Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 PENGARUH MENGUNYAH BUAH APEL DAN BUAH PIR DALAM MENURUNKAN ANGKA INDEKS DEBRIS GIGI PADA ANAK TUNANETRA DI SMPLB & SMALB-A YPAB SURABAYA THE EFFECT OF CHEWING APPLES AND PEARS IN REDUCING DENTAL DEBRIS INDEX RATES IN BLIND CHILDREN AT SMPLB & SMALB-A YPAB SURABAYA 1,2,3 Tabitha Zevanya Dzaldiri1. Ratih Larasati2. Bambang Hadi Sugito3 Jurusan Kesehatan Gigi. Politeknik Kesehatan Kemenkes Surabaya. Indonesia . mail penulis korespondensi:tabithadzaldiri@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Mengingat bahwa penglihatan yang berkurang dapat memengaruhi kemampuan anak tunanetra untuk membersihkan gigi, kebersihan gigi dan mulut merupakan komponen penting dari kesehatan mereka secara keseluruhan. Indeks debris gigi yang tinggi pada anak tunanetra di SMPLB & SMALB-A YPAB Surabaya merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut. Mengunyah buah-buahan seperti apel fuji dan pir madu yang memiliki tindakan membersihkan diri merupakan metode alternatif untuk meningkatkan kebersihan mulut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan apakah mengunyah pir madu dan apel fuji menurunkan indeks debris gigi pada anak tunanetra di SMPLB-A dan SMALB-A YPAB Surabaya. Metode Dalam penelitian ini, pra-tes dan pasca-tes dirancang untuk satu kelompok menggunakan teknik kuantitatif dan desain penelitian kuasi-eksperimental. Dua puluh empat siswa menjadi sampel, dan mereka dibagi menjadi dua kelompok: kelompok mengunyah pir madu dan kelompok mengunyah apel fuji. Untuk penelitian ini, observasi dan analisis adalah metode yang digunakan untuk memperoleh data. Baik uji-t independen maupun berpasangan digunakan dalam metode analisis data. Hasil: Temuan tersebut menunjukkan bahwa kedua varietas buah tersebut berhasil menurunkan indeks serpihan gigi. meskipun demikian, terdapat perbedaan signifikan dalam efek kedua kelompok . <0,. Kesimpulan: Apel Fuji memiliki dampak lebih tinggi daripada pir madu. Kata kunci : Apel fuji. Pir madu. Debris indeks. Anak tunanetra ABSTRACT Background: Given that reduced eyesight might impact a blind child's ability to wash their teeth, oral and dental hygiene is a critical component of their overall health. The high dental debris index among blind children at SMPLB & SMALB-A YPAB Surabaya is one of the issues with oral and dental health. Chewing on fruits like fuji apples and honey pears that have self-cleaning properties is an alternate method of enhancing tooth This research was conducted to assess the efficacy of chewing honey pears and Fuji apples lowers the dental debris index in blind children at SMPLB-A and SMALB-A YPAB Surabaya. Methods: A quasi-experimental methodology with a quantitative framework was adopted into this reseach, incorporating a one-group pretestAeposttest structure. Twenty-four students made up the sample, split into two groups: the honey pear group and the Fuji apple group. For this study, observation and analysis were the methods used to acquire data. Statistical analysis was performed using paired and independent t-tests. Results: The results demonstrated that the consumption of both fruits contributed to a reduction in the dental debris index. The two groups did differ significantly . <0. Conclusion: Fuji apples having a stronger impact on reducing the oral debris index than honey pears. Keywords : Fuji apple. Honey pear. Debris index. Blind children Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 PENDAHULUAN Jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) menghadapi tantangan atau gangguan yang berdampak besar pada tumbuh Hambatan ini bisa bersifat fisik, sosial, emosional, maupun intelektual. Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada 2,2 miliar individu tuna netra atau gangguan penglihatan di dunia. Sekitar 1,5% penduduk Indonesia mengalami Setelah Ethiopia. Indonesia memiliki jumlah penyandang kebutaan tertinggi kedua di dunia. Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 5% penduduk Indonesia, atau 22,5 juta orang, mengalami kecacatan, dengan 3,75 juta di antaranya mengalami kebutaan1. Anak tunanetra yang mengalami gangguan penglihatan dan membutuhkan penanganan khusus, terutama dalam aspek kesehatan dan pendidikan, digolongkan sebagai anak dengan kebutuhan khusus (ABK). Beberapa penyebab kondisi ini antara lain faktor keturunan, kondisi psikologis ibu selama kehamilan, kekurangan gizi, serta paparan zat beracun. Tunanetra terdiri dari tiga tingkat, yaitu mereka yang memiliki penglihatan terbatas . ow visio. , yang masih dapat melihat sebagian . artially sighte. , dan yang tidak memiliki penglihatan sama sekali . otally blin. Meskipun anak tunanetra mengalami keterbatasan penglihatan, hal ini tidak berarti bahwa mereka kehilangan Terkadang kemampuan ingatan dan fungsi indra pendengaran serta perabaan mereka bahkan melebihi orang yang normal7. Keterbatasan fisik yang anak tunanetra miliki, membuat mereka cenderung lebih mudah terkena gangguan pada kesehatan gigi dan Tunanetra cenderung tidak menjaga gigi dan mulut mereka dengan baik. Menurut Riskesdas . Masalah karies gigi dialami hingga 93% anak-anak di bawah usia 12 tahun. Sementara itu, 67,2% penduduk Indonesia yang berusia dua belas tahun ke atas telah menderita gigi berlubang, dan 43,4% di antaranya memiliki karies aktif yang belum Dari pengambilan data awal yang telah diteliti pada tanggal 23 Juli 2024 pada 10 siswa campuran dari SMPLB-A & SMALB-A YPAB Gebang Surabaya Jawa Timur, tercatat 4 anak dengan skor debris kategori sedang dan 6 anak dengan skor debris kategori buruk. Adapun skor debris yang didapat yaitu 20,63 dengan rata-rata skor debris 2,063 yang termasuk kategori buruk. Hal ini menunjukkan kesenjangan dengan skor rata-rata 2,063, sedangkan skor indeks debris yang diharapkan adalah 0 . idak adanya debris permukaan gig. Faktor penyebab tingginya angka debris indeks pada anak tunanetra karena kurangnya peran dan pengetahuan orang tua untuk membimbing mereka dalam melakukan banyak hal, salah satunya menjaga kebersihan gigi dan mulut. Penelitian Zahara & Nisa . menyebutkan bahwa Orang tua berkontribusi secara signifikan dalam menjaga serta memastikan anak memiliki kebiasaan yang baik terkait kebersihan gigi dan mulut, setidaknya melalui tiga cara utama: sebagai fasilitator, pendidik, dan motivator. Sebagai motivator, orang tua mendorong anak untuk lebih aktif dan sadar dalam merawat kebersihan gigi dan mulutnya. Edukator mengajarkan anak-anak tentang perilaku sehat sehingga mereka dapat mengubah perilaku tersebut untuk mencapai kesehatan optimal. Fasilitator membantu anak menyelesaikan masalah kesehatan sehari-hari. Kurangnya keterampilan pada tunanetra yang masih muda mengenai kesehatan pada gigi dan mulut terjadi karena keterbatasan yang dimiliki anak Saat memutuskan bagaimana dan kapan menjaga kebersihan gigi pada anak tunanetra, keterampilan dan informasi sangat Anak-anak tunanetra umumnya belum memiliki keterampilan dan pengetahuan cukup dalam merawat kesehatan gigi dan mulut Jika kondisi ini terus berlanjut, ada kemungkinan angka masalah kesehatan gigi dan mulut yang ada di Indonesia dapat semakin banyak, demikian pula dengan kurangnya kesadaran, pendidikan, dan partisipasi aktif lingkungan dalam menjaga kesehatan dan kebersihan mulut9. Anak tunanetra kerap mengonsumsi camilan kariogenik saat sarapan, makan siang, maupun makan malam, yang berpotensi meningkatkan risiko terjadinya gigi