AKTUALISASI DZIKIR BA'DA SHOLAT FARDHU DALAM MENINGKATKAN SIKAP KEAGAMAAN SANTRI DI PONPES MIFTAHUSSALAM DANGKO Askan Arifin1 Agussalim2 Aris Sutrisno3 Depi Putri4 1,2,3,4 Institut Agama Islam Al-Azhaar Lubuklinggau Absrak: This study aims to describe and critically analyze the Implementation of Fardhu Prayers in Improving the Religious Attitudes of Santri in Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas, and the factors that influence it. Descriptive qualitative research method, the data source is the head of the Islamic boarding school. Asatidz asatidzat and the students of the Miftahussalam Dangko Islamic boarding school. Data collection techniques are through observation, interviews and documentation, while data analysis techniques use data reduction, data presentation, and drawing The results of the research have been carried out well, and have been felt by the students, such as feeling calm, serene, not stressed, patient, optimistic, and feeling close to Allah, and feeling at home in the Islamic boarding school. In addition, based on data analysis, several activities were found to support the actualization of dhikr in the lodge, namely the implementation of the dzikir method carried out collectively . n congregatio. so that the students were motivated and enthusiastic in participating in In the preliminary stage, the ustadz supervisor really pays attention to the dhikr of the students so that it is very conducive. For a quiet and comfortable dhikr. Before the implementation of the fardlu prayer in congregation, advice and motivation is often held about the benefits of dhikr for life conveyed by ustadz the leader of the jama'ah to the students so that the students can apply it in their daily lives. Thus the students are free from feeling anxious, anxious, and stressed about the problems they are experiencing. Keywords: Dzikir Actualization. Increasing the Religious Attitude of Santri Absrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis secara kritis tentang Pelaksanaan Dzikir BaAoda Sholat Fardhu Dalam Meningkatkan Sikap Keagamaan Santri di Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas, serta Faktor-faktor yang Metode penelitian kualitatif deskriptif, sumber data adalah Pimpinan Pondok Pesantren. Asatidz asatidzat dan santri Pondok Pesantren Miftahussalam Dangko. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, sementara teknik analisis data mengunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian sudah terlaksana dengan baik, dan telah dirasakan oleh santri, seperti perasaan tenang, tenteram, tidak stres, sabar, optimis, dan merasa dekat dengan Allah, serta merasa betah berada di pondok pesantren. Selain itu, berdasarkan analisis data, ditemukan beberapa kegiatan yang sangat menunjang Aktualisasi dzikir di pondok tersebut, yaitu pelaksanaan metode dzikir dilakukan secara kolektif . sehingga santri termotivasi dan antusias dalam mengikutinya. Dalam tahap pendahuluan, ustadz pembimbing benar-benar memperhatikan dzikir para santri sehingga berlangsung sangat kondusif. Untuk pelaksanaan dzikir yang tenang dan nyaman. Sebelum pelaksanaan sholat fardlu berjamaAoah sering diadakan nasihat dan motivasi tentang faedah dzikir untuk kehidupan yang disampaikan oleh ustadz pemimpin jamaAoah kepada para santri sehingga santri dapat menerapkan dalam keseharian mereka. Dengan demikian santri terbebas dari rasa gelisah, cemas, dan stres terhadap permasalahan yang dialami. Kata Kunci : Aktualisasi Dzikir. Meningkatkan Sikap Keagamaan Santri A. PENDAHULUAN Pondok Pesantren Miftahusalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas yang telah berdiri kurang lebih 13 tahun juga mengamalkan amalan dzikir baAoda sholat fardlu hingga saat ini. Para santri baik putra maupun putri di tekan untuk terus mengamalkan dzikir baAoda sholat tersebut mengingat begitu besar manfaat dari dzikir bagi ketenangan jiwa para santri. Banyak ayat Al-qurAoan yang menerangkan tentang keutamaan-keutamaan Dzikir diantaranya adalah sebagai berikut: e AacEEa A ca AacEEa a aaE a a eE aA ca AEacaOIa aIIaO aO ea aI acaI CaEaOa aN eI a a eE aA Aa aI acaIA aAECaEaOA Artinya : Au(Yait. orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allyh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allyh hati menjadi [Ar-RaAod/13:. (Depaq, 2. Pelaksanaan Dzikir pada hakikatya adalah proses penanaman nilai-nilai keagamaan kepada para santri sehingga pada akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang agamis yang senantiasa ingat kepada Tuhannya. Untuk sekolah-sekolah formal Pendidikan ini tidak terlalu fokus mempelajarinya dari cara dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Dalam pelajaran Aqidah ahlaq yang peneliti amati lebih fokus ke teori semata sedang dalam praktiknya sangat minim. Sehingga dengan demikian dibutuhkan jalur kegiatan lain yang dianggap mampu menopang pelatihan dzikir secara rutin dan di pesantrenlah tempat yang paling strategis. Salah satu bentuk kegiatan nyata yang dapat dijadikan wadah pengembangan potensi beragama para santri adalah adanya kegiatan kerohanian Islam bagi santri yaitu dzikir, yang selanjutnya dalam penelitian