Shelly Sagita dkk HUBUNGAN DURASI MENSTRUASI. AKTIFITAS FISIK. DAN KUALITAS TIDUR DENGAN KEJADIAN DISMINORHEA PADA REMAJA PUTRI Shelly Sagita1. Fika Minata2. Rizki Amalia3. Sendy Pratiwi Rahmadhani4 1,2,3,4 Program Studi S1 Kebidanan. Universitas Kader Bangsa Palembang Email: shellysagita13@gmail. com1, fikafkunsri07@gmail. com2, ramdhanilist@gmail. 01@gmail. Abstrak Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai dengan adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Berdasarkan data World Health Organization tahun 2013 didapatkan perempuan remaja berusia 10-19 tahun sebesar 1. 425 jiwa yang mengalami disminorea primer 10-15%, terjadi peningkatan pada tahun 2017 yaitu sebesar 54,89% dan tahun 2018 bahwa angkatan kejadian disminorhea didunia sangat tinggi dimana rata-rata insiden disminorea mencapai 16,8 Ae Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui hubungan aktifitas fisik, durasi menstruasi dan kualitas tidur dengan kejadian dismenorhea pada remaja putri di SMP Negeri 4 Indralaya Utara Kabuapaten Ogan Ilir tahun 2022. Metode pada penelitian ini menggunakan cross sectional dengan populasi 60 responden dan sampel sebanyak 60 responden menggunakan teknik total Analisis data menggunakan uji statistik chi square dengan p value O nilai . Hasil penelitian ini dari 48 responden dengan durasi Menstruasi normal yang mengalami disminorhea sebanyak 40 orang . ,3%) dengan p value = 0,000, dari 42 responden dengan aktifitas sedang yang mengalami kejadian disminorhea sebanyak 28 orang . ,7%) p value = 0,03, sedangkan, dari 26 responden dengan kualitas tidur baik yang mengalami disminorhea sebanyak 12 orang . ,2%) p value = 0,000. Bidan diharapkan agar lebih meningkatkan pelayanan dan edukasi kepada remaja putri mengenai kesehatan reproduksi pada remaja khususnya disminorea. Kata kunci : Kejadian Disminorhea. Durasi Menstruasi. Aktfitas fisik dan Kualitas Tidur Abstract Adolescence is a transitional period marked by physical, emotional and psychological Based on data from the World Health Organization in 2013, it was found that there were 1,769,425 teenage girls aged 10-19 years who experienced primary dysmenorrhoea of 1015%, there was an increase in 2017 of 54. 89% and in 2018 the incidence of dysmenorrhoea in the world was very high. where the average incidence of dysmenorrhea reaches 16. 8 - 81%. This study aims to determine the relationship between physical activity, menstrual duration and sleep quality with the incidence of dysmenorrhea in young women at SMP Negeri 4 Indralaya Utara. Ogan Ilir Regency in 2022. The method in this study used a cross-sectional study with a population of 60 respondents and a sample of 60 respondents using the technique total sampling. Data analysis used the chi square statistical test with p value O value . The results of this study were 48 respondents with normal menstrual duration who experienced dysmenorrhea as many as 40 people . 3%) with p value = 0. 000, of 42 respondents with moderate activity who experienced dysmenorrhea as many as 28 people . 7%) p value = 0. 03, meanwhile, out of 26 respondents with good sleep quality, 12 people . 2%) experienced dysmenorrhoea, p value = Midwives are expected to further improve services and education for young women regarding reproductive health in adolescents, especially dysmenorrhea. Keywords : Disminorhea Incidence. Menstrual Duration. Physical Activity and Sleep Quality Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa transisi yang ditandai dengan adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa Remaja yakni masa antara 10-19 tahun adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia yang sering disebut dengan pubertas, pada pubertas inilah terdapat masalah yang sering dihadapi oleh remaja saat menstruasi (Puspita, 2. Berdasarkan data World Health Organization tahun 2013 didapatkan perempuan remaja berusia 10-19 tahun 425 jiwa yang mengalami 10-15%, peningkatan pada tahun 2017 yaitu sebesar 54,89% dan tahun 2018 bahwa angkatan kejadian disminorhea didunia sangat tinggi rata-rata mencapai 16,8 Ae 81% (WHO, 2. Di Indonesia menurut Riskesdes . angka kejadian disminorea sebesar 107. ,25%) yang terdiri dari 59. 