PUBLIPRENEUR POLIMEDIA: JURNAL ILMIAH JURUSAN PENERBITAN POLITEKNIK NEGERI MEDIA KREATIF Vol. No. July 2020 Submitted: 2 July 2020 Revised: 15 July 2020 Accepted: 30 July 2020 MOVIE ANALYSIS WITH TERRORISM DEED USING ANALYSIS OF MOVIE TO SUPPORT STATE DEFENSE (FILM 22 MINUTES) Deddy Stevano H. Tobing Politeknik Negeri Media Kreatif E-mail: deddy. tobing@polimedia. ABSTRACT This research is a follow-up study using film analysis theory to support national defense developed by Tobing. Deddy . which emphasizes that films that are part of the mass media can be used to strengthen national One of the threats in national defense is terrorism. The 22 Minutes film is a docudrama-type film which reviews the terrorist acts that took place in the Tamrin area of Central Jakarta on January 14, 2016. The film illustrates how terrorist acts take their toll on the police and the general public. In the end, this film shows actions to combat terrorism by using all the attributes of the Indonesian National Police forces. Keyword:Movie. Defense. Police. Terorism ANALISA KONTEN FILM BERTEMA AKSI TERORISME MENGGUNAKAN ANALISA FILM UNTUK MENDUKUNG PERTAHANAN NEGARA (FILM 22 MENIT) ABSTRAK Penilitian ini merupakan penelitian lanjutan dengan menggunakan teori Analisa film untuk mendukung pertahanan negara yang dikembangkan oleh Tobing. Deddy . yang menekankan bahwa film yang merupakan bagian dari media massa dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan negara. Salah satu ancaman dalam pertahanan negara adalah aksi terorisme. Film 22 Menit merupakan film yang bertipe docudrama yang menreka ulang kejadian aksi terorisme yang terjadi di daerah Tamrin Jakarta Pusat pada tanggal 14 Januari 2016. Film ini menggambarkan bagaimana aksi terorisme mengambil korban dari pihak kepolisian dan masyarakat umum. Pada akhirnya film ini menampilkan aksi-aksi memerangi terorisme dengan menggunakan seluruh atribut Kepolisian Republik Indonesia. Kata kunci: Film. Pertahanan. Polisi. Terorisme PENDAHULUAN Film sebagai pendukung pertahanan negara merupakan suatu penilaian terhadap fungsi suatu film bahwa selain sebagai alat hiburan dan informasi, film juga bisa bermanfaat untuk kepentingan pertahanan. Film 22 Menit secara umum menceritakan kisah serangan aksi teror oleh kelompok teroris di Indonesia. Dalam film ini memang tidak dilibatkan Kementerian Pertahanan Tentara Nasional Indonesia melainkan kepolisian Republik Indonesia dalam menanggulangi aksi teror namun ancaman terorisme merupakan bagian Publipreneur Polimedia: Jurnal Ilmiah Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif Vol. No. July 2020 ancaman terhadap pertahanan negara seperti tercantum pada penjelasan umum umum di Undang-undang nomor 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara yan menyebutkan bahwa terorisme adalah salah satu wujud ancaman terhadap kedaulatan negara. Sementara itu terorisme juga dijelaskan dalam Undang-undang nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia bahwa terorisme merupakan bagian kejahatan internasional yang harus diberantas. Permasalahan Kepolisian Republik Indonesia dengan Tentara Nasional Indonesia ketika dilihat pada Undang-undang nomor 3 tahun 2002 tentang pertahanan negara pertahanan Indonesia yaitu sistem pertahanan yang bersifat semesta, sistem pertahanan yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Dengan pertahanan negara di Indonesia bisa melibatkan seluruh aspek-aspek yang dimiliki oleh Indonesia seperti juga Kepolisian Republik Indonesia. Hingga kini masih kerap terjadi