AL-MUHITH JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN HADITS E-ISSN: 2963-4024 . edia onlin. P-ISSN : 2963-4016 . edia ceta. DOI : 10. 35931/am. RAHASIA PENGULANGAN DALAM AL-QURAoAN Mufham Amin IIQ Jakarta amin775249@gmail. Akhmad Rusydi Sekolah Tinggi Ilmu QurAoan (STIQ) Amuntai jihadhanif212@gmail. Abstrak Al-Qur'an, sebagai sumber kebenaran dan kebahagiaan sejati, menyimpan misteri dalam pengulangan kalimat dan ayat-ayatnya. Makna dari at-tikrar, pengulangan dalam Al-Qur'an, membuka ruang untuk penelitian yang mendalam terhadap signifikansi teks suci ini. Metode penelitian kepustakaan digunakan untuk menjelajahi makna dan tujuan dari pengulangan dalam Al-Qur'an. Analisis terperinci terhadap ayatayat yang berulang memungkinkan penafsiran lebih luas dengan membandingkan komentar, tafsir, dan riset sebelumnya. Selain itu, penelitian juga menyoroti konteks sejarah, budaya, dan linguistik Al-Qur'an. Pendekatan ini mengungkap bagaimana pengulangan kata-kata atau ayat-ayat tertentu menjadi bagian integral dalam teks suci. Hasil penelitian menggambarkan bahwa at-tikrar fil-Qur'an, pengulangan kalimat atau ayat, terbagi menjadi dua jenis: tikrar al-lafdz . engulangan redaks. dan tikrar al-ma'nawi . engulangan makn. Dalam Al-Qur'an, tujuh kaidah yang berkaitan dengan at-tikrar dapat diidentifikasi, masing-masing dengan aplikasi khusus yang memberikan penegasan, pengagungan, atau pembaruan terhadap makna sebelumnya. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa at-tikrar dalam AlQur'an memiliki fungsi sebagai alat penetapan, pengagungan, penegasan, dan pembaruan terhadap makna Dengan demikian, penggunaan metode penelitian kepustakaan berhasil mengungkap rahasia pengulangan dalam Al-Qur'an, memberikan wawasan mendalam tentang pentingnya pengulangan tersebut dalam pesan yang disampaikan kepada umat Muslim. Kata Kunci : Alquran. Tikrar. Pengulangan Abstract The Qur'an, as a source of truth and true happiness, keeps mysteries in its repetition of sentences and The meaning of at-tikrar, the repetition in the Qur'an, opens up space for in-depth research into the significance of this sacred text. Literary research methods are used to explore the meaning and purpose of repetition in the Qur'an. Detailed analysis of recurring verses allows for broader interpretation by comparing previous commentaries, exegesis, and research. Apart from that, the research also highlights the historical, cultural and linguistic context of the Koran. This approach reveals how the repetition of certain words or verses becomes an integral part of the sacred text. The research results illustrate that at-tikrar filQur'an, repetition of sentences or verses, is divided into two types: tikrar al-lafdz . ditorial repetitio. and tikrar al-ma'nawi . epetition of meanin. In the Qur'an, seven maxims related to at-tikrar can be identified, each with a specific application that provides confirmation, glorification, or renewal of the previous The conclusion of this research shows that at-tikrar in the Al-Qur'an has a function as a tool for determining, glorifying, affirming and renewing previous meanings. Thus, the use of library research methods succeeded in uncovering the secrets of repetition in the Qur'an, providing deep insight into the importance of these repetitions in the message conveyed to Muslims. Keywords: Alqur'an. Tikrar. Repetition Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan PENDAHULUAN Al-QurAoan tidak hanya sebuah sumber ilmu, petunjuk dan inspirasi kebenaran yang tak pernah kering dan habis. Tetapi disaat yang sama. Al-QurAoan adalah sumber segala kebahagiaan Hanya saja ada sebuah persoalan rumit yang selalu menjadi sebab kita tidak pernah mendapatkan itu semua, karena keengganan kita untuk mengkaji untaian isinya yang diturunkan oleh Allah untuk kita semua. Banyak hal seakan masih misterius yang belum kita