ini disebut dengan Aktualisasi dzikir menjadikan agama (Isla. sebagai basis ideologinya memiliki membangun sikap keagamaan santri. Melalui berbagai kegiatan dzikir yang dilaksanakan seperti dzikir sendiri-sendiri, dzikir berjamaah dan yang lain. Aktualisasi dzikir di harapkan dapat membantu dalam mencapai tujuannya. Pada hakikatnya, kegiatan dzikir ini bergerak dan dikelola secara independen oleh santri dan para ustadz, sehingga pada praktiknya dzikir memilki tujuan yang hendak dicapai serta sasaran kegiatan yang Namun demikian, dzikir pada praktiknya tidak lepas dari kultur Pengurus Pesantren tempat di mana kegiatan dzikir tersebut berada. berbagai aksi dan kegiatan positif telah ditunjukkan oleh para santri sebagai salah satu pengaruh dzikir tersebut. Pimpinan menganggap bahwa dzikir sebagai salah satu cara untuk melunakkan hati para santri yang masih keras, menenangkan jiwa yang masih terombang-ambing, bahkan menurutnya dzikir sebuah alternatif baru dalam menambah kecerdasan pikiran para santri. Pengembangan pendidikan santri di pesantren di disinyalir belum cukup mampu memenuhi tujuan Islamnya. Walaupun sebenarnya pelaksanaan dzikir di pesantren sudah cukup lama keberadaanya, akan tetapi upaya pengembangan peran dan fungsi Dzikir di pesantren patut untuk diperhatikan, mengingat pendidikan Pesantren kian menjadi sorotan masyarakat. Dalam penelitian ini, penulis meneliti Aktualisasi dzikir dan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan dzikir ba'da sholat di Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang sakti Kab. Musi rawas. Di era modern ini Dzikir sudah mulai redup, artinya banyak di tinggalkan oleh banyak ummat Islam, padahal hikmah dari dzikir tersebut terdapat beberapa pengaruh yang positif bagi pelakunya terlebih dalam bidang Spiritual. Di lain hal juga masih yang terus berpegang teguh untuk terus mengamalkan dzikir sehingga berbagai macam dan bentuk Dzikir pun mulai berkembang mulai dari dzikir sendirian maupun secara berjamaah, sebelum sholat maupun sesudah sholat. Seperti halnya pelaksanaan dzikir baAoda sholat yang terjadi di Pondok Pesantren Miftahussalam Megang Sakti i Kec. Megang sakti Kab. Musi rawas. Berdasarkan hasil penelitian kegiatan dzikir baAoda sholat di Pondok Pesantren Miftahussalam, menjadi kegiatan sehari-hari yang terus diikuti oleh mayoritas santri di Pondok Pesantren tersebut. Menurut seorang ustadz pondok pesantren Miftahussalam ustadz Imam. Menjelaskan, kegiatan dzikir baAoda sholat para santri di Pondok Pesantren Miftahussalam adalah sebuah kegiatan Bukan kewajiban namun himbauan yang bersifat mengikat untuk semua santri. Untuk menjaga kegiatan semacam ini agar tetap lestari ini mengacu pada kebijakan pihak pendidikan Islam dengan cara terus Dengan demikian, menurutnya semua santri yang nyantri di sini memang dilatih untuk selalu mengikuti dzikir baAoda sholat fardlu tersebut agar setelah pulang dari pesantren nantinya sudah menjadi kebiasaan baik yang terus melekat pada dirinya. Dalam kesempatan lain, peneliti menemukan fakta bahwa ada peran penting Pengasuh Pondok Pesantren dan para Ustadz khususnya yang sering menjadi Imam di Musholla Pondok Pesantren pelaksanaan dzikir BaAoda sholat fardlu di Pondok Pesantren Miftahussalam Megang sakti i antara Santri laki-laki dengan santri perempuan berbeda tempat, santri putra di Musholla, sedangkan santri perempuan di Asrama perempuan yaitu Sebuah asrama yang lebih luas dari asrama lainnya yang biasa untuk acara kegiatan termasuk sholat berjamaAoah. Kegiatan khusus Pondok Pesantren dengan nama kegiatan Sabtu Rohis, yakni program khusus yang mengelola kegiatan keagaamaan para santri semisal ceramah agama, senam bersama, kegiatan Infaq seikhlasnya dan program- program lain. Program atau kegiatan ini berdasarkan informasi dari ustadz Imam selaku penangung jawab yang ditunjuk oleh Pimpinan Pesantren Miftahussalam Megang sakti i. Menurutnya, kegiatan keagamaan siswa di luar jam formal di kelas seperti Sabtu Rohis justru lebih banyak yang melekat, karena pada kegiatan tersebut kita bisa memberikan sebuah ceramah agama tentang Keutamaan-keutamaan dzikir baAoda sholat yang bisa membuat para santri lebih melaksanakannya, dan menariknya acara tersebut bisa terlaksana secara resmi dan Sejauh pengamatan penulis, belum ada penelitian yang secara eksplisit dan rinci mengkaji tentang aktualisasi dzikir ba'da sholat fardhu dalam meningkatkan sikap keagamaan santri di ponpes Miftahussalam Dangko. Karena itu, studi ini merujuk referensi yang terkait dengan penelitian Pada saat ini banyak penelitian tentang AyAktualisasi Ajaran Tarekat Naqsyabandiyah Pada Perubahan Perilaku Sosial (Studi Kasus Jamaah di Desa Sidomulyo. Kecamatan Bangunrejo. Kabupaten Lampung Tenga. Dalam skripsi ini lebih cenderung ke pembahasan Bentuk Dzikirnya dan menyimpulkan bahwasanya Aktualisasi ajaran tarekat Naqsyabandiyah pada perubahan prilaku sosial jamaah dilakukan melalui serangkaian kegiatan zikir, wirid, doa dan kegiatan sosial di lingkungan desa. Tujuan utama yang Naqsyabandiyah di desa Sidomulyo adalah mendekatkan diri kepada Allah dan melibatkan diri dalam kegiatan sosial yang ada di lingkungan