Indonesian Journal for Social Responsibility (IJSR) Vol. No. 01, . , pp. https://doi. org/10. 36782/ijsr. Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media pada Pembinaan Kesejahteraan Keluarga Pondok Kopi Dianingtyas Murtanti Putri1*. Ari Kurnia1. Dessy Kania1. Adek Risma Dedees1. Asmiati Abdul Malik2. Maya Apriyanti1. Sunarti Sunarti1 Program Studi Ilmu Komunikasi, 2Program Studi Ilmu Politik. Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial. Universitas Bakrie. Jl. Rasuna Said No. 2 Kav C-22. Karet. Setiabudi. Kuningan. Jakarta Selatan. DKI Jakarta, 12940. Indonesia E-mail: dianingtyas. putri@bakrie. id*, ari. kurnia@bakrie. id, dessy. kania@bakrie. risma@bakrie. id, asmiati. malik@bakrie. id, mayapt13456@gmail. com, 1201003060@student. Received: January 31, 2024 | Revised: May 27, 2024 | Accepted: June 28, 2024 Abstrak Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) tergantung bagaimana pola asuh yang Penerapan pola asuh yang salah dapat memengaruhi aspek kognitif, afektif, dan konatif diri seseorang. Saat orang tua mendidik dipengaruhi oleh pandangan tradisional tentang peran gender di mana secara stereotipe gender dapat tidak sengaja diintegrasikan ke dalam pengasuhan anak dalam hal ini remaja. Sehingga, dapat menimbulkan ketidakadilan serta menciptakan gaya pola asuh yang tidak sehat. Mengetahui hal ini diperlukan literasi gaya pola asuh yang ditinjau dari komunikasi gender serta media bagi para orang tua peserta dan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini berfokus untuk memberikan pembekalan pengetahuan mengenai gaya pola asuh di era digital komunikasi, serta bagaimana mengimplementasikan kemampuan soft skill berupa komunikasi yang efektif dengan anak Kemudian, partisipan dapat menerapkan tiga pilar dalam membangun hubungan yang baik antara orang tua dengan remajanya yakni empati, toleransi, dan kesetiaan. Kegiatan ini ditujukan bagi para orang tua dengan remaja di Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Pondok Kopi. Jakarta Timur. Oleh karena itu, kegiatan ini dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan partisipan mengenai generasi Z baik sikap dan tingkah laku. Selanjutnya, hasil dari post-test para partisipan sangat antisias mengikuti kegiatan ini dan mengharapkan kembali untuk diadakan kegiatan lanjutan mengenai mengenal lebih jauh generasi Z ditinjau dari psikologi komunikasinya. Kata kunci: Generasi Z. Komunikasi Gender. PKK. Pola Asuh Abstract Improving the quality of human resources (HR) depends on the parenting styles applied. Implementing incorrect parenting styles can impact the cognitive, affective, and conative aspects of an individual. When parents' educational approaches are influenced by traditional views on gender roles, gender stereotypes can unintentionally be integrated into child-rearing, in this case with adolescents. This can lead to inequality and create unhealthy parenting styles. Recognizing this, there is a need for literacy on parenting styles reviewed from the perspective of gender communication and media for parents and adolescents. Through Community Service Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media A (PkM) activities, the focus is to provide knowledge about parenting styles in the digital communication era and how to implement soft skills such as effective communication with Subsequently, participants can apply three pillars in building a good relationship between parents and their teenagers, namely empathy, tolerance, and loyalty. This activity is aimed at parents with teenagers at the Family Welfare Development (PKK) in Pondok Kopi. East Jakarta. Therefore, this activity is needed to increase awareness and knowledge of the participants about Generation Z's attitudes and behaviors. Furthermore, the results from the post-test showed that participants were very enthusiastic about participating in this activity and expressed a desire for more such events to further explore Generation Z from the perspective of communication psychology. Keywords: Gender Communication. Generation Z. Parenting Style. PKK Pendahuluan Membangun komunikasi dalam hubungan antar manusia sangatlah penting, sebab komunikasi dapat menjelaskan bagaimana hubungan interpersonal yang terjalin. Salah satunya adalah keluarga, pola asuh yang baik dapat memengaruhi bagaimana kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu negara. Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyampaikan bahwa keberhasilan suatu negara dalam meningkatkan kualitas SDM tergantung pada peran keluarga (Shanti, 2. Dengan kata lain, setiap anak berkontribusi untuk mengantisipasi terjadinya perburukan akibat proporsi penduduk yang mulai bergeser dari dominasi usia produktif menjadi lansia. Sebagai tolak ukur dalam melihat kondisi keluarga Indonesia dan mencegah kemiskinan ada beberapa indikatornya, yakni pemenuhan kebutuhan dasar, keberlangsungan pendidikan, kesehatan keluarga, akses informasi dan jaminan keuangan. Semuanya ini, wajib diperhatikan sebelum membangun keluarga. Proses pembentukan jati diri atau karakter diri seseorang berawal dari keluarga, melalui keluarga kita diperkenalkan dengan budaya yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga memengaruhi perspektif diri seorang individu, dan hal ini yang memengaruhi cara berkomunikasi. Dikutip dari kemdikbud. id, peran keluarga dalam meningkatkan kualitas SDM terletak pada bagaimana kehidupan keluarga menjadi tempat seseorang memperoleh pengetahuan tentang budayanya, yang kemudian menjadi acuan untuk membentuk sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari (Herawati, dkk. , 2. Dalam keluarga juga ditanamkan nilai-nilai budaya serta norma-norma sosial sebagai modal utama membentuk kualitas SDM. Namun, pihak yang berkontribusi dalam pembentukan SDM Dianingtyas Murtanti Putri. Ari Kurnia. Dessy Kania. Adek Risma Dedees. A yang berkualitas tidak hanya terbatas pada orang tua. Dalam proses sosialisasi di lingkungan keluarga, peran kakak atau anggota keluarga lain yang tinggal serumah juga memiliki pengaruh yang signifikan. Dikutip dari media daring Tribunnews. com, aspek kepribadian dalam personal branding seseorang merupakan upaya individu untuk merepresentasikan diri kepada penilaian orang lain atas diri individu tersebut (Sudirman, 2. Artinya, jika seseorang ingin dinilai baik oleh orang lain dimulai dari bagaimana bentuk pola asuh yang diajarkan padanya, sebab hal tersebut memengaruhi pola pikir dan sikapnya. Sebelumnya diulas mengenai perlu ditanamkannya nilai-nilai budaya serta norma-norma sosial sebagai modal utama dalam membentuk kualitas SDM. Didikan di dalam keluarga memengaruhi kepribadian diri seseorang yang nantinya sebagai salah satu indikator dalam proses pembentukan personal branding diri individu. Namun, fenomena yang terjadi adalah banyak kasus kekerasan yang terjadi di negara ini yang harus ditangani. Seperti kasus yang marak terjadi ialah kekerasan orang tua pada anak, semisal kasus penganiayaan seorang anak perempuan berusia lima tahun oleh ayah kandungnya sendiri di Tangerang Selatan, bahkan tindakannya tersebut direkam dan diunggah di media sosial (Alam, 2. Alasan dilakukannya tindakan penganiayaan adalah karena orang tuanya secara emosional belum matang dan tidak bisa mengatasi masalah pribadi yang dihadapinya, sehingga mudah untuk meluapkan emosinya ke anak kandungnya sebagai target sasaran. Kasus lainnya diberitakan pada media daring Tribunnews. com, tentang kekerasan pada anak terjadi di Bekasi beredar video anak bocah laki-laki berinisial R ditemukan warga di sekitar kediamannya di Jatikramat. Kecamatan Jatiasih. Kota Bekasi. Terlihat kakinya terikat rantai, lalu di bagian leher melingkar kain bahan yang sebelumnya menutupi mulut R, bocah berkebutuhan khusus tersebut dirantai oleh orang tuanya karena sering minta makan. Dua contoh kasus tersebut merupakan gambaran masih perlunya literasi parenting education digalakkan hingga kini (Yulika, 2. Dikutip dari media daring Kompas. com dalam Purnamasari dan Meiliana . Rohika Kurniadi Sari. Asisten Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (Kemen pA), mengutarakan hingga kini masih banyak anak Indonesia yang mendapatkan pola asuh yang tidak layak. Walaupun sudah tercantum dalam Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2002, bahwa setiap anak berhak mendapatkan pengasuhan layak dari orang tuanya. Maksudnya, pola asuh yang salah akan membentuk kecenderungan konsep diri negatif pada diri. Walaupun UU Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media A telah disahkan, kekerasan tetap berlangsung, dan kehidupan di era digital 4. 