SURYA ABDIMAS Vol. 10 No. 208 Ae x Available online at: http://jurnal. id/abdimas/index p-ISSN: 2580-3492 e-ISSN: 2581-0162 Implementasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) Dalam Penentuan Ibadah Harian Firdaus1 . Muamar1. Muntohar1. Irham Muhammad Azama1. Hermawan2 1Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jl. KH. Ahmad Dahlan. Dusun i. Dukuhwaluh. Banyumas. Jawa Tengah 53182. Indonesia 2Universitas Muhammadiyah Purworejo Jl. KH. Dahlan 3 Purworejo, 54111. Jawa Tengah. Indonesia . irdaus@ump. | DOI: https://doi. org/10. 37729/abdimas. Abstrak Perbedaan penetapan awal bulan Hijriyah masih menjadi problem berulang yang berdampak pada ketidakseragaman pelaksanaan ibadah umat Islam, baik dalam konteks sosial keagamaan maupun Persoalan ini tidak hanya bersumber dari perbedaan metodologis antara hisab dan rukyat, tetapi juga dari rendahnya literasi falakiyah masyarakat serta minimnya model edukasi integratif di tingkat Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat terkait Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) melalui pendekatan sosialisasi dan edukasi berbasis Kegiatan dilaksanakan menggunakan metode ceramah, diskusi kelompok, praktik observasi hilal, workshop penyusunan kalender, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Pendekatan partisipatif diterapkan untuk membangun keterlibatan aktif peserta dalam proses pembelajaran dan internalisasi nilai Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan skor rata-rata pemahaman peserta dari 62,4 menjadi 86,7, atau meningkat sebesar 38,9 persen, dengan tingkat kepuasan peserta terhadap program mencapai 92 Peserta tidak hanya memahami konsep hisab dan rukyat secara teoritik, tetapi juga mampu menyusun rancangan kalender Hijriyah sederhana serta menunjukkan keterbukaan epistemik terhadap integrasi metode penentuan awal bulan. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan literasi falakiyah masyarakat, membangun kesadaran kolektif, serta memperkuat sikap moderat dalam menyikapi perbedaan metodologis kalender Islam. Model sosialisasi KHGT berbasis komunitas ini direkomendasikan untuk direplikasi di komunitas keagamaan lain dan diintegrasikan dalam program edukasi keagamaan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya penguatan literasi keagamaan dan unifikasi kalender Islam. Kata Kunci: Kalender Hijriyah. Kalender global. KHGT. Hisab. Rukyat This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. International License Pendahuluan Agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mengatur segala hal yang berhubungan dengan kehidupan didunia, terutama dalam hal beribadah sebagaimana tertera dalam lima rukun Islam yaitu kalimat syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan RamasAn, dan haji ke baitullah (Angkat, 2. Umumnya setiap orang membutuhkan kalender untuk menjadi pengatur, pengingat, dan pembagi waktu. Kehadiran kalender hijriyah bagi umat Islam sangat diperlukan karena terkait persoalan ibadah, seperti puasa Ramadan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, haul zakat dan haji (Wasilah Wahidin, 2. Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Kalender Hijriyah merupakan sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Islam untuk menentukan waktu ibadah, seperti awal Ramadhan. Idul Fitri. Idul Adha, dan berbagai amalan keagamaan lainnya. Namun, hingga kini masih sering terjadi perbedaan penetapan awal bulan Hijriyah, baik antar negara maupun di dalam negeri. Perbedaan ini umumnya disebabkan oleh perbedaan metode yang digunakan, yaitu rukyat . bservasi hilal secara langsun. dan hisab . erhitungan astronomi. (Hidayat, 2. Diskursus perumusan kalender menjadi kajian menarik. Khususnya terkait kalender Hijriah yang hingga kini masih terjadi perbedaan dalam penentuan awal bulan (Ramadhan. Syawal, dan Dzulhijja. Penyebab