Analisis Penataan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan Sesuai dengan Analisis Beban Kerja A nalysis of Health Human Resource Needs Based on Workload Analysis at Metro Community Health Center. Sabarina Amir1*. Samino1. Riyanti1. Noviansyah1. Christin Angelina1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Malahayati. Lampung. Indonesia Korespondensi Penulis: rienaamirtwins@gmail. ABSTRACT The Metro Community Health Center is experiencing a shortage of health personnel due to population coverage and an increasing number of additional work programs. The aim of this research is to determine the results of the analysis of health human resource needs based on the workload analysis. This research employs a qualitative method with observation, document study, and in-depth interviews as data collection techniques. The informants consisted of 9 . health workers and key informants from the Head of the Health Human Resources Working Group, the Head of the Community Health Center, and the Head of the Administration Subdivision of the Metro Community Health Center. The instruments used were interview guides and a workload analysis sheet. Data analysis involved workload analysis and qualitative analysis with source, method, and theory The results of the health human resource availability ratio analysis indicate that it is not yet ideal. There is a gap in the availability of health human resources, with the highest gaps in midwives . , nurses . , and doctors . , while other health human resources such as dentists, health promotion officers, environmental sanitarians, nutritionists, pharmacists, and medical laboratory technologists each have a gap of 1 personnel. It is recommended to resubmit proposals for the recruitment of health personnel due to the urgency of the need, and to establish cooperation with health education institutions to facilitate Field Work Practices and the placement of health personnel to increase the work capacity of existing health workers. Keywords: Needs Arrangement. Health Human Resources. Workload Analysis ABSTRAK Puskesmas Metro mengalami kekurangan tenaga kesehatan terkait dengan cakupan penduduk dan tambahan program kerja puskesmas yang semakin banyak. Tujuan penelitian diketahuinya hasil analsis penataan kebutuhan sumber daya manusia kesehatan berdasarkan hasil analisis beban kerja. Jenis penelitian kualitatif dengan teknik observasi, studi dokumen dan wawancara mendalam. Informan terdiri dari 9 . tenaga kesehatan dan informan kunci dari Ketua Tim Kerja Sumber Daya Manusia Kesehatan. Kepala Puskesmas, dan Kepala Subbagian Tata Usaha Puskesmas Metro. Instrumen menggunakan pedoman wawancara dan lembar analisis beban kerja. Analisis data dengan analisis beban kerja serta analisis kualitatif dengan triangulasi sumber, metode dan teori. Hasil analisis rasio ketersediaan SDM Kesehatan belum ideal. Terdapat Kesenjangan ketersediaan SDMK dengan kesenjangan tertinggi pada tenaga bidan sebanyak 8 orang, perawat 5 orang, dokter 3 orang sedangkan SDMK lainnya seperti dokter gigi, promkes, sanitasi lingkungan, nutrisionis, apoteker dan ATLM masing-masing sebanyak 1 orang. Rekomendasi perlu diajukan kembali usulan pengadaan tenaga kesehatan terkait urgensinya serta menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan kesehatan untuk memfasilitasi Praktek Kerja Lapangan dan penempatan tenaga kesehatan untuk menambah kapasitas kerja tenaga kesehatan yang sudah ada. Kata kunci: Penataan Kebutuhan. SDM Kesehatan. Analisis Beban Kerja PENDAHULUAN Salah satu komponen input dalam daya manusia (SDM). Di Kesehatan. SDM penyelenggaraan kesehatan adalah sumber sering dikenal dengan tenaga kesehatan Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. Urutan pelayanan kesehatan adalah terbatasnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengalami kekurangan tenaga kesehatan sebesar 10 juta orang pada 2030, rendah dan menengah (Firdaus, 2. Permasalahan tenaga kesehatan juga terjadi di Indonesia dan cukup kompleks mulai dari permasalahan terkait kuantitas Permasalahan penyediaan SDM kesehatan di Indonesia meliputi beberapa hal, yaitu ketersediaan tenaga kesehatan yang belum mencukupi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kesehatan di Indonesia sebanyak 1,1 juta kesehatan profesional dan 333. 