673 jiwa . ,89%) yang mengalami disminorea primer 496 . ,36%) yang mengalami disminorea sekunder sedangkan data dari Riskesdes tahun 2016 angka kejadian disminorhea berjumlah 64,25% dari total wanita usia subur yang berjumlah 78,6% dan . angka disminorhea di Indonesia masih tetap tinggi dengan angka 64,25%. (Riskesdes, 2. Dan data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2010 angka kejadian diminorea sekitar 50% dari wanita yang sedang haid yang mengalami disminorea dan pada tahun 2018 jumlah remaja berumur 10-14 tahun 153 jiwa, remaja berumur 15-19 tahun berjumlah 716. 648 jiwa dan remaja berumur 20-24 tahun berjumlah 698. Dengan prevalensi angka kejadian disminore sebesar 64,20% yang terdiri dari 52,89% disminore primer dan 9,25% disminore sekunder. (BPS Sumatera Selatan. Dan menurut data yang didapat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Ilir tahun 2018 menyatakan bahwa yang megalami nyeri saat menstruasi sebesar 64,3% dan pada tahun 2019 didapatkan angka kejadian disminorea pada remaja puteri yaitu berjumlah 66,3% sedangkan pada tahun 2020 angka kejadian disminorea masih tetap diangka 66,3 % (Dinkes Kabupaten Ogan Ilir, 2. Adapun permasalahan atau gangguan menstruasi yang sering terjadi pada remaja yaitu seperti Amenore, premenstrual syndrome dan disminore. (Afiyanti, 2. Dismenore adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelianan alat-alat genetalia yang nyata (Anurogo dan Wulandari, 2. Adapun faktor-faktor mempengaruhi disminorhea primer ini bisa bervariasi yaitu seperti faktor usia menarche, lama menstruasi, aktifitas fisik, riwayat keluarga dan kualitas tidur. (Horman,dkk Selain faktor diatas, yang menjadi faktor dismenore yaitu : adanya usia menstruasi, persepsi laju menstruasi, riwayat keluarga dan kebiasaan olahraga dan stress. (Hayati, 2. Salah satu upaya pemerintah untuk menangani permasalahan tersebut, maka pemerintah membentuk program PKPR (Pelayananan Kesehatan Peduli Remaj. pengetahuan dan keterampilan remaja tentang kesehatan reproduksi dan perilaku hidup sehat serta memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada remaja. Layanan PKPR memiliki pendekatan yang komprehensif berupa promotif dan preventif peningkatan keterampilan psikososial dengan pendidikan keterampilan hidup sehat (PKHS), pembinaan konselor sebaya dan skrining kesehatan remaja, serta upaya kurati manajemen terpadu pelayanan kesehatan peduli remaja (Profil Kesehatan Kota Palembang, 2. Dismenorea aktivitas belajar serta juga dapat berdampak Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk pada produktivitas dan kualitas hidup remaja secara tidak langsung. Dismenorea sangat berdampak pada remaja usia sekolah karena menyebabkan terganggunya aktivitas sehari hari. Jika seorang siswi mengalami dismenorea, aktivitas belajar mereka di sekolah akan terganggu, terkadang ada yang sampai meminta izin untuk pulang bahkan ada yang pingsan. Disminorea yang diderita siswi sering menjadi penyebab mereka tidak masuk sekolah. (Ningsih et al. , 2. Aktifitas fisik pada remaja dianjurkan harus melakukan setidaknya rata-rata 60 menit perhari dengan intesitas sedang hingga kuat, sebagian besar aktifitas fisik aerobic sepanjang minggu. Harus menggabungkan aktifitas fisik intesitas tinggi serta yang memperkuat otot dan tulang setidaknya 3 hari seminggu dan membatasi jumlah waktu yang dihabiskan untuk tidak bergerak. Aktifitas fisik pada remaja akan meningkat ketika kardiometabolik dan kesehatan mental (WHO 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Fadriyaty . , didapatkan pada uji Korelasi Spearman. bahwa variabel independen yaitu aktivitas fisik yang dihubungkan dengan skala dismenorea memiliki P-value 0. < 0,. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara aktivitas fisik dengan skala dismenorea menunjukkan hubungan yang lemah dan berpola negatif artinya semakin banyak melakukan aktivitas fisik maka semakin rendah skala dismenorea primer yang dimiliki. Durasi Menstruasi merupakan jarak dari hari pertama menstruasi sampai perdarahan menstruasi berhenti berlangsung 3-7 hari, dengan jumlah darah selama menstruasi berlangsung tidak lebih dari 80ml. Lama menstruasi jika lebih dari normal . dapat menimbulkan adanya kontraksi uterus, menstruasi yang terjadi lebih lama berkontraksi kontraksi uterus yang terus menerus juga menyebabkan supply darah ke uterus berhenti sementara sehingga terjadilah dismenore primer (Samsulhadi, 2011 dan Lubis, 2. Tubuh manusia telah diciptakan untuk menyeimbangkan antara waktu individu terjaga yaitu selama 16 jam dengan waktu tidur selama 8 jam. Di waktu pagi hari, tubuh badan menghasilkan kimiawi seperti kortisol dan adrenalin serta mengawal suhu badan bagi melawan sifat ngantuk sehingga waktu malam. Ketika waktunya tubuh badan untuk berehat atau tidur, tubuh menghasilkan hormone melantonin, dimana degupan jantung semakin rendah dan suhu tubuh badan individu seiring menurun (Sleep Number Corporation, 2. Hasil penelitian yang dilakukan Hikma . , didapatkan hasil spearmanAoxrho mendapatkan nilai sebesar 0,034 . -value < 0,. Dari hasil analisis yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur terhadap dismenore pada remaja putri. Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti didapatkan bahwa jumlah siswi SMP Negeri 4 Indralaya Utara tahun 2021 berjumlah 60 siswi, dan dari 10 siswi yang diwawancarai terdapat 10 siswi yang mengalami disminorea. Dan dari 10 siswi tersebut ternyata 6 orang mengeluhkan sering pusing, 2 orang siswi mengeluhkan sakit perut bagian bawah dan 2 siswi mengeluhkan mual (SMP Negeri 4 Indralaya Utara, 2. Dengan adanya kejadian disminorhea pada remaja ini, maka sangat mengganggu dalam proses belajar mengajar siswi Sehingga hal ini menyebabkan remaja putri sulit berkonsentrasi karena ketidaknyamanan yang dirasakan ketika nyeri Oleh karena itu pada usia remaja dismenore harus ditangani agar tidak terjadi dampak yang lebih buruk. Sehingga berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang AuHubungan Aktifitas fisik. Durasi Menstruasi dan Kualitas Tidur Kejadian Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk Dismenorhea pada Remaja Putri di SMP Negeri 4 Indralaya Utara Kabuapaten Ogan Ilir Tahun 2022. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat Survey Analitik dengan menggunakan rancangan desain penelitian cross sectional dimana variabel . ktifitas menstruasi dan kualitas tidu. dan variabel . ejadian diobservarsi dan dikumpulkan secara sekaligus dalam jangka waktu yang Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari tahun 2022 di SMP Negeri 4 Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir. Populasi pada penelitian ini adalah semua siswi dari kelas VII-IX di SMP Negeri 4 Indralaya Utara berjumlah 60 menggunakan teknik total sampling. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Hasil Penelitian Analisis Univariat Analisis persentase dari variabel independen . urasi mentruasi, aktifitas fisik dan kualitas tidu. ejadian Kejadian Disminorhea Variabel Kejadian Disminorhea di kelompokkan dalam dua kategori yaitu Ya : jika responden mengalami disminore dan Tidak : jika responden tidak mengalami Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian Disminorhea Kejadian Disminorhea f Tidak Jumlah Berdasarkan tabel diketahui bahwa dari 60 responden, proporsi remaja putri yang mengalami disminorhea sebanyak 43 orang . ,7%) lebih banyak dibandingkan proporsi remaja putri yang tidak mengalami disminorhea sebanyak 17 orang . ,3%). Durasi Menstruasi Pada penelitian ini variabel Durasi Menstruasi dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Normal: 3-7 hari dan Tidak normal: < 3 atau >7 hari. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Durasi Menstruasi No. Durasi Menstruasi Tidak Normal Normal Jumlah Berdasarkan tabel 2. dapat diketahui bahwa dari 60 responden, proporsi remaja putri dengan durasi menstruasi tidak normal sebanyak 12 orang . ,0%) lebih kecil dibandingkan proporsi remaja putri dengan durasi mentruasi normal sebanyak 48 responden . ,0%). Aktifitas Fisik Pada penelitian ini variabel Aktifitas Fisik dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Aktifitas Ringan : (<600 MET-menit/ Mingg. Aktifitas Sedang : . -3000 METmenit/Mingg. dan Aktifitas Berat : (>3000 MET-menit/Mingg. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Aktifitas Fisik No. Aktifitas Fisik Ringan Sedang Berat Jumlah Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk Berdasarkan tabel 5. 3 dapat diketahui bahwa dari 60 responden, proporsi remaja dengan aktifitas sedang sebanyak 42 orang . ,0%) lebih banyak dibandingkan proporsi remaja dengan Aktifitas berat sebanyak 15 orang . ,0%) selebihnya proporsi remaja dengan aktifitas ringan sebanyak 3 orang . ,0%). Kualitas Tidur Pada penelitian ini variabel Kualitas Tidur dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Baik: Jika skor kualitas tidur O 5 dan Buruk: Jika skor kualitas tidur > 5. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kualitas Tidur No. Kualitas Tidur mengalami disminorhea lebih sedikit dari 48 responden dengan durasi mentruasi normal sebanyak 40 responden atau . ,8%) yang mengalami disminorea. Berdasarkan uji chi-square dan batas kemaknaan = 0,05 diperoleh p value = 0,000 < 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan bermakna antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Disminorhea, dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Disminorhea terbukti secara statistik. Hasil Odds Ratio diperoleh nilai OR : 3,333 artinya responden yang durasi mentruasi tidak normal memiliki kecenderungan 3,333 kali lebih besar untuk mengalami Kejadian Disminorhea dibandingkan dengan responden yang Durasi Menstruasi normal. Buruk Baik Jumlah Berdasarkan tabel 5. 4 dapat diketahui bahwa dari 60 responden, proporsi remaja dengan kualitas tidur buruk sebanyak 34 orang . ,7%) lebih besar dibandingkan proporsi remaja dengan kualitas baik sebanyak 26 orang . ,3%). Analisis Bivariat Hubungan Durasi Menstruasi dengan Kejadian Disminorhea Tabel 5. Hubungan Durasi Menstruasi dengan Kejadian Disminorhea Dari tabel 5. 5 dapat diketahui bahwa dari 12 responden dengan durasi Menstruasi tidak normal 3 responden atau . ,0%) yang Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kejadian Disminorhea Tabel 6. Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kejadian Disminorhea Dari tabel 5. 6 dapat diketahui bahwa 42 responden dengan aktifitas fisik sedang 28 responden atau . ,7%) yang mengalami disminorea lebih banyak dari 15 reponden dengan aktifitas fisik berat 14 responden atau . ,3%) yang mengalami disminorea dan 3 responden dengan aktifitas fisik ringan 1 responden atau . ,3%) yang mengalami Berdasarkan uji chi-square dan batas kemaknaan = 0,05 diperoleh p value = 0,03 < 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan bermakna antara Aktifitas Fisik dengan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk Kejadian Disminorhea, dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara Aktifitas Fisik dengan Kejadian Disminorhea tidak terbukti secara statistik. Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian Disminorhea Tabel 7. Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian Disminorhea Dari tabel 7. dapat diketahui bahwa dari 34 responden dengan kualitas tidur 31 responden atau . ,2%) yang mengalami disminorhea lebih banyak dibandingkan 26 responden dengan kualitas tidur baik 12 responden atau . ,2%) yang mengalami Berdasarkan uji chi-square dan batas kemaknaan = 0,05 diperoleh p value = 0,000 < 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan bermakna antara Kualitas Tidur dengan Kejadian Disminorhea. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara Kualitas Tidur dengan Kejadian Disminorhea terbukti secara statistik. Hasil Odds Ratio diperoleh nilai OR : 0,506 artinya responden dengan kualitas tidur buruk memiliki kecenderungan 0,506 kali lebih besar untuk mengalami Kejadian Disminorhea responden kuliatas tidur baik. Pembahasan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di SMP Negeri 4 Indralaya Utara pada bulan Januari 2022, serta dari hasil analisa secara univariat dan bivariat Hubungan Durasi Menstruasi dengan Kejadian Disminorhea Dari hasil analisis univariat didapatkan bahwa dari 60 responden, proporsi remaja putri dengan durasi menstruasi tidak normal sebanyak 12 orang . ,0%) lebih kecil dibandingkan proporsi remaja putri dengan durasi mentruasi normal sebanyak 48 responden . ,0%). Dari hasil analisis bivariat bahwa dari 12 responden dengan durasi Menstruasi tidak normal 3 responden atau . ,0%) yang mengalami disminorhea lebih sedikit dari 48 responden dengan durasi mentruasi normal sebanyak 40 responden atau ( 83,8%) yang mengalami disminorea. Berdasarkan uji chi-square dan batas kemaknaan = 0,05 diperoleh p value = 0,000 < 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan bermakna antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Disminorhea, dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara Durasi Menstruasi dengan Kejadian Disminorhea terbukti secara statistik. Hasil Odds Ratio diperoleh nilai OR : 3,333 artinya responden yang durasi kecenderungan 3,333 kali lebih besar untuk Kejadian Disminorhea dibandingkan dengan responden yang Durasi Menstruasi normal. Durasi Menstruasi atau jarak dari hari pertama menstruasi sampai perdarahan menstruasi berhenti berlangsung 3-7 hari, dengan jumlah darah selama menstruasi berlangsung tidak lebih dari 80ml (Siklus haid yang normal adalah jika seorang wanita memiliki jarak haid yang setiap bulannya relative tetap yaitu selama 28 hari, perbedaan waktunya juga tidak terlalu jauh berbeda, tetapi pada kisaran 21 hingga 35 hari, dihitung dari pertama haid sampai bulan (Samsulhadi, 2011 dan Lubis. Penelitian ini sejalan dengan Horman, et al . yang berjudul Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian disminore primer pada remaja puteri di Kabupaten Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk Kepulauan Sangihe yang menyatakan bahwa dari hasil anlisis dengan menggunakan uji statistic diperoleh niali p= 0,003 <0,05. Penelitian ini juga sejalan dengan Qoriaty N. I . yang berjudul Hubungan Siklus dan Lama Menstruasi dengan Kejadian Disminore pada Mahasiswi FKM UNISKA Banjarmasin menyatakan bahwa dari hasil uji statistic diperoleh p value 0,000 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama menstruasi mahasiswi FKM UNISKA dengan kejadian disminore. Begitu juga dengan hasil penelitian Mouliza. N . yang berjudul Faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian diminore pada remaja putri di MTS Negeri 3 Medan tahun 2019 yang menyatakan bahwa Hasil chi-square diperoleh hasil chi-square diperoleh nilai p = 0,033. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan lama menstruasi dengan dismenore di MTs Negeri 3 Medan Tahun 2019. Sehingga, peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Semakin lama durasi mentruasi terjadi Ou 7 hari, maka semakin sering uterus berkontraksi, akibatnya semakin banyak pula hormon prostaglandin yang dikeluarkan. Akibat berlebihan maka timbul rasa nyeri pada saat Timbulnya nyeri haid disebabkan rendahnya kadar progesteron pada akhir fase korpus luteum yang menyebabkan timbulnya nyeri haid. Menurunnya kadar progesteron akan menyebabkan terjadinya peningkatan sintesis prostaglandin. Hubungan Aktifitas Fisik Kejadian Disminorhea Hasil analisis univariat didapatkan bahwa dari 60 responden, proporsi remaja dengan aktifitas sedang sebanyak 42 orang . ,0%) lebih banyak dibandingkan proporsi remaja dengan Aktifitas berat sebanyak 15 orang . ,0%) selebihnya proporsi remaja dengan aktifitas ringan