ketahui padahal Al-QurAoan senantiasa membuka diri untuk teliti, di analisis dan cermati maknanya. Salah satunya adalah persoalan lafal atau kalimat yang berulang-ulang dalam Al-QurAoan baik itu berupa kisah, hukum atau pernyataan lain. Kata at-tikrar ( A ) EEAadalah masdar dari kata kerja "A "EAyang merupakan rangkaian kata dari huruf AA-AA-AEA. Secara etimologi berarti mengulang atau mengembalikan sesuatu Adapun menurut istilah at-tikrar berarti "A " EEA O IAN ECO EIIOAmengulangi lafal atau yang sinonimnya untuk menetapkan . selain itu, ada juga yang memaknai at-tikrar dengan "A "E EO IOI amenyebutkan sesuatu dua kali berturut-turut atau penunjukan lafal terhadap sebuah makna secara berulang. Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan at-tikrar fil-QurAoan adalah pengulangan redaksi kalimat atau ayat dalam al-QurAoan dua kali atau lebih, baik itu terjadi pada lafalnya ataupun maknanya dengan tujuan dan alasan tertentu. METODE PENELITIAN Dalam mengungkap rahasia pengulangan dalam Al-Qur'an, metode penelitian kepustakaan menjadi landasan utama. Pendekatan ini memungkinkan para peneliti untuk menggali informasi dari berbagai sumber teks dan literatur terkait. Pertama, melalui analisis terperinci terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang berulang-ulang, peneliti dapat menggunakan kajian kepustakaan untuk menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya. Dengan membandingkan berbagai komentar, tafsir, dan riset terdahulu, peneliti dapat memperluas pemahaman tentang motif pengulangan dalam teks suci tersebut, mengidentifikasi pola, dan menafsirkan pesan yang terkandung di balik pengulangan-pengulangan tersebut. Kedua, metode penelitian kepustakaan juga memungkinkan peneliti untuk menyelidiki konteks sejarah, budaya, dan linguistik Al-Qur'an. Dengan meneliti literatur klasik dan kontemporer yang membahas bahasa Arab pada masa Nabi Muhammad SAW serta perkembangan teks Al-Qur'an, peneliti dapat mengungkap bagaimana pengulangan kata-kata atau ayat-ayat tertentu menjadi bagian integral dalam komposisi Al-Qur'an. Pendekatan ini memberikan wawasan mendalam tentang makna dan tujuan dari pengulangan-pengulangan yang terdapat dalam teks suci bagi umat Muslim. Dengan demikian, metode penelitian kepustakaan menjadi sarana yang efektif dalam memecahkan rahasia pengulangan dalam Al-Qur'an Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan HASIL DAN PEMBAHASAN Apa kaitannya dengan bahasan ilmu Alquran. Apakah terdapat pola pengulangan dalam Al-QurAoan atau tidak, para ulama berselisih Bagi mereka yang menafikan, atas dalih apapun pengulangan kata itu tetap saja tidak berfaedah, hal ini tentunya tidak berlaku untuk Kalam Allah, dan kalaupun toh pengulangan kata didapati dalam Al-QurAoan, makna kata tersebut berbeda. Sedangkan sebagian ulama yang lain, berpendapat keberadaan pola pengulangan tidak dapat dipungkiri. Kenyataannya, justru pola tikrar yang ada dalam Al-QuAoran menunjukkan indahnya susunan bahasa yang dimiliki Al-Quran. Sebagai dalil, sejumlah ulama telah mendata beberapa kata yang diulang-ulang dalam Al-QurAoan, seperti imam Suyuthi. Ibnu Jauzy. Kurmani dan lain sebagainya, bahkan dari mereka ada yang menggolongkan pola ini ke dalam ayat-ayat samar . Sebagai contoh, salah satu rujukan masa kini yang bisa digunakan untuk meneliti sejumlah kata yang diulang-ulang dalam Al-QurAoan ialah Al-MuAojam Al-Mufahras Li Al-Tarakib Al-Musyabihah Lafdzon Fil QurAoanil Karim (Kamus Susunan Kata-Kata Yang Serupa Dalam Al-QurAoa. , karangan Dr. Muhammad Zaki Muhammad Khidir. Dosen di Universitas Yordania. Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, bahasan kali ini bukanlah untuk menjelaskan ada atau tidaknya tikrar apalagi terlibat jauh dalam perdebatan, melainkan mempelajari beberepa pola pengulangan dan makna yang terkandung didalamnya. Faedah Pengulangan Dalam Al Quran As-Suyuthi Dalam bukunya al-Itqan Fi AoUlum Al-QurAoan, menjelaskan fungsi dari penggunaan tikrar dalam al-QurAoan. Diantara fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut : Sebagai taqrir . Dikatakan, ucapan jika terulang berfungsi menetapkan (A) EE aE aI uaa aE aca a aCa ac aA. Diketahui bahwa Allah swt. telah memperingatkan manusia dengan mengulang-ulang kisah nabi dan umat terdahulu, nikmat dan azab, begitu juga janji dan ancaman. Maka pengulangan ini menjadi satu ketetapan yang berlaku. Ini sejalan dengan fungsi dasar dari kaedah tikrar bahwa setiap perkataan yang terulang merupakan tiqrar . atas hal sebagai contoh Allah berfirman Q. al-AnAoam . : 19: a aca AaI IA aO Ca eE aE a e aN a Ca eE uaacIa aN aO uaEaNU aO a U aOuaIacaI aaOU aaIac a e aaEO aIA e AacEE aaEaU A a a ca AaIac aE eI Eaa e aN aO aI A Artinya: AuApakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui. " Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan . engan Alla. Ay. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Pengulangan jawaban dalam ayat tersebut merupakan penetapan kebenaran tidak adanya Tuhan. selain Allah. Sebagai TaAokid . dan menuntut perhatian lebih (A) e aE eOU aO a aOa a Ec eI a eO aNA Pembicaraan yang diulang mengandung unsur penegasan atau penekanan, bahkan menurut imam as-Suyuthi penekanan dengan menggunakan pola tikrar setingkat lebih kuat dibanding dengan bentuk taAokid. Hal ini karena tikrar terkadang mengulang lafal yang sama, sehingga makna yang dimaksud lebih mengena. Selain itu. Agar pembicaraan seseorang dapat diperhatikan secara maksimal maka dipakailah pengulangan tikrar agar si obyek yang ditemani berbicara memberikan perhatian lebih atas pembicaraan tadi. Contoh firman Allah dalam Q. al-MuAomin . 38-39: a ca a aAOCA a a a a a )39( AeEaOaa EacIeOa aIaU aOua acI eEa a aN aO a a Ee aCa aA e aA) aaO Ca eOaI uaacacIa aN aNA38( AE a aA ca AOEA a AE EO a aI aI aaO Ca eOI acaOI eaN aE eI aA Artinya : AuOrang yang beriman itu berkata . AoHai kaumku, ikutilah Aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku. Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan . dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekalAy. Pengulangan kata Auya qaumiAy pada kedua ayat diatas yang maknanya saling berkaitan, berfungsi untuk memperjelas dan memperkuat peringatan yang terkandung dalam ayat tersebut. Pembaruan terhadap penyampaian yang telah lalu (A)Eae aOa aEa eN a aNA. Jika ditakutkan poin-poin yang ingin disampaikan hilang atau dilupakan akibat terlalu panjang dan lebarnya pembicaraan yang berlalu maka, diulangilah untuk kedua kalinya guna menyegarkan kembali ingatan para pendengar. Sebagai contoh, dalam AlQurAoan Allah berfirman dalam Q. al-Baqarah . : 89 : a ca a a AacEEa IA a a a AOEa acI NI EaA AOI aE aA aO AaEa acI aa aN eI aI aO aE aO aaNA U a e aa a a a a ca A I eI eIA a AA UC E aI aI a aN eI aOaEIaO I eI Ca e aE Oa ea eA aO aI aEaO EA aca aEaIaA AOIA a AacEE aEaO Ee aEA aA Artinya : AuDan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Padahal sebelumnya mereka biasa memohon . edatangan Nab. untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar ituAy. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Pengulangan kata A AEI NIApada ayat diatas untuk mengingatkan mengembalikan bahasan pada inti pembicaraan yang sebelumnya terpisah oleh penjelasan Sebagai taAozhim . enggambarkan agung dan pentingnya satu perkar. Mengenai hal ini, telah dipaparkan dalam kaidah bahwa salah satu fungsi dari tikrar atau pengulangan adalah untuk menggambarkan besarnya hal yang dimaksud, sebagaimana pemberitaan tentang hari kiamat dalam QS. al-QariAoah . : 1-3: aAEe aC a aa * aI Ee aC a aa * aOaI ea a aE aI * Ee aC a aA Jenis Pola Tikrar. Fungsi Dan Maknanya. Jika dicermati bentuk tikrar dalam Al-QurAoan bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu: pertama, pengulangan hanya