e-ISSN : 3025-7905 p-ISSN: 3026-166X FUTURE ACADEMIA The Journal of Multidisciplinary Research on Scientific and Advanced Volume 2. No 1. Februari 2024 pp. DOI https://doi. org/10. 61579/future. PENINDASAN DAN PERLAWANAN BURUH DALAM NOVEL BABAD KOPI PARAHYANGAN KARYA EVI SRI REZEKI Karmila1. Aslan Abidin 2. Faisal Faisal3 Fakultas Bahasa dan Sastra. Universitas Negeri Makassar *Corresponding author E-mail addresses: aslanabidin@unm. ABSTRAK ARTICLE INFO Article history: Received January 01, 2024 Revised January 15, 2024 Accepted January 25, 2024 Available online February 01, 2024 Kata Kunci: Realisme sosialis. Marx. pertentangan kelas. Keywords: Social realism. Marx. class conflic. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2024 by Author. Published by Yayasan Sagita Akademia Maju Penelitian ini mengungkap adanya berbagai bentuk penindasan yang menimbulkan kesadaran dan pertentangan kelas dalam novel Babad Kopi Parahyangan karya Evi Sri Rezeki. Analisis difokuskan terhadap teks wacana dalam novel menggunakan perspektif realisme sosialis dari Karl Marx. Hasil penelitian menunjukkan adanya dehumanisasi berupa eksploitasi, pemiskinan, monopoli, dan dominasi kelas atas . terhadap kelas bawah atau buruh . Bentuk penindasan tersebut mengakibatkan alienasi dalam kehidupan kaum buruh. Meski demikian, kaum buruh juga mengalami proses kesadaran palsu hingga kesadaran total yang dipengaruhi oleh pemahaman akan posisinya yang tertindas. Pemahaman terhadap dominasi dan ketertindasan dari kelas atas menyebabkan timbulnya upaya kelas bawah memperjuangkan Kepentingan dominasi borjuis dengan perjuangan kepentingan proletar menimbulkan konflik antar-kelas. Konflik inilah yang kemudian menciptakan perubahan dalam masyarakat. ABSTRACT This research reveals the existence of various forms of oppression that give rise to class awareness and conflict in the novel Babad Kopi Parahyangan by Evi Sri Rezeki. The analysis focuses on the discourse text in the novel using the socialist realism perspective of Karl Marx. The research results show that there is dehumanization in the form of exploitation, impoverishment, monopoly, and domination of the upper class . over the lower class or workers . This form of oppression results in alienation in the lives of workers. However, workers also experience a process of false consciousness to total consciousness that is affected by an understanding of their oppressed position. Understanding the domination and oppression of the upper class has led to efforts by the lower class to fight for their class. The interests of bourgeois domination with the struggle for proletarian interests give rise to inter-class conflict. This conflict then creates changes in PENDAHULUAN Karya satra merupakan cerminan atau refleksi dari kehidupan masyarakat. Itu juga dapat berarti bahwa karya sastra memuat beragam perilaku antar-orang maupun relasi antar-kelas dalam masyarakat. Sementara penulis karya sastra atau sastrawan adalah bagian dari masyarakat yang mengalami, mengamati, serta membayangkan masa lalu dan masa depan masyarakatnya. Semua itu diolah dengan menggunakan Future Academia. Vol. No. 1 Februari 2024, pp. imajinasi dan intelektualitasnya dalam menilai dan memproyeksikan masyarakatnya, sehingga pembaca dapat mengetahui kandungan gagasan atau ideologinya. Salah satu ideologi masyarakat yang dapat dibaca dalam sebuah novel adalah realisme sosialis. Georg Lukacs memandang bahwa realisme adalah teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektis antara seniman dengan lingkungan Seniman tidak hanya digerakkan oleh lingkungannya, tapi ia sekaligus menggerakkan lingkungannya (Karyanto, 1997:. Pendapat tersebut menjelaskan bahwa realisme sosial adalah teori yang diperoleh dari renungan dan investigasi serta interaksi