0 turut memengaruhi penerapan pola asuh anak. Berbagai informasi yang ada di media internet menjadi referensi dan preferensi bagi orang tua untuk diterapkan di rumah. Referensi yang diperolehnya tidak disertai dengan verifikasi data, sehingga yang terjadi adalah dari informasi tersebut langsung di bagikan kepada anak remaja mereka, tanpa memberikan alasannya. Gunadi dkk. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa masa remaja adalah masa yang memiliki pertentangan dengan mudah dihasut serta dipengaruhi baik dari sisi yang baik maupun buruknya. Di masa ini, remaja memiliki pola pikir yang instan tanpa memikirkan bagaimana dampak risiko atas perbuatannya bagi diri sendiri, ataupun berdampak bagi orang lain. Remaja yang masuk ke dalam generasi Z memiliki karakter yang cukup signifikan dengan generasi-generasi sebelumnya. Sehingga pendekatannya pun juga berbeda, tidak bisa disamakan pola komunikasinya dengan generasi-generasi sebelumnya. Memahami adanya tantangan tersebut maka pentingnya kegiatan pengabdian ini dilaksanakan karena peserta perlu diberikan pengetahuan mengenai bagaimana bentuk pola asuh yang efektif di era digital ini melalui strategi komunikasi ditinjau dari ilmu komunikasinya, serta memberikan bekal kepada mereka tentang cara yang tepat dalam memilah, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan informasi dari media sosial. Setelah menjabarkan pola asuh dapat memengaruhi kualitas SDM di era digital sekarang ini. Oleh karena itu, mengatasi masalah pola asuh yang muncul pada generasi X, literasi parenting style menjadi relevan. Terutama pemahaman akan peran komunikasi gender dalam pola asuh yang dapat membantu dalam mengatasi berbagai permasalahan yang muncul. Dilansir dari media daring Katadata. co, generasi X merupakan kelompok individu yang lahir antara tahun 1965-1980, mereka memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelum dan setelahnya (Aeni, 2. Generasi ini, menjadi awal penggunaan perangkat komputer pribadi kemudian permainan video, televisi kabel, dan internet bertumbuh di generasi tersebut. Bagaimana pola didikannya? Generasi X tumbuh dengan pola pendidikan yang disipilin dari orang tua mereka, sehingga karakteristiknya adalah mandiri, disiplin, kerja keras dan menekankan pada karir. Selain itu, cenderung memiliki sifat kreatif, tangguh, dan Dilansir dari media daring Tirto. id, didikan orang tua dari generasi X lebih sering mengambil keputusan, termasuk hal-hal kecil dalam memilih pakaian anak sampai memilihkan Dianingtyas Murtanti Putri. Ari Kurnia. Dessy Kania. Adek Risma Dedees. A sekolah, seluruhnya diarahkan oleh orang tua. Berbeda dengan cara didik atau pola asuh generasi milenial, yang cenderung memberi kesempatan dengan cara melibatkan anak-anak mereka untuk menyuarakan pendapatnya. Sedangkan, pola asuh pada generasi Z teknologi sudah diterapkan sejak awal, inilah yang membedakan dengan generasi-generasi sebelumnya (Sayekti, 2. Hingga era digital 4. 0 ini, peran media daring terus digunakan dalam berbagai aspek dan lini, sehingga selain mendapatkan dampak positif namun bersamaan juga dengan dampak negatifnya. Salah satunya ialah adiksi penggunaan media daring terhadap psikologis Lebih lanjut. Wijoyo dkk. dalam penelitiannya menyampaikan hal yang serupa, yakni dalam aspek pendidikan generasi Baby Boomer atau generasi X mengajarkan prinsipprinsip dan pemahaman yang berbeda kepada generasi Z dan generasi Alpha. Di mana generasi Baby Boomer memberikan pemahaman akan teknologi relatif lebih rendah dibandingkan dengan generasi Z. Sebaliknya, generasi Z atau yang dikenal sebagai iGeneration sejak kecil telah dikenalkan dengan teknologi, dengan kata lain ketergantungan terhadap teknologi lebih tinggi sebab seluruh sumber informasi diperoleh melalui media daring, fenomena inilah yang menjadi pola hidup . bagi generasi ini. Setelah disampaikan sebelumnya mengenai karakteristik berbagai generasi memengaruhi juga bagaimana pola asuh yang dipahami dan diterapkan pada keluarga mereka. Pola asuh erat kaitannya dengan parenting education, parenting adalah mengasuh, bisa juga diartikan