utama perbedaan tersebut karena tidak ada kriteria dan konsep yang tunggal dalam menyusun kalender Hijriah (Budiwati, 2. Seperti yang dialami Indonesia, negara yang mayoritas berpenduduk muslim, terlihat masih sering terjadi dikotomi kriteria dan metode yang dipakai dalam penentuan awal bulan Kamariah. Ada yang menggunakan metode rukyah . uAoya. dan ada pula yang menggunakan metode hisab . (Fadholi, 2. Ditambah lagi, dalam penggunaan metode hisab juga belum ada kesepakatan mengenai kriteria yang digunakan. Masing-masing pihak memiliki kriteria sendiri dalam menentukan awal bulan Kamariah. Beberapa contoh kriteria hisab yang sering digunakan adalah kriteria Wujudul Hilal (WH), kriteria MABIMS (Menteri Agama. Brunei Darussalam. Indonesia. Malaysia, dan Singapur. , dan Kriteria ImkAn alRuAoyat (LAPAN) (Nursodik, 2. Kalender Hijriyah merupakan penanggalan penting dalam kehidupan umat Islam yang digunakan untuk menentukan berbagai ibadah, seperti puasa, haji, dan hari-hari besar Islam (Mursyid Fikri, 2. Namun, perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriyah seringkali menimbulkan ketidakseragaman dalam pelaksanaan ibadah di kalangan umat muslim (Safitri, 2. Perbedaan ini bukan hanya terjadi di tingkat internasional, tetapi juga di dalam satu negara, termasuk Indonesia (Muhammad Arafat. Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan upaya sosialisasi dan edukasi mengenai kalender Hijriyah tunggal yang dapat diterima dan digunakan secara luas oleh umat Muslim di Indonesia (Riza, 2. Integrasi kalender Hijriyah tunggal dalam kehidupan sehari-hari diharapkan dapat meminimalisir perbedaan penetapan hari-hari besar Islam dan memperkuat persatuan umat. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sokaraja merupakan salah satu lembaga keagamaan yang memiliki peran penting dalam kehidupan umat Islam di wilayah Sokaraja. Kabupaten Banyumas. Dalam menjalankan fungsinya. PCM Sokaraja aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan umat dan menjaga kesatuan di kalangan masyarakat muslim (Firdaus, 2. Salah satu isu krusial yang dihadapi oleh PCM Sokaraja adalah perbedaan dalam penetapan awal bulan Hijriyah. Perbedaan metode dan pandangan dalam penentuan awal bulan Hijriyah seringkali menyebabkan ketidakselarasan dalam pelaksanaan ibadah seperti puasa. Idul Fitri, dan Idul Adha. Hal ini tidak hanya menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat, tetapi juga mengurangi semangat persatuan umat Islam di wilayah Sokaraja. PCM Sokaraja berkomitmen untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam di tengah masyarakat. Salah satu isu penting yang dihadapi oleh umat Islam di Indonesia, termasuk di Sokaraja, adalah perbedaan dalam penentuan awal bulan Hijriyah, yang seringkali menyebabkan ketidakseragaman dalam pelaksanaan ibadah seperti puasa, hari raya, dan penentuan hari-hari penting lainnya (Firdaus, 2. Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Gambar 1. Perbedaan Kriteria KHGT Perbedaan penetapan awal bulan Hijriyah seperti ditunjukkan pada Gambar 1 ini tidak hanya menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kesatuan umat dalam menjalankan ibadah (Syamsul Anwar, 2. Upaya untuk sosialisasi terus diupayakan mengingat wujudnya kalender yang bersifat unifikatif merupakan suatu keniscayaan untuk masa sekarang baik untuk aktifitas ibadah maupun kepentingan sipil terlebih dalam transaksi yang membutuhkan kepastian hukum (Hermawan & Firdaus, 2025. Maesyaroh, 2. Dalam rangka mengatasi permasalahan ini. PCM Sokaraja berinisiatif untuk mengintegrasikan kalender Hijriyah tunggal dalam kehidupan sehari-hari melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Muslim Dalam konteks lokal, masyarakat muslim di wilayah Sokaraja masih menghadapi tiga persoalan utama yang saling berkaitan. Pertama, adanya dikotomi metode penentuan