yang dilakukan oleh seniman dengan masyarakat yang menjadi objek Salah satu bentuk karya sastra yang menggambarkan kehidupan secara kompleks adalah novel. Novel merupakan perwujudan latar belakang sosial dan budaya yang ditampilkan oleh pengarang. Latar belakang sosial budaya itu meliputi tata cara kehidupan, adat istiadat, kebiasaan, sikap, upacara adat keagamaan, konvensi-konvensi lokal, sopan santun, hubungan kekerabatan dalam masyarakat, cara berfikir, dan cara memandang segala sesuatu atau perspektif kehidupan (Wellek dan Warren, 1994:. Penelitian ini membahas novel Babad Kopi Parahyangan karya Evi Sri Rezeki yang diterbitkan Penerbit Marjin Kiri pada tahun 2020. Buku setebal 348 halaman ini menceritakan kemalangan nasib orang-orang di masa lalu yang menanggung sengsara gara-gara kopi. Lewat tokoh Karim, penulis menyampaikan penderitaan yang dialami kaum buruh dengan adanya sistem kapitalisme yang dilakukan orang yang berkuasa. Sistem tersebut menimbulkan berbagai bentuk penindasan dari kelas atas . dan konflik perlawanan dari kelas bawah atau buruh . Mengenai pertentangan kelas. Marx menyebutkan bahwa sejarah manusia adalah tentang perjuangan kelas. Masyarakat yang sadar posisinya sebagai kaum proletar dengan posisinya yang tertindas berusaha untuk melakukan pemberontakan terhadap kaum borjuis. Konflik kelas inilah kemudianmenyebabkan perubahan pada masyarakat. Penindasan yang dialami para buruh dalam Babad Kopi Parahyangan adalah akibat eksploitasi pekerja yang dilakukan pemilik modal. Hubungan tidak setara antara keduanya melahirkan penindasan yang kemudian menimbulkan berbagai konflik karena ketidakpuasan kaum buruh terhadap pemilik modal yang menyadari pentingnya memperjuangkan kepentingan kelasnya. Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain, penelitian yang dilakukan Risnawati . terhadap novel Bumi Manusia karya Pramoedya Anantatoer. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bagaimana kaum borjuis menimbulkan banyak persoalan kemanusiaan. Mereka membuat penyelewengan terhadap nilai kemanusiaan berupa penindasan, perampasan, ketidakadilan, dan ketidakmerdekaan bagi kaum proletar. Konflik kemudian berujung pada pertentangan antara borjuis penjajah dengan proletar pribumi. Future Academia. Vol. No. 1 Februari 2024, pp. Penelitian yang menggunakan pendekatan realisme sosial juga dilakukan Kusumastuti . yang menemukan bahwa dalam novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari yang berusaha menghadirkan sebuah realitas kemanusiaan berupa Perbuatan dari kelas atas tersebut merugikan dan mendapat perlawanan dari kaum buruh METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat fenomenologi. Penelitian mengkaji, mendeskripsikan, dan menemukan bentuk realisme sosial Marx yang memfokukan kepada kesadaran dan pertentangan kelas antara kaum borjuis dan kaum proletar. Data penelitian berupa teks wacana yang mengemukakan pertentangan dan kesadaran kelas menurut teori sastra Marx dalam novel Babad Kopi Parahyangan karya Evi Sri Rezeki. Data dikumpulkan dengan membaca dan mengidentifikasi, menginterpretasi,menganalisis, dan memberi kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk-bentuk Penindasan Sistem ekonomi kapitalisme memandang semua hal berdasarkan nilai guna dan keuntungan yang diperoleh. Kapitalisme tidak hanya menjadi sekedar sistem ekonomi, pada saat yang sama, kapitalisme juga merupakan sistem politis, suatu cara kaum borjuis menjalankan kekuasaan dan penindasan atas proletar atau pekerja. Penindasan tersebut antara lain berupa eksploitasi, pemiskinan, dehumanisasi, serta dominasi dan monopoli. Eksploitasi . "Apakah mereka diberi upah?" Kang Asep menggeleng. Katanya, "Bagi kami, menggarap sawah kepunyaan dunungan adalah kerja pengabdian. Bagian dari tugur. (Hal. Percakapan