Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni 2021 Vol. Amae dan Persaingan Saudara pada Film Mirai: Kajian Psikologi Perkembangan Syabrina Disa Ghifara Bangsa1*. Yusida Lusiana2. Heri Widodo3 Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Jawa Tengah 1,2,3 Alamat Surel bangsa@mhs. *Penulis Korespondensi Kata Kunci film Mirai. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep mengenai keinginan untuk dicintai, layaknya perilaku anak dengan yang dikenal dengan istilah amae. Selain itu, penelitian ini menjelaskan bentuk persaingan saudara pada film Mirai . karya Mamoru Hosoda. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan teknik simak catat. Hasil pada penelitian ini ditemukan bahwa pada film Mirai terdapat sebelas bentuk perilaku atau ungkapan yang mengindikasikan amae sesuai dengan teori amae yang dikemukakan oleh Doi, yaitu amai, suneru, toriiru, higamu, futekusareru, tanomu, wagamama, toraware, sumanai, uramu, dan kigane, dengan temuan terbanyak adalah wagamama berupa empat data. Selain itu, juga ditemukan perwujudan dari persaingan saudara antara tokoh Kun dan Mirai, yaitu . agresi, . regresi, . mencari perhatian terus-menerus, dan . Pada penelitian ini terdapat perilaku amae yang sesuai dengan periode trotzalter pada psikologi perkembangan, yaitu futekusareru, uramu, dan wagamama. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat keterkaitan antara amae dan persaingan saudara, dimana amae pada film Mirai digunakan untuk menunjukkan keinginan bergantung dan mencari perhatian ketika terjadi persaingan saudara yang disebabkan oleh kecemburuan anak. Amae yang dilakukan oleh Kun digunakan untuk mengekspresikan perasaan yang berguna bagi kepuasan diri. Amae pada film Mirai diharapkan dapat menahan konflik emosional yang terjadi pada lingkup lingkaran dalam . Pendahuluan Setelah Perang Dunia II, sistem keluarga Jepang telah berubah dari sistem keluarga ie . xtended famil. menjadi kaku kazoku . uclear famil. Sistem keluarga ie merupakan sistem kekeluargaan yang berlaku pada zaman Tokugawa . dan berlaku di kalangan bushi . dan bangsawan (Anwar, 2007:. Pada sistem keluarga Jepang, terdapat suatu konsep yang erat hubungannya dengan keluarga, dan dikenal dengan istilah amae ( io AO ). Doi . mengemukakan bahwa amae berarti Aobergantung dan menganggap kebaikan orang lain. Amae mengacu pada perasaan yang ada pada setiap bayi dalam pelukan ibunya, mencakup keinginan untuk dicintai dan mendapat kasih sayang. keengganan untuk dipisahkan dan dilepaskan ke dalam dunia nyata. Amae masih berlaku di Jepang hingga saat ini (Khisnaya dan Wahyuningsih, 2015:. Satria dan Elsy . menjelaskan bahwa amae lebih sering terjadi pada lingkup lingkaran dalam . dibanding lingkaran luar . , karena tidak terdapat batasan, dan permintaan yang berlebihan akan lebih ditoleransi dalam hubungan ini. Keluarga menjadi lingkungan pertama yang mempengaruhi perkembangannya. Oswald Kroh dalam Kartono . menyebutkan pada proses perkembangan anak, terdapat proses revolusi yang ditandai dengan gejala ledakan seperti pemberontakan dan penentangan yang berisi emosi meluap-luap. Periode ini berlangsung saat usia A2-4 tahun dan 12-15 tahun. Proses revolusi ini dikenal dengan masa trotzalter . sia keras kepal. Ciri yang mendominasi periode ini ialah sikap keras kepala dan suka menentang yang disebabkan oleh proses pencarian diri dan mendalami kemampuan serta harga dirinya. Salah satu polemik pada proses perkembangan anak ialah sibling Dalam masa tumbuh kembang, wajar jika anak membutuhkan perhatian dari orang tua. Namun, ketika perhatian itu dirasa berkurang, atau tidak seimbang antara saudaranya, hal itu dapat memacu salah satu anak mencari perhatian dengan cara bersaing, dan menyebabkan pertengkaran antar Hal ini termasuk fenomena yang dilatarbelakangi oleh permasalahan sibling rivalry. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Jakarta 123 | S. Bangsa. Lusiana. Widodo sebagaimana disebutkan Bhatia . dalam Dictionary of Psychology and Allied Sciences yang mendefinisikan sibling rivalry sebagai persaingan antara saudara kandung untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan penghargaan dari orang tua, atau untuk pengakuan dan penghargaan Sibling rivalry dapat terjadi jika seorang anak memiliki ketakutan akan kehilangan kasih sayang dan perhatian dari orang tua, sehingga membuat posisinya dalam suatu hubungan seolah terancam (Ulia, 2020:. Goldstein dan Naglieri dalam buku Encyclopedia of Child Behavior and Development . 