determinasi dalam Studi ini. Table 3. Testkoefisien determinasi Variable dependen Keuntungan bersih R-square Adjusted R-square Sumber: pendataan diolah beserta eviews 12 Dari tabel 3 di atas, diperoleh value koefisien (R. beserta model fixed effect sebanyak 0,930915 atau 93%, yang menandakan bahwa variable independen seperti pinjaman macet, pinjaman terhadap simpanan, kecukupan modal, efisiensi operasional, dan margin bunga bersih dapat menjelaskan variasi dari value variable dependen, yaitu keuntungan bersih , sebanyak Sisa 7% variasi dari variable dependen dapat dijelaskan oleh variable independen lainnya. TestF Statistik TestF atau Testsimultan merupakan suatu pengTest an yang dilakukan untuk mengetahui model regresi tersebut adalah model yang tepat dan layak digunakan. Jika dalam TestF tidak ada Dampak kuat, maka tidak disarankan untuk melakukan Testt atau Testparsial. Kriteria yang dipakai untuk membuat keputusan beserta hasil Testhipotesa yang diTestMerujuk tingkat kuat sebanyak 0,05 yang merupakan kesalahan sebanyak 5%. Berikut hasil dari TestF yaitu: Table 4. TestF Variable dependen Keuntungan bersih F Stat Prob Keputusan Ha diterima Sumber: pendataan diolah beserta eviews 12 Didapatkan hasil probabilitas F statistik sebanyak Maka pengambilan keputusannya adalah value sig 0. 000 < 0. 05 yang artinya Ha diterima yaitu Variable independen (Pinjaman macet. Pinjaman terhadap simpanan. Kecukupan modal Efisiensi Operasional dan Margin Bunga Bersih ) berdampak kuat beserta Variable dependen . euntungan bersih ). TestHipotesa . -tes. Testt dilakukan untuk membuktikan seberapa besar Dampak Variable independen secara individual dalam menerangkan Variable dependen. Untuk mengTesthipotesa dilakukan beserta melihat value probabilitas pada hasil telaah mengaplikasikan EViews 12. Kriteria pengTest annya mengaplikasikan tingkat kuatsi 5% ( = 0,. Apabila value probabilitas < 0,05 maka Ha diterima . da Dampak kua. , sedangkan bila value probabilitas > 0,05 maka Ha ditolak . idak ada Dampak kua. Table 5. Statistik Hipotesa Variable CAR NPL LDR BOPO NIM Koefisien (B) Prob Keputusan Tidak didukung Didukung Didukung Didukung Didukung Sumber: pendataan diolah beserta eviews 12 Merujuk hasil regresi dalam table 5 berikut ini disampaikan telaah dan kesimpulan atas Testkuatsi parsial untuk masing-masing Variable independen. Kecukupan modal (CAR) Variable Kecukupan modal Menyampaikan koefisien Kuat beserta tingkat kuatsi sebanyak 0,1507 pada = 5%, yang lebih besar dari 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa hipotesa Studi tidak didukung. Beserta demikian. Kecukupan modal tidak memperoleh Dampak kuat beserta keuntungan bersih institusi finance. Kondisi ini dapat disebabkan oleh tingginya tingkat modal yang dimiliki institusi finance tidak selalu dimanfaatkan secara optimal dalam aktivitas produktif, sehingga belum mampu secara langsung meningkatkan perolehan laba. Pinjaman macet (NPL) Variable Pinjaman macet memperoleh koefisien Lemah beserta value kuatsi sebanyak 0,05 yang lebih kecil dari 0,05 pada tingkat kuatsi 5%, sehingga hipotesa Studi dinyatakan didukung. Hasil ini Menyampaikan bahwa Pinjaman macet berdampak kuat beserta keuntungan bersih . Temuan ini mengindikasikan bahwa pengelolaan kredit macet yang efektif oleh institusi finance mampu meminimalkan dampak peningkatan kredit bermasalah beserta laba yang dihasilkan. Pinjaman terhadap simpanan (LDR) Variable Pinjaman