Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni 2026 ANALISIS POLA SPREADING EFFECT DAN BACKWASH EFFECT DALAM MENGEKSPLORASI TEORI GROWTH POLE (STUDI KASUS: KAWASAN PERKOTAAN CEKUNGAN BANDUNG) Bagas Ghalih Wicaksono*. Adinda Ulya Nur Rahmah E. Thasya Apsari Lazuardi. Sylvia Narulita Destriani Institut Teknologi Bandung. Jl. Ganesa No. Kota Bandung. Jawa Barat. Indonesia, 40131 Naskah masuk 10 November 2025. Naskah direvisi 24 Maret 2026. Naskah diterima 4 April 2026 Key Words Backwash Effect Bandung Basin Urban Area Growth Pole Theory Regional Inequality Spreading Effect Abstract The Bandung Basin Urban Area is a strategic region contributing over 20% to West Java's GRDP. However, its economic growth faces serious challenges regarding the risk of spatial inequality between the core and peripheral areas. This study aims to analyze these dynamics to identify the tendencies of spreading and backwash effects within the framework of Growth Pole Theory. The methodology employs a mixed approach combining aspatial and spatial analyses using data from the 2018Ae2024 period. The aspatial analysis, utilizing the Williamson Index and Theil Entropy, confirms a consistent trend of increasing inequality, as indicated by the rise of the Williamson Index from 0. and the increase of Theil Entroppy from 0. Meanwhile, the spatial analysis using Kernel Density Estimation (KDE) on economic, demographic, and accessibility variables reveals massive concentration patterns. The results demonstrate that the dominance of Bandung City as the core triggers a backwash effect that weakens the hinterland areas, specifically causing a decline in the economic ranking of Cimahi City and West Bandung Regency due to resource migration and the impact of the pandemic. These findings indicate a monopoly of the growth pole. Therefore, strategies to establish secondary growth centers and improve regional accessibility are required to promote a more balanced distribution of development. Kata Kunci Backwash Effect Kawasan Perkotaan Bandung Ketimpangan Wilayah Spreading Effect Teori Growth Pole Abstrak Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung merupakan wilayah strategis yang menyumbang lebih dari 20% PDRB Jawa Barat, namun pertumbuhan ekonominya menghadapi tantangan serius berupa risiko ketimpangan spasial antara wilayah inti dan pinggiran. Penelitian ini hadir untuk menganalisis dinamika tersebut guna mengidentifikasi kecenderungan spreading effect dan backwash effect dalam kerangka Teori Growth Pole. Metode penelitian menerapkan pendekatan campuran aspasial dan spasial menggunakan data periode 2018-2024. Analisis aspasial melalui Indeks Williamson dan Entropi Theil mengonfirmasi tren peningkatan ketimpangan yang konsisten, ditandai dengan kenaikan nilai Indeks Williamson dari 0,66 . menjadi 0,70 . , serta peningkatan nilai Entropi Theil dari 0,15 . menjadi 0,30 . Sementara itu, analisis spasial menggunakan Kernel Density Estimation (KDE) pada variabel ekonomi, kependudukan, dan aksesibilitas mengungkapkan pola pemusatan yang masif. Hasil studi membuktikan dominasi Kota Bandung sebagai inti . memicu backwash effect yang melemahkan wilayah penyangga, khususnya penurunan peringkat ekonomi Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat akibat migrasi sumber daya dan dampak pandemi. Temuan ini mengindikasikan terjadinya monopoli kutub pertumbuhan, sehingga diperlukan strategi pembentukan pusat pertumbuhan sekunder dan pemerataan aksesibilitas regional untuk mendorong distribusi pembangunan yang lebih berimbang. Cekungan PENDAHULUAN Pembangunan ekonomi wilayah merupakan agenda fundamental dalam pembangunan nasional karena berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Namun, realitas menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kerap tidak disertai pemerataan, menjadikan ketimpangan wilayah sebagai isu krusial dalam pembangunan regional di Indonesia (Adryawning & Widiyanto, 2. Studi empiris mengindikasikan bahwa aglomerasi ekonomi di wilayah perkotaan pertumbuhan yang terkonsentrasi di wilayah inti justru memperkuat disparitas ekonomi antarwilayah dalam suatu provinsi atau wilayah metropolitan (Mukhlis et al. Merespons hal tersebut, pemerintah menetapkan strategi pengembangan pusat pertumbuhan baru, salah satunya melalui Peraturan Presiden (Perpre. Nomor 45 * corresponding author: bagasghalih@gmail. https://doi. org/10. 34147/crj. Copyright A 2026 by author. License Creative Research Journal. Bandung. Indonesia. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. International License Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 Tahun 2018 yang menetapkan Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dengan fokus pada peran ekonomi, jasa, dan industri berteknologi tinggi. Sebagai kawasan metropolitan utama. Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung memiliki peran strategis dengan menyumbang lebih dari 20% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Barat (BPS Provinsi Jawa Barat. Meskipun penetapan KSN tersebut sejatinya bertujuan untuk memacu pemerataan perkembangan wilayah, realitas empiris saat ini justru menunjukkan bahwa dominasi wilayah inti sering kali menimbulkan pola pertumbuhan yang tidak merata bagi wilayah penyangga di sekitarnya (Saepulloh et al. , 2. Fenomena dominasi ini berpotensi memicu backwash effect . enyedot potensi wilayah penyangg. alih-alih . preading sebagaimana dijelaskan dalam perspektif Teori Growth Pole (Tarigan, 2. Jika tren polarisasi ekonomi ini terus berlanjut tanpa evaluasi dan intervensi kebijakan tata ruang yang integratif, ketimpangan sosial-ekonomi di wilayah metropolitan ini berisiko memicu berbagai masalah urban yang serius. Oleh karena itu, penelitian ini sangat krusial untuk segera mengeksplorasi kecenderungan efek pertumbuhan tersebut agar keseimbangan struktur ruang di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dapat diwujudkan. diukur menggunakan Index Williamson. Coefficient of Variation. Theil Entropy, dan Lorenz Curve, sementara pola pemusatan spasial dipetakan menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode Kernel Density Estimation (KDE). Menggunakan variabel proksi PDRB per kecamatan, kepadatan penduduk, tenaga kerja, sarana perdagangan, dan aksesibilitas secara temporal . 8, 2021, dan 2. , kajian komprehensif ini tidak hanya membuktikan eksistensi ketimpangan, tetapi juga secara empiris melacak dinamika pergeseran backwash dan spreading effect dari masa guncangan pandemi COVID-19 hingga Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi penting sebagai landasan evaluasi berbasis bukti . vidence-base. yang krusial pertumbuhan di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Ruang lingkup wilayah dalam penelitian ini mencakup Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang berada di Provinsi Jawa Barat. Secara administratif, wilayah penelitian meliputi lima daerah yaitu Kota Bandung. Kota Cimahi. Kabupaten Bandung. Kabupaten Bandung Barat (KBB), dan sebagian wilayah Kabupaten Sumedang. Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung merupakan KSN dari sudut kepentingan ekonomi yang ditetapkan berdasarkan Perpres Nomor 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang bertujuan sebagai pusat kebudayaan, pusat pariwisata, serta pusat kegiatan jasa dan ekonomi kreatif nasional, yang berbasis pendidikan tinggi dan industri berteknologi tinggi yang berdaya saing dan ramah lingkungan. Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung juga bertujuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi kawasan dan wilayah di sekitarnya serta mendorong pemerataan perkembangan wilayah. Berdasarkan konteks tersebut, penelitian ini difokuskan untuk menjawab permasalahan utama mengenai bagaimana kinerja ekonomi wilayah di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung secara aspasial mencerminkan tingkat ketimpangan antarwilayah, serta bagaimana pola pemusatan kinerja perekonomian terbentuk secara spasial di kawasan ini. Lebih jauh, kajian ini juga berupaya menjawab keterkaitan antara hasil analisis aspasial dan spasial tersebut dalam mengidentifikasi kecenderungan spreading effect dan backwash effect berdasarkan Teori Growth Pole. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang cenderung hanya menggunakan satu pendekatan, studi ini secara eksplisit mengintegrasikan pendekatan aspasial dan spasial untuk memberikan validasi empiris yang lebih Selain itu, fokus periode waktu ada pada rentang 2018-2024 guna memberikan kontribusi baru dalam memahami karakteristik growth pole ketika bersinggungan dengan isu ekonomi global pascapandemi. Menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika pemusatan dan ketimpangan ekonomi wilayah guna memberikan pemahaman mendalam mengenai struktur interaksi antara wilayah inti dan hinterland. Menurut Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2022 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2022Ae2042. Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung ditetapkan sebagai KSN sebagai pendukung fasilitas PKN. PKW dan PKL dengan sektor unggulannya yaitu kawasan pertanian pangan berkelanjutan, industri kreatif, perdagangan dan jasa, pariwisata, perkebunan. Untuk menjelaskan pemusatan dan ketimpangan kinerja ekonomi wilayah sebagaimana diuraikan sebelumnya, menerangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata secara spasial. Teori Growth Pole digunakan dalam penelitian ini karena menjelaskan peran pusat pertumbuhan, keterkaitan antarsektor, serta mekanisme aglomerasi yang membentuk hubungan antara wilayah inti dan hinterland, termasuk terciptanya spreading effect dan backwash effect. Hal ini relevan sebagai dasar analisis dinamika ketimpangan dan pola Secara lebih mendalam, studi terdahulu mayoritas masih berfokus pada ketimpangan aspasial makro (Adryawning & Widiyanto, 2025. Mukhlis et al. , 2. atau terbatas pada identifikasi pola core-periphery (Saepulloh et al. , 2. , kebaharuan penelitian ini terletak pada integrasi analisis aspasial . kala kabupaten/kot. dan spasial . kala kecamata. Ketimpangan ekonomi Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 pemusatan ekonomi di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. terdiri dari PDRB ADHK kabupaten/kota di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Jumlah Penduduk kabupaten/kota di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung, dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dimana Kabupaten Sumedang dalam hal ini tidak dilibatkan untuk menhindari bias informasi karena hanya 5 . kecamatan yang termasuk di dalam Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Teori Growth Pole Teori growth pole yang dikemukakan oleh Franyois Perroux pada tahun 1950-an untuk menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak terjadi secara merata