berlubang. Anak-anak memilih camilan yang manis dan lengket karena kenyal, manis, dan lezat11. Indeks debris digunakan untuk menunjukkan ada tidaknya endapan lunak pada permukaan gigi Endapan ini terbentuk dari lapisan biofilm, bahan alba, dan sisa makanan yang Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Tingkat kebersihan mulut sendiri merupakan salah satu parameter penting dalam mengevaluasi status kesehatan gigi dan mulut. Mengonsumsi makanan yang keras, dan terbentuknya debris gigi. Buah dan sayuran yang kaya serat dapat berfungsi sebagai pembersih alami karena saat dikunyah, seratnya mampu menggosok permukaan gigi. Selain itu, kandungan air dalam buah dan sayuran yang mencapai 75Ae95% turut membantu proses pembersihan dengan merangsang produksi saliva14. Buah apel (Pyrus malu. mengandung serat dan air yang mampu merangsang sekresi saliva serta membantu menetralkan asam di dalam rongga mulut. Selain itu, apel mengandung senyawa tannin yang bersifat astringen, dengan efek spasmolitik dan Pengelat . adalah senyawa yang mampu mengurangi sekresi dan mempersempit jaringan, serta mengurangi Senyawa pengelat ini bekerja dengan cara mengikat protein di permukaan sel, membentuk lapisan pelindung yang membantu dalam proses penyembuhan luka dan mengurangi peradangan. Dalam buahbuahan, pengelat dapat memberikan sensasi rasa sepat atau mengeringkan di mulut. Tannin pertumbuhan bakteri di gigi, sehingga dapat mencegah terjadinya penumpukan debris gigi dan mengurangi risiko terkena karies gigi. Apel sering disebut sebagai buah dengan efek membersihkan gigi atau membersihkan diri karena buah ini juga dapat dikonsumsi setelah makan untuk membantu membersihkan mulut dan gigi4. Buah pir (Pyrus communi. berkhasiat sebagai antikanker dan antibakteri dan kaya akan zat gizi. Buah pir adalah buah segar yang murah dan populer karena kaya akan air, serat, keras, dan rasanya manis. Katekin, senyawa kimia yang terdapat dalam buah pir, memiliki kemampuan untuk mengubah karakteristik protein di dalam sel bakteri, yang membunuh Streptococcus mencegahnya menempel pada permukaan Pada tahun 2025, peneliti berencana untuk menyelidiki bagaimana makan apel dan pir dapat menurunkan skor indeks serpihan gigi pada anak tunanetra di SMPLB-A dan SMALB-A YPAB Surabaya, sesuai dengan uraian latar belakang. METODE Metode desain quasi eksperiment yang diimplementasikan pada studi kuantitatif ini ialah pre-test dan post-test kelompok. Post-test adalah hasil tes terakhir yang didapat setelah terapi, sedangkan pre-test adalah hasil tes pertama diberikan sebelum terapi. Populasi penelitian ini adalah siswa SMPLB-A dan SMALB-A YPAB Surabaya sejumlah dua puluh empat orang. Teknik pengambilan sampel secara keseluruhan adalah teknik yang digunakan dalam penelitian ini, artinya sampel penelitian diambil dari seluruh populasi yang memenuhi persyaratan. Untuk memastikan apakah data skor indeks terdistribusi normal, uji normalitas Shapiro-Wilk digunakan untuk memeriksa data sebelum dan sesudah mengonsumsi apel Fuji dan pir madu. Ketika asumsi kenormalan terpenuhi, maka analisis dilanjutkan dengan Uji T Berpasangan (Paired Sample T-Tes. untuk mengetahui perubahan rerata skor pra dan pasca intervensi mengunyah pada setiap kelompok, kemudian dilanjutkan dengan membandingkan perbedaan antar kelompok menggunakan Uji T Sampel Independen. Uji Wilcoxon digunakan untuk analisis, meskipun data tidak terdistribusi secara teratur. HASIL Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Saphiro-Wilk Nilai Debris Indeks iData Debris Indeks Sebelum iMengunyah Buah Apel Fuji iData Debris Indeks Sesudah iMengunya Buah Apel Fuji iData Debris Indeks Sebelum iMengunyah Buah Pir Madu iData Debris Indeks Sesudah iMengunyah