merawat, menjaga, mendidik, membimbing, mengawasi, dan melindungi lahir batin. Education berarti pendidikan sebagai upaya dalam mengasah keterampilan untuk mendidik serta menanamkan kebiasaan yang baik. Parenting education mencakup styles, skills, atau strategi, selain itu ketika menerapkan pola asuh peran komunikasi gender juga dibutuhkan. Mengetahui bahwa karakteristik anak beragam secara personal, mendidik anak perempuan dan laki-laki berbeda. Maka dari itu, ayah dan ibu harus memahami bagaimana peran masing-masing. Gender menurut Subekti dkk. merupakan paket hubungan yang nyata di institusi sosial, selanjutnya dihasilkan kembali dari interaksi antar personal. Gender bukan kata benda sebab gender diciptakan dan diperkuat melalui diskusi perilaku di mana individu memberikan pernyataan terhadap suatu identitas gender. Maksudnya, gender bukanlah merujuk pada jenis kelamin, namun terletak pada peran dan Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media A Adapun peran gender dibentuk dan dipengaruhi oleh suatu budaya, struktur ekonomi, dan struktur politik. Keterkaitan antara komunikasi gender dengan literasi parenting style ialah konsep dalam membangun keluarga perlu dipikirkan dengan matang, seperti yang disampaikan di paragraf sebelumnya bahwa tolak ukur terdapat beberapa indikator dan salah satunya yaitu keberlangsungan pendidikan yang akan diterapkan. Hal ini mencakup gaya bahasa yang akan digunakan dan diterapkan, jika konsep dari awal membingungkan maka akan berdampak pada anak-anak mereka. Masa golden age atau masa usia dini merupakan masa emas bagi seorang anak sebelum menginjak remaja awal hingga dewasa akhir. Masa inilah masa tahapan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak yang mana ketika itu otak dan fisik mengalami pertumbuhan maksimal. Pengetahuan mengenai masa golden age perlu menjadi perhatian penting untuk diketahui bagi para orang tua, pendidik, maupun pengasuh yang berinteraksi langsung dengan anak. Disampaikan juga oleh Elga Andriana. Psi. Ed. Ph. Dosen Psikologi UGM dalam kegiatan webinarnya yang berjudul AuPentingnya Masa Golden Age AnakAy yakni pentingnya perkembangan memori dan keterampilan eksekutif pada bayi. Sebab, fungsi eksekutif yang terdiri dari aspek fleksibilitas berpikir, pengendalian diri, dan working memory merupakan sebuat keterampilan kognitif yang mampu menyokong kemampuan kognitif tingkat tinggi dalam melakukan perencanaan, perioritas, membuat keputusan, serta mengendalikan diri (Nugraha, 2. Nuraida dan Hassan . menyatakan bahwa komunikasi dalam keluarga dapat berlangsung secara timbal balik dan silih berganti, baik dari orang tua ke anak pun sebaliknya anak ke orang tuanya. Perlu dipahami mendidik anak laki-laki dengan anak perempuan sangatlah berbeda, oleh karenanya peran komunikasi gender perlu dipahami secara mendalam. Di satu sisi keluarga juga dipandang sebagai agen sosialisasi gender, sebab mulai dari keluargalah yang memberikan ajar kepada anak-anak mereka baik laki-laki untuk menganut sifat maskulin, dan anak perempuan menganut sifat feminim. Kecenderungan budaya patriarki di negara ini yang cukup dominan, membuat ketidakadilan gender terjadi. Budaya patriarki di indonesia yang dominan sejak dulu sangat memengaruhi pola asuh juga komunikasi gender pada anak (Nuraida & Hassan, 2. Mereka yang lahir pada tahun 1965-1980 secara garis besar menganut budaya patriarki, berbeda dengan generasi Z yang saat ini sudah diperkenalkan terkait kesetaraan gender. Perbedaan Dianingtyas Murtanti Putri. Ari Kurnia. Dessy Kania. Adek Risma Dedees. A pemahaman antara generasi memengaruhi pola komunikasi yang terjalin dalam keluarga. Oleh karena itu, tidak hanya memperbaiki komunikasi keluarga namun juga pola asuh orang tua. Putri . dalam publikasinya menyampaikan bahwa ketika berinteraksi dengan orang lain, tentu akan melibatkan pikiran dan rasa. Salah satu definisi komunikasi yakni komunikasi merupakan simbolik, baik yang bersifat verbal dan nonverbal. Bentuk dari komunikasi verbal ialah bahasa yang terdiri dari berbagai simbol-simbol yang merupakan representasi dari orang peristiwa, dan semua yang terjadi di sekitar kita serta ada di dalam diri kita. Selanjutnya, bentuk komunikasi nonverbal mencakup ekspresi wajah, postur tubuh, sentuhan, intonasi