di dalam suatu wilayah, melainkan terkonsentrasi pada titik atau sektor tertentu yang memiliki daya dorong tinggi . urposive industrie. (Parr, 1. Dalam perkembangannya, konsep ini diadaptasi ke dalam perencanaan wilayah, dimana kutub pertumbuhan sering terwujud dalam bentuk kota atau kawasan industri yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan regional (Parr, 1. Konsentrasi aktivitas ekonomi pada wilayah inti mendorong aglomerasi ekonomi, tenaga kerja, dan infrastruktur. Dampaknya terhadap wilayah sekitar dapat berupa spreading effect, yaitu penyebaran pertumbuhan ekonomi ke wilayah sekitar, atau backwash effect, yaitu dominasi wilayah inti yang berpotensi menimbulkan ketimpangan perkembangan wilayah (Widyastuti, 2. Proses tersebut terjadi melalui keterkaitan antar sektor ekonomi, baik melalui forward maupun backward linkages, yang memperkuat aktivitas ekonomi di sekitar pusat pertumbuhan (Rodrigue, 2. Selanjutnya, variabel input untuk analisis spasial memiliki kerincian data hingga level kecamatan dimana terdiri dari data proxy PDRB, kepadatan penduduk, sarana perdagangan, jumlah tenaga kerja, dan indeks Asumsi proxy yang digunakan untuk mengestimasi PDRB pada level kecamatan ialah dengan PDRB kabupaten/kota dengan luasan kawasan budidaya pada masing-masing kecamatan yang berada di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Penggunaan pendekatan proxy PDRB berbasis distribusi luas kawasan budidaya Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dilakukan karena keterbatasan data PDRB pada level kecamatan. Pendekatan ini merupakan best available proxy karena aktivitas ekonomi secara spasial berkorelasi dengan pemanfaatan ruang. Meskipun demikian, intensitas ekonomi tiap penggunaan lahan berbeda, dimana kawasan industri dan perdagangan Keterbatasan pembobotan spesifik belum diterapkan, namun analisis diperkuat dengan variabel lain seperti kepadatan Disamping itu, analisis kualitatif yaitu merupakan desk study dari berbagai penelitian terdahulu yang berkaitan dengan konteks penelitian ini. METODE Pada penelitian kali ini, data yang digunakan oleh penulis adalah data sekunder yang berasal dari dokumen statistik oleh Badan Pusat Statistik masingmasing kabupaten/kota yang termasuk ke dalam Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung di tahun 2019, 2022, dan 2025. Lalu, penulis juga mengadopsi data shapefile khususnya terkait kawasan budidaya dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Barat. Serta, berbagai artikel penelitian terdahulu yang berasal dari sumber yang kredibel. Pada akhirnya, temuan dari analisis aspasial dan spasial tersebut mampu untuk mengidentifikasi kecenderungan munculnya spreading effect atau backwash effect dalam konteks Teori Growth Pole dalam studi kasus di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dalam mendorong pemerataan pembangunan atau justru memperkuat kesenjangan struktural antar wilayah. Berikut Gambar 1 merupakan bagan alur penelitian yang meringkas operasionalisasi penelitian kali ini. Selanjutnya, metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari analisis kuantitatif dan Analisis kuantitatif yaitu terdiri dari analisis ketimpangan wilayah dan analisis spasial dengan perangkat processing yaitu KDE serta Zonal Statistics. Variabel input untuk analisis ketimpangan wilayah Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 Gambar 1. Bagan Alur Penelitian Dalam kerangka analisis penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spreading effect dan backwash effect di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Tahap awal adalah melakukan pengumpulan data dari BPS Kota Bandung. RT RW Provinsi Jawa Barat, serta studi Analisis dilakukan melalui dua pendekatan yaitu analisis aspasial untuk mengukur ketimpangan wilayah menggunakan Indeks Williamson. Coefficient of Variation. Theil Entropy, dan Kurva Lorenz dan juga menggunakan analisis spasial menggunakan QGIS melalui metode KDE dan Zonal Statistics untuk memetakan pemusatan aktivitas ekonomi. Integrasi kedua analisis tersebut digunakan untuk menilai apakah pertumbuhan ekonomi di wilayah inti menghasilkan penyebaran pembangunan atau justru memperkuat ketimpangan wilayah. pembangunan antar wilayah dalam suatu kawasan. Semakin besar nilai CV maka semakin besar keragaman wilayahnya atau ketimpangan semakin besar. Selain itu. CV dihitung dengan membandingkan tingkat standar deviasi dari capaian pembangunan wilayah terhadap rata-rata nilai capaian pembangunan wilayah (Fauzi et , 2. Selanjutnya. Theil Entropy memperlihatkan ketimpangan dalam skala yang lebih rinci dalam sub-unit geografis yang lebih kecil. Pertama, indeks ini berguna untuk menganalisis kecenderungan konsentrasi geografis selama periode tertentu. Kedua, indeks ini penting untuk mengkaji gambaran yang lebih rinci mengenai kesenjangan/ketimpangan spasial. Misalnya, ketimpangan antar wilayah dalam suatu negara atau antar sub-unit daerah dalam suatu kawasan (Kuncoro, 2012:. Analisis Ketimpangan Wilayah Dalam melihat indikasi adanya spreading ataupun backwash effect di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung, indikator ketimpangan wilayah menjadi salah satu perangkat analisis yang dapat digunakan. Pada penelitian ini, digunakan 4 . indikator ketimpangan wilayah yang secara umum terdiri dari Williamson Index (W. Coefficient Variation (CV). Theil Entropy, dan Lorenz Curve. Terakhir. Lorenz Curve secara