Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: at-tarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Kurikulum PAI Abad 21: Integrasi Nilai Islam Dan Literasi Digital Dalam Pembentukan Karakter Siswa Ahmad Sayyidiman Hamidalloh*) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia 02040825045@student. Asep Saepul Hamdani Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Jawa Timur. Indonesia asepsaepulhamdani@uinsby. *)Corresponding Author Received: 23-12-2025 Revised: 25-12-2025 Approved: 29-12-2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) abad ke-21 yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dan literasi digital dalam pembentukan karakter siswa. Problematika pemisahan kurikulum masih menjadi isu sentral dalam pendidikan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif analitis. Data diperoleh dari berbagai literatur nasional dan internasional tentang kurikulum PAI, pendidikan karakter, dan literasi digital, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menemukan pola integrasi nilai Islam dengan kompetensi digital. Hasil kajian menegaskan bahwa kurikulum PAI abad 21 perlu diarahkan pada model pembelajaran yang menggabungkan konten ajaran Islam, kecakapan literasi digital, dan penguatan karakter melalui strategi pembelajaran aktif, kolaboratif, serta berbasis teknologi. Integrasi nilai Islam dengan literasi digital dapat memperkuat pembentukan karakter religius, tanggung jawab sosial, dan etika digital siswa. Penelitian ini memberikan landasan konseptual bagi pengembangan kebijakan kurikulum PAI yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kata Kunci: Kurikulum PAI. Literasi Digital. Nilai Islam. Karakter Siswa. Abad 21 Abstract This study aims to formulate a 21st-century Islamic Religious Education (PAI) curriculum model that integrates Islamic values and digital literacy in building student Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 This study employed library research with a qualitative analytical approach. Data were obtained from various national and international literature on PAI curriculum, character education, and digital literacy. Data were then analyzed descriptively to identify patterns of integration of Islamic values with digital The study's results indicate that a 21st-century PAI curriculum should be directed toward a learning model that combines Islamic teachings, digital literacy skills, and character building through active, collaborative, and technology-based learning strategies. The integration of Islamic values with digital literacy can strengthen the formation of students' religious character, social responsibility, and digital ethics. This research provides a conceptual foundation for developing PAI curriculum policies that are relevant to current needs. Keywords: PAI Curriculum. Digital Literacy. Islamic Values. Student Character, 21st Century PENDAHULUAN Dalam konteks globalisasi dan kemajuan teknologi yang sangat cepat, pendidikan menghadapi tuntutan baru untuk tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa agar dapat hidup secara bermartabat, bertanggung jawab, serta beretika. Pendidikan Agama Islam (PAI) secara tradisional berfokus pada nilai keagamaan, ibadah, dan akhlak. Namun di era digital, siswa juga membutuhkan kemampuan literasi digital agar tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pengguna yang cerdas dan kritis terhadap konten digital yang dihadapi (MaAomur et al. Fenomena penyebaran informasi hoaks, pornografi, dan penggunaan media sosial secara tidak bertanggung jawab adalah contoh nyata bahwa pendidikan agama saja tanpa kesiapan digital kurang cukup. Di Indonesia, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurikulum PAI telah berhasil menggagas pembentukan karakter seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab melalui materi dan kegiatan sekolah. Misalnya pembiasaan salat berjamaah, doa bersama, dan ekstrakurikuler keagamaan (Sukmara et al. , 2. Namun, simultan muncul gap terkait literasi digital tentang kompetensi untuk mengevaluasi, memilih, dan menggunakan teknologi serta media digital secara bertanggung jawab belum seluruhnya terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum PAI (Hajri, 2. Perumusan model kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) abad 21 perlu diarahkan pada upaya integratif antara nilai-nilai Islam dengan literasi digital. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa generasi muda hidup dalam era disrupsi teknologi yang sarat dengan arus Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 informasi, sehingga membutuhkan kemampuan tidak hanya untuk memahami ajaran agama secara tekstual, tetapi juga mengaplikasikannya dalam konteks kehidupan digital (Nuralimah et al. , 2. Konseptualisasi kurikulum ini menekankan bahwa PAI tidak cukup sekadar menyampaikan materi keagamaan, melainkan harus mampu membekali siswa dengan keterampilan berpikir kritis, kemampuan memilah informasi, serta sikap etis dalam penggunaan teknologi. Integrasi nilai Islam dan literasi digital dapat diwujudkan melalui empat pilar Pertama, pembentukan karakter religius, yaitu memastikan bahwa penggunaan teknologi selalu dilandasi akidah yang kokoh, ibadah yang benar, dan akhlak mulia (Abdullah, 2. Kedua, tanggung jawab sosial-digital, yakni menanamkan kesadaran bahwa aktivitas di ruang digital memiliki konsekuensi moral dan sosial, sehingga siswa perlu bertindak bijak, tidak melakukan plagiarisme, hoaks, atau ujaran kebencian (Disemadi & Auralita, 2. Ketiga, pemikiran kritis, yang menuntut siswa mampu menyeleksi informasi, membedakan antara kebenaran dan manipulasi, serta menghubungkan pengetahuan agama dengan realitas digital secara reflektif (Riri & Sobar, 2. Keempat, etika digital, yaitu kemampuan menjaga adab Islam dalam komunikasi online, menghargai privasi, dan menjunjung tinggi prinsip keadilan serta kemaslahatan (Prihatin, 2. Model kurikulum PAI abad 21 harus dirancang secara holistik, yaitu dengan menggabungkan konten ajaran Islam, metode pembelajaran aktif kolaboratif, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana internalisasi nilai. Kurikulum ini diharapkan mampu mencetak generasi muslim yang tidak hanya berpengetahuan agama, tetapi juga cakap digital, religius dalam karakter, bertanggung jawab dalam tindakan, kritis dalam berpikir, dan beretika dalam berinteraksi di era global (Nashir, 2. Pembelajaran PAI di era digital menghadapi permasalahan mendasar berupa rendahnya kesadaran etika digital di kalangan peserta didik. Banyak siswa mampu memahami ajaran Islam secara teoritis, namun belum dapat menerapkannya dalam aktivitas bermedia, seperti munculnya perilaku menyebar hoaks, plagiarisme digital, dan ujaran kebencian (Hajri, 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai-nilai religius dalam pembelajaran PAI dengan praktik literasi digital yang beretika. Dalam hal ini, diperlukan rumusan kurikulum PAI abad ke-21 yang mampu membentuk karakter religius sekaligus literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Gagasan integrasi nilai Islam dengan literasi digital berpijak pada konsep Syed Muhammad Naquib al-Attas yang menegaskan pentingnya memasukkan adab, nilai spiritual, dan pandangan hidup Islam dalam seluruh bentuk pengetahuan modern (AlAttas, 1. Pandangan ini dipertegas oleh Seyyed Hossein Nasr yang menolak dikotomi antara agama dan sains, serta menegaskan perlunya etika spiritual dalam penggunaan teknologi modern (Nasr, 1. Sejumlah penelitian sebelumnya telah membahas pendidikan Islam dan literasi digital secara terpisah. Ainiyah . menekankan pembentukan karakter melalui pendidikan agama Islam yang berfokus pada aspek moral dan spiritual, namun belum menyinggung kebutuhan literasi digital sebagai bagian dari pembentukan karakter Hajri . menyoroti tantangan dan peluang pendidikan Islam di era digital, tetapi belum memberikan model kurikulum yang sistematis untuk mengintegrasikan nilai Islam dengan kecakapan digital. Begitu pula penelitian Lisyawati et al. , . yang meneliti penerapan literasi digital dalam pembelajaran PAI, namun kajiannya masih terbatas pada praktik pembelajaran dan belum mengembangkan konsep kurikulum integratif berbasis nilai-nilai Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan konsep integratif antara nilai Islam dan literasi digital dalam kurikulum PAI sebagai upaya penguatan karakter siswa yang sesuai dengan tuntutan abad ke-21. Integrasi nilai Islam dan literasi digital merupakan suatu solusi terhadap tantangan etika dan dimensi moral yang dihadapi generasi muda. Pendidikan Islam yang menggabungkan kedua aspek ini dinilai mampu menekan perilaku menyimpang di ruang digital, menumbuhkan etika komunikasi yang beradab, serta memperkuat kesadaran spiritual dalam memanfaatkan teknologi. Kajian ini diharapkan memberi landasan teoritis bagi pengembangan kebijakan kurikulum dan praktik pendidikan yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) (Triandini et al. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan metode content analysis. Tahapan kajian dilakukan melalui . pencarian artikel pada basis data Google Scholar. DOAJ, dan Garuda. seleksi berdasarkan Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 tema relevan, tahun publikasi . 3Ae2. , dan keterkaitan dengan kurikulum PAI, literasi digital, serta pendidikan karakter. analisis isi untuk mengidentifikasi pola integrasi nilai-nilai Islam dengan kompetensi digital. sintesis hasil menjadi model konseptual pembentukan karakter digital Islami. Sedangkan teori utama mengacu pada pemikiran Al-Attas, . dan Nasr, . Hasil analisis disajikan secara deskriptif naratif untuk menggambarkan hubungan sinergis antara pendidikan agama dan kompetensi digital dalam pembentukan karakter peserta didik. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Tantangan Kurikulum PAI di Era Digital Kurikulum PAI di abad 21 menghadapi beragam tantangan yang tidak lagi hanya berkaitan dengan persoalan pemahaman keagamaan secara tekstual, tetapi juga menyangkut kemampuan peserta didik dalam menyaring informasi digital. Masuknya arus globalisasi dan teknologi menyebabkan munculnya fenomena digital distraction, di mana siswa lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai untuk aktivitas hiburan daripada pembelajaran. Selain itu, perkembangan media sosial telah melahirkan berbagai masalah moral seperti cyberbullying, ujaran kebencian, penyebaran hoaks, hingga konten negatif yang tidak sejalan dengan nilai Islam (Rizki et al. , 2. Kurikulum PAI yang masih bersifat konvensional dan berorientasi ceramah cenderung belum mampu menjawab tantangan ini secara komprehensif. Dibutuhkan pembaruan kurikulum yang tidak hanya mengajarkan teks-teks agama, tetapi juga membekali peserta didik dengan kecakapan digital berakhlak. Tantangan krusial dalam implementasi kurikulum PAI di era digital terletak pada kompetensi guru, karena sebagian besar pendidik PAI belum sepenuhnya siap beradaptasi dengan kemajuan teknologi akibat keterbatasan literasi digital serta pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi (Manshur & Isroani, 2. Kondisi ini membuat proses pembelajaran PAI cenderung bersifat tradisional, berpusat pada guru, dan kurang Peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan dan pendampingan digital menjadi kebutuhan mendesak agar mereka mampu menciptakan pembelajaran yang menarik, partisipatif, dan kontekstual. Di sisi lain, terdapat pula perubahan gaya belajar siswa yang kini lebih responsif terhadap materi yang bersifat visual, audio, dan interaktif. Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Sementara itu, pembelajaran PAI sering kali dinilai kaku dan belum mampu menyesuaikan diri dengan karakteristik generasi digital (Parwati, 2. Situasi ini menuntut adanya inovasi dalam kurikulum PAI agar lebih kreatif dan relevan, tanpa mengabaikan nilai-nilai spiritual Islam sebagai inti pembelajaran. Selain persoalan kompetensi guru, tantangan juga muncul dari minimnya ketersediaan materi digital serta ketimpangan akses terhadap teknologi pendidikan (Azhar & Asykur, 2. Bahan ajar PAI dalam format digital masih terbatas dan sering kali belum mencerminkan kebutuhan spiritual peserta didik di era modern (Uyuni & Adnan, 2. Diperlukan sebuah pengembangan konten Islami berbasis digital yang sejalan dengan prinsip-prinsip syariat agar nilai agama dapat ditransformasikan secara menarik melalui media teknologi. Tantangannya terletak pada keterbatasan infrastruktur dan akses internet di sejumlah sekolah, terutama di daerah terpencil, memperlebar kesenjangan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis digital. Resiko lain yang muncul akibat penyalahgunaan teknologi, seperti plagiarisme, penyebaran konten negatif, dan perilaku tidak etis di dunia maya. Kurikulum PAI dituntut tidak hanya mentransfer ajaran