nada suara, dan sebagainya. Memahami bentuk verbal dan nonverbal ini memang diperlukan kepekaan . Mengomunikasikan dan menggambarkan emosi atau perasaan yang dirasakan merupakan hal yang sulit (DeVito, 2. Dikatakan sulit, karena pemikiran dari diri sendiri sering menjadi bingung ketika diri ini sedang sangat emosional. Dengan kata lain, saat kita sangat emosional atau murka maka sangat sulit menata pikiran, akibatnya ungkapan yang disampaikan tidak terkendali dengan baik. Oleh karena itu, pada proses komunikasi pesan yang disampaikan komunikator dengan komunikannya terjadi pertukaran simbolik dan timbal balik . dari para pelaku komunikannya. Saat interaksi berlangsung maka pesan emosional . motional message. turut terlibat. Tentu mengomunikasikan emosi sangat penting sebab perasaan adalah bagian besar dari makna diri. Apabila mengabaikannya maka dianggap kita telah gagal mengkomunikasi sebagian besar makna pesan yang ingin diri kita sampaikan pada si penerima pesan. Pada situasi seperti ini iklim komunikasi yang tercipta menjadi iklim komunikasi yang destruktif. Iklim ini merupakan lingkungan interaksi di mana pola komunikasi yang digunakan oleh individu cenderung merusak hubungan daripada membangun atau memperkuatnya (Herawati, dkk. , 2. Dalam iklim seperti ini, interaksi seringkali diwarnai dengan negativitas, ketidakpercayaan, dan konflik, beberapa karakteristik utama dari iklim ini adalah kurangnya penghargaan atau pengakuan dari orang terdekat . ignificant other. , lalu timbul rasa ketidakpercayaan atau kecurigaan. Selanjutnya, komunikasi yang tercipta cenderung komunikasi tidak jujur atau bersifat Dengan demikian, pentingnya menciptakan iklim komunikasi yang sehat memengaruhi pola komunikasi atau gaya berkomunikasi yang disampaikan. Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media A Pada konteks pola asuh orang tua dengan anak terhadap gaya pola asuh sangat penting menghindari menciptakan iklim komunikasi yang destruktif. Sebab, dengan iklim yang sehat tersebut maka memengaruhi juga bagaimana mengelola emosinya, dari komunikator kepada komunikannya (Sulung & Sakti, 2. Interaksi yang terbentuk dalam keluarga akan membantu dalam proses pembentukan kecerdasan emosional pada diri seseorang. Sulung dan Sakti . menuliskan bahwa kecerdasan emosional merujuk pada kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya sendiri serta emosi orang lain. Selain itu, kecerdasan ini mencakup pemahaman terhadap kondisi emosional diri guna memperkuat etika dan membangun potensi Artinya, lingkungan awal atau pertama dan utama anak terletak di keluarga, di sini orang tua merupakan role model bagi anak-anaknya. Anak-anak akan melakukan masa imitasi dan adaptasi dari keluarganya, tentunya dalam gaya pola asuh yang diterapkan oleh orang tua melibatkan emotional things. Emotional things mengacu pada objek, situasi, atau pengalaman yang membangkitkan reaksi emosional yang kuat dari seseorang, misalnya saja perstiwa yang pernah dialami dan sudah lampau, objek dengan nilai sentimental, serta kenangan pribadi. Hal inilah yang dapat berdampak terhadap bahasa yang dipergunakan dari orang tua kepada anak-anak mereka, sebab bahasa merupakan cerminan para penutur. George Herbert Mead dalam Kholidi dkk. , telah menyebutkan bahwa anak-anak akan melakukan masa imitasi dan adaptasi dari Bermula dari bahasa, kemudian konsep hingga implementasinya. Sebab, bahasa memengaruhi kognitif, afektif dan konatif diri seseorang. Keluarga memiliki peran penting dalam mengembangkan ketahanan anak untuk menghadapi permasalahan kehidupan. Keluarga juga berperan dalam menciptakan stabilitas, pemeliharaan, kesetiaan, dan dukungan bagi anggotanya (Herawati, dkk. , 2. Keluarga disebut juga sebagai tempat paling awal dan efektif dalam menjalankan fungsi pendidikan untuk menanamkan kejujuran, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab sebagai unsur dari karakter anak (Mustika & Corliana, 2. Pada komunikasi gender juga melingkupi bahasa, tujuan berkomunikasi, pola berbicara, komunikasi nonverbal dan verbal. Oleh karena itu, dalam membangun konsep keluarga membutuhkan pola asuh yang efektif. Metodologi Setelah disampaikan dari fenomena, kemudian pelaksanaan kegiatan PkM dilakukan dengan