Kang Asep dengan Karim dalam kutipan . menggambarkan buruh yang melakukan pekerjaan bagi kaum borjuis tanpa diberi upah. Kaum proletar bahkan menerima pekerjaan tersebut sebagai bagian dari tugas pengabdian. AuKerja pengabdian," jelas Kang Asep, "adalah kerja tanpa mengharapkan imbalan. Kawula mengabdi pada gusti sudah sepatutnya sebagai pelindungnya. Sebagaimana manusia menyembah dewa-dewi, sebagaimana manusia beribadah pada Sanghiyang Widi. Gusti Pangeran. (Hal. Kerja tugur ini beragam: mengurusi kediaman priayi, mengolah sawah ladangnya, membangun sarana danprasarana umum seperti jalan, mendirikan bedeng, pos jaga, dan bergiliran ronda demi keamanan kampung, dan menjadi abdi dalam yang mengurusi segala kebutuhan gusti. " (Hal. Kang Asep pada kutipan . menjelaskan bahwa kaum borjuis dapat menggunakan tenaga kerja proletar denganmenerimanya sebagai kerja pengabdian. Borjuis memosisikan dirinya sebagai pemilik kekuasaan menderajatkan dirinya sebagai dewa yang berhak mendapat rasa hormat dan ditakuti. Tugas-tugas yang dibebankankepada proletar dengan nama kerja tugur, seperti dalam kutipan . , ada banyak jenis, mulai dari membangun sarana dan prasarana umum, menjaga Future Academia. Vol. No. 1 Februari 2024, pp. keamanan, mengurus tempat tinggal dan segala kebutuhan para bangsawan. Hal tersebut telah berlangsung lama dan akhirnya menjadi paham yang ditanamkan kaum borjuis ke proletar untuk menguras tenaga kerja mereka secara cuma-cuma. Pemiskinan . Atas nama keadilan. Kompeni memberlakukan peraturan somahan hampir tiga puluh tahun lalu. Yang semula pemungutan upeti ditujukan pada pemilik tanah, disahihkan ke setiap lapisan. Kepala cacah mulanya bisa mengirim petani penyakap atau bujang sebagai ganti dirinya kerja paksa, hal tersebut tak dapat lagi karena petani penyakap maupun bujang dituntut upeti. (Hal. Bagi rakyat yang tak memiliki lahan menggantinya dengan bekerja di perkebunan atau pabrik Kompeni selama seperlima tahun tanpa upah. (Hal. Dalam kutipan . tersebut digambarkan bagaimana kaum borjuis menampilkan dominasinya kepada kaum proletar. Borjuis memonopoli lahan pertanian masyarakat. Mereka dilarang untuk menggarap tanahnya sendiri dan dibatasi dengan aturan bahwa mereka hanya bisa menanam tanaman yang diwajibkan kompeni, yang hasilnya harus pula diserahkan kepada kompeni dan penguasa dalam bentuk upeti. tidak ada kebebasan untuk mengelola dan meningkatkan penghidupannya dengan pemanfaatan lahannya sendiri. Tidak hanya merampas lahan dan hasil bumi serta harta benda proletar, harga yang ditetapkan kaum borjuis terhadap harga beli komoditaskopi pun sangat rendah. Dehumanisasi . Di tengah malam, kerap kali bocah- bocah terbangun karena mimpi buruk atau lapar. Tangisan mereka menyayat-nyayat, sulit diredakan sebab tak ada santapan tersisa. (Hal. Dalam kutipan . dijelaskan bahwa para buruh mendapat perlakuan tidak Mereka ditumpuk dalam satu ruangan, bercampur-baur tanpa tempat tidur yang layak. Situasi itu diperparah dengan kelaparan yang selalu mereka alami. Bagi masyarakat sosial, tujuan dari bekerja adalah untuk memperjuangkan kelangsungan hidupnya. Namun buruh justru menerima perlakuan tidak manusiawi. Tenaga mereka dieksploitasi, bahkan tidak diberi tempat tinggal memadai dan kekurangan pangan. Dominasi dan Monopoli . Ibu dan bapak memiliki sepetak tanah yang mau tak mau ditanami kopi. Namun aku dibuat heran mengapa kami sekeluarga tak pernah minum kopi (Hal. Meskipun telah mengorbankan lahannya, nyatanya hal tersebut belum memuaskan borjuis mereka masih membebankan upeti. Dominasi yang dilakukan dalam kutipan . dengan menyewakan tanah para petani kepada swasta jika tidak patuh justru tanah mereka akan direbut dengan paksa. Kesadaran Kelas Pengaruh ideolog sangat berhubungan dengan kesadaran kelas, karena pengaruh