aksi-aksi masyarakat(Isnanto, masih belum tuntasnya penyelesaian Konsep deradikalisasi belum dapat menjawab permasalahan ideologi islam radikal yang selama ini masih menjadi keutuhan negara. (Firmansyah, 2. menyampaikan bahwa permasalahan permasalahan dunia pasca perang Negara-negara negara gagal mengalami ancaman Ini menunjukkan betapa pentingnya berbagai upaya dalam melawan terorisme di dunia dan di Indonesia khususnya. Film 22 Menit adalah film yang menggambarkan kisah nyata ancaman terorisme sehingga dapat dikategorikan pertahanan dan masuk ketegori sebagai film yang berfungsi untuk mendukung pertahanan negara, baca Motion Picture (Fil. As Media for Supporting State Defense (Tobing, 2. Gambar: 22 Menit. Sumber Cineplex21. METODE PENELITIAN Analisa fungsi-fungsi film sebagai media untuk mendukung pertahanan negara Studi kasus ( Film 22 Meni. analisis konten. Penelitian penelitian terdahulu yang meyakini bahwa fungsi-fungsi dari film sebagai media untuk mendukung pertahanan negara, terdiri dari: . soft power, . propaganda, . komunikasi massa. e-ISSN 2723-6323 p-ISSN 2338-5049 Publipreneur Polimedia: Jurnal Ilmiah Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif Vol. No. July 2020 Softpower merupakan konsep diperkenalkan Josep Nye dari John F. Kennedy School of Government Harvard University. Menurut dia soft berbentuk daya tarik. Daya tarik tersebut bisa membuat pengaruh kepada masyarakat. Bentuk kekuatan ini bisa berbentuk nilai-nilai tertentu yang memikat masyarakat, bias melalui kebudayaan ataupun melalui kebijakan atau pun ideologi. (Su, 2010 p. menyampaikan bahwa penggunaan Soft power mulai gencar digunakan oleh industri film cina untuk merebut pengaruh di dunia melalui kekuatan yang tidak bersifat memaksa tetapi memikat melalui film. Propaganda dan film saling berkaitan dengan hubungan antara keduanya sebagai sebuah hubungan yang erat. Dimana propaganda adalah teknik untuk memanipulasi pikiran seseorang yang juga dapat digunakan dalam film yang juga sebagai sarana komunikasi massa. (Sastropoetro, 1991, . menyatakan bahwa film sebagai media untuk menyebarkan pesan penyebaran pesan menjadi lebih luas Definisi propaganda dapat dikatakan sebagai suatu penyebaran pesan yang di rencanakan secara seksama demi bertujuan mengubah sikap, pandangan serta tingkah laku penerima pesan Sedangkan Komunikasi massa secara definisi adalah komunikasi yang ditujukan kepada khalayak banyak (Sastropoetro, 1991, p. Film adalah salah satu media yang dapat di pertonton kan kepada penonton dengan jumlah yang banyak maka dari itu film termasuk kedalam kategori media massa. Dengan film maka dapat terjadi proses komunikasi kepada Suatu komunikasi da. t dibagi menjadi tiga Tahap pertama: sumber asal pesan. Tahap terdapat pada film, makna yang dipahami oleh penonton. Tahap ketiga: penonton sebagai penerima pesan, yang menonton film tersebut kemudian memiliki pemahaman terhadap apa yang ia Didalam pengertian komunikasi massa maka terdapat berbagai tema seperti tema bersifat dan/atau (Turrow, 2009, p. Selain itu seseorang untuk menkonsumsi media massa yaitu: Enjoyment: Penggunaan media Misalnya hiburan atau melepaskan stress. Companionship: Penggunaan media massa sebagai agar tidak merasakan kesepian. Surveilance: Penggunaan media mengikuti perkembangan terbaru. Interpretation: Penggunaan media massa untuk menginterpretasi, untuk mengetahui pandangan Contoh melalui media massa untuk mendapatkan penjelasan terkait suatu peristiwa. Konten analisis dikutip dari Hsiu-Fang dan Shannon . dan di (Wahyuni, 