Buah Pir Madu Uji Normalitas SaphiroWilk N iSig. iKesimpulan Normal Normal Normal Normal Berdasarkan tabel 1, hasil uji ShapiroWilk untuk kenormalan menunjukkan bahwa nilai signifikan pada kelompok sebelum Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 mengonsumsi buah Apel Fuji adalah 0,73 (> 0,. , sedangkan pada kelompok setelah mengunyah, nilai signifikannya adalah 0,09 (> 0,. Sebaliknya, nilai signifikan untuk kelompok sebelum dan sesudah mengonsumsi buah pir madu masing-masing adalah 0,41 (> 0,. dan 0,82 (> 0,. Akibatnya, dikatakan jika data penelitian ini terdistribusi normal, sehingga memungkinkan uji parametrik, seperti Uji-T Berpasangan dan Uji-T Independen, menganalisis data lebih lanjut. Tabel 2. Hasil Uji Paired T-Test Buah Apel Fuji iUji Paired T-Testi Variabeli Std. Mean iSig. Deviation. Debris Indeks 1. Sebelum Debris Indeks 0. Sesudah Rerata Penurunan Nilai indeks serpihan rata-rata sebelum memakan apel Fuji adalah 1,78, dengan deviasi standar 0,58, menurut tabel 4. Setelah mengunyah, nilai rata-ratanya menurun menjadi 0,65 dengan standar deviasi 0,30. Hasil uji menunjukkan nilai A-value sebesar 0,000 (A < 0,. , berarti H1 diterima sedangkan H0 ditolak. Dengan demikian, terlihat adanya perbedaan yang jelas antara indeks debris sebelum dan sesudah mengunyah buah Apel Fuji. Tabel 3. Hasil Uji Paired T-Test Buah Pir Madu Uji Paired T-Test Std. Mean Sig. Deviation. Debris Indeks 1. Sebelum Debris Indeks 0. Sesudah Rerata Penurunan Variabel Tabel 3 menunjukkan bahwa indeks serpihan rata-rata adalah 1,86 dengan deviasi standar 0,54 sebelum mengunyah buah pir madu dan 0,99 dengan deviasi standar 0,45 setelah mengunyah. Ditemukan perubahan signifikan antara indeks serpihan sebelum dan setelah mengunyah buah pir madu, seperti yang ditunjukkan oleh nilai A sebesar 0,000 (A < 0,. , yang mengindikasikan penerimaan H1 dan penolakan H0. Tabel 4. Hasil Uji Independent T-Test Kelompok MeanA Std. Sig. Deviation Debris Indeks sesudah 65 A 0. Mengunyah Buah Apel Fuji Debris Indeks Sesudah 99 A 0. Mengunyah Buah Pir Madu Setelah mengunyah buah apel fuji nilai rerata debris indeks adalah 0,65 dengan simpangan baku 0,30, sedangkan nilai rata-rata setelah mengunyah buah pir madu adalah 0,99 dengan simpangan baku 0,45, berdasarkan uji Independen pada tabel 4. 10, nilai signifikansi . -taile. sebesar 0,042 (<0,. mendukung hipotesis tersebut. Variasi cara mengunyah buah apel fuji dan buah pir madu diketahui berdampak pada penurunan nilai indeks debris pada anak tunanetra di SMPLB-A dan SMALB-A YPAB Surabaya. PEMBAHASAN Debris Indeks Sebelum Mengunyah Buah Apel Fuji Dan Buah Pir Madu di SMPLB-A & SMALB-A YPAB Surabaya Nilai indeks serpihan rata-rata sebelum mengunyah apel Fuji dan pir madu masuk ke dalam kategori tidak diinginkan, menurut temuan penelitian, hal ini dikarenakan siswa suka mengonsumsi makanan yang bersifat makanan yang berserat dan berair untuk membersihkan gigi dan mulut lebih optimal. Sejalan dengan penelitian dari Kholifah Nurjannah . menyatakan bahwa kebersihan gigi dan mulut yang kurang pada anak tuna netra terutama dipengaruhi tiga karbohidrat-dominan dan bertekstur lengket, memiliki gigi yang tidak dalam bentuk atau posisi terbaik, dan tidak menerima pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang cukup. Kebiasaan makan cemilan ringan yang bersifat kariogenik di pagi, siang, dan malam Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 menjadi penyebab utama meningkatnya jumlah karies pada penyandang tunanetra. Makanan kariogenik adalah faktor pemicu tingginya angka karies pada anak, karena anak-anak sering makan dan minum makanan manis sesuai keinginan mereka tanpa mempedulikan jenis makanan yang sering mereka konsumsi. Makanan