desa agar para jamaah tidak hanya saleh secara pribadi tapi juga memiliki kepekaan sosial dan empati terhadap masalah-masalah yang menimpa masyarakat di lingkungan desa setempat. Kholil, . Penelitian Sukarni . Berjudul AuDzikir Dan Doa Bagi Ketenangan Jiwa Santri Di Pondok Pesantren As Salafiyah Kelurahan Srengsem Kecamatan Panjang Kota Bandar LampungAy. Dalam skripsi ini menyimpulkan bahwa Dzikir dan doa yang dilakukan di Pondok Pesantren As Salafiyah Kelurahan Srengsem Kecamatan Panjang Kota Bandar Lampung berimplikasi bagi khususnya para santri yaitu menumbuhkan jiwa menjadi tenang, menumbuhkan jiwa sabar dalam menghadapi masalah dan cobaan, menumbuhkan jiwa optimis dan penuh harap sehingga tidak mudah berputus asa dan menumbuhkan rasa dekat dengan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Septi . berjudul AuPenerapan Metode Dzikir di Pondok Pesantren Salafiyah Al-Munir Al-Islami Keputran Kecamatan Sukoharjo Kabupaten PringsemuAy Pada skripsi ini menyimpulkan bahwa penerapan metode dzikir di pondok pesantren Salafiah Al-Munir Al-Islami Sukoharjo Pringsewu, dilaksanakan melalui beberapa langkah/ tahapan, yaitu tahap pendahuluan, tahap pelaksanaan, dan tahap penutup, serta tahap tindak lanjut . Langkah-langkah tersebut sudah terlaksana dengan baik, dan telah dirasakan oleh santri, seperti perasaan tenang, tenteram, tidak stres, serta merasa betah berada di pondok pesantren. Dari hasil penulusuran peneliti tidak banyak ditemukan tentang AuAktualisasi Dzikir Ba'da Sholat Fardlu Dalam Meningkatkan Sikap Keagamaan Santri Di Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi RawasAy. Dalam hal ini, dari judul yang sudah ada kemiripan, namun penulis akan memfokuskan dalam membahas Cara bagaimana Pelaksanaan dzikir serta pengaruhnya. Kemajuan Pondok Pesantren Miftahussalam Dangko Kec. Megang sakti Kab. Musi rawas dari tahun ke tahun dalam bidang kejiwaan para santri tidak terlepas dari manfaat dzikir tersebut sehingga penulis ingin lebih mengetahui metode dzikir yang di terapkan di ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang sakti Kab. Musi rawas, serta ingin mengetahui beberapa faktor yang menjadi penghambat pelaksaan dzikir tersebut. METODE Peneliti ini menggunakan metode kualitatif deskriptif (Sugiyono, 2. Sedangkan subjeknya adalah informan yaitu. Kyai M Romli selaku pimpinan Pondok. Kedua. Ustadz Imam Muttaqin selaku Ustadz pengajar sekaligus pengurus Pondok. Ketiga. Gusti Pengestu selaku santri yang menetap di Pondok Pesantren Salafiah Miftahussalam Dangko. Sedangkan objek penelitian adalah tentang Aktualisasi Dzikir Ba'da Sholat Fardlu Dalam Meningkatkan Sikap Keagamaan Santri Di Ponpes Miftahussalam Dangko. Lokasi penelitian ini bertempat di Pondok Pesantren Miftahussalam Dangko Desa Megang sakti i Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas. Adapun waktu pelaksanaan dalam penelitian ini yaitu dilaksanakan pada tahun 2018 Waktu menyesuaikan dengan tanggal diadakannya penelitian. Sumber data skunder dan primer. Dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari penelitian kemudian dianalisis secara bertahap, yaitu: Pertama. Reduksi Data. Kedua. Penyajian Data, dan selanjutnya Penarikan Kesimpulan (Arikunto, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam hasil penelitian ini metode dzikir di Pondok Pesantren Salafiah Miftahussalam, ada beberapa tahapan yang dilakukan di Pondok tersebut diantaranya meliputi: penjelasan mengenai konsep Dzikir yang diterapkan di Pondok Pesantren Salafiah Miftahussalam dan beberapa tahapan dalam penerapan metode dzikir diantaranya yaitu: tahap pendahuluan, tahap pelaksanaan, tahap penutup, dan tahapan tindak lanjut (Follow- U. Pelaksanaan Dzikir BaAoda Sholat Fardhu di Pondok Pesantren Salafiah Miftahussalam Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Romli, selaku pimpinan pondok pesantren Miftahussalam. Bentuk dzikir yang diterapkan di Pondok pesantren Salafiah Miftahussalam merupakan bentuk dzikir dengan menggunakan dzikir AlFatihah, dzikir Asmaul husna, dzikir kalimah thayyibah, dan doa sapu jagad. Ausantri benar-benar dibimbing dalam berdzikir. Hal tersebut dikarenakan untuk membangun pribadi santri agar menjadi pribadi yang beriman dengan selalu mengamalkan metode dzikir yang telah diajarkan. Dengan teori saja tidak akan cukup dalam membantu santri untuk lebih paham mengenai apa itu dzikir, melainkan harus dengan praktik. Tanpa bimbingan seorang ustadz sulit rasanya santri dapat efektif dzikir-dzikirnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan berpengaruh dalam hati nuraninya guna menggerakkan seluruh tubuhnya untuk menghamba kepada Allah SWT semata dengan ikhlas danistiqomahAy. Metode dzikir yang diajarkan di Pondok pesantren Salafiah Miftahussalam ini, berkulturkan Ahlussunah WaljamaAoah mengikuti madzhab Imam Syafii sejak tahun berdiri sampai dengan sekarang. Pak Romli, menegaskan Aulangkah-langkah pelaksanaan metode dzikir tersebut diantaranya adalah Setiap Setelah Sholat lima waktu. Bentuk kegiatan yang di terapkan disini adalah dimulai dengan Istighfar. Tahlil, tasbih, tahmid dan kalimah thoyyibah lainnya. Dilaksanakan secara khusuAo bagi para