beberapa cara yang dirincikan sebagai berikut: Dianingtyas Murtanti Putri. Ari Kurnia. Dessy Kania. Adek Risma Dedees. A Tahap Persiapan Pada tahapan ini, tim PkM menginisiasi pertemuan awal dengan mitra terkait di Aula Kelurahan Pondok Kopi yang terletak di Jakarta Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman mengenai gaya pengasuhan . arenting styl. , dan bagaimana gaya ini dipengaruhi oleh komunikasi gender dan medianya. Pentingnya literasi dalam konteks gaya pengasuhan adalah memastikan pada orang tua untuk dapat memilih dan menerapkan gaya pengasuhan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak dalam lingkungan yang sehat dan positif. Penjelasan mengenai bagaimana gender dapat memengaruhi cara orang tua berkomunikasi dengan anak remajanya, serta bagaimana media dapat digunakan sebagai alat pendukung . atau sebaliknya bisa menjadi kendala untuk menciptakan komunikasi yang Pendampingan literasi dipilih sebagai metode pelatihan karena pendekatan ini memungkinkan interaksi yang lebih dekat dan pribadi. Tim PkM akan memberikan bimbingan dan dukungan langsung kepada orang tua dan remaja sebagai partisipan dalam memahami dan menerapkan konsep-konsep yang diberikan. Tim PkM merancang sebuah kuesioner yang ditujukan khusus untuk orang tua dan remaja. Kuesioner tersebut bertujuan untuk memperoleh wawasan tentang pemahaman orang tua mengenai pola asuh yang mereka terapkan di keluarga. Sementara, untuk remaja kuesioner ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai durasi dan kualitas waktu yang mereka habiskan bersama keluarga serta pola penggunaan media mereka. Kemudian, tim PkM dengan cermat telah merencanakan dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan acara pelatihan pendampingan yang efektif dan interaktif bagi para mitra di Pondok Kopi, termasuk strategi publisitas yang komprehensif untuk memastikan visibilitas media yang Tahap Pelaksanaan Melalui pengenalan dan pelatihan yang diberikan oleh para fasilitator dalam kegiatan pendampingan untuk orang tua dan remaja yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), mencakup: Sesi informasi: memberikan pengetahuan dasar kepada orang tua dan remaja mengenai pentingnya komunikasi yang efektif, pemilihan media sebagai referensi, pembekalan teknik-teknik Dalam Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media A pelaksanaannya fasilitator membagi peserta menjadi dua kelompok, yakni kelompok orang tua dengan kelompok remaja, hal ini dilakukan agar tercipta keterbukaan informasi antara keduanya. Pelatihan interaktif: melatih orang tua dan remaja dalam keterampilan komunikasi dengan fokus pada bagaimana mengkonfirmasi dan mendukung satu sama lain. Dengan cara membangun awareness di antara keduanya, dilakukan melalui kegiatan membagi beberapa kelompok kecil kemudian diberikan topik diskusi. Tujuannya adalah agar orang tua memahami apa yang dipikirkan oleh anak remaja mereka. Pendampingan individual: memberikan dukungan secara personal untuk menangani isuisu dalam komunikasi keluarga. Selama pelaksanaan kegiatan, diadakan sesi berbagi pengalaman untuk para orang tua bersama fasilitator, yang juga melibatkan anak-anak remaja mereka. Tujuan dari kegiatan ini adalah memperkuat hubungan antara orang tua dan remaja dalam membangun iklim komunikasi yang mengkonfirmasi, di mana kedua belah pihak akan merasa didengarkan, dipahami, dan dihargai. Hal ini penting untuk kesehatan emosional remaja dan memelihara hubungan orang tua dengan remaja yang positif. Tim PkM juga akan memberikan permainan melalui media daring Quiziz. com yang berisi tentang informasi seputar pengetahuan mereka tentang literasi parenting style. Tahap Evaluasi Pada tahap ini, fasilitator bersama tim membagikan kuesioner kepada para peserta dengan tujuan mengumpulkan tanggapan dan saran, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sesi kegiatan berikutnya yakni kegiatan podcast. Konsep podcast yang dilakukan ialah melibatkan peserta dari Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Pondok Kopi sebagai narasumber, selanjutnya melibatkan para ahli yang memahami aspek gender serta aspek rumah tangga penopang ekonomi nasional. Selain mengisi kuesioner, peserta diminta untuk mengisi Quiziz. com sebagai media