terbatas pada makna saja, sedangkan lafalnya berbeda, kedua, tikrar pada kedua-duanya yaitu lafal dan makna sekaligus. Bentuk yang pertama seperti pengulangan kisah-kisah nabi, ayat-ayat yang menggambarkan siksa dan nikmat di akherat, hari kebangkitan, dan ayat-ayat yang mengisahkan penciptaan langit dan bumi dan alam Meski masih menceritakan satu hal, lafal pada sejumlah ayat tersebut tidak sama Barangkali akan muncul pertanyaan, jika ayat-ayat tersebut bisa dipahami hanya dengan sekali, mengapa harus diulang-ulang berapa kali? Justru disinilah menariknya. Ibnu Qutaibah menjelaskan Al-QurAoan diturunkan dalam kurun waktu yang tidak singkat, tentunya keberagamaan kabilah-kbilah yang ada di komunitas arab waktu itu cukuplah banyak, sehingga jika ayat tersebut tidak diulang-ulang, bisa jadi kisah-kisah teladan nabi Musa As. Isa As. Nuh As. Luth As dan sebagainya, hanya akan diterima oleh kaum tertentu, jadi dengan pengulangan tersebut setiap kaum dengan mudah memperolehnya, sehingga makna yang hendak disampaikan bisa ditangkap oleh semua kalangan. Kemudian bentuk tikrar yang kedua dalam Al-QurAoan dapat dibagi menjadi dua, pertama, apabila pengulangan kata masih terdapat dalam satu ayat, seperti ayat : Auhaihaata-haihaata lima tuuAoadunAy Q. al- Mukminun . 36 dan yang kedua, tikrar yang lafalnya diulang pada ayat yang berbeda dan terpisah. Seperti n AEaeO aIA ca AE aaEaaO Ee a aOe aA a caO acI aA Artinya : AuDan Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Ay (QS. aS-SyuAoarao . : . Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Kalimat ini diulangi sebanyak 8 kali dalam surat yang sama yaitu aS-SyuAoaraa. Selain contoh pengulangan dalam satu surat di atas, terdapat lafal yang diulang-ulang dalam surat yang berbeda-beda. Lafal ini akan kita dapati di tiga surat yang saling terpisah, yaitu Q. AnNaml . : 71. Yaasin . : 43, dan Q. Al Mulk . : 25. Pembagian Tikrar : Tikrar . dibagi menjadi dua macam : Tikrar lafdzi, yaitu pengulangan redaksi ayat Al-QurAoan baik berupa huruf-hurufnya, kata ataupun redaksi kalimatnya dan ayatnya. Contoh pengulangan huruf. Pengulangan huruf pada akhir beberapa Q. al-NaziAoat . : 6-14:. a sa a ca AE a a * ae NA * aAeEa e AOO aI a ca a a AA aaN a aU * Oa aCOEaO aI aIac Ea aI eaA a AOa eOaI a e aA U aAEa * CaEA a eAO Oa eOaI aO aAU * aA aa a a AEA a AU * auacacIa aNO aU OA a a ea a aEIac aa UI aaIU * CaEaO aEA *aANaA ca A aU * aua aN eI a a ae a a AE uU aEacU aA Contoh pengulangan kata, dapat dilihat pada Q. al-Fajr . : 21-22: * aUcA a aAE aOEe aIEA a caA a UcE a UcE * aO aa aA a AaEacE ua a a acE eE eaA a aUcA a AEA Contoh pengulangan ayat terdapat pada Q. ar-Rahman: a AaOA a a AaE aa aE aI a aE a aa aIA Ayat tersebut berulang kurang lebih 30 kali dalam surah tersebut. Tikrar maAonawi, yaitu pengulangan redaksi ayat di dalam Al-QurAoan yang pengulangannya lebih dititikberatkan kepada makna atau maksud dan tujuan pengulangan Sebagai contoh Q. al-Baqarah . : 238: a ca aO EaOA aa a a aAEAacEa EeOaO OCA AIOA a AOIO acacEE CaIA a a e a ca AEAEa aO aOA As-Shalat al-wustha yang disebut dalam ayat di atas adalah pengulangan makna dari kata al-shalawat Adapun penyebutannya sebagai penekanan atas perintah memeliharanya. Selain seperti contoh diatas, bentuk tikrar seperti ini biasanya dapat dilihat ketika Al-QurAoan bercerita tentang kisah-kisah umat terdahulu, menggambarkan azab dan nikmat, janji dan ancaman dan lain Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Kaidah-Kaidah Tikrar Dalam QurAoan. Ada beberapa kaidah yang berkaitan dengan at-tikrar fi al-QurAoan, sebagai berikut: Kaidah Pertama: a ACa e O a EaEe Ea A Aac IEa aEa aCA e aa a a a (Terkadang adanya pengulangan karena banyaknya hal yang berkaitan dengan maksud yang ingin disampaika. Adanya pengulangan beberapa ayat Al-QurAoan disurah yang berbeda menimbulkan pertanyaan dibenak para ilmuan sekaligus bahan