agama, tetapi juga menanamkan etika digital dan tanggung jawab moral dalam penggunaan teknologi. Integrasi nilai-nilai Islam dengan kecakapan digital ini menjadi tantangan sekaligus peluang strategis dalam membentuk generasi muslim yang beriman, melek teknologi, dan berkarakter kuat di tengah arus globalisasi modern. Konsep Literasi Digital dalam Perspektif Pendidikan Islam Konsep literasi digital dalam perspektif pendidikan Islam adalah kemampuan dan keterampilan seseorang dalam penggunaan teknologi digital secara tepat, efektif, dan bijaksana, berlandaskan sesuai dengan nilai-nilai Islam (Sudirman et al. , 2. Literasi digital tidak sekadar menguasai aspek teknis penggunaan alat digital, tetapi juga mencakup dimensi kognitif, etis, dan spiritual. Dalam konteks pendidikan Islam, literasi digital berfungsi untuk meningkatkan pemahaman agama, memfilter informasi yang sesuai dengan syariat, serta membentuk sikap kritis dan bertanggung jawab dalam bermedia digital agar terhindar dari konten negatif yang dapat merusak moral dan Secara operasional, literasi digital pendidikan Islam mencakup penguasaan teknologi untuk mencari informasi, memanfaatkan media digital dalam pembelajaran, serta kemampuan menganalisis dan mengevaluasi konten digital berdasarkan prinsip Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Islam (Zaimina, 2. Pendidikan literasi digital Islam juga menuntut pembentukan karakter, penguatan akhlak, dan peningkatan kompetensi guru agar dapat memfasilitasi proses pembelajaran yang interaktif dan relevan dengan kebutuhan generasi masa kini, khususnya Generasi Alpha yang tumbuh dalam era digital. Literasi digital dalam konteks pendidikan Islam tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup etika dan tanggung jawab dalam bermedia. Islam telah lebih dahulu menekankan prinsip verifikasi informasi . sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hujurat: 6, yang menyeru agar setiap kabar diteliti terlebih dahulu sebelum disebarluaskan. Selain itu. QS. Al-Isra: 36 menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi agar tidak terjerumus pada dosa. Literasi digital berbasis nilai Islam mencakup kecakapan teknis sekaligus moral, seperti kemampuan memilah konten halal-haram, menjaga kehormatan diri dalam dunia maya, serta menggunakan teknologi untuk tujuan dakwah dan kemaslahatan (Nasution & Pohan, 2. Konsep ini menjadi landasan penting dalam merumuskan kurikulum PAI berbasis digital yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter Peran Kurikulum PAI dalam Pembentukan Karakter Siswa Abad 21 Kurikulum PAI memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik di era digital (Setyawan, 2. Pendidikan agama tidak lagi cukup hanya diajarkan dalam bentuk hafalan ayat dan hadis, tetapi harus dikontekstualisasikan dengan realitas kehidupan siswa yang sangat dekat dengan teknologi. Karakter adalah dasar penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan spiritual yang kuat (Hoeruman et al. , 2. Di era modern. Pendidikan Agama Islam (PAI) tetap relevan karena membantu peserta didik mengamalkan nilai-nilai Islam seperti jujur, tanggung jawab, dan toleransi agar mampu menghadapi tantangan moral akibat pengaruh budaya global. PAI juga tidak hanya mengajarkan agama secara teori, tetapi membentuk kecerdasan emosional dan moral yang penting di tengah derasnya arus informasi digital (Uyuni & Adnan, 2. Selain itu. PAI menanamkan akhlak mulia seperti etos kerja, kemandirian, dan kepedulian sosial untuk membentuk generasi yang unggul dan bermanfaat bagi sesama. Melalui kurikulum PAI yang integratif, nilai-nilai spiritual Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 seperti amanah, iffah . enjaga kehormatan dir. , dan hikmah . dapat diterapkan dalam interaksi digital. Dengan demikian. PAI berfungsi sebagai moral compass yang menuntun siswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cakap, tetapi juga berperilaku etis dalam dunia maya. Jika dirancang secara tepat, kurikulum PAI mampu menjadi filter moral terhadap dampak negatif teknologi sekaligus penggerak produktivitas digital berbasis nilai-nilai Islam. PAI berfungsi menumbuhkan kesadaran spiritual peserta didik agar mereka mampu memahami makna hidup, mengendalikan emosi, serta menumbuhkan rasa Kurikulum