awal bulan Hijriyah antara rukyat tradisional dan hisab modern yang menimbulkan ketidakpastian penetapan tanggal-tanggal ibadah penting. Kedua, minimnya sosialisasi dan edukasi KHGT di tingkat komunitas, yang selama ini masih terbatas pada forum-forum konvensional dan belum dikembangkan dalam bentuk model pembelajaran terpadu yang sistematis. Ketiga, rendahnya kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya unifikasi kalender, sehingga perbedaan kalender masih dipandang sebagai sesuatu yang wajar, bukan sebagai persoalan struktural yang berdampak pada kesatuan ibadah dan kohesi sosial umat. Dalam kerangka ini. Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sokaraja memiliki posisi strategis sebagai institusi keagamaan berbasis komunitas yang memiliki otoritas moral, legitimasi sosial, dan jaringan kelembagaan di tingkat akar rumput. PCM Sokaraja tidak hanya berfungsi sebagai unit struktural organisasi, tetapi juga sebagai pusat pembinaan keagamaan, pendidikan umat, dan transformasi sosial-keagamaan masyarakat. Posisi ini menjadikan PCM Sokaraja sebagai ruang strategis untuk pengembangan model implementasi KHGT yang tidak sekadar bersifat informatif, tetapi transformatif. Keunikan . kegiatan pengabdian ini terletak pada pengembangan model pembelajaran terpadu berbasis komunitas yang mengintegrasikan ceramah ilmiah, diskusi dialogis, praktik observasi hilal, workshop penyusunan kalender, serta evaluasi sistematis dalam satu desain program partisipatif. Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Model ini tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi membangun pengalaman empiris, dialog sosial, dan internalisasi nilai, sehingga mampu mendorong perubahan pemahaman, sikap, dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya unifikasi kalender Islam. Dengan demikian, kebaruan kegiatan ini tidak terletak pada konsep KHGT sebagai teori, melainkan pada model implementasi sosialnya di tingkat komunitas lokal. Berdasarkan kerangka tersebut, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan model sosialisasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) berbasis komunitas melalui pendekatan pembelajaran terpadu yang mengintegrasikan ceramah, diskusi, praktik, dan workshop, guna meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta kesadaran kolektif masyarakat terhadap integrasi metode hisab dan rukyat, serta membangun fondasi sosial bagi terwujudnya kesatuan kalender Islam dalam kehidupan keagamaan masyarakat. Metode Metode untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh PCM Sokaraja adalah mengadakan pelatihan tentang mengintegrasikan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dalam kehidupan sehari-hari. Adapun bentuk kegiatannya berupa sosialisasi dan edukasi untuk masyarakat di PCM Sokaraja kabupaten Banyumas. Guna memecahkan masalah yang sudah diidentifikasi dan dirumuskan tersebut di atas, dan agar pelatihan dapat berjalan dengan lancar maka sebagai alternatif pemecahan masalah adalah sebagai berikut: Pelatihan dilakukan dengan pendekatan individual dan klasikal (Creswell. Pendekatan klasikal dilakukan pada saat pemberian teori tentang kalender hijriyah tunggal. Adapun metode yang digunakan meliputi ceramah dan presentasi, diskusi kelompok, praktik lapangan, workshop dan studi kasus, evaluasi dan monitoring (Arikunto, 2. Hal ini sebagaimana dalam Tabel 1. Tabel 1. Alur Kegiatan Pelatihan Kalender Hijriyah Metode Ceramah dan Presentasi Diskusi Kelompok Praktik Lapangan Workshop dan Studi Kasus Pelaksanaan C Pembicara: ahli astronomi Islam, ulama, pakar hisab. C Materi dengan slide visual dan C Peserta dibagi 5Ae10 orang per Dipandu moderator. C Topik: isu-isu kalender Hijriyah di C Lokasi: tempat strategis observasi C Alat: teleskop, kompas, aplikasi C Dibimbing ahli astronomi. C Workshop: menyusun kalender Hijriyah Studi kasus: analisis penetapan negara/konteks. Tujuan C Memberikan pemahaman teoritis yang kuat mengenai kalender Hijriyah, rukyat, hisab, dan urgensi kalender tunggal. C Mendorong partisipasi aktif, memperdalam pemahaman, dan menumbuhkan sikap kritis. C Memberikan penggunaan hisab. C Melatih keterampilan aplikatif dalam penyusunan kalender Hijriyah dan penerapan metode rukyat-hisab. Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Evaluasi dan Monitoring C Pre-test & post-test. C Kuesioner kepuasan peserta. C Observasi selama simulasi dan C Follow-up meeting. C Menilai efektivitas pelatihan serta mendapatkan masukan untuk perbaikan program di masa Hasil dan Pembahasan Program sosialisasi dan edukasi mengenai Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) di PCM Sokaraja. Kabupaten Banyumas, memberikan sejumlah hasil yang signifikan dalam hal peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat terkait pentingnya unifikasi kalender Islam. Program ini dilaksanakan secara bertahap dengan menggunakan metode pembelajaran yang beragam, mulai dari ceramah, diskusi kelompok, praktik lapangan, workshop, hingga evaluasi dan monitoring. Tahap awal kegiatan berupa ceramah dan presentasi menunjukkan keberhasilan dalam memberikan fondasi pengetahuan yang kokoh bagi peserta (Gambar . Para ahli falak, dan pakar hisab yang dihadirkan berhasil memaparkan dasar-dasar ilmiah dan keagamaan terkait kalender Hijriyah, perbedaan metode hisab dan rukyat, serta urgensi adanya kalender hijriyah tunggal (Anwar, 2016. Firdaus, 2. Peserta memperoleh gambaran yang jelas mengenai problematika perbedaan penetapan awal bulan yang selama ini sering menimbulkan kebingungan, khususnya menjelang bulan Ramadhan. Idul Fitri, dan Idul Adha. Hasil pre-test dan post-test pada sesi ini menunjukkan adanya peningkatan pemahaman teoritis yang cukup signifikan (Iqbal, 2. Jika sebelum pelatihan banyak peserta belum memahami perbedaan mendasar antara kriteria wujudul hilal, imkanur rukyat, dan kriteria MABIMS, maka setelah sesi ceramah sebagian besar peserta mampu menjelaskan dengan runtut kelebihan dan keterbatasan dari masingmasing kriteria. Hal ini menandakan bahwa metode ceramah interaktif tetap efektif bila disajikan dengan media yang menarik seperti slide visual, gambar pergerakan bulan, dan simulasi perhitungan. Tahap diskusi kelompok memperlihatkan keterlibatan aktif para peserta dalam bertukar pengalaman dan pandangan. Dengan pembagian kelompok kecil beranggotakan 5Ae10 orang, diskusi berlangsung dinamis. Beberapa peserta menyampaikan pengalamannya mengikuti tradisi rukyat di daerahnya, sementara yang lain berbagi pandangan mengenai keakuratan metode hisab modern. Diskusi ini tidak hanya menjadi sarana untuk saling memahami perbedaan pandangan, tetapi juga menjadi ruang mediasi yang mempertemukan dua arus besar dalam masyarakat Islam: tradisi rukyat yang berbasis observasi langsung dan metode hisab yang berbasis kalkulasi astronomi. Gambar 2. Sesi Ceramah dan Presentasi Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Dari diskusi kelompok ditemukan fakta bahwa masyarakat selama ini lebih banyak mengikuti keputusan tokoh agama setempat tanpa memahami dasar ilmiah dan fiqhiyahnya (Gambar . Dengan adanya ruang dialog, peserta mulai menyadari bahwa perbedaan tersebut seharusnya tidak menimbulkan perpecahan, melainkan dapat dijembatani melalui pendekatan edukasi yang menekankan persatuan umat. Gambar 3. Sesi Diskusi Kelompok Pada tahap praktik lapangan (Gambar . , peserta diberikan kesempatan langsung untuk melakukan rukyat hilal di lokasi yang memungkinkan observasi. Kegiatan ini didukung dengan penggunaan teleskop, kompas, serta aplikasi hisab berbasis digital. Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama dalam melihat proses rukyat secara Keterlibatan langsung ini memberikan dampak psikologis yang cukup besar karena peserta dapat merasakan sendiri tantangan observasi hilal, seperti kondisi cuaca, visibilitas cahaya bulan sabit, dan keterbatasan alat bantu. Praktik ini membuat peserta lebih memahami mengapa metode rukyat sering menghasilkan perbedaan hasil antar wilayah. Sementara itu, melalui simulasi penggunaan aplikasi hisab, peserta dapat melihat bagaimana perhitungan astronomis mampu memprediksi posisi hilal jauh sebelum hari H. Perpaduan pengalaman empiris dan teoritis ini menumbuhkan kesadaran baru di kalangan peserta bahwa integrasi rukyat dan hisab merupakan solusi yang realistis untuk menuju kalender Hijriyah tunggal. Tahap berikutnya berupa workshop dan studi kasus berhasil menguji kemampuan peserta dalam mengaplikasikan teori yang telah dipelajari. Peserta dibagi ke dalam kelompok untuk menyusun rancangan kalender Hijriyah sederhana berdasarkan metode hisab dan rukyat. Gambar 4. Sesi Praktik Lapangan Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Selain itu, peserta juga diminta menganalisis kasus nyata perbedaan penetapan awal bulan yang terjadi di beberapa negara, misalnya antara Arab Saudi. Turki, dan negara-negara anggota MABIMS (Brunei Darussalam. Indonesia. Malaysia, dan Singapur. Dari studi kasus ini, peserta menyadari bahwa perbedaan kriteria bukan hanya persoalan teknis, melainkan juga terkait faktor politik, otoritas keagamaan, dan tradisi masyarakat. Workshop menghasilkan draft kalender yang disusun peserta dengan mempertimbangkan kriteria imkanur rukyat sebagai standar yang dianggap lebih moderat dan dapat diterima banyak Meskipun masih sederhana, hasil workshop ini menjadi bukti bahwa masyarakat mampu menyusun rancangan kalender apabila diberikan pembekalan yang tepat. Tahap evaluasi dan monitoring kegiatan dilaksanakan melalui pre-test, post-test, kuesioner kepuasan peserta, serta observasi praktik pembelajaran. Hasil evaluasi kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pemahaman peserta dari 62,4 pada pre-test menjadi 86,7 pada post-test, atau mengalami peningkatan sebesar 38,9%, yang mengindikasikan efektivitas program dalam meningkatkan literasi falakiyah masyarakat secara signifikan. Peningkatan ini juga diperkuat oleh hasil observasi praktik, di mana sebagian besar peserta mampu menyusun rancangan kalender Hijriyah sederhana serta menjelaskan konsep integrasi hisab dan rukyat secara argumentatif. Berdasarkan kuesioner kepuasan yang diisi oleh seluruh peserta kegiatan, sebanyak 92% responden menyatakan puas hingga sangat puas terhadap metode pembelajaran yang digunakan, terutama pada integrasi antara pendekatan teoritik dan praktik lapangan. Hanya 8% responden yang menyatakan cukup puas, tanpa ada responden yang menyatakan tidak puas. Data ini menunjukkan bahwa model pembelajaran terpadu yang mengombinasikan ceramah, diskusi, observasi hilal, dan workshop memiliki tingkat penerimaan sosial yang tinggi di tingkat komunitas. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian dan program sejenis di beberapa wilayah lain yang menunjukkan bahwa pendekatan edukasi partisipatif lebih efektif dibandingkan model sosialisasi satu arah dalam isu kalender Islam (Abdillah et al. , 2025. Hidayat et al. Namun, kegiatan ini memiliki keunikan pada integrasi praktik falakiyah langsung dan workshop penyusunan kalender dalam satu desain pembelajaran terpadu berbasis komunitas, yang belum banyak ditemukan dalam program sosialisasi KHGT sebelumnya yang umumnya bersifat seminarik dan diskursif. Secara teoretis, hasil kegiatan ini memperkuat tesis bahwa unifikasi kalender Hijriyah bukan hanya persoalan epistemologis dan fiqhiyah, tetapi juga persoalan rekayasa sosial-keagamaan . ocial religious engineerin. yang membutuhkan model edukasi transformatif. Secara praktis, capaian nyata program ini terlihat pada meningkatnya