penyebab karies gigi yang paling sering dimakan adalah makanan yang mengandung glukosa . atau sukrosa, seperti permen karet, cokelat, kue manis, es manis, makanan ringan . ulai atau aromati. , dan camilan . Karena makanan kariogenik mengandung karbohidrat . lukosa dan sukros. , makanan tersebut berpotensi merusak gigi, makanan ini dapat difermentasi oleh bakteri, yang menyebabkan penurunan pH . plak pada kurun waktu tertentu, sehingga memicu demineralisasi pada permukaan gigi dan berpotensi menyebabkan terjadinya karies12. Kesehatan dan kebersihan mulut dapat diukur melalui keberadaan bahan lunak yang menempel pada gigi berupa lapisan biofilm, bahan alba, dan residu makanan yang menempel pada gigi. Buah dan sayur adalah makanan berserat yang berfungsi sebagai pembersih alami permukaan gigi. Kandungan air dalam buah dan sayur sebesar 75Ae95% membantu proses pembersihan secara tidak langsung dengan menggosok permukaan gigi dan merangsang sekresi saliva5. Dari keterangan yang telah dijelaskan, disimpulkan jika debris indeks gigi anak tunanetra di SMPLB-A & SMALB-A YPAB Surabaya sebelum mengunyah buah apel fuji dan buah pir madu memiliki kategori buruk. Hal ini dikarenakan siswa suka mengonsumsi makanan yang bersifat kariogenik. Debris Indeks Sesudah Mengunyah Buah Apel Fuji Dan Buah Pir Madu di SMPLB-A & SMALB-A YPAB Surabaya Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai rata-rata debris indeks kelompok buah apel fuji dalam kategori baik, sedangkan kelompok buah pir madu dalam kategori sedang. Pada penelitian ini responden diminta mengunyah sebanyak 32 kali, namun terdapat perbedaan penurunan debris indeks dari hasil yang diperoleh antara kedua kelompok buah. Perbedaan ini dapat terjadi karena setiap individu memiliki kondisi rongga mulut serta kekuatan mengunyah yang berbeda-beda, meskipun jumlah kunyahan sudah dikondisikan. Di rongga mulut, mengunyah adalah proses memecah makanan secara mekanis. Gigi, rahang, lidah, langit-langit mulut, dan otot pengunyah semuanya terlibat dalam proses mengunyah. Karena membantu menjaga kondisi gigi dan mulut yang ideal, mengunyah makanan menawarkan beberapa manfaat kesehatan, terutama untuk kesehatan gigi dan mulut. Penelitian Kusumaningrum. Rudhanton Widodorini . menunjukkan bahwa mengunyah buah sebanyak 32 kali dengan menggunakan kedua sisi rahang masing-masing 16 kali dapat membantu mengontrol dan menurunkan skor Sebelum dan sesudah mengunyah apel Fuji dan pir madu, indeks debris menurun. Tingginya kadar air maupun serat pada kedua buah tersebut, yang mendorong keluarnya air liur dan membersihkan partikel makanan dari permukaan gigi, menjadi penyebab penurunan Sejalan dengan penelitian Hartari, dkk . mengatakan mengunyah buah berserat membantu mengeluarkan kotoran dari permukaan gigi dengan menciptakan efek mekanis yang mirip dengan sikat gigi. Buah dengan kadar air yang tinggi dapat merangsang peningkatan produksi saliva yang membantu proses pembersihan alami rongga Makanan yang kaya serat dan air turut membantu menghilangkan partikel makanan yang menempel dan melarutkan sisa gula, kebersihan mulut. Buah apel dan buah pir memiliki kandungan asam malat . enyawa yang memberikan rasa asam pada bua. berperan penting dalam meningkatkan produksi saliva dan membantu membersihkan permukaan gigi secara alami. Sejalan dengan penelitian dari Siti. Dewi, dan Nurjanah . menyatakan bahwa Asam malat dapat merangsang kelenjar saliva untuk meningkatkan produksi air liur, yang berperan dalam menjaga membersihkan sisa makanan dan bakteri dari permukaan gigi. Berdasarkan data hasil penelitian dapat dilihat ternyata proses mengunyah buah apel fuji dan buah pir madu memiliki pengaruh dalam menurunkan angka indeks debris anak