santri, masyarakat, dan warga sekitar yang diharapkan dapat nyaman hatinya dan tentram jiwanya. Sedangkan kelebihaan metode dzikir BaAoda sholat ini di antaranya adalah sebagai penghambaan kita sebagai Mahluk Allah yang senantiasa menyadari akan dosa-dosa yang telah dilakukan untuk dimintakan ampunAy. Dzikir itu merupakan amalan yang paling mudah dan memiliki pahala yang paling banyak, semuanya bisa dilakukan dan terapkan dengan meniatkan hati yang ikhlas dan tulus hanya untuk Allah SWT. Menurut Gusti, seorang santri mukim. AuDzikir di Pondok Pesantren mampu memberikan dampak yang positif dalam keseharian Hal itu sudah dibuktikan oleh para santri melalui kegiatan metode dzikir yang Sebab metode dzikir yang diterapkan di Pondok pesantren Salafiah Miftahussalam adalah dengan metode dzikir Al-Fatihah, asmAAoul husna, al-Kalimah al-Thayyibah. metode dzikir dengan dzikir yang dilagukan atau shalawat itulah yang paling ampuh untuk membuat diri santri merasa nyamanAy. Kegiatan Pendahuluan Dalam kegiatan pendahuluan ini meliputi beberapa tahapan diantaranya meliputi: pemilihan tempat, kesiapan tempat santri, kesopanan dan takzim dalam berdzikir, pemilihan posisi duduk, serta suci dari hadas dan najis dalam berdzikir. Berikuti ini merupakan tahapan dalam kegiatan pendahuluan: Pemilihan Tempat Tempat membantu keberhasilan seseorang ketika Hal ini disebabkan dampak dzikir yang sudah nyata dijelaskan dalam Al-QurAoan bahwasannya dzikir akan membuat hati seorang individu menjadi nyaman dan tenteram. Terbebas dari segala penyakit hati yang akan mengganggu jiwa Untuk menginginkan dampak yang nyaman seharusnya dalam hal ini pemilihan tempat pun harus diperhatikan. Tempat yang nyaman akan membuat individu merasakan ketenangan batin, yang akan membuat dzikirnya menjadi khusyuAo. Sebagai perbuatan yang utama dan istimewa, berdzikir hendaklah dilakukan pada tempat yang baik, yaitu tempat yang layak dan pantas untuk mengagungkan dan menyebut asma-asma Allah didalamnya, seperti masjid, mushala, dan tempat yang dianggap layak dan pantas untuk melakukan metode dzikir. Berkaitan dengan hal tersebut. Pondok Pesantren Salafiah Miftahussalam sebagai salah satu tempat untuk memperdalam agama Islam mengajarkan santrinya untuk selalu menerapkan dzikir dalam kegiatan ibadahnya. Hal ini dikarenakan agar santri betah dan nyaman untuk berada di Pondok Pesantren dan bisa mengikuti seluruh kegiatan yang ada di pondok dengan maksimal. Sedangkan cerita Ustadz Imam, bahwa Pemilihan tempat dalam kegiatan dzikir harus diutamakan, hal ini sangat penting dalam menunjang keberhasilan metode dzikir. Kalau tempatnya saja tidak nyaman, bagaimana dzikir yang dilaksanakan bisa khusyuAo. AuKeadaan tempat itu tidak boleh asal-asalan, benar-benar kesucian, suasana yang tenang dan tidak berisik, sirkulasi udara yang lancar, suhu udara yang tidak panas atau dalam hal ini bisa dilakukan diruangan yang di beri Kipas Masjid merupakan tempat yang nyaman untuk melaksanakan metode dzikir, namun bukan berarti tempat yang lain selain masjid tidak boleh, tetap boleh digunakan namun harus tetap memperhatikan point penting dalam pelaksanaan dzikir yaitu pemilihan tempatAy. Ia juga sangat membantu dalam mendisiplinkan para santri sebelum melaksanakan metode dzikir untuk selalu membersihkan tempat dan tidak akan memulai kegiatan dzikir sebelum para santri merapihkan dan membersihkan tempat Sebelum sholat lima waktu sampai terasa Ustadz Imam. Menegaskan, jika secara teoritis untuk masalah pemilihan tempat untuk berdzikir, sebenarnya tidak ada aturan yang mendasar, terserah dimana, kapanpun, dimanapun kita ingin berdzikir bisa kita lakukan. Asalkan nyaman, bersih dan suci. Ia juga memberikan pemahaman bahwa ibadah yang paling mudah tanpa biaya, manfaatnya besar dan pahalanya sangat berlimpah adalah dengan berdzikirAy. Hasil observasi ditemukan bahwa Pondok Pesantren Salafiah Miftahussalam, baik ustadz maupun santri dan segala aparat yang disana terlihat saling mendukung dan membantu kegiatan dzikir tersebut. Ada arahan dan tindakan yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan metode dzikir. Kerjasama yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Hal itu sudah dibuktikan oleh Pondok pesantren Salafiah Miftahussalam. Kesiapan Tempat Santri Berdasarkan hasil wawancara dengan Ustadz Hambali. Beliau mengatakan Aupersiapan pelaksanaan dzikir itu sangatlah penting, mulai dari mempersiapkan tempat sebelum sholat lima waktu, pakaian, tapi yang paling utama adalah persiapan hati. Karena hati yang ikhlas akan mampu menunjang efektifitas metode dzikir yang dilaksanakan Pondok Pesantren. Dalam mempersiapakan tempat, santri harus membiasakan diri untuk berada ditempat yang bersih, suci, dan tentunya tempat yang Untuk itulah santri selalu menyiapkan tempat untuk berdzikir. Terkadang ada beberapa santri yang sengaja menjadikan sajadah sebagai alas empuk seperti banta. Karena berdasarkan pengalaman mereka, kadang mereka merasa lelah duduk karena memang alas duduknya keras, seperti lantai ataupun keramik. Untuk itulah mereka mensiasatinya dengan menggunakan sajadah ataupun karpet tebal dengan tujuan agar dzikirnya semakin