Vol. 1 No. 4 Edisi November 2021 ISSN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPS MATERI PENINGGALAN SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN MODEL STAD DI KELAS IV SD NEGERII00I06 SIBANGKUA Oleh: Mawaddatul Hasanah Hrp1*. Sabri2 1*, 2 Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Bahasa. Institut Pendidikan Tapanuli Selatan Email: mawaddaharahap22@gmail. DOI: 10. 37081/jipdas. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS materi peninggalan sejarah menggunakan model pembelajaran STAD terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua Tahun Ajaran 2020/2021. Rancangan penelitian menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdapat dua siklus. Teknik pengumpulan data yang digunakan observasi, tes dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua yang berjumlah 20 siswa. Berdasarkan hasil analisis nilai rata-rata pada pembelajaran ips materi peninggalan sejarah dengan menggunakan model pembelajaran STAD nilai rata-rata 70 berada pada kategori AuKurangAy. Sesudah menggunakan model pembelajaran STAD nilai rata-rata pada siklus I sebesar 75 dan pada siklus II dengan nilai rata-rata sebesar 80 berada pada kategori AuBaikAy. Dari perbandingan hasil belajar siswa pada pembelajaran ips materi peninggalan sejarah kelas IV SD pada siklus I sebesar 60% dan pada siklus II sebesar 90%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran ips materi peninggalan sejarah. Kata Kunci: Hasil Belajar ,Model pembelajaran STAD PENDAHULUAN Dalam UU No. 20 tahun 2003 Bab II pasal 3 dinyatakan bahwa pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian guru merupakan kunci dan sekaligus ujung tombak pencapaian misi pembaharuan pendidikan, mereka berada pada titik sentral untuk mengatur,mengarahkan,dan menciptakan suasana kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan dan misi pendidikan nasional yang dimaksud. Oleh karenanya secara tidak langsung guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Menurut peraturan Mentri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh guru antara lain: kompetensi pedagogik, keperibadian, sosial, dan profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja Hal tersebut membawa konsekuensi terjadinya perubahahan dalam pendekatan dan model pembelajaran yang digunakan dalam menyusun strategi pembelajaran untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Keberhasilan pembelajaran sangat tergantung pada proses implementasi yang dilakukan guru di sekolah. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa menuju peningkatan mutu pendidikan dibutuhkan strategi serta program pembelajaran yang lebih efektif dan efisien,serta termasuk dalamnya sarana dan prasarana belajar guna menunjang proses yang positif terhadap hasil belajar siswa. Vol. 1 No. 4 Edisi November 2021 ISSN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di SD Negeri 100106 Sibangkua, di dapat informasi dan data nilai ulangan siswa yang belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Berikut ini daftar nilai ulangan siswa pada mata Pelajaran IPS: Tabel 1. Nilai Ulangan Tengah Semester Siswa Kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua Mata Pelajaran IPS NAMA KKM NILAI KET Annisa Khoiriya Aslaini Desi Safitri Ira Royani Ikhsan Mababur Isti Ayukomah 7 Keisha Anastasya Kurniawan Miftahul Musah Nafran Fauzi Nasila Ardian Pelita Adelina Rain Ramanda Ratih Suaningsih Rizki Ritonga Rizki Anugrah Venni Anastasya Vita Melinda Wiranda Yoga Reinaldo Vol. 1 No. 4 Edisi November 2021 ISSN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. Dari tabel tersebut dapat kita simpulkan bahwa banyaknya nilai siswa yang masih di bawah KKM, ini membuktikan bahwa pemahaman siswa tentang pembelajaran masih sangat rendah. Adapun penyebab dari rendahnya nilai siswa yaitu semangat dan rasa ingin belajar yang dimiliki siswa sangat rendah, inilah yang menjadi dasar dari permasalahan tentang rendahnya nilai siswa. Dari 20 jumlah siswa yang ada hanya 8 orsng siswa yang memiliki nilai di atas KKM dan 12 orang lainnya memiliki nilai di bawah KKM. Jika pembelajaran yang biasa saja terus dilakukan tanpa adanya pengguanaan model dan media pembelajaran maka permasalahan tentang rendahnya nilai siswa tidak akan terselesaikan dan yang terjadi siswa yang memiliki nilai di atas KKM akan menganggap pembelajaran yang dilaksanakan merupakan hal yang sepele. Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan Model STAD di kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua. Peningkatan hasil belajar IPS materi Peninggalan Sejarah menggunakan Model STAD di kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 100106 Sibangkua Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan. Peneliti tertarik untuk mencari model yang cocok untuk peningkatan hasil belajara siswa pada mata pelajaran IPS salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran STAD. Rencana penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 kali pertemuan dengan rentang waktu 14 Waktu penelitian ini dilakssanakan pada semester II tahun ajaran 2020/2021. Terhitung dari waktu perencanaan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua yang berjumlah 20 orang. Objek penelitian ini tentang peningkatan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS materi peninggalan sejarah dengan menggunakan model pembelajaran STAD di kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua. Sesuai penelitian tindakan kelas dilaksanakan menggunakan prosedur kerja dalam penelitian tindakan kelas terdiri atas komponen yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan, dan refleksi seterusnya sampai perbaikan dan peningkatan yang diharapkan tercapai. HASILDAN PEMBAHASAN Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 100106 Sibangkua. Kecamatan Angkola Barat Kabupaten Tapanuli Selatan. Kondisi di SD Negeri 100106 Sibangkuasecara keseluruhan dapat dikatakan baik. Sekolah ini mempunyai ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, perpustakaan, kantin siswa dan UKS, serta kamar mandi. Penelitia Tindakan Kelas ini mengambil subyek siswa kelas IV yang berjumlah 20 siswa yang terdiri dari 12 perempuan dan 8 lakilaki. Penelitian ini dilakukan pada jam pelajaran IPS sehingga tidak mengganggu aktivitas belajar mengajar yang sudah tertata. Sedangkan belajar menurut Gagne dalam Dimyati . merupakan kegiatan yang Hasil belajar bisa berupa kapabilitas, setelahbelajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Menurut Gagne belajar terdiri dari tiga komponen, yaitu kondisi eksternal, kondisi internal, dan hasil belajar. Arikunto . belajar adalah aktivitas individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa yang telah dipelajari sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan Uno . menyimpulkan bahwa belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku yang relatif menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan. Hasil belajar merupakan efek atau pengaruh yang terjadi dalam diri seorang siswa sehingga tercapainya tujuan pembelajaran. Belajar merupakan tindakan dan perilkau siswa yang kompleks, dimana siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya hasil belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Kunandar . menyatakan bahwa. AuHasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasarAy. Sedangkan Sagala . AuHasil-hasil belajar dapat berupa keterampilan-keterampilan intelektual yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan Vol. 1 No. 4 Edisi November 2021 ISSN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. lingkungan melalui penggunaan simbol-simbol atau gagasan-gagasan, strategi-strategi kognitif yang merupakan proses-pros Model pembelajaran STAD dikembangkan oleh Robert Slavin dan temantemannya di universitas Jhon Hopkis. Siswa dalam suatu kelas tertentu dipecah menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, usahakan setiap kelompok beranggotakan dengan heterogen,terdiri atas laki-laki dan perempuan, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Menurut Isjoni dalam Zaki . model pembelajaran koperatif tipe STAD adalah suatu model pembelajaran yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi di antara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Sedangkan menurut Trianto . STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran koperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permualaan bagi para guru yang baru mengguankan model pembelajaran koperatif. STAD merupakan salah satu strategi pembelajaran koperatif yang yang di dalamnya terdapat kelompok-kelompok kecil siswa dengan level kemampuan akademik yang berbeda-beda saling bekerja sama untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran. Tidak hanya secara akademik, siswa juga dikelompokkan secara beragam berdasarkan gender, ras, dan etnis (Rusman, 2012:. langkah-langkah STAD menurut Slavin . terdiri atas lima langkah antara lain: Presentasi KelasMateri dalam STAD pertama-tama diperkenalkan dalam presentasi. Bedanya presentasi kelas dengan pengajaran biasa hanyalah bahwa presentasi tersebut haruslah benar-benar berfokus pada unit STAD. Team terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnis. Fungsi utama dari tim ini