sebanyak 3 orang . ,0%). Dari hasil analisis bivariat didapatkan bahwa 42 responden dengan aktifitas fisik sedang 28 responden atau . ,7%) yang mengalami disminorea lebih banyak dari 15 reponden dengan aktifitas fisik berat 14 responden atau . ,3%) yang mengalami disminorea dan 3 responden dengan aktifitas fisik ringan 1 responden atau . ,3%) yang mengalami disminorea. Berdasarkan uji chi-square dan batas kemaknaan = 0,05 diperoleh p value = 0,03 < 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan bermakna antara Aktifitas Fisik dengan Kejadian Disminorhea, dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara Aktifitas Fisik dengan Kejadian Disminorhea tidak terbukti secara statistik. Perempuan yang melakukan olahraga secara teratur setidaknya 30-60 menit setiap 3-5 kali per minggu dapat mencegah terjadinya dismenorea. Setiap dapat sekedar berjalan-jalan santai, jogging ringan, berenang, senam maupun bersepeda sesuai dengan kondisi masing-masing. Adanya hubungan kebiasaan lahraga disebabkan karena olahraga merupakan salah satu teknik relaksasi yang dapat digunakan untuk mengurangi nyeri (Manuaba, 2. Kejadian dismenorhea akan meningkat dengan kurangnya aktivitas selama menstruasi dan kurangnya olahraga, hal ini menyebabkan sirkulasi darah dan oksigen menurun. Dampak pada uterus adalah aliran darah dan sirkulasi oksigen berkurang sehingga menyebabkan Nyeri dapat dikurangi dengan adanya aktivitas fisik karena saat melakukan Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi otak sehingga menimbuklan rasa nyaman (Wibawati, 2. Aktifitas fisik pada remaja dianjurkan harus melakukan setidaknya rata-rata 60 menit perhari dengan aktifitas fisik aerobic sepanjang minggu. Harus menggabungkan Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk aktifitas fisik intesitas tinggi serta yang memperkuat otot dan tulang setidaknya 3 hari seminggu dan membatasi jumlah waktu yang dihabiskan untuk tidak bergerak. (WHO Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Wibawati . Hasil uji menggunakan chi didapatkan hasil p value sebesar 0,006 (<0,. Karena p value < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima, maka dapat Hubungan aktivitas fisik dengan kejadian dismenorhea pada siswi di SMK Kesehatan Pelita Bogor. Penelitian ini juga sejalan dengan Lorenza . , hubungan intensitas aktivitas fisik dengan kejadian dismenore dan dari hasil uji statistik . ji chi-squar. diperoleh hasil p=0. 000 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara intensitas aktivitas fisik dengan kejadian dismenore karena nilai p-value < 0. Kurangnya intensitas berolah raga menyebabkan sirkulasi darah dan oksigen menurun, akibatnya aliran darah dan oksigen menuju uterus menjadi tidak lancar dan menyebabkan sakit. Produksi endorphin juga menurun sehingga dapat meningkatkan stress dan secara tidak langsung dapat meningkatkan dismenore. Sama halnya Penelitian yang dilakukan oleh Sugiyanto . Hasil uji KendallAos Tauantara aktivitas fisik dengan tingkat dismenore dapat diperoleh nilai 0,000 (<5%) bahwasanya ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan tingkat dismenore pada siswi kelas XII SMK Negeri 2 Godean. Sehingga peneliti berasumsi bahwa rendahnya aktivitas fisik pada remaja dapat penyebabkan antara lain malas, bosan capek, tidak punya peralatan berolahraga, tidak ada waktu dan sebagainya. Dengan mereka melakukan aktivitas fisik yang teratur atau menghasilkan endorphin. Hormon ini dapat berfungsi sebagai obat penenang alami yang diproduksi otak sehingga menimbulkan rasa nyaman saat menstruasi serta menghasilkan analgesik non spesifik jangka pendek untuk mengurangi rasa nyeri. Hubungan Kualitas Tidur denga Kejadian Disminorhea Dari hasil analisis univariat didapatkan bahwa dari 60 responden, proporsi remaja dengan kualitas tidur buruk sebanyak 34 orang . ,7%) lebih besar dibandingkan proporsi remaja dengan kualitas baik sebanyak 26 orang . ,3%). Dari hasil analisis bivariate didapatkan bahwa dari 34 responden dengan kualitas tidur 31 responden atau . ,2%) yang mengalami disminorhea lebih banyak dibandingkan 26 responden dengan kualitas tidur baik 12 responden atau . ,2%) yang mengalami disminorea. Berdasarkan uji chi-square dan batas kemaknaan = 0,05 diperoleh p value = 0,000 < 0,05 hal ini menunjukan ada hubungan bermakna antara Kualitas Tidur dengan Kejadian Disminorhea. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara Kualitas Tidur dengan Kejadian Disminorhea terbukti secara statistik. Hasil Odds Ratio diperoleh nilai OR : 0,506 artinya responden dengan kualitas tidur buruk memiliki kecenderungan 0,506 kali lebih besar untuk mengalami Kejadian Disminorhea responden kuliatas tidur baik. Kualitas tidur merupakan kepuasan seseorang terhadap tidur. Kualitas tidur meliputi kuantitas dan kualitas tidur. Kualitas tidur yang baik adalah cara seseorang mempersiapkan pola tidurnya pada malam hari, seperti tidur dengan tenang, menjaga kemampuan tidur dan relaksasi tertidur tanpa bantuan medis (Ali et al. , 2. Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Lestari et al . Kualitas tidur juga memiliki hubungan yang bermakna dengan dismenorea pada mahasiswi Fakultas Kedokteran UPN AuVeteranAy Jakarta . =0,. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2023 Shelly Sagita dkk Penelitian ini juga sejalan dengan yang dilakukan oleh Hikma . Dalam penelitian ini didapatkan hasil uji korelasi menggunakan uji SpearmanAox rhosebesar 0,034 . <0,. hal ini memiliki hubungan signifikan terhadap kualitas tidur dengan dismenore primer terhadap remaja putri di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang. Remaja sangat memerlukan waktu tidur yang cukup berkisar selama 7-9 jam setiap harinya. Waktu tidur tersebut diperlukan oleh remaja umur 18-25 tahun. Hal ini karena pada remaja yang memiliki waktu tidur kurang dapat mempengaruhi daya ingat atau memori remaja tersebut. Selain itu, berdasarkan penelitian Woosley & Lichstein . remaja wanita yang sering insomnia akan mengalami dismenore lebih berat dibandingkan remaja wanita yang tidak insomnia. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Wijayanti . Hasil uji Chi-Square membuktikan bahwa ada hubungan skala nyeri dengan kualitas tidur pada remaja dismenore dibuktikan dengan nilai hitung . > tabel . , dengan taraf signifikan hitung . ebesar 0,001 yang diperoleh Uji Chi-Square nilai expected < 0,05. Kesimpulan: Ada hubungan tingkat nyeri dengan kualitas tidur pada remaja di SMK Negeri 1 Sukoharjo. Sehingga peneliti berasumsi bahwa Kualitas tidur yang buruk akan memicu terjadinya stres. Ketika stres, tubuh akan menghasilkan hormon adrenalin, estrogen, progesteron, dan PG yang berlebihan. Estrogen dapat menyebabkan peningkatan kontraksi uterus secara berlebihan sedangkan progesteron bersifat menghambat kontraksi. Peningkatan kontraksi yang berlebihan ini menyebabkan rasa nyeri. Selain itu, hormon adrenalin yang juga meningkat, akan menyebabkan otot tubuh tegang termasuk otot rahim, sehingga menimbulkan nyeri ketika menstruasi. Jika kebutuhan tidur tersebut tidak terpenuhi, tentunya akan memperburuk kualitas tidur, yang nantinya akan mengganggu proses fisiologis tubuh, salah satunya peningkatan sensitivitas tubuh terhadap nyeri. Maka dapat dikatakan bahwa, peningkatan sensitivitas nyeri akibat buruknya kualitas tidur ini, akan berdampak langsung pada beratnya derajat dismenorea KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Ada hubungan durasi menstruasi dengan kejadian disminorhea pada remaja putri di SMP Negeri 4 Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir tahun 2022 (Pvalue 0,. Ada hubungan aktifitas fisik dengan kejadian disminorhea pada remaja putri di SMP Negeri 4 Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir tahun 2022 (Pvalue 0,. Ada hubungan kualitas tidur dengan kejadian disminorhea pada remaja putri di SMP Negeri 4 Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir tahun 2022. (Pvalue 0,. DAFTAR PUSTAKA