730 tenaga kesehatan non-profesional. Jumlah ini terutama untuk tenaga kesehatan di daerah terpencil dan perbatasan (BPS, 2. Berdasarkan Sistem Informasi SDM Kesehatan (SISDMK), hanya 48,9% Puskesmas di Indonesia yang telah memiliki 9 . jenis tenaga kesehatan sesuai, persentase Provinsi dengan Puskesmas yang memenuhi 9 jenis tenaga kesehatan tertinggi adalah DKI Jakarta . ,4%), dan yang paling rendah adalah Provinsi Papua . ,6%), sedangkan untuk Provinsi Lampung baru mencapai 35,1%. Jika dilihat dari jenis tenaga 5,0% Puskesmas di Indonesia yang tidak memiliki dokter 32,4% Puskesmas kekurangan dokter gigi, 10,6% Puskesmas kekurangan perawat dan 69,7% kekurangan bidan. Provinsi Lampung pemenuhan tenaga kesehatan di setiap puskesmasnya baru terpenuhi sebanyak 35,1% (SISDMK Kemenkes RI, 2. Data tenaga kesehatan Kota Metro, proporsi jenis tenaga kesehatan yang terbesar adalah perawat yaitu 27% . , kedua adalah bidan yaitu 9% . , dan yang paling sedikit adalah keterapian fisik yaitu 0,2% . Bila dilihat dari rasio masing-masing jenis menunjukkan bahwa rasio jenis tenaga terbesar adalah rasio tenaga perawat yaitu sebesar 281 per 100. 000 penduduk, sedangkan rasio terendah adalah profesi teknisi elektromedis dengan rasio 4 per 000 penduduk. Berdasarkan rasio pelaksanaan di lapangan masih kekurangan dikarenakan rasio sarana kesehatan sangat tinggi sehingga perlu tenaga kesehatan yang lebih agar jumlah tenaga kesehatan sesuai dengan jumlah Puskesmas yang ada (Dinkes Kota Metro, 2. Kelebihan beban kerja pada tenaga kesehatan di Puskesmas dapat disebabkan beberapa faktor diantaranya ketidakmerataan penempatan tenaga kesehatan, peningkatan jumlah pasien khusunya pada saat terjadinya wabah tertentu misalnya DB ataupun seperti kejadian selama pandemi COVID19, peningkatan jumlah pasien. Terbatasnya sumber daya seperti tenaga kesehatan khusus misalnya tenaga laboratorium dan tenaga kesling dan gizi, peralatan, dan fasilitas di Puskesmas dapat menyebabkan beban kerja yang berlebih. Selanjutnya yaitu ketidakseimbangan antara kuantitas dan kualitas pekerjaan yang menjadikan persepsi beban kerja tinggi tidak sebanding dengan kuantitas pekerjaan yang dilakukan oleh petugas kesehatan. Permasalahan penataan SDM di sarana kesehatan diantaranya yaitu penelitian (Saiful et al. tentang Analisis perencanaan sumber daya manusia (SDM) kesehatan dengan metode Workload Indicators Of Staffing Need (WISN) di RSUD Undata Palu Sulawesi Tengah Tahun 2022 dengan hasil beban kerja tenaga perawat yang ada di layanan rawat inap sangat tinggi yakni pagi 208,21%, sore 172,57% dan malam 106,76% dan memerlukan penambahan tenaga perawat sebanyak 5 orang dengan rasio WISN yang memiliki tekanan beban kerja tinggi yakni ruangan mawar dengan rasio 0,8, ruangan melati dengan rasio 0,9 dan ruangan aster dengan rasio 0,9. Permasalahaan tersebut juga terjadi di Puskesmas Metro Kota Metro dimana berdasarkan hasil pra survei dan kondisi yang ada di Dinas kesehatan berdasarkan sumber dari Kepala Puskesmas Metro diperoleh gambaran terkait dengan jumlah tenaga kesehatan yang masih kurang meskipun sudah sesuai dengan standar Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. Puskesmas menurut Permenkes No 43, namun masih dirasa kurang karena adanya tamabahan program kerja Puskesmas yang semakin banyak. Hal ini diperkuat dengan