2012 p. Analisis dari rentang waktu kejadian atau potongan waktu tertentu di film tersebut. Penjelasan arti atau makna dan kemudian mengelompokkan dalam e-ISSN 2723-6323 p-ISSN 2338-5049 Publipreneur Polimedia: Jurnal Ilmiah Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif Vol. No. July 2020 kategori-kategori tertentu. Penjelasan mendetail dari hal-hal yang muncul di film tersebut dan bisa menguatkan arti atau makna. Semua Sehingga potonganpotongan film yang memiliki makna berbeda beda terkumpul dalam kategori yang berbeda beda. Tidak kemungkinan bahwa potongan film pengelompokan kategori yang berbeda. Analisa film dipandang sangat perlu terutama untuk mengamati kebudayaan di dunia yang semakin (Devadoss & Cromley, 2018. melihat bahwa mengartikan sebuah film merupakan cara membuka tabir ide yang terletak dalam isi film tersebut yang member makna lebih masyarakat luas maupun suasana politik di masyarakat. dengan Kepolisian Republik Indonesia (Polr. (Ramadhani, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Ardina Rasti . Dessy Gambar: Film 22 Menit (Andika Putra. Berkat kerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia maka film ini menampilkan perwujudan seorang polisi yang otentik dengan polisi dari Polri seperti pakaian, pangkat, peralatan, kendaraan dsb. Film disutradarai oleh Eugene Panji dan Myrna Paramita. Para pemeran dalam film ini diantaranya adalah: Ario Bayu . AKBP Ardi Ade Firman Hakim . Firman Film 22 menit merupakan film fiksi yang menceritakan kisah berdasarkan kejadian kasus penyerangan teroris di Jakarta pada tahun 2016 yang dikenal sebagai bom Thamrin. Pada saat itu tepatnya pada tanggal 14 Januari 2016 sekelompok orang melakukan aksi terror di wilayah Ibukota Jakarta tepatnya di gerai kopi Starbucks dan pos polisi yang berlokasi di Jalan Thamrin Kelurahan Kebon Sirih. Kecamatan Menteng Kota Jakarta Pusat. Kisah serangan ini kemudian di film kan yang tayang pertama kali di bioskop di Indonesia pada tanggal 17 Juli 2018. Pembuatan detail dalam produksi film ini juga berkerja sama Ence Bagus . Anas Fanny Fadillah . Hasan Mathias Muchus . Kapolda Metro Jaya Khiva Iskak . Kompol Arya Taskya Namya . Sinta Ajeng Kartika . Tania Hana Malasan . Mitha Totos Rasiti . Bripda Indra Hans deKraker . John Vincent Rompies . Penyiar radio e-ISSN 2723-6323 p-ISSN 2338-5049 Publipreneur Polimedia: Jurnal Ilmiah Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif Vol. No. July 2020 Selain itu pada film ini juga dihadiri oleh para pejabat Polri seperti Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian dan Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Khrisna murti sehingga film ini member kesan bahwa koordinasi dengan Polri sangatlah erat dalam proses produksi film ini. karakter personil kepolisian yang memiliki karakter terpuji. Hal ini ditampilkan sebagai pribadi yang memperhatikan keluarganya dengan baik seperti menyayangi anak dan istri. Aspek Soft power pada film 22 Menit Aspek Softpower pada film 22 menit terlihat pada ilustrasi kebudayaan masyarakat Indonesia khususnya penduduk kota Jakarta yang menggambarkan penduduk ibukota Indonesia. Selain itu film ini juga sangat menonjolkan kebudayaan yang menjadi ciri jatidiri Kepolisian Republik Indonesia. Beberapa hal tersebut dapat dilihat pada beberapa adegan dalam film ini: Kepolisian Republik Indonesia yang Didalam perkembangan terkini dari Kepolisian Republik Indonesia. Peralatan yang terbaru seperti senjata, kendaraan, dan perlengkapan lainnya. Selain itu diperlihatkan juga koordinasi yang