ideologi dapat mengakibatkan kurangnya kesadaran penuh akan kepentingan-kepentingan kelasnya sendiri. Omongan mereka disambut beberapa orang dari kampung pesisir yang menjadi Future Academia. Vol. No. 1 Februari 2024, pp. korban perampokan bajak laut. Sumpah serapah berbusa-busa keluar dari mulut Sepeninggal para pedagang tu, orang-orang balik mencemoh mereka sebab bersekongkol dengan kompeni. (Hal. Sebetulnya semua orang tahu kalau Kompeni meregut habis kopi dari seluruh penjuru Nusantara tapi mereka berlagak bodoh. (Hal. Dalam kutipan . muncul individulitas masyarakat yang berbeda pendapat karena perbedaan kepentingan dalam sistem produksi. Dalam kutipan . masyarakat menyadari diri mereka tertindas namun belum memiliki kesadaranyang disebabkan oleh kebiasaan masyarakat dengan struktur yang sudah ada, yaitu kepatuhan pada kaum borjuis. Dominasi yang sudah lama dialami proletarmembuat mereka terasing dengan dirinya sendiri. Kompeni berhasil memecah belah negeri, meniupkan kebencian di hati orang-orang kepada bajak laut: menjadikan mereka kaum tersingkir, tercerabut dari tanah Maka kesedihan mengelayut ketika orang-orang mengetahui nasib mereka begitu mengenaskan. Banyak diantaranya mati terbunuh di lautan, sebagian lain terpenjara, menjadi budak. Nasib mereka tidak lebih baik dari orang-orang pelabuhan Sama-sama tidak merdeka. (Hal. Dalam kutipan . didikan yang diberikan kepada Raden Arya adalah tentang memandang rendah kaum proletar. Doktrin yang ditanamkan borjuis merupakan ideologi politik yang berusaha menyudutkan posisi proletar sebagai kaum yang harus diberi perlakuan kasar. sehingga kesadaran kelas yang terbentuk membenarkan tindakan mereka terhadap proletar. Sepenangkapan hamba. Raden yang sehari-hari hidup di antara para petani, menjejak kaki di bumi Parahyangan sejak dilahirkan seharusnya mengenal rakyat sendiri tanpa perlu perantara. (Hal. Pengaruh ideologi yang dikembangkan untuk mendukung struktur yang ada membuat para bangsawan tidak memihak masyarakat proletar sebagai sesama Hal yang kemudian di kritik oleh Karim dalam kutipan . bahwa sebagai sesama pribumi, harusnya mereka lebih tahu kebenaran dari apa yang telah didoktrinkan kompeni dan lebih berpihak ke kalangan proletar. "Apakah selama ini kita mendapat uang dari jerih payah kita? Uang yang kita terima sudah dipotong sana-sini. Sementara kita kelaparan, sawah ladang kita tinggalkan. Istri dan anak turut puladipekerjakan! Tidak. Jang, kita tidak akan kaya dengan kopi! Kita harus kembali ke sawah, ke ladang kita sendiri! Bertahanlah sebentar lagi!" (Hal. Dalam kutipan . tindakan Karim menginspirasi kesadaran penuh para Karim berani menentang Mandor Satria tanpa untuk menguburkan mayat buruh yang ditembak mati hal yang selama ini tidak beranidilakukan buruh lainnya. Hal tersebut membuat Kang Asep dan para buruh di pekebunan kopi sadar akan pentingnya memperjuangkan kebebasan. Ateng dan kawan-kawannya terdiam, keraguan membayang di benak mereka. Gemas dengan kesangsian mereka. Kang Asep menyabet cangkulnya. "Kita ini manusia. Jang Semut bila diinjak saja mengigit, apa kita sebagai manusia mau diam saja?!" ucapan Kang Asep berhasil mengobarkan kawan-kawannya (Hal. Future Academia. Vol. No. 1 Februari 2024, pp. Sebagai manusia seharusnya mereka merdeka, bebas dari penindasan dan bebas menjalani hidupnya. Dalam kutipan . Kang Asep menyegarkan pandangan sesama buruh bahwa mereka selama ini telah dirugikan. Kang Asep berhasil membakar semangat para buruh yang dilanda keraguan. Meyakinkan mereka bahwa memperjuangkan kebebasan adalah satu-satunya jalan agar terlepas dari Pertentangan Kelas Dalam pandangan Marx pertentangan kelas terjadi karena adanya perbedaan kebutuhan atau kepentingan yang sangat bertolak belakang. Kelas borjuis mempunyai