adanya informasi dari beberapa pegawai seperti tenaga perawat, bidan, dan kesmas menyatakan beban kerjanya yang terlalu banyak jika di bandingkan dengan program kesehatan yang semakin kompleks serta pertambahan jumlah pasien yang datang ke Puskesmas, selain itu juga masih terdapat program ganda yang sebenarnya kurang Namun dibuktikan lebih lanjut karena masalah beban kerja tersebut masih bersifat subyektif sehingga harus dibuktikan dengan perhitungan beban kerja obyektif karena hanya berdasarkan keterangan subjektif, dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan perencanaan SDM yang akan diajukan. METODE Penelitian deskriptif dengan analisis data kualitatif. Data kualitatif primer dikumpulkan dengan cara observasi dengan teknik work sampling dan studi dokumentasi. Subjek penelitian adalah tenaga kesehatan di Puskesmas Metro dan objek penelitian adalah analisis beban kerja. Pemilihan variabel analisis beban kerja didasarkan atas adanya permasalahan kurangnya jumlah tenaga kesehatan jika dibandingkan dengan beban kerja yang harus di tanggung oleh setiap tenaga kesehatan di Puskesmas Metro. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder terkait dengan dokumentasi beban kerja, waktu kerja dan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia untuk tiap bagiannya. Analisa data kualitatif dokumentasi dan wawancara dari hasil analisa beban kerja. HASIL Tabel 1 Distribusi Tenaga Kesehatan Puskesmas Metro Tahun 2024 No. Jenis Nakes Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Apoteker /Asisten Dokter Gigi Perawat Gigi Kesling Gizi Rekam Medik Promkes Sanitarian JFU JUMLAH Jika dilihat dari tabel di atas ratio berdasarkan Permenkes No. 33 Tahun Dokter umum Indikator rasio ketersediaan dokter adalah 45/100. 000, jika dikonversi ke jumlah 20. PNS Jumlah Kontrak penduduk, terdapat kesenjangan jumlah dokter sebanyak 5 orang. Dokter Gigi Indikator rasio ketersediaan dokter gigi adalah 13/100. jika dikonversi ke jumlah 20. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. jumlah dokter gigi sebanyak 2 Perawat Indikator rasio ketersediaan perawat adalah 180/100. 000, jika dikonversi ke jumlah 20. perawat sebanyak 30 orang. Bidan Indikator rasio ketersediaan bidan adalah 120/100. 000, jika dikonversi ke jumlah 20. penduduk, terdapat kesenjangan jumlah bidan sebanyak 10 orang. Farmasi Indikator rasio ketersediaan 12/100. 000, jika dikonversi ke farmasi sebanyak 1 orang. Pelaksana Gizi Indikator rasio ketersediaan tenaga pelaksana gizi adalah 14/100. 000, jika dikonversi ke tenaga pelaksana gizi sebanyak 1 Tenaga sanitasi Indikator rasio ketersediaan 18/100. 000, jika dikonversi ke tenaga sanitasi sebanyak 3 orang. Tenaga Promkes Indikator rasio ketersediaan 16/100. 000, jika dikonversi ke tenaga promkes sebanyak 2 Tenaga Laboratorium Indikator rasio ketersediaan 16/100. 000, jika dikonversi ke tenaga laboratorium sebanyak 1 Kebutuhan SDM Kesehatan Kebutuhan Dokter Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK dokter di Puskesmas Metro sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah dokter yang ada di Puskesmas Metro ada sebanyak 4 sebanyak 3 orang dokter. Kebutuhan Dokter Gigi Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK dokter gigi di Puskesmas Metro adalah sebanyak 2 orang sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah dokter gigi yang ada ketenagaan dokter gigi sebanyak 1 orang Kebutuhan Perawat Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK perawat di Puskesmas Metro adalah sebanyak 10 orang sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah perawat yang ada di Puskesmas Metro ada sebanyak 5 sebanyak 5 orang perawat Kebutuhan Bidan Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK bidan di Puskesmas Metro sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah bidan yang