umum sering digunakan untuk menggambarkan ketimpangan yang terjadi terhadap distribusi pendapatan masyarakat dalam hal ini digunakan UMK untuk variabelnya. Kurva yang tersaji pada Gambar 2 ini memperlihatkan hubungan secara kuantitatif secara aktual antara persentase penerima pendapatan dengan persentase pendapatan total yang benar-benar mereka terima selama periode tertentu, misalnya, satu tahun (Hariani dan Syahputri. Williamson Index (W. merupakan salah satu indeks ketimpangan regional yang seringkali digunakan untuk mengetahui ketimpangan pembangunan antar wilayah. Selain itu. Williamson Index (W. sendiri dapat menunjukkan indeks variasi pendapatan antar wilayah dalam suatu negara (Sjafrizal, 1997:. Jika Wi semakin kecil atau mendekati nol maka menunjukkan ketimpangan antar wilayah yang semakin kecil/merata, sebaliknya jika Wi semakin besar atau menjauhi nol maka menunjukkan ketimpangan antar wilayah yang semakin besar/tidak merata. Lalu. Coefficient Variation (CV) merupakan sebuah nilai perbandingan antara standar deviasi dengan nilai ratarata hitung dari sebuah distribusi (Toisuta et al. , 2. Dalam konteks ketimpangan wilayah, indeks ini Gambar 2. Kurva Lorenz digambarkan pada Sebuah Ilustrasi Lorenz Curve atau Kurva Lorenz Sumber: Hariani dan Syahputri, 2020 diolah Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . HASIL DAN PEMBAHASAN Bidang persegi/bujur sangkar dengan bantuan garis Garis horizontal menunjukkan persentase penduduk penerima pendapatan, sedangkan garis vertikal adalah persentase pendapatan. Semakin dekat kurva ini dengan diagonalnya, berarti ketimpangan semakin rendah dan sebaliknya semakin melebar kurva ini menjauhi diagonal berarti ketimpangan yang terjadi semakin tinggi. Penelitian ini ditinjau dari ketimpangan wilayah di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung hingga hasil analisis spasial untuk melihat pola pemusatan kinerja perekonomian di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Masing-masing hasil analisis tersebut memiliki tujuan untuk melihat secara empiris apakah efek yang ditimbulkan antar wilayah di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung cenderung mengarah pada spreading effect atau backwash effect. Analisis Kernel Density Estimation (KDE) KDE merupakan suatu pendekatan statistika nonparametrik yang digunakan dalam mengestimasi fungsi distribusi probabilitas dari suatu variabel acak yang bentuk atau model distribusi dari variabel acak tersebut tidak diketahui. menurut Silverman . dalam bukunya yang berjudul AuDensity Estimation for Statistics and Data AnalysisAy. KDE adalah Aumetode untuk mengestimasi fungsi kepadatan probabilitas dari suatu populasi berdasarkan sampel data dengan menggunakan fungsi kernel sebagai dasar estimasi, dimana kernel adalah fungsi simetris non-negatif yang mengukur kontribusi dari setiap titik data dalam estimasiAy yang dapat dilihat pada Persamaan 1 di bawah ini. = ycAEa ycuOeycuycu OcycA ycuOe1 ya ( Ea Kondisi Ketimpangan Wilayah di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung Berdasarkan memperlihatkan tren peningkatan ketimpangan wilayah secara konsisten dari tahun ke tahun . 8, 2021, dan 2. Pertama, apabila dilihat dari Indeks Williamson terlihat bahwa terjadi kenaikan nilai indeks secara bertahap dari 0,66 . , lalu menjadi 0,67 . , hingga mencapai 0,70 . Dalam konteks kewilayahan terlihat bahwa nilai indeks menjauhi 0 . hingga mendekati 1 . yang menjelaskan bahwa terjadi ketimpangan yang semakin melebar antara wilayah inti . dan pinggiran . Disamping itu. CV juga menunjukkan peningkatan nilai secara konsisten mulai dari 0,705 . hingga 0,721 . Kondisi ini menunjukkan bahwa variasi atau sebaran data terkait dengan kondisi perekonomian antar wilayah kabupaten/kota di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung semakin meningkat yang mengindikasikan adanya peningkatan ketimpangan antar wilayahnya. Hal ini juga sejalan dengan nilai Theil Entropy yang mengalami peningkatan paling signifikan dibandingkan 2 . indeks sebelumnya mulai dari 0,15 . hingga 0,30 . Kondisi ini mempertegas adanya ketimpangan wilayah di dalam kelompok kabupaten/kota pada Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dimana secara indeks Theil Entropy ketimpangan meningkat dua kali lipat dalam kurun waktu 6 tahun. )A . Keterangan: = Jumlah Sampel Pengamatan = Lebar Bandwidth = Fungsi Kernel = Nilai Data Metode ini sering digunakan dalam analisis data dan statistik untuk memahami distribusi data dan memprediksi nilai-nilai yang tidak diketahui. Konsep dasar dari KDE adalah mengestimasi fungsi densitas di suatu titik x dengan menggunakan pengamatan Dengan menggunakan KDE, kita dapat memahami bentuk distribusi data dan mendapatkan wawasan mengenai sifat-sifat statistiknya seperti modus, median, dan kuartil (Sukarsa & Srinadi, 2. Peningkatan ketimpangan yang terekam pada lonjakan nilai Indeks Williamson dan Entropi Theil tersebut pada dasarnya didorong oleh kuatnya dominasi Kota Bandung sebagai wilayah inti . yang memicu fenomena backwash effect terhadap wilayah penyangga Secara empiris, pelebaran ketimpangan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama. Pertama, terjadinya migrasi tenaga kerja produktif, seperti yang dialami oleh Kota Cimahi, menuju wilayah inti akibat keterbatasan lapangan pekerjaan lokal untuk menyerap angkatan kerja tersebut. Kedua, tingginya kerentanan ekonomi di wilayah pinggiran seperti