terhadap simpanan Menyampaikan koefisien Kuat beserta value kuatsi sebanyak 0,02 yang lebih kecil dari 0,05, sehingga hipotesa Studi diterima. Hal ini Menyampaikan bahwa Pinjaman terhadap simpanan berdampak kuat beserta keuntungan bersih institusi finance. Tingginya penyaluran kredit mencerminkan optimalisasi fungsi intermediasi institusi finance yang mampu meningkatkan pendapatan bunga dan pada akhirnya berkontribusi Kuat beserta Keuntungan bersih ( ). Efisiensi Operasional (BOPO) Variable efisiensi operasional yang diproksikan beserta BOPO memperoleh koefisien Lemah beserta tingkat kuatsi sebanyak 0,00, yang lebih kecil dari 0,05. Beserta demikian, hipotesa Studi didukung. Hasil ini Menyampaikan bahwa efisiensi operasional berdampak kuat beserta keuntungan bersih . Semakin tinggi value BOPO menandakan meningkatnya beban operasional yang harus ditanggung institusi finance, sehingga berpotensi menekan laba dan menurunkan tingkat . Margin Bunga Bersih (NIM) Variable Margin Bunga Bersih Menyampaikan koefisien Kuat beserta value kuatsi sebanyak 0,00 yang lebih kecil dari 0,05, sehingga hipotesa Studi diterima. Hasil ini Menyampaikan bahwa Margin Bunga Bersih berdampak kuat beserta keuntungan bersih institusi finance. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi NIM, semakin besar kemampuan institusi finance dalam menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktif yang dikelola, yang pada akhirnya meningkatkan tingkat keuntungan bersih . Pembahasan Dampak Kecukupan modal beserta Keuntungan bersih Merujuk hasil pengolahan pendataan mengaplikasikan EViews 12 yang ditunjukkan pada Table hasil Studi. Variable Kecukupan modal (CAR) memperoleh value kuatsi sebanyak 0,1507. Value tersebut lebih besar dibandingkan tingkat kuatsi 5% . , sehingga dapat disimpulkan bahwa Kecukupan modal tidak berdampak beserta keuntungan bersih institusi Beserta demikian, hipotesa pertama (H. yang Menjelaskan bahwa Kecukupan modal berdampak beserta keuntungan bersih dinyatakan ditolak. Tidak kuatnya Dampak CAR beserta keuntungan bersih mengindikasikan bahwa institusi finance cenderung mempertahankan modal dalam jumlah besar untuk memenuhi ketentuan regulasi atau sebagai langkah antisipasi beserta risiko, bukan semata-mata untuk mendorong ekspansi kredit. Kondisi tersebut menyebabkan adanya modal menganggur . dle capita. yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan produktif, sehingga tidak memberikan kontribusi langsung beserta peningkatan laba dan Keuntungan bersih ( ). Temuan ini sejalan beserta hasil Studi yang dilakukan oleh Putri dan Lukviarman . Sinaga . Dewi dan Ariyanto . , serta Nazir et al. yang Menjelaskan bahwa CAR tidak memperoleh Dampak kuat beserta keuntungan bersih institusi finance. Namun demikian, hasil Studi ini tidak sejalan beserta Studi Jalloh . yang menemukan bahwa CAR berdampak Kuat kuat beserta . Sementara itu. Studi Fiana dan Endri . serta Obiedallah dan Abdelaziz . justru Menyampaikan bahwa CAR berdampak Lemah kuat Perbedaan hasil ini Menyampaikan bahwa tingginya CAR tidak selalu mencerminkan kinerja keuntungan bersih yang baik, karena modal yang terlalu besar dan tidak dimanfaatkan secara produktif dapat menurunkan efisiensi penggunaan aset dan membatasi pertumbuhan Dampak Pinjaman macet beserta Keuntungan bersih Hasil pengTest an mengaplikasikan EViews 12 Menyampaikan bahwa Variable Pinjaman macet (NPL) memperoleh value kuatsi sebanyak 