ada di Puskesmas Metro ada sebanyak 10 orang sehingga terdapat sebanyak 8 orang bidan. Kebutuhan Tenaga Promkes Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK Promkes di Puskesmas Metro adalah sebanyak 2 orang sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah SDMK Promkes yang ada di Puskesmas Metro ada terdapat kesenjangan sebanyak 1 orang tenaga promkes. Kebutuhan Tenaga Sanitasi Lingkungan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK sanitasi lingkungan di Puskesmas Metro adalah sebanyak 2 orang sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah tenaga sanitasi lingkungan yang ada sebanyak 1 sanitasi lingkungan sebanyak 1 Kebutuhan Nutrisionis Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK nutrisionis di Puskesmas Metro adalah sebanyak 1 orang sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah nutrisionis yang ada di Puskesmas Metro ada sebanyak 1 kesenjangan jumlah nutrisionis sebanyak 1 orang. Kebutuhan Tenaga Apoteker Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK Apoteker di Puskesmas Metro adalah sebanyak 2 orang sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah apoteker yang ada di Puskesmas Metro ada sebanyak 1 sebanyak 1 orang. Kebutuhan ATLM Berdasarkan hasil analisis beban kerja untuk kebutuhan SDMK ATLM di Puskesmas Metro sedangkan kondisi yang ada saat ini jumlah ATLM yang ada di Puskesmas Metro ada sebanyak 1 kesenjangan sebanyak 1 orang ATLM. Tabel 2. Rekapitulasi Perhitungan Kebutuhan SDMK di Puskesmas Metro No. Jenis SDMK Dokter Dokter Gigi Perawat Bidan Promosi Kesehatan Sanitasi Lingkungan Nutrisionis Apoteker ATLM SDMK Rasio SDMK Saat ini Berdasarkan tabel tersebut maka jenis SDM Kesehatan yang masih kurang dari kebutuhan berdasarkan target rasio penduduk maupun dari hasil analisis beban kerja. Berdasrakan hasil analisis sebagai berikut: tenaga bidan dengan kesenjangan sebanyak 8 orang, perawat 5 orang, dokter 3 orang sedangkan SDMK lainnya seperti dokter gigi, promkes, sanitasi lingkungan, nutrisionis, apoteker dan ATLM sebanyak 1 orang. Hasil terkait analisis Beban Kerja ini wawancara dengan beberapa informan yang terdiri atas Ketua Tim SDMK Dinas Kesehatan. Kepala Puskesmas dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Puskesmas dengan hasil kutipan wawancara sebagai SDMK ABK Kesenjangan Metode yang digunakan untuk perencanaan kebutuhan tenaga Metode yang digunakan untuk perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan di Puskesmas Metro selama ini juga menggunakan analisis beban kerja, namun dalam dengan baik dikarenakan sampai dengan saat ini hasil dari analisis terlaksana untuk semua tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Metro. Hasil dengan informan sebagai berikut: Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. Sebenarnya menggunakan analisis beban kerja sebagaimana instansi lainnya, keseluruhan hasil perhitungannya sudah fix, hanya untuk beberapa jabatan saja yang memang dirasa kurang seperti tenaga perawat, (Kapu. Hasil ini juga diperkuat oleh informan kunci Kasi Sumber Daya Manusia Dinas Kesehatan Kota Metro wawancara berikut ini: Perencanaan kebutuhan tenaga menggunakan analisis beban kerja dan standar ketenagaan minimal untuk puskesmas (Katim Dinke. Pelaksanaan Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan Pelaksanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Metro meliputi beberapa kegiatan seperti analisis kebutuhan SDM melalui analisis pengajuan usulan penambahan tenaga kerja. Hal ini tergambar dengan informan sebagai berikut: Pelaksanaan akhirnya ya usulan penambahan SDM nya, tapi ya pengajuannya ya itu tadi harus didasarkan atas hasil analisis beban kerjanya dulu (Ka TU). Hasil ini juga diperkuat oleh kutipan wawancara berikut ini: Perencanaan kebutuhan tenaga puskesmas dilakukan setiap satu tahun