1:1. mengemukakan bahwa ada empat perwujudan sibling rivalry, yaitu agresi, kemunduran tingkah laku . , mencari perhatian terus-menerus, dan frustasi. Berpegang pada pernyataan mengenai amae dan sibling rivalry seperti di atas, dapat dikatakan bahwa amae dapat menjadi cara yang digunakan oleh anak untuk menarik perhatian orang tuanya, sesuatu yang kerap menjadi pemicu terjadinya sibling rivalry. Jika anak sudah mendapat perhatian dari orang tuanya, maka ia telah memenuhi kepuasan dirinya. Seseorang yang melakukan amaeru pada orang lain, secara psikologis ialah karena ia membutuhkannya untuk pemenuhan dirinya (Doi, 2005:. Kepuasan diri ini, dalam psikologi perkembangan disebut dengan kebahagiaan, dimana sangat berpengaruh pada kehidupan anak selanjutnya. Beberapa esensi kebahagiaan atau kepuasan menurut Hurlock . ialah sikap menerima, kasih sayang, dan prestasi. Pemilihan film Mirai . sebagai sumber data dikarenakan mengandung cukup data untuk pembahasan mengenai amae dan sibling rivalry. Mirai bercerita tentang dua anak yang terlibat konflik sibling rivalry, khususnya sang kakak. Kun, yang merasa diperlakukan tidak adil dengan adiknya. Mirai. Maynard . menjelaskan bahwa konflik sehari-hari justru sebagian besar terjadi pada hubungan lingkaran dalam . atau lingkungan terdekat. Berdasarkan hal tersebut, penulis menyadari pentingnya dilakukan penelitian mengenai amae, mengingat budaya ini menjadi kunci untuk memahami tatanan kehidupan masyarakat Jepang. Beberapa penelitian yang terkait dengan penelitian ini, yaitu Satria dan Elsy . dalam penelitiannya AuAnalisis Amae dalam Permasalahan Hubungan Keluarga pada Film Tokyo SonataAy menjelaskan berbagai perilaku atau sikap yang menunjukkan konsep amae yang mempengaruhi lingkup hubungan keluarga dan kaitannya dengan masalah pekerjaan. Hasil penelitian ini menyebutkan perilaku yang dapat dikatakan sebagai kegagalan dalam amae dan berakibat pada wagamama dan futekusareru. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah penelitiannya menggunakan kajian psikologi kepribadian, sedangkan penelitian peneliti menggunakan kajian psikologi perkembangan. Sompotan . pada penelitian berjudul AuPengaruh Komunikasi Amae Terhadap Hubungan Uchi dan Soto pada Kelompok Persahabatan Orang Jepang dalam Film Ano HanaAy, ditemukan empat kutipan yang termasuk ke dalam komunikasi amae, misalnya pada saat berkaraoke seharusnya seseorang bisa melakukan amae secara terus terang karena sudah dianggap uchi. Dalam kutipan juga disebutkan bahwa rasa ketergantungan pada golongan uchi akan semakin terlihat, sedangkan seseorang yang hanya memiliki hubungan soto akan lebih sulit melakukan amae. Perbedaannya dengan penelitian ini ialah tidak disebutkannya secara jelas klasifikasi amae yang dimaksud. Selain itu, penelitiannya menggunakan kajian psikologi sosial, sementara penelitian peneliti menggunakan kajian psikologi perkembangan . sikologi ana. Metode Penelitian ini menerapkan metode penelitian deskriptif kualitatif. Moleong . dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif mengungkapkan bahwa penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan, secara menyeluruh dan dideskripsikan dalam bentuk kata-kata (Moleong, 2020:. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bersifat menggambarkan atau memotret apa yang terjadi pada objek yang diteliti (Sugiyono, 2019:. Pada penelitian ini, penulis mencoba memaparkan data berdasarkan gambaran yang bersumber pada film Mirai . Teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak catat. Proses penyimakan tersebut diwujudkan dengan pengutipan potongan adegan pada film. Tahap penulisannya ialah, penulis menonton dan menyimak keseluruhan film berupa percakapan dan adegan. Data dikumpulkan dengan cara melampirkan screenshot potongan adegan pada film Mirai, yang sesuai dengan teori amae Takeo Doi . , dan beberapa sumber mengenai persaingan saudara dan psikologi Setelah itu, penulis melakukan analisis mengenai apa yang terjadi pada temuan data tersebut, kemudian membuat kesimpulan. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 124 Hasil dan Pembahasan Pada penelitian ini ditemukan sebelas bentuk amae yang terdapat pada film Mirai . , dengan hasil penjelasan sebagai berikut. Amae Gambar 1. Ibu mencium Kun (Menit 00:52:35Ae00:52:. Sumber: Mirai . A) uns AOsAiCe uns AOsAiCe : AiA : AAsAAEACCEACECeay : AyCUoiaCEEiAACNAI : OAACEEi (Ame no ot. Baba : Gohan wa? Okaasan : Okinai. Kun chan wa watashi no takara. Baba : Sore mukashi no watashi no serifu deshou Okaasan : Ima watashi no serifu (Suara huja. Nenek : Dia sudah makan? Ibu : Nggak bangun. Kun adalah hartaku. Nenek : Itu adalah kalimatku dulu Ibu : Sekarang itu jadi kalimatku KutipanAUCEACECeay. Asmerupakan kalimat amai yang diucapkan ibu untuk Kun, saat Kun tengah terlelap karena kelelahan. Amai merupakan ungkapan manis yang diberikan untuk seseorang, dan di dalamnya terdapat harapan pada orang tersebut. Kalimat yang diucapkan oleh itu Kun adalah kalimat manis dan tulus yang di dalamnya berisi harapan dan keinginan terbaik untuk segala hal yang terjadi pada Kun. Seperti yang terlihat pada Gambar 1, sambil memandangi wajah Kun, dan sebagai bentuk cintanya, ibu mencium Kun dengan penuh sayang. Gambar 2. Ibu meninggalkan Kun untuk bekerja (Menit 00:25:28-00:25:. Sumber: Mirai . AOsAiCe AOsAiCe AOsAiCe AOsAiCe : CEACECeaOsAiCeOuoauNaOiUAAEAAEAUCOA : AECEAA : AEAEaOioOia : AECEAA : NAyAIaCOAOOAiCeAACECea : UAAEA! : AoCEACauAACOCsa 125 | S. Bangsa. Lusiana. Widodo AOOAiCe AOsAiCe AOOAiCe AOsAiCe : AOsAiCeOAAeA : AAE : UAUAAEA! : ACAAiEAOAAoOua : AAEAAE : AoCEACAAUasAAo : AOsAiCeA Okaasan Kun Okaasan Kun Okaasan Kun Okaasan Kun Otousan Kun Okaasan Otousan Okaasan Kun : Kun chan, okaasan kyou ashita shutchou no oshigoto de inaikara ne : Iya! : Ii ko de rusuban shitetene : Iya! : Desouni nattara otousan ni chanto ittene : Ikanaide! : Jaa kodomo tachi yoroshiku : Okaasan dakko! : Hai : Ikanaide! : Atosa- ohina sama kon'nichichuu shimatte : Hai hai : Jaa, ittekimasu : Okaasan! Ibu Kun Ibu Kun Ibu Kun Ibu Kun Ayah Kun Ibu Ayah Ibu Kun : Kun, ibu tidak pulang hari ini, karena besok sampai lusa ada perjalanan dinas : Tidak! : Jadi anak yang baik di rumah selama ibu pergi ya : Tidak! : Bilang sama ayah kalau kamu mau ke toilet : Jangan pergi! : Yah, tolong jaga anak-anak : Ibu, gendong! : Iya : Jangan pergi! : Juga, jangan lupa . boneka ohinasamanya hari ini ya : Iya iya : Ok, ibu pergi ya : Ibu! Setelah cuti melahirkan, ibu kembali bekerja. Hal ini tentu tidak disukai oleh Kun. Apalagi setelah kehadiran Mirai yang membuat posisinya semakin kurang diperhatikan, sehingga Kun masih ingin bermanja lebih lama dengan ibu di rumah. Terlihat pada Gambar 2, bahkan Kun masih mengikuti ibu sampai ke depan pintu. Keinginan bermanja Kun terlihat pada kalimat AUAOsAiCeOAAeAAs. Pada adegan ini Kun menunjukkan sikap suneru. Suneru merupakan gambaran seseorang yang tidak memperoleh kesempatan untuk memanjakan diri pada orang lain secara terus terang (Doi, 1992:. Hal ini terlihat ketika Kun kesal dan berkata AUAECEAs dan AUUAUAAEAAskarena tidak memperoleh kesempatan memanjakan diri lebih lama dengan ibu. Gambar 3. Kun mencoba menarik perhatian Mirai (Menit 00:11:18-00:11:. Sumber: Mirai . Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 126 : CEACECeAACACAUACECeAAECsCeAAeAAEaEaCAeCUaeAAOiAAoAasOsCe AEAOAACAeAAoACEOEEuACACAuAAUiAUAOAAUuCOAuAACAeAAoACCACEayCUAU COa AOsAiCe : nANCUaEaCCAIcAAsaCOAAC : AEAE (OAuCeanCOAA. : CEUEaEaEeCAACEUEaEaAiCeCaUaeCUaEeCCeAEAUAcaEeCAAiCOCO ACOAcCUA E235 OUoAuACOaCEUEaEaA E233 AuyUoaEAUAc aeCsAUiICeaCUAACeACEUEaEaAEeCAuCUAACOA AOsAiCe : CECaCECeAAOoyCUACiAACEACACOA : CCEAOEAA Kun : Kun chan ne. Akachan ni ironna koto ippai shite ageru. Isshoni osanpo shite mushi no namae o kangaete agemasu. Tonbo. Ato kumo no katachi ga nani ni mietaka shirasete agemasu. Sasori, sorekaraA Okaasan : Soto ni deru noha mada hayaina, mou sukoshi ookiku nattara ne Kun : Ha-i (Monogatari no hon o torimas. Kun : Onibaba tai hige, onibaba wa kao o mukka ni shite okoru to, hige o oikakemashita, hige wa sarari to yokeru to E235-kei Yamanotesen ni tobinorimashita, onibaba wa E233-kei Keihintouhokusen ni note oikakemashita, tokoro ga Tabata eki o sugiruto nanto onibaba to hige wa hanare banara ni Okaasan : Yamete! Akachan no ohiruneru no jama shicha dame yo! Kun : Mo-oa-! Kun : Kun mau melakukan banyak hal kepadamu, mengajak jalan-jalan, dan memberitahu namanama serangga. Itu capung! Dan aku akan memberitahumu seperti apa bentuk