0,05, yang lebih kecil atau sama beserta tingkat kuatsi 5% . Hal ini Menyampaikan bahwa Pinjaman macet berdampak beserta keuntungan bersih institusi finance. Oleh karena itu, hipotesa kedua (H. yang Menjelaskan bahwa NPL berdampak beserta keuntungan bersih dinyatakan diterima. Hasil Studi ini Menyampaikan adanya Dampak kuat antara tingkat kredit bermasalah dan keuntungan bersih institusi finance. Temuan ini sejalan beserta Studi yang dilakukan oleh Damanik. Pakpahan, dan Ariesa . yang menemukan bahwa Pinjaman macet memperoleh hubungan Lemah dan kuat beserta Return on Assets. Namun, hasil yang berbeda ditemukan oleh Atisu et al. yang Menyampaikan bahwa kredit bermasalah memperoleh hubungan Kuat dan kuat beserta . Perbedaan hasil tersebut mengindikasikan pentingnya penerapan manajemen kredit macet yang efektif dalam per institusi financean. institusi finance perlu melakukan pemantauan dan deteksi dini beserta kualitas kredit, evaluasi portofolio kredit secara berkala, serta melakukan stress testing untuk meminimalkan potensi risiko. Selain itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui pelatihan bagi petugas kredit menjadi langkah strategis agar proses pevaluean kelayakan kredit dan pengelolaan pinjaman dapat dilakukan secara lebih optimal. Dampak Pinjaman terhadap simpanan beserta Keuntungan bersih Merujuk hasil output EViews 12. Variable Pinjaman terhadap simpanan (LDR) memperoleh value kuatsi sebanyak 0,02, yang lebih kecil dari tingkat kuatsi 5% . Beserta demikian, dapat disimpulkan bahwa Pinjaman terhadap simpanan berdampak beserta keuntungan bersih institusi finance. Oleh karena itu, hipotesa ketiga (H. yang Menjelaskan bahwa LDR berdampak Kuat beserta keuntungan bersih dinyatakan diterima. Hasil Studi ini sejalan beserta Studi Muhammed. Desalegn, dan Emese . yang menemukan bahwa rasio pinjaman beserta simpanan memperoleh Dampak Kuat dan kuat beserta keuntungan bersih institusi finance. Namun, temuan ini berbeda beserta hasil Studi Hacini. Boulenfad, dan Dahou . di Arab Saudi yang Menyampaikan adanya Dampak Lemah kuat antara LDR dan kinerja institusi finance. Hasil serupa juga ditemukan oleh Sathyamoorthi. Mapharing, dan Dzimiri . yang Menjelaskan bahwa LDR berdampak Lemah kuat beserta. Perbedaan hasil Studi ini Menyampaikan bahwa pengelolaan rasio pinjaman beserta simpanan harus dilakukan secara optimal agar institusi finance dapat menjaga likuiditas tanpa meningkatkan risiko kekurangan dana yang dapat berdampak Lemah beserta keuntungan Dampak Efisiensi Operasional beserta Keuntungan bersih Hasil telaah pendataan mengaplikasikan EViews 12 Menyampaikan bahwa Variable Efisiensi Operasional yang diproksikan beserta Efisiensi Operasional (BOPO) memperoleh value kuatsi sebanyak 0,000000, yang lebih kecil dari tingkat kuatsi 5% . Hal ini Menyampaikan bahwa efisiensi operasional berdampak beserta keuntungan bersih institusi Beserta demikian, hipotesa keempat (H. yang Menjelaskan bahwa efisiensi operasional berdampak Lemah beserta keuntungan bersih dinyatakan diterima. Temuan ini sejalan beserta Studi Patarowo. Rinofah, dan Sari . yang Menjelaskan bahwa semakin rendah value BOPO, maka semakin efisien institusi finance dalam mengendalikan biaya operasionalnya. Efisiensi biaya operasional akan meningkatkan laba yang diperoleh institusi finance, sehingga berdampak Kuat beserta keuntungan bersih . Hal ini juga diperkuat oleh Yulianah dan Aji . yang Menjelaskan bahwa