sekali (Katim Dinke. Pihak perencanaan kebutuhan Pihak yang terlibat dalam kegiatan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Metro Kepala Puskesmas beserta Kepala Tata Usaha, tanggung jawab tersebut meliputi analisis beban kerja, pengajukan kebutuhan tenaga kerja serta jenis batan yang dibutuhkan oleh puskes. Hal ini sebagai berikut: Selama ini ya menjadi tanggung jawab saya dibantu oleh kepala TU nya, untuk analisisnya dikerjakan oleh TU sedangkan saya nanti melakukan evaluasi saja atas hasil analisisnya, kalau memang pas usulannya (Kapu. Hasil ini juga diperkuat oleh kutipan wawancara berikut ini: Perencanaan kebutuhan tenaga seharusnya menjadi tanggung jawab dari Kepala Puskesmas dan Bagian Tata Usaha Kepegawaiannya (KatimDinke. Kompetensi atau syarat-syarat yang harus dimiliki perencana kebutuhan tenaga kesehatan Kompetensi diantaranya memiliki manajemen SDM dan tentu saja kemampuan SDMK SKM ABK Hal ini tergambar dengan informan sebagai berikut: Sepertinya kemampuan dalam melakukan analisis beban kerja, tapi ya kalau saat ini sih hanya berdasarkan SK saja, kalau ada belum tau juga (Ka TU). Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. Hasil ini juga diperkuat oleh kutipan wawancara berikut ini: Kompetensinya tentu saja terkait dengan manajemen SDM dan kompetensi dalam melakukan analisis beban kerja itu sendiri (Katim Dinke. Tugas yang dibebankan kepada petugas perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan Tugas sesuai dengan tanggung jawabnya berdasarkan kondisi yang ada di puskesmas dan kajian mendalam atas hasil analisis kebutuhan SDMK yang telah dikerjakannya. Hal ini tergambar berdasarkan hasil wawancara dengan informan sebagai berikut: Tugas perencanaanya dan mengajukan usulan jika memang dirasa ada kebutuhan penambahan SDM, namun terkait diterima atau tidaknya itu menjadi kewenangan pihak yang terkait dengan usulan tersebut (Ka TU). Hasil ini juga diperkuat oleh kutipan wawancara berikut ini: Tugasnya ya sesuai dengan melakukan perencanaan terkait SDM Kesehatan (Katim Dinke. Pedoman yang menjadi acuan dalam perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan Pedoman yang Menjadi Acuan dalam Perencanaan kebutuhan Permenkes No. 33 Tahun 2015 dan Permenkes No. 43 Tahun 2019 tentang tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. Hal ini sebagai berikut: Pedoman dalam penyusunanan Perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan adalah Permenkes No. 33 Tahun 2015 dan Permenkes No. 43 Tahun 2019 tentang tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (KatimDinke. Data kebutuhan tenaga kesehatan Data yang digunakan dalam perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Metro terdiri atas data tenaga puskesmas, data terkait dengan masing-masing jabatan, data terkait dengan tupoksi masing-masing jabatan dan data kepegawaian lainnya. Hal ini tergambar berdasarkan hasil sebagai berikut: Data yang dibutuhkan dan harus disiapkan oleh bagian Tata Usaha ya semua data yang terkait dengan kepegawaian, dan jika terkait dengan kebutuhan tenaga kerja ya harus tersedia data terkait dengan hasil analisis beban kerjanya yang menjadi dasar dari pengusulan penambahan tenaga kerja kesehatan (Kapu. Data-datanya ya terkait dengan perencanaan, datanya ya terkait dengan analisis beban kerjanya (Ka TU). Kesulitan Kesulitan dalam menerapkan program perencanaan kebutuhan SDM kesehatan yang selama ini dialami adalah perhitungan terkait dengan tugas penunjang yang sering berubah-ubah sehingga kesulitan dalam penentuan beban kerja yang ditanggung setiap jabatan serta pembagian bidang kerja dan jabatan yang berubah- Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. rubah karena adaya tangung jawab memegang program yang Hal dengan informan sebagai berikut: Kesulitannya ya terkadang sering penentuan jam kerja