adalah untuk memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar siap belajar dan khususnya lagi adalah untuk mempersiapkan anggotanya untuk bisa mengerjakan kius dengan baik. Kuis Setelah sekitar satu atau dua periode setelah guru memberikan presentasi dan sekitar satu atau dua periode praktik tim, para siswa akan mengerjakan kuis individual. Skor Kemajuan Individual Gagasan dibalik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada tiap siswa tujuan kinerja yang akan dicapai apabila mereka bekerja lebih giat dan memberikan kinerja yang lebih baik dari pada sebelumnya. Team Recognize Teamakan mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan yang lain apabila skor rata-rata mereka mencapai kriteria tertentu. Banyak sekali manfaat dari model pembelajaran koperatif Tipe STAD ini,di antaranya: Karena dalam kelompok siswa dituntut untuk aktif sehingga dengan model ini siswa dengan sendirinya akan percaya diri dan meningkat kecakapan individunya. Interaksi sosial yang terbangun dalam kelompok, dengan sendirinya siswa belajar dalam dengan lingkungannya. Mengajarkan untuk menghargai orang lain dan saling percaya. Dalam kelompok siswa diajarkan untuk saling mengerti dengan materi yang ada, sehingga siswa saling memberitahu dan mengurangi sifat kompetitif. Sedangkan menurut Julianto . 1: . kelebihan menggunakan Model STAD adalah: Siswa dapat menyampaikan ide atau gagasannya Dapat melatih keberanian siswa Dapat melatih kemandirian siswa Siswa dapat saling membantu, siswa yang pandai bisa membantu temannya yang kurang Sedangkan kekurangan dengan menggunakan Model pembelajaran STAD menurut Julianto . adalah: 1. Ada siswa yang fakum atau kurang aktif 2. Siswa tidak memiliki catatan 3. Ada siswa yagntakut untuk presentasi sehingga siswa tersebut tidak mau mengikuti pelajaran 4. Membedakan siswa Setiap siklus akan diketahui apakah dengan menggunakan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa atau tidak dengan tes yang digunakan oleh peneliti. Maka dari itu peneliti menggunakan langkah-langkah dari PTK. Dalam pembelajaran IPS guru cenderung menggunakan metode ceramah sehingga siswa kurang merespon pelajaran yang disampaikan karena pembelajaran yang disampaikan kurang menarik. Hal ini terlihat pada saat Vol. 1 No. 4 Edisi November 2021 ISSN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Journal Page is available to https://jurnal. id/index. php/JIPDAS Email: jipdas8@gmail. pembelajaran berlangsung siswa jarang bertanya terhadap materi yang disampaikan oleh guru dan siswa yang telah disampaikan sebelumnya. Berdasarkan hasil pratindakan peningkatan hasil belajar siswa masih rendah dengan nilai ratarata siswa kelas IV 70. setelah menggunakan model pembelajaran STAD dalam peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua. Pada siklus I terjadi peningkatan hasil belajar siswa yang pada awalnya siswa yang tuntas pada materi ini adalah 8 orang . %), dan yang tidak tuntas adalah 12 orang . %). Tetapi setelah menggunakan model STAD nilai siswa mengalami peningkatan yaitu yang tuntas adalah 12 orang . %), dan yang tidak tuntas adalah 8 orang . %). Hasil tes siklus II merupakan hasi tes pertemuan 1 dan 2 diambil hasil yang terbaik dari kedua pertemuan tersebut, sehingga hasil tes prestasi belajar pada siklus II iaitu ketuntasan siswa mencapai Dapat disimpulkan bahwa sudah mencapai standar ketuntasan minimal yaitu sebesar 80%. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran STAD dapat meningkatkan presentase ketuntasan yang lebih baik pada pada siklus II dibandingkan pada siklus I maupun pratindakan. SIMPULAN Berdasarkan data hasil dari pembahasan dapat disimpulkan sebagai Sebelum melakukukan pembelajaran, guru membuat rancanganpelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan langkah-langkah model pembelajaran STAD. Pelaksanaan pembelajaran IPS materi Peninggalan sejarah di kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua dengan menggunakan model STAD terdiri dari beberapa tahap kegiatan yang dibagi menjadi kegiatan awal pembelajaran, kegiatan inti dan kegiatan akhir pembelajaran. Kegiatan inti pembelajaran disesuaikan dengan langkah-langkah model pembelajaran STAD. Hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri 100106 Sibangkua dalam pembelajaran IPS materi peninggalan sejarah menggunakan model pembelajaran STAD menunjukkan peningkatan yang signifikan, peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat pada pratindakan yang tuntas hanya 8 siswa . %), siklus I meningkat menjadi 11 siswa . %) dan di siklus II meningkat lagi menjadi 18 siswa . %) yang tuntas. DAFTAR PUSTAKA