khusyuAo. Dan hal tersebut mereka lakukan karena memang tidak ada larangan dari PesantrenAy. Kesiapaan tempat yang dilakukan oleh santri sangat efektif untuk menunjang efektifitas dzikir, santri terlihat antusias dalam menyiapkan segala perangkat yang akan digunakan untuk berdzikir. Mereka berbondong-bondong duduk rapih bershafshaf di dalam Musholla Miftahussalam. Dimana lantai dasarnya sudah bisa digunakan untuk aktifitas ibadah, seperti shalat berjamaah dan pelaksanaan metode Meskipun santri dihadapkan dengan rutinitas kegiatan harian yang begitu padat dan melelahkan namun tak menyurutkan niat mereka untuk melaksanakan kegiatan metode dzikir karena dengan dzikir tersebut sebagai amunisi untuk menetralisir gejalagejala seperti rasa lelah dan malas yang berlebihan yang dirasakan oleh santri. Kesopanan dan Takzim dalam Berdzikir Sopan dan takzim dalam berdzikir, artinya kita benar-benar menghadirkan keagungan Allah kedalam hati dan jiwa. Dengan dzikir serius dan bersungguhsungguh, penuh konsentrasi, serta dengan persiapan yang matang, sehingga yang ada dalam hati dan pikiran hanyalah Allah SWT, yang maha agung, dan mulia. Kyai Romli. AuUntuk menghadap Sang Pencipta kita tidak boleh bermain-main dan harus bersikap menghambakan diri tidak sombong, yakni dengan menjaga kesopanan dalam berdzikir. Ada beberapa adab yang Pakaian yang dikenakan saat berdzikir haruslah pakaian yang bersih dan Dianjurkan untuk memakai wangiwangianAy. Penerapan metode dzikir baAoda sholat fardlu yang dilakukan berjalan dengan lancar, hal tersebut didukung oleh antusias santri dalam mengikutinya. Pengasuh memperingatkan kepada santri agar membiasakan diri untuk melaksanakan metode dzikir setelah sholat fardlu. Pemilihan Posisi Duduk Berdzikir merupakan amalan sunah yang mudah dan ringan, berdzikir boleh dilakukan kapan pun, dimana pun dan dalam keadaan bagaimanapun. Berdzikir bisa dilakukan sambil berdiri, sambil duduk dan bisa pula sambil berbaring. Namun jika dzikir setelah sholat fardlu maka dilakukan dengan cara duduk. Mengenai posisi duduk dalam berdzikir sebenarnya duduk bersila itu sangat baik untuk dilakukan karena akan menimbulkan rasa nyaman tersendiri, dan jangan lupa untuk meletakkan kedua tangan diatas kedua lututnya. Namun bagi orang Islam. Islam itu fleksibel dan tidak merepotkan umatnya. Apabila kita tidak mampu berdzikir sambil duduk bersila kita juga boleh berdzikir sambil duduk iftiros atau bertumpuAy. Suci dari Hadas dan Najis dalam Keadaan suci dari hadas dan najis sangat dianjurkan, umat Islam juga dianjurkan untuk mensucikan hati dan jiwanya dari segala kotoran dan dosa yang pernah dilakukan sebelum memulai dzikir. Jadi para santri ditekankan selalu menjaga kesucian hingga dzikir selesai. Ustadz Imam. Ia mengatakan. Aumengenai masalah kesucian, adapun caranya, yaitu dengan memohon ampunan kepada Allah yang kemudian dilanjutkan dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas segala dianugerahkan Allah SWT. Sudah kita ketahui jelas bahwa agama Islam mengajarkan umatnya untuk bersuci terlebih dahulu, yaitu dalam keadaan berwudhu sebelum berdzikir kepada Allah SWT. Hal mencerminkan sikap hormat dan tunduk terhadap Allah SWT, yang juga akan sangat khusyuAdan konsentrasi dalam Meskipun demikian, tidak berarti kita dicegah mengingat Allah apabila tidak memiliki wudhu, hanya saja suci dan bersih ketika berdzikir adalah lebih baik dan lebihutama. Kegiatan Pelaksanaan . Niat yang Sungguh-sungguh Nilai dari kualitas amal perbuatan Allah Artinya, niat dalam beramal merupakan penentu keberhasilan perbuatan seseorang. Sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW bahwasannya segala amal yang telah dilakukan oleh seseorang sangat tergantung dari niatnya dan balasan bagi setiap amal manusia adalah sesuai dengan apa yang Pak Imam, mengatakan Auniat utama dalam dzikir itu harus semata karena Allah SWT. Niat dengan melaksanakan segala perintahNya, dan jangan niatkan karena yang lain dari pada perintah-Nya, misalnya untuk kepentingan duniawai dan keinginan hawa nafsuAy. Sedangkan Gusti, menjelaskan bahwa Auniat awal dalam berdzikir itu penting. berpendapat apabila mereka tidak berniat sungguh-sungguh dalam melaksanakan dzikir, maka dzikir yang dilakukan akan terasa sia-sia, yang ada hanyalah mereka akan banyak mengalami ketertinggalan. Hal ini dapat mengakibatkan mereka hanya terpaksa dalam melaksanakan dzikir dan itu merupakan hal yang sia-siaAy. AuNiat yang baik itu harus dari benar-benar dari dalam hati yang paling dalam, dan apa yang dikatakan oleh ustadz harus dilaksanakan dengan ikhlas karena yang di harapkan bukanlah ridho manusia, tapi ridhonya Allah SWT dalam berdzikir. Kunci dari terlaksananya dzikir yang baik adalah disini, yaitu pada niatnya. Apabila niatnya baik makan In SyAa AllAh akan berjalan baik pulaAy. Pelaksanaan Metode Dzikir Dalam pelaksanaan metode dzikir hal pertama yang dilakukan yaitu membaca Istighfar, tahlil, allohumma anta salam, tasbih, tahmid, takbir dan di ahiri dengan berdoAoa kepada Allah SWT. Isi dari permintaan doa bisa berupa permintaan yang dibutuhkan kepada Allah SWT, misalnya berdoa untuk diberikan petunjuk dalam mengambil