kepentingan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menghasilkan komoditas sebanyak- banyaknya yang diikuti dengan menekanbiaya produksi sekecil mungkin. Seperti tempo hari ketika ia sedang membolak-balikkan biji-biji kopi, ia disuruh menyentuh lempengan- lempengan besi dengan tangan telanjang untuk memastikan Kali lain ia diperintah untuk mengumpulkan kayu bakar selepas magrib tanpa penerangan. Tugas-tugas tidak masuk akal. (Hal. Mandor Satria memanfaatkan jabatannya sebagai pemimpin di perkebunan kopi untuk bertindak dengan kuasanya sendiri terhadap buruh perkebunan. Kutipan . menunjukkan dominasi sang Mandor diperkebunan kopi yang dengan leluasa memerintahkan buruh untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Hal tersebut di rasakan Karim yang merasa bahwa mandor memiliki kebencian tanpa dasar terhadapnya. "Mengapa kita selalu takut pada Kompeni? Mereka manusia juga Kakang. Perbedaan kita hanya warna kulit. "Dan pengetahuan!" tempas Raden Angga Dilaga. AuZaman baru sekejap lagi akan terbentang Zaman yang ramah bagi kita semua. mana para petani akan diupah sesuai jerih payah mereka. Dan Kompeni akan menerbitkan aturan baru yang berpihak pada mereka. Seharusnya kesadaran itu mula-mula berasal dari kita. "Jangan mimpi kau!" (Hal. Perbedaan pendapat karena perbedaan kepetingan dalam kutipan . menampilkan perdebatan antara Raden Arya dan saudaranya. Terjadi perbedaan persepsi Raden Arya yang memihak kaum proletar sementara saudaranya berpegang teguh pada ideologi untuk tunduk pada yang lebih berkuasa yaitu Raden Arya yang berani menyuarakan fikirannya kepada kedua kakaknya tidak diterima dengan baik. Karena kebebasan yang ia inginkan justru akan berdampak kepada mereka. Hal tersebut dipengaruhi juga dengan perbedaan kepentingan yang dimiliki keduanya. "Pengecut kau. Satria! Kalau berani, ayo hadapi aku sendirian!" Karim teringat ucapan si Pelaut bahwa dalam hidup ada kalanya kita mesti memburu atau diburu, membunuh atau dibunuh. Dan tangannya siap bergelimangan dar ah. Darah Satria! (Hal. Dalam kutipan . dijelaskan bahwa dalam perlawan selalu dihadapkan dengan pertentangan antara dibunuh atau membunuh. Karim menunjukkan Future Academia. Vol. No. 1 Februari 2024, pp. kebaraniannya menentang Mandor Satria dengan melakukan perlawan secara fisik. Karim yang meskipun memiliki kemampuanilmu silat kewalah menghadapi mandor Satria yang bekerja sama dengan anak buahnya. Namun meskipun babak belur Karim tetap berjuang dan berusaha sekuat tenaga yang berakhir dengan kekalahan sang mandor. Dalam pandangan para petani, pijar api membakar pohon-pohon kopi laksana nyala harapan baru. Purna sudah akar-akar kopi yang melilit kaki mereka. (Hal. Dalam kutipan . hancurnya pohon-pohon kopi yang disebabkan olehhama memberi kegembiraan bagi petani, untuk mengendalikan hama pohon-pohon tersebut kemudian dimusnahkanya, yang seolah menjadi harapan baru bagi masa depan masyarakat proletar yang selama ini terikat karena komoditas tersebut. Kompeni masuk lewat jalur perdagangan. Bapak angkatku berkata: Menguasai perdagang- an berarti menguasai kekayaan dunia sehingga pada akhirnya menguasai Oleh sebab itu tanah mesti kita kuasai balik, perdagangan harus kita pegang (Hal. Menurut Marx siapa yang menguasai perekonomian maka ia dapat mengendalikan kekuasaan. Hal inilah yang ingin diwujudkan Karim dalam novel tersebut dalam perlawanan memiliki kemampuan finansial. Perlawanan tidak hanya dapat meberi kerugian kepada kaum borjuis tapi juga dapat menguntungan kaum Dengan melakukan perdagangan mereka tidak hanya melakukan perlawanan terhadap kaum borjuis disisi lain juga mampu meningkatkan taraf hidup sesama buruh. Dalam kutipan . diterangkan bahwa kekuatan ekonomi bukan hanya kekayaan materi tapi juga kekuasaan. "Pengecut kau. Satria! Kalau berani, ayo hadapi aku