KBB akibat hantaman pandemi COVID-19 yang secara persisten memukul sektor basis mereka, yakni pariwisata dan UMKM. Guncangan ini juga semakin diperparah oleh ketimpangan distribusi investasi asing dan domestik di wilayah tersebut. Berbagai dinamika inilah yang menyebabkan sumber daya dan aktivitas ekonomi Analisis Zonal Statistics Menurut Njambi . Zonal Statistics adalah statistik yang dihitung dari nilai-nilai sel raster yang berada dalam zona yang ditentukan oleh dataset raster atau vektor lainnya. Zonal Statistics sendiri merangkum nilai-nilai dari kelompok sel tertentu meliputi rata-rata . , nilai tengah . , jumlah . , dan standar Dikarenakan hasil peta raster KDE adalah data kontinu yang menunjukkan intensitas pada setiap pixel, rangkuman nilai Zonal Statistics yang paling tepat untuk digunakan di dalam penelitian ini adalah ratarata . Disamping itu, nilai mean mampu memberikan gambaran konsentrasi dari indikator ekonomi yang terlibat pada seluruh kecamatan di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung sehingga hal tersebut dapat secara efektif melihat indikasi adanya spreading ataupun backwash effect secara proporsional. Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 tersedot ke wilayah inti, sementara wilayah penyangga mengalami pelemahan kinerja ekonomi. adanya pergeseran dari tahun 2018 hingga 2024. Pertama, apabila dilihat dari Kota Cimahi mengalami peningkatan 1 . rank dari rank 3 ke 2 namun peningkatan ini tidak signifikan sehingga dapat dikatakan bahwa Kota Cimahi cenderung mengalami Namun, untuk KBB mengalami penurunan 2 . rank dari rank 2 ke 0 yang menunjukkan bahwa adanya pelemahan distribusi nilai ekonomi jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya. Berbeda dengan Kota Bandung yang secara konsisten selalu mendominasi distribusi nlai ekonomi terhadap kabupaten/kota lainnya di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dalam 6 tahun terakhir yang tersaji pada Gambar 3 di bawah ini. Selanjutnya, apabila dilihat dari Lorenz Curve, dapat dilihat bahwa garis biru . istribusi pendapatan aktua. semakin melengkung menjauhi garis oranye . aris kemerataan sempurn. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi pendapatan atau kesejahteraan antar wilayah kabupaten/kota di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung hanya terkonsentrasi pada wilayah-wilayah tertentu saja seperti Kota Bandung dan Kota Cimahi sedangkan untuk kabupaten lainnya tertinggal jauh dibawah garis rata-rata. Masih dalam interpretasi dari Lorenz Curve, dihasilkan Rank kabupaten/kota di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung dimana terlihat Gambar 3. Hasil Analisis Ketimpangan Wilayah Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung Tahun 2018, 2021, dan 2024 Sumber: Hasil Analisis, 2025 Pada akhirnya, dari hasil analisis aspasial yang dilihat dari segi ketimpangan wilayah dapat ditunjukkan bahwa Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung saat ini sedang mengalami polarisasi ekonomi yang kuat. Kota Bandung sebagai Growth Pole masih berada pada tahap menyedot potensi wilayah sekitar . ackwash effec. daripada menyebarkan kemakmuran . preading effec. Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi kebijakan tata ruang dan ekonomi yang integratif, ketimpangan sosialekonomi di wilayah metropolitan ini akan semakin berisiko menimbulkan isu-isu urban seperti pemukiman kumuh, kemacetan, dan tekanan lingkungan di wilayah dengan formula Persamaan 2 sebagai berikut. ycUycuycuycyco = ycUOeycUycoycnycu ycUycoycaycuOeycUycoycnycu Keterangan: Xnorm =Nilai data yang sudah dinormalisasi =Nilai data asli Xmax =Nilai minimum dari seluruh data pada variabel Xmin =Nilai maksimum dari seluruh data pada variabel Setelah dilakukan normalisasi data, maka tidak ada data yang overshadowing sehingga aman untuk digunakan. Lalu, data yang sudah dinormalisasi tersebut digunakan sebagai input variabel ke dalam atribut shapefile yang akan digunakan untuk analisis. Pola Pemusatan Kinerja Perekonomian di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung Sebelum memperlihatkan hasil analisis spasial, akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai prosedur analisis data yang terdiri dari 3 . Pertama, dilakukan input data dan perapihan data dari 5 . variabel yang akan digunakan, namun karena adanya data yang terlampau besar dibandingkan data lainnya rentan untuk mengalami data overshadowing. Kedua, untuk mencegah adanya data overshadowing tersebut, dilakukan normalisasi data dengan menggunakan nilai maximum dan minimum dari masing-masing variabel Tahapan ketiga atau terakhir, dilakukan analisis KDE pada masing-masing variabelnya pada tahun 2018, 2021. Setelah itu, dilakukan overlay terhadap masing-masing hasil analisis KDE untuk tiap tahunnya. Dengan begitu, berikut merupakan hasil overlay KDE dari 5 . variabel di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 Gambar 4. Peta Overlay Kernel Density Estimation (KDE) Tahun 2018 . , 2021 . , dan 2024 . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Pada tahun 2018 Kota Bandung dan Kota Cimahi cenderung sangat mendominasi kabupaten/kota disekitarnya sehingga terjadi polarisasi kutub yang akhirnya melemahkan kabupaten/kota disekitarnya. Namun begitu, terdapat beberapa indikasi kutub baru yang terlihat dibagian selatan Kabupaten Bandung. Selanjutnya, akan dilihat kondisi pada tahun 2021 dimana pada tahun tersebut terdapat fenomena pandemi COVID-19 yang mempengaruhi kondisi ekonomi global, nasional, hingga regional secara artinya gap antar wilayah untuk masing-masing kabupaten/kota semakin jauh. Selanjutnya, akan dilihat kondisi pada tahun 2024 dimana pada tahun tersebut merupakan tahun terakhir yang seharusnya sudah memiliki kondisi yang berbeda selama regulasi terkait Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung diterapkan sejak 6 tahun terakhir. Terakhir, pada tahun 2024 masih sama seperti tahun 2018 dan 2021 yaitu tidak terdapat perbedaan yang signifikan diantaranya, dimana Kota Bandung dan Kota Cimahi cenderung masih mendominasi wilayah kabupaten/kota disekitarnya. Serta, range intensitasnya juga masih memperlihatkan gap antar wilayah yang Dikarenakan dari 3 . yang ada tidak menunjukkan pola yang berbeda, penelitian ini akan melihat pola difference between antara tahun 2021-2024 dan 2018-2024 yang dapat dilihat pada Gambar 5 Selanjutnya, pada tahun 2021 tidak terdapat perbedaan yang signifikan dimana Kota Bandung dan Kota Cimahi kabupaten/kota disekitarnya. Lalu, apabila dilihat dari range intensitasnya, terlihat bahwa intensitas paling tinggi . arna mera. tahun 2021 . memiliki nilai yang lebih tinggi daripada tahun 2018 . yang Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 Gambar 5. Peta Delta Kernel Density Estimation (KDE) Tahun 2021 ke 2024 . dan Tahun 2018 ke 2024 . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Pada tahun 2021 hingga 2024 terjadi fenomena unik yang justru menunjukkan adanya pergeseran intensitas kinerja perekonomian ke wilayah pinggiran . sedangkan untuk Kota Bandung dan Kota Cimahi yang berperan sebagai wilayah inti . mengalami penurunan/pelemahan intensitas dari segi kinerja Hal ini diindikasikan karena adanya adaptasi wilayah setelah terjadinya pandemi COVID-19 dimana terdapat beberapa kebijakan salah satunya yaitu adanya lockdown yang memaksa aktivitas perekonomian di wilayah inti harus menurun sedangkan disisi lain wilayah pinggiran tetap tangguh karena memegang peranan utama dalam penyedia sumber daya lokal untuk wilayahnya sendiri. Namun begitu, penjabaran lebih detailnya akan dibahas pada bagian pembahasan. Bandung sendiri cenderung melemahkan wilayah inti lainnya yaitu Kota Cimahi dalam keberlangsungan aktivitas ekonomi wilayahnya. Selain itu, juga kabupaten/kota lainnya belum terdapat indikasi kuat untuk menjadi new growth pole. Maka dari itu, dapat dilihat secara empiris bahwa kecenderungan yang terjadi di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung ialah mengarah pada backwash effect dimana yang terjadi bukan Kota Bandung dan Kota Cimahi pertumbuhan baru melainkan Kota Bandung sendiri cenderung memonopoli pusat pertumbuhan dengan menyerap sumber daya dari wilayah inti lainnya (Kota Cimah. dan wilayah pinggiran (KBB. Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sumedan. Selanjutnya, terlihat hasil analisis delta KDE dari tahun 2018 hingga 2024. Sama halnya dengan hasil sebelumnya, pada tahun 2018 hingga 2024 terjadi penurunan/pelemahan intensitas kinerja perekonomian disebagian Kota Cimahi dan KBB sedangkan Kota Bandung sendiri masih sangat mendominasi sebagai wilayah inti (Cor. Hal ini memperlihatkan bahwa Kota Selanjutnya, akan dilakukan metode Zonal Statistics untuk mengetahui secara lebih rinci dalam skala kecamatan dimana sebenarnya area yang mengalami efek backwash paling parah dan perlu diprioritaskan ketimpangan wilayah yang tersaji pada Gambar 6 di bawah ini. Gambar 6. Peta Zonal Statistics Kernel Density Estimation (KDE) Tahun 2021 ke 2024 . dan Tahun 2018 ke 2024 . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 Hasil Zonal Statistics pada tahun 2021 hingga 2024 terlihat bahwa, terdapat beberapa kecamatan yang memiliki intensitas paling rendah . arna biru tu. yang diakibatkan oleh dinamika adaptasi pandemi COVID19. Beberapa kecamatan yang terendah yaitu berasal dari Kota Bandung meliputi Kecamatan Andir. Bandung Kulon, dan Cicendo. Lalu, dari Kota Cimahi meliputi keseluruhan Kota Cimahi sendiri yaitu terdiri dari Kecamatan Cimahi Utara. Cimahi Tengah, dan Cimahi Selatan. Terakhir yaitu adalah Kecamatan Ngamprah yang berasal dari KBB. Selanjutnya, akan dilihat pula kecamatan terdampak paling parah melalui metode Zonal Statistics untuk tahun 2018 hingga 2024, sebagai Berdasarkan data BPS Kota Cimahi tahun 2024. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat masih cukup tinggi pada masa pemulihan pasca-pandemi yaitu sebesar 10,77% . Meskipun angka ini perlahan turun menjadi 8,97% . , penurunan ini justru diiringi oleh turunnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari 68,43% . menjadi 66,52% . serta adanya perlambatan laju pertumbuhan penduduk di angka 1,39% (Kota Cimahi dalam Angka, 2. Dengan begitu, kondisi ini mengonfirmasi secara kuat bahwa ketidakmampuan wilayah penyangga dalam menyediakan lapangan kerja telah memicu keluarnya angkatan kerja produktif menuju wilayah inti . Disamping itu, melemahnya intensitas kinerja perekonomian di KBB tervalidasi oleh lambatnya fase pasca-pandemi. Berdasarkan data Laju Pertumbuhan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) KBB, diketahui bahwa pada kategori lapangan usaha Penyedia Akomodiasi dan Makan Minum mengalami kontraksi pertumbuhan yang persisten yaitu sebesar -4,67% . dan terus menurun sebesar -0,99% pada tahun 2021 (Kabupaten Bandung Barat dalam Angka, 2. Kontraksi