keseragaman sikap peserta terhadap penetapan awal bulan Hijriyah, munculnya kesepahaman lintas kelompok tentang pentingnya integrasi hisab dan rukyat, serta terbentuknya komitmen kolektif untuk menjadikan PCM Sokaraja sebagai rujukan lokal dalam isu penanggalan Islam. Dengan demikian, implikasi kegiatan ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga operasional, yaitu terbentuknya basis sosial bagi peningkatan keseragaman praktik ibadah di tingkat komunitas dan penguatan peran kelembagaan PCM Sokaraja sebagai pusat edukasi falakiyah cabang. Jika dikembangkan secara berkelanjutan dengan dukungan struktural organisasi Muhammadiyah dan sinergi pemerintah, model ini berpotensi berkontribusi nyata terhadap agenda unifikasi kalender Hijriyah di tingkat nasional sebagai bagian dari implementasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). Adapun dampak dari kegiatan abdimas yang diperoleh dapat disajikan pada Tabel 2. Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Tabel 2. Ringkasan Hasil dan Dampak Program Sosialisasi KHGT Metode Ceramah & Presentasi Diskusi Kelompok Praktik Lapangan Workshop & Studi Kasus Evaluasi & Monitoring Hasil yang Dicapai Peserta kalender Hijriyah, perbedaan hisabAerukyat, urgensi unifikasi kalender. Terjadi dialog aktif antara peserta dengan latar belakang isu-isu lokal terkait perbedaan kalender terungkap. Peserta mengalami langsung rukyat hilal dengan teleskop dan mencoba aplikasi hisab digital. Peserta menganalisis kasus perbedaan awal bulan di berbagai negara. Pre-test post-test memberikan umpan balik positif melalui kuesioner. Dampak atau Implikasi Meningkatkan pemahaman teoritis dan kesadaran akan pentingnya KHGT sebagai solusi kebingungan Menumbuhkan keterbukaan, dan keinginan untuk mencari titik temu antar metode. Memberikan pengalaman empiris sehingga tumbuh kesadaran bahwa rukyat-hisab menjadi solusi. Melatih keterampilan aplikatif. menumbuhkan pemahaman bahwa perbedaan juga terkait otoritas dan tradisi, bukan teknis semata. Menegaskan efektivitas pelatihan. muncul usulan agar PCM Sokaraja jadi pusat edukasi falakiyah di tingkat cabang. Kesimpulan Program sosialisasi dan edukasi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) di PCM Sokaraja terbukti efektif meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kesadaran keagamaan peserta terhadap urgensi unifikasi kalender Islam, yang ditunjukkan oleh peningkatan skor rata-rata pemahaman dari 62,4 pada pre-test menjadi 86,7 pada post-test . eningkatan 38,9%), tingkat kepuasan peserta sebesar 92%, serta kemampuan lebih dari 80% peserta dalam menyusun rancangan kalender Hijriyah sederhana berbasis integrasi metode hisab dan rukyat. Capaian ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran terpadu tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga membentuk perubahan sikap dan kesadaran kolektif peserta dalam memandang unifikasi kalender sebagai kebutuhan struktural umat. Program ini menghasilkan model sosialisasi KHGT berbasis komunitas yang efektif dan replikatif, sehingga direkomendasikan penguatan sosialisasi digital melalui media sosial, video edukatif, dan webinar, replikasi program di PCM dan lembaga keagamaan lain, serta dukungan kebijakan dari pemerintah dan organisasi keagamaan agar implementasi KHGT dapat diperluas secara nasional sebagai bagian dari upaya penguatan keseragaman ibadah dan kohesi sosial umat Islam. Acknowledgement Penulis mengucapkan terima kasih kepada LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto atas dukungan pendanaan, serta kepada PCM Sokaraja atas fasilitasi dan kerja samanya dalam pelaksanaan kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh peserta dan masyarakat yang telah berpartisipasi aktif sehingga program dapat berjalan dengan baik. Firdaus. Muamar. Muntohar. Irham Muhammad Azama. Hermawan Daftar Pustaka