terstruktur dalam penanggulangan aksi Gambar: Karakter personil Kepolisian Republik Indonesia yang terpuji (Panji. Paramita, ibi. Aspek Propaganda dalam film 22 Menit Aspek propaganda dalam film ini yang dibahas ini adalah propaganda putih. Artinya pesan yang disampaikan dalam film ini berdasarkan fakta sebenarnya yang tujuannya untuk mendukung situasi yang lebih aman dan tentram pada kehidupan Pada umumnya pesan yang disampaikan terkait terorisme Situasitidakaman yang disebabkan oleh aksiterorisme: Dalam film ini ditampilkan gambaran korban-korban jiwa dalam aksi terorisme baik dari kalangan masyarakat sipil, aparat kepolisian mau pun warga negara asing. Hal ini tentunya menggambarkan bagaimana menimbulkan korban materil maupun juga korban jiwa sehingga Nampak sekali hal-hal negative yang muncul akibat para pelaku terorisme. Gambar: Kepolisian Republik Indonesia yang modern (Panji. Paramita, 2. Karakter personil Kepolisian Republik Indonesia yang terpuji: Didalam film ini menampilkan e-ISSN 2723-6323 p-ISSN 2338-5049 Publipreneur Polimedia: Jurnal Ilmiah Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif Vol. No. July 2020 Gambar: Situasi tidak aman yang disebabkan oleh terorisme(Panji. Paramita. Gambar 5. 6: Para tersangka terorisme yang ditangkap oleh unit konter terorisme(Panji. Paramita, ibi. Teroris sebagai penjahat yang diperangi polisi: Aspek komunikasi massa dalam film 22 Menit Film ini menampilkan peran polisi dalam posisi pihak yang baik dan teroris sebagai penjahat. Di film ini ditampilkan bagaimana para pelaku teroris tidak peduli pada korban jiwa yang ada dan terus melakukan penembakan ke arah polisi demi melanjutkan aksi terornya. Dalam aspek komunikasi massa terdapat berbagai aspek bahwa film bias menjadi media hiburan, edukasi dan informasi. Hiburan dalam bentuk film action. Film ini menampilkan berbagai adegan khas film action seperti ledakan, tembak menembak dan aksiaksi mendebarkan lainnya. Bahkan film ini mendapat kan penghargaan di piala citra 2018 sebagai film dengan efek visual terbaik. Gambar: Para terorisme yang menjaditokohjahatdalam film 22 Menit(Panji. Paramita, ibi. Terorisme akan ditangkap oleh Gambar: Aksi mendebarkan anggota kepolisian dalam mengejar teroris (Panji. Paramita, ibi. Dalam bagaimana para pelakuterorisme yang bersembunyi di desa-desa ditangkap oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia. Tidak ada tempat yang aman bagi mereka untuk bersembunyi sehingga film ini juga menampilkan aksi konter terorisme dimana para terorisme ditangkap untuk mencegah mereka melakukan aksi terorisme. Hiburan dan informasi taat aturan lalu lintas: Dalam film ini menampilkan Jenderal Tito Karnavian dan Ibu yang ditilang polisi lalu lintas karena tidak menggunakan helm. Dalam film ini ditampilkan kepada penonton bahwa e-ISSN 2723-6323 p-ISSN 2338-5049 Publipreneur Polimedia: Jurnal Ilmiah Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif Vol. No. July 2020 penting berkendara dengan segala perlengkapannya dan mentaati segala peraturan lalu lintas. Dalam film ini menjadi hiburan tersendiri karena Jenderal Tito Karnavian layaknya masyarakat umum. Jaga Polisi Lalu Lintas di Jalan Thamrin. Dalam film ini terlihat aspek komunikasi massa. Dalam aspek soft power film ini Karisma Kepolisian Republik Indonesia yang menampilkan contoh karakter personil kepolisian yang baik. Dalam aspek propaganda film ini menyampaikan pesan-pesan menentang aksi terorisme sehingga film ini sangat jelas memberikan pesan kepada masyarakat untuk tidak bersimpati kepada