kuis Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran terkait pengetahuan dan partisipasi aktif peserta. Indikator keberhasilan program pengabdian ini adalah persentase peningkatan hasil penilaian jawaban kuesioner, kuis, dan survei daring yang ditanyakan kepada peserta Indikator keberhasilan kegiatan PkM adalah persentase peningkatan hasil skor jawaban kuesioner, kuis, dan survei daring yang ditanyakan kepada peserta kegiatan. Hasilnya Dianingtyas Murtanti Putri. Ari Kurnia. Dessy Kania. Adek Risma Dedees. A akan dititikberatkan pada kedalaman pemahaman peserta mengenai literasi parenting style ditinjau dari komunikasi gender dan media. Sebelumnya fasilitator bersama tim telah melakukan riset kepada mitra terkait pola asuh, pendekatan, atau komunikasi yang terjalin baik antara orang tua dengan anak-anaknya, antara anak dengan saudara kandungnya, intensitas penggunaan media sosial oleh orang tua dan anak melalui pre-test. Selain pre-test, tim PkM melakukan kegiatan post-test untuk mengetahui bagaimana tingkat pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan PkM. Diperoleh hasil sebesar 31,3% responden menyampaikan bahwa kegiatan ini bermanfaat dan 68,8% menyatakan sangat bermanfaat. Dengan hasil yang cukup signifikan dari feedback yang diberikan oleh partisipan tersebut, pelaksanaan kegiatan podcast dapat diselenggarakan. Kegiatan podcast dengan judul AuParenting Style for Virtual GenerationAy dilaksanakan pada tanggal 28 November 2023 di YouTube S1 Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie. Tujuan dari kegiatan podcast yang dilakukan adalah untuk desiminasi atau penyebaran pengetahuan tentang wawasan parenting style untuk remaja yang aktif menggunakan media sosial. Hasil dan Pembahasan Faktanya perkembangan kemajuan teknologi digital dan komunikasi saat ini memudahkan para orang tua untuk menerapkan gaya pola asuh yang AoidealAo. Peran media dalam kehidupan keluarga modern juga berperan penting sebab dari berbagai konten tersebut bisa menjadi alat dan wawasan bagi mereka. Konten yang tersedia di media sosial sering dijadikan referensi oleh para orang tua, tanpa mempertimbangkan apakah konten tersebut sesuai atau relevan dengan kebutuhan spesifik keluarganya. Dengan demikian, tekanan untuk mengikuti metode pengasuhan yang populer dianggap AoidealAo oleh media, sehingga dapat mengakibatkan orang tua memaksakan untuk menerapkan di dalam keluarganya. Hal inilah yang membuat anak remaja enggan untuk membuka diri pada keluarganya. Kegiatan PkM ini diperlukan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan partisipan mengenai generasi Z. Selain itu, hasil dari post-test yang disebarkan, partisipan berharap kegiatan selanjutnya dapat dilakukan kembali dengan tema yang serupa dalam pembahasannya yakni terkait cara berkomunikasi dengan para anak remaja, serta upaya yang harus dilakukan agar anak remaja bersedia terbuka dengan orang tuanya. Terciptanya lingkungan komunikatif yang kondusif dan positif antara pemateri dan peserta menjadi salah satu hasil yang mencolok. Peserta pelatihan merasa lebih terdorong untuk aktif Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media A bertanya dan menyampaikan pendapat melalui sesi tanya jawab yang diselenggarakan. Tingginya tingkat interaktivitas ini terlihat dari respons aktif peserta, yang kadang memerlukan pembatasan waktu untuk sesi tanya jawab karena keterbatasan waktu yang ada. Komunikasi memegang peranan penting dalam membangun hubungan antarmanusia karena dapat menggambarkan dinamika hubungan interpersonal. Keluarga tidak hanya memperkenalkan budaya, nilai, dan norma sosial yang memengaruhi komunikasi di dalamnya namun, juga berperan dalam pembentukan karakter individu. Pendidikan karakter tidak terbatas pada lembaga formal, akan tetapi mencakup pembentukan kepribadian yang berdampak langsung pada kualitas hidup seseorang. Menegaskan pentingnya lingkungan keluarga dalam membentuk dan mengarahkan perkembangan pribadi dan profesional seseorang, memerlukan strategi komunikasi yang efektif untuk mendukung proses tersebut. Selanjutnya, pola asuh dalam keluarga juga berkaitan dengan bagaimana orang tua atau wali mendidik anak remaja mereka. Pola asuh yang otoriter mungkin menghasilkan komunikasi yang