awan. Itu kalajengking! LaluA Ibu : Kamu bisa mengajaknya keluar kalau dia sudah agak besar ya Kun : I-ya (Mengambil buku cerit. Kun : Nenek sihir dan kumis, wajah nenek sihir memerah dan marah, lalu dia lari mengejar kumis, nenek sihir menghindar dengan mudah, dia melompat ke kereta Yamanote, lalu nenek sihir mengejarnya dengan kereta Keihin, tapi setelah di stasiun Tabata, mereka berpisah Ibu : Berhenti! Jangan ganggu tidur siangnya! Kun : Ah! Sikap Kun saat memperlakukan Mirai dengan baik seperti yang terlihat pada Gambar 3 merupakan sikap toriiru. Toriiru merupakan gambaran usaha seseorang agar diperhatikan oleh orang Pelaku amae yang melakukan toriiru seolah-olah akan memberikan kesempatan pada orang lain, padahal ia memiliki tujuan tertentu (Doi, 1992:. Dimana pada adegan ini Kun berusaha memanjakan Mirai dan bersikap layaknya seorang kakak yang mengajari adiknya. Kun menggunakan kalimat manis untuk mendukung sikap memanjakannya, seperti AUACAUACECeAAECsCeAAeAAEAA AEaCAeCUaeAAOiAAoAasOsCeAEAOAACAeAAoAsdanAUACAuAAUiAUAOAAUuCO AuAACAeAAoAs. Sikap Kun ini memang perilaku yang hangat, namun terdapat alasan lain dibalik sikapnya, yaitu ingin memperlihatkan pada ibu bahwa ia bisa menjadi kakak yang baik untuk Mirai. Selain itu. Kun juga ingin diperhatikan, layaknya ibu dan ayah memperhatikan Mirai. Gambar 4. Ibu menegur Kun (Menit 00:13:09-00:14:. Sumber: Mirai . 127 | S. Bangsa. Lusiana. Widodo (AACECeCeAUCOAUAAO (EECACECeAAsO AOsAiCe oAAIaCEACECeiaOAaCUAAEyaoCEA oOasAAEA AOsAiCe oAOoAEaCECeCeUUAA oAAsAAEA AOsAiCe oAAOAOoAEA oAAsAAEA AOsAiCe oiAoCeAiACUaUCOaoCOCUAAEA OCEaCECeAAsAAoO (Kun chan wa akachan o karakatt. (Mirai chan no naki go. Okaasan : Doushita no? Kun chan nani shita no?Naka yakurutte yakusoku shitajanai Kun : Nakayaku dekinai no Okaasan : Onegai, akachan o daiji daiji shite Kun : Dekinai! Okaasan : Ne e onegai! Kun : Dekinai! Okaasan : Nanizun no umareta bakkari na noni, shinji rarenai! (Kun to akachan wa nakimas. enjahili adikny. (Suara tangisan Mira. Ibu : Ada apa? Kun, apa yang kamu lakukan? Katanya kamu mau baik dengan adikmu! Kun : Nggak bisa! Ibu : Tolong, kamu harus jaga dia Kun : Nggak mau! Ibu : Tolonglah. Kun : Nggak bisa! Ibu : Apa maksudmu? Dia baru lahir! Benar-benar nggak bisa dipercaya! (Kun dan adiknya menangi. Kun menjahili Mirai berkali-kali setelah merasa AoterabaikanAo karena Mirai. Namun, ibu tidak setuju dengan tingkah Kun menjahili Mirai, dan terlihat pada Gambar 4 ibu menegur Kun. Mengetahui ibu menegurnya. Kun pun semakin kesal, karena menganggap ibu lebih membela Mirai. Ibu memohon agar Kun tidak mengganggu Mirai, namun Kun tidak menurutinya dan malah memukul Mirai. Hal ini membuat ibu sangat marah, hingga akhirnya ibu berkata AUAoCOCUAAEAAs. Sikap Kun ini termasuk dalam perilaku higamu. Higamu merupakan gambaran sikap curiga yang didasari dengan anggapan tidak memperoleh perlakuan adil dimana hasrat amae tidak memperoleh jawaban yang diharapkan (Doi, 1992: . Gambar 5. Wajah ibu dan ayah dalam imajinasi Kun (Menit 00:14:44-00:15:. Sumber: Mirai . AOsAiCe AOsAiCe : AaCeaCECeAAOIEACECeAACNA : AOIEACECeAoCEAAEAA : AOIEACECea Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. AOsAiCe AOsAiCe : AOsAiCeCCAOsAiCeAoCEAAEA : AoCEACAAiaEAIACO : CEUEaEaACEUEaEaA : aiAACEA : AOOAiCea Okaasan Kun Okaasan Kun Okaasan Kun Okaasan Kun : Kun! Akachan no oniichan deshou : Oniichan janaino! : Oniichan nano! : Okaasan mo okaasan janai! : Ja, nandatte iu no yo? : Onibaba! Onibaba! : Na, na, nani?! A a! : OtousanA Ibu Kun Ibu Kun Ibu Kun Ibu Kun : Kun! Kamu kakaknya kan?! : Aku bukan kakaknya! : Iya, kamu kakaknya! : Kau juga bukan ibuku! : Lalu apa? : Nenek sihir! Nenek sihir! : A-a-apa?! A-ah! : AyahA | 128 Terdapat perilaku futekusareru pada adegan ini. Futekusareru adalah gambaran sikap menentang dan mengeluarkan ucapan kurang bertanggung jawab (Doi, 1992:. Terlihat saat Kun mengatakan AUAOIEACECeAoCEAAEasdan AUAOsAiCeCCAOsAiCeAoCEAAEAdengan nada tinggi dan kurang Sebelum itu. Kun juga memukul Mirai dengan mainannya sampai menangis. Hal ini membuktikan bahwa Kun baru saja melakukan agresi, yang mana menjadi tanda periode trotzalter yang sedang dialami Kun pada masa perkembangannya, dan kalimat kasar yang diucapkan, serta perlakuan buruk Kun terhadap Mirai ialah buah dari emosinya yang meledak-ledak. Bahkan, dalam bayangan