perdebatan dikalangan mereka. Hal ini bertolak belakang dari realitas metode Al-QurAoan sendiri yang dalam penjelasannya terkesan singkat dan padat dalam mendeskripsikan sesuatu. Oleh karena itu. Al-QurAoan oleh sementara orang yang kurang memahami Al-QurAoan dinilai kacau dalam Namun pertanyaan ini telah dijawab oleh para ilmuan Islam, bahwa bentuk pengulangan dalam Al-QurAoan adalah bukan hal yang sia-sia dan tidak memiliki arti. Bahkan menurut mereka setiap lafal yang berulang tadi memiliki kaitan erat dengan lafal sebelumnya. Sebagai contoh ayat-ayat dalam Q. ar-Rahman . : 22-27: a acEaI * a a A aIeI aN aI EEac eEaa aOEe aI e a aI * a AaO aaE aA e aO aaE a aa aE aI a aE a aa aI * aOEaNA e A aA Eea e a aeA a AeEaaO a Ee aIeI a aA a AaOeaA s a aEI a aE aa aI * aE acE II EaO N AA a AeEaacE aE OA a AeE eEaaI * a AaO aaE a aa aE aI a aE a aa aIA a aAI * aOOae aCO aO eNa aA ae a e a a e AE aOA a a Artinya: AuDari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang Tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?. Semua yang ada di bumi itu akan dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan ?Ay. Dalam surah di atas terdapat ayat yang berulang lebih dari 30 kali yang kesemuanya menuntut adanya tikrar dan pernyataan rasa syukur manusia atas berbagai nikmat Allah. Jika dilihat, tiap pengulangan ayat ini didahului dengan penjelasan berbagai jenis nikmat yang Allah berikan kepada hambanya . jenis nikmat inipun berbeda-beda, maka setiap pengulangan ayat yang dimaksud, berkaitan erat dengan satu jenis nikmat. Dan ketika ayat tersebut berulang kembali, maka kembalinya kepada nikmat lain yang disebut Inilah yang dimaksud oleh kaidah, bahwa terkadang pengulangan lafal karena banyaknya hal yang berkaitan dengannya. Contoh lain bisa dilihat dalam Q. al-Mursalat . : 19, 24: Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan a a sa AIOA a aOOe UE Oa eOaI e aI aEA Dalam Surah di atas lafal A OOE OOI EEIEOIAberulang sampai sepuluh -kali. Hal itu dikarenakan Allah swt. menyebutkan kisah yang berbeda pula. Setiap kisah diikuti oleh lafal tersebut yang menunjukkan bahwa celaan itu dimaksudkan kepada orang-orang yang berkaitan dengan kisah sebelumnya. Kaidah Kedua: AIE OC aA E NEE E IO IOOIA AuTidak terjadi pengulangan antara dua hal yang berdekatan dalam kitabullahAy. Maksud dari kata AumutajawirainAy dalam kaidah ini adalah pengulangan ayat dengan lafal dan makna yang sama tanpa fashil . di antara keduanya. Sebagai contoh lafal AubasmallahAy dengan Q. Al-Fatihah . : 3 : AEaeO oaaIA AEA ca Ae aIA ca Ibn Jarir mengatakan bahwa kaidah ini justru nerupakan hujjah terhadap orang-orang yang berpendapat bahwa basmalah merupakan bagian dari surah al-Fatihah, karena jika demikian, maka dalam Al-QurAoan terjadi pengulangan ayat dengan lafal dan makna yang sama tanpa adanya pemisah yang maknanya dengan makna kedua ayat yang berulang Oleh karena itu, jika dikatakan bahwa ayat 2 dari surah Al-Fatihah : ao a a aa AIOA Aa ea eI a acEE aA a e A Ee EaIA Jika terdapat fashl . diantara kedua ayat tersebut, maka hal ini dibantah oleh para ahli taAowil dengan alasan bahwa ayat AuarrahmanirrahimAy adalah ayat yang diakhirkan lafalnya tapi ditaqdimkan maknanya. Makna secara utuhnya adalah : AeEI NEE EeI EOI E IEIO IEE OOI EOIA Dari contoh diatas, maka benarlah kaidah ini, bahwa dalam Al-QurAoan tidak terdapat pengulangan yang saling berdekatan. Kaidah Ketiga : a a a a AIE aIA a AaEa aaOaEA a ea A a AIO eEaEe aA uaacaE aE eacEAA AuTidak ada perbedaan lafal kecuali adanya perbedaan maknaAy. Contohnya firman Allah Swt. dalam Q. al-Kafirun/109: 2-4, ao ao ao AaEe a ea a aI a ea a eO aI aOaEe aIea eI a a eO aI aIe a ea a aOaEe a aaI aa U acI aa e acecA Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Artinya : AuAku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembahAy. Lafal aA E a eaa aI a eaaOIAsepintas tidak berdeda