keputusan penting dalam hidup atau untuk tujuan lainnya. Kyai Romli, mengemukakan Aubahwa pelaksanaan metode dzikir yang dilaksanakan di pondok pesantren Miftahussalam, yaitu dimulai dengan membaca Istighfar, tahlil, allohumma anta salam, tasbih, tahmid, takbir dan di ahiri dengan berdoAoa kepada Allah SWTAy. Sedangkan Gusti, menjelaskan Aumetode dzikir yang dilakukan dengan shalawat, shalawat dengan model yang dilagukan akan membuatnya marasa lebih nyaman dalam berdzikir. AuBahwa pelaksanaan metode dzikir yang dilaksanakan di Pondok Pesantren tersebut terasa nyaman dan berdampak positif bagi pribadi santri. Karena terkadang jika mereka melaksanakan dzikir secara individu, tingkat kekhusyuan dan penghayatannya sangat Untuk itulah mereka merasa senang dnegan dilaksanakannya metode dzikir setiap baAoda shalat berjamaah, dan puncaknya ketika malam sabtu, dimana dilaksanakan dzikir spiritual dengan jamaah yang sangat banyakAy. Keseriusan Kesungguhan dalam Berdzikir Bersungguh-sungguh dalam berdzikir kepada Allah merupakan kunci keberhasilan dzikir kita. Dzikir tidaklah mungkin dapat berhasil dengan baik, memberi kesan dan dampak yang positif, jika hal itu dilakukan dengan sikap meremehkan dan dilakukan dengan tanpa konsentrasi, tanpa mengikui tuntunan yang telah diajarkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Sungguh, kita kewenangan untuk sekedar berusaha dan berikhtiar, sedangkan penentuannya mutlak berada dalam kendalai Allah SWT. Sehebat apapun kita, tetap saja kita tidak akan mampu mendatangkan kebaikan untuk diri kita sendiri dan tidak pula mampu menolak keburukan yang setiap saat dapat menimpa perjalanan hidup kita. Bukankah seringkali kita telah berusaha dengan mengerahkan segala daya dan upaya untuk meraih apa yang kita inginkan namun takkunjung kita dapatkan juga. Dan tidak jarang pula kita berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari keburukan dan berbagai hal yang tidak menyenangkan hati, tetapi tetap saja datang menimpa kehidupan kita, kenyataan hidup yang demikian ini sungguh dapat menjadikan jiwa kita terguncang. Hasil observasi peneliti di Pondok Pesantren Salafiah Miftahussalam, kegiatan baAoda dilaksanakan disana berjalan dengan lancar. Santri yang mengikuti dzikir terlihat sangat melaksanakannya, meskipun masih ada beberapa santri yang terlihat mengobrol sehingga sedikit mengganggu konsentrasi yang lainnya yang akhirnya menimbulkan Padahal, apabila kita melaksanakan dzikir dengan bersungguh-sungguh maka kita akan memperoleh kenyamanan dan ketentraman Perlu kita ketahui bahwa memang harus dengan keikhlasan dalam melaksankannya, hati yang ikhlas akan mendorong kita untuk memperoleh kenikmatan dari Allah SWT. Namun, melaksanakannya maka yang ada adalah kita tidak akan pernah bisa dan akan terasa sulit untuk memperoleh kenikmatan dan kenyamanan dalam berdzikir. Untuk itu keikhlasakan yang sungguh-sungguh dalam berdzikir itu sangatlah penting dan harusdiutamakan. Suara Dzikir adalah aktifitas mengingat Allah yang Maha Mendengar. Oleh karena itu. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk merendahkan diri dan merendahkan suara dalam Namun demikian para santri juga di anjurkan untuk tegas pada dzikir Tahlil karena untuk menumbuhkan sikap semangat dan tidak Pak Hambali seorang Pengasuh, mengatakan Ausebaik-baiknya berdzikir dengan suara keraspun tidak masalah karena suara keras itu banyak faedahnya, antara lain dapat didengar oleh orang yang lalai. Jika ingin berdzikir atau sekedar mendengarnya, maka mereka juga akan mendapat pahala. Dengan suara keras dapat menjaga dan menghalangi dari pendengaran Selain itu dengan suara keras juga dapat menghindarkan diri dari rasa mengantuk dan tertidur. Menambah semangat dan rajin Kecuali mengganggu orang yang sedang bersembahyang atau orang yang tidur, maka lebih baik sederhana yaitu antara mengeraskan suara dan merendahkan suaranya. Karena Allah Maha mendengar akan permintaan hambanya maka melaksanakannyaAy. Peneliti melihat bahwa pelaksanaan metode dzikir yang ada disana berlangsung secara khusyuA. Karena memang santri yang mengikuti metode dzikir tersebut banyak dan perlu adanya pemandu pelaksanaan metode dzikir, maka ustadz pengasuh yang memimpin pelaksanaan metode dzikir menggunakan suara yang lumayan keras untuk memandu pelaksanaan dzikir. Hal ini dikarenakan agar semua santri dan jamaah yang hadir mendengar dan tertib. KekhusyuAoan dan dalam Berdzikir Konsentrasi KhusyuAo dalam berdzikir merupakan syarat penting bagi kesuksesan dan keberhasilan dzikir kita. Dzikir tidaklah mungkin dapat berhasil dengan baik, memberi kesan dan dampak yang positif bagi kita, jika hal itu dilakukan dengan sikap meremehkan dan dilakukan dengan tanpa konsentrasi, tanpa mengikui tuntunan yang telah diajarkan Allah dan rasul-Nya Kyai Romli. Menjelaskan. Aubahwa untuk mendapatkan kekhusyuAoan dan konsentrasi dalam berdzikir itu akan sangat sulit apabila niat awal tidak diperbaiki. Jadi, semuanya harus kembali lagi ke niatAy. Pelaksanaan metode dzikir yang dilaksanakan di pondok tersebut berlangsung secara tenang, terlihat ada beberapa santri yang menunduk khusyuAo sampai akhirnya Ketiduran. Namun