secara terus menerus ini menekan performa perekonomian KBB pada periode observasi yang mana kondisi ini sejalan dengan Dano et al. mengenai kerentanan sektor pariwisata dan UMKM KBB dikarenakan gangguan Oleh karena itu, adanya keselarasan antara hasil dari KDE dengan data statistik laju pertumbuhan sectoral membuktikan bahwa model spasial yang digunakan valid dalam merepresentasikan fenomena polarisasi dan backwash effect di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Hasil Zonal Statistics pada tahun 2018 hingga 2024 terlihat bahwa, terdapat beberapa kecamatan yang memiliki intensitas paling rendah . arna biru tu. selama kebijakan maupun regulasi mengenai Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung diberlakukan. Beberapa kecamatan yang terendah yaitu berasal dari Kota Cimahi meliputi Kecamatan Cimahi Utara dan Cimahi Tengah serta Kecamatan Ngamprah yang berasal dari KBB. Berdasarkan hasil Zonal Statistics pada 2 . timeframe waktu yang berbeda terlihat bahwa 3 . kecamatan yang ada yaitu Kecamatan Cimahi Utara. Cimahi Tengah, dan Ngamprah selalu menjadi kecamatan yang memiliki intensitas kinerja perekonomian terendah. Hal ini mengindikasikan bahwa 3 . kecamatan ini perlu diprioritaskan dalam perkembangan kedepannya untuk mencegah adanya ketimpangan atau polarisasi yang lebih parah terutama selama kebijakan mengenai Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung masih berlaku. Validasi Hasil Pemodelan Spasial Pembahasan Temuan dan Dinamika Growth Pole Dalam memvalidasi model spasial yang dibangun, khususnya terkait adanya penggunaan asumsi proxy PDRB berbasis luasan kawasan budidaya, dilakukan cross-validation menggunakan data empiris makroekonomi. Berdasarkan hasil Zonal Statistics pada rentang 2018-2024, secara konsisten menunjukkan Kecamatan Cimahi Utara. Cimahi Tengah, dan Ngamprah memiliki intensitas kinerja perekonomian terendah. Penurunan intensitas di wilayah ini bukan hanya sekedar bias dari asumsi luasan area, melainkan terdapat refleksi nyata dari dinamika yang ada di lapangan. Hasil analisis spasial menggunakan KDE pada periode 2018-2024 dan 2021-2024 menunjukkan perubahan signifikan dalam pola konsentrasi aktivitas ekonomi di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung. Pada periode jangka panjang . Kota Bandung masih berfungsi sebagai wilayah inti dengan tingkat konsentrasi aktivitas tertinggi, sementara Kota Cimahi. KBB berperan sebagai wilayah penyangga dan zona Namun, pada periode 2021 Ae 2024 terlihat adanya penurunan intensitas konsentrasi aktivitas di wilayah inti dan penyangga, yang diiringi dengan meningkatnya konsentrasi aktivitas di wilayah periferi, khususnya Kabupaten Bandung bagian selatan dan barat yang dapat dilihat pada Gambar 7 berikut ini. Pertama, di Kota Cimahi, indikasi backwash effect yang dijelaskan oleh Muljarijadi . terkait migrasi tenaga kerja tervalidasi oleh dinamika ketenagakerjaan daerah. Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 Gambar 7. Temuan Dinamika Growth Pole di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung Tahun 2021 ke 2024 . dan Tahun 2018 ke 2024 . Sumber: Hasil Analisis, 2025 Berdasarkan Gambar 7, pada fase 2021Ae2024. Kota Bandung. Kota Cimahi, dan KBB mengalami fenomena backwash terhadap wilayah sekitarnya. Kondisi ini terjadi akibat pelemahan wilayah inti . selama masa pandemi COVID-19, khususnya akibat kebijakan lockdown yang membatasi aktivitas ekonomi dan mobilitas, sehingga Kota Bandung tidak mampu mempertahankan perannya secara optimal sebagai wilayah inti. Sebaliknya, wilayah sekitarnya . menunjukkan ketangguhan yang relatif lebih tinggi karena berfungsi sebagai kawasan penyangga yang memiliki sumber daya utama, terutama tenaga kerja dan sektor-sektor primer. Namun demikian, dalam perspektif jangka panjang. Kota Bandung kembali menguat dan mempertahankan posisinya sebagai wilayah inti . , seiring dengan kuatnya daya tarik aglomerasi ekonomi dan perannya sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. kabupaten/kota di dalamnya dimana Kota Bandung masih memiliki kecenderungan untuk mendominasi wilayah sekitarnya sehingga fenomena backwash effect lebih dominan terjadi dibandingkan spreading effect. Hal ini juga didukung oleh adanya penurunan ranking dari segi perekonomian yang dialami oleh KBB dan stagnansi yang dialami oleh Kota Cimahi dimana kondisi keduanya diakibatkan oleh migrasi tenaga kerja dan keterbatasan penyerapan sumber daya lokal. Selain itu, berkaitan dengan adanya fenomena pandemi COVID-19, ditunjukkan bahwa wilayah inti (Kota Bandung Kota Cimah. penurunan/pelemahan intensitas dari segi aktivitas ekonominya sedangkan wilayah pinggiran justru mengalami peningkatan/penguatan dari segi aktivitas Namun begitu, setelah melewati periode adaptasi tersebut . 