Kun, wajah orang tuanya seketika berubah menjadi tokoh kartun jahat seperti yang terlihat pada Gambar 5. Gambar 6 Mirai membujuk Kun (Menit 00:30:24-00:30:. Sumber: Mirai . EECAuyu EECAuyu EECAuyu EECAuyu EECAuyu EECAuyu : aUaOOAiCeasACOA : AECEA : ACeA : EECACECeuAsaEA : ACeAuAsaEA : OasAAEA : AAOAAOOAiCeANOIaEAUAcAAEA : ACeA : AAOAAUCOAOoAEAOIEACECe. : EECACECeAAOIEACECeAoCEAAEA : AAIAAIAyAIAAoAUAyAIAAoAUaoCEAyAICEaOoAECeAAUAAECeACOEaEACE EAAUCOA 129 | S. Bangsa. Lusiana. Widodo Mirai no mirai Kun Mirai no mirai Kun Mirai no mirai Kun Mirai no mirai Kun Mirai no mirai Kun Mirai no mirai : Tonikaku otousan ni hayaku shimattette itte kite yo! : Iya! : Nande? : Mirai chan sukikunai no : Nande sukikunai no? : Nakayoku dekinai no : Nee watashi otousan ni jibun de ii ni ikenai no : Nande? : Nee dakara onegai oniichan. : Mirai chan no oniichan janai no : Hou hou soudesuka soudesuka, ja souyatte hito no onegai okikanain nara hachigemu Mirai masa depan : Bilang sama ayah untuk menyimpan bonekanya ya! Kun : Nggak! Mirai masa depan : Kenapa? Kun : Aku nggak suka Mirai Mirai masa depan : Kenapa nggak suka? Kun : Aku nggak bisa akur sama dia Mirai masa depan : Yahh. aku nggak bisa bilang sendiri sama ayah Kun : Kenapa? Mirai masa depan : Jadi tolong aku ya kak. Kun : Aku bukan kakaknya Mirai Mirai masa depan : Oh. gitu ya. Kalau kamu nggak mau menuruti permintaanku, kita akan bermain lebahlebahan Terdapat perilaku tanomu pada adegan ini. Tanomu bermakna seseorang yang mengandalkan diri pada orang lain dengan harapan mendapatkan perlakuan yang menguntungkannya (Doi, 1992:. Boneka ohinasama harus disimpan segera setelah perayaan agar tidak terjadi sesuatu buruk menimpa Mirai di kemudian hari. Tugas menyimpan boneka tersebut dititipkan pada ayah. Namun karena ayah sibuk, sehingga kemungkinan akan lupa dengan tugasnya. Pada adegan ini hadirlah Mirai dari masa depan yang menemui Kun untuk meminta bantuan. Terlihat pada Gambar 6 Mirai mencoba membujuk Kun agar mau menolongnya. Awalnya Kun menolak, namun setelah Mirai membujuknya, akhirnya Kun bersedia membantu. Sikap Mirai pada kutipan AUAAOAAOOAiCe ANOIaEAUAcAAEAAsdan AUAAOAAUCOAOoAEAOIEACECeAstermasuk dalam tanomu, dimana Mirai bergantung pada Kun untuk menyelamatkannya dari nasib sial di kemudian hari. Gambar 7. Pemuda memberi nasihat pada Kun (Menit 01:11:55-01:12:. Sumber: Mirai . ia CE ia CE ia CE ia CE : OaEACiAUayAIUOaEA : ACU : AeCUAUCOCeAUAaCeACsAIoIoauIaOuCOAOAUA, unOAunsAAOACU CeACsAIACeAuacuAoCECeAEAEAyAENuAACEAIaCOONAACUCaAc AoCECeAyCUCeAiAuuAsaEAyAoCEAAEACsAI : AAUCOACU : CEuEAAEAEAyAENaUUACeACOCaAUCUACsCaAUAACOAiCACeAAiAEaeAECOAI : CEuEACuAsaEAoCEAAEAoCEAAE : AO : uAsaEAoCEAAEAoCEAAEA Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. Danshi Kun Danshi Kun Danshi Kun Danshi Kun Pemuda Kun Pemuda Kun Pemuda Kun Pemuda Kun | 130 : Yokunai. Nanikatte sono taidou yokunai na : Dare? : Korekara kyanpu ni ikundarou? Konchuu saishuushite, omatsuri no hanabi mite, jiji to baba no ie ni tomarundarou? Minna tanoshimini shiteta natsu no kyuujitsujan ii omoide tsukutchautte harikitteru wakejan sore o sa AusukikunaiAy janai darou? : Dakara dare? : Zubon to ii omoide docchi ga daijinandayo? Wakarudarou wakattara gomennasai shite koi : Zubon. Sukikunai janai janai. : E? : Suki kunai janai janai! : Jangan begitu. Tingkahmu itu tidak baik : Siapa? : Kamu mau pergi berkemah kan? Menangkap serangga, menonton festival kembang api, dan menginap di rumah kakek dan nenek? Ini liburan musim panas yang dinantikan semua orang, antusias membuat kenangan indah, kenapa malah bilang AuAku nggak suka"? : Jadi siapa kamu? : Mana yang lebih penting, celana panjang atau kenangan indah? Mengerti? Kalau sudah mengerti, pulanglah dan minta maaf : Celana. Aku nggak suka : Hah? : Aku nggak nggak suka! Percakapan di atas terjadi ketika Kun bertemu dengan seorang pemuda yang tiba-tiba berkata bahwa sikap Kun tidaklah baik. Tampak pada Gambar 7 pemuda tersebut dengan bijaksana menasihati Kun bahwa seharusnya ia dapat lebih bersyukur karena masih mempunyai keluarga yang menyempatkan waktu untuk liburan bersama. Namun. Kun malah bersikap egois karena hanya mau pergi jika memakai celana kuning, sedangkan yang tersedia adalah celana biru. Saat pemuda tersebut bertanya lebih penting kenangan atau celana. Kun bersikap wagamama. Wagamama adalah sikap egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dimana Kun tetap menjawab lebih mementingkan celana kuningnya. Padahal maksud dari pemuda itu adalah kenangan sulit dicari, sementara celana adalah urusan yang biasa. Kun tetap bersikukuh pada pilihannya dan tidak mempedulikan perkataan pemuda itu. Gambar 8. Mirai menenangkan Kun (Menit 00:45:06-00:46:. Sumber: Mirai . EECAuyu EECAuyu oAAIaOsAiCeAOAAEAoaEA oAAEAoasAAEA oaUAAEcaEauCAAuCOAuACOAUCaAEAyAIAACNAIAAO. AOIEACE oCEACECeAUCaAEaEA EECAuyu oEECACECeCeCAAUCaAEacEACECeAAUCaAEaEA (CEACECeAAsAAoO EECAuyu oAyCeAAeaECOAAOIEACECeAUCaAEAECOA oAIAICeAUCaAEaECO EECAuyu oAUCaAEAECO. AAUCOAiACACAC (CEAAsCeUaUCaAoO EECAuyu oACAIaOIEACECeAAOIEACECeA 131 | S. Bangsa. Lusiana. Widodo Mirai no mirai Kun Mirai no mirai : Doushite okaasan odaiji ni shinai no? : Daiji ni dekinai no : Tamani shikanai yasuminanoni ijiwaru shite komarasetara kawai sou deshou? Ne. Kun : Kunchan kawaikunai no Mirai no mirai : E? Kun : Mirai chan ya yukko wa kawai no, demo kun chan wa kawaikunai no (Kun chan wa nakimas. Mirai no mirai : Sonna kotonai yo! Onii chan kawaii yo! Kun : Uun kawaikunai yo Mirai no mirai : Kawaii yo. (Kun chan wa naki o jikko shite kawas. Mirai no mirai : Aa matte! Oniichan! Oniichan! Mirai masa depan : Kenapa kamu nggak bersikap baik sama ibu? Kun : Nggak bisa Mirai masa depan : Kasihan ibu kalau kamu nakal, apalagi di hari libur seperti ini. Ya kak. Kun : Aku nggak lucu. Mirai masa depan : Hah? Kun : Mirai dan Yukko lucu, tapi aku nggak (Kun menangi. Mirai masa depan : Nggak!Kakak lucu kok! Kun : Nggak, aku nggak lucu Mirai masa depan : Lucu kok, makanyaA (Kun menangis sambil menghinda. Mirai masa depan : Eh Tunggu! Kak! Kakak! Mirai yang sesaat sebelumnya hampir dipukul oleh Kun, akhirnya menemui Kun dalam wujud Mirai masa depan, dan kehadirannya itu ingin memberitahu bahwa sikap Kun barusan tidak baik. Apalagi pekerjaan ibu banyak, tidak seharusnya Kun egois. Namun, tiba-tiba Kun menangis dan berkata AUCEACECeAUCaAEaEAAsdan AUEECACECeCeCAAUCaAEacEACECe AAUCaAEaEAAs, rupanya selama ini Kun berpikir Mirai selalu mendapat perhatian lebih karena ia lucu. Pada adegan Gambar 8 terdapat sikap toraware. Toraware berarti kekhawatiran dan keresahan (Doi, 1992:. Walau Mirai masa depan sudah berusaha menenangkan Kun, tapi Kun tetap sedih dan terus menangis. Gambar 9. Ibu bercerita tentang keluarga (Menit 00:53:34-00:54:. Sumber: Mirai . AOsAiCe : iUaUCOaCaCUaEoCEOCeayAIAAyAACUCeacAoAEACOAeAA aUCOaeCeAAOsAiCeAAEAEAAUasOaCEAIacAACCAua AEAUCO uns : AyCUAUCaAUaECUAAEAECeACOACaCAAoAEAUACO Okaasan : Shigoto shinagara datte kosodate wa narubeku besuto o tsukusou to omotterun dakedo kidzuitara okotte bakkari, konna okaasan de ii no kanatte fuan ni nacchau, demo sukoshi demo shiawase ni natte hoshiikara Baba : Sorega wakatte ireba iin dayo kosodate ni negai wa daiji dayo Okaasan : Negai. Ibu Nenek : Aku ingin bekerja sambil membesarkan anak-anak dengan sebaik-baiknya, tapi aku malah marah-marah terus, apa yang seperti ini pantas disebut sebagai ibu yang baik? Tapi aku ingin membuatnya setidaknya sedikit bahagia : Kalau kamu sudah tahu hal itu, sudah cukup. AoHarapanAo itu penting untuk membesarkan anak Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 132 Kutipan AUiUaUCOaCaCUaEoCEOCeayAIAAyAACUCeacAoAEA COAeaUCOaeCeAAOsAiCeAAEAEAAUasOaCEAIacAACCAua aEAUCOAsyang terjadi pada adegan dalam Gambar 9 menunjukkan bahwa sebenarnya saat memarahi anak-anak, ibu juga merasa bersalah. Tapi karena banyak pekerjaan, seringkali ibu lepas kontrol dan membuat anak-anak menangis. Hal ini termasuk sikap sumanai. Sumanai adalah istilah yang mengungkapkan perasaan kuat untuk memohon maaf dan menyatakan terima kasih terhadap kebaikan seseorang (Doi, 1992:. Terlihat pada sikap ibu yang menyesal tiap selesai memarahi Bagaimana pun, ibu selalu menginginkan yang terbaik untuk mereka. Ibu menyesal jika selama ini belum bisa menjadi ibu yang baik, ibu juga berterima kasih karena kehadiran anak-anak mengubah hidup ibu dan ayah menjadi lebih baik. Gambar 10. Kun memukuli ayah (Menit 00:57:42-00:58:. Sumber: Mirai . : AOOAiCeuAsaEAA AOOAiCe : AiCACeCOaCCAACOAUAeAI : CCAINOCOAAEAA AOOAiCe : AyCeAiAiAACCuAOyAACCUCO : iAiACCAAEaCA AOOAiCe : CEACECe (CEACECeAAeaCOaO CE : AOOAiCeuAsaEAA Kun : Otousan sukikunai no! Otousan : Gomenyo, demo mata nori ni ikou Kun : Mou jitensha naranai no! Otousan : Sonna nani goto nimo saisho wa aru yo Kun : Nani goto nimonaino! A! Otousan : Kun chan (Kun chan wa okotte sarimashit. Kun : Otousan sukikunai no! Kun : Aku nggak suka sama ayah! Ayah : Maaf deh, ayo naik lagi Kun : Aku nggak mau naik sepeda lagi! Ayah : Semuanya pasti dimulai dari awal Kun : Nggak mau! Ah! Ayah : Kun chan (Kun pergi dengan mara. Kun : Aku nggak suka sama ayah! Pada tahap latihan pertama. Kun belum berhasil mengendarai sepeda, namun ternyata ayah lebih memilih untuk menenangkan Mirai yang menangis di pinggir lapangan, daripada terus mengajari Kun. Sesampainya di rumah, nampak sikap uramu pada Kun. Uramu ialah perasaan bermusuhan yang timbul karena tidak terkabulnya hasrat amae (Doi, 1992:. Terlihat pada Gambar 10 dan kutipan AUAOOAiCeuAsaEasdanAUCCAINOCOAAEas, dimana Kun mengamuk sambil memukuli ayahnya. Pada adegan ini juga terlihat agresi fisik dan verbal yang dilakukan oleh Kun, merupakan tanda bahwa Kun sedang dalam masa trotzalter, dimana emosinya juga sudah sangat memuncak dan tidak tertahankan. 133 | S. Bangsa. Lusiana. Widodo Gambar 11. Kun gugup saat berhadapan dengan kakek buyut (Menit 00:59:17-00:59:. Sumber: Mirai . uunO : a : iAUiAUAE : ACAAIAICe : AeAEAAOOcACCUAAUAE : AIAICe : aCUAUAE : AIAICe : AIaEAEAA : AIAICe : ACeAACOAACsAI : AIAICe : iAACOaUUaiAiAACCuAOyAACCUAA : iAiAACC : AyAIuAOyAACCUaIACsAI Kun Hijiji Kun Hijiji Kun Hijiji Kun Hijiji Kun Hijiji Kun Hijiji Kun Hijiji : Haa! : Nanika youkai? : A. : Koitsuni kyoumi arudakai? : Uun : Notte mirukai? : Uun : Enryoshine de iitte : Uun : Honto wa noritedarou? : Uun : Nanda. Noranenoka zannendana, nanigoto nimo saisho wa arunina : Nanigoto nimo? : Sou saisho wa arutte iu darou? Kun Buyut Kun Buyut Kun Buyut Kun Buyut Kun Buyut Kun Buyut Kun Buyut : Haa! : Ngapain? : Ah. : Tertarik sama ini? : Nggak : Mau naik? : Nggak : Nggak usah ragu : Nggak : Beneran nggak mau naik? : Nggak : Oh begitu. Kamu nggak bisa menaikinya yaA segala sesuatu itu pasti dimulai dari awal : Semuanya? : Iya, untuk awalan memang begitu kan? Pada Gambar 11 kala memasuki dunia imajinasi dan bertemu kakek buyut di bengkelnya. Kun merasa takut dan terus-menerus menjawabAUAIAICeAsketika ditanya. Raut wajah Kun juga gemetar sambil mondar-mandir. Sikap Kun ini termasuk ke dalam sikap kigane. Kigane ialah sikap membatasi diri, bermakna terus-menerus menekan hasrat berbasa-basi karena khawatir amae yang diperlihatkan akan memperoleh jawaban yang tidak diharapkan (Doi, 1992:. Hal itu terjadi karena Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 134 sebelumnya Kun merasa dikecewakan oleh ayah (Gambar . , sehingga saat bertemu kakek buyut. Kun menekan hasrat untuk basa-basi, khawatir tidak memperoleh jawaban yang diharapkan. Persaingan Saudara Gambar 12. Kun memukul Mirai (Menit 00:14:. Sumber: Mirai . Anak dapat mengekspresikan perasaan agresi dengan penyerangan fisik atau verbal berupa ucapan dan kalimat. Pada masa trotzalter, akan muncul dorongan emosi kuat untuk pengakuan dirinya (Kartono, 1990:. Gambar 12 menunjukkan sikap agresi Kun yang menyerang Mirai menggunakan mainannya hingga menangis. Namun Kun tidak merasa bersalah, justru berucap kasar pada ibu yang berusaha menghentikannya, hal ini menyebabkan ibu marah besar hingga membuat Kun juga menangis. Kun menganggap bahwa ibu telah membela Mirai dan tidak berpihak padanya. Gambar 13. Kun meminta ibu untuk diambilkan susu dan pisang (Menit 00:09:. Sumber: Mirai . Perilaku regresi umumnya bersifat sementara, dimana saudara yang lain bertingkah seperti bayi lagi untuk meminta perlakuan yang sama. Hal ini juga digunakan untuk menarik perhatian. Kun sarapan didampingi oleh orang tuanya, sesekali Kun melirik ke arah ibu yang sedang menyusui Mirai. Lalu, tiba-tiba Kun meminta ibu untuk mengambilkannya susu dan pisang, padahal keduanya ada di dekat Kun. Pada Gambar 13 memperlihatkan bahwa Kun berusaha mengalihkan perhatian ibu agar tertuju pada dirinya. Walau ayah sudah menawarkan bantuan, tapi Kun hanya ingin dibantu oleh ibu. Faktanya, menurut laman hellosehat. com, anak seusia Kun . sudah mampu menunjukkan kemandiriannya tanpa bantuan orang lain, seperti melepas atau memakai pakaian sendiri dan mengambil alat makan sendiri. Gambar 14. Kun bersembunyi (Menit 01:11:. Sumber: Mirai . Mencari perhatian tidak hanya dilakukan