PAI juga berfokus pada pengembangan kecerdasan moral dan emosional yang sangat dibutuhkan di era digital, ketika arus informasi dan tantangan etika semakin kompleks (Medinah, 2. Melalui pembaruan kurikulum yang selaras dengan kompetensi abad ke-21, pendidikan agama hadir sebagai sarana yang relevan dan transformatif dalam membentuk karakter siswa yang kuat, mandiri, serta memiliki kepedulian sosial. Secara keseluruhan, proses ini mempersiapkan generasi yang tidak hanya berdaya saing di tingkat global, tetapi juga memiliki jati diri bangsa yang religius, beretika, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Integrasi Nilai Islam dan Literasi Digital dalam Kurikulum PAI Integrasi nilai Islam dengan literasi digital dalam kurikulum PAI dapat diwujudkan melalui beberapa dimensi. Pada dimensi materi, topik-topik seperti fiqih sosial . isalnya etika bermedso. , akhlak dalam dunia maya, adab penggunaan gadget, dan pemahaman konten yang sah dan tidak bertentangan dengan Islam bisa dihadirkan. Materi ini tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi melalui contoh dan praktik digital. misalnya tugas membuat konten Islami, diskusi online tentang etika digital, atau analisis berita hoaks sebagai bagian dari pembelajaran kritis (Lisyawati et al. , 2. Pada dimensi metode dan media, penerapan pembelajaran interaktif dan teknologi bisa memperkaya pengalaman belajar. Contohnya penggunaan multimedia, video pembelajaran Islam, platform daring untuk diskusi keagamaan, aplikasi mobile Islam, blended learning, dan flipped classroom bisa menjadi metode efektif. Namun agar tetap Islami, metode ini harus memperhatikan adab digital, menanamkan nilai kesopanan, saling menghormati, dan tanggung jawab terhadap informasi yang dibagikan (Hajri, 2. Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Pada dimensi pembentukan karakter, integrasi ini berarti bahwa pembelajaran PAI harus membantu siswa dalam internalisasi nilai-nilai Islam melalui penggunaan Misalnya, siswa dilatih bersikap jujur dalam tugas digital, tidak menyalin konten . , menjaga data pribadi. mengembangkan empati melalui interaksi digital positif, dan membangun tanggung jawab lewat pemahaman dampak sosial dari posting atau komentar. Peran guru sebagai fasilitator karakter ini sangat krusial (Sukmara et al. Bentuk konkrit pembentukan karakter siswa di era digital tercermin dari penerapan nilai-nilai Islam ke dalam kegiatan literasi digital, sebagaimana dijelaskan pada Tabel 1. Tabel 1. Integrasi Nilai Islam dan Literasi Digital dalam Pembentukan Karakter Aspek Pembentukan Karakter Nilai Islam yang Ditanamkan Kompetensi Literasi Digital Implementasi Pembelajaran PAI Analisis berita hoaks Verifikasi informasi QS. Aldan berpikir kritis Hujurat:6 Dakwah, amar Kecakapan Produksi konten Proyek maAoruf nahi membuat video dakwah kreatif Islami Akhlakul Etika komunikasi Diskusi online dengan Interaksi daring karimah, empati adab Islami Penggunaan Pemanfaatan aplikasi Penggunaan Iffah, tanggung teknologi Islami Portofolio Refleksi karakter Muhasabah. Evaluasi siswa tentang etika digital dan akhlak Etika bermedia Amanah. Tabel 1. merupakan gambaran implementasi nyata dari proses pembentukan karakter digital yang berlandaskan nilai-nilai Islam dalam kurikulum PAI abad ke-21. Setiap komponen pembelajaran mencakup cerminan atas keterpaduan antara prinsip ajaran Islam, kemampuan literasi digital, serta penerapan strategi pembelajaran yang relevan dengan konteks kekinian. Pada aspek etika bermedia misalnya, nilai amanah dan tabayyun menjadi pijakan utama dalam menumbuhkan kemampuan peserta didik untuk memverifikasi informasi dan berpikir kritis di dunia maya, sebagaimana diajarkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6. Kemudian, aspek produksi konten digital diarahkan pada Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 penguatan nilai amar maAoruf nahi munkar melalui kegiatan kreatif seperti pembuatan video dakwah dan kampanye digital bernuansa keislaman. Adapun aspek interaksi digital berfokus pada pembentukan sikap adab, empati, dan akhlakul karimah, sehingga peserta didik terbiasa berkomunikasi dengan santun, menghargai perbedaan, dan menjaga etika dalam ruang daring. Selanjutnya, pada aspek pemanfaatan teknologi, siswa dibimbing untuk