kurang terbuka, sedangkan pola asuh yang demokratis mendukung komunikasi untuk lebih terbuka dan dialogis. Dengan kata lain, pentingnya pemahaman mengenai peran gender dalam komunikasi keluarga menunjukkan bahwa praktik komunikasi seringkali mencerminkan dan dipengaruhi oleh peran gender yang ada dalam masyarakat. Mengedepankan kesetaraan gender dalam pola asuh tidak hanya membantu menghindari stereotip gender yang membatasi, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan kesadaran lebih luas. Kesimpulan Kesuksesan suatu acara tidak terlepas dari konsep dan koordinasi yang berjalan baik antara tim PkM, fasilitator, dan mitra kegiatan (PKK Pondok Kopi Jakarta Timu. Kegiatan yang dihadiri oleh partisipan orang tua dengan anak remaja mereka berlangsung dengan baik. Sehingga, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa pelaksanaan kegiatan PkM ini telah menghasilkan dampak yang signifikan dan mendalam. Inti dari program ini adalah mengembangkan pemahaman yang lebih luas dan mendalam tentang bagaimana gaya pengasuhan anak dapat dipengaruhi oleh beragam faktor seperti norma gender dan penggunaan media. Melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan mulai dari pembekalan literasi parenting style, sesi diskusi, hingga pelaksanaan kegiatan podcast yang dilakukan, program ini telah berhasil menggali dan Dianingtyas Murtanti Putri. Ari Kurnia. Dessy Kania. Adek Risma Dedees. A mengeksploitasi berbagai dimensi dari gaya pengasuhan dan penekanan khusus pada peran gender dan media. Selanjutnya, aspek penting yang turut dibahas dalam program PkM ini adalah bagaimana stereotip gender dapat tidak sengaja diintegrasikan ke dalam praktik pengasuhan anak yang selama ini dilakukan oleh para partisipan. Pada pelaksanaan program ini, para orang tua diajak untuk merefleksikan dan mengevaluasi cara mereka mendidik anak khususnya remaja. Partisipan juga diberikan penjelasan mengenai bagaimana praktik ini dapat dipengaruhi oleh pandangan tradisional tentang peran gender. Selanjutnya, melalui dialog dan pertukaran ide, program ini menginspirasi para peserta untuk mengadopsi gaya pengasuhan yang lebih inklusif. Dengan kata lain, program yang dijalankan telah mendorong dan memotivasi para peserta untuk menerima dan menerapkan metode pengasuhan yang lebih terbuka dan menerima Melalui proses dialog dan diskusi, peserta berbagi pengalaman dan mendapatkan perspektif baru, hal ini menjadikan padangan mereka lebih terbuka terhadap berbagai cara pengasuhan yang mengakomodasi kebutuhan dan keunikan setiap anak tanpa diskriminasi atau prasangka. Di samping itu, program ini juga menyoroti peran penting media dalam kehidupan keluarga modern. Dengan adanya akses yang mudah ke berbagai jenis media, penting bagi orang tua untuk memahami bagaimana konten media dapat memengaruhi remaja mereka, baik secara positif maupun negatif. Program ini memberikan wawasan bagi orang tua untuk menavigasi penggunaan media dengan lebih efektif, mengidentifikasi konten yang mendukung pengasuhan positif, serta mempromosikan penggunaan media yang bertanggung jawab dalam Lebih jauh lagi, program ini berkontribusi pada penguatan kapasitas komunitas yakni PKK di Pondok Kopi dalam memahami dan mengimplementasikan konsep-konsep seperti kesetaraan gender dan literasi media dalam konteks keluarga. Dengan meningkatnya kesadaran dan pengetahuan dari partisipan usai mengikuti program ini, maka diharapkan akan terjadi perubahan sikap dan perilaku dalam jangka panjang yang mendukung pengasuhan anak/remaja yang lebih sehat, terbuka, dan berkeadilan. Program PkM ini telah memberikan kontribusi yang sangat berharga tidak hanya dalam konteks peningkatan literasi parenting style, tetapi juga membantu dalam membentuk pondasi bagi keluarga yang lebih harmonis, inklusif, dan mendukung perkembangan remaja secara Literasi Parenting Style Ditinjau dari Komunikasi Gender dan Media A Ucapan Terima Kasih Terima kasih penulis sampaikan kepada Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bakrie yang telah memfasilitasi dan membantu dalam proses kelangsungan pelaksanaan program yang kami lakukan, serta LAZNAS (Lembaga Amil Zakat Nasiona. Bakrie Amanah yang telah memilih program PkM kami dan membiayai kegiatan ini. Daftar Pustaka