sendirian!" Karim teringat ucapan si Pelaut bahwa dalam hidup ada kalanya kita mesti memburu atau diburu, membunuh atau dibunuh. Dan tangannya siap bergelimangan dar ah. Darah Satria! (Hal. Dalam kutipan . dijelaskan bahwa dalam perlawan selalu dihadapkan dengan pertentangan antara dibunuh atau membunuh. Karim menunjukkan kebaraniannya menentang Mandor Satria dengan melakukan perlawan secara fisik. Karim yang meskipun memiliki kemampusn ilmu silat kewalah menghadapi mandor Satria yang bekerja sama dengan anak buahnya. Namun meskipun babak belur Karim tetap berjuang dan berusaha sekuat tenaga yang berakhir dengan kekalahan sang mandor. Hal tersebut kemudian menyebabkan Mandor Satria meninggal yang memberi harapan baru bagi buru diperkebunan. Jajaran pondok-pondok perempuan dan anak-anak itu banyak memberi penghiburan bagi Karim. Di bawah kepemim- pinannya hampir tak ada kasus pelecehan. menghukum siapa saja yang kedapatan meminta pelayanan perempuan di luar kehendak perempuan itu sendiri. Bolehlah ia berbangga sedikit. (Hal. Keberhasilan yang dicapai kaum proletary dalam usahanya akhirnya menuai hasil seperti yang tampak dalam kutipan . Mereka mendapat tempat tinggal yang layak, dan fasilitas yang mereka butuhkan. Di mata Karim, terang layar bumantara sekadar siasat Dayang Sumbi mengandaskan pinangan Sangkuriang. Semata-mata tipuan lain zaman baru. (Hal. Future Academia. Vol. No. 1 Februari 2024, pp. Namun dalam novel Babad Kopi Parahyangan juga di tampilkan bagaimana perjuangan sebenarnya tidak pernah berhenti. Perjuangan masih terus berlanjut. Kutipan . Karim menjelaskan bahwa tanam paksa itu belum berakhir. Hancurnya komoditas itu hanya membuat kaum borjuis memutar otak untuk menghadirkan produk baru yang dapat menggantikan kerugian yang dialami. Seperti yang dipahami dalam sejarah materialisme bahwa perlawanan selalu ada sebagai sesuatu yang terus burulang demi menciptakan masyarakat yang idea. SIMPULAN DAN SARAN Novel Babad Kopi Parahyangan berisi gambaran penindasan yang dialami kaum buruh atau proletar sebagai dampak dari penguasaan borjuis terhadap sistem Buruh dieksploitasi tenaganya sebagai pekerja dengan upah rendah atau tanpa upah. Buruh yang hidup dalam sistem produksi kapitalis mengalami masalah kemanusiaan seperti penyiksaan, waktu kerja yang melewati batas, serta tidak diberi tempat tinggal yang layak. Kesadaran kelas kemudian muncul akibat dari dominasi borjuis terhadap hidup Kesadaran palsu terjadi akibat doktrin-doktrin yang ditanamkan borjuis kepada bangsawan dan masyarakat proletar mengakibatkan mereka terasing dari kehidupan sosialnya. Keyakinan bahwa buruh itu pemalas, sehingga mereka harus diperlakukan dengan kasar dan pekerja yang tidak harus diberi upah yang kemudian diterapkan kaum bangsawan dengan adanya kerja tugur dan pengabdian dalam kerja tanam paksa yang sudah terjadi dalam waktu lama. Hal itu menyebabkan mereka terbiasa hidup dalam penindasan tersebut dan kehilangan jati dirinya sebagai manusia yang bebas. Pertentangan kelas terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan antar kelas. Masyarakat borjuis yang ingin menghasilkan keuntungan sebanyak- banyaknya dengan mengeksploitasi proletar. Sedangkan proletar ingin terbebas dari kungkungan penguasaan borjuis dan menuntut penghidupan yang yang layak. Perjuangan yang dilakukan proletar dalam Babad Kopi Parahyangan berupa penghancuran tanaman kopi dan melakukan perdagangan gelap. Sementara tokoh Karim bekerja sama dengan Bupati Raden Arya Kusuma berhasil membangun pondok-pondok tempat tinggal bagi perempuan dan anak-anak di perkebunan kopi. Selain itu, mereka mendirikan sekolah rakyat dan sepetak lahan pertanian yang dapat ditanami bahan pangan bagi masyarakat di perkebunan kopi yang sebelumnya kerap kali kekurangan makanan. DAFTAR PUSTAKA