serta adanya juga tambahan dari masingmasing jabatan yang menjadikan analisis beban kerjanya harus menerus (Ka TU). Hasil ini juga diperkuat oleh kutipan wawancara berikut ini: Kesulitannya terletak di SDM yang melakukan analisisnya aja, biasanya mereka berdasarkan templet yang sudah ada aja, jadi kurang begitu memahami alurnya seperti apa (Katim Dinke. Koordinasi Puskesmas dengan Dinas Kesehatan Koordinasi dengan Dinas Kesehatan penyusunan tidak ada, hanya dilakukan pada saat pengajuan usulan dilakukan verifikasi data Hal ini tergambar dengan informan sebagai berikut: Koordinasi itu dilakukan setelah pihak puskesmas mengajukan penyusunannya ya sepenuhnya kebijakan puskesmas, tapi saat pendampingan dan monitoring lanjutan (Katim Dinke. Aturan atau kondisi khusus yang Dinas Kesehatan. Aturan atau kondisi khusus yang diminta oleh pihak Dinas Kesehatan SDM kesehatan adalah mengutamakan pemenuhan kebutuhan atas 9 tenaga kesehatan sesuai standar terkait ketersediaan SDM di Hal ini tergambar dengan informan sebagai berikut: Aturan khususnya mungkin terkait sembilan tenaga kesehatan yang harus terpenuhi sesuai standar puskesmas (Katim Dinke. Sarana dan prasarana yang Sarana dan prasarana yang kebutuhan tenaga kerja kesehatan terkait dengan sarna prasarana administrasi seperti komputer dan Hal sebagai berikut: Sarana dan prasarana yang umumnya harus ada di ruang TU administrasi lainnya seperti alat tulis menulis (Kapu. Kalau sarana dan prasarana yang harus ada paling komputer dan ATK lainnya (Ka TU). Hasil ini juga diperkuat oleh kutipan wawancara berikut ini: Sarana dan prasarana yang harus ada ya umumnya komputer dan langsung terhubung ke aplikasi Renbut (Katim Dinke. Hasil tenaga kesehatan Hasil perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan selama ini berupa usualan kebutuhan tenaga kesehatan yang telah diajukan ke Dinas Kesehatan Kota Metro. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. namun untuk permintaan tenaga dipenuhi dengan alasan atau pertimbangan yang tidak jelas, dimana hal ini menjadi wewenang pemerintah pusat, dimana pihak puskesmas hanya berperan dalam mengajukan usulan saja. Hal ini sebagai berikut: Dasar pengajuannya ya hasil dari analisis beban kerja yang sudah disusun (Ka TU). Kendala dan Masalah yang pernah Kendala dan masalah yang pernah terjadi selama proses kerja yang selama ini dialami diantaranya yaitu belum semua beban kerja yang ada tetap tinggi. Hal ini tergambar berdasarkan hasil wawancara dengan informan sebagai berikut: Kalau selama ini hasilnya ya berupa hasil analisis kebutuhan tenaga kerjanya, kalau terkait disetujui atau tidaknya ya tidak rekomendasi dari dinasnya atau instansi terkait lainnya. Kalau ke dinas kesehatan dalam bentuk soft file dari aplikasi Renbut SDMK, kalau bentuk tertulisnya tidak ada (Katim Dinke. Kendalanya itu ya kadang usulan yang telah diajukan kadang tidak terealisasi jadi ya, masih banyak nakes yang memegang program banyak dan beban kerjanya tentu saja bertambah (Ka TU). Dasar kebutuhan sumber daya manusia Kegiatan kebutuhan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Metro dalam analisis beban dilakukan secara rutin setiap tahunnya, dimana kegiatan ini digunakan sebagai dasar untuk mengajukan usulan penambahan tenaga kerja baik ke pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Hal ini tergambar berdasarkan hasil wawancara dengan informan sebagai berikut: PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisa data diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa Puskesmas Metro masih belum ideal atau masih terdapat kekurangan baik ditinjau dari segi rasio penduduk maupun dari hasil analisis beban kerja. Berdasarkan hasil analisis beban kerja yang telah dilakukan maka terdapat kesenjangan tenaga bidan sebanyak 8 orang, perawat 5 orang, dokter 3 orang