1 hingga 2. Kota Bandung kembali mendominasi di tahun terakhir . dikarenakan dorongan peran kewilayahan sebagai Ibu Kota Provinsi Jawa Barat. Kesimpulan terakhir, keberadaan Peraturan Presiden No. 45 tahun 2018 yang menjadi landasan hukum Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung belum mampu secara optimal untuk mendorong terjadinya spreading effect meskipun sudah ada perencanaan pusat-pusat pertumbuhan baru. Justru, secara empiris dalam 6 tahun terakhir lebih banyak didominasi terjadinya backwash effect. Disamping itu, pada fase 2018Ae2024. Kota Cimahi dan KBB mengalami fenomena backwash yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Di Kota Cimahi, perlambatan pertumbuhan penduduk diduga berkaitan dengan migrasi tenaga kerja menuju wilayah dengan peluang ekonomi yang lebih baik, yang diperkuat oleh kurangnya lapangan pekerjaan yang ada di Kota Cimahi sehingga kesulitan menyerap tenaga kerja lokal (Muljarijadi, 2. Sementara itu, di KBB, dampak COVID-19 signifikan pada sektor pariwisata dan UMKM sebagai basis ekonomi utama wilayah (Dano et al. , 2. , serta diperkuat oleh ketimpangan distribusi investasi asing dan domestik antar kecamatan yang meningkatkan ketimpangan internal wilayah (Surya et al. , 2. REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian, diperlukan beberapa rekomendasi baik secara teoritis maupun teknis untuk dapat mengurangi terjadinya backwash effect dan mendorong adanya spreading effect pada Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung, diantaranya: Pemangku kepentingan perlu mengembangkan strategi taktis . ction pla. untuk mendorong terciptanya secondary growth pole dengan memusatkan sektor unggulan . eading industr. pada wilayah pinggiran . KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan sebelumnya ketimpangan wilayah, terbukti bahwa Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung mengalami tren Wicaksono. Analisis Pola Spreading Effect dan Backwash EffectA Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 65-76 Pemangku pemerataan aksesibilitas regional sebagai strategi utama untuk mengintegrasikan wilayah pinggiran . secara langsung dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pola konektivitas yang selama ini berorientasi pada Kota Bandung ekonomi dan mobilitas terhadap wilayah inti. Oleh karena itu, pengembangan jaringan transportasi dan infrastruktur harus diarahkan pada koneksi lintas-periphery . on-core oriented connectivit. agar wilayah pinggiran memiliki akses langsung terhadap aktivitas ekonomi produktif tanpa harus melalui Kota Bandung sebagai simpul transit Pemangku kepentingan perlu fokus pada kecamatan yang paling parah terdampak backwash effect yaitu Kecamatan Cimahi Utara. Cimahi Tengah, dan Ngamprah dengan mengembangkan program-program perlindungan tenaga kerja dan peningkatan kinerja UMKM. Keberadaan Badan Pengelola (BP) Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung harus memainkan peran strategis dalam mengarahkan dan mendistribusikan investasi secara lebih merata di seluruh kawasan metropolitan. Arus investasi cenderung terkonsentrasi di Kota Bandung sebagai wilayah inti, sehingga memperlebar kesenjangan dengan wilayah pinggiran. BP Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung perlu mengembangkan mekanisme insentif, kemudahan perizinan, serta promosi investasi yang secara khusus menargetkan wilayah periphery. Selain itu, diperlukan perencanaan investasi berbasis potensi lokal dan keunggulan komparatif masing-masing wilayah agar investor melihat wilayah pinggiran tidak hanya sebagai alternatif lokasi, tetapi sebagai destinasi investasi yang layak dan berkelanjutan. Pendekatan kelembagaan ini diharapkan mampu pembangunan ekonomi di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung secara jangka panjang. https://doi. org/10. 20961/region. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat. Kabupaten Bandung Barat dalam angka 2024. Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung Barat. Kabupaten Bandung Barat dalam angka 2025. Badan Pusat Statistik Kota Cimahi. Kota Cimahi dalam angka 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. Produk domestik regional bruto Provinsi Jawa Barat menurut 2020Ae2024. https://jabar. id/id/publication/2025/04/ 11/eba80a7b544073a27831a076/produk-domestikregional-bruto-provinsi-jawa-barat-menurutlapangan-usaha-2020-2024 Dano. Royantie. , & Gustiana. Analisis dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor pariwisata di Kabupaten Bandung Barat dalam perspektif ekonomi. Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan, 2. , 168Ae176. Fauzi. Rustiadi. , & Mulatsih. Ketimpangan, pembangunan wilayah di Provinsi Jawa Timur. Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan, 3. , 157Ae171. http://dx. org/10. 29244/jp2wd. Hariani. , & Syahputri. Analisis ketimpangan ekonomi dan pengaruhnya terhadap tingkat kriminalitas di Provinsi Sumatera Utara. Kuncoro. Perencanaan daerah: Bagaimana membangun ekonomi lokal, kota, dan kawasan. Salemba Empat. Mukhlis. Hidayah. , & Sariyani. Economic agglomeration, economic growth and income inequality in regional economies. Economic Journal Emerging Markets, 10. , 205Ae212. https://doi. org/10. 20885/ejem. Muljarijadi. Pengaruh kewirausahaan sosial terhadap peningkatan kesempatan kerja di Kota Cimahi. Jurnal Kependudukan Indonesia, 19. https://doi. org/10. 55980/jki. Njambi. December . An introduction to zonal UP42. https://up42. com/blog/anintroduction-to-zonal-statistics UCAPAN ERIMA KASIH Rasa terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Hadi Nurcahyo. T dan Bapak Adiwan Fahlan Aritenang. GIT. Ph. sebagai dosen yang membimbing dan mengarahkan substansi agar lebih Bimbingan tersebut sangat membantu penulis dalam memahami dan menyelesaikan substansi di dalam artikel ini. Parr. Growth poles, regional development, and central place theory. Papers in Regional Science, 31. , 173Ae212. https://doi. org/10. 1111/j. Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2022Ae2042. Pemerintah Provinsi Jawa Barat. DAFTAR PUSTAKA