tunanetra di SMPLB-A & SMALB-A YPAB Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 Surabaya. Mengikuti penelitian Sulistyanti, dkk . menyebutkan setelah mengunyah buah apel terlihat penurunan nilai debris indeks yang sangat jelas, serta seperti Pamewa, . mengungkapkan setelah mengunyah buah pir, debris puing responden masuk dalam kelompok baik, sedangkan tidak ada satupun responden yang nilai indeks puingnya masuk dalam kategori buruk. Analisis Pengaruh Mengunyah Buah Apel Fuji dan Buah Pir Dalam Menurunkan Debris Indeks SMPLB-A & SMALB-A YPAB Surabaya Analisis data menunjukkan adanya pengaruh signifikan dari aktivitas mengunyah buah apel Fuji dan pir madu dalam menurunkan tingkat indeks debris pada anak tunanetra di SMPLB-A & SMALB-A YPAB Surabaya. Buah apel fuji memiliki pengaruh yang lebih besar daripada buah pir madu dalam menurunkan angka debris indeks pada Sejalan dengan literature review Murni & Listrianah . yang mengatakan bahwai mengunyah apel memiliki efektivitas penurunan angka debris indeks lebih baik daripada mengunyah buah pir. Namun, penelitian kepustakaan Setiani, dkk . mengatakan bahwa mengunyah buah pir lebih efektif menurunkan skor plak dibanding buah Buah apel mengandung tannin dan dibandingkan buah pir. Setara seperti Damayanthy, . kandungan tannin dalam buah apel berfungsi menyegarkan serta membersihkan mulut, sekaligus membantu mencegah kerusakan gusi dan gigi. Selain itu, katekin apel membantu menghentikan proses glikosilasi, menghentikan bakteri Streptococcus mutans menempel pada gigi, dan memecah protein dalam sel bakteri yang memungkinkan bakteri Buah pir memiliki kandungan serat yang tinggi daripada buah lainnya, namun kandungan tannin dan katekinnya lebih rendah dibanding buah apel, sehingga efek antimikroba dan efek antiinflamasinya tidak sekuat buah apel. Menurut penelitian Ilmiah, dkk . menyatakan bahwa buah pir memiliki kandungan serat yang lebih tinggi daripada buah lainnya. Buah pir mengandung vit A, vit C, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk menjaga kesehatan gilut. Tekstur buah pir lebih lunak dan kadar air yang tinggi dibandingkan buah apel. Tekstur yang lunak membuat proses pembersihan secara mekanis pada permukaan gigi menjadi kurang efektif, sehingga debris tidak terangkat dengan optimal. Sejalan dengan penelitian Saras . menyatakan bahwa apel merupakan salah satu buah terbaik untuk membersihkan gigi secara alami karena teksturnya yang padat, renyah, dan berserat, yang meningkatkan aliran air liur dan membantu menghilangkan partikel serat kecil yang terperangkap di antara gigi. Kegiatan memakan buah pir dan apel fuji berdampak terhadap penurunan indeks debridemen anak tunanetra di SMPLB-A & SMALB-A YPAB Surabaya, berdasarkan analisis data penelitian. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa rata-rata indeks debris pada anak tunanetra di SMPLB-A dan SMALB-A YPAB Surabaya sebelum mengonsumsi buah apel fuji dan buah pir madu tergolong dalam kategori Ketika anak-anak mengunyah buah apel fuji, indeks debridemen rata-rata mereka masuk dalam kategori baik ketika mereka mengunyah buah pir madu masuk dalam kategori sedang, di SMPLB-A dan SMALB-A YPAB Surabaya, mengunyah apel fuji dan pir madu berdampak pada penurunan indeks serpihan pada anak tunanetra. Saran yang dapat diberikan bagi SMPLB-A dan SMALB-A YPAB Surabaya yaitu sekolah dapat menghimbau siswa SMP dan SMA lebih banyak mengonsumsi makan sehat seperti apel dan pir yang tinggi serat dan Bagi peneliti selanjutnya mampu mengembangkan variasi buah yang akan diteliti dengan menggunakan kelompok control serta dengan jumlah sampel anak Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 7 No. Desember 2025 eISSN 2746-1769 DAFTAR PUSTAKA