efisiensi operasional dapat diukur melalui perbandingan antara biaya operasional dan pendapatan operasional. Dampak Margin Bunga Bersih beserta Keuntungan bersih Merujuk hasil pengTest an beserta EViews 12. Variable Margin Bunga Bersih (NIM) memperoleh value kuatsi sebanyak 0,000000, yang lebih kecil dari tingkat kuatsi 5% . Hasil ini Menyampaikan bahwa Margin Bunga Bersih berdampak beserta keuntungan bersih institusi finance. Oleh karena itu, hipotesa kelima (H. yang Menjelaskan bahwa NIM berdampak Kuat beserta keuntungan bersih dinyatakan diterima. Hasil Studi ini konsisten beserta Studi yang dilakukan oleh Lestari dan Setianegara . yang Menjelaskan bahwa NIM berdampak Kuat beserta keuntungan bersih . Peningkatan pendapatan bunga bersih akan meningkatkan laba institusi finance, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan Return on Assets. Semakin tinggi value NIM, maka semakin besar pendapatan bunga yang diperoleh dari aset produktif yang dikelola institusi finance, sehingga kredit macet bermasalah dapat diminimalkan. Dampak Strategi Pengelolaan Risiko. Efisiensi Operasional, dan Margin Bunga Bersih beserta Keuntungan bersih Hasil pengTest an simultan mengaplikasikan EViews 12 Menyampaikan bahwa Variable strategi pengelolaan risiko yang diproksikan oleh Pinjaman macet (NPL). Pinjaman terhadap simpanan (LDR), dan Kecukupan modal (CAR), bersama beserta efisiensi operasional dan Margin Bunga Bersih , memperoleh value kuatsi sebanyak 0,000000, yang lebih kecil dari tingkat kuatsi 5% . Hal ini Menyampaikan bahwa secara simultan seluruh Variable independen tersebut berdampak kuat beserta keuntungan bersih institusi finance. Beserta demikian, hipotesa keenam (H. dinyatakan diterima. Hasil Studi ini sejalan beserta Studi Shafira . yang Menjelaskan bahwa efisiensi operasional berdampak Kuat kuat beserta keuntungan bersih , sementara kredit macet tidak Menyampaikan Dampak kuat. Mahardian . juga Menjelaskan bahwa CAR. NIM, dan LDR berdampak Kuat kuat beserta , sedangkan BOPO berdampak Lemah kuat, dan NPL berdampak Lemah namun tidak kuat. Selain itu. Dewi. Herawati, dan Sulindawati . menemukan bahwa NIM dan LDR berdampak Kuat kuat beserta , sementara NPL dan BOPO berdampak Lemah kuat. Studi lain oleh Ibadil dan Haryanto . juga Menyampaikan bahwa Margin Bunga Bersih berdampak beserta Return on Assets. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh strategi pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan margin bunga bersih terhadap keuntungan bersih pada institusi keuangan umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2022Ae Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial kecukupan modal tidak berpengaruh terhadap keuntungan bersih karena belum dimanfaatkan secara optimal untuk aktivitas Sementara itu, pinjaman macet (NPL) dan pinjaman terhadap simpanan (LDR) berpengaruh kuat terhadap keuntungan bersih, yang mengindikasikan bahwa risiko kredit masih dalam batas aman serta fungsi intermediasi berjalan efektif. Efisiensi operasional (BOPO) memiliki pengaruh lemah karena tingginya beban operasional yang menekan laba. sisi lain, margin bunga bersih (NIM) berpengaruh kuat terhadap keuntungan bersih, mencerminkan efektivitas pengelolaan pendapatan bunga. Secara simultan, kombinasi strategi pengelolaan risiko, efisiensi operasional, dan NIM terbukti berpengaruh kuat dalam menjelaskan variasi keuntungan bersih institusi keuangan. DAFTAR PUSTAKA