sedangkan sumber daya manusia kesehatan lainnya Hasil ini juga diperkuat oleh kutipan wawancara berikut ini: Beberapa kendala yang selama ini sering terjadi diantaranya yaitu . tidak semua usulan kebutuhan SDMK puskesmas dipenuhi. pada aplikasi Renbut kebutuhan nakes yang diajukan pada setiap jenjang Jabtung terlihat banyak. Puskesmas memasukkan usulan . eal lin. , operator yang berganti-ganti atau juga Kasubag TU nya yang kurang aktif (Katim Dinke. seperti dokter gigi, promkes, sanitasi lingkungan, nutrisionis, apoteker dan ahli teknologi laboratorium medik sebanyak 1 Berdasarkan kesehatan yang ada di Puskesmas Metro saat ini jika di analisis berdasarkan jumlah standar minimal ketersediaan SDMK Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, maka ketersediaan SDMK di Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. Puskesmas Metro sudah memenuhi kriteria minimal tersebut, namun jika mengacu pada standar rasio ketersediaan SDMK berdasarkan jumlah penduduk yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 33 Tahun Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya Manusia Kesehatan, maka jumlah tenaga kesehatan yang ada masih jauh dari kata ideal atau tidak sesuai keseluruhan SDMK yang ada di Puskemas Metro masih mengalami kesenjangan jika dilihat dari jumlah penduduk yang ada di wilayah kerjanya. Kekurangan jumlah tenaga di Puskesmas Metro berdasarkan hasil tersebut terkait dengan cakupan jumlah penduduk yang melakukan kunjungan dan meminta layanan di wilayah kerja Puskesmas Metro. Hal ini berdasarkan jumlah kunjungan masyarakat yang cukup tinggi dan terlihat dari jumlah antrian setiap harinya. Kondisi ini terjadi akibat demografi penduduk yang ada di wilayah kerja Puskesmas Metro yang merupakan daerah perkotaan yang padat karena lokasinya berada di pusat kota sehingga jumlah kunjungan pasien setiap harinya cukup tinggi yang menjadikan beban kerja tenaga kesehatan menjadi cukup tinggi pula, belum lagi ditambah dengan beban tanggung jawab program yang juga terus bertambah seiring dengan program yang sedang dijalankan pemerintah pusat maupun daerah saat ini kesehatan lainnya yang dibebankan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah ke Puskesmas Metro. Hasil analisis ini sesuai dengan teori yang menyebutkan hasil analisis beban kerja diperoleh berdasarkan perhitungan kesehatan berdasarkan pekerjaan yang dilaksanakan oleh setiap jenis tenaga Tujuannya adalah untuk memastikan memadai dan sesuai dengan tugas pokok Dalam perencanaan kebutuhan sumber daya manusia kesehatan, analisis beban kerja sangat relevan karena dapat membantu mengidentifikasi jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang diperlukan di berbagai tingkatan, mulai dari puskesmas hingga tingkat nasional (Kemenkes RI, 2. Hasil analisis ini juga sesuai dengan ketentuan dalam Standar Manajemen Sumber Daya Manusia bagi Puskesmas BLUD SDM Puskesmas kompetensi, perlu dilakukan analisis jabatan dan analisis beban kerja perencanaan kebutuhan pegawai dan dapat mempertimbangkan rekomendasi dari organisasi profesi sebagai dasar pengajuan kebutuhan tenaga Puskesmas kabupaten/kota dan/atau pengadaan sendiri bagi Puskesmas BLUD (Kemenkes RI. Ketepatan analisis beban kerja ini juga sesuai dengan ketentuan dalam BPJS kesehatan BPJS Kesehatan Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Standar ini mencakup jumlah dan jenis tenaga kesehatan yang harus tersedia di Puskesmas, perawat, bidan, tenaga farmasi, dan tenaga kesehatan masyarakat yang didasarkan atas analisis beban kerja untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja dengan mengidentifikasi jumlah berdasarkan volume dan jenis layanan yang diberikan (Kemenkes, 2. Hasil kesesuaian dengan hasil penelitian Saiful et al. , . dengan hasil beban kerja tenaga perawat yang ada sangat tinggi