dengan A ae a eIA a A aa aIA a a AOE aIA, a tapi pada hakikatnya memiliki perbedaan makna yang mendalam. Lafal aA E a eaa aI a eaaOIAyang menggunakan betuk mudhariAo mengandung arti bahwa Nabi Muhammad saw. tidak menyembah berhala pada waktu tersebut dan akan datang. Adapun lafal A ae a eIA a A aa aIA a a A aOE aIAdengan shigah madhi mengandung penegasan fiAoil pada waktu lampau. Seperti telah diketahui, bahwa sebelum kedatangan Islam kaum musyrikin menganut paham politheisme atau menyembah banyak Tuhan. Oleh karena itu lafal ini menegaskan Nabi Muhammad menyembah berhala-berhala yang telah lebih dulu mereka sembah. Itulah yang dimaksud oleh kaidah ini, tidak ada perbedaan lafal kecuali terdapat perbedaan makna didalamnya. Kedua lafal ini mempertegas unsur kemustahilan Ae dulu, selalu dan selamanya Ae Nabi Muhammad tidak akan menyembah Tuhan kaum Quraiys . Penyebutan salah satu lafal saja tidak bisa mencakup semua makna tersebut. Disisi lain, ungkapan dengan bentuk A I NOAE NAlebih tinggi maknanya jika dibandingkan dengan ungkapan AIOAENA. Karena ungkapan yang pertama betul-betul menegaskan adanya kemungkinan terjadinya fiAoil atau perbuatan, berbeda dengan ungkapan yang kedua. Kaidah Keempat: a a a a aA a aE EacOa aA aE e eA aN aI ee aU EaNA a AEaA AuKaum Arab senantiasa mengulangi sesuatu dalam bentuk pertanyaan untuk menunjukan mustahil terjadinya hal tersebutAy. Sudah menjadi kebiasaan di kalangan bangsa Arab dalam menyampaikan suatu hal yang mustahil atau kemungkinan kecil akan terjadi pada diri seseorang. Maka bangsa Arab mempergunakan bentuk (A )uANIApertanyaan tanpa menyebutkan maksudnya secara Maka dipergunakanlah pengulangan guna menolak dan menjauhkan terjadinya hal itu. Contohnya jika si-A kecil kemungkinan atau mustahil untuk pergi berperang, maka dikatakan kepadanya (A)I N I NA. Pengulangan kalimat dalam bentuk istifham pada contoh tersebut untuk menunjukkan mustahil terjadinya fiAoil dari faAoil. Hal ini seperti apa yang telah dicontohkan dalam Q. al-MuAominun . : 35: AaOaa a aE eI aIac aE eI uaa aI eacI aOaEeI a eI aa Ua aO aa UI aIac aE eI aIaea aO aIA Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Artinya : AuApakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan . ari kuburm. ?Ay Kalimat "A "OEI IEIAkemudian diikuti oleh kalimat `"A "IEI IOIAmengandung arti mustahilnya kebangkitan setelah kematian. Ayat ini merupakan jawaban dari pengingkaran orang-orang kafir terhadap adanya hari akhir. Kaidah Kelima. AEaEae a Oa a acE aEaO aeE eaIaA Au Pengulangan menunjukkan perhatian atas hal tersebutAy. Sudah menjadi hal yang maklum, bahwa sesuatu yang penting sering disebut-sebut bahkan ditegaskan berulang kali. Ini berarti setiap hal yang mengalami pengulangan berarti memiliki nilai tambah hingga membuatnya diperhatikan dan terus disebut-sebut. Sebagai illustrasi, buku yang bermutu dari segi penyampaian isi akan digemari dan diperhatikan para pembaca hingga berpengaruh pada jumlah pengulangan dalam pencetakannya guna memenuhi kebutuhan dan tuntutan pembaca. Sifat-sifat Allah swt yang kerap berulang kali dalam Al-QurAoan pada setiap surah menegaskan pentingnya untuk mengetahui dan kewajiban mengimaninya. Begitu juga dengan berbagai kisah umat terdahulu sebagai contoh yang sarat pesan dan hikmah. Sebagai contoh dari aplikasi kaedah ini Q. Al-NabaAo . :1-5: Aa acI Oaa aaEaO aI * a aI EIacaau Ee a aO aI * Eac aO aN eI Aa aON aIaeaEa aAO aI * aE acacE aOa eEa aIO aI * aac aE acacE aOa eEa aIO aIA Artinya : AuTentang apakah mereka saling bertanya-tanya?. Tentang berita yang besar. yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak kelak mereka akan Kemudian sekali-kali tidak. kelak mereka mengetahui. Ay Surah diatas bercerita tentang hari kiamat yang waktu terjadinya diperdebatkan banyak Dalam surah tersebut lafal A EaE OEIOIAdiulang dua kali menunjukkan bahwa hal yang diperdebatkan tersebut benar-benar tidak akan pernah bisa diketahui tepatnya. Kaedah Keenam: a A acEA,AacEa uaa a aEac Eac EaO EacacA AA Ee aI e a aA a a a e a ea a AEIA AuJika hal yang berbentuk nakirah . mum/tidak diketahu. mengalami pengulangan maka ia menunjukkan berbilang, berbeda dengan hal yang bentuknya maAorifah . husus/diketahu. Ay. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Dalam kaedah bahasa arab apabila isim . ata bend. disebut dua kali atau berulang , maka dalam hal ini ada empat kemungkinan, yaitu: . keduanya adalah isim nakirah, . keduanya ism maAorifah, . pertama ism nakirah dan kedua ism maAorifah, serta . pertama ism maAorifah dan kedua ism nakirah. Untuk jenis yang disebut pertama, . edua-duanya isim nakira. maka isim kedua bukanlah yang pertama, dengan kata lain maksudnya menunjukkan pada hal yang berbeda. Contohnya bisa dilihat dalam Q. al-Rum . : 54, a ca s a s A eA s A eA A e UA aO aeO aU aOeEa aC aI Oa aa aOaN aOA a AA Ca acOU aac a a aE aI eI a e Ca acOA a AA aac a a aE aI eI a eA a AacEEa EacO aEa aC aE eI aI eIA AOI Ee aC a aOA a AEe aEA Artinya : AuAllah. Dialah yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan . sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan . sesudah kuat itu lemah . dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Maha mengetahui lagi Maha KuasaAy. Lafal A AApada ayat diatas terulang tiga kali dalam bentuk nakirah yang menurut kaedah bila terdapat dua ism al-nakirah yang terulang dua kali maka yang kedua pada hakekatnya bukanlah yang pertama. Dengan demikian, ketiga lafal dhaAoif memiliki makna yang berbeda-beda. Menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya al-JamiAo li al-Ahkami QurAoan, arti A AApertama adalah terbentuknya manusia dari A IA OAAsperma yang lemah dan hina, kemudian beranjak ke fase kedua yaitu AE EOA AO EAOE OEAA. eadaan manusia yang lemah pada masa awal kelahira. , kemudian ditutup dengan fase ketiga yaitu ( AE EOA AOA AAu )ENI OEOOAkeadaan lemah saat usia senja dan jompoAy. Untuk jenis yang disebutkan kedua, . edua-duanya isim maAorifa. sebaliknya, bahwa yang kedua pada hakekatnya adalah yang pertama kecuali terdapat qari>nah yang menghendaki makna selainnya. Seperti firman Allah dalam Q. al-Fatihah . : 67: a ca a a a a AA AIOA a A aEaeO aN eI a aeO Ee aI eA a AO aEaeO aN eI aOaE EacEA a AOI aIe a eIA a AeN aaI EAa a Ee aI eaC aOI * Aa a EA Artihnya : AuTunjukilah Kami jalan yang lurus, . jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka. mereka yang dimurkai dan bukan . ula jala. mereka yang sesatAy. Lafal shira. yang terdapat pada ayat di atas terulang dua kali, pertama dalam bentuk ism al-maAorifah yang ditandai dengan memberi kata sandang alif lam A EAAdan kedua Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan dalam bentuk maAorifah juga, yang ditandai dengan susunan idlafah AA EOIA. isim yang disebut kedua sama dengan yang pertama. Jenis pertama dan kedua inilah yang dimaksud oleh kaidah diatas. Adapun jenis ketiga, . sm al-nakirah pertama dan al-maAorifah kedu. dalam hal ini keduanya memiliki arti yang sama, sebagai contoh firman Allah dalam Q. al-Muzammil . 15-16 : Aa U aOa UOacEA a AE aA ca AAO Aae a eO aIA e Aa e aaINa A a AOE a a Aua acaI ea aEeIa uaEaeO aE eI a a UOaE aN U aEaeO aE eI aE aI ea aEeIa uaaE A e a eO aI a a UOaE * Aa aA Artinya : AuSesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu . ai orang kafir Meka. seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus . seorang Rasul kepada Fir'aun. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa Dia dengan siksaan yang beratAy. Menurut M. Quraish Shihab, dalam ayat ini Allah memberitahukan kepada kaum Quraish bahwa ia telah mengutus Muhammad untuk menjadi saksi atas mereka sebagaimana Allah mengutus kepada FirAoaun seorang rasul yaitu nabi Musa as. Kemudian mereka ingkar dan mendurhakai nabi Musa as. dan menjadikan patung sapi menjadi sembahannya. Berdasarkan kaedah yang ketiga ini, maka yang dimaksud dengan rasul pada penyebutan kedua adalah sama dengan yang pertama, yaitu nabi Jadi makna nabi pada ayat 15 yang diutus kepada FirAoaun adalah juga nabi yang diingkarinya pada ayat setelahnya. Sementara itu untuk jenis yang disebutkan terakhir . ertama isim maAorifah dan kedua isim nakira. maka kaidah yang berlaku tergantung kepada indikatornya . Olehnya itu ia terbagi ke dalam dua : Pertama, dakalanya indikator menunjukkan bahwa keduanya memiliki makna yang Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh firman Allah dalam Q. ar-Rum . AE aEIaO Oa eAa aEO aIA ca AOIA a A s aE aEA a Aa Oa eC aI Ee aI e aaIO aI aI EaO a e aeO aA a AEA a AaOOa eOaI a aCA Artinya : AuDan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa. Mereka tidak berdiam . alam kubu. melainkan sesaat . Demikianlah mereka selalu dipalingkan . ari kebenara. Ay. Lafal (A )EApada ayat diatas terulang sebanyak dua kali, yang pertama menunjukkan isim maAorifah sedang kedua menunjukkan isim nakirah. Dalam kasus ini lafal yang disebutkan kedua pada hakikatnya bukanlah yang pertama. Pengertian ini dapat diketahui dari siyaqul kalam dimana yang pertama berarti A( OOI EAhari kiama. sedangkan yang kedua lebih terkait dengan waktu. Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan Kedua, di sisi lain ada indikator yang menyatakan bahwa keduanya adalah sama, contohnya firman Allah dalam Q. az-Zumar . : 27-28: a AaeIa EaEIA Aac aA aN a Ee aC ea aI aI eI aE aE aIa sE Ea aEac aN eI Oaa a acE aO aI * Ca ea UaI aOUc a aeO aO a aO s Ea aEac aN eI Oaac aCO aIA a AaOEa aC eA Artinya : AuSesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam al-QurAoan ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran. al-QurAoan dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan . i dalamny. supaya mereka bertakwaAy Lafalh (A )ECIApada ayat di atas juga terulang sebanyak dua kali, yaitu pertama dalam bentuk ism al-ma`rifah dan yang kedua dalam bentuk isim nakirah. Dalam kasus ini yang dimaksud dengan al-QurAoan yang disebut kedua, hakikatnya sama dengan AualQurAoanAy yang disebutkan pertama. Kaedah Ketujuh: A E OeE EA E EO EAIA AuJika ketetapan dan jawaban . bergabung dalam satu lafal maka hal itu menunjukkan keagungan . hal tersebutAy. Maksud dari kaidah diatas adalah kembali kepada lafal yang dimaksud, jika terjadi pengulangan dengan lafal yang sama penyebutan yang pertama sebagai satu ketetapan, sedang penyebutan kedua sebagai jawaban . dari ketetapan tersebut, maka itu menunjukkan pentingnya hal yang dimaksud. Sebagai contoh QS. al-Haqqah . :1-2: e AeEaCaca * aIA aAeEaCacA Artinya : AuHari Kiamat, apakah hari Kiamat itu ?Ay. atau Q. al-WaqiAoah . : 27: a A EeOa aIA a A EeOa aIA AIOA e AIO aI A e AaOA a a aA a a aA Artinya : AuDan golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan ituAy. Dalam . adalah lafal yang sama. Kata Au A Ay ECAdiulang dan bukan menggunakan lafal Au AAy INO A, pengulangan lafal mubtadaAo sebagai jawaban atau keterangan seperti ini, adalah sebagai pengagungan dan menggambarkan besarnya hal Al-Muhith: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Hadits Vol. 2 No. Januari - Juni 2023 Mufham Amin. Akhmad Rusydi: Rahasia Pengulangan dalam Al-QurAoan KESIMPULAN Yang dimaksud dengan at-tikrar fil-QurAoan adalah pengulangan redaksi kalimat atau ayat dalam al-QurAoan dua kali atau lebih, baik itu terjadi pada lafalnya ataupun maknanya dengan tujuan dan alasan tertentu. Al-Tikrar Fil-QurAoan terbagi menjadi dua macam yaitu tikrar al-lafdz dan tikrar al-maAonawi. Adapun kaidah yang menyangkut at-tikrar dalam sebanyak 7 kaidah, masing-masing dengan aplikasi yang dapat ditemukan dalam Al-QurAoan. Fungsi al-tikrar dalam al-QurAoan di antaranya sebagai taqrir . , taAozhim . , taAokid . dan tajdid terhadap sebelumnya. DAFTAR PUSTAKA