ada juga yang terlihat biasa-biasa saja. Kegiatan Penutup . DoAoa Bersama Doa adalah ibadah. Namun, sebelum kita berdoa ada baiknya untuk memanjatkan dzikir dan shalawat Nabi kemudian baru memohonkan keperluannya atau apa yang ingin dia minta. Dalam berdoa juga harus ada aturannya dan tidak boleh sembarang berdoa. Hendaknya ketika berdoa sambil menghadap kiblat dengan mengangkat kedua tangan, sedemikian sehingga tampak bawah lengannya. Rasulullan SAW mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa dengan merapatkan antara kedua tangannya, seraya menjadikan telapaknya kearah wajah beliau. Dan hendaknya menunjukkan pandangan matanya kearah langit karena sebagai adab berdoa. Sedangkan Hambali mengatakan Aubahwa tatkala kita berdoa harus terlebih dahulu membaca Shalawat, dan semangat untuk mengamini imam yang sedang berdoa, karena membuktikan bahwa kita sungguh-sungguh dalam memohon apa yang kita inginkanAy. Bersama- sama membaca doAoa yarobbi bilmustofa Di Pesantren Miftahussalam memiliki kebiasaan membaca doAoa bersama AuYa robbi bilmustofa balligh maqoo sidanaAy yaitu sebuah doAoa yang ajarkan oleh Pengasuh pertama sekaligus Pendiri Pesantren. Sebelum para santri meninggalkan tempat duduk, para santri membaca doaAo tersebut secara bersama-sama. Kegiatan Tindak Lanjut (FollowU. Menghadiri Majelis-majelis Dzikir Rasulullah SAW sangat menganjurkan kita untuk banyak-banyak mengingat Allah SWT, dan senantiasa mengikuti atau menghadiri majelis-majelis dzikir. Karena majelis dzikir adalah sebaik-baik majelis, yang didalamnya tersimpan fadhilah yang besar. Kyai Romli menganjurkan Auagar santri selalu menghadiri majelis-majelis dzikir ataupun majelis-majelis yang bermanfaat. Karena majelis tersebut akan dihadiri oleh para malaikat, dirahmati Allah, dan ketentraman turun kepada semua orang yang berada didalamnyaAy. Istighosah Bersama Berdasarkan hasil wawancara dengan Pimpinan Pondok, kyai Romli. memberikan arahan pihak Pondok dalam sebulan sekali mengadakan kagiatan istighosahan bersama, menjalankan segala perintah Allah SWT dan menjauhi apa yang Faktor-faktor Mempengaruhi Pelaksanaan Dzikir BaAoda Sholat Fardhu Dalam setiap aktivitas dzikir, sudah pasti tidak dapat lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut. Faktor-faktor tersebut adalah dapat berupa faktor yang dapat mendukung kegiatan dan faktor yang dapat menghambat kegiatan. Sudah semestinya kedua jenis faktor yang mempengaruhi suatu kegiatan ini menjadi perhatian semua pihak yang terlibat demi tercapainya tujuan dari kegiatan-kegiatan Demikian juga dalam pelaksanaan dzikir baAoda fardhu dalam meningkatkan sikap keagamaan santri di Ponpes miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas, tidak faktor-faktor mempengaruhi kegiatan tersebut. Baik faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut maupun yang menghambat Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan ini berasal dari internal dan Faktor internal terlihat sangat dominan mengingat Ponpes Miftahussalam sebagai sebuah lembaga pendidikan berbasis keagamaan Islam dalam setiap aktivitas Sementara faktor eksternal lebih banyak dukungan dari orang tua santri dan masyarakat serta stakeholder yang ada di lingkungan Ponpes Miftahussalam Secara teoritik bahwa faktor yang mempengaruhi suatu kegiatan, khususnya faktor yang dapat menghambat pelaksanaan kegiatan, seharusnya bukanlah menjadi penghalang terlaksananya suatu kegiatan. Maka perlu diingat bahwa setiap faktor yang ada dapat dijadikan motivasi untuk berkembang dan melepaskan diri dari stagnansi kegiatan. Faktor-faktor yang ada semestinya dijadikan kesempatan untuk berlaku dan bertindak lebih baik dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dilapangan, dapat terlihat jelas faktor-faktor pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu dalam meningkatkan sikap keagamaan di Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas. Oleh karena itu, pada bagian ini penulis Faktor Pendukung Secara umum faktor pendukung pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu dalam meningkatkan sikap keagamaan di Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas yaitu: Ponpes Miftahussalam merupakan Lembaga Pendidikan keagamaan dengan sistem berbasis Islam, pada hakikatnya pengintegrasian nilai-nilai keislaman dalam setiap kegiatannya. Oleh karena itu, segala aktivitas yang dilaksanakan di lingkungan Ponpes Mifahussalam termasuk dalam pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu dalam meningkatkan sikap keagamaan di Ponpes Miftahussalam, harus bernafaskan nilai-nilai Islam dalam meningkatkan sikap Ustadz Imam, menjelaskan AuPonpes Miftahussalam dengan sistem nilai-nilai keislaman dharapkan dapat meningkatkan sikap keagamaan para santri termasuk salah satu penunjangnya adalah dzikir baAoda sholat fardhu yang menjadi kegiatan rutin bagi para santriAy Dari hasil wawancara tersebut terlihat jelas bahwa Ponpes Miftahussalamm mendukung setiap aktivitas yang dilaksanakan oleh para santri. Orang tua Santri Faktor lain yang tak kalah penting dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Ponpes Miftahussalam adalah peran serta dukungan orang