mengoperasikan perangkat digital secara aman, produktif, dan bermanfaat berdasarkan nilai iffah serta tanggung jawab. Dan pada aspek evaluasi karakter digital menekankan pentingnya proses refleksi diri . dan keteguhan perilaku . dalam menjaga integritas etika bermedia, yang diimplementasikan melalui kegiatan penilaian portofolio digital siswa. Strategi Integrasi Nilai Islam dengan Teknologi Digital Integrasi nilai Islam dengan teknologi digital dalam kurikulum PAI dapat dilakukan melalui berbagai strategi pedagogis. Pertama, guru dapat memanfaatkan platform digital Islami seperti Quran Apps. Rumah Belajar, atau Ruang Guru PAI sebagai media pembelajaran interaktif (Trikesumawati, 2. Kedua, materi akhlak dapat dikembangkan dalam bentuk kajian tematik mengenai etika bermedia sosial, seperti bahaya ghibah digital, pentingnya menjaga privasi, dan cara berdakwah secara bijak di dunia maya (Supriyadi et al. , 2. Ketiga, pembelajaran dapat dirancang berbasis proyek . roject-based learnin. , di mana siswa ditugaskan membuat konten dakwah kreatif berupa video pendek, podcast, maupun poster digital (Aristya et al. Pembelajaran PAI tidak hanya transfer pengetahuan tetapi juga membangun kompetensi produktif yang sesuai dengan budaya teknologi. Strategi mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan teknologi digital dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi sebagai suatu media pembelajaran interaktif yang mendukung pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (Salmin et al. , 2. Beragam sarana seperti Learning Management System (LMS), video edukatif, aplikasi Islami, dan media sosial yang digunakan secara bijak dapat menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif dan bernuansa spiritual (Eryandi, 2. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai fasilitator dan teladan dengan literasi digital yang memadai. Mereka dituntut mampu merancang pembelajaran kreatif yang selaras dengan perkembangan teknologi dan nilai-nilai Islam, misalnya melalui pembelajaran berbasis proyek seperti pembuatan konten dakwah digital atau kampanye literasi Islami yang Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 menanamkan nilai kerja sama, tanggung jawab, dan etika Islami sekaligus mengasah keterampilan teknologi. Penyesuaian kurikulum PAI dilandasi atas kebutuhan di era digital melalui penambahan materi seperti etika bermedia sosial, literasi digital Islami, serta pemanfaatan teknologi untuk dakwah dan kebaikan. Evaluasi pembelajaran juga dapat mencakup aspek sikap dan penerapan nilai-nilai Islam melalui portofolio digital (Eryandi, 2. Agar integrasi nilai Islam dan teknologi berjalan efektif, diperlukan penguatan literasi digital berbasis nilai Islam melalui pelatihan guru serta kerja sama antar pemangku kebijakan sekolah. Rancangan Model Kurikulum PAI Integratif Model kurikulum integratif PAI abad 21 dapat dirumuskan dengan menghubungkan tiga komponen utama: nilai Islam sebagai dasar, teknologi sebagai media, dan karakter siswa sebagai tujuan akhir. Model kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) integratif abad ke-21 disusun berdasarkan prinsip keterpaduan dan kontekstualisasi, yaitu dengan menggabungkan nilai-nilai Islam ke dalam berbagai aspek kehidupan serta bidang ilmu lainnya. Pendekatan berbasis interdisipliner menjadi landasan utama dalam model ini, di mana PAI dihubungkan dengan mata pelajaran lain seperti IPA, matematika, sejarah, dan bahasa (Medinah, 2. Harapannya peserta didik dapat memahami keterkaitan praktis antara ajaran Islam dan ilmu pengetahuan Kurikulum ini juga menekankan pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial secara seimbang untuk membentuk karakter peserta didik yang utuh dan berakhlak. Penerapan kurikulum ini diwujudkan melalui pemanfaatan berbagai media pembelajaran yang inovatif dan menarik, seperti penggunaan media digital, video interaktif, serta aplikasi pembelajaran yang mendorong keaktifan siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang mampu menghubungkan materi PAI dengan realitas kehidupan sehari-hari serta menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Proses evaluasi dilakukan dengan menyeluruh, mencakup konteks, proses, dan hasil belajar guna menjamin efektivitas serta peningkatan mutu