dengan sikap-sikap manis, tetapi juga dari sikap marah, merajuk, atau sikap kekanak-kanakan lainnya. Kun dengan sikap kekanak-kanakannya hanya ingin memakai celana kuning. Ibu dan ayah yang sedang repot mempersiapkan perlengkapan kemah pun tidak dapat menuruti kemauan Kun. Kun kesal. Akhirnya, seperti yang terlihat pada Gambar 14 Kun berpura-pura sembunyi dengan tujuan agar ibu atau ayah mencarinya, namun ternyata setelah 135 | S. Bangsa. Lusiana. Widodo beberapa kali bersembunyi di tempat yang berbeda-beda, orang tuanya tidak juga mencarinya. Kun merasa sangat kecewa, usahanya menarik perhatian ayah dan ibu tidak dipedulikan. Gambar 15. Kun pergi dari rumah (Menit 01:11:. Sumber: Mirai . Frustasi merupakan bentuk kekecewaan seseorang karena terhalangnya suatu tujuan yang Melanjutkan adegan pada Gambar 14, oleh karena permintaan Kun yang hanya ingin memakai celana kuning tidak dituruti, serta usahanya mencari perhatian tidak dipedulikan. Kun sangat marah. Ia bergegas mengemasi ranselnya, membawa persediaan makanan, kemudian pergi dari rumah seperti yang terlihat pada Gambar 15. Hal ini juga menunjukkan bahwa Kun berada dalam periode trotzalter. Simpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis mengenai amae dalam fenomena persaingan saudara pada film Mirai . , didapatkan hasil analisis berupa sebelas bentuk amae sesuai dengan teori amae yang dikemukakan oleh Takeo Doi . seperti amai, suneru, toriiru, higamu, futekusareru, tanomu, wagamama, toraware, sumanai, uramu, dan kigane. Selain itu, ditemukan pula perwujudan dari persaingan saudara, yaitu agresi, regresi, mencari perhatian terus-menerus, dan Pada penelitian ini juga terdapat perilaku amae yang menunjukkan gejala periode trotzalter di masa perkembangan Kun, yaitu futekusareru, uramu, dan wagamama. Permasalahan pada film Mirai . ialah fenomena persaingan saudara . ibling rivalr. antara Kun dan Mirai, yang disebabkan oleh rasa kecemburuan Kun karena merasa kasih sayang orang tuanya telah beralih pada adiknya. Oleh karena itu. Kun harus mencari cara bagaimana agar ia mendapatkan perhatian itu kembali. Amae menjadi cara bagi Kun untuk mengekspresikan rasa cemburunya, yang disertai dengan perilaku-perilaku untuk menarik perhatian orang tuanya. Hal itu, juga dilakukan oleh Kun untuk memenuhi kepuasan dirinya. Oleh karena interaksi dan hubungan emosional yang dekat, amae yang dilakukan pada lingkup uchi, diharapkan dapat mengendalikan konflik yang terjadi pada lingkup itu sendiri. Daftar Rujukan Anwar. Ideologi keluarga tradisional IE dan Kazoku Kokka pada masyarakat Jepang sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Jurnal Wacana, 9. , 194Ae205. doi:10. 17510/wjhi. Bhatia. Dictionary of psychology and allied sciences. New Delhi: New Age International Publishers. Doi. Anatomi dependensi: Telaah psikologi Jepang (A. Bey. Ter. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Doi. Understanding amae: The Japanese concept of need-love. Collected Papers of Twentieth-Century Japanese Writers on Japan. United Kingdom: Global Oriental Ltd. Goldstein. , & Naglieri. Encyclopedia of child behavior and development. New York: Springer. Herliafifah. September . Perkembangan balita usia 1Ae5 tahun. Hello Sehat. https://hellosehat. com/parenting/anak-1-sampai-5-tahun/perkembangan-balita/tahapperkembangan-balita Hurlock. Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. (Istiwidayanti & Soedjarwo. Terj. Jakarta: Erlangga. Kartono. Psikologi anak: Psikologi perkembangan. Bandung: Mandar Maju. Prosiding Seminar Nasional Bahasa. Sastra, dan Seni. Vol. | 136 Khisnaya. Intan A. , dan Tri Mulyani Wahyuningsih. Ikatan tokoh Kiyo dan Botchan dalam konsep amae pada novel Botchan Karya Natsume Soseki. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro. https://core. uk/download/pdf/35383152. Maynard. Japanese communication: Language and thought in context. Honolulu: University of Hawaii Press. Moleong. Metodologi penelitian kualitatif . Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. Satria. , & Elsy. Analisis amae dalam permasalahan hubungan keluarga pada film Tokyo Sonata. Jurnal Japanology, 5. , 186Ae199. http://journal. id/download-fullpapersjplg1568f3498f2full. Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Ulia. Dealing kids rivalry: No drama siblinghood. Yogyakarta: Penerbit Brilian.