yakni pagi 208,21%, sore 172,57% dan 106,76% penambahan tenaga perawat sebanyak 5 Penelitian Putri & Hidayati . dengan hasil jumlah pegawai terdapat melakukan penambahan pegawai baru bagian rekam medis sebanyak empat Berdasarkan hasil analisis beban kerja, dimana terdapat kekurangan keseluruhan tenaga kesehatan yang ada, maka perlu dilakukan upaya untuk kesehatan yang ada di Puskesmas. Untuk Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. April 2025, hal 190-202 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Analisis Peanataan Kebutuhan Sumber Daya ManusiaA. (Sabtina Amir. Samino, dk. mengatasi permasalahan tingginya beban kerja yang harus segera terpenuhi saat ini sambil menunggu disetujuinya usulan penambahan tenaga kerja kesehatan tersebut, maka perlu dilakukan beberapa upaya alternatif oleh pihak Puskesmas. Menurut peneliti,ada beberapa rekomendasi yang dapat dimunculkan diantaranya yaitu dengan SDMK yang ada saat ini dengan memberikan kesehatan yang sudah ada untuk Dengan kecepatan dalam memberikan pelayanan akan menjadikan jumlah masyarakat yang mendapatkan pelayanan menjadi bertambah sehingga dapat memperkecil beban kerja yang diembang oleh setiap Rekomendasi berikutnya yaitu dengan memastikan setiap tenaga kesehatan bekerja sesuai dengan kompetensinya. Hal ini akan menjadikan setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan efektif dan efisien karena tenaga kesehatan yang kemampuan dan ketrampilan atas tugas yang mereka lakukan tersebut, sehingga waktu pelaksanaan menjadi lebih singkat serta meminimalisir tingkat kesalahan dalam melakukan pekerjaan yang pada akhirnya akan mengurangi beban kerja yang mereka tanggung. Selanjutnya yaitu mengidentifikasi proses kerja yang memerlukan waktu lebih lama dan mencari cara untuk pelaksanaan tensi oleh perawat yang dilakukan pada setiap pasien sebelum masuk ke ruang periksa dokter, sehingga waktu periksa masing-masing pasien menjadi lebih singkat serta pengarsipan aplikasi dan komputerisasi sehingga menghilangkan waktu yang terbuang untuk mencari dokumen atau berkas yang dibutuhkan serta penggunaan teknologi informasi dalam dokumentasi medis dapat mengurangi beban kerja administratif serta proses kerja lainnya. Selanjutnya kerjasama dengan lembaga pendidikan kesehatan untuk memfasilitasi kegiatan kapasitas kerja dari tenaga kesehatan yang sudah ada. Kegiatan ini akan memberikan manfaat bagi kedua belah mendapatkan manfaat dari penamahanan tenaga kesehatan dan pihak lembaga mendapatkan lahan praktek langsung bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang mereka peroleh di bangku kuliah. SIMPULAN Rasio ketersediaan SDM Kesehatan dibandingkan dengan jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Metro belum ideal dimana dengan jumlah penduduk 948 jiwa, maka SDMK yang ada masih jauh dari standar ideal dimana seharusnya dibutuhkan 8 tenaga dokter, 30 orang perawat, 24 bidan, 3 tenaga farmasi, 3 tenaga gizi, 3 sanitasi, 4 tenaga promkes da5 orang tanaga Terdapat Kesenjangan ketersediaan dan kebutuhan keseluruhan tenaga kesehatan di Puskesmas Metro berdasarkan hasil analisis beban kerja dengan kesenjangan tertinggi pada SDMK bidan sebanyak 8 orang perawat 5 orang, dokter 3 orang sedangkan SDMK lainnya seperti dokter gigi, promkes, sanitasi lingkungan, nutrisionis, apoteker dan ATLM sebanyak 1 orang Berdasarkan mendalam diperoleh informasi bahwa dasar dari pelaksanaan analisis beban kerja adalah Permenkes No. 33 Tahun 2015 dan Permenkes No. 43 Tahun 2019 tentang tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, adanya hambatan dalam penyusunan hasil analisis beban kerja kesehatan yang memegang tangung jawab program ganda karena kurangnya tenaga kesehatan serta pengajuan kebutuhan tenaga kesehatan oleh pihak puskesmas seringkali terlambat sehingga penambahan SDMK. SARAN