pembelajaran. Model kurikulum ini sangat relevan dengan tuntutan abad ke-21, di mana nilai toleransi, inklusivitas, dan karakter Islami menjadi bagian penting dalam pendidikan. Keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada peningkatan kompetensi guru dan penyesuaian materi pembelajaran Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 dengan perkembangan psikologis peserta didik. Pendekatan tersebut menjadikan PAI tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga menumbuhkan karakter kuat dan kemampuan menghadapi tantangan global secara berimbang antara nilai spiritual dan keterampilan modern (Manshur & Isroani, 2. Gambar 1. Model Kurikulum PAI Abad 21 Gambar 1. merupakan model kurikulum integratif PAI abad ke-21 yang terdiri dari tiga komponen utama: nilai Islam sebagai dasar, teknologi sebagai media pembelajaran, dan karakter siswa sebagai tujuan akhir. Ketiganya saling terhubung dalam satu sistem integratif, yang menggambarkan bagaimana pendidikan agama dapat dikontekstualisasikan dengan perkembangan teknologi untuk membentuk karakter siswa yang berakhlak dan adaptif terhadap tantangan zaman. Dalam implementasi materi PAI seperti akhlak, fikih, dan sejarah dapat dikemas dalam bentuk aktivitas digital berbasis analisis kasus, diskusi daring, maupun proyek Contohnya, tema tabayyun . erifikasi informas. dapat dikaitkan dengan fenomena hoaks di media sosial, sementara nilai amar maAoruf nahi munkar dapat diterapkan melalui pembuatan konten edukatif yang bernilai dakwah. Dengan pendekatan seperti ini, kurikulum PAI menjadi lebih relevan dengan realitas kehidupan peserta didik sekaligus efektif dalam membangun karakter digital yang islami dan berdaya guna. KESIMPULAN Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) abad ke-21 menghadapi tantangan besar di era digital, terutama dalam menyeimbangkan penguasaan ajaran agama dengan kecakapan literasi digital. Tantangan tersebut meliputi rendahnya literasi digital guru, keterbatasan materi ajar berbasis teknologi, serta meningkatnya pengaruh media sosial Ahmad Sayyidiman, dkk DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 terhadap moral peserta didik. Diperlukan pembaruan kurikulum PAI yang tidak hanya berfokus pada aspek tekstual, tetapi juga mengajarkan kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan tanggung jawab sosial. Literasi digital dalam perspektif Islam menekankan penggunaan teknologi secara bijak berdasarkan nilai-nilai tabayyun, kejujuran, dan adab dalam bermedia, sehingga pembelajaran PAI dapat menjadi sarana penyaring informasi sekaligus pembentuk karakter yang kuat. Kurikulum PAI berperan penting dalam pembentukan karakter peserta didik dengan menanamkan nilai religius, emosional, dan sosial yang seimbang. Pendidikan agama tidak cukup berhenti pada pemahaman kognitif, tetapi harus mampu menumbuhkan kesadaran spiritual, empati, dan tanggung jawab moral di tengah derasnya arus informasi digital. Integrasi nilai Islam dengan literasi digital perlu diwujudkan dalam dimensi materi, metode, dan karakter. Misalnya, melalui pembelajaran berbasis proyek yang mengajak siswa membuat konten dakwah digital, analisis hoaks, atau diskusi daring tentang etika bermedia. Dengan cara ini. PAI dapat menjadi penuntun moral bagi siswa dalam menghadapi kompleksitas dunia digital serta memperkuat identitas keislaman yang kontekstual dengan kebutuhan zaman. Lebih lanjut, rancangan model kurikulum PAI integratif abad ke-21 dirumuskan dengan mengaitkan tiga komponen utama, yaitu nilai Islam sebagai dasar, teknologi sebagai media, dan karakter siswa sebagai tujuan akhir. Pendekatan interdisipliner antara PAI dan ilmu pengetahuan lain seperti IPA, matematika, dan bahasa menjadikan kurikulum ini bersifat holistik dan kontekstual. Penerapannya dilakukan melalui media pembelajaran digital yang interaktif, kreatif, dan kolaboratif, dengan guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang inspiratif. Evaluasi kurikulum dilakukan secara menyeluruh, mencak up konteks, proses, dan hasil belajar. Melalui model integratif ini. PAI tidak hanya membentuk siswa yang religius dan berakhlak, tetapi juga melek teknologi, adaptif, dan mampu berperan aktif dalam masyarakat global tanpa kehilangan jati diri keislamannya. DAFTAR PUSTAKA