para pelaku terorisme. Film ini dalam aspek komunikasi massa memberikan unsure hiburan-hiburan dalam bentuk drama, action, dan kisah jenaka yang menyisipkan informasi dan edukasi terkait ketertiban berlalu lintas. Fillm tentang kepolisian di Indonesia sebaiknya diperbanyak lagi agar ke depannya semakin banyak film-film seperti ini beredar di Tujuannya memberikan hiburan, edukasi dan informasi kepada masyarakat. Film sebagai bagian dari kebudayaan berkontribusi terhadap pembentukan masyarakat Indonesia yang modern menuju yang lebih baik lagi. Berkaca pada industri film yang lebih maju seperti di Amerika (Martin, 2011, p. terdapat kecenderungan dua stereo tipe paradigm dalam penceritaan khususnya yang berkaitan terrorisme yaitu paradigm heroism dimana karakter dalam film tersebut menjadi seorang pahlawan yang menyelamatkan para korban atau menampilkan sikap simpatik terhadap badan-badan penegak hokum atau Gambar: Cameo dariKapolriJenderal Tito Karnavian. (Panji. Paramita, ibi. Hiburan kisah drama: Dalam film ini terdapat juga ceritacerita kehidupan dari beberapa karakter Diantaranya menggambarkan kehidupan rumah tangga, percintaan dan juga hubungan antara anak dan orang tua, hubungan antara kakak dan adik. Cerita-cerita ini ikut menambahkan aspek hiburan dalam film ini. Gambar: Potongan cerita kisah drama (Panji. Paramita, ibi. KESIMPULAN Film 22 Menit merupakan film yang menceritakan tentang kekejaman aksi terorisme yang dilakukan melalui pengeboman gerai Starbucks dan Pos e-ISSN 2723-6323 p-ISSN 2338-5049 Publipreneur Polimedia: Jurnal Ilmiah Jurusan Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif Vol. No. July 2020 intelijen pemerintah seperti FBI. CIA. MI5. Maka film 22 menit terlihat menampilkan paradigm kedua dari Amerika menunjukkan sikap simpatik kepada Kepolisian Republik Indonesia yang berjuang untuk melumpuhkan aksi teroris di Tamrin Jakarta Pusat. Hal menarik didapatkan dari penelitian (Devadoss & Cromley, ci. yang mengemukakan Analisa film dengan tema terorisme pada filmfilm produksi Bollywood India dimana disini di kedepankan kisah-kisah kemanusiaan dari peran protagonist dengan pihak teroris sebagai antagonis. Sehingga terlihat disini film dari India memiliki cirri paradigma yang jauh berbeda dari film produksi Hollywood yang tidak terlalu mengangkat nilainilai kemanusiaan pada latar belakang Tentunya disini kita perlu berkaca lagi dengan melibatkan berbagai referensi dalam industri film secara global bagaimana menampilkan sebuah film yang bertemakan terorisme yang dapat menjadi sajian yang mendidik namun tetap menarik dan mengedepankan unsure kreativitas sinematografi yang baik sehingga mendapatkan apresiasi yang baik di khalayak banyak khususnya penonton film di Indonesia. another blogs Unpad: http://blogs. id/hikmawansa efullah/2011/04/27/soft-powerdalam-aspek-budaya-1/ Sastropoetro. Propaganda salah satu bentuk komunikasi massa. Bandung: Alumni Bandung. Turrow. Media Today Introduction to Mass Communication, 3rd Edition . New York: Routledge. Tobing. Deddy Stevano . Film sebagai Media untuk mendukung pertahanan negara. Universitas Pertahanan Indonesia. Wahyuni . Qualitative Research Method Theory and Practice. Salemba Empat. Terbitan berkala Christabel Devadoss& Gordon Cromley . : Intimacy in NonWesternDiscoursesofTerrorism: An AnalysisofThreeBollywoodFilms. GeoHumanities. DOI:10. 1080/2373566X. Elaine Martin . Terrorism in film media: An international view oftheatrical films. Journal of War & Culture Studies, 4:2, 207-222. DOI: 1386/jwcs. DAFTAR PUSTAKA