tua santri yang sangat kuat. Khususnya orang tua yang anak-anaknya tinggal di asrama atau bermukim di Pesantren. Hal ini terlihat dalam pengamatan penulis seperti ketika ada orang tua santri yang menjenguk anaknya di pesantren, dan kebetulan bersamaan dengan waktu sholat tiba, maka orang tua santri tersebut juga ikut sholat berjamaah sekaligus mengikuti dzikir baAoda sholat fardhu sampai Faktor Penghambat Faktor penghambat pelaksanaan dzikir baAoda fardhu dalam meningkatkan sikap keagamaan di Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas yaitu: Minat santri yang heterogen Setiap santri mempunyai minat yang berbeda, sehingga sering kali hal ini menjadi hambatan dalam pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu di Ponpes Miftahussalam, seperti santri yang setelah selesai sholat langsung kembali ke asrama pondok tanpa mengikuti dzikir terlebih dahulu. Hal ini sebagaimana yang di sampaikan oleh Ustadz Hambali. AuDalam pelaksanaan dzkir baAoda sholat di Ponpes Miftahussalam ada sebagian santri yang tidak mengikuti dzikir, dengan berbagai alasan diantaranya karena ngantuk, capek, lapar, sehingga santri tidak bisa istiqomah dalam mengikuti kegiatan dzkir tersebutAy. Faktor Lingkungan Lingkungan di sekitar Pesantren cukup mempengaruhi pelaksanaan kegiatan Misalnya ditimbulkan dari kendaraan yang lalu lalang di depan Ponpes Miftahussalam. Selain itu keberadaan Pesantren yang sangat dekat dengan perumahan masyarakat yang terkadang membuat aktivitas santri menjadi terbatas karena khawatir aktivitas masyarakat sekitar. Upaya hambatan dalam pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu di Ponpes Miftahussalam Peningkatan Koordinasi dan Komunikasi Sebagai salah satu upaya mengantisipasi kendala-kendala yang ada, guna mendukung pelaksanaan program-program yang ada di Ponpes Miftahussalam yaitu membangun koordinasi dan komunikasi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan. Pihak Pesantren memberi ruang kepada para ustadz untuk selalu mengawasi para santri dalam pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu, sehingga para santri dapat khusyuAo dalam mengikuti dzikir hingga selesai. Pembiasaan dengan teladan di Ponpes Miftahussalam Teladan atau contoh langsung adalah salah satu strategi terbaik dalam pembelajaran. Rasulallah SAW dalam berdakwah salah satu metode yang dicontohkan oleh beliau adalah dengan memberi contoh langsung untuk diikuti Senada dengan itu, dalam rangka melaksanakan dzikir baAoda sholat fardhu di Ponpes Miftahussalam, seluruh ustadz yang ada di Pesantren tersebut dituntut untuk turut serta memberi teladan kepada para santrinya. Misalnya dalam pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu seluruh ustadz juga mengikuti dzikir bersama hingga selesai, sehingga para santri melihat secara langsung teladan yang diberikan oleh parah ustadz yang mengajar di Ponpes Dengan demikian para santri akan termotivasi untuk mengikuti kegiatan dzikir yang dilaksanakan setiap selesai sholat fadhu di Ponpes Miftahussalam sampai selesai. SIMPULAN Berdasarkan dari hasil penelitian, tentang Aktualisasi dzikir baAoda sholat fardlu dalam meningkatan sikap keagamaan santri di Pondok Pesantren Miftahussalam Dangko Kecamatan Megang Kabupaten Musi Rawas, maka dapat disimpulkan sudah terlaksana dengan baik, dan telah dirasakan oleh santri, seperti perasaan tenang, tenteram, tidak stres, sabar, optimis, dan merasa dekat dengan Allah serta merasa betah berada di pondok Faktor-faktor mempengaruhi pelaksanaan dzikir baAoda sholat fardhu dalam meningkatkan sikap keagamaan santri di Ponpes Miftahussalam Dangko Kec. Megang Sakti Kab. Musi Rawas, dilihat dari aplikasi kegiatan di lapangan secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan ini berasal dari internal dan eksternal. Faktor internal terlihat sangat dominan mengingat Ponpes Miftahussalam sebagai sebuah lembaga Pendidikan berbasis keagamaan Islam dalam setiap aktivitas kegiatannya. Sementara faktor eksternal lebih banyak dukungan dari orang tua santri dan masyarakat serta stakeholder yang ada di lingkungan Ponpes Miftahussalam tersebut. Maka secara teoritik bahwa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan dzikir, khususnya faktor yang seharusnya bukanlah menjadi penghalang terlaksananya suatu kegiatan. Dan perlu di ingat bahwa setiap faktor yang ada, dapat dijadikan motivasi dan kesempatan untuk bertindak lebih baik dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang ada. Selain itu, berdasarkan analisis data, ditemukan beberapa kegiatan yang sangat menunjang Aktualisasi dzikir di pondok tersebut, yaitu pelaksanaan metode dzikir dilakukan secara kolektif . sehingga santri Dalam tahap pendahuluan, benar-benar memperhatikan dzikir para santri sehingga Untuk pelaksanaan dzikir yang tenang dan nyaman. Sebelum pelaksanaan sholat fardlu berjamaAoah sering diadakan nasihat dan motivasi tentang faedah dzikir untuk kehidupan yang disampaikan oleh ustadz pemimpin jamaAoah kepada para santri sehingga santri dapat menerapkan dalam keseharian